ttoguxnanaxranie

Tyson tengah duduk di salah satu sofa yang ada di selasar lantai asrama tempatnya dan anggota Mars lainnya menginap. Tangan kirinya menopang kepalanya yang terasa berat. Sedangkan, tangan kanannya sibuk mengetik pada papan ketik atau sesekali menggulir pada layar ponselnya. Tyson menatap kosong pada layar ponselnya yang menampilkan room chat-nya bersama Kevin. Menurutnya, semakin hari semakin berat saja rasanya.

Tak lama setelahnya, Tyson bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah pergi. Ia menuruni lift untuk keluar dari gedung bertingkat itu demi menetralisir rasa cemas dan takut yang bersarang di benaknya. Di depan gedung yang dihuni oleh banyak atlet itu, Tyson menengadahkan kepalanya ke arah langit malam. Ia dapat melihat khatulistiwa yang membentang luas dengan taburan cahaya bintang.

Tyson memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia tidak ingin dinginnya semilir angin malam mengganggu indera peraba pada tangannya. Tyson masih membutuhkan kedua tangannya untuk bertanding di babak final besok pagi. “Tyson harus apa, Ma? Tyson kangen sama Mama. Tyson juga kangen sama Cassie,” gumamnya.

“Tyson?” Seseorang tiba-tiba menginterupsi ketenangan yang sedang Tyson berusaha cari.

Mendengar ada yang memanggil namanya, Tyson menyejajarkan pandangannya ke arah sumber suara. Sepasang manik selegam malam di semesta itu membulat sempurna. “Cassie?”

“Mars stay di gedung ini, ya?” tanya Cassie sembari menghampiri Tyson.

“Iya. Kalo Venus stay di mana, Cass?” tanyanya.

“Venus nginep di Gedung D,” jawab gadis cantik itu.

Tyson mengangguk paham. “Kamu abis dari mini market, ya?”

Kali ini, Cassie yang mengangguk. “Iya.”

“Pasti beli gelatin,” terkanya.

Cassie terkekeh. “Iya, kamu bener.”

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Keduanya, baik Tyson maupun Cassie, terlalu canggung untuk membahas hal-hal lain atau keseharian mereka sebab waktu dan jarak yang dua tahun belakangan tercipta di antara mereka. Tyson mengusap tengkuknya. Sementara itu, Cassie sibuk menendang angin menggunakan kaki-kaki jenjangnya. Tyson menyadari kebiasaan menggemaskan yang satu itu belum hilang dari Cassie.

“Di luar dingin, Cass. Kamu pakai pakaian yang agak terbuka,” ucap Tyson dengan inisiatif. “Mau masuk ke dalam dulu?”

Awalnya, Cassie ragu. Ia tidak tahu harus menolak atau menerima ajakan dari lelaki tampan kesayangannya yang kehadirannya sudah lama ia damba-dambakan. Namun, ada satu hal yang Cassie tahu. Ia sama rindunya dengan Tyson. Kepalanya mengangguk pelan. “Boleh.”

Akhirnya, Tyson dan Cassie berjalan masuk ke dalam gedung lalu menaiki lift untuk sampai ke lantai 7, lantai di mana Tyson dan anggota Mars lainnya menginap. Tyson mempersilakan Cassie untuk duduk di salah satu sofa yang tersedia di selasar lantai tersebut, sofa yang beberapa menit lalu ia duduki sembari memikirkan keberadaan Cassie yang sangat ingin ia temui.

“How are you, Cass?” tanya Tyson setelah mengambil posisi duduk di sebelah kiri Cassie.

“I’m fine, Tyson,” jawabnya ramah. “Kamu sendiri gimana?”

“Aku….” Tyson sengaja menggantung kata-katanya. Ingin sekali rasanya kalimat rindu diucapkannya tetapi ia masih tidak sanggup apabila mengingat betapa sakitnya Cassie saat mengetahui dirinya pergi begitu saja. “Aku juga baik, Cass.” Tyson menampilkan senyuman palsu untuk menutupi hatinya yang terluka.

Cassie tahu ada yang salah dengan Tyson. Tepatnya, ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Tyson salah jika mengira ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cassie beruntung memiliki sahabat, Jovita, yang salah satu hobinya adalah mengulik peristiwa yang tengah terjadi di sekitarnya. Melihat keadaan lelaki tampan yang sampai sekarang masih ia sayangi itu, Cassie tersenyum pilu.

“Your lying is still as bad as the last time, Ty,” kata Cassie.

Tyson memusatkan pandangannya pada sepasang manik selegam mentari pagi kesukaannya. Ia tertawa demi menyempurnakan kebohongannya. “Aku gak bohong, Cass. I’m fine. I really do,” elaknya.

Cassie kembali tersenyum. Namun, yang satu ini terlihat lebih tulus. Cassie sangat paham apabila Tyson belum siap untuk mengungkapkan kebenaran yang menimbulkan luka di hatinya. Ia mengangguk. “I see,” katanya.

Tyson menegak salivanya. Tenggorokannya terasa kering sebab semua rangkaian dusta yang dibuatnya. Tyson tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya kalau Cassie tahu peristiwa yang sebenarnya tetapi ada satu hal yang harus ia sampaikan dengan setulus hatinya, yaitu permintaan maaf. Tyson belum sempat memohon maaf dari gadisnya itu semenjak ia pergi meninggalkannya sendiri dua tahun lalu.

“Cassie,” panggil Tyson.

“Iya, Tyson?” Cassie menatap sepasang netra yang sangat ia rindukan binar ketulusannya. Cassie berani bertaruh netra itu masih sama seperti saat terakhir kali ia melihatnya.

“I have something to tell you,” ujar Tyson serius.

Cassie menyamankan posisi duduknya. Sejujurnya, inilah yang ia tunggu sejak tadi. Ia merindukan momen di mana Tyson dan dirinya selalu bertukar kisah keseharian mereka atau membicarakan hal-hal serius terkait diri mereka dan masa depan. “Go ahead, Tyson. I’m listening.”

“Aku… minta maaf,” gumam lelaki tampan itu.

“Maaf? Maaf untuk apa?” balas Cassie dengan kembali bertanya.

“Aku tahu kamu sakit karena aku,” ucap Tyson sembari menghela napas panjang. “Dua tahun lalu aku pergi ninggalin kamu, ninggalin Mars, tanpa kabar atau berita apapun. Aku gak minta kamu untuk paham sama keadaanku. Aku cuma berharap kamu bisa maafin aku,” lanjutnya. “Maafin aku, Cassie.”

Sedih. Marah. Kecewa. Terharu. Bingung. Cassie tidak tahu emosi apa yang harus ia rasakan di saat seperti ini. Di satu sisi, ia sangat bahagia dapat bertemu kembali dengan Tyson meskipun di hati mereka masing-masing masih tersimpan luka yang amat mendalam. Di sisi lain, Cassie merasa kasihan karena Tyson kehilangan semangat hidupnya, Mama, untuk selama-lamanya. Namun, fakta-fakta di atas juga tidak memungkiri bahwa Tyson sempat pergi meninggalkannya.

Cassie menghela napas panjang. Ia meraih sebelah bahu lebar di hadapannya lalu mengangguk. “Iya, Tyson,” jawabnya. “Aku maafin kamu. Maaf juga, ya, aku sempat marah sama kamu tanpa tau alasan kepergian kamu,” ujar Cassie. “Maaf juga… aku gak datang ke pemakaman Mama.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Cassie membuat Tyson mengangkat pandangannya. Dua pasang manik itu saling bertemu. Tyson tidak menyangka bahwa Cassie sudah mengetahui alasan di balik kepergiannya yang sangat tiba-tiba dua tahun lalu. Kala itu, Tyson sangat amat membutuh keberadaan Cassie untuk tetap ada di sisinya tetapi ia tidak sampai hati ketika mengingat ia meninggalkan gadis cantik itu tanpa alasan yang jelas.

“Cass…,” ucap Tyson.

“If only I knew what happened to you, aku gak akan gegabah dan malah pasif sama keberadaan kamu, Ty,” jelas Cassie.

“I’m… I’m sorry, Cassie,” kata Tyson mengulang kata maafnya. Seketika, air mata mulai berjatuhan dari sepasang manik selegam malam itu. Bayangan Mama yang tengah tersenyum manis dan fakta bahwa Cassie sama sekali tidak marah padanya akan apa yang terjadi di masa lalu membuat hatinya menjadi lapang, seolah Tyson dapat bernapas lega sekarang. Ia membawa Cassie masuk ke dalam dekapannya. Tyson tersenyum haru.

Cassie membalas pelukan itu. Ia mengusap punggung lebar yang sudah lama menanggung beban yang sangat berat itu. “Kamu gak perlu minta maaf sama aku, Tyson. How about you? Are you okay? Kenapa kamu gak bilang tentang Mama ke aku?” tanya gadis cantik itu bertubi-tubi.

Tyson melonggarkan dekapannya. “Aku gak bisa,” jawabnya. “Aku bakal jadi manusia yang paling gak tau diri, Cass, kalau aku butuh kamu setelah aku buang kamu.”

Mendengarnya, Cassie menggeleng. “Enggak, Tyson. You weren’t. Kamu gak buang aku.”

Kali ini, Tyson yang menggeleng. Ia tersenyum canggung. “No, Cassie. I was,” balasnya. “Aku bersyukur kamu mau terima permintaan maaf aku. Makasih, ya.”

Cassie mengangguk. Ia tersenyum ramah. Namun, tak dapat dipungkiri masih ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya. Ya, hubungannya dengan Tyson. Apakah mereka sudah putus? Atau ini saatnya mereka kembali? Ia tidak tahu tetapi ingin tahu. Apabila Cassie boleh jujur, masih ada percikan asmara yang timbul saat dirinya menemukan keberadaan Tyson tetapi ia tidak tahu apakah Tyson merasakan hal yang sama.

“Tyson…,” panggil Cassie.

“Iya, Cassie?” balasnya.

“What are we?” tanya gadis cantik itu dengan suara sepelan mungkin.

Walaupun begitu, Tyson tetap dapat mendengarnya. Apapun yang berhubungan dengan Mama dan Cassie, ia pasti lebih peka. Tyson tersenyum dengan sepasang manik selegam malam yang terlihat sayu. “Ikut aku sebentar, ya? I want to show you something.”

Setelah itu, Tyson mengajak Cassie untuk berkunjung ke kamar tidurnya di gedung tersebut. Kamar tidurnya terletak di ujung selasar dekat dengan jendela besar yang menampilkan langsung stadion pertandingan. Di dalam sana, Tyson mempersilakan Cassie untuk duduk di tepi ranjangnya. Sementara itu, dirinya merogoh tas ranselnya yang tergantung di dalam lemari bajunya. Tyson mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah berukuran sedang.

Tyson mendudukkan dirinya tepat di sebelah kanan Cassie tanpa ada jarak sedikit pun. Lengan keduanya pun saling bersentuhan. “Ini.” Ia menyerahkan kotak tersebut kepada Cassie.

Cassie yang menerima kotak dengan aksen mewah itu mengernyitkan keningnya. Ia membuka perlahan kotak yang diberikan Tyson padanya. Cassie menganga serta kedua matanya melotot sempurna saat mengetahui benda apa yang dilindungi oleh kotak dengan bahan velvet itu. “Cantik banget,” pujinya.

“Ini kalung punya Mama,” jelas lelaki tampan itu. “Kesukaannya.”

Mendengarnya, Cassie tiba-tiba menjadi gugup. Ia menyerahkan kembali barang berharga kepada Tyson. “Ih, aku ngeri pegangnya, Ty,” ucap Cassie. “Nih aku balikin ke kamu aja.”

Melihat tingkah menggemaskan Cassie, Tyson tertawa lepas. “Gak apa-apa, Cass,” balasnya. “Ini punya kamu sekarang.”

Cassie dibuat semakin bingung oleh lelaki tampan kesayangannya itu. Ia pandangi lagi kalung emas putih yang dihiasi oleh liontin berlian berwarna merah itu. “Maksudnya?” tanyanya.

Tyson semakin memangkas jarak antara dirinya dan Cassie, seolah-olah jarak yang pernah tercipta dua tahun lalu hilang dalam sekejap. Ia merangkul tubuh mungil yang, apabila memungkinkan, ingin ia miliki sepenuhnya. “Pas Mama masuk rumah sakit dia pernah bilang sama aku. Mama bilang, ‘Gimana keadaannya Cassie, Nak? Dia baik-baik aja ‘kan? Mama kangen sama dia. Kangen masak dan baking bareng dia.’,” jelas Tyson.

Cassie mendengar ada pesan rindu dari mendiang Mama, semakin tertarik dengan kisah yang diceritakan oleh Tyson padanya. “Oh ya? Terus Mama bilang apalagi?” tanyanya penasaran.

Tyson tersenyum melihat antusiasme dari gadis cantik yang ada di dalam dekapannya. “Mama juga bilang, ‘Tyson, kamu coba ke kamar Mama terus buka lemari baju Mama yang dari kayu jati. Di dalam sana, ada brankas yang kombinasi nomornya ulang tahun Cassie.’,” lanjut Tyson.

“Ulang tahun aku?” Cassie memiringkan kepalanya karena heran.

Tyson mengangguk. “Yaudah. Besoknya aku cek brankasnya. Di sana ada kalung itu.” Ia mengidikkan dagunya ke arah kalung yang tersimpan rapi di dalam kotak yang Cassie pegang. “Kalungnya aku bawa ke Mama. Terus… tau gak Mama bilang apa?”

Cassie menggeleng. “Enggak. Emangnya Mama bilang apa?”

“Mama bilang sama aku, ‘Itu kalung kesukaan Mama, Nak. Dulu Papa ngasih itu pas ulang tahun pertama pernikahan Papa sama Mama yang bertepatan juga dengan kabar Mama lagi mengandung kamu. Mama pengen kamu kasih kalung ini ke Cassie. Mama gak tau sampai kapan umur Mama. Jadi, Mama minta tolong sama kamu, ya, Nak. Cassie itu anaknya baik. Mama juga gak pernah ngeliat kamu sebahagia ini sebelum sama Cassie. Kasih kalung ini, ya, ke Cassie kalau kamu serius sama dia.’.”

Cassie mematung di tempatnya. Bukan karena otak mungilnya tidak dapat memproses semua paparan yang Tyson jelaskan padanya tetapi sebaliknya. Cassie sangat bersyukur bahwa Mama menyayanginya layaknya anak kandungnya sendiri. Namun, mendengar kabar seperti itu, Cassie tidak tahu apakah ada hari yang lebih membahagiakan lagi selain hari ini, seolah hari-hari kelamnya tergantikan dengan cerahnya sinar rembulan di malam hari ini.

Hari ini, di mana Cassie mengetahui semua kebenaran yang tersembunyi. Hari ini, di mana Cassie bertemu dengan Tyson setelah dua tahun terpisah darinya. Hari ini, di mana Cassie secara resmi merasakan lagi bunga-bunga cinta di dalam hatinya yang ditanam kembali oleh Tyson. Cassie tidak dapat menahan senyumnya, begitu juga dengan Tyson. Dua pasang netra itu saling melempar pandang.

“Aku kasih kalung kesukaan Mama ke kamu, Cass. Mama bilang kalau aku mau serius sama kamu, aku harus kasih kalung ini sebagai tanda keseriusanku. Aku tau aku terkesan gak tau diri. Setelah dua tahun menghilang dan gak ada kabar terus tiba-tiba aku datang ke kamu dengan dalih aku mau serius. Aku—” Tyson belum sempat merampungkan kalimat pengakuan cintanya, kali ini, yang lebih serius.

Cassie melakukan hal yang di luar dugaan. Dengan cepat, gadis cantik itu memangkas jarak yang memang sudah dekat antara dirinya dan Tyson. Ia mencium bibir sang kekasih yang sudah lama dirindukannya. Tyson bergeming. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Cassie akan bergerak secepat dan seagresif ini. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Tyson kepalang bahagia.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Tyson membalas ciuman itu. Awalnya, ciuman itu terasa nikmat, seolah keduanya sedang mengekspresikan kerinduan yang telah lama dipendam, tetapi lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut. Baik Tyson maupun Cassie menginginkan lebih. Mereka ingin menembus apa yang selama dua tahun belakangan ini tidak mereka dapatkan. Iya, cinta satu sama lain, dalam banyak artian.

Tak lama setelahnya, saat Cassie sudah mulai kehabisan napas. Ia menyudahi ciumannya terlebih dahulu. Napasnya tersengal sebab ulahnya sendiri. Tyson yang melihat wajah gadisnya memerah hanya dapat tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala Cassie. Masih di dalam dekapan hangat itu, keduanya melempar senyum dan pandang. Tyson dan Cassie kembali merasakan bahagia yang sempat hilang.

“Semangat banget, Cass,” guyon Tyson.

Cassie hanya tertawa. “Kamu juga gak nolak,” balasnya.

Tyson yang mengetahui Cassie bukannya salah tingkah tetapi malah membalas dengan berani ejekannya merasa semakin terpancing. “Jadi, gimana?” tanyanya lagi.

Cassie mengerucutkan bibirnya. “Apanya yang gimana?”

“The proposal?” Tyson mengangkat sebelah alisnya.

Cassie menyeringai. “Are you joking me, Tyson?” katanya. “Emang ‘jawaban’ yang tadi belum cukup, ya?”

Mendengarnya, Tyson menyeringai. Kesempatan emas kembali datang ke padanya. “No?” balasnya. “I want to know more, please.”

Cassie mengangguk paham. Ternyata, Tyson memang menginginkan lebih. Ia juga tidak ingin membohongi dirinya bahwa ia menginginkan hal yang sama. Dengan begitu, Cassie kembali mendekatkan wajahnya pada wajah tampan sang kekasih. Ia mengecup sudut bibir yang sudah menggodanya begitu pertama kali kembali melihatnya. Cassie mengalungkan lengannya pada bahu lebar pemanah di hadapannya.

“You want more, Tyson? Here you go.”

Cassie melanjutkan kegiatan mereka yang tadi dengan sengaja ia tunda. Ciuman kali ini terasa dan terlihat lebih intens dibanding sebelumnya. Tangan Cassie terus menggoda dada bidang milik kekasihnya. Sementara itu, tangan Tyson bergerak mengusap perut rata gadisnya dari balik kaos tipis yang dikenakannya. Keduanya merasakan kenikmatan yang hakiki. Meskipun begitu, baik Tyson maupun Cassie, masih ingin yang lebih dari ini.

Oleh karena gairah yang memuncak, dengan telaten, Tyson mengangkat tubuh indah gadisnya untuk duduk di atas pangkuannya. Kemudian, ciuman itu perlahan turun ke arah dada Cassie yang sudah sedikit terekspos. Cassie menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Dekapan kedua lengannya pada bahu lebar di hadapannya semakin erat. Cassie sama bergairahnya dengan Tyson.

“Nghh, ahhh, Tyson,” lenguh gadis cantik itu saat sang kekasih berulang kali menjilat beberapa titik sensitif di lehernya.

Mulut Tyson masih bekerja keras di area dada mendekati payudara sang gadis. Tyson meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya di sana. Cassie semakin dibuat terbang ke angkasa. Sedangkan, Tyson semakin gencar melancarkan aksinya. Cassie mendekap kekasih itu semakin dalam agar Tyson semakin bertemu dengan buah dada kebanggaannya. Tyson yang mengerti dengan isyarat itu kembali bergerak.

“I’ll remove your shirt, ya, Cassie,” ucap Tyson.

Pada kalimat itu, Tyson mendeklarasikan sebuah pernyataan dan bukannya meminta izin dari gadisnya. Cassie yang sangat rindu didominasi oleh lelaki kesayangannya itu tentunya dengan senang hati bersedia. Tyson menanggalkan kaos berwarna putih menutupi tubuh indah Cassie. Setelah ia dapat melihat permukaan kulit yang putih bersih itu, Tyson segera menghirup aroma Cassie dengan khidmat.

“I love this smell,” kata Tyson saat indera penciumannya dipenuhi dengan semerbak wangi vanilla yang bercampur dengan aroma asli dari tubuh Cassie.

“Ahhh, Tyson,” lirih Cassie kala hidung bangir itu terasa menggelitik di antara sepasang payudaranya.

Di detik selanjutnya, lagi-lagi tanpa adanya aba-abanya, Tyson melepas bra berwarna hitam yang melindungi payudara kenyal milik Cassie. Ia hisap sebelah puting kecoklatan yang sudah mencuat sempurna itu. Sementara itu, tangannya yang terbebas memainkan ujung puting payudara yang menganggur. Tyson dengan aksinya yang melecehkan sepasang buah dadanya membuat Cassie semakin ingin mencapai kepuasaan tertinggi.

“Mphhh, Tyson, stophh,” komando Cassie.

Mendengar Cassie merintih seperti itu, Tyson menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia masih punya hati nurani untuk tidak menyakiti gadisnya walaupun Cassie juga sebenarnya mau. “Kenapa? I think you’ll like it,” tanyanya menggoda.

“Bukannya aku gak suka,” jawab Cassie. Ia menggigit bibir bagian bawahnya yang terlihat sedikit membengkak karena ciuman panasnya tadi bersama Tyson. “Tapi….”

“Is there something bothering you?” tanya Tyson.

Cassie melirik bagian selatan dirinya dan kekasihnya. “Down there,” ujar gadis cantik itu. “It hurts, Tyson. I want you inside me immediately.”

Tyson terkekeh. Ternyata, Cassie masih saja tidak sabaran apabila berhubungan dengan kegiatan pemuas nafsu seperti ini. Tyson menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Okay. But, lemme check it first.” Selepas dengan pernyataannya itu, Tyson bergerak mengusap kewanitaan Cassie dari arah luar pakaia dalamnya.

“Ahhh,” desah gadis cantik itu.

“You’re right,” jelas Tyson. “Kamu udah basah.”

“Quickly, Tyson. I can’t hold it anymore,” jelas Cassie memohon.

“Hold on, Cassie. I don’t wanna hurt you,” balas lelaki tampan itu.

Tangan kekar Tyson masih bermain dengan vagina gadisnya. Ia ingin memastikan bahwa lubang surgawi itu sudah terlumasi seluruhnya. Namun, bukan Cassie namanya jika ia tidak memberontak. Tyson ingin bermain lembut dengannya tetapi sang kekasih sepertinya tidak satu suara dengannya. Cassie terus menggoyangkan pinggulnya agar jari-jari besar itu menyentuh vaginanya lebih dalam.

“Play rough on me, Tyson,” goda Cassie.

“This is our first time after a long time, Cassie,” ujar Tyson. “Kamu yakin?”

Cassie menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan sangat yakin. “Please…,” ucapnya.

Tyson tidak mempunyai pilihan lain, selain menyetujui permintaan gadisnya. “Okay. But, at least let yours wet first.”

Cassie mengiyakan perintah dari sang dominannya. Setidaknya, itu yang dapat ia lakukan alih-alih Tyson harus menolak keinginannya mentah-mentah. “With yours?”

Tyson menggeleng. “With my fingers, Cassie, my fingers.”

“Kamu gak seru,” keluhnya.

Tyson yang mendengar gadis cantiknya melayangkan protes memutar bola matanya. “You have to be patient to get what you want, Cassie.”

Cassie mendekatkan wajahnya kepada Tyson. “Like us?” Bibirnya mengukir senyum indah.

Tyson membalas simpul itu dengan tak kalah indah. “Like us.”

Selanjutnya, Tyson menangkup dagu mungil dari wajah cantik yang saat ini berposisi lebih tinggi darinya. Ia kecup bibir menawan itu dari satu sudut ke sudut lain. Sedangkan, tangannya bergerak melucuti celana pendek olahraga serta pakaian dalam dengan warna senada dengan bra miliknya tadi. Tyson dapat merasakan cairan hangat perlahan mengalir membasahi celana piyamanya.

“Ahh!” teriak Cassie tiba-tiba saat jari telunjuk dan jari tengah milik kekasihnya itu menerobos ke dalam kewanitaannya.

“Katanya kamu mau aku main kasar? Tapi baru kayak gini aja kamu udah kesakitan,” ledek lelaki tampan itu.

“I am, ahhh,” balas Cassie. Ia masih dapat menikmati rasa itu meski tempo yang bergerak di bawahnya cenderung lamban.

Tyson mendekatkan mulutnya ke telinga kanan sang gadis. “Untuk apa aku main kasar? If only with this slowly movement like this could brings heaven to you, Cassie.”

Cassie menggigit pipi bagian bawahnya. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar tidur kekasihnya. “But, still, Tyson… the rough one’s more challenging,’ ucap Cassie sembari mengatur napasnya karena rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. “Am I, right?”

Tyson menambah pergerakan pada bagian selatan Cassie. Kini, ibu jarinya bergerak memutari klitorisnya. “So, you still want the rough one?” tanya Tyson meyakinkan.

“Nghhh, yes, ahh, please,” ujar Cassie susah payah.

Tyson tersenyum seram. “Alright,” katanya. “You got what you wish.”

Selanjutnya, Tyson mulai bergerak. Ia mengangkat tubuh indah Cassie lalu membantingnya ke ranjang tidurnya. Kemudian, Tyson berjalan mendekati laci di bawah meja belajarnya. Dari dalam sana, ia mengambil seutas tali dan sebuah dasi. Cassie dengan susah payah menelan salivanya saat Tyson benar-benar berubah menjadi persona yang ia inginkan. Ia tiba-tiba saja merasa sedikit menyesal dengan pilihannya. Tyson tampak sangat mengerikan dan menggoda.

“Play hard or go home is your concept ‘kan, Cass?” tanya Tyson sensual. “So, this is what you got.”

Tyson memutar balik tubuh kekasihnya itu agar menelungkup. Kemudian, kedua tangan Cassie diikat membelakangi tubuhnya. Setelahnya, ia menutup manik dengan binar seterang konstelasi bintang di angkasa itu menggunakan dasi. Tyson menyibakkan rambutnya ke arah belakang sembari tersenyum puas kala sepasang manik selegam malamnya melihat mahakarya indah yang terbaring di atas ranjangnya.

Tyson mulai naik ke atas ranjang untuk kemudian menciumi punggung mulus itu. Cassie dibuat merinding sebab ciuman panas itu beradu dengan rendahnya suhu kamar tidur sang kekasih. Tubuhnya menggelinjang hebat meskipun Tyson belum menghantamnya dengan batang berurat yang sangat Cassie inginkan untuk berada di dalamnya sekarang. Cassie takut tetapi merasa terpuaskan di saat yang bersamaan.

“Akh!” pekik Cassie kala tangan kekar Tyson menampar bokongnya.

“Ah, I forgot something,” ucap Tyson.

Cassie kembali menelan saliva kala tenggorokannya terasa kering hanya karena sepenggal kalimat tersebut. “Lupa apa, Tyson?” tanyanya.

Tyson berjalan ke arah nakas di sebelah kiri tempat tidurnya. Ia membuka laci di bawah lampu tidur dengan warna lampu warm white itu. Cassie tidak tahu pasti apa yang kekasihnya ambil dari dalam situ. Namun, seketika ada suara getaran yang samar memasuki indera pendengarannya, Cassie langsung tahu apa yang Tyson maksud. Ternyata, Tyson masih menyimpan benda itu bersamanya.

“Mainan kesukaan kamu,” jawab lelaki tampan itu seraya melepaskan semua baju yang melekat pada tubuh kekarnya.

Akhirnya, setelah menyiapkan keperluan seadanya yang akan membuat Cassie terbang menuju angkasa, Tyson kembali naik ke atas ranjang. Ia memposisikan dirinya setengah berdiri di belakang tubuh indah gadisnya. “Spread your legs, Cantik,” perintah Tyson. Cassie menuruti perintah kekasihnya. Tangan Tyson bergerak memasangkan vibrator kecil pada bagian klitoris Cassie.

“Ahhh, Tyson, nghh,” lirih gadis cantik itu.

Lutut yang tadinya berdiri tegap menumpu beban tubuhnya sudah terjatuh lemas. Tyson mengangkat pinggul gadisnya agar posisinya kembali seperti semula. Ia kembali menampar bokong sintal itu. Cassie menenggelamkan wajahnya ke arah bantal. Ia merintih saat rasa sakit itu muncul bersamaan dengan rasa nikmat. Tyson sungguh-sungguh memenuhi tugasnya untuk bermain kasar dengannya.

“You like that, Cass?” tanya Tyson.

Cassie menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya,” balasnya lemas.

“Lagi?” tanya Tyson menantang.

Dengan lantang Cassie menjawab, “Lagi!”

Tyson menyiapkan penisnya untuk menghantam vagina Cassie. Ia mengusap batang yang sudah mencuat hebat itu. Tyson juga bergerak mengusap vagina gadisnya dari depan ke belakang agar pelumas alami itu menyebar dengan rata. Tyson dibuat semakin bergairah saat daerah kewanitaan kekasihnya berkedut dengan samar. Sepertinya, ia akan langsung menancapkan penisnya saja.

“Ahh, Tyson!” lenguh gadis cantik itu kala batang besar itu langsung setengah masuk ke dalam miliknya.

“Nghh, Cass, you’re so tight,” puji Tyson.

Cassie kembali menenggelamkan wajahnya ke arah bantal. “Mphhh, ahhh.” Lirihannya tertahan.

Tyson mulai bergerak maju mundur agar penisnya masuk dengan sempurna ke dalam lubang sempit itu. “Ahhh, Cass.”

Di balik bantal yang menutupi wajah cantiknya itu, Cassie menggigit pipi bagian dalamnya. “Ahh, Tyson, move faster,” pintanya.

Tyson yang baru saja selesai menanamkan batangnya dengan sempurna ke dalam vagina Cassie langsung bergerak dengan kecepatan sedang. Dengan aktivitas panas, basah, dan menyentuh kulit masing-masing itu, keduanya mulai terbang ke luar angkasa. Tyson memejamkan maniknya seraya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Cassie berusaha bertahan dengan posisinya agar ujung penis Tyson terus menggempur rahimnya.

Seiring waktu yang berjalan cepat, tempo yang Tyson mainkan juga kian cepat. Dari kecepatan sedang, cepat, menjadi sangat cepat. Cassie merasa kewalahan dengan segala rasa nikmat yang tercipta dari permainan ala nafsunya bersama Tyson. Serupa dengan Cassie, Tyson pun merasakan hal yang sama. Ia tanpa ampun menghantamkan penisnya ke dalam rahim sang kekasih.

“Tyson, ahhh, harder,” ujar gadis cantik itu putus asa.

“Wanna cum, Cass?” tanya Tyson.

Cassie mengangkat pandangannya. Ia menyempatkan diri untuk melirik kekasihnya yang masih menikmati momen ini di belakangnya. “Iya,” jawabnya.

Mendengarnya, Tyson bergerak menggempur gadisnya jauh lebih keras dari sebelumnya. Cassie dapat merasakan dengan jelas bagaimana kepala penis itu menyentuh titik manisnya yang semakin membuatnya ingin meraih puncak kenikmatan. Berkat Cassie, Tyson juga sebentar lagi akan menjemput pelepasannya. Namun, Cassie melakukannya terlebih dahulu. Tubuh indahnya menggelinjang sempurna.

“I’m cum, Tyson,” kata Cassie.

“One more time, Cassie,” pinta lelaki tampan itu.

“Hah? Maksudnya?” balas Cassie dengan kembali bertanya.

“Cum one more time for me,” perintah Tyson.

Cassie yang tidak mengenal kata lelah pada aspek apapun itu di dalam hidupnya tentunya menyetujui permintaan lelaki kesayangannya itu. Pinggulnya ikut bergoyang lebih keras. Tyson membungkukkan tubuhnya agar kedua tangannya yang terbebas dapat meraih payudara milik Cassie yang menggantung dengan indah. Dengan begitu, Cassie akan kembali mencapai titik ternikmatnya.

“I’m cum, Cassie,” kata Tyson. “Akh!”

“Ahh, Tyson!” pekik Cassie.

Tyson dan Cassie menjemput pelepasannya bersama-sama. Tyson pada pelepasan pertamanya dan Cassie pada pelepasannya keduanya. Setelah permainan panas yang menegangkan, keduanya tumbang di atas ranjang. Dengan sisa tenaganya, Tyson melepaskan ikatan tangan serta membuka dasi yang menghalangi penglihatan gadisnya. Cassie mengerjapkan beberapa kali kala sinar lampu kamar menyerang maniknya.

Cassie tersenyum saat pemandangan pertama kali yang ia lihat setelah warna kembali menghiasi netranya adalah senyuman manis yang terpatri di wajah tampan Tyson. Tyson menarik selimut untuk kemudian mendekap Cassie di dalam pelukannya. Ia mengusap kepala bagian belakang sang gadis. Sedangkan, Cassie sibuk memainkan jari-jarinya pada dada bidang lelaki kesayangannya.

“Capek gak, Cass?” tanya Tyson sembari mengangkat wajah cantik itu agar menatap langsung maniknya.

Cassie mengangguk. “Capek,” jawabnya. “Tapi enak.”

Tyson tertawa mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Cassie. Ia mengusap pelan kepala kekasihnya. “You’re still good at this game,” ujarnya.

“Aku gak akan kayak gini kalo gak sama kamu, Tyson.” Cassie menjawil pangkal hidung bangir Tyson.

“I love the bad cop roles’ you played at this game,” jelas lelaki tampan itu.

“And I love the way you turned into a bad guy when I ask,” balas Cassie.

Mereka tertawa pada lelucon nyata yang memang terjadi di antara keduanya. Setelah kembali mengucap janji untuk sehidup semati bersama, Tyson dan Cassie menghabiskan malam dengan pemainan panas khas keduanya. Baik Tyson maupun Cassie tidak akan menyangka turnamen tahunan yang terselenggara di tahun ini akan membawa keajaiban bagi mereka berdua. Tyson dan Cassie ingin berada di sisi masing-masing selamanya.

Tyson tengah duduk di salah satu sofa yang ada di selasar lantai asrama tempatnya dan anggota Mars lainnya menginap. Tangan kirinya menopang kepalanya yang terasa berat. Sedangkan, tangan kanannya sibuk mengetik pada papan ketik atau sesekali menggulir pada layar ponselnya. Tyson menatap kosong pada layar ponselnya yang menampilkan room chat-nya bersama Kevin. Menurutnya, semakin hari semakin berat saja rasanya.

Tak lama setelahnya, Tyson bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah pergi. Ia menuruni lift untuk keluar dari gedung bertingkat itu demi menetralisir rasa cemas dan takut yang bersarang di benaknya. Di depan gedung yang dihuni oleh banyak atlet itu, Tyson menengadahkan kepalanya ke arah langit malam. Ia dapat melihat khatulistiwa yang membentang luas dengan taburan cahaya bintang.

Tyson memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia tidak ingin dinginnya semilir angin malam mengganggu indera peraba pada tangannya. Tyson masih membutuhkan kedua tangannya untuk bertanding di babak final besok pagi. “Tyson harus apa, Ma? Tyson kangen sama Mama. Tyson juga kangen sama Cassie,” gumamnya.

“Tyson?” Seseorang tiba-tiba menginterupsi ketenangan yang sedang Tyson berusaha cari.

Mendengar ada yang memanggil namanya, Tyson menyejajarkan pandangannya ke arah sumber suara. Sepasang manik selegam malam di semesta itu membulat sempurna. “Cassie?”

“Mars stay di gedung ini, ya?” tanya Cassie sembari menghampiri Tyson.

“Iya. Kalo Venus stay di mana, Cass?” tanyanya.

“Venus nginep di Gedung D,” jawab gadis cantik itu.

Tyson mengangguk paham. “Kamu abis dari mini market, ya?”

Kali ini, Cassie yang mengangguk. “Iya.”

“Pasti beli gelatin,” terkanya.

Cassie terkekeh. “Iya, kamu bener.”

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Keduanya, baik Tyson maupun Cassie, terlalu canggung untuk membahas hal-hal lain atau keseharian mereka sebab waktu dan jarak yang dua tahun belakangan tercipta di antara mereka. Tyson mengusap tengkuknya. Sementara itu, Cassie sibuk menendang angin menggunakan kaki-kaki jenjangnya. Tyson menyadari kebiasaan menggemaskan yang satu itu belum hilang dari Cassie.

“Di luar dingin, Cass. Kamu pakai pakaian yang agak terbuka,” ucap Tyson dengan inisiatif. “Mau masuk ke dalam dulu?”

Awalnya, Cassie ragu. Ia tidak tahu harus menolak atau menerima ajakan dari lelaki tampan kesayangannya yang kehadirannya sudah lama ia damba-dambakan. Namun, ada satu hal yang Cassie tahu. Ia sama rindunya dengan Tyson. Kepalanya mengangguk pelan. “Boleh.”

Akhirnya, Tyson dan Cassie berjalan masuk ke dalam gedung lalu menaiki lift untuk sampai ke lantai 7, lantai di mana Tyson dan anggota Mars lainnya menginap. Tyson mempersilakan Cassie untuk duduk di salah satu sofa yang tersedia di selasar lantai tersebut, sofa yang beberapa menit lalu ia duduki sembari memikirkan keberadaan Cassie yang sangat ingin ia temui.

“How are you, Cass?” tanya Tyson setelah mengambil posisi duduk di sebelah kiri Cassie.

“I’m fine, Tyson,” jawabnya ramah. “Kamu sendiri gimana?”

“Aku….” Tyson sengaja menggantung kata-katanya. Ingin sekali rasanya kalimat rindu diucapkannya tetapi ia masih tidak sanggup apabila mengingat betapa sakitnya Cassie saat mengetahui dirinya pergi begitu saja. “Aku juga baik, Cass.” Tyson menampilkan senyuman palsu untuk menutupi hatinya yang terluka.

Cassie tahu ada yang salah dengan Tyson. Tepatnya, ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Tyson salah jika mengira ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Cassie beruntung memiliki sahabat, Jovita, yang salah satu hobinya adalah mengulik peristiwa yang tengah terjadi di sekitarnya. Melihat keadaan lelaki tampan yang sampai sekarang masih ia sayangi itu, Cassie tersenyum pilu.

“Your lying is still as bad as the last time, Ty,” kata Cassie.

Tyson memusatkan pandangannya pada sepasang manik selegam mentari pagi kesukaannya. Ia tertawa demi menyempurnakan kebohongannya. “Aku gak bohong, Cass. I’m fine. I really do,” elaknya.

Cassie kembali tersenyum. Namun, yang satu ini terlihat lebih tulus. Cassie sangat paham apabila Tyson belum siap untuk mengungkapkan kebenaran yang menimbulkan luka di hatinya. Ia mengangguk. “I see,” katanya.

Tyson menegak salivanya. Tenggorokannya terasa kering sebab semua rangkaian dusta yang dibuatnya. Tyson tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya kalau Cassie tahu peristiwa yang sebenarnya tetapi ada satu hal yang harus ia sampaikan dengan setulus hatinya, yaitu permintaan maaf. Tyson belum sempat memohon maaf dari gadisnya itu semenjak ia pergi meninggalkannya sendiri dua tahun lalu.

“Cassie,” panggil Tyson.

“Iya, Tyson?” Cassie menatap sepasang netra yang sangat ia rindukan binar ketulusannya. Cassie berani bertaruh netra itu masih sama seperti saat terakhir kali ia melihatnya.

“I have something to tell you,” ujar Tyson serius.

Cassie menyamankan posisi duduknya. Sejujurnya, inilah yang ia tunggu sejak tadi. Ia merindukan momen di mana Tyson dan dirinya selalu bertukar kisah keseharian mereka atau membicarakan hal-hal serius terkait diri mereka dan masa depan. “Go ahead, Tyson. I’m listening.”

“Aku… minta maaf,” gumam lelaki tampan itu.

“Maaf? Maaf untuk apa?” balas Cassie dengan kembali bertanya.

“Aku tahu kamu sakit karena aku,” ucap Tyson sembari menghela napas panjang. “Dua tahun lalu aku pergi ninggalin kamu, ninggalin Mars, tanpa kabar atau berita apapun. Aku gak minta kamu untuk paham sama keadaanku. Aku cuma berharap kamu bisa maafin aku,” lanjutnya. “Maafin aku, Cassie.”

Sedih. Marah. Kecewa. Terharu. Bingung. Cassie tidak tahu emosi apa yang harus ia rasakan di saat seperti ini. Di satu sisi, ia sangat bahagia dapat bertemu kembali dengan Tyson meskipun di hati mereka masing-masing masih tersimpan luka yang amat mendalam. Di sisi lain, Cassie merasa kasihan karena Tyson kehilangan semangat hidupnya, Mama, untuk selama-lamanya. Namun, fakta-fakta di atas juga tidak memungkiri bahwa Tyson sempat pergi meninggalkannya.

Cassie menghela napas panjang. Ia meraih sebelah bahu lebar di hadapannya lalu mengangguk. “Iya, Tyson,” jawabnya. “Aku maafin kamu. Maaf juga, ya, aku sempat marah sama kamu tanpa tau alasan kepergian kamu,” ujar Cassie. “Maaf juga… aku gak datang ke pemakaman Mama.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Cassie membuat Tyson mengangkat pandangannya. Dua pasang manik itu saling bertemu. Tyson tidak menyangka bahwa Cassie sudah mengetahui alasan di balik kepergiannya yang sangat tiba-tiba dua tahun lalu. Kala itu, Tyson sangat amat membutuh keberadaan Cassie untuk tetap ada di sisinya tetapi ia tidak sampai hati ketika mengingat ia meninggalkan gadis cantik itu tanpa alasan yang jelas.

“Cass…,” ucap Tyson.

“If only I knew what happened to you, aku gak akan gegabah dan malah pasif sama keberadaan kamu, Ty,” jelas Cassie.

“I’m… I’m sorry, Cassie,” kata Tyson mengulang kata maafnya. Seketika, air mata mulai berjatuhan dari sepasang manik selegam malam itu. Bayangan Mama yang tengah tersenyum manis dan fakta bahwa Cassie sama sekali tidak marah padanya akan apa yang terjadi di masa lalu membuat hatinya menjadi lapang, seolah Tyson dapat bernapas lega sekarang. Ia membawa Cassie masuk ke dalam dekapannya. Tyson tersenyum haru.

Cassie membalas pelukan itu. Ia mengusap punggung lebar yang sudah lama menanggung beban yang sangat berat itu. “Kamu gak perlu minta maaf sama aku, Tyson. How about you? Are you okay? Kenapa kamu gak bilang tentang Mama ke aku?” tanya gadis cantik itu bertubi-tubi.

Tyson melonggarkan dekapannya. “Aku gak bisa,” jawabnya. “Aku bakal jadi manusia yang paling gak tau diri, Cass, kalau aku butuh kamu setelah aku buang kamu.”

Mendengarnya, Cassie menggeleng. “Enggak, Tyson. You weren’t. Kamu gak buang aku.”

Kali ini, Tyson yang menggeleng. Ia tersenyum canggung. “No, Cassie. I was,” balasnya. “Aku bersyukur kamu mau terima permintaan maaf aku. Makasih, ya.”

Cassie mengangguk. Ia tersenyum ramah. Namun, tak dapat dipungkiri masih ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya. Ya, hubungannya dengan Tyson. Apakah mereka sudah putus? Atau ini saatnya mereka kembali? Ia tidak tahu tetapi ingin tahu. Apabila Cassie boleh jujur, masih ada percikan asmara yang timbul saat dirinya menemukan keberadaan Tyson tetapi ia tidak tahu apakah Tyson merasakan hal yang sama.

“Tyson…,” panggil Cassie.

“Iya, Cassie?” balasnya.

“What are we?” tanya gadis cantik itu dengan suara sepelan mungkin.

Walaupun begitu, Tyson tetap dapat mendengarnya. Apapun yang berhubungan dengan Mama dan Cassie, ia pasti lebih peka. Tyson tersenyum dengan sepasang manik selegam malam yang terlihat sayu. “Ikut aku sebentar, ya? I want to show you something.”

Setelah itu, Tyson mengajak Cassie untuk berkunjung ke kamar tidurnya di gedung tersebut. Kamar tidurnya terletak di ujung selasar dekat dengan jendela besar yang menampilkan langsung stadion pertandingan. Di dalam sana, Tyson mempersilakan Cassie untuk duduk di tepi ranjangnya. Sementara itu, dirinya merogoh tas ranselnya yang tergantung di dalam lemari bajunya. Tyson mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah berukuran sedang.

Tyson mendudukkan dirinya tepat di sebelah kanan Cassie tanpa ada jarak sedikit pun. Lengan keduanya pun saling bersentuhan. “Ini.” Ia menyerahkan kotak tersebut kepada Cassie.

Cassie yang menerima kotak dengan aksen mewah itu mengernyitkan keningnya. Ia membuka perlahan kotak yang diberikan Tyson padanya. Cassie menganga serta kedua matanya melotot sempurna saat mengetahui benda apa yang dilindungi oleh kotak dengan bahan velvet itu. “Cantik banget,” pujinya.

“Ini kalung punya Mama,” jelas lelaki tampan itu. “Kesukaannya.”

Mendengarnya, Cassie tiba-tiba menjadi gugup. Ia menyerahkan kembali barang berharga kepada Tyson. “Ih, aku ngeri pegangnya, Ty,” ucap Cassie. “Nih aku balikin ke kamu aja.”

Melihat tingkah menggemaskan Cassie, Tyson tertawa lepas. “Gak apa-apa, Cass,” balasnya. “Ini punya kamu sekarang.”

Cassie dibuat semakin bingung oleh lelaki tampan kesayangannya itu. Ia pandangi lagi kalung emas putih yang dihiasi oleh liontin berlian berwarna merah itu. “Maksudnya?” tanyanya.

Tyson semakin memangkas jarak antara dirinya dan Cassie, seolah-olah jarak yang pernah tercipta dua tahun lalu hilang dalam sekejap. Ia merangkul tubuh mungil yang, apabila memungkinkan, ingin ia miliki sepenuhnya. “Pas Mama masuk rumah sakit dia pernah bilang sama aku. Mama bilang, ‘Gimana keadaannya Cassie, Nak? Dia baik-baik aja ‘kan? Mama kangen sama dia. Kangen masak dan baking bareng dia.’,” jelas Tyson.

Cassie mendengar ada pesan rindu dari mendiang Mama, semakin tertarik dengan kisah yang diceritakan oleh Tyson padanya. “Oh ya? Terus Mama bilang apalagi?” tanyanya penasaran.

Tyson tersenyum melihat antusiasme dari gadis cantik yang ada di dalam dekapannya. “Mama juga bilang, ‘Tyson, kamu coba ke kamar Mama terus buka lemari baju Mama yang dari kayu jati. Di dalam sana, ada brankas yang kombinasi nomornya ulang tahun Cassie.’,” lanjut Tyson.

“Ulang tahun aku?” Cassie memiringkan kepalanya karena heran.

Tyson mengangguk. “Yaudah. Besoknya aku cek brankasnya. Di sana ada kalung itu.” Ia mengidikkan dagunya ke arah kalung yang tersimpan rapi di dalam kotak yang Cassie pegang. “Kalungnya aku bawa ke Mama. Terus… tau gak Mama bilang apa?”

Cassie menggeleng. “Enggak. Emangnya Mama bilang apa?”

“Mama bilang sama aku, ‘Itu kalung kesukaan Mama, Nak. Dulu Papa ngasih itu pas ulang tahun pertama pernikahan Papa sama Mama yang bertepatan juga dengan kabar Mama lagi mengandung kamu. Mama pengen kamu kasih kalung ini ke Cassie. Mama gak tau sampai kapan umur Mama. Jadi, Mama minta tolong sama kamu, ya, Nak. Cassie itu anaknya baik. Mama juga gak pernah ngeliat kamu sebahagia ini sebelum sama Cassie. Kasih kalung ini, ya, ke Cassie kalau kamu serius sama dia.’.”

Cassie mematung di tempatnya. Bukan karena otak mungilnya tidak dapat memproses semua paparan yang Tyson jelaskan padanya tetapi sebaliknya. Cassie sangat bersyukur bahwa Mama menyayanginya layaknya anak kandungnya sendiri. Namun, mendengar kabar seperti itu, Cassie tidak tahu apakah ada hari yang lebih membahagiakan lagi selain hari ini, seolah hari-hari kelamnya tergantikan dengan cerahnya sinar rembulan di malam hari ini.

Hari ini, di mana Cassie mengetahui semua kebenaran yang tersembunyi. Hari ini, di mana Cassie bertemu dengan Tyson setelah dua tahun terpisah darinya. Hari ini, di mana Cassie secara resmi merasakan lagi bunga-bunga cinta di dalam hatinya yang ditanam kembali oleh Tyson. Cassie tidak dapat menahan senyumnya, begitu juga dengan Tyson. Dua pasang netra itu saling melempar pandang.

“Aku kasih kalung kesukaan Mama ke kamu, Cass. Mama bilang kalau aku mau serius sama kamu, aku harus kasih kalung ini sebagai tanda keseriusanku. Aku tau aku terkesan gak tau diri. Setelah dua tahun menghilang dan gak ada kabar terus tiba-tiba aku datang ke kamu dengan dalih aku mau serius. Aku—” Tyson belum sempat merampungkan kalimat pengakuan cintanya, kali ini, yang lebih serius.

Cassie melakukan hal yang di luar dugaan. Dengan cepat, gadis cantik itu memangkas jarak yang memang sudah dekat antara dirinya dan Tyson. Ia mencium bibir sang kekasih yang sudah lama dirindukannya. Tyson bergeming. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Cassie akan bergerak secepat dan seagresif ini. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwa Tyson kepalang bahagia.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Tyson membalas ciuman itu. Awalnya, ciuman itu terasa nikmat, seolah keduanya sedang mengekspresikan kerinduan yang telah lama dipendam, tetapi lama-kelamaan ciuman itu semakin menuntut. Baik Tyson maupun Cassie menginginkan lebih. Mereka ingin menembus apa yang selama dua tahun belakangan ini tidak mereka dapatkan. Iya, cinta satu sama lain, dalam banyak artian.

Tak lama setelahnya, saat Cassie sudah mulai kehabisan napas. Ia menyudahi ciumannya terlebih dahulu. Napasnya tersengal sebab ulahnya sendiri. Tyson yang melihat wajah gadisnya memerah hanya dapat tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala Cassie. Masih di dalam dekapan hangat itu, keduanya melempar senyum dan pandang. Tyson dan Cassie kembali merasakan bahagia yang sempat hilang.

“Semangat banget, Cass,” guyon Tyson.

Cassie hanya tertawa. “Kamu juga gak nolak,” balasnya.

Tyson yang mengetahui Cassie bukannya salah tingkah tetapi malah membalas dengan berani ejekannya merasa semakin terpancing. “Jadi, gimana?” tanyanya lagi.

Cassie mengerucutkan bibirnya. “Apanya yang gimana?”

“The proposal?” Tyson mengangkat sebelah alisnya.

Cassie menyeringai. “Are you joking me, Tyson?” katanya. “Emang ‘jawaban’ yang tadi belum cukup, ya?”

Mendengarnya, Tyson menyeringai. Kesempatan emas kembali datang ke padanya. “No?” balasnya. “I want to know more, please.”

Cassie mengangguk paham. Ternyata, Tyson memang menginginkan lebih. Ia juga tidak ingin membohongi dirinya bahwa ia menginginkan hal yang sama. Dengan begitu, Cassie kembali mendekatkan wajahnya pada wajah tampan sang kekasih. Ia mengecup sudut bibir yang sudah menggodanya begitu pertama kali kembali melihatnya. Cassie mengalungkan lengannya pada bahu lebar pemanah di hadapannya.

“You want more, Tyson? Here you go.”

Cassie melanjutkan kegiatan mereka yang tadi dengan sengaja ia tunda. Ciuman kali ini terasa dan terlihat lebih intens dibanding sebelumnya. Tangan Cassie terus menggoda dada bidang milik kekasihnya. Sementara itu, tangan Tyson bergerak mengusap perut rata gadisnya dari balik kaos tipis yang dikenakannya. Keduanya merasakan kenikmatan yang hakiki. Meskipun begitu, baik Tyson maupun Cassie, masih ingin yang lebih dari ini.

Oleh karena gairah yang memuncak, dengan telaten, Tyson mengangkat tubuh indah gadisnya untuk duduk di atas pangkuannya. Kemudian, ciuman itu perlahan turun ke arah dada Cassie yang sudah sedikit terekspos. Cassie menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Dekapan kedua lengannya pada bahu lebar di hadapannya semakin erat. Cassie sama bergairahnya dengan Tyson.

“Nghh, ahhh, Tyson,” lenguh gadis cantik itu saat sang kekasih berulang kali menjilat beberapa titik sensitif di lehernya.

Mulut Tyson masih bekerja keras di area dada mendekati payudara sang gadis. Tyson meninggalkan beberapa tanda kepemilikannya di sana. Cassie semakin dibuat terbang ke angkasa. Sedangkan, Tyson semakin gencar melancarkan aksinya. Cassie mendekap kekasih itu semakin dalam agar Tyson semakin bertemu dengan buah dada kebanggaannya. Tyson yang mengerti dengan isyarat itu kembali bergerak.

“I’ll remove your shirt, ya, Cassie,” ucap Tyson.

Pada kalimat itu, Tyson mendeklarasikan sebuah pernyataan dan bukannya meminta izin dari gadisnya. Cassie yang sangat rindu didominasi oleh lelaki kesayangannya itu tentunya dengan senang hati bersedia. Tyson menanggalkan kaos berwarna putih menutupi tubuh indah Cassie. Setelah ia dapat melihat permukaan kulit yang putih bersih itu, Tyson segera menghirup aroma Cassie dengan khidmat.

“I love this smell,” kata Tyson saat indera penciumannya dipenuhi dengan semerbak wangi vanilla yang bercampur dengan aroma asli dari tubuh Cassie.

“Ahhh, Tyson,” lirih Cassie kala hidung bangir itu terasa menggelitik di antara sepasang payudaranya.

Di detik selanjutnya, lagi-lagi tanpa adanya aba-abanya, Tyson melepas bra berwarna hitam yang melindungi payudara kenyal milik Cassie. Ia hisap sebelah puting kecoklatan yang sudah mencuat sempurna itu. Sementara itu, tangannya yang terbebas memainkan ujung puting payudara yang menganggur. Tyson dengan aksinya yang melecehkan sepasang buah dadanya membuat Cassie semakin ingin mencapai kepuasaan tertinggi.

“Mphhh, Tyson, stophh,” komando Cassie.

Mendengar Cassie merintih seperti itu, Tyson menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia masih punya hati nurani untuk tidak menyakiti gadisnya walaupun Cassie juga sebenarnya mau. “Kenapa? I think you’ll like it,” tanyanya menggoda.

“Bukannya aku gak suka,” jawab Cassie. Ia menggigit bibir bagian bawahnya yang terlihat sedikit membengkak karena ciuman panasnya tadi bersama Tyson. “Tapi….”

“Is there something bothering you?” tanya Tyson.

Cassie melirik bagian selatan dirinya dan kekasihnya. “Down there,” ujar gadis cantik itu. “It hurts, Tyson. I want you inside me immediately.”

Tyson terkekeh. Ternyata, Cassie masih saja tidak sabaran apabila berhubungan dengan kegiatan pemuas nafsu seperti ini. Tyson menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Okay. But, lemme check it first.” Selepas dengan pernyataannya itu, Tyson bergerak mengusap kewanitaan Cassie dari arah luar pakaia dalamnya.

“Ahhh,” desah gadis cantik itu.

“You’re right,” jelas Tyson. “Kamu udah basah.”

“Quickly, Tyson. I can’t hold it anymore,” jelas Cassie memohon.

“Hold on, Cassie. I don’t wanna hurt you,” balas lelaki tampan itu.

Tangan kekar Tyson masih bermain dengan vagina gadisnya. Ia ingin memastikan bahwa lubang surgawi itu sudah terlumasi seluruhnya. Namun, bukan Cassie namanya jika ia tidak memberontak. Tyson ingin bermain lembut dengannya tetapi sang kekasih sepertinya tidak satu suara dengannya. Cassie terus menggoyangkan pinggulnya agar jari-jari besar itu menyentuh vaginanya lebih dalam.

“Play rough on me, Tyson,” goda Cassie.

“This is our first time after a long time, Cassie,” ujar Tyson. “Kamu yakin?”

Cassie menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan sangat yakin. “Please…,” ucapnya.

Tyson tidak mempunyai pilihan lain, selain menyetujui permintaan gadisnya. “Okay. But, at least let yours wet first.”

Cassie mengiyakan perintah dari sang dominannya. Setidaknya, itu yang dapat ia lakukan alih-alih Tyson harus menolak keinginannya mentah-mentah. “With yours?”

Tyson menggeleng. “With my fingers, Cassie, my fingers.”

“Kamu gak seru,” keluhnya.

Tyson yang mendengar gadis cantiknya melayangkan protes memutar bola matanya. “You have to be patient to get what you want, Cassie.”

Cassie mendekatkan wajahnya kepada Tyson. “Like us?” Bibirnya mengukir senyum indah.

Tyson membalas simpul itu dengan tak kalah indah. “Like us.”

Selanjutnya, Tyson menangkup dagu mungil dari wajah cantik yang saat ini berposisi lebih tinggi darinya. Ia kecup bibir menawan itu dari satu sudut ke sudut lain. Sedangkan, tangannya bergerak melucuti celana pendek olahraga serta pakaian dalam dengan warna senada dengan bra miliknya tadi. Tyson dapat merasakan cairan hangat perlahan mengalir membasahi celana piyamanya.

“Ahh!” teriak Cassie tiba-tiba saat jari telunjuk dan jari tengah milik kekasihnya itu menerobos ke dalam kewanitaannya.

“Katanya kamu mau aku main kasar? Tapi baru kayak gini aja kamu udah kesakitan,” ledek lelaki tampan itu.

“I am, ahhh,” balas Cassie. Ia masih dapat menikmati rasa itu meski tempo yang bergerak di bawahnya cenderung lamban.

Tyson mendekatkan mulutnya ke telinga kanan sang gadis. “Untuk apa aku main kasar? If only with this slowly movement like this could brings heaven to you, Cassie.”

Cassie menggigit pipi bagian bawahnya. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar tidur kekasihnya. “But, still, Tyson… the rough one’s more challenging,’ ucap Cassie sembari mengatur napasnya karena rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. “Am I, right?”

Tyson menambah pergerakan pada bagian selatan Cassie. Kini, ibu jarinya bergerak memutari klitorisnya. “So, you still want the rough one?” tanya Tyson meyakinkan.

“Nghhh, yes, ahh, please,” ujar Cassie susah payah.

Tyson tersenyum seram. “Alright,” katanya. “You got what you wish.”

Selanjutnya, Tyson mulai bergerak. Ia mengangkat tubuh indah Cassie lalu membantingnya ke ranjang tidurnya. Kemudian, Tyson berjalan mendekati laci di bawah meja belajarnya. Dari dalam sana, ia mengambil seutas tali dan sebuah dasi. Cassie dengan susah payah menelan salivanya saat Tyson benar-benar berubah menjadi persona yang ia inginkan. Ia tiba-tiba saja merasa sedikit menyesal dengan pilihannya. Tyson tampak sangat mengerikan dan menggoda.

“Play hard or go home is your concept ‘kan, Cass?” tanya Tyson sensual. “So, this is what you got.”

Tyson memutar balik tubuh kekasihnya itu agar menelungkup. Kemudian, kedua tangan Cassie diikat membelakangi tubuhnya. Setelahnya, ia menutup manik dengan binar seterang konstelasi bintang di angkasa itu menggunakan dasi. Tyson menyibakkan rambutnya ke arah belakang sembari tersenyum puas kala sepasang manik selegam malamnya melihat mahakarya indah yang terbaring di atas ranjangnya.

Tyson mulai naik ke atas ranjang untuk kemudian menciumi punggung mulus itu. Cassie dibuat merinding sebab ciuman panas itu beradu dengan rendahnya suhu kamar tidur sang kekasih. Tubuhnya menggelinjang hebat meskipun Tyson belum menghantamnya dengan batang berurat yang sangat Cassie inginkan untuk berada di dalamnya sekarang. Cassie takut tetapi merasa terpuaskan di saat yang bersamaan.

“Akh!” pekik Cassie kala tangan kekar Tyson menampar bokongnya.

“Ah, I forgot something,” ucap Tyson.

Cassie kembali menelan saliva kala tenggorokannya terasa kering hanya karena sepenggal kalimat tersebut. “Lupa apa, Tyson?” tanyanya.

Tyson berjalan ke arah nakas di sebelah kiri tempat tidurnya. Ia membuka laci di bawah lampu tidur dengan warna lampu warm white itu. Cassie tidak tahu pasti apa yang kekasihnya ambil dari dalam situ. Namun, seketika ada suara getaran yang samar memasuki indera pendengarannya, Cassie langsung tahu apa yang Tyson maksud. Ternyata, Tyson masih menyimpan benda itu bersamanya.

“Mainan kesukaan kamu,” jawab lelaki tampan itu seraya melepaskan semua baju yang melekat pada tubuh kekarnya.

Akhirnya, setelah menyiapkan keperluan seadanya yang akan membuat Cassie terbang menuju angkasa, Tyson kembali naik ke atas ranjang. Ia memposisikan dirinya setengah berdiri di belakang tubuh indah gadisnya. “Spread your legs, Cantik,” perintah Tyson. Cassie menuruti perintah kekasihnya. Tangan Tyson bergerak memasangkan vibrator kecil pada bagian klitoris Cassie.

“Ahhh, Tyson, nghh,” lirih gadis cantik itu.

Lutut yang tadinya berdiri tegap menumpu beban tubuhnya sudah terjatuh lemas. Tyson mengangkat pinggul gadisnya agar posisinya kembali seperti semula. Ia kembali menampar bokong sintal itu. Cassie menenggelamkan wajahnya ke arah bantal. Ia merintih saat rasa sakit itu muncul bersamaan dengan rasa nikmat. Tyson sungguh-sungguh memenuhi tugasnya untuk bermain kasar dengannya.

“You like that, Cass?” tanya Tyson.

Cassie menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya,” balasnya lemas.

“Lagi?” tanya Tyson menantang.

Dengan lantang Cassie menjawab, “Lagi!”

Tyson menyiapkan penisnya untuk menghantam vagina Cassie. Ia mengusap batang yang sudah mencuat hebat itu. Tyson juga bergerak mengusap vagina gadisnya dari depan ke belakang agar pelumas alami itu menyebar dengan rata. Tyson dibuat semakin bergairah saat daerah kewanitaan kekasihnya berkedut dengan samar. Sepertinya, ia akan langsung menancapkan penisnya saja.

“Ahh, Tyson!” lenguh gadis cantik itu kala batang besar itu langsung setengah masuk ke dalam miliknya.

“Nghh, Cass, you’re so tight,” puji Tyson.

Cassie kembali menenggelamkan wajahnya ke arah bantal. “Mphhh, ahhh.” Lirihannya tertahan.

Tyson mulai bergerak maju mundur agar penisnya masuk dengan sempurna ke dalam lubang sempit itu. “Ahhh, Cass.”

Di balik bantal yang menutupi wajah cantiknya itu, Cassie menggigit pipi bagian dalamnya. “Ahh, Tyson, move faster,” pintanya.

Tyson yang baru saja selesai menanamkan batangnya dengan sempurna ke dalam vagina Cassie langsung bergerak dengan kecepatan sedang. Dengan aktivitas panas, basah, dan menyentuh kulit masing-masing itu, keduanya mulai terbang ke luar angkasa. Tyson memejamkan maniknya seraya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Cassie berusaha bertahan dengan posisinya agar ujung penis Tyson terus menggempur rahimnya.

Seiring waktu yang berjalan cepat, tempo yang Tyson mainkan juga kian cepat. Dari kecepatan sedang, cepat, menjadi sangat cepat. Cassie merasa kewalahan dengan segala rasa nikmat yang tercipta dari permainan ala nafsunya bersama Tyson. Serupa dengan Cassie, Tyson pun merasakan hal yang sama. Ia tanpa ampun menghantamkan penisnya ke dalam rahim sang kekasih.

“Tyson, ahhh, harder,” ujar gadis cantik itu putus asa.

“Wanna cum, Cass?” tanya Tyson.

Cassie mengangkat pandangannya. Ia menyempatkan diri untuk melirik kekasihnya yang masih menikmati momen ini di belakangnya. “Iya,” jawabnya.

Mendengarnya, Tyson bergerak menggempur gadisnya jauh lebih keras dari sebelumnya. Cassie dapat merasakan dengan jelas bagaimana kepala penis itu menyentuh titik manisnya yang semakin membuatnya ingin meraih puncak kenikmatan. Berkat Cassie, Tyson juga sebentar lagi akan menjemput pelepasannya. Namun, Cassie melakukannya terlebih dahulu. Tubuh indahnya menggelinjang sempurna.

“I’m cum, Tyson,” kata Cassie.

“One more time, Cassie,” pinta lelaki tampan itu.

“Hah? Maksudnya?” balas Cassie dengan kembali bertanya.

“Cum one more time for me,” perintah Tyson.

Cassie yang tidak mengenal kata lelah pada aspek apapun itu di dalam hidupnya tentunya menyetujui permintