ttoguxnanaxranie

“Alby!” protes Airin saat kekasihnya itu dengan sengaja menendang deburan ombak yang menghampiri mereka sehingga percikan airnya membasahi pakaiannya.

“Makanya kamu sini dulu,” bujuk lelaki manis itu. Ia berlarian mengejar kekasihnya yang melangkah semakin jauh darinya.

“Gak mau! Nanti baju aku basah, By,” tolak Airin yang berlari semakin jauh dari kekasihnya.

“Kamu gak mau aku peluk sih,” keluh Alby.

“Tangan kamu basah semua, By, nanti baju aku ikutan basah,” ujar Airin.

Di petang yang hampir selesai ini, Airin dan Alby tengah menikmati hamparan pasir di pinggir pantai selagi gelombang air kecil menghantam pelan pergelangan kaki mereka. Alby dengan tingkah usilnya dengan sengaja memercikan air yang ia tangkup menggunakan kedua telapak tangannya.

Airin yang sedari tadi mencoba menghindari sang kekasih, tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ia menemukan ranting kayu yang hampir lapuk di dekat kakinya. Kemudian, gadis cantik itu berjongkok. Airin menggunakan tangan kirinya untuk menahan ujung kain gaunnya agar tidak jatuh mengenai pasir yang dimakan air sana.

Sedangkan, tangan kanannya bergerak menuliskan namanya beserta nama sang kekasih dengan gambar hati yang bersanding di tengah-tengah mereka di atas pasir putih yang lembap. Alby berdiri di belakang Airin sembari menyaksikan aksi menulis di atas pasir yang dipertunjukkan kekasihnya hanya untuknya. Alby tertawa.

“Kamu kenapa ketawa?” tanya Airin kepada sosok setinggi tiang bendera di belakangnya.

Alby menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya yang besar. Ia tidak dapat menahan tawanya. “Coba liat nama aku. Kenapa kecil banget dibanding nama kamu? Gambar hatinya juga kenapa miring sebelah?”

Airin memiringkan kepalanya. Ia mencoba mengidentifikasi apakah yang dibilang kekasihnya itu benar adanya dan… ternyata benar. “Iya juga, ya,” gumam gadis cantik itu.

“Ayo benerin bareng-bareng,” kata Alby.

Setelahnya, Alby ikut berjongkok di sebelah gadisnya. Dipegangnya tangan kecil yang sedang menggenggam sebatang ranting pohon itu. Dengan gerakan yang selaras, Alby menuntun Airin untuk membenarkan serta merapikan mahakarya mereka yang terlukis di atas pasir. Keduanya tersenyum lebar saat hasil kreasi indah itu selesai diciptakan.

Namun, tak lama berselang, saat Airin tengah merogoh saku gaunnya untuk mengeluarkan ponselnya, ombak menghapus jerih payahnya. Airin menganga lebar. “Yaahhh!” pekiknya. “‘Kan belom difoto tulisannya,” gerutunya.

Airin terlihat sangat gusar. Sedangkan, Alby tertawa sangat kencang. Ia terjatuh sebab kepalang gemas melihat wajah cantik Airin yang tampak sangat gusar. Airin melirik ke sampingnya dengan tatapan sinis. Lalu, gadis cantik itu bangkit dan memukul pelan bahu kekasihnya.

“Ih! Kamu kok malah ketawa sih, By,” ucap Airin kesal.

“Aku juga baru mau foto tapi keburu kehapus ombak,” sanggah Alby.

Airin tertambat di tempatnya berdiri. Pandangannya menunduk memerhatikan karyanya yang paling indah tadi dengan tega dihapus oleh ombak, seola-olah semesta berkata padanya bahwa hasil buatannya terlihat tidak bagus, bahkan jelek. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Alby mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Sayang,” panggil Alby.

Airin menolehkan pandanganya. Sepasang maniknya yang seindah senja sore ini sempat mengerjap beberapa kali saat cahaya kilat dari kamera ponsel Alby menyilaukan matanya. Airin baru sadar bahwa Alby tengah memotret dirinya saat lelaki kesayangannya itu tidak berhenti tertawa dengan hasil jepretannya di layar ponsel.

“Alby!” pekik Airin. “Siniin hp kamu!”

Airin hampir saja berhasil meraih ponsel itu tetapi Alby bergerak lebih cepat. Diangkatnya tangan yang menggenggam ponsel itu setinggi langit agar Airin tidak dapat menggapainya. Namun, bukan Airin namanya jika berhenti saat usahanya sama sekali belum maksimal. Ia menekan bahu Alby agar mau berdiri lebih rendah selagi sebelah tangannya masih berusaha menjangkau ponsel yang memiliki foto aib dirinya.

“Kamu gak akan bisa, Airin. Kamu gak setinggi itu untuk bisa ngambil hp ini,” ledek lelaki manis itu seraya menjulurkan lidahnya.

Airin berhenti sejenak dari aktivitas merebutnya. Ia menatap intens sepasang manik indah yang lebih tinggi darinya. “Nantangin, ya?” tanyanya.

Alby mengangkat sebelah alisnya. “Kalo, iya? Kenapa?”

Di detik berikutnya, Airin mengecup sebelah pipinya kekasihnya. Hanya dengan perbuatan sederhana seperti itu mampu membuat Alby membeku. Sepasang manik yang sama indahnya dengan semesta itu membulat sempurna. Airin menggunakan peluang tersebut untuk merebut ponsel kekasihnya.

Kali ini, Airin yang menjulurkan lidahnya. Ia menjauhkan dirinya dari Alby yang masih setia dengan posisinya. “Makanya jangan nantangin, Sayang,” ejek gadis cantik itu.

Mendengarnya, Alby menyeringai. Bagaimana bisa sekelebat ide licik itu terpintas di pikiran gadisnya. Sebelum Airin berlari terlalu jauh, Alby kembali mengejarnya. “Oke, kalo kamu mau main licik.”

Alby berlari dengan kecepatan penuh untuk menangkap gadisnya. Airin yang mempunyai kaki jauh lebih kecil dan pendek dari kekasihnya tidak dapat berbuat banyak. Jika Airin melangkah tiga kali, maka Alby sudah melangkah enam kali alias dua kali lebih cepat darinya. Dan, lihat saja, gadis cantik itu sudah kembali berada di dalam dekapan lelaki kesayangannya.

“Mau ke mana kamu? Kamu gak bisa ke mana-mana sekarang,” guyon Alby dengan nada seolah mengancam. “Pacar aku berani nakal, ya, sekarang,” ucapnya.

“Kamu lagian usil banget sih, By, udah tau aku lagi jelek banget malah difoto,” jelas Airin.

Alby bergerak mencium pipi sebelah kanan Airin. “Siapa yang bilang kamu jelek?” Selanjutnya, lelaki manis itu mencium pipi sebelah kiri gadisnya. “Kamu ‘kan pacar aku yang paling cantik.”

“Bisa aja nih pacar aku ngomongnya,” balas Airin sembari mengalungkan lengannya pada bahu lebar di hadapannya.

Airin menyunggingkan senyum dan dibalas serupa oleh Alby. Untuk sementara waktu, dan jika boleh untuk selamanya, sepasang kekasih itu ingin menikmati atmosfer nyaman nan menenangkan dengan orang yang paling dicintainya seperti ini. Ditemani dengan semburat oranye kemerahan di langit serta suara merdu dari karang yang memecah ombak, Airin dan Alby terhanyut dalam tatapan satu sama lain.

“Kalungnya cantik,” puji Alby saat menemukan liontin indah yang menggantung di leher kekasihnya.

“Iya dong. ‘Kan dari pacar aku,” jawab Airin semangat.

Alby terkekeh. “Yang pake kalungnya jauh lebih cantik,” katanya.

Ada kalimat sanjungan yang ditujukan untuknya, Airin menundukkan pandangannya sebab malu. Wajahnya juga memunculkan rona merah. Ia tidak dapat menahan senyum bahagia. Alby, lagi-lagi, membuatnya jatuh dan terus jatuh ke dalam cinta dan kasih sayang yang diberikannya kepadanya.

“Ada yang salting nih,” goda Alby.

Airin hanya tertawa menanggapi lelucon yang dilontarkan kekasihnya itu. Ia kembali memusatkan atensinya pada semestanya. Jika boleh, Airin ingin egois. Airin ingin memiliki Alby seutuhnya dan selamanya. Ia tidak tahu apakah Alby merasakan hal yang sama tetapi ia yakin Alby kurang lebih merasakan hal itu juga.

“Kalo kalungnya aku tambahin sama kalung, boleh gak, Rin?” tanya Alby serius.

Yang ditanya seperti itu tampak sangat amat terkejut. “Maksudnya, By?”

Alby melonggarkan pelukannya untuk kemudian ia memundurkan dirinya beberapa langkah. Di atas pasir putih kering, lelaki manis itu berlutut. Tangan kanannya bergerak merogoh saku di bagian belakang celananya. Alby mengeluarkan kotak berbahan beludru berwarna merah. Dibukanya kotak tersebut dan terlihatlah benda yang berkilauan.

Airin menutupi mulutnya yang terjatuh dari peraduannya. “By,” lirihnya.

Alby tersenyum. Ia mencoba untuk mengatur napasnya. “Airin,” panggilnya. “Aku tau ini terlalu cepat. Aku juga tau jalan kita masih panjang. Tapi, cincin ini aku berikan ke kamu sebagai tanda kalau aku bener-bener sayang dan cinta sama kamu. Aku gak meminta kamu untuk menikah sama aku, seenggaknya bukan sekarang. Aku mau kita sama-sama menjalani hidup dan impian yang harus kita kejar terlebih dahulu. Tapi, Airin, cincin ini aku persembahkan untuk kamu sebagai tanda keseriusan aku,” jelas lelaki manis itu. “Tolong diterima, ya.”

Selepas eksplanasi yang mengandung pengakuan cinta sehidup semati itu, Alby bangkit dari posisi berlututnya. Kemudian, ia berjalan ke arah sang kekasih. Disematkannya cincin berwarna silver itu di jari manis gadisnya. Berbeda dengan Alby yang simpulnya mengembang, Airin menangis terharu.

Alby menangkup bahu sempit di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah kening Airin. Lalu, dikecupnya kening itu dalam waktu yang cukup lama. Keduanya mengeratkan netra masing-masing demi merasakan hangat yang tersalurkan satu sama lain. Baik Airin maupun Alby merasakan tenang dan bahagia di titik teratas.

Disaksikan langit yang warna merahnya mulai tergantikan biru gelap, matahari yang semakin turun dan bulan yang semakin naik, serta gelombak ombak dari tengah laut yang hadir untuk menghibur, sepasang kekasih itu, Airin dan Alby, saling berjanji untuk hidup bersama dengan cinta dan kasih sayang yang ada di dalam hati mereka.

“Hei,” tegur Abraham yang sedari tadi memusatkan atensinya pada gadis cantik yang duduk di sebelahnya sembari termenung. “Kenapa diem aja?” tanyanya.

Hana tersenyum masam. “Aku gak apa-apa kok,” jawabnya.

Sepasang kekasih itu tengah duduk berdampingan di atas pasir putih yang beralaskan kain. Berbeda dengan pasangan kekasih lainnya yang tengah asyik bermain dengan air asin dari gelombang kecil yang menghantam tepi pantai, Hana dan Abraham memutuskan untuk mengistirahatkan diri mereka selagi menikmati semburat oranye yang mendominasi luasnya hamparan langit.

“Kalo gak apa-apa, kenapa keliatan murung gitu? Aku udah bilang ‘kan ke kamu kalo ada apa-apa cerita aja,” ujar Abraham dengan suara seindah deburan ombak yang menghiasi pemandangan mereka petang ini.

“Aku gak apa-apa, Ham, beneran deh,” balas Hana meyakinkan kekasihnya itu.

Tangan kanan Abraham bergerak mengusap lembut pucuk kepala Hana lalu menariknya agar masuk ke dalam rangkulannya. “Gak apa-apa kalo kamu gak mau cerita sekarang. Tapi aku minta sama kamu kalo ada sesuatu yang berasa ngeganjel di hati kamu cerita sama aku, ya. Jangan membebani diri kamu sendiri,” jelasnya.

Hana tersenyum. Kali ini, simpulnya terlihat lebih tulus. “Makasih, ya, Ham. Aku masih gak ngerti kenapa kamu bisa sebaik ini sama aku,” katanya skeptis.

Mendengarnya, Abraham menghela napas berat. “Aku yang gak ngerti kenapa kamu masih ragu sama diri kamu sendiri sementara aku di sini udah yakin seyakin-yakinnya sama kamu,” ucapnya serius.

Hana melonggarkan tangan berotot yang melingkari bahunya. Gadis cantik itu menatap sepasang manik dengan binar paling indah yang pernah ia temui. Abraham terlihat jauh lebih tampan ketika ditimpa sinar mentari yang kemerahan. Kulit seputih susu dan senyum semanis madu itu selalu dapat meluluhkan hatinya lagi dan lagi.

“Kamu tau kisahku, Ham,” balas Hana singkat. Ia memalingkan wajahnya untuk menatap pemandangan bak lukisan yang ada di depannya.

Abraham menganggukkan kepalanya. “Iya, aku tau kok. Terus kenapa?”

“Setelah kamu tau apa yang aku pernah lakukan, seharusnya kamu gak kayak gini ke aku, Ham, seharusnya kamu gak jadi pacar aku, dan seharusnya kamu gak ada di sini untuk nenangin aku,” jelas Hana dengan manik yang berkaca-kaca.

“Kita udah pernah bahas ini sebelumnya ‘kan, Han? Cukup dengan kata ‘seharusnya’. Kamu layak nerima ini semua,” ucap lelaki tampan itu seraya menundukkan pandangannya.

Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Baik Hana maupun Abraham sama-sama terhanyut dengan perasaan masing-masing. Hana dengan perasaan rendah dirinya dan Abraham dengan perasaan gagalnya. Bagaimana sanubari memiliki kontrol kuat terhadap diri mereka.

Di satu sisi, menurut Hana, ia tidak pantas mendapat semua kebahagiaan ini setelah apa yang pernah ia perbuat dulu kepada sahabatnya, Airin, dan sepupunya, Alby. Di sisi lain, menurut Abraham, ia selalu gagal untuk meyakinkan kekasihnya bahwa kebahagiaan yang ada sekarang merupakan hal yang pantas untuk ia dapatkan.

“Aku orang jahat, Ham,” ucap Hana memecah keheningan. Perlahan, genangan yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya mulai bocor dan membanjiri kedua pipinya.

Abraham refleks mengangkat pandangannya saat ada kalimat negatif yang keluar dari mulut gadisnya. Ditatapnya pahatan indah ciptaan Tuhan yang diberikan hanya untuknya. Lelaki tampan itu bahkan dapat merasakan pilu yang Hana pendam di dalam hatinya. Terlepas bagaimana kehidupan gadis itu sebelum bertemu dengannya, Abraham akan tetap mencintainya.

“Enggak, Hana. Kamu bukan orang jahat. Jangan ngomong gitu, ya, Cantik.” Suara yang biasanya melengking dan memekakkan telinga itu, kini terdengar bergetar.

“Aku udah tega nyakitin dua orang yang paling aku sayang sekaligus yang paling sayang sama aku,” sambung gadis cantik itu.

Hana memeluk kedua kakinya lalu menyembunyikan wajah serta rasa bersalahnya di sana. Abraham dapat mendengar dengan jelas gadisnya menangis tersedu-sedu. Tanpa ia sadari, air matanya ikut mengalir deras. Ia tidak tega melihat bagaimana Hana selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi di masa lalu. Hatinya seolah dihunus bilah bambu runcing.

“Kamu gak sengaja, Hana. Kamu ngerasa harus ngelindungin orang yang kamu sayang. Semua orang pasti rela melakukan apapun untuk ngelindungin orang yang dia sayang,” ujar Abraham. “Bagian terpentingnya adalah kamu tau kamu salah dan kamu udah minta maaf,” sambungnya.

Hana mengangkat pandangannya. Wajahnya kembali memerah. Sepasang maniknya berbinar sebab bulir air mata yang terus-menerus turun. “Tapi itu gak mengubah fakta bahwa aku pernah nyakitin mereka, Ham,” bantahnya.

Abraham diam. Bukan karena ia marah, namun lelaki tampan itu tengah menyusun kalimat di dalam otaknya. Ia ingin sudut pandangnya dapat diterima baik oleh Hana tanpa membentak ataupun menghakiminya. Abraham ingin Hana melihat dirinya sendiri sebagaimana ia melihat diri gadis cantik itu.

“Hana,” panggilnya. “Kamu boleh ngerasa marah, ngerasa salah, ngerasa nyesel, dan segala rasa negatif yang ada di dalam diri kamu tapi kamu juga jangan lupa bahwa semua emosi itu merupakan bagian dari diri kamu yang harus kamu akui. Kalo kamu bahagia, ya, ketawa. Kalo kamu sedih, ya, nangis. Selain emosi positif, ada emosi negatif yang perlu kamu rasain. Kamu gak bisa terus-terusan mendam rasa yang seharusnya keluar, Han,” ujar Abraham panjang lebar. Selagi mengutarakan penjelasannya, kedua bola mata itu tidak ingin memandang ke arah selain wajah cantik kekasihnya.

Hana bergeming. Ia mencoba mencerna satu per satu kata yang Abraham lontarkan untuknya. Dari kumpulan kalimat itu, Hana dapat mengambil makna yang tersurat. Abraham ingin dirinya merasakan segala emosi yang ada dalam pada dirinya, secara garis besar kurang lebih seperti itu.

“Dan apa yang terjadi sama diri kamu, baik di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, itu semua juga bagian dari diri kamu,” lanjut Abraham. “Kalo Airin sama Alby gak memaafkan atau menyimpan dendam sama kamu, mereka gak mungkin ada di sini sama kamu sekarang, Han, sama aku juga. Airin sama Alby udah maafin kamu bahkan kamu dari dulu. Kamu kapan?”

Lagi, frasa yang disampaikan Abraham untuknya menembus hati terdalamnya. Abraham benar. Jika Hana boleh sombong, ia mempunya sahabat, sepupu, serta kekasih yang menerima dirinya apa adanya dan bukan ada apanya. Sebetulnya, gadis cantik itu memiliki kesempatan istimewa yang mungkin tidak dimiliki orang lain.

“Kamu harus memaafkan diri kamu sendiri untuk bisa bahagia, Hana,” final lelaki tampan itu.

Hana masih membeku di tempatnya. Namun, ia dapat menangkap maksud dari kalimat terakhir yang Abraham katakan padanya. Jika boleh jujur, kata-kata itu benar-benar membuka mata hatinya. Bagaimana bisa ia melewatkan fakta itu selama ini? Bagaimana bisa ia tidak sadar bahwa yang ia perlu lakukan hanyalah memaafkan dirinya sendiri?

Hana mulai mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Kemudian, gadis cantik itu bergerak cepat memeluk kekasihnya. Kedua tangannya melingkar di bahu lebar yang selalu ada kapanpun ia butuhkan. Hana kembali terisak tetapi yang membedakan tangisannya kali ini adalah motif dari mengalirnya air mata yang membanjiri kemeja kekasihnya. Hana menangis bahagia.

“Makasih banyak, Ham,” ucap Hana dengan napas tersendat.

“Yang kuat, ya, Hana. Aku selalu ada di sini kalo kamu butuh tempat untuk cerita. Aku sama sekali gak keberatan buat ngerasain beban yang kamu rasain,” kata Abraham seraya membalas pelukan gadisnya. Ia menjatuhkan kepalanya di atas bahu Hana. “Makasih juga karena kamu udah bertahan sejauh ini. Bahagia selalu, ya, Han.”

Tak lama kemudian, Hana melepas pelukannya. Pandangannya terlihat sedikit buram karena air yang berkumpul di pelupuk matanya. Namun, gadis cantik itu masih dapat melihat dengan jelas senyum setulus malaikat yang Abraham tampilkan untuk menyemangatinya. Hana pun ikut menyunggingkan senyumnya.

“Han,” panggil Abraham lagi.

“Iya, Ham?” balas Hana dengan suara serak.

“Kamu tau kenapa akhirnya Alby sama Airin dan aku sama kamu?” tanya lelaki tampan itu.

Hana menggelengkan kepalanya. Ia tertawa kecil sebab mungkin kekasihnya itu akan melemparkan guyonan renyah padanya. “Enggak. Emangnya kenapa?”

Sebelah tangan Abraham bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya. Meskipun sudah seharian penuh Abraham memandangi wajah kekasih itu tetapi tidak ada sedikit pun terbesit rasa bosan. Jika boleh, kalau waktu waktu mengizinkan, ia ingin melihat wajah ini setiap hari, pada saat sebelum dan bangun tidur.

“Alby ada untuk Airin karena Tuhan ngirim Alby untuk nyembuhin lukanyanya. Sedangkan, aku ada untuk kamu karena Tuhan ngirim aku untuk nyembuhin luka kamu,” jelas Abraham diakhiri senyum manis.

Abraham benar. Sejatinya, selain momen membahagiakan, peristiwa yang menyakitkan juga merupakan bagian dari diri yang harus diakui keberadaannya. Dan sudah seharusnya bagi manusia untuk menyalurkan emosi yang tengah dirasakan, baik itu senang maupun sedih. Semuanya saling melengkapi satu sama lain.

Tidak ada manusia yang tumbuh tanpa rasa sakit. Sesuai dengan kata pepatah yang menyatakan bahwa hidup itu bagaikan sebuah roda yang terkadang berada di atas dan tidak jarang juga berada di bawah. Jika sudah begini, apa yang seharusnya dilakukan? Maka, jawabannya hanya ada satu, menerimanya dengan lapang dada.

Terlepas dari apa yang dilakukan atau dirasakan, manusia hendaknya memanusiakan sesamanya. Tuhan pasti mempunyai suatu, atau bahkan banyak, alasan mengapa satu insan dipertemukan dengan insan lainnya. Betapa indahnya hidup ini jika kita tahu cara menikmatinya.

“Sialan, Samuel!” keluh gadis cantik itu sembari mengunci pintu perpustakaan dari dalam. “Kalo gak ada Aldo aja tadi langsung gua seret ke sini anaknya,” lanjutnya.

Kini, Ranindya tengah merebahkan setengah tubuhnya pada salah satu meja panjang berbahan kayu yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia menghela napasnya panjang. Otaknya masih saja mengganggunya dengan memutar kembali adegan panas yang terjadi beberapa menit sebelum rapat organisasi sekolah dimulai. Samuel, lelaki tampan itu selalu saja menyita atensinya.

Ranindya memanyunkan bibirnya kesal. Sebenernya, sudah menjadi kewajiban bagi Samuel untuk mengadakan serta menghadiri rapat bersama anggota lainnya di waktu-waktu tertentu, seperti sekarang ini. Namun, gadis cantik itu belum juga terbiasa. Waktu berkualitasnya dengan Samuel selalu saja tertunda, terutama waktu berkualitas yang panas di antara keduanya.

“Nanggung banget. Gua udah kepalang pengen,” gumam Ranindya sembari menenggelamkan wajahnya di permukaan meja. Tak lama berselang, gadis cantik itu kembali mengangkat pandangannya. Sekelebat ide gila terlintas di dalam pikiran kotornya. Ia menyunggingkan seringai kecil. “Main sendiri enak kali, ya?” monolognya.

Tanpa berpikir panjang, Ranindya bangkit dari posisi duduknya yang sekarang untuk kemudian berjalan ke sudut ruang perpustakaan. Kali ini, ia mendudukkan dirinya di atas kursi kayu bekas. Lalu, gadis cantik itu menggeser beberapa rak buku agar membentuk benteng pertahanan di sekeliling kursi yang akan ia jadikan sebagai tempat eksekusi.

Ranindya kembali menyimpulkan senyumnya. “Gak apa-apa lah, ya, main sebentar sebelum Sam selesai rapat,” ujarnya.

Setelahnya, Ranindya memposisikan dirinya untuk duduk dengan nyaman di atas kursi kayu yang sudah ia tata sedemikian rupa tadi. Ia mengatur napasnya supaya rileks sebelum memulai permainan solonya. Dengan bermodalkan fantasi liar, pengalaman bermainnya dengan sang kekasih, serta gairah yang membuncah, gadis cantik itu memulai permainannya.

Ranindya membuka dua kancing teratas kemeja seragam sekolahnya lalu meremas kedua buah dadanya. “Nghh, ahh, Sam,” lirihnya.

Berikutnya, Ranindya membuka pengait bra yang melingkar pada payudaranya tanpa melepaskannya. Melalui celah kecil itu, ia mengusap putingnya yang mencuat keras. “Ahhh, Sam, enakhh,” desah gadis cantik itu.

Ranindya, pada siang menjelang sore hari itu, setelah sekian lama akhirnya kembali bermain dan menjamah dirinya sendiri. Pasalnya, dalam beberapa waktu belakangan ini, tepatnya setelah menjalin hubungan asmara dengan Samuel, jika gadis cantik itu butuh untuk dipuaskan maka Samuel sebagai kekasih yang siap siaga akan langsung membantunya menyalurkan hasratnya.

Ranindya melanjutkan permainannya. Ia melebarkan kedua pahanya. Tangan kanannya bergerak meremas, memijat, lalu memilin ujung putingnya. Sedangkan, tangan kirinya menjalar ke bagian perut, paha bagian dalamnya, dan berakhir pada daerah kewanitaannya. Dari luar pakaian dalamnya, Ranindya memutarkan ibu jarinya pada area klitorisnya.

“Ahhh, nghh, Sam,” lenguh Ranindya seraya menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang perpustakaan. Ia menutup kedua kakinya lalu menggeseknya satu sama lain. Hal itu bertujuan agar jari-jari yang bermain di dalam keintimannya terasa semakin menusuk.

Ranindya baru akan melepaskan pakaian dalamnya kala indera pendengarannya dikejutkan dengan suara bantingan hebat yang ia yakini berasal dari pintu perpustakaan. Mendengarnya, sepasang manik selegam senja itu membelalak. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasa.

“Ranindya!” pekik lelaki tampan itu disertai dengan langkahnya yang mendentum keras.

“Bangsat!” umpat gadis cantik itu.

Ranindya buru-buru merapikan baju seragamnya yang berantakan. Di dalam hatinya, ia mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa di tengah permainannya yang terasa nikmat ini, tiba-tiba saja Samuel datang menghampirinya. Ranindya bisa mati saat itu juga jika sang kekasih memergokinya melakukan adegan kotor.

Ranindya langsung berdiri dari posisi duduknya saat lelaki tampan setinggi tiang bendera kesayangannya muncul di hadapannya. Ia mengulas senyum selebar mungkin. Berbeda dengan gadisnya, Samuel menatap intens ke arah Ranindya. Sepasang manik selegam malamnya menelisik tubuh sang kekasih dengan teliti.

Kancing baju yang dipasang tak beraturan, dua buah jari di tangan kiri terlihat lembap bahkan basah, napas yang menggebu, keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya, serta bercak basah yang tercetak jelas di rok seragam gadis cantik itu. Setidaknya, beberapa hasil identifikasi itulah yang membuat Samuel yakin bahwa Ranindya sedang menyentuh dirinya sendiri, tadi.

“Ngapain kamu di sini?” tanya Samuel dingin.

“‘Kan tadi kamu yang nyuruh aku nunggu di sini, Sam,” jawab Ranindya yakin.

“Aku nyuruh kamu nunggu di dalem perpustakaan, bukan di sudut perpustakaan. Ngapain kamu di sudut sini? Segala rak bukunya digeser. Ngaku sebelum aku bikin kamu gak bisa jalan seminggu,” ancam lelaki tampan itu.

Mendengarnya, Ranindya menghela napas panjang. Jika sudah begini, mau tidak mau, ingin tidak ingin, ia harus mengakui dosanya kepada Samuel, bukan? Sejenak, gadis cantik itu bergumul dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, ia merasa kesal sebab permainannya yang belum rampung. Di sisi lain, ia merasa bersalah sebab sudah mengganggu sesi rapat kekasih tercintanya itu.

“Maaf, Sam. Aku—” Belum sempat Ranindya menyelesaikan kalimatnya, Samuel kembali bergerak.

Ia berjalan menghampiri Ranindya lalu memeluknya dengan erat. Ia menelusupkan pucuk sang gadis ke dalam dekapannya untuk kemudian Samuel mengusap kepala Ranindya lembut. Ranindya, gadis cantik itu mematung di tempatnya. Dengan alasan dan motif seperti apa yang membuat lelaki tampan kesayangannya ini tiba-tiba memeluknya erat?

“Sam,” panggil Ranindya.

Samuel, yang dipanggil namanya dengan sengaja tidak merespon panggilan itu. Ia masih sibuk memeluk gadis cantik yang ada di hadapannya. “Maafin aku, Ran,” ucapnya.

“Maaf? Kenapa, Sam?” tanya Ranindya seraya mengangkat pandangannya untuk melihat wajah tampan itu lebih jelas.

“Kamu pasti kepancing gara-gara aku tadi, ya,” jelas Samuel. “Aku bukannya ngelanjutin main sama kamu malah rapat. Maaf, ya, Sayang,” ujar Samuel lembut.

Mendengarnya, hati Ranindya menghangat. Perlahan, senyumnya mengembang. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya ini. “Kamu lagian macem-macem sih. Udah tau ini tuh candu buat aku,” ledek gadis cantik itu sembari mengusap belahan ranum favoritnya.

“Ini juga candu buat aku,” balas Samuel.

Sepersekian detik berikutnya, yang terjadi adalah Samuel menarik tengkuk Ranindya agar masuk ke dalam ciumannya. Tentu saja, dengan senang hati, Ranindya menyambut cumbuan itu. Ia mengalungkan lengannya pada bahu lebar di hadapannya. Dalam waktu yang cukup lama, sepasang kekasih itu terhanyut dalam keintiman masing-masing.

Sebelah tangan Samuel bergerak mengusap punggung gadisnya pelan. Ranindya tahu betul, baik dirinya dan Samuel, menginginkan lebih dari ini. Jika sudah bertemu satu sama lain, maka tidak ada aktivitas yang lebih baik selain memuaskan hasrat bersama. Namun, sebelum kegiatan panas ini berlanjut semakin jauh, Ranindya menyudahi acara bertukar saliva bersama Samuel.

“Ah, kok udahan?” protes lelaki tampan itu.

“Jangan di sini, Sam,” ucap Ranindya.

“Oke. Kalo gitu, mau di mana?” tanya Samuel sembari mengeratkan pelukannya.

“Di rumah aja. Kalo di sekolah, takut ketauan,” jelas gadis cantik itu.

Samuel menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban. “Kelamaan,” bantahnya.

“Ya, terus—” Ranindya lagi-lagi tidak berhasil merampungkan kata-katanya sebab Samuel melepas pelukannya lalu menarik sebelah tangannya dan membawanya keluar dari ruang perpustakaan.

“Mau ke mana, Sam?” tanya Ranindya sedikit terbata saat keduanya berlarian kecil di sepanjang lorong kelas.

“Ke sini,” jawab Samuel singkat kala langkah mereka berhenti di depan ruang Unit Kesehatan Sekolah.

BUGH!

Ranindya memukul dada bidang kekasihnya dengan cukup keras sampai membuat Samuel meringis. “Sakit, Ran,” keluhnya.

“Kamu jangan gila, Sam. Nanti kalo ketauan anak-anak gimana?” tanya Ranindya gelisah.

“Enggak. Percaya sama aku. Semuanya udah pulang, cuma kita doang yang belum soalnya ‘kan kita mau main,” goda lelaki tampan itu.

BUGH!

Samuel kembali mendapatkan pukulan lain sebelum Ranindya berjalan memasuki ruangan tersebut. Ia terkekeh, “Mau juga ‘kan,” gumamnya.

Benar apa yang dikatakan oleh Samuel, tidak ada satu orang pun di ruangan serba putih dengan bau alkohol menyengat, selain mereka berdua. Ranindya memilih ranjang paling ujung yang ada di dalam ruang UKS. Ia merebahkan dirinya di atas ranjang tersebut lalu diikuti oleh Samuel.

Berbeda dengan Ranindya yang menelentangkan seluruh tubuhnya di atas ranjang, Samuel menggunakan tangan kanannya untuk menumpu kepalanya. Tubuhnya berbaring ke arah sang kekasih. Samuel sibuk memandangi pahatan wajah cantik yang sepasang maniknya tengah terpejam erat.

“Kamu ngapain ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Ranindya masih dengan posisi yang sama seperti tadi.

“Ya, emangnya aku gak boleh ngeliatin pacar sendiri?” jawab Samuel tidak santai.

“‘Kan aku—” Lagi dan lagi, gadis cantik itu diberhentikan secara sepihak oleh lelaki kesayangannya.

Samuel kembali mencium gadisnya, tetapi yang kali ini lebih serakah, lelaki tampan itu seolah meminta lebih. Tidak ingin kalah dengan dominannya, kedua tangan Ranindya bergerak meraba tubuh atletis yang masih terbalut oleh seragam sekolah itu. Merasa terangsang, Samuel memperdalam ciuman antara dirinya dan gadisnya.

Tidak ingin kalah dari Ranindya, masih di dalam cumbuan panas itu, sebelah tangan Samuel bergerak meremas lalu memijat buah dada sang gadis. Hal itu sukses membuat tubuh Ranindya menggelinjang. Kemudian, sebelah tangan Samuel yang terbebas mulai membuka satu persatu kancing seragam sekolah Ranindya.

“Mphhh,” lenguh Ranindya tertahan.

Ranindya ingin membalas perbuatan Samuel yang membuat gairahnya semakin memuncak. Dengan sengaja, gadis cantik menggesekkan lututnya pelan ke arah kepemilikan Samuel yang terasa mengeras seolah meminta segera untuk dipuaskan. Mendapat serangan tiba-tiba, Samuel mengakhiri ciumannya.

“Kamu curang,” protes Samuel.

“Aku curang di mananya?” goda Ranindya. Sebelah tangannya terangkat mengusap rangka wajah yang tegas nan tampan di sampingnya. “Kamu pegang punya aku, masa aku gak boleh pegang punya kamu,” tambahnya.

Mendengarnya, Samuel menyeringai. Ia terkekeh pelan. “Kita liat kamu masih bisa ngomong kayak gini gak setelah ini?” ancam lelaki tampan itu.

Di detik berikutnya, tangan kiri Samuel kembali bergerak. Ia menyingkap rok seragam sekolah yang Ranindya kenakan. Awalnya, tangan hangat itu hanya mengelus pelan paha bagian dalam gadisnya. Namun, setelahnya, dengan gerakan tiba-tiba, tangan Samuel menghampiri bagian selatan sang gadis.

“Ahh, Sam!” pekik Ranindya saat merasa vaginanya penuh dengan jari-jari Samuel.

“Tadi mainnya belum sampe selesai ‘kan?” tanya Samuel menggoda.

Ranindya, yang dilecehkan seperti itu tidak mampu menjawab. Ia hanya mampu menikmati setiap tusukan yang menghujam area kewanitaannya. Ranindya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit ruang UKS. Tubuhnya menggelinjang hebat hanya dengan permainan jari yang dilakukan oleh Samuel.

“Nghh, ahhh, Sam,” lenguh gadis cantik itu.

Mendengar ada desahan yang mengandung namanya, Samuel tersenyum. “Enak, Sayang? Mau lagi gak?” tanyanya.

Ranindya menganggukkan kepalanya beberapa kali, tertanda jawaban iya. Dengan begitu, Samuel menambah tempo pada bagian bawah gadisnya. Oleh sebab itu, Ranindya menggigit bibir bagian bawahnya demi menetralisir rasa nikmat yang menyerangnya. Samuel benar-benar mempermainkannya kali ini.

“Ahh, mphh, Sam,” panggil Ranindya susah payah.

“Ya, Sayang?” balas Samuel tanpa mengurangi kecepatan permainan pada vagina Ranindya.

“Nghh, kayaknya aku, ahh, mau, ahhh, keluar,” jelas Ranindya setengah mati.

Samuel mendekatkan mulutnya pada telinga kiri Ranindya untuk kemudian berbisik. “Aku masukin, boleh, ya?” tanyanya meminta izin.

Tanpa berpikir panjang sebab Ranindya juga menginginkannya, gadis cantik itu mengangguk semangat. Samuel merubah posisinya menjadi di atas sang gadis, mengungkung Ranindya. Setelahnya, sebelah tangan lelaki tampan itu bergerak meraih bantal paling empuk yang ada di ranjang mereka untuk kemudian benda itu ia letakkan persis di bawah pinggul gadisnya.

Sebelum memulai permainan inti, lelaki tampan itu mengecup kening gadisnya untuk waktu yang cukup lama. “Kalo sakit, bilang, ya, Ran,” ujar Samuel dengan bias suara sedalam palung.

Mendengarnya, aliran darah Ranindya berdesir lebih cepat. Samuel, permainan panas, dan kata-kata manis, jika dikombinasikan menjadi satu merupakan kelemahan baginya. Samuel menurunkan zipper celana seragamnya lalu membuka pakaian dalamnya. Ranindya bersusah payah menelan saliva saat sepasang manik selegam senjanya begitu terpikat dengan sesuatu yang berurat dan mencuat yang sebentar lagi akan menghantamnya.

“Nghhh,” lirihan Ranindya tertahan kala penis Samuel mulai mendatangi vaginanya.

Ranindya memejamkan maniknya erat. Napasnya menggebu hebat. Keringat membanjiri tubuhnya. Bahkan Samuel belum mulai untuk menggepurnya, tetapi hatinya sudah terasa tidak karuan. Perlahan namun pasti, Samuel memastikan kepemilikannya masuk dengan sempurna tanpa menyakiti kekasihnya.

“Ahhh,” desah Samuel kala merasa kepala penisnya sudah menyentuh dinding rahim sang gadis.

“Nghh, gerakin aja, Sam,” pinta Ranindya.

Dengan begitu, Samuel mulai bergerak maju dan mundur dalam tempo pelan. Sepasang kekasih itu saling mengumpat di dalam hati masing-masing. Permainan ini terlalu nikmat sampai membuat mereka merasa pusing. Tak lama setelahnya, Samuel mulai mempercepat gempurannya.

“Ahh, Ran,” lirih Samuel.

“Ahh, nghh, Sam, terushhh,” racau Ranindya.

Mendengar perintah demikian, Samuel kembali meningkatkan tempo permainannya. Suara pertemuan antara kulit yang lembap menggema di seluruh ruang UKS sore itu. Tirai putih yang tertutup rapi serta kain sprei yang berantakan menjadi saksi bisa kenikmatan yang tercipta di antara keduanya.

“Nghh, Sam, ahh, enakhh,” desah Ranindya.

Serupa dengan kekasihnya, Samuel juga merasakan hal yang sama. Permainan kali ini benar-benar membuat keduanya mabuk kepayang. Ditemani dengan suara decitan dari kaki-kaki ranjang yang terbuat dari logam, baik Ranindya maupun Samuel, mungkin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi.

“Mphh, Sam, aku mau, nghh, keluar,” ujar Ranindya.

“Bareng, Ran,” perintah Samuel.

Setelahnya, Samuel kembali mempercepat tempo gempurannya. Ia suka bagaimana pangkal penisnya terus menabrak titik termanis gadisnya sehingga ia terus mengelukan namanya. Ranindya juga mungkin setuju bahwa di antara permainan yang sudah berlangsung, permainan kali inilah yang terasa paling nikmat dan bermakna.

“Ahh!” pekik Ranindya.

Tak lama setelahnya, Samuel juga mendapat peepasannya. Dengan segera, ia mencabut penisnya dari dalam sana lalu menyemburkan spermanya ke arah perut rata Ranindya. “Akh!” pekik Samuel.

Sesuai rencana, sepasang kekasih itu menjemput pelepasannya bersama-sama. Keduanya diburu napas masing-masing. Keringat membanjiri tubuh mereka. Namun, meskipun begitu, Ranindya dan Samuel merasa bahagia dan puas di saat yang bersamaan. Lihat saja, bagaimana sepasang kekasih itu saling melempar senyum.

Samuel terlebih dahulu menarik selimut untuk disampirkan di tubuh keduanya yang setengah telanjang lalu mengecup kening, pipi, hidung, dan terakhir bibir Ranindya. Di atas ranjang yang hampir hancur itu, Samuel kembali menarik Ranindya untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia mengusap pelan kepala bagian belakang kekasihnya.

“Sam,” panggil Ranindya.

“Hm?” jawab Samuel dengan deheman singkat.

“Maaf, ya,” ujarnya.

“Maaf kenapa, Sayang?” tanya Samuel serius. Ia menatap wajah cantik itu lamat.

“Tadi,” ucap Ranindya. “Aku main sendiri,” lanjutnya.

Mendengarnya, Samuel terkekeh. “Iya, Ranie. Aku juga minta maaf, ya, Sayang,” balasnya lembut. “Tapi kalo kamu gitu lagi, aku beneran bakal bikin kamu gak bisa jalan seminggu,” tambahnya.

“Ih! Kenapa?” protes gadis cantik itu.

“‘Kan ada aku. Aku udah bilang ‘kan kalo kamu pengen tinggal bilang ke aku,” jelas Samuel.

“Ya, tapi ‘kan tadi kamu lagi rapat, Samuel. Masa iya aku manggil kamu di tengah-tengah rapat cuma karena aku lagi pengen,” sambar Ranindya.

“Aku gak peduli, Ran. Mau aku lagi makan atau lagi di luar kota juga, kalo kamu pengen kamu harus bilang ke aku,” tegas lelaki tampan itu.

Ranindya lebih memilih untuk mengalah sebab ia tahu Samuel adalah orang paling keras kepala yang pernah ia temui. “ Ya udah, iya,” pasrahnya.

“Nah, gitu dong. ‘Kan pacarnya Samuel,” puji Samuel.

“Iyalah. Masa pacarnya Aldo,” sarkas Ranindya.

“Tadi Aldo denger suara kamu loh,” ledek Samuel.

“Hah?!” teriak Ranindya. “Suara apaan? Kamu jangan ngaco deh, Sam,” ucapnya.

“Aku serius. Tadi pas rapat aku sama Aldo denger suara kamu, makanya rapatnya langsung aku batalin,” jelasnya.

Mendengar penjelasan seperti itu, Ranindya menundukkan kepalanya sebab malu. “Aduh, Sam. Kenapa kamu gak bilang sih? Asli, aku malu banget,” ujarnya.

Berbeda dengan Ranindya, Samuel malah tertawa puas. “Udah ah, jangan malu gitu, jadi makin cantik,” guyonnya. “Love you, Ran,” final Samuel sembari mencuri satu ciuman singkat dari gadisnya.

Ranindya memukul keras dada sang kekasih kala dirasa ciuman itu semakin menuntut. Lihat saja, bagaimana sebelah tangan lelaki setinggi tiang bendera sekolah itu terus bergerilya di seluruh ruang tubuh gadisnya yang dapat dijangkaunya.

“Sam!” pekik Ranindya. “Suka gak inget tempat deh,” keluhnya.

Samuel yang diprotes seperti itu hanya dapat terkekeh. “Biasanya juga gak nolak,” ledeknya.

Mendengarnya, Ranindya berdecak kesal. “Ih! Bukan gitu. Aku bukannya gak mau—” Belum sempat gadis cantik tersebut merampungkan kalimatnya, sang kekasih sudah berdiri tegak di hadapan dirinya yang tengah duduk manis di atas meja. Wajah tampan itu kian mendekat. Ini bukan pertama kalinya bagi Ranindya, tetapi tetap saja ia belum terbiasa.

“Apa? Kalo bukan nolak apa namanya?” tanya Samuel.

Lelaki tampan itu berusaha mati-matian untuk menahan tawanya. Bagaimana wajah cantik kesukaannya itu perlahan mencuatkan rona merah serupa kepiting rebus. Napasnya juga tercekat. Ya, bagaimana tidak? Dari jarak sedekat ini, Ranindya dapat melihat dengan jelas karya Tuhan paling indah yang pernah ia temui.

Sepasang lengan kekar yang sedari tadi berdiam diri di dalam saku celana seragam Samuel, kini mulai bergerak. Ia meletakkan kedua tangannya di samping sisi kanan dan diri tubuh Ranindya. Berbeda dengan lelaki tampan itu, Ranindya semakin memundurkan posisinya. Jika Samuel lupa, mereka masih berada di kawasan sekolah.

“Sam,” panggil gadis cantik itu gugup.

Yang dipanggil namanya hanya berdehem singkat. Samuel masih sibuk menikmati pemandangan indah favoritnya, setiap inci dari wajah cantik kekasihnya. Lelaki tampan sang penguasa sekolah itu baru saja akan melayangkan ciuman lain kala gadisnya mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat.

Dengan cepat, Ranindya mendorong tubuh kekar itu agar menjauh darinya. Ia turun dari posisinya di atas meja kayu untuk kemudian berdehem. “Jangan di sini. Nanti aja,” bisiknya. Kemudian, sepasang tangannya terulur untuk merapikan dasi yang melingkar di kerah kemeja sekolah Samuel.

Melihatnya, lelaki tampan itu tersenyum sumringah. Sebelah tangannya bergerak mengusap lembut pucuk kepala gadisnya. “Good girl. You can handle yourself, even myself,” ujar Samuel.

“Widih! Ada pengantin baru nih,” guyon Aldo sesaat baru sampai di dalam ruang sekretariat sekolah.

“Iri aja lo,” balas Samuel.

“Aku tunggu di sebelah, ya,” kata Ranindya.

Namun, baru saja gadis cantik itu membalikkan tubuhnya, sebelah tangan sang kekasih kembali bergerak. Tubuh mungil itu Samuel bawa lagi untuk menghadap ke arahnya. Di detik berikutnya, lelaki tampan itu bergerak maju dan…

Cup!

Samuel mengecup kening gadisnya singkat. Ranindya yang diberi perlakuan manis seperti itu langsung mematung di tempatnya. Sepasang manik selegam senjanya mengerjap beberapa kali. Ah, mari jangan lupakan Aldo yang menjadi saksi hidup keharmonisan yang terjadi antara si penguasa sekolah dan musuhnya.

“Gak apa-apa kok, Gengs. Gua gak apa-apa banget jadi nyamuk di sini. Jangan hiraukan gua, ya. Gua hanya butiran debu yang menjadi saksi keromantisan kalian di ruangan ini,” sarkas lelaki manis itu sembari menari-nari sesuka hatinya demi mengejek Ranindya dan Samuel. Belum sempat ia menyelesaikan dansanya, Samuel memukul pelan kepalanya. “Aduh, Samuel Anjing!” pekik Aldo seraya mengusap kepalanya.

“Udah sana kamu ke perpus,” perintah Samuel kepada kekasihnya. “Apa mau aku anter?” tanyanya.

“Gak usah. Aku bisa sendiri kok. Semangat, Sam!” final gadis cantik itu untuk kemudian ia berlari kencang untuk keluar dari ruangan itu. Ranindya, siang menuju sore hari itu, entah merasa malu atau terpanah dengan sikap sang kekasih.

“Ganggu aja lo,” protes Samuel pada Aldo Lalu, lelaki tampan itu mengambil posisi duduk pada kursi paling depan yang ada di ruang tersebut. Aldo atau seantero sekolah mengenalnya sebagai tangan kanan dari Samuel, merupakan seorang Wakil Ketua OSIS di SMA Bina Nusa Bangsa.

“Lo yang gak tau tempat, ya, Anjing! Di sekolah kerjaannya pacaran terus,” sinis Aldo setelah mengambil posisi duduk di sebelah sang ketua.

Tak berselang lama setelahnya, anggota struktur organisasi sekolah yang lain mulai memenuhi ruangan. Setelah semuanya berkumpul, rapat segera dimulai. Pada pertemuan kali ini, beberapa siswa dan siswi tersebut akan berdiskusi tentang proposal anggaran salah satu acara sekolah yang sangat dielu-elukan oleh warga sekolah lainnya, konser tahunan.

“Gua tau alumni dari sekolah kita kebanyakan ngambil kuliah di luar negeri. Makanya, gua minta sama kalian untuk cari data siapa aja alumni sekolah kita yang masih kuliah di sini, yang di luar kota dikasih tau juga. Tujuan kita ngundang alumni buat nambahin anggaran proposal. Alumni gak bakal pelit kok kalo tau kita perwakilan dari BiNusBa,” jelas Samuel.

Lainnya hanya mengangguk mengerti beberapa kali pada perintah yang dilontarkan ketua mereka barusan. Setelahnya, beberapa dari mereka mengajukan pernyataan dan pertanyaan pada Samuel. Tidak lain dan tidak bukan, banyak dari pertanyaan itu berasal dari siswa sekolah yang bukan termasuk ke dalam organisasi tersebut.

“Ya, gak apa-apa. Bilang ke mereka kalo kita gak bisa undang band itu. Kalo banyak dari junior kita yang masih protes, kasih tau gua aja, nanti biar gua yang urus mereka,” ujar Samuel lagi. “Ada yang—” Belum sempat lelaki tampan itu merampungkan pertanyaannya, ada suara yang tak asing menyeruak ke dalam indera pendengarannya.

Jika Samuel tidak salah dengar, itu adalah suara seorang gadis. Selain Samuel, Aldo-lah yang mendengar bunyi serupa. Lelaki manis yang memiliki hobi bermain game itu hanya dapat menahan tawanya. Aldo mengepalkan tangannya di depan mulut. Menyadari tidak hanya dirinya yang mendengar suara itu, Samuel bertukar tatap dengan wakilnya.

“Kayaknya harus lo samperin deh, Sam,” bisik Aldo pada Samuel. Samuel mengusap tengkuknya dengar gusar. Ia juga berdehem. “Gua tinggal sebentar, ya. Kalo 10 menit lagi gua gak balik, kalian pulang aja. Kita lanjutin rapatnya besok,” finalnya.

Sepersekian detik kemudian, Samuel dengan langkah tergesa berjalan menuju perpustakaan yang terletak tak jauh dari ruangan rapatnya tadi. Lelaki tampan itu baru akan melengang masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan buku-buku lama itu saat suara yang mengganggu telinganya kian menggema.

“Shit, Ranindya!” umpat Samuel.

Lelaki tampan itu kembali dibuat geram kala mengetahui pintu berbahan kayu itu terkunci dari dalam. Sepertinya, sang penghuni tidak menyadari kehadiran sosok lain. Lihat saja, sudah beberapa kali Samuel mengalunkan nama kekasihnya. Namun, tidak ada sedikit pun respon yang muncul. Tidak ingin sabar lebih lama lagi, akhirnya…

BRAK!

Samuel mendobrak paksa pintu perpustakaan tersebut. Pada radar penglihatannya, ia tidak menemukan sumber suara mengerikan tersebut. Lalu, ia berlari ke sudut ruangan dan di situlah dari mana suara ittu berasal. Sepasang manik selegam malamnya membelalak sempurna.

Ting! Tong!

Tok! Tok! Tok!

Terdengar bunyi lonceng bel yang beriringan bersama suara ketukan pintu. Dengan langkah gontai, Shella bangun dari tempat tidurnya selagi sepasang manik yang tertutup rapat. Bak mayat hidup yang baru bangkit dari makamnya, gadis cantik itu melangkah ke arah pintu. Andaikan Shella tidak tahu siapa oknum yang akan mengganggunya malam ini, ia sangat enggan bergerak dari posisinya satu senti pun.

“Bee,” panggil Alvino semangat tepat saat pintu itu terbuka untuknya. Ia mengulas senyum lebar sampai-sampai sepasang maniknya ikut melengkung.

Melihat sesosok tampan yang ada di depannya, Shella mengerucutkan bibirnya. “Mata aku sakit, Bee,” keluhnya sembari memeluk erat tubuh kekar di hadapannya.

“Sakit banget, ya?” tanya Alvino khawatir. Tangannya bergerak mengusap punggung sempit yang mendekapnya.

“Sakit banget sih enggak cuma aku jadi gak bisa ngeliat apa yang ada di sekitar aku dengan jelas,” ucap Shella setelah melonggarkan pelukannya.

Shella menarik sebelah tangan kekasihnya itu agar masuk ke kamar tidurnya. Ia mengomando Alvino untuk berbaring bersamanya di atas ranjang. Alvino terkekeh menanggapi sikap lucu kekasihnya itu. Lihat saja, bagaimana manik minimalis itu kembali hilang dalam sekejap saat simpulnya muncul. Alvino mendekap erat kekasihnya yang sedang sakit itu.

“Kalo aku masih keliatan ‘kan, Bee?” tanya Alvino menggombal.

Shella menatap kekasihnya itu tak percaya. Entah bagaimana guyonan renyah itu bisa keluar dari mulutnya. “Jangan ngomong, Bee. Kamu gak lucu,” ejeknya.

Alvino, yang diolok seperti itu hanya tertawa masam. Baginya, semua tingkah laku yang Shella perbuat sangatlah menggemaskan. “Kok kamu masih bangun, Bee? Tadi pas Carla ke kamar, katanya kamu udah tidur,” tanya Alvino lagi.

“Ya, menurut kamu? Dengan kamu bunyiin bel sama ngetok pintu, emangnya aku gak bakal bangun?” jawabnya tak santai.

Alvino menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Bener juga,” gumamnya.

Selepasnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Di dalam pelukan hangat itu, Shella mengusakkan wajahnya pada dada bidang sang kekasih. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi Shella untuk bermanja-manja dengan kekasihnya ini, terutama jika dirinya sedang sakit atau tidak bersemangat dengan kegiatan sehari-harinya.

“Bee,” panggil Alvino lagi.

“Hm?” balas Shella singkat.

“Coba sini deketan,” pinta lelaki tampan itu.

Padahal, jarak yang terpaut di antara mereka sudah sangat dekat. Meskipun begitu, Shella tetap mendekatkan dirinya kepada sang kekasih. Kini, sepasang wajah menawan itu saling bertukar pandang. Alvino sempat terbuai dengan sepasang manik yang berbinar bak bintang di langit itu. Ya, paling tidak sampai Shella mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Mau ngapain nyuruh aku deketan?” tanya Shella penasaran.

Di detik berikutnya, Alvino bergerak. Lelaki tampan itu mengecup mata kekasihnya yang sakit karena terinfeksi bakteri. Alvino seolah mengirimkan obat lewat ciumannya. Entah motivasi seperti apa yang membuatnya melakukan hal sedemikian rupa. Setidaknya, sudah tiga menit berjalan dan posisi keduanya masih sama seperti itu.

“Cepet sembuh, ya, Bee,” ucap Alvino sesaat setelah menyudahi kecupannya.

Shella tersenyum manis. “Makasih banyak, Bee,” jawabnya lembut.

Dua pasang manik itu kembali beradu tatap serta senyum. Saling menikmati pemandangan yang disuguhkan tepat di depan mereka. Kemudian, Alvino mulai memangkas jarak yang sudah sangat dekat itu dengan gadisnya. Shella-pun perlahan memejamkan matanya. Namun, saat satu belahan itu akan bertemu belahan lainnya, bunyi bel menginterups keduanyai.

Alvino dan Shella segera mengembalikan indera penglihatan masing-masing. Berbeda dengan Shella yang mendengus kesal, Alvino justru tersenyum. “Obatnya udah dateng,” ujar lelaki tampan itu untuk kemudian bangkit dan melangkah ke arah pintu kamar.

Mendengarnya, kening gadis cantik itu mengernyit. “Obat?” gumamnya.

Benar saja. Tepat setelah dirinya bermonolog, Alvino datang dengan sekantung obat dalam genggamannya. Melihatnya, Shella menggerutu. Selain sayur-sayuran hijau, obat menempati peringkat kedua sebagai bahan makanan yang paling tidak disukainya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.

“Obat siapa itu?” tanya Shella tidak santai.

Alvino kembali mendudukkan dirinya di sebelah Shella. “Obat kamu-lah,” katanya.

Shella mengusap wajahnya kasar lalu memicingkan matanya ke arah sang kekasih. “Kamu ‘kan tau aku gak suka obat, Bee,” ucap gadis cantik itu.

Alvino menghelas napas panjang. Ia tahu hal seperti ini akan terjadi. “Kalo gak minum obat nanti gak sembuh-sembuh matanya, Bee,” ujarnya.

“‘Kan udah dikasih obat tetes mata sama Carla, Bee,” bantah Shella.

“Itu obat dari luar. Ini obat antibiotik untuk bantu nyembuhin dari dalem, Bee,” jawab Alvino.

Alvino membuka satu buah obat dari bungkusan alumuniumnya. Ia sodorkan benda kecil itu untuk gadisnya tegak. Shella membuang pandangannya saat sepasang maniknya menangkap adanya ancaman dalam bentuk obat tablet yang terletak di atas tangan besar kekasihnya. Ia dapat membayangkan seberapa pahitnya benda itu.

“Gak mau, Bee,” sergah Shella tidak mau kalah.

“Aku gerus obatnya, ya? Biar bisa dilarutin pake air,” tawar lelaki tampan itu.

Shella menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia menolak keras apapun kegiatan yang berkaitan dengan obat dan rasa pahit yang terkandung di dalamnya. Tidak ingin kalah karena ini demi kebaikan sang gadis, Alvino menarik tangan Shella agar mendekat kepadanya. Tubuh kekar itu mendekap tubuh yang lebih mungil. Shella memberontak dengan keras.

“Kamu harus minum obat, Bee, biar cepet sembuh. Ini resep obat dari dokter pribadi kamu kok,” rayu Alvino kepada gadis cantik yang ada di dalam pelukannya itu.

“Gak mau, Bee, gak bakal ketelen juga sama aku,” tolak Shella. Gadis cantik itu masih berusaha untuk meloloskan diri dari kekasihnya.

Di sela-sela perang itu, tiba-tiba saja terbesit ide licik di dalam pikiran lelaki tampan itu. Alvino menggigit obat itu menggunakan mulutnya. Tangan kirinya bergerak untuk mengunci pergerakan gadisnya sementara tangan kanannya ia pakai untuk menangkup dagu mungil di hadapannya agar tidak bergerak bebas.

“Maaf, ya, Bee, tapi kamu harus minum obat,” final Alvino.

Selanjutnya, yang terjadi adalah Alvino melesatkan paksa obat tersebut ke dalam mulut Shella dari mulutnya. Jika digambarkan, lelaki tampan itu seperti akan mencium gadisnya tetapi dengan obat yang bertengger di giginya. Kalau sudah begini, mau tidak mau, ingin tidak ingin, Shella harus menelan benda pahit itu.

Sebab, Alvino tidak akan menyudahi ciumannya jika Shella tidak kunjung menghabiskan obatnya. Akhirnya, dengan berat hati, walaupun jiwa dan raganya tidak merestui, Shella melahap tablet antibiotik itu. Terlihat jelas ekspresinya yang menggambarkan keterpaksaan yang amat dalam.

Dirasa gadisnya sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, barulah Alvino melepaskan ciumannya. Ia tersenyum lebar bagai tak berdosa. Diusapnya pucuk kepala yang sedang mendidih karena amarah yang memuncak itu. Untuk meredakannya, Alvino mengecup sepasang pipi chubby yang ada di dalam pelukannya.

Lelaki tampan itu terkekeh. “Akhirnya, aku tau jalan pintas biar kamu mau minum obat,” ucapnya.

Berbeda dengan lelaki kesayangannya, wajah cantik Shella mengerut. “Pahit, Bee,” katanya kala lidahnya menyecap rasa ekstrem itu di dalam mulutnya.

“Eh?! Maaf, Bee, aku lupa,” ujar Alvino. Dengan cepat, ia memberikan botol air mineral yang isinya tinggal setengah dari nakas di sebelah tempat tidur.

Shella menegak habis air minum yang Alvino berikan padanya. Perlahan, rasa pahit itu mulai mengalir di dalam kerongkongannya. Setelah bertahun-tahun lamanya, gadis cantik itu kembali merasakan siksaan ala duniawi. Tapi, mau bagaimana pun juga, lelaki tampan itu melakukannya untuk dirinya.

“Masih pahit gak, Bee?” tanya Alvino.

Shella menganggukkan kepalanya. “Sedikit,” jawabnya.

Alvino hendak bangkit dari duduknya untuk mengambil botol air mineral lainnya saat pergerakannya dihentikan oleh Shella. Ia menatap tangan kurus yang menggenggam baju tidurnya. Sepasang manik minimalis itu seolah memancarkan tanda tanya. Apakah ada hal lain lagi yang kekasihnya butuhkan?

“Kenapa, Bee?” tanya Alvino heran.

“Kamu harus tanggung jawab,” ujar Shella datar.

Mendengarnya, manik yang biasanya terlihat segaris itu, kini membelalak sempurna. “Tanggung jawab gimana maksudnya?!” tanya lelaki tampan itu tak santai.

Sebelum menjawab, Shella membasahi bibirnya. “Kamu harus tanggung jawab juga, Bee. Obat ini pahit banget, kamu juga harus ngerasain,” jelasnya.

Sepersekian detik kemudian, gadis cantik itu menarik tubuh kekar itu agar menciumnya. Sangat amat jauh berbeda dengan yang sebelumnya, ciuman ini terasa hangat dan bermakna. Shella bersungguh-sungguh dalam meminta pertanggungjawaban dari sang kekasih. Meskipun sempat bergeming, Alvino akhirnya ikut mengalun bersama kegiatan intim itu.

Setidaknya, sudah berkali-kali dua kepala itu berganti arah, dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Shella merasa terpenuhi pengajuan tanggung jawabnya saat Alvino melumat bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Belum lagi, saat lidah itu melengang masuk dan mengabsen deretan giginya.

“Mphhh,” lenguh Shella saat ciuman itu semakin menuntut.

Merasa mendapat lampu hijau, Alvino menangkup kepala bagian belakang Shella untuk kemudian dengan perlahan menidurkan kekasihnya. Shella memeluk erat tubuh kekar yang menguasainya. Tangan besar itu mulai bergerilya ke sekitar. Tubuh mungil itu menggelinjang saat Alvino meremas payudaranya. Shella melepaskan ciumannya terlebih dahulu.

“Sakit, ya, Bee?” tanya Alvino lembut.

Shella tersenyum. “Enggak, Bee, gak sakit kok,” jawabnya.

Alvino mengecup kening gadisnya lalu kembali bertanya, “Boleh aku lanjutin?”

Shella mengangguk pelan. Lalu, tangan Alvino bergerak membuka satu per satu kancing baju tidur kemudian celana pendek yang melindungi tubuh kekasihnya diiringi dengan Shella yang melakukan hal serupa pada pakaiannya. Kini, sepasang kekasih itu hanya ditutupi oleh dalaman masing-masing.

Gadis cantik itu dapat merasakan sesuatu yang menonjol di bawah sana. Sesuatu yang besar itu terus menggodanya. Pastinya, Alvino menyadari hal tersebut. Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu, dengan sengaja, menggesek-gesekkan kepemilikannya agar mengenai kewanitaan sang kekasih.

“Nghhh, Bee,” lirih Shella.

“Enak, Bee?” kata Alvino mengumpan.

Shella tidak mampu menjawab. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya beberapa kali. Alvino dibuat menyeringai puas dengan respon itu. Oleh sebab itu, ia tidak mengurung niatnya untuk terus memancing hasrat gadisnya. Walaupun tidak dapat dipungkiri juga, lelaki tampan itu tidak sabar untuk melanjutkan ke permainan berikutnya.

“Ahhh, masukin aja, nghh, Bee,” pinta Shella.

Mendengarnya, Alvino mendekatkan mulutnya ke sebelah telinga Shella. “Foreplay dulu, ya, Bee.”

Berikutnya, Alvino mengusap vagina gadisnya dari arah luar. Hal itu mampu membuat Shella melirih kenikmatan. Alvino cukup terpuaskan saat indera perabanya merasakan kain yang lembap di bawah sana. Tak lama setelahnya, dua jari besar itu, tanpa aba-aba, melesat masuk ke dalam vaginanya.

“Bee!” pekik Shella.

Di dalam sana, Alvino sibuk mengaduk-aduk kepemilikan Shella selagi ibu jarinya memutar di daerah klitoris sang gadis. Berulang kali Shella mencoba merapatkan kakinya saat Alvino berulang kali melebarkannya lagi. Jika boleh jujur, gadis cantik itu merasa kewalahan dengan permainan yang lelaki kesayangannya lakukan padanya.

“Enak, Bee?” tanya Alvino memastikan.

Shella mengangguk mengiyakan pertanyaan yang Alvino lontarkan padanya. Tampaknya, Shella terlalu menikmatinya sampai-sampai pinggulnya ikut bergerak seolah meminta lebih. Melihatnya, Alvino menyeringai puas. Siapa yang bisa menyangka? Meskipun sakit, Shella tetap dapat menikmati permainan ini dengan maksimal.

“Lagi?” tawar Alvino.

Tentu saja, Shella setuju dengan yang satu itu. Selepasnya, Alvino menambah tempo kecepatannya di bawah sana. Shella menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar sembari meremat kain yang menjadi alasnya dengan erat. Namun, sepertinya ada yang kurang. Ia ingin memanjakan milik kekasihnya.

“Bee,” panggil Shella.

Yang dipanggil menoleh. Alvino menaikkan sebelah alisnya. “Ya, Bee?” jawabnya.

“Nghh, mau mainin, ahhh, punya kamu,” racau Shella.

Ada permohonan yang diajukan dalam rangka memanjakan kejantannya, Alvino tersenyum puas. Ia menghentikan aktivitas pada vagina gadisnya. Alvino merangkak menghampiri gadisnya. Lelaki tampan itu dapat melihat dengan jelas bagaimana manik Shella berbinar penuh harap.

“Mau mainin punya aku?” tanya Alvino menggoda.

“Iya,” jawab Shella.

“Kalo sekarang, jangan dulu, ya, Bee. Kamu baru selesai minum obat,” ujar lelaki tampan itu lembut. Tangannya bergerak mengusap pelan pucuk kepala Shella. Kemudian, Alvino kembali mendekatkan mulutnya ke sebelah telinga sang kekasih. “Aku langsung masukin aja, ya? Kamu juga udah basah,” bisik bariton itu.

Seketika, tubuh mungil itu bergetar hebat saat bias suara sedalam palung itu menyeruak ke dalam indera pendengarannya. Bak tersihir ilmu hitam, Shella menyetujui permintaan kekasihnya itu. Setelah mendapat persetujuan, Alvino merogoh alat kontrasepsi dari celana tidurnya yang tergeletak di atas kasur.

Setelah melepas celana dalamnya, Alvino memasang alat pengaman itu pada penisnya. Shella yang menyaksikan aksi itu hanya dapat membeku di tempatnya. Entah sebab matanya yang sedang sakit atau memang milik kekasihnya itu terlihat lebih besar malam ini? Gadis cantik itu menelan salivanya susah payah. Alvino yang menyadari hal itu hanya tertawa kecil.

Alvino tengah mempersiapkan kejantanannya untuk menerobos masuk ke dalam lubang surgawi di bawah sana seraya melepaskan dua kain terakhir yang melindungi aset indah kekasihnya. “Kalo sakit atau gak kuat atau capek, bilang aja, ya, Bee,” perintahnya.

“Iya, Bee. Aku gak apa-apa kok” balas Shella lembut nan menenangkan.

Bukannya apa, Alvino hanya takut aktivitas intim mereka malam ini dapat mempengaruhi kesehatan gadisnya yang dapat dibilang sedang tidak prima. Tetapi, bukan Shella namanya jika tidak menuntaskan apa yang sudah ia mulai. Lihat saja, gadis cantik itu bahkan kelihatan jauh lebih siap dibanding kekasihnya. Lalu…

“Ahh!”

“Akh!”

Alvino menghentak penisnya dalam sekali hantaman keras. Shella dapat merasakan vaginanya penuh akan batang berurat yang memohon untuk dipuaskan itu. Kemudian, Alvino mulai menggerakkan miliknya dengan tempo pelan. Sepasang kekasih itu mengerang kenikmatan atas permainan yang mereka ciptakan sendiri.

“Shhh, Bee,” desah Alvino.

“Nghh, cepetin lagihhh, Bee,” pinta Shella.

Mendengar ada ultimatum yang disampaikan, lelaki tampan itu menurutinya. Alvino bergerak semakin brutal. Ia dapat merasakan ujung penisnya menabrak dinding rahim gadisnya berulang kali. Juga, kedua bolanya yang membentur klitoris sang kekasih. Tidak ada sakit yang Shella rasakan, hanya rasa nikmat tiada tara.

Langit malam yang dipenuhi bintang kala itu yang beriringan dengan suara khas kenikmatan, decitan kaki ranjang yang bergoyang hebat, serta bunyi yang dihasilkan dari pertemuan kulit yang lembap karena keringat menjadi teman sekaligus saksi bahwa sepasang kekasih itu sedang memadu asmara.

“Ahhh, Bee, aku mau, nghh, keluar,” racau Shella selagi ia menggigit bibir bagian bawahnya sebab rasa nikmat yang menyelimutinya.

“Shh, bareng, Bee, ahhh,” perintah sang dominan.

Alvino menambah lagi tempo kecepatannya sehingga Shella makin dibuat terbang ke langit. Siapa yang menyangka bahwa aksi Alvino yang memaksa kekasihnya untuk menelan obat akan berakhir menjadi permainan panas yang penuh gairah seperti ini. Ya, jika saja Shella tidak meminta pertanggungjawaban, tentunya hal ini tidak akan terjadi.

“Nghhh, Bee, aku gak tahan,” pekik Shella.

Bagaimana tidak? Tumbukan pada bagian intimnya dengan sebelah tangan besar yang meraup payudaranya. Setengah dari titik tersensitif yang ada tubuh Shella dikuasai oleh Alvino. Tepat setelah gadis cantik itu berteriak demikian, ia menjemput pelepasannya bersamaan dengan sang kekasih.

“Ahh!”

“Akh!”

Alvino menyemburkan sperma hangatnya di dalam kantung berbahan karet di dalam sana. Shella dapat merasakan kehangatan itu menjalar di seluruh perutnya. Setelah bekerja keras, akhirnya, tubuh besar nan kekar itu tumbang juga. Shella memeluk tubuh kekasihnya yang dibanjiri keringat, tak jauh berbeda dengannya.

“Sakit gak, Bee?” tanya Alvino yang suaranya teredam karena wajahnya tepat berada di perpotongan leher gadisnya.

“Enggak, Bee, gak sakit kok,” jawab Shella.

Setelahnya, Alvino memindahkan tubuhnya untuk berbaring di samping Shella. Ditangkupnya wajah mungil cantik yang menjadi favoritnya. Sepasang manik sipit itu menelisik ke seluruh area wajah kekasihnya, terutama pada bagian matanya. Alvino dapat melihat bahwa mata Shella yang sakit mulai membaik.

“Mata kamu gak sesipit tadi, Bee,” jelas lelaki tampan itu. “Ngeliatnya jadi lebih jelas ‘kan?” tanyanya memastikan.

Shella menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Iya,” katanya.

“Makanya kalo disuruh minum obat itu jangan ngelawan,” olok Alvino.

Shella menjulurkan lidahnya. “Ini mata aku mendingan bukan karena minum obat,” sanggahnya.

Alvino mengernyitkan keningnya. “Lah? Enggak dong, Bee. Antibiotiknya udah mulai bereaksi itu makanya mata kamu jadi keliatan mendingan,” balasnya.

Shella menggelengkan kepalanya. “Bukan, Bee,” bantahnya. Kemudian, sebelah tangan gadis cantik itu bergerak mengusap pelan penis kekasihnya. “Tapi karena ini.”

Oleh sebab itu, Alvino meringis. Ia menggigit bibir bagian bawahnya. “Bee,” ucapnya. “Jangan gitu,” ujar Alvino sembari menyingkirkan tangan mungil itu dari miliknya. “Kamu masih sakit. Nanti aja kalo kamu udah sehat, kita main lagi yang lama. Nanti kamu udah gak bisa ngeliat, gak bisa jalan juga,”

Shella tertawa kecil mendengar penjelasan Alvino. “Iya, Bee, iya.”

Selepasnya, Alvino mendekap erat kekasihnya. Ia tumpukan dagunya di atas pucuk kepala Shella. Tangannya bergerak mengusap kepala bagian belakang gadisnya. Sementara itu, Shella memainkan jarinya pada dada bidang lelaki kesayangannya. Ia tidak pernah berhenti terkesima dengan tubuh yang terbentuk indah, miliknya.

Di balik selimut tebal berwarna putih dari ranjang hotel bintang lima itu, keduanya merasakan puncak kenyamanan masing-masing. Baik Alvino maupun Shella, menjadi satu dengan atmosfer yang mereka bentuk sejak tadi. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya suara napas teratur yang terdengar.

“Bee,” panggil Alvino memecah keheningan.

“Iya, Bee,” balas Shella.

“Jangan sakit,” lirih lelaki tampan itu.

Shella mengangkat pandangannya agar dapat melihat wajah tampan itu dengan jelas. “Kenapa?”

“Aku juga sakit,” kata Alvino. “Kalo kamu sakit, aku juga sakit. Mungkin kamu gak pernah liat dan aku juga gak pernah nunjukkin tapi aku bener-bener gak sanggup dan gak tega kalo ngeliat kamu sakit, Bee,” jelasnya.

Setelah melakukan permainan panas, Alvino melontarkan kalimat yang membuat hatinya kembali menghangat. Shella menyungging senyum. “Segitu khawatirnya, ya, sama aku?” ucapnya.

Alvino menatap lamat sepasang manik yang memiliki ukuran tak jauh dari manik miliknya. Alvino sangat menyukai bagaimana bola mata indah itu seringkali menyilaukan matanya karena binar yang bersinar terang. Dari semua pasang netra yang pernah ia temui, hanya milik Shella-lah yang dapat membuatnya jatuh ke dalam candu.

“Cukup sekali aku nyakitin kamu, Bee, dan itu udah cukup membuat aku ngerasain sakit yang sesakit-sakitnya,” ujar Alvino serius. “Aku gak pernah tau kalo perempuan yang aku butuhkan itu ternyata kamu. Aku malah terlalu sibuk sama yang jauh dari jangkauan aku tanpa menghiraukan siapa yang ada di dekat aku,” lanjut lelaki tampan itu.

Shella bergeming. Ia tidak akan menyangka bahwa kilas balik ini akan kembali terungkap. Ya, hubungan manis nan menggemaskan yang sekarang terjalin di antara mereka bukan lain adalah hasil dari asahan rasa sakit di masa lalu. Shella, mungkin juga Alvino, masih ingat betul lara yang menghantui perasaan dan pikiran mereka, dulu.

“Bee,” panggil Shella. Tangannya bergerak mengusap rangka tegas yang ada di hadapannya. “Itu ‘kan dulu. Kita juga ngelewatinnya bareng-bareng ‘kan? Jangan liat kita yang dulu, liat kita yang sekarang. Kamu yang menghalangi aku untuk jangan pergi dan aku yang memutuskan untuk bertahan sama kamu. Udah, ya, Bee. Aku sayang kamu,” final gadis cantik itu.

Sekali lagi, sedikit berbeda dengan yang tadi, ciuman ini terasa nyaman dan khidmat. Bukan kecupan yang dipenuhi hasrat yang menuntut, melainkan penyaluran rasa rindu dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Apa yang terjadi di masa lalu biarlah menjadi sejarah dari kisah cinta mereka.

Sebab, yang perlu mereka fokuskan sekarang adalah masa sekarang dan, apabila memungkinkan, masa depan. Lagi pula, jika di masa lalu mereka tidak merasakan apa yang dimaksud dengan kehilangan, mereka tidak mungkin akan saling menggenggam seerat ini sekarang. Alvino dan Shella yang sekarang adalah hasil dari Alvino dan Shella yang dulu.

Ting! Tong!

Alvino tengah menyandarkan tubuhnya di atas kepala ranjang sembari menyaksikan acara komedi di televisi kala sepasang indera pendengarannya menangkap bunyi yang bersumber dari bel kamar tidurnya bersama Nalandra. Dengan sigap, lelaki tampan itu bangkit dari posisi berbaringnya dani melangkah ke arah pintu.

“Eh, Car,” sapa Alvino saat melihat oknum yang menekan bel kamarnya. “Masuk dulu aja. Alan masih mandi,” sambungnya. Ia mempersilakan kekasih dari sahabatnya itu untuk masuk ke dalam sana.

“Iya. Makasih, Vino,” sahut Carla sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.

“Shella gimana keadaannya, Car?” tanya Alvino yang duduk di sebelahnya.

“Masih sama kayak tadi sih, Vin. Anaknya langsung tidur abis mandi tadi. Sebelum tidur juga udah gua tetesin obat mata kok” jelas Carla.

“Mau pulang kok malah sakit,” dengus Alvino seraya menghembuskan napas panjang.

Ceklek!

Tak lama setelah percakapan tersebut berakhir, Nalandra muncul dari arah kamar mandi dengan sehelai handuk kecil bertengger di kepalanya. Sepasang manik selegam malam itu memicing ke arah sang kekasih dan sahabatnya yang tengah duduk berdampingan di ranjang tidur.

Carla tahu betul bahwa lelaki kesayangannya itu tengah membuat praduga di dalam pikirannya. Oleh sebab itu, ia menggulirkan matanya jengah. “Mulai lagi deh dramanya,” gumam gadis cantik itu.

Nalandra mendekatkan dirinya ke arah Alvino dan Carla. “Ngapain lo sama pacar gua?” tanyanya tak santai.

“Ya, menurut lo ngapain?” ketus Carla. Ia memandang kekasihnya itu dengan tatapan malas.

Tidak ingin mendengar perdebatan ala rumah tangga ini semakin lama, Alvino bangkit dari posisinya. Ia mendekati Nalandra tepat di samping telinganya. “Gua ke Shella dulu. Kalo lo perlu, ada di dompet gua,” bisik lelaki tampan itu. Alvino menepuk bahu sahabatnya itu lalu tersenyum untuk kemudian melengang pergi dari kamar tersebut.

“Kamu udah mandi, Car?” tanya Nalandra seraya duduk di tempat Alvino sebelumnya.

“Udah,” jawab Carla singkat.

Nalandra tidak dapat memalingkan tatapannya dari anugerah paling indah yang tengah duduk di sampingnya. Sesekali, simpul itu mengembang karena puas dengan pemandangannya malam ini. Tentunya, Carla menyadari hal itu. Ia menatap sinis kekasihnya dari jarak yang cukup dekat. Kemudian, ia menghela napas panjang.

“Ngapain kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Carla.

“Ya, gak apa-apa dong. ‘Kan aku lagi ngeliatin pacar aku yang cantik,” kata Nalandra cengar-cengir.

Berikutnya, yang terjadi adalah Carla mendorong jauh wajah tampan itu dari hadapannya. Gadis cantik itu bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan ke balkon yang pemandangannya mengarah langsung ke arah pantai. Di malam yang dingin itu, bintang bertabur acak di luasnya semesta.

Carla mendongakkan kepalanya ke arah langit hitam yang berkilau. Walaupun temperatur yang dirasakan cukup menusuk, ia tetap memaksakan udara di sekitarnya untuk masuk ke dalam paru-parunya. Ingin bergabung bersama sang kekasih untuk menikmati malam terakhir mereka di sini, Nalandra menghampiri Carla.

Lelaki manis itu memeluk kekasihnya dari belakang. Ia melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang ramping di hadapannya. Carla yang diperlakukan begitu sempat terhenyak sebab dekapan Nalandra yang sangat erat. Nalandra menyusupkan wajahnya pada perpotongan leher Carla. Di sana, ia dapat menghirup aroma peach yang bercampur dengan bunga lily.

“Ngapain sih, Lan?” tanya Carla.

“Ngecek kamu beneran udah mandi apa belum,” jawab Nalandra yakin.

Mendengarnya, gadis cantik itu tersenyum. Carla bukannya tidak suka, hanya saja tingkah laku manis dan mengejutkan seperti ini dirasa tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Bagaimana Nalandra selalu membuat dirinya menjadi ratu setiap kali bersama mampu membuat Carla jatuh sedalam-dalamnya kepada lelaki penuh humor tersebut.

Meskipun Carla terlihat dingin dan tidak dapat ditembus seolah ada bongkahan es yang menghalanginya dari dunia luar tetapi hal itu tidak berlaku jika sedang bersama sang kekasih. Semenjak bertemu dengan Nalandra, dinding es itu perlahan mencair. Kehangatan yang lelaki manis itu hantarkan membuatnya nyaman.

Merasa jantungnya berdegup semakin tidak beraturan, Carla memberontak agar sang kekasih mau melepaskannya. Namun, apalah daya, kekuatannya tidak sebanding dengan Nalandra. Semakin dilawan maka akan semakin erat pelukannya. Sebentar saja, hanya untuk sementara waktu, Nalandra ingin bersama wanitanya seperti ini.

“Jangan gerak, Car. Kayak gini aja,” ucap Nalandra. “Aku kangen kamu,” lanjutnya.

Mendengar ada pesan rindu yang dilontarkan, hati gadis cantik itu menghangat. Carla kembali menyungging senyum dalam diamnya. Malam yang indah disandingkan dengan dekapan dari lelaki tercintanya, Carla bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah ia dapat lebih bahagia lagi dari malam ini?

Dengan gerakan perlahan namun pasti, sepasang tangan Carla bergerak. Tangan kirinya menangkup tangan besar yang melingkupi perutnya sementara tangan kanannya mengusap pelan pucuk kepala yang hinggap di bahunya. Nalandra benar, Carla ingin berada dalam posisi ini walaupun hanya sekejap.

“Aku sayang kamu, Car,” kata lelaki manis itu tiba-tiba.

Sebelum menjawab, gadis cantik itu mengangguk. “Iya, Nalandra. Aku juga sayang kamu,” ujarnya.

Selepasnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi. Keduanya, baik Nalandra maupun Carla, sama-sama terhanyut dalam atmosfer menenangkan yang mereka ciptakan sendiri dan didukung oleh semesta. Siapa yang dapat mengira bahwa hari terakhir liburan akan terasa sebermakna ini?

“Car,” panggil Nalandra. “Pindah dalem, yuk,” ajaknya.

“Di sini aja,” jawab Carla.

“Enggak, Sayang. Ini udaranya makin dingin. Kamu ‘kan gak bisa lama-lama kena udara dingin. Di dalem aja, ya? Nanti aku peluk kayak gini juga,” ujar lelaki manis itu.

Mendengar ada tawaran menarik, akhirnya Carla menyetujui perintah Nalandra. Nalandra menutup kembali pintu balkon sedangkan Carla mengambil posisi berbaring di atas ranjang. Saat berbalik, Nalandra dikejutkan dengan pemandangan yang tersuguh di depannya. Sepasang manik selegam malam itu membulat sempurna.

Jika tadi Carla mengenakan kimono tipis sebagai luaran baju tidurnya, sekarang gadis cantik itu hanya mengenakan gaun berbahan satin berwarna merah maroon yang kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Nalandra dengan susah payah menelan salivanya. Carla memang terlihat paling cantik saat malam hari, menurutnya.

“Aku tiduran, ya, Lan. Punggung aku sakit abis jalan-jalan tadi siang,” jelas gadis cantik itu.

Nalandra menganggukkan kepalanya beberapa kali. Lelaki manis itu menempatkan dirinya di sebelah sang kekasih. Ia menyampirkan selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka. Dengan gerakan ragu, Nalandra merentangkan lengan kanannya. Seolah peka dengan pergerakan itu, Carla meletakkan kepalanya di atas bahu lebar tersebut.

Tanpa disadari, untuk kedua kalinya, sepasang kekasih itu nyaman dengan pelukan hangat satu sama lain. Tidak ada suara yang menginterupsi mereka, kecuali detak tak beraturan dari jantung masing-masing. Sepertinya, malam ini akan menjadi malam ternyaman yang pernah dirasakan atau mungkin… malam terpanjang?

“Lan,” panggil Carla.

“Iya, Sayang?” sahut Nalandra diiringi senyuman.

Sejenak, Carla memandang wajah tampan yang lebih tinggi darinya itu seolah terbuai dengan binar dari netra yang terpancar dari sana. Tidak ada kata selain tampan dan menawan yang berputar di dalam benaknya. Sementara itu, yang dipandangi lamat hanya dapat bergeming. Carla tidak biasanya bersikap seperti ini, batin Nalandra.

“Kamu oke, Sayang? Kamu natap aku sampe gak ngedip gitu,” sergah Nalandra.

Di detik berikutnya, yang terjadi adalah Carla memangkas jarak yang bahkan sudah sangat dekat antara dirinya dan Nalandra. Dikecupnya belahan yang sedari tadi menggoda sanubarinya. Carla memejamkan matanya erat sedangkan Nalandra membelalak sebab gerakan yang tiba-tiba itu.

Namun, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang belum tentu datang setahun sekali, lelaki manis itu mulai mengikuti permainan yang gadisnya mulai. Nalandra mengeratkan pelukan beserta cumbuannya. Ingin melakukan sesuatu yang lebih, Carla mengusap dada bidang kekasihnya.

Nalandra lagi-lagi tidak mau kalah dari wanitanya. Kali ini, lidahnya melesat ke dalam mulut sang kekasih. Diajaknya benda lunak itu untuk bertanding dengan miliknya. Diabsennya satu per satu deretan gigi yang ada di sana. Sepertinya, malam yang dingin itu akan berubah menjadi malam yang panas.

“Mphhh,” lenguh Carla saat Nalandra menggigit bibir bagian bawahnya.

Setelah beberapa menit, Nalandra menyudahi acara bertukar saliva bersama gadisnya. Ia kembali menatap wajah cantik nan mungil itu dengan lamat. “Manis,” ujarnya dibarengi dengan seringai.

Berbeda dengan Nalandra, yang dipuji seperti itu tidak dapat menahan senyumnya. Seluruh wajah cantik milik Carla menyemburkan rona merah, terutama di kedua pipinya. Nalandra yang menyadari hal itu tertawa kecil. “Cantik,” katanya lagi.

Belum reda dari guncangan sebelumnya, Carla sudah kembali dihujani dengan kata sanjungan yang diucapkan oleh Nalandra. Hatinya seperti tidak diberikan waktu untuk istirahat dan menerima semua degupan khas rasa cinta itu. Nalandra sangat suka bagaimana rangka mungil itu berubah menjadi semerah buah cherry.

Sepersekian detik kemudian, Nalandra kembali membawa wajah cantik itu ke dalam cumbuannya. Carla memutuskan untuk membuang semua egonya dan membalas kecupan mesra itu. Ia dorong kepala bagian belakang lelaki kesayangannya agar mempererat ciumannya. Di sela-sela permainan itu, Nalandra menyeringai sebab ia tahu Carla telah menangkap umpannya.

“Nghh, ahhh,” desah Carla saat kecupan itu berpindah haluan ke beberapa bagian sensitif miliknya.

Setelah puas dengan bibir manis gadisnya, Nalandra ingin bermain dengan milik gadisnya yang lain. Lelaki manis itu mengubah posisinya menjadi di atas demi memimpin permainan. Dimulai dari menjilat daun telinga Carla sampai meninggalkan beberapa tanda kepemilikan berwarna merah keunguan di setiap inci permukaan kulit yang sudah terkespos.

“Ahh, Lan,” lirih Carla menetralisir kenikmatan yang ada.

Nalandra menunda sejenak kegiatannya. Ia membuka satu per satu kancing piyama yang dikenakannya lalu tampaklah perut atletis dengan cetakan otot sempurna. Carla mengusap lembut aset indah yang memanjakan pemandangannya selagi menggigit bibir bagian bawahnya. Melihatnya, Nalandra tersenyum lebar.

“Punya kamu,” kata Nalandra.

Lelaki manis itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Saat ini, sepasang lengan kekarnya tengah bergerak melepaskan gaun tipis milik Carla. Nalandra melumat bibirnya saat menemukan tidak ada pakaian lain yang melindungi tubuh indah kekasihnya. Seolah gadis cantik itu sudah menyiapkan dirinya untuk malam yang panas ini.

“Untung tadi Vino langsung keluar,” ketus Nalandra kala mengingat wanitanya itu sempat mengobrol sebentar dengan sahabatnya.

Tidak ingin emosi negatif itu terus menjarah hati terdalamnya, Nalandra memutuskan untuk menikmati sajian yang ada di bawahnya. Tubuh indah itu dibuat menggelinjang saat Nalandra menyentuh puting gadisnya. Carla yang dilecehkan seperti itu tidak mampu menahan desahannya.

“Nghh, Lan, ahhh,” lirihnya.

Nalandra bagaikan seorang bayi yang haus akan susu ibunya. Lihat saja, lelaki manis itu terus menghisap puting payudara gadisnya dengan ganas sembari tangannya yang meremas, memijat, lalu sesekali memilin puting buah dada gadisnya yang menganggur. Nalandra andal dalam aspek seperti ini.

“Ahhh, Lan, lagihh,” pinta gadis cantik itu.

Dengan begitu, Nalandra menyudahi aktivitasnya bersama sepasang gunung sintal kekasihnya. Namun, permainannya tidak berhenti sampai di sana. Nalandra mengecup area di sekitar perut Carla lalu perlahan turun ke arah paha bagian dalamnya. Carla sangat suka bagaimana benda kenyal itu memberikan stimulasi di seluruh permukaan kulitnya.

“Nghh, ahhh!” pekik Carla saat lidah kekasihnya itu melesat masuk ke dalam kewanitaannya.

Tangannya meremat kain yang menutupi ranjang yang ditidurinya dengan sangat erat. Kepalanya menengadah ke arah langit-langit karena nikmat yang tak tertahan dari permainan intim yang lelaki kesayangannya. Nalandra selalu punya cara untuk memuaskan hasrat yang Carla rasakan bahkan ketika gairah itu sedang menurun.

“Lan, ahhh, cepetin, nghhh,” perintah Carla.

Mendengar ada titah yang harus dilaksanakan, ibu jari lelaki manis itu ikut bergabung di bawah sana, memutari klitoris sang gadis. Carla, oknum yang dipuaskan, memejamkan kedua maniknya agar dapat menikmati rasa itu dengan maksimal. Ia benar-benar dibuat menggila malam itu.

Namun, saat puncak kenikmatan hampir menghampiri gadis cantik itu, Nalandra menghentikan permainannya. Carla mengembalikan fungsi indera penglihatannya. Ditatapnya wajah tampan itu dengan manik yang berapi-api. Sebelum Carla sempat melayangkan protes, Nalandra lebih dulu menghimpit tubuhnya.

“Aku juga mau dimainin pake mulut kamu dong, Sayang,” pinta Nalandra dengan seringai seram disertai dengan tatapan yang mengintimidasi.

Jika biasanya Nalandra yang patuh dengan segala kemauan gadisnya, untuk malam ini, lelaki manis itu ingin Carla yang mengikuti semua perintahnya. Nalandra ingin menguasai wanitanya, setidaknya pada kesempatan seperti ini. Carla, yang bak tersihir, mengangguk pelan menyetujui pernyataan yang dilontarkan kekasihnya.

Alhasil, sepasang kekasih itu memutar balik posisi mereka. Nalandra yang tadinya berada di atas, kini beralih menjadi di bawah dan begitu juga sebaliknya untuk Carla. Sebelum mulai memanjakan batang yang mencuat hebat dari balik celana tidur itu, Carla menyatukan semua helaian rambut panjangnya untuk kemudian menguncirnya.

Hanya dengan sekelebat aksi seperti itu, Nalandra dibuat tersipu malu. Sepasang manik selegam malam itu berbinar dengan penuh harap. Simpulnya mengembang indah. Nalandra jatuh cinta lagi dan lagi kepada wanitanya. Di sisi lain, saat Carla meluruhkan celana berbahan satin berwarna hitam itu, ia menyadari bahwa ada sepasang manik yang memerhatikannya.

“Kamu suka banget ngeliatin aku kayak gitu, Lan,” ujar Carla. “Ngeri banget kayak penculik,” sambungnya.

Nalandra baru saja membuka mulutnya untuk merespon kalimat Carla saat kepemilikannya sudah sepenuhnya masuk ke dalam mulut gadisnya. “Shh, ahhh,” lirih lelaki manis itu. Nalandra dapat merasakan hangatnya lubang itu bersatu dengan penisnya.

Kemudian, sebelah tangan kekar itu bergerak menangkup kunciran rambut dari belakang kepala kekasihnya. Nalandra membantu kekasihnya untuk mempercepat tempo kuluman pada kejantannya. Bila tadi Carla yang dibuat terbang ke angkasa oleh Nalandra, sekarang giliran lelaki manis itu yang diberi nikmat surgawi oleh wanitanya.

“Nghh, ahhh, cepetin lagihh, Car,” pinta Nalandra.

Mendengar komando tersebut, Carla menambah kecepatannya. Beberapa kali gadis cantik itu tersedak oleh benda besar yang memenuhi tenggorokannya, tapi itu bukan masalah yang signifikan. Selama lelaki kesayangannya merasa nikmat, ia rela melakukan apapun. Hubungan timbal balik yang seperti inilah yang membuat keduanya kian hari kian mesra.

Sepertinya, Nalandra akan menjemput pelepasannya. Namun, sebelum titik ternikmat itu datang, ia menghentikan semua pergerakan yang Carla lakukan pada kepemilikannya. Ia tersenyum lebar seraya berkata, “Udah dulu, ya.” Nalandra menarik sebelah tangan Carla agar gadis cantik itu masuk ke dalam pelukannya.

“Kok udahan, Lan?” tanya Carla penasaran.

Mendengarnya, Nalandra terkekeh. “Kenapa? Mau lagi?” balasnya dengan kembali bertanya.

“Ya, nanggung gitu gak sih?” kata Carla.

“Iya, nanggung,” jawab Nalandra. “Mau lanjut?” tanyanya.

Carla menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai isyarat jawaban iya. Kemudian, sepasang lengan kekar itu kembali bergerak. Nalandra menarik tubuh mungil gadisnya agar duduk di atasnya. Carla yang diberikan pergerakan tiba-tiba seperti itu terhenyak. Ia menautkan kedua alisnya, bertanya-tanya maksud dari semua ini.

“Kamu yang di atas, ya, Sayang,” ucap Nalandra seraya memasangkan karet lateks yang ia dapatkan dari dompet milik Alvino pada penisnya.

Dengan begitu, Nalandra mulai menggempur kekasihnya dari bawah. Gerakannya lambat namun nikmat yang terasa seperti memuncak. Carla mulai mengikuti permainan itu. Ia bergerak pelan serupa seperti lelaki kesayangannya. Keduanya mengarahkan tatapannya ke arah langit-langit kamar sembari manik mereka terpejam.

“Nghh, Lan, ahhh,” desah Carla.

“Shh, ahhh, Car,” lenguh Nalandra.

Baik Nalandra maupun Carla, sama-sama menikmati pertempuran mereka di atas ranjang. Tubuh yang dipenuhi keringat serta suara yang menggema di seluruh sudut kamar malam itu menjadi saksi kenikmatan yang menyelimuti keduanya. Semakin dirasa akan semakin nikmat. Setelahnya, keduanya menambah kecepatan permainan mereka.

“Ahh, Lan, nghhh, cepetin lagihhh,” perintah Carla.

“Nghh, kamu juga, ahhh, Sayang,” jawab Nalandra susah payah.

Bunyi pertemuan antara kulit yang lembap serta decitan kaki ranjang yang menggesek lantai kayu itu bagaikan pemandu sorak yang menyemangati keduanya dalam sesi panas yang sedang berlangsung. Dengan atmosfer seperti ini, mungkin sebentar lagi sepasang kekasih yang sedang dibakar api gairah itu akan mencapai titik ternikmatnya.

“Ahh, Lan, udah gak, nghhh, tahan,” kata Carla.

“Shhh, bareng, Sayang” jawab Nalandra.

Selepas percakapan yang membutuhkan tenaga ekstra itu, Nalandra dan Carla meningkatkan lagi tempo gempurannya masing-masing. Beruntungnya, ranjang ini kelihatannya tahan akan guncangan apapun. Buktinya, gempa yang dihasilkan oleh sepasang kekasih itu masih bisa ditanggungnya.

“Alan!”

“Akhh!”

Seperti rencana sebelumnya, mereka menjemput pelepasannya bersama-sama. Keduanya diburu napas. Carla tumbang di atas tubuh besar kekasihnya. Dengan sigap, Nalandra menangkap tubuh mungil itu. Diusapnya kepala bagian belakang dan punggung wanitanya. Carla sudah bekerja dengan sangat keras malam ini.

“Pacar aku pinter geraknya,” puji Nalandra dalam bentuk candaan.

“Aku gak mau lagi di atas,” ucap Carla tersendat-sendat sebab napasnya yang terbatas. “Capek banget,” keluhnya.

Nalandra hanya tertawa kecil menanggapi kekasihnya yang menggerutu sebal itu. Carla kembali bergerak. Gadis cantik itu merebahkan dirinya di samping sang kekasih saat Nalandra membuang sekantung penuh sperma hangat ke arah tong sampah. Carla memeluk tubuh kekar itu dengan kedua tangannya. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang dihadapannya.

Nalandra dapat mendengar dengan jelas helaan napas berat yang dihasilkan oleh kekasihnya itu. Sepertinya, Carla tidak berbohong dengan ucapannya. Memang, berada di tempat teratas, untuk hal apapun itu, akan terasa sangat melelahkan. Lelaki manis itu tersenyum untuk kemudian menatap wajah cantik yang lebih rendah darinya.

“Aku ambilin minum, ya, Car,” tawar Nalandra.

Carla menggeleng. “Gak usah,” tolaknya.

“Minum, ya, Sayang. ‘Kan tadi abis ngulum punya aku juga. Pasti kering tenggorokan kamu,” ujar lelaki manis itu.

Selepasnya, Nalandra bangkit dari posisi berbaringnya bersama Carla untuk mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari pendingin. Ia memberikan air dingin itu kepada sang kekasih. Dan, betul saja, Carla langsung menegak habis isi botol tersebut. Nalandra tertawa lepas melihat kelakuan wanitanya yang malu-malu kucing.

Merasa diolok-olok oleh lelaki kesayangannya, Carla melempar botol plastik kosong itu tepat ke kepala Nalandra. Lelaki manis itu mengaduh sembari mengusap kepalanya. Ia kembali melompat ke atas kasur lalu menyerang kekasihnya. Sepasang tangan berotot itu berusaha keras untuk menggelitik seluruh titik geli yang Carla miliki.

“Jahat banget, ya, sama pacarnya. Sini kamu,” ujar Nalandra.

“Ih, Nalandra! Geli! Iya, udah, iya,” ucap Carla sesekali diselingi dengan tertawaan keras.

“Ampun gak?” ancam lelaki manis itu.

“Iya, ampun, iya, maaf,” final Carla.

Barulah setelah permohonan maaf terdengar, lelaki manis itu mengakhiri serangannya. Nalandra kembali menarik Carla untuk masuk ke dalam dekapannya. Dipeluknya gadis cantik itu dengan sangat erat seolah Carla akan pergi jauh apabila dirinya lengah. Nalandra menumpukan dagunya di atas pucuk kepala Carla.

“Lan,” panggil Carla.

“Hm?” Yang dipanggil hanya berdehem singkat.

“Jangan pergi, ya,” sergah Carla.

“Kenapa ngomong gitu?” tanya Nalandra.

“Aku gak pernah jatuh cinta sedalam ini, Lan” jelas gadis cantik itu. “Hampir semua kebahagiaan aku ada di kamu. Aku tau kadang rasa cinta ini gak keliatan di kamu tapi aku berani sumpah kalo aku sayang banget sama kamu,” lanjutnya.

“Iya, Carla. Aku gak akan pergi…,” jawab Nalandra menggantung. “Lagi.”

“Gak usah mikirin yang dulu-dulu, ya, Lan. Kita bisa sampai di sini karena kita sakit dulu,” tegas Carla.

Di akhir permainan intim itu, ternyata terselip percakapan signifikan yang melibatkan masa lalu keduanya. Jika ada istilah yang tepat untuk sepasang kekasih itu, maka ‘Carla jatuh lebih dulu, tetapi Nalandra jatuh lebih dalam’ adalah yang paling tepat. Mengingat, perjalanan yang penuh rintangan dan lika-liku yang dilewati sepasang kekasih itu menjadi mereka seperti yang sekarang ini.

Sepertinya, rasa suka akan selalu datang dari orang yang tidak dapat kita duga dan rasa sayang tumbuh karena rasa suka yang datang dari orang yang tidak dapat kita duga tersebut. Carla menginginkan Nalandra untuk hidup bersamanya, maka Nalandra menginginkan untuk hidup dan mati bersamanya.

Di malam yang anginnya terasa dingin nan menusuk hari ini, di bawah bentangan langit yang dihiasi gemerlap bintang, terlihat sepasang kekasih tengah bermesraan di tepi kolam renang yang berisikan air hangat. Ranindya dan Jioraldo sedang bersantai di sana. Jioraldo, lelaki manis itu merangkul kekasihnya dengan sangat erat sementara Ranindya dengan nyaman menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang kekasih.

Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Sepertinya, baik Ranindya maupun Jioraldo, terlalu hanyut dalam atmosfer menenangkan yang menyelimuti mereka. Berbeda dengan Jioraldo yang kepalanya menengadah ke arah langit malam, Ranindya memusatkan pandangannya pada pantulan wajahnya di permukaan air di kolam renangnya. Ia menggigit bibir bagian bawahnya cemas.

“Gendut banget,” gumam gadis cantik itu.

Mendengar ada suara merdu yang berbisik, Jioraldo mengalihkan pandangannya ke arah Ranindya. “Kakak bilang apa?” tanyanya.

“Enggak, Ji, gak apa-apa kok,” jawab Ranindya sembari menggelengkan kepalanya..

Sepasang manik selegam malam itu menyipit. “Kakak jangan bohong, ya. Jio denger Kak Ranie bilang sesuatu,” sergah lelaki manis itu. “Ayo bilang sama Jio,” lanjutnya.

Ranindya tersenyum sebab ulah sang kekasih yang dirasa sangat menggemaskan itu. Sejenak, ia tenggelam dalam heningnya malam. “Liat deh, Ji, ke situ,” ujarnya seraya menunjuk permukaan air kolam yang memancarkan wajahnya. “Aku gendutan. Aku jadi punya double chin. Pipi aku juga jadi lebih tembem. Kayaknya aku harus diet deh,” jelas Ranindya.

Dengan begitu, Jioraldo menatap wajah gadisnya dengan lamat. Diperhatikannya setiap inci dari pahatan Tuhan yang paling indah yang pernah ditemuinya. Berbeda dengan Ranindya, lelaki manis itu menentang kalimatnya barusan. Jioraldo tidak melihat adanya dagu lancip yang menggembung atau sepasang pipi yang bertambah besar.

“Enggak, ah, Kak,” ucap Jioraldo. “Kakak masih sama kayak terakhir kali ketemu Jio,” sambungnya.

Ranindya menghela napas panjang. “Kita terakhir kali ketemu hampir sepuluh hari yang lalu, Ji. Dari hari itu, aku udah naik hampir 3 kilogram,” jelas gadis cantik.

“Ah, masa? Kak Ranie gak keliatan gendutan tuh,” bantah Jioraldo lagi.

“Jangan bohong deh. Aku dari kemaren ngaca tuh keliatan banget. Aku pokoknya mau diet,” rengek Ranindya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Coba sini deketan sama Jio,” pinta Jioraldo. “Jio mau liat yang mana yang gendutan,” tambahnya.

Mendengarnya, Ranindya menghadapkan tubuhnya ke arah Jioraldo. “Ini sama ini,” ucapnya seraya menunjuk pada salah satu bagian di bawah dagunya kemudian sepasang pipinya.

“Udah itu aja?” tanya Jioraldo.

Ranindya menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya, yang paling keliatan dua itu,” jelasnya.

Sepasang manik selegam malam itu menelisik bagian dagu lalu pipi kekasihnya untuk kemudian mengangguk paham. “Oke,” ujarnya.

“Keliatan ‘kan, Ji? Besok aku mau—” Belum sempat Ranindya merampungkan pemaparannya, lelaki manis kembali memangkas jarak di antara mereka.

Dengan ganas, Jioraldo mengecup lalu sesekali menjilat dagu dan sepasang pipi yang diduga menjadi alasan mengapa gadisnya merasa murung akhir-akhir ini. Entah apa yang membuat Ranindya tidak begitu percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang sedemikian rupa indahnya, menurut Jioraldo.

Tentunya, lelaki manis itu tidak suka saat Ranindya terus-terusan membahas salah satu bagian tubuhnya yang dirasa tidak memenuhi kriterianya. Jioraldo berani bersumpah bahwa kakak tingkatnya ini memiliki bentuk tubuh dan wajah paling cantik yang pernah ia lihat. Ranindya saja yang menetapkan standar dan kriteria tidak masuk akal kepada dirinya sendiri.

“Nghh, Ji,” lenguh Ranindya saat lidah juniornya itu terasa menggelitik di bagian lehernya.

Dengan begitu, lelaki manis itu baru mau melepaskan ciuman liarnya. “Udah? Mana lagi bagian tubuh Kakak yang Kakak gak suka, biar Jio benerin,” ujar lelaki manis itu serius.

Mendengarnya, Ranindya mengumpat dalam hatinya. Di momen seperti ini, kekasihnya yang menggemaskan itu masih bisa saja bermain intim. Ranindya memejamkan maniknya sembari menghela napas panjang. “Jio, aku serius,” ucapnya.

“Jio juga serius, Kak,” sela Jioraldo.

“Kamu paham gak sih rasanya jadi aku, Ji? Aku bahkan gak berani liat ke cermin atau nimbang di atas scale karena kepalang takut sama apa yang aku liat. Kalo boleh jujur, aku cemburu, Ji. Selama kamu ujian praktek di luar ruangan, banyak cewek yang ngeliatin kamu dan….” Ranindya sengaja menggantungkan kalimatnya. “Mereka cantik-cantik semua, Ji,” lirihnya.

Tidak seperti biasanya, sepasang manik selegam senja kesukaan Jioraldo itu tidak memancarkan binar indahnya malam ini. Pancaran netra yang biasanya membuatnya tenang itu kali ini mengekspresikan kekecewaan. Serupa dengan Ranindya, Jioraldo juga merasakan sedih yang teramat sangat. Ia tidak tahu bahwa kekasihnya ini merasa demikian.

Sepasang bahu sempit itu bergetar lalu suara isakan mulai terdengar. Ranindya menangis sebab kemalangan yang menimpa dirinya. “Aku takut kamu tinggalin aku, Ji,” ujarnya pelan.

Mendengarnya, dengan cepat, sebelah tangan kekar itu bergerak menarik sang gadis agar masuk ke dalam dekapannya. Jioraldo menghela napas saat indera pendengarannya menangkap kalimat menyeramkan yang diucapkan gadisnya. Ranindya yang diperlakukan seperti itu semakin semangat untuk menumpahkan air mata kesedihannya.

“Kakak kenapa mikir gitu? Jio gak mungkin ninggalin Kakak. Jio ‘kan sayangnya cuma sama Kak Ranie,” jelas Jioraldo seraya mengusap pucuk gadisnya.

Tidak ada jawaban yang terdengar setelah lelaki manis itu berkata demikian. Hanya ada suara tangisan serta air mata yang membasahi pakaiannya. Jioraldo mengerucutkan bibirnya. Ada rasa bersalah dan sedikit penyesalan yang terbesit di hatinya. Ia bahkan tidak tahu selama bahwa selama masa ujian banyak mahasiswi yang memperhatikan gerak-geriknya.

“Kak Ranie Cantik…,” ucap Jioraldo. “Udahan dong nangisnya, Jio jadi ikut sedih nih,” sambungnya.

Lagi, gadis cantik itu tidak merespon kalimatnya. Jioraldo tahu bahwa kakak tingkatnya itu sedang sangat emosional malam ini. Namun, ia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Alhasil, lelaki manis itu lebih memilih untuk menunggu sampai tangis gadisnya reda. Sedari tadi, tangannya tidak berhenti mengusap dan mengelus lembut pucuk serta punggung Ranindya.

Tak lama kemudian, Ranindya menyudahi tangisannya, tetapi napasnya masih tercekat. Jioraldo tersenyum manis saat mendengar tidak ada lagi tangisan yang mengalun. Kini, tangannya kembali bergerak menangkup sepasang pipi chubby kesukaannya. Ditatapnya manik yang digenangi air mata itu.

“Udah nangisnya, Kak?” tanya Jioraldo.

Ranindya tidak mampu menjawab dengan lisannya sehingga ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dalam waktu yang lama, dua pasang itu saling bertemu seolah melepaskan rasa rindu yang ada di dalam relung masing-masing.

Jioraldo dapat melihat dengan jelas kekhawatiran yang terpancar dari netra kakak tingkatnya dan Ranindya juga dapat melihat dengan jelas ketulusan yang terpancar dari netra adik tingkatnya. Di detik selanjutnya yang terjadi adalah Jioraldo mengecup hangat kening Ranindya.

“Kak,” panggil Jio setelah melepaskan ciumannya. “Kalo ada apa-apa cerita, ya. Jio gak tau kalo Kakak gak cerita. Maafin Jio kalo Jio belum bisa sepeka itu sama Kakak. Jio berani sumpah, Kak, kalo Jio bener-bener gak tau kalo kemaren pas ujian banyak cewek yang ngeliatin Jio soalnya Jio terlalu fokus sama ujian prakteknya biar cepet selesai terus bisa cepet ketemu sama Kak Ranie,” jelasnya.

Bak ilmu hitam, dengan ajaib penjelasan yang disertai dengan bariton yang menyeruak ke dalam indera pendengarannya membuat hatinya menjadi tenang. Tidak ada lagi kecemasan yang bersarang di hatinya. Kalimat yang dilontarkan Jioraldo barusan seolah mengandung obat penenang. Juga, Ranindya ingin mempercayai kata-kata kekasihnya itu.

“Kak Ranie bisa cari Jio kapanpun kalo lagi pengen cerita. Jio pasti dengerin kok,” tambah lelaki manis itu.

Mendengarnya, Ranindya tersenyum lebar. Jioraldo, lelaki manis dengan wajah serupa anak kecil itu selalu saja memiliki cara untuk menyenangkan kekasihnya, mulai dari perkara emosional seperti ini sampai masalah kepuasan secara intimasi. Jioraldo adalah bentuk paket lengkap yang Ranindya butuhkan.

“Iya, Ji,” kata Ranindya. “Maafin aku, ya, gak cerita sama kamu dan tiba-tiba nangis terus nyalahin kamu,” jelasnya.

“Iya, Kak Ranie, gak apa-apa kok,” balas lelaki manis itu.

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Sepasang kekasih itu sibuk memandang wajah pasangannya masing-masing sembari melempar senyum terindah yang mereka dapat beri. Tentu saja, komunikasi merupakan sebuah kunci dalam suatu hubungan. Komunikasi yang terjalin dengan baik akan membawa pasangan mana pun ke dalam hubungan yang terbuka.

“Kak Ranie,” panggil Jio lagi.

“Apa, Ji?” balas Ranindya.

“Tapi setelah dipikir-pikir, Jio emang ganteng sih,” guyon Jioraldo. “Jadi, wajar aja kalo banyak cewek-cewek yang suka sama Jio. Kak Ranie juga suka sama Jio dari pandangan pertama ‘kan?” ledeknya.

“Ih, Jio! Kamu rese banget,” protes Ranindya sembari memukul pelan dada bidang di hadapannya.

Jioraldo yang merasa gemas dengan tingkah gadisnya itu tertawa puas. “Nah, gitu dong! Kalo Kakak ketawa ‘kan cantiknya jadi bertambah,” gombalnya.

“Dih! Bisa aja nih anak kecil ngomongnya,” sarkas Ranindya.

Di sela-sela percakapan itu, tiba-tiba saja otak lelaki manis itu memunculkan ide cemerlang. Tentunya, setelah kejadian menyedihkan tadi, di mana kekasihnya merasa cemburu dan memiliki ketakutan bahwa ia mungkin saja berpaling dengan gadis cantik lainnya, Jioraldo harus meyakinkan bahwa hal itu tidak akan terjadi.

“Kak Ranie. Mau Jio kasih tau sesuatu gak?” tanya Jioraldo seraya mendekatkan wajahnya kepada Ranindya.

Ranindya yang merasa tertarik mengiyakan ajakan adik tingkatnya itu. “Apaan tuh, Ji?” balasnya penasaran.

“Jio mau kasih Kakak pembuktian,” ujarnya.

“Pembuktian?” tanya gadis cantik itu heran.

“Iya, pembuktian,” kata Jioraldo. “Pembuktian kalo Jio cuma suka, sayang, dan cinta sama Kak Ranie,” jelasnya.

Mendengarnya, Ranindya tersenyum manis. “Dengan kamu selalu ada di samping aku kayak sekarang ini, Ji, itu udah membuktikan kalo kamu cuma suka, syaang, dan cinta sama aku,” jawabnya.

Berbeda dengan gadisnya, Jioraldo membantah opini tersebut. Ia menggoyangkan ibu jarinya mengisyaratkan ketidaksetujuan. “Enggak,” ucapnya. “Pembuktiannya harus lebih kuat. Jio tunjukkin ke Kakak, ya,” lanjutnya sembari mengedipkan sebelah manik minimalisnya.

Ranindya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Oke, kalo gitu. Silakan Jio buktikan,” ujarnya.

Sepasang kekasih itu saling melempar senyum penuh makna yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Selepasnya, lelaki manis nan kekar itu bergerak menggendong kekasihnya menuju gubuk kecil yang terletak tak jauh dari mereka. Di bawah naungan atap berbahan jerami itu, keduanya bertukar pandangan.

“Cantik,” puji Jioraldo sembari mengambil posisi berbaring di samping Ranindya.

Ranindya terkekeh mendengar sanjungan yang dilontarkan kekasihnya itu. “Iya, aku tau aku cantik, Ji, makanya kamu suka sama aku ‘kan?” ledeknya.

“Iya dong! Kak Ranie ‘kan yang paling cantik,” ujar Jioraldo. “Beruntung Jio punya Kakak,” tambahnya.

Ranindya berani bersumpah bahwa kalimat terakhir yang juniornya ucapkan tadi mampu membangunkan kupu-kupu di dalam perutnya. Selain tingkah yang lucu layaknya murid taman kanak-kanak, Jioraldo juga memiliki mulut semanis madu. Lelaki manis itu tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan gadisnya.

Sepersekian detik kemudian, Jioraldo kembali mencium Ranindya. Ia memposisikan dirinya mengungkung sang kekasih. Di dalam cumbuannya, lelaki manis itu mengusap pipi chubby selagi menghapus jejak air mata yang tertinggal di sana. Sementara itu, Ranindya mengalungkan lengannya pada bahu lebar di hadapannya.

Ciuman itu terasa kian menuntut kala sebelah tangan kekar itu mulai bergerilya di sekitaran bagian tubuh terindah miliknya. Jioraldo tersenyum puas di sela-sela kegiatannya kala ia menyadari bahwa Ranindya tidak melapisi tubuhnya dengan pakaian lain selain gaun tidur tipis berbahan satin berwarna putih itu.

“Mphhh,” lenguh Ranindya tertahan saat tangan besar itu meremas payudaranya.

Setelah puas dengan belahan ranum yang memiliki rasa dan aroma cherry blossom itu, Jioraldo berpindah haluan. Kini, cumbuannya turun ke arah dada kekasihnya yang banyak terkeskpos. Ia meninggalkan banyak tanda kepemilikan di sana. Tidak sampai di situ, tangannya tidak berhenti bergerak. Jioraldo meluruhkan tali gaun tidur gadisnya.

Perlahan, gunung sintal kesukaannya itu mulai menampakkan wujudnya. Tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi, lelaki manis itu bergegas. Jioraldo menyambar sepasang payudara kekasihnya seoalah bayi yang merindukan susu ibunya. Ranindya begitu merindukan sentuhan seperti ini.

“Nghh, ahhh, Ji,” desah Ranindya.

Jioraldo benar-benar menepati janjinya untuk membuktikan bahwa hanya seorang Ranindya Alister Dhanurendra-lah yang ada di hatinya. Lihat saja, bagaimana pergerakan yang terlihat semakin ganas di sekitar gunung yang puting mencuat sempurna itu. Ranindya dibuat kewalahan dengan serangan dari adik tingkatnya.

“Ahh, Ji, terushhh,” racaunya.

Jioraldo kembali bergerak. Ciumannya semakin turun ke arah perut sang gadis. Namun, sebelum melanjutkan permainan pembangkit gairahnya, lelaki manis itu melepas sweater berwarna putih yang dikenakannya. Ranindya dapat melihat jelas otot perut yang tercetak di sana. Ia dengan susah payah menelan salivanya.

Padahal, hanya sepekan lebih Ranindya tidak berjumpa secara intensif dengan kekasihnya ini, tapi entah mengapa Jioraldo terlihat seribu kali lebih menggoda malam ini. Jioraldo tentu saja menyadari wajah kekasihnya yang mulai berubah merah serupa kepiting rebus. Ia menyeringai puas.

“Kak Ranie suka?” tanya Jioraldo sensual.

Ranindya tidak mampu menjawab. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, gadis cantik itu mengangguk beberapa kali. Ranindya selalu suka bagaimana bayi manis itu selalu berubah menjadi pria dewasa saat tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Dua sisi berbeda yang dimiliki Jioraldo sukses membuat Ranindya jatuh cinta sedalam-dalamnya.

Kemudian, lelaki manis itu mendekatkan wajahnya ke arah telinga kiri kayak tingkatnya. Ia menjilat daun telinga gadisnya sehingga membuat Ranindya menoleh ke arah samping. Gadi cantik itu meremat baju tidurnya yang belum sepenuhnya lepas. Napas hangat Jioraldo yang menghembus di sekitar titik sensitifnya membuat aliran darahnya berdesir cepat.

“Nghh, Ji,” lirih Ranindya.

“Kak,” panggil bias sedalam palung itu. “Kalo Jio masukin, boleh gak?” tanya Jioraldo.

Mendengarnya, sepasang manik selegam senjanya membulat. Di malam yang semakin larut dengan pemandangan kolam renang yang ada di taman belakang dan dibawah lukisan gelap semesta, Jioraldo sukses membuat Ranindya kembali jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya dengan caranya yang unik. Di sisi lain, Jioraldo masih menunggu jawaban dari gadisnya.

“Jio,” panggil Ranindya.

“Iya, Kak,” jawabnya lembut.

“Tapi pelan-pelan, ya,” pinta Ranindya.

Jioraldo tersenyum. “Iya, Kak. Jio mainnya pelan-pelan,” katanya menenangkan. “Kalo sakit, pukul Jio aja, ya, Kak,” tambahnya.

Dengan begitu, keduanya siap untuk permainan inti. Namun, sebelum acara utama dimulai, Jioraldo menyempatkan dirinya untuk mengecup hangat kening Ranindya dalam rangka memberikan semangat. Setelah selesai, ciuman itu perlahan turun bersamaan dengan kalung logam yang menyentuh setiap inci tubuh sang gadis.

“Nghhh, Ji, ahhh,” lirih Ranindya.

Jioraldo melahap ganas aset cantik yang ia yakini akan menjadi miliknya yang terindah, mulai dari bibir, dada, payudara, perut, lalu paha bagian dalam. Ranindya membantu adik tingkatnya untuk melepaskan gaun tidurnya. Sepasang manik selegam malam itu membulat sempurna saat mengetahui dugaan benar bahwa di balik kain tipis itu tidak ada kain lain yang menutupi tubuh kekasihnya.

Jioraldo kembali tersenyum. “Cantik,” ucapnya tulus.

Ranindya dapat merasakan pujian yang benar-benar berasal dari hati. “Cuma punya Jio,” jelas gadis cantik itu.

Selanjutnya, Jio melepaskan celana pendeknya lalu pakaian dalamnya. Ranindya dibuat tercekat napsnya saat sepasang manik selegam senjanya menangkap sebuah batang besar berurat yang berdiri tegap. Ranindya menahan napasnya kala kepala penis itu terus menggoda vaginanya.

“Nghhh, Ji,” desah Ranindya.

Perlahan namun pasti, itulah yang Jioraldo lakukan. Dengan gerakan hati-hati, ia mencoba meneroboskan kejantannya ke dalam lubang kecil yang dipenuhi kenikmatan. Ranindya mencakar punggung lebar Jioraldo kala merasakan nyeri bercampur nikmat di bawah sana.

“Sakit, ya, Kak?” tanya Jioraldo khawatir.

“Sedikit, Ji,” jawab Ranindya sembari meringis.

“Udahan aja, ya, Kak. Jio takut Kak Ranie kenapa-napa,” ujar lelaki manis itu.

Ranindya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia menolak keras permintaan kekasihnya yang satu ini. “Aku gak apa-apa, Ji. Lanjutin aja,” ucapnya.

“Jio masukin sekali hentak aja, ya, Kak?” tanyanya lagi.

Tanpa ragu, Ranindya mengiyakannya. “Iya, Ji,” jawabnya.

Ranindya memeluk erat lelaki kesayangan yang berada di atasnya. Sementara itu, Jioraldo menghirup napas panjang sebab ia tahu bahwa ini akan terasa sangat sakit tetapi untuk waktu yang tidak lama bagi gadisnya. Jioraldo menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Ranindya. Lalu…

“Ahh!” pekik Ranindya.

“Akh!” pekik Jioraldo.

Keduanya berteriak saat penis itu masuk sempurna ke dalam vagina. Jioraldo masih bergeming di tempatnya untuk menunggu Ranindya menyesuaikan diri dengan posisi ini. Ranindya semakin memeluk tubuh atletis yang mengungkungnya saat rasa sakit tergantikan dengan nikmat yang menjalar.

“Nghh, Ji, ahhh, gerakin aja,” pinta Ranindya.

Sesuai perintah, Jioraldo mulai menggerakkan pinggulnya. Keduanya menengadahkan kepala ke arah langit-langit pondok kala rasa nikmat yang teramat sangat perlahan tercipta dari permainan yang mereka lakukan. Untuk permainan panas yang sedang berlangsung, angin dingin yang berhembus tidak ada apa-apanya.

“Nghh, ahh, Kak,” lenguh Jioraldo.

Setelahnya, lelaki manis itu mempercepat tempo gempurannya. Baik Ranindya maupun Jioraldo sangat menikmati momen di mana kepala penis itu semakin terus menghujam titik manisnya. Kenikmatan yang menyelimuti mampu seolah memberhentikan waktu yang berjalan di sekitar mereka.

“Ahhh, Ji, terushh, ahh,” racau Ranindya.

Jiorlado menaikkan kecepatan permainannya menjadi dua kali lipat, membuat kenikmatan yang terjalin di antara keduanya juga meningkat dua kali lipat. Ditemani dengan udara malam yang semakin menusuk dan pemandangan seribu bintang, sepasang kekasih itu saling menikmati tubuh masing-masing.

“Ahh, Ji, kayaknya, nghh, aku mau, ahhh, keluar,” jelas Ranindya susah payah.

“Bareng, Kak,” jawab Jioraldo.

Berikutnya, Jio mempertajam gerakannya. Dengan tempo yang stabil, kejantanan yang mulai membesar itu terus melecehkan lubang favoritnya. Ranindya menyukai bagaimana adik tingkatnya ini sangat memahami apa yang ia inginkan. Gempuran itu membuat dirinya terbang melayang.

“Nghh, Ji, aku gak, ahhh, tahan,” ujar gadis cantik itu. “Ahh!” pekik Ranindya.

Tepat setelahnya, Jioraldo mencabut penisnya dari bawah sana untuk kemudian menyemburkan sperma hangatnya ke sembarang arah. Keduanya sama-sama diburu napas dan tubuh mereka dibanjiri keringat. Baik untuk Ranindya maupun Jioraldo, permainan panas malam ini terasa sangat sempurna.

Jioraldo kembali bergerak. Kali ini, lelaki manis itu menyampir sweater putihnya untuk menutupi tubuh polos kekasihnya. Sebelah tangannya mengusap pucuk kepala Ranindya sementara gadis itu masih berusaha mengatur napasnya. Jioraldo tertawa melihat gadis cantik yang serupa dengan ikan yang melompat dari air di kolam.

“Capek, ya, Kak?” ledek Jioraldo.

“Iya. Padahal aku udah nyuruh kamu buat pelan-pelan,” jawab Ranindya.

“Tapi enakan kalo cepet. Iya gak, Kak?” ledeknya lagi.

“Terserah kamu deh, Ji,” ketusnya.

Kemudian, Jioraldo menarik tubuh ringkih itu agar masuk ke dalam pelukannya lagi. Ranindya dapat merasakan dekapan yang semakin erat itu. Seakan jika lelaki manis itu melepaskannya, gadisnya akan pergi meninggalkannya. Sepertinya, sepasang kekasih itu memiliki ketakutan yang sama.

“Kak,” panggil Jioraldo.

“Iya, Ji,” jawab Ranindya lembut. Ia mengangkat pandangannya agar dapat melihat wajah serupa anak-anak itu lebih jelas.

“Jangan tinggalin Jio, ya,” ucap lelaki manis itu.

“Kok kamu bisa bilang gitu, Ji?” tanya Ranindya penasaran.

“Jio sama takutnya kayak Kak Ranie,” ujar Jioraldo. “Jio takut Kak Ranie tinggalin Jio,” sambungnya.

Mendengarnya, Ranindya terkekeh. “Enggak, Ji. Aku gak akan tinggalin kamu,” ujarnya menenangkan.

“Kak Ranie itu cewek paling baik, ramah, cantik, pokoknya semuanya yang pernah Jio temuin,” kata lelaki manis itu. “Gak menutup kemungkinan kalo ada cowok yang lebih-lebih dari Jio suka sama Kak Ranie. Kalo Kak Ranie tinggalin Jio terus Jio bisa apa?” jelasnya.

Sejenak, Ranindya tenggelam dalam pikirannya. Ternyata, kurang lebih, seperti inilah perasaan yang dirasakan Jioraldo tadi ketika dirinya merajuk. Ranindya menggigit bibir bagian bawahnya sebab rasa tak enak di dalam hatinya. Hati seorang Jioraldo Azzada terlalu murni untuk disakiti. Ia hanya pantas untuk dicintai.

“Enggak, Jio. Aku gak akan tinggalin kamu. Untuk apa aku cari yang lain? Kalo di samping aku aja udah ada kamu. Jio yang selalu ada kalo aku butuh, Jio yang selalu bikin aku seneng, Jio yang selalu punya tingkah lucu. Untuk apa aku cari itu di orang lain? Kalo ada kamu aja udah cukup, Ji,” jelas Ranindya.

Mendengarnya, hati lelaki manis itu menghangat. Jioraldo kembali mengecup kening gadisnya dalam waktu cukup lama. “Pokoknya Jio bakal berusaha sekeras mungkin biar Kak Ranie gak diambil sama cowok lain. Kak Ranie punya cuma Jio seorang,” katanya sembari mengeratkan pelukannya.

“I love you, Ji,” ucap Ranindya.

“Jio loves Kak Ranie too,” finalnya.

“Masuk, Ji,” ujar Ranindya pada adik tingkat kesayangannya itu.

“Kakak gak kedinginan apa pake baju pendek gitu? Tipis lagi,” protes Jioraldo sembari mengekori kekasihnya untuk melengang masuk ke dalam rumah besar nan mewah itu.

“Aku ‘kan tadi udah mau tidur, Ji,” jawab Ranindya. “Terus denger suara klakson motor kamu,” lanjutnya.

“Kak Ranie emang kalo tidur pake baju minim gini, ya?” tanya Jioraldo penasaran. Sepasang manik minimalisnya menelisik pada tubuh mungil yang memunggunginya, mulai dari kepala sampai kaki sang kekasih.

Kini, keduanya tengah berada di sekitaran dapur. Ranindya mengarahkan langkahnya menuju lemari pendingan sedangkan kekasih tercintanya berdiri di belakangnya sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari lelaki manis nan menggemaskan itu, Ranindya menghela napas panjang. Ia menghentikan kegiatannya dari memilah dan memilih makanan yang tersedia di dalam kulkasnya untuk kemudian berbalik menghadap adik tingkatnya yang berdiri tak jauh dari sana.

“Ketauan kamu, Ji. Apa gunanya kita facetime tiap malem? Ternyata kamu gak perhatiin aku,” protes gadis cantik itu.

Jioraldo, lelaki setinggi tiang bendera itu sempat tersentak. Ia sadar ada sinyal berbahaya yang tertangkap pada radarnya. Tak kehilangan akal, ia berjalan menghampiri kekasihnya yang kini tengah berusaha keras untuk meraih sepasang cangkir dari rak paling tinggi yang ada di dapur tersebut.

“Ih, Kak Ranie. Kok marah?” tanya Jioraldo dengan nada serupa anak kecil. Ia menelusupkan wajahnya pada perpotongan leher kekasihnya. Kedua tangannya juga bergerak merengkuh tubuh kecil Ranindya dari belakang. Ah, seperti masa lalu, ya. “Jio tuh bukannya gak perhatiin Kakak. Tapi ‘kan Kakak setiap facetime sama Jio lebih sering buka baju. Jadi, Jio mana paham kalo Kakak selalu pake baju tipis kalo mau tidur. Jangan marah, ya, Kak. Hm?” ujarnya.

Ranindya, gadis cantik itu membeku di tempatnya. Bagaimana tidak, sepasang lengan kekar yang memeluk erat tubuhnya disertai dengan bias suara yang tiba-tiba saja berubah menjadi sedalam palung. Jika Jioraldo tidak cekatan, mungkin cangkir kaca berwarna putih itu sekarang sudah pecah dan berserakan di atas lantai.

“Ih, Jio! Panas tau. Lepasin dulu,” elak Ranindya. Ia sukses dibuat salah tingkah oleh adik tingkat yang seperti memiliki dua kepribadian itu.

Jioraldo hanya dapat terkekeh melihat wajah cantik kesukaannya itu berubah menjadi semerah kepiting rebus. “Kakak Ranie kesayangannya Jio…,” ujarnya menggantung. “Cantik,” lanjutnya seraya mengusap pelan pucuk kepala mungil itu untuk kemudian menumpukan kepalanya di atas sana.

Mendengarnya, hati gadis cantik itu menghangat. Ia ikut melingkarkan tangannya pada tubuh kekar nan tinggi di hadapannya. Ranindya menelusupkan wajahnya pada dada bidang sang kekasih. Melihatnya, Jioraldo terkekeh. Untuk sementara waktu, keduanya masih nyaman pada posisi masing-masing.

“Ji,” panggil Ranindya memecah keheningan.

“Iya, Kak,” balas Jioraldo lembut.

“Maskeran, yuk!” ajak gadis cantik itu semangat. Ranindya mengangkat pandangannya ke arah Jioraldo agar dapat melihat wajah tampan itu dengan jelas.

Sejenak, kening lelaki manis itu mengernyit. “Maskeran?” tanyanya heran.

“Iya. Minggu ini kamu banyak praktek di luar ruangan ‘kan? Mukamu jadi kering gini,” ujar Ranindya sembari mengusap pelan kedua pipi tirus Jioraldo.

Jioraldo menangkup tangan yang mengelus wajahnya lembut itu. Kemudian, dikecupnya punggung tangan mungil tersebut. “Boleh, Kak. Ayo!” ucapnya tak kalah bersemangat.

Setelah memilih sheet mask yang diinginkan, keduanya melengang ke arah ruang televisi. Di atas sofa empuk berwarna merah itu, Ranindya dan Jioraldo bergantian memasangkan lembaran masker lembab itu ke wajah satu sama lain.

“Ih, Kak! Dingin banget,” keluh lelaki manis itu.

“Jio jangan banyak gerak. Nanti maskernya gak pas,” balas Ranindya.

“Ini emang basah gini, ya, Kak?” tanya Jioraldo polos. Ia menepuk-nepuk wajahnya yang dilapisi selembar kertas lembap itu.

“Jangan dipegang, Ji. Dipijit pelan aja, biar serum-nya masuk ke pori-pori,” jelas gadis cantik itu.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Walaupun begitu, Jioraldo mengikuti perintah yang diberikan oleh seniornya. Sementara itu, Ranindya sibuk merebahkan dirinya di atas sofa seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sepasang maniknya menutup erat. Di sisi lain, Jioraldo setelah puas dengan rasa penasarannya, kini beralih memandang lamat ke arah kirinya, pada gadis cantik kesayangannya.

“Kamu mau ngapain, Ji?” ucap Ranindya masih dengan mata yang terpejam.

Jioraldo hendak menyentuh kening gadisnya yang dilapisi masker kala indera keenam kekasihnya itu menangkap pergerakannya. Ia hanya dapat terkekeh. “Enggak, Kak, enggak,” katanya.

“Tunggu 20 menit, abis itu baru boleh dilepas maskernya,” jelas Ranindya.

“Oke, Kakak Cantik,” balas Jioraldo. Kemudian, lelaki manis itu ikut merebahkan dirinya di atas sofa di sebelah sang kekasih.

Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Baik Ranindya maupun Jioraldo, terhanyut dalam atmosfer yang menenangkan. Hanya ada suara instrumen lagu yang mengalun lembut dari pengeras suara yang ada. Setidaknya, sampai lelaki manis itu kembali berkata.

“Kak Ranie,” panggil Jioraldo.

Tidak memiliki tenaga lebih untuk menjawab, yang dipanggil namanya hanya berdehem singkat. “Apa, Ji?” tanya Ranindya.

“Kakak Ranie-nya kesayangan Jio,” ujarnya lagi.

“Iya, Jioraldo Sayang. Kenapa?” balas gadis cantik itu.

“Kakak Ranieee,” panggil lelaki manis itu tiada henti.

Bertepatan dengan selesainya waktu masker wajah tersebut, Ranindya menyingkirkan lembaran tersebut dari wajahnya. Berikutnya, gadis cantik itu melakukan hal serupa pada lelaki manis yang duduk di samping kanannya. “Apa, Jioraldo Ganteng?” jawabnya sembari menatap intens pada wajah tampan kesukaannya.

Melihatnya, Jioraldo tersenyum manis. Sepasang manik selegam malamnya hilang seketika simpul itu muncul pada wajahnya. Ia tertawa pelan. “Gak apa-apa. Cuma pengen manggil Kakak aja,” jelasnya.

Ranindya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali seraya terkekeh. Menurutnya, ada-ada saja tingkah lucu nan menggemaskan dari kekasih tercintanya ini. Ranindya baru saja akan membuang sisa-sisa masker yang mereka gunakan barusan kala sebelah lengan kekar menghentikan pergerakannya.

“Kenapa, Ji?” tanya Ranindya sedikit tercekat.

“Kakak di sini aja, jangan ke mana-mana, temenin Jio,” ujar Jioraldo.

Di detik berikutnya, yang terjadi adalah Jioraldo memangkas jarak antara dirinya dan sang kekasih. Perlahan namun pasti, belahan ranum itu menyambut belahan ranum lainnya. Dua pasang bibir yang saling merindukan itu kembali bertemu. Ranindya mengalungkan lengannya pada bahu lebar Jioraldo. Sementara itu, Jioraldo melingkarkan tangannya pada pinggang mungil Ranindya.

Ciuman yang berlangsung di antara keduanya kian memanas kala lelaki manis itu dengan telaten menidurkan kekasihnya di atas sofa. Sebelah tangannya ia letakkan di belakang kepala sang gadis dan tangan lainnya ia gunakan untuk menangkup dagu gadisnya. Di sisi lain, gadis cantik yang terkungkung di bawah sang junior terus mengusap tengkuk lalu kepala bagian belakangnya.

Sejenak, Jioraldo menyudahi acara bertukar saliva dengan Ranindya. “Aku baru sadar rumahnya Kak Ranie ada kolam renangnya. Jio gendong ke situ. Mau, ya?” tanya lelaki manis itu lembut.

Di malam yang belum sama sekali larut itu, saat langit tampak sedikit sendu meskipun hari bahagia tengah singgah, ditemani oleh pemandangan khas metropolitan, sepasang kekasih itu memutuskan untuk menghabiskan hari bersama. Airin dan Alby sedang asyik bersenandung mengikuti lagu yang sedang terputar dari audio yang ada di dalam mobil klasik itu.

“Mohon Tuhan, untuk kali ini saja, beri aku kekuatan untuk menatap matanya. Mohon Tuhan, untuk kali ini saja, lancarkanlah hariku… hariku bersamanya… hariku bersamanya!”

Terdengar keduanya tengah menyanyikan salah satu tembang asmara berjudul Hari Bersamanya yang dibawakan oleh Sheila On 7, salah satu band asal Indonesia kesukaan Alby. Setidaknya, lagu dari band tersebut, Marcell, Kahitna, Chrisye, Hivi!, Jaz, Petra Sihombing, Glenn Fredly, dan yang lainnya telah menemani lelaki manis itu sejak awal pertemuannya dengan Airin.

“Aku udah hampir puter lagu ini sepuluh kali hari ini, By,” ujar Airin di tengah-tengah konser tunggal yang dibawakan oleh dirinya dan sang kekasih.

“Suka banget sama lagu ini? Apa gimana?” tanya Alby penasaran.

“Suka,” singkat Airin. “Sama kangen kamu juga,” lanjutnya.

Mendengarnya, Alby tidak mampu menahan senyumnya. Pipinya juga memanas mendengar pengakuan yang dilontarkan gadisnya. Bukan suatu kebohongan melainkan fakta bahwa Airin benar-benar merindukan lelaki kesayangannya itu. Tidak jauh berbeda dengan Alby, Airin juga tersenyum manis.

“Aku serius,” kata gadis cantik itu.

“Ya, yang bilang kamu gak serius tuh siapa?” guyon Alby. Sepasang maniknya tidak lepas dari hamparan aspal yang dipenuhi dengan kendaraan.

“Kamu keliatan kayak gak yakin gitu,” protes Airin.

Tepat di akhir kalimatnya, mobil klasik itu berhenti di persimpangan selagi menunggu lampu lalu lintas yang berhitung mundur. Airin melempar pandangannya pada suasana malam dari balik jendela mobil. Sementara itu, Alby sibuk menikmati pemandangannya, Airin yang duduk di sampingnya adalah pemandangan favoritnya.

Alby mendekatkan wajahnya pada wajah cantik yang sedang serius menatap keluar jendela. “Kalo gini, udah keliatan seriusnya?” tanya Alby.

Airin menolehkan pandangannya ke sumber suara dan yang ditemukannya adalah wajah manis dengan manik minimalis yang berjarak hanya beberapa senti darinya. Airin membulatkan matanya sempurna serupa bola pingpong. Pada posisi seperti itu, Airin tidak bisa berbuat apapun selain diam di tempatnya.

Melihatnya, Alby tertawa kecil. “Gimana? Udah keliatan seriusnya?” goda lelaki manis itu.

Airin mendorong tubuh kekar itu agar menjauh darinya. “Udah,” jawabnya. “Sana jalan,” perintah gadis cantik itu.

Alby memindahkan tuas persneling di sebelah kirinya untuk kemudian melajukan mobilnya dalam kecepatan normal. Alby selalu suka bagaimana wajah cantik itu berubah menjadi semerah cherry terutama di bagian sepasang pipi chubby-nya saat ia berhasil menggoda sang kekasih.

Setelah cukup lama menenangkan jantungnya yang berdegup tak karuan, Airin kembali membuka suara. “Kita mau ke mana, By?” tanyanya.

“Aku belom bilang sama kamu, ya?” balas Alby dengan kembali bertanya.

Airin menggelengkan kepalanya. “Belom,” jawabnya.

“Yaudah, kalo gitu. Tunggu aja, ya, Cantik. Nanti juga kamu tau kita mau ke mana. Tenang aja, kamu gak aku culik kok,” ucap lelaki manis itu diakhiri lelucon.

Dengan begitu, Airin mengangguk paham. Ia kembali memusatkan atensinya pada padatnya jalanan di malam ala kasih sayang hari ini sedangkan Alby fokus pada aktivitas menyetirnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya sampai di tempat yang Alby maksud, tepatnya sebuah rumah makan yang mampu membangkitkan seribu memori dan perasaan bagi mereka.

“Udah lama, ya, kita gak makan di sini,” ujar Airin saat Alby membukakan pintu mobil untuknya.

Setelahnya, Airin dan Alby memesan makanan pada salah satu pegawai yang ada di rumah makan tersebut. Selagi menunggu makanan untuk disajikan, Alby menangkup tangan gadisnya untuk kemudian mengusapnya lembut. Dua pasang manik yang memancarkan binar khas kasih sayang itu saling bertukar pandang.

“Sayang,” panggil Alby.

Mendengarnya, Airin yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat pandangannya. “Ya,” balasnya.

“Maaf, ya,” kata lelaki manis itu.

“Iya, Alby. Aku gak apa-apa kok kamu bikin bete gara-gara dikerjain dari kemaren,” ucap Airin seraya terkekeh.

Alby tersenyum miris. “Bukan itu,” ucapnya.

Airin mengangkat sebelah alisnya. “Bukan? Terus apa?” tanyanya khawatir.

Sebelum memulai, Alby terlebih dahulu menghela napasnya panjang. “Maaf aku gak bisa bawa kamu ke restoran mewah bintang lima,” jelasnya. “Bukannya aku gak mau tapi aku gak bisa. Aku janji di hari spesial berikutnya, aku bakal ajak kamu makan makanan mewah kayak pasangan lain kalo lagi ngerayain sesuatu.”

Selepas eksplanasi penuh penyesalan dari lelaki kesayangannya, Airin tersenyum pilu. Hatinya seolah teriris bilah bambu tajam. Bukan rasa kecewa yang muncul, melainkan rasa gundah. Ia tidak menginginkan makan malam mewah, buket bunga mawar yang besar, atau perhiasan mahal sebagai hadiah, cukup Alby ada di sisinya itu sudah lebih dari seisi dunia baginya.

“Alby,” panggil Airin.

Yang dipanggil namanya tersenyum. “Iya, Sayang,” jawabnya.

“Kamu kenapa minta maaf sama aku? Karena kamu ajak aku ke sini dan bukannya restoran mewah? Di sini juga tempat makan mewah kok. Inget gak kamu pernah ngobrol apa sama aku di sini? Kenangan itu yang bikin tempat ini jadi mewah, By,” ujar Airin menyinggung momen berharga yang pernah terjadi di rumah makan langganan Alby dan keluarganya ini. “Aku gak munafik kalo aku juga suka diajak makan dan dikasih hadiah tapi kalo dengan makan soto di sini bisa bikin aku jadi perempuan paling bahagia di dunia ini… untuk apa aku minta yang lain,” lanjutnya.

Jika biasanya Airin yang tersihir oleh tingkah laku dan kata-kata manis dari Alby, khusus untuk malam ini, Alby-lah yang dimantrai oleh gadisnya. Kumpulan kalimat uraian yang mengandung kalimat penenang itu sukses menghilangkan rasa sedih, marah, kecewa, dan semacamnya yang bersarang di hatinya.

Airin memberi senyum terbaiknya kepada Alby dan dibalas serupa. Tangan mungilnya yang terbebas menangkup rangka tegas namun manis di hadapannya. Alby menyambut usapan itu dengan tangannya yang lain. Tidak hanya Airin, malam itu, Alby menjadi laki-laki paling bahagia yang ada di dunia.

“Makasih, ya, Sayang,” ucap Alby.

“Iya, Alby, sama-sama,” balas Airin lembut.

Selepas perbincangan manis yang intensif itu, dua porsi soto ayam, nasi putih hangat, serta es teh manis hadir di hadapan keduanya. Baik Airin maupun Alby, sama-sama menikmati hidangan makan malam mereka dengan khidmat. Menyantap makanan lezat bersama orang terkasih, apakah ada kombinasi lain yang lebih bahagia dari pada itu?

“Kamu sengaja gak makan dari pagi biar makan bareng aku, ya, By?” ledek Airin. Tangan kanannya bergerak menyeka sejumput nasi yang menempel di ujung bibir kekasihnya.

“Iya, soalnya gak disuruh makan sama kamu makanya aku gak makan,” ujar Alby.

Setelah kurang lebih 30 menit, sepasang kekasih itu sudah menyelesaikan santapan malam masing-masing. Alby bangkit dari duduknya lalu menuju kasir untuk membayar dua porsi nasi soto dan es teh manis. Sementara itu, Airin berjalan menuju toilet. Sebelum sempat menghilang dari radarnya, Alby berteriak kepada sang kekasih.

“Sayang,” panggilnya. “Aku tunggu di mobil, ya,” kata Alby.

“Iya, By,” balas Airin.

Baik Airin maupun Alby, keduanya tersenyum dalam diamnya. Alby bangga menyebut kekasihnya itu dengan panggilan sayang sekeras mungkin demi memamerkan kepada dunia bahwa gadis cantik itulah kesayangannya. Airin juga ikut bahagia bagaimana beberapa gadis di sana melirik iri padanya saat Alby menyandingkan kata sayang saat berbicara padanya.

Selesai dengan urusan masing-masing, kini sepasang kekasih itu kembali melengang di ramainya jalanan. Alby sengaja tidak langsung mengantar gadis cantik itu selepas makan malam. Jika memungkinkan, Alby ingin menghabiskan malam ini hanya berdua dengan Airin. Dan sepertinya, Airin menginginkan hal yang sama.

“Kamu sengaja banget tadi suaranya dikerasin pas manggil aku,” ucap Airin membuka percakapan.

“Iya dong. ‘Kan aku mau pamer. Terakhir kali kita ke sana, kamu masih…,” Alby sengaja menggantungkan kalimatnya.

“Masih apa?” tanya Airin mengintimidasi.

“Eh, salah, maksudnya bukan kamu tapi aku,” sanggah Alby. “Aku yang masih bingung kenapa butuh waktu lama banget buat jadiin kamu pacar aku,” elaknya.

Mendengarnya, Airin tersenyum tetapi tangannya juga bergerak melayangkan satu pukulan pada lengan kekar kekasihnya. “Gombal terus,” keluhnya.

Selanjutnya, yang terjadi adalah semua topik pembahasan yang dapat dijadikan bahan perdebatan satu per satu muncul. Mulai dari peristiwa Alby yang membentangkan kain besar untuk Airin baca saat upacara sedang berlangsung, alasan mengapa Alby hanya ingin menjadi anak satu-satunya yang hadir di antara Januar dan Shinta, sampai hal acak seperti mengapa kuda laut jantan yang melahirkan dan bukannya kuda laut betina.

Demi membunuh waktu di malam yang membahagiakan ini, sepasang kekasih itu rela berbincang berjam-jam sembari diiringi lagu-lagu dari daftar putar favorit mereka di dalam mobil yang sedari tadi hanya berputar-putar di kawasan yang sama. Tak apa, Airin dan Alby tetap menikmatinya, sangat menikmatinya.

Setidaknya, sampai hari menuju tengah malam. Dengan berat hati, Alby memutuskan untuk mengantar Airin pulang setelah membelikan gadisnya dua kantong penuh makanan ringan dari minimarket terdekat. Tak butuh waktu lama bagi Alby untuk melajukan mobilnya agar sampai di pekarangan tempat tinggal Airin.

Sesampainya di sana, Alby melepas sabuk pengamannya. Ia menolehkan pandangannya pada makhluk tercantik yang ada di sebelah kirinya. Airin terdengar sangat hening sejak beberapa menit terakhir. Dan ternyata, dugaannya benar. Kekasihnya itu sudah terlelap di atas jok mobilnya.

“Cantik,” gumam Alby sepelan mungkin.

Tangan kirinya bergerak menyibak helaian rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya. Malam itu, Alby tidak berhenti memanjatkan syukur kepada Tuhan sebab telah mempertemukan dan menyatukannya dengan Airin. Lihat saja, bagaimana simpul itu tidak pudar sama sekali keberadaannya.

Namun, mengingat malam semakin larut dan waktu tidak akan berhenti, Alby menyudahi acaranya menikmati pemandangan terindah yang pernah ia temui seumur hidupnya. Ia memikirkan segala cara untuk mengantar Airin sampai dengan selamat ke dalam unit apartemennya tanpa membangungkannya.

Alby keluar terlebih dahulu untuk kemudian berlari kecil memutari mobilnya. Dibukanya pintu mobil tempat Airin tertidur tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Alby berbisik, “Maaf, ya, Sayang.”

Di tengah malam yang anginnya berhembus dengan tidak santai ini, Alby menggendong Airin serupa dengan pengantin baru menuju tempat tinggalnya. Tidak ada siapapun di sana, kecuali Pak Bagus yang kebetulan sedang terlelap di dalam pos jaganya. Alby meninggalkan sebungkus nasi goreng di meja kerja lelaki paruh baya itu.

Setelah menaiki lift, akhirnya Alby sampai juga di depan pintu unit tempat tinggal Airin. Ia menekan kombinasi nomor yang menjadi kode sandi pintu tersebut. Masih dengan langkah pasti, Alby masuk ke dalam sana dan berjalan menuju kamar tidur kekasihnya. Di dalam sana, dengan telaten, Alby meletakkan tubuh ringkih itu di atas ranjang.

“Selamat tidur, Sayang. Semoga mimpi indah,” ucap Alby untuk setelahnya mengecup pelan kening gadisnya lalu menyampirkan selimut tebal agar menutupi setengah tubuh Airin.

Kemudian, tangan lelaki manis itu bergerak merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak berbahan beludru berwarna biru tua dengan tulisan berwarna emas yang menghiasinya, juga sebuah surat. Diletakkan kedua benda itu di atas nakas di sebelah ranjang tidur sang gadis. Dalam hatinya, Alby berharap semoga Airin menyukai pemberiannya.

Dan sekali lagi, untuk terakhir kalinya di hari ini, Alby kembali memandangi wajah tercantik ciptaan Tuhan. Menurut dugaannya, Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan gadisnya ini. Alby tersenyum memandang gadisnya yang tertidur dengan nyenyak. Barulah setelah beberapa saat, Alby melengang keluar dari sana.

“Kita mau ke mana? Apart aku jalannya gak ke sini. Kamu mau culik aku, ya?” tanya Airin khawatir.

Mendengarnya, Alby tertawa puas. Ia membelokkan mobilnya di pertigaan setelah lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. “Ngapain aku culik kamu, Rin?” ucapnya masih sembari tergelak. “Kalo aku mau tidur sama kamu, makan sama kamu, deket sama kamu setiap hari, aku tinggal nikahin kamu. Iya ‘kan?” goda lelaki manis itu seraya menolehkan pandangannya ke sebelah kiri.

“Dari tadi nikah-nikah terus ngomongnya. Emang mau nikahin aku beneran?” ujar Airin menantang.

“Kalo mau, ya, mau. Emangnya kamu mau gak aku nikahin?” sergah Alby.

“Kita masih sekolah,” jawab Airin singkat.

“Ya, hari minggu dong. ‘Kan kita gak sekolah,” guyon Alby.

“Ish!” keluh Airin seraya melayangkan pukulan cukup keras pada lengan kekar Alby. “Jangan main-main deh,” ucapnya.

“Kenapa? Deg-degan, ya?” tanya Alby.

Airin melipat kedua tangannya di depan dada. “Iya,” singkatnya.

Alby tidak dapat menahan senyumnya sebab tingkah lucu kekasihnya itu. Akhirnya, tangan kirinya yang sedari menganggur, kini bergerak. Alby mengusap pucuk kepala gadisnya. “Lucu banget pacar aku,” ucapnya.

“Pertanyaan aku belom dijawab,” protes Airin seraya mengambil tangan besar itu untuk ia genggam.

“Pertanyaan apa?” jawab Alby dengan bertanya.

“Kita mau ke mana?” ulang gadis cantik itu.

“Owalah. Kamu mau es krim gak?” tawar Alby.

“Mau!” jawab Airin semangat.

“Yaudah. Kita beli es krim dulu kalo gitu,” ujar lelaki manis itu.

Jika boleh jujur, sebenarnya ini hanya akal-akalan Alby saja. Ia tidak ingin berpisah dengan gadisnya terlalu cepat walaupun besok mereka masih bisa bertemu di pekarangan sekolah. Alby hanya perlu menunggu beberapa jam lagi agar hari Minggu berganti menjadi hari Senin. Namun, lelaki manis itu memanfaatkan kesempatan yang ada.

Setelah berbelok ke kanan lalu ke kiri, akhirnya mereka sampai di gerai makanan cepat saji yang menyediakan lantatur. Di depan konter yang dilengkapi dengan pengeras suara tersebut, mobil klasik itu berhenti.

“Kamu mau es krim yang mana?” tanya Alby kepada sang kekasih.

“Aku boleh pesen dua gak?” balas Airin dengan kembali bertanya. Tangannya mengisyaratkan angka dua.

“Boleh. Mau rasa apa aja?” tanya Alby lagi.

“Yang pake cone satu, yang vanilla. Yang pake cup satu, yang oreo,” jelas gadis cantik itu.

Airin tidak dapat berdiam diri di tempat duduknya sebab bahagia yang memuncak. Setelah makan siang bersama dengan kedua orang tua dari kekasihnya, sekarang Alby memanjakannya dengan memberikannya makanan manis, tidak hanya satu melainkan dua buah.

“Seneng banget pacarnya aku abis dibeliin es krim dua,” ujar Alby sembari tertawa.

Setelah mendapat hidangan manis yang sudah dipesan, Alby memarkirkan mobilnya di lahan parkir terbuka di sana. Ia membiarkan sang kekasih untuk menikmati es krimnya dengan khidmat. Sepertinya, Airin terlalu bersemangat dengan makanan beku manis yang ada di genggaman tangannya.

“Makannya pelan-pelan dong, Sayang,” ujar Alby sembari membantu gadisnya untuk menyeka krim manis yang mengotori sudut bibirnya.

Melihat wajah manis nan tampan yang semakin mendekat, Airin bergeming. Sepasang manik selegam senjanya tidak dapat berhenti mengerjap. Napasnya juga tertahan serta jantungnya berirama tidak seperti biasa. Perlu ditekankan sekali lagi, Airin belum terbiasa dengan semua ini.

“Napas aja, Rin. Kamu gak lagi dikejar beruang kok,” ledek Alby. Ia menggoda gadisnya tetapi belum beranjak dari tempatnya.

“I-Iya,” jawab Airin terbata.

Alby dapat melihat dengan jelas bagaimana manik dengan binar seindah deburan ombak itu menghindari kontak langsung dengannya. Alby juga dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah cantik itu berubah menjadi semerah buah cherry. Melihatnya, Alby menyeringai. Ada seberkas ide yang terlintas di dalam pikirannya.

“By,” panggil Airin pelan.

Alby, yang disebut namanya lebih memilih untuk tidak menghiraukan gadisnya. Di detik selanjutnya, yang terjadi adalah lelaki manis itu semakin memangkas jarak yang ada di antara dirinya dengan sang gadis. Airin semakin gugup. Ia bahkan dapat merasakan napas hangat itu menghembus tepat di hadapannya.

Dengan begitu, Airin memejamkan matanya erat. Tentunya, ia sangat tahu ke mana arah dan apa yang akan kekasihnya itu lakukan padanya. Airin menahan napasnya saat hidung bangir itu menyentuh wajahnya. Namun, sebelum semakin jauh, Alby menghentikan semua pergerakannya.

Perlahan, ia membuka mata dan yang ia temukan adalah Airin yang sedang bersiap-siap untuk apapun yang mungkin akan ia lakukan kepada gadis itu. Juga, es krim yang ia pegang kuat-kuat, membanjiri seluruh permukaan tangannya. Sebenarnya, Alby juga tahu mengapa gadisnya bersikap demikian.

Alby dengan sengaja tidak melanjutkan kegiatan itu sebab ia sudah berkomitmen dengan dirinya sendiri. Kemudian, dengan cepat lelaki manis itu mencium kening gadisnya untuk kemudian mengusap pelan kepalanya. Alby tersenyum lebar sehingga manik minimalisnya menyipit.

“Aku gak akan ngapa-ngapain kamu sekarang, Airin, nanti aja tunggu udah sah,” jelas Alby.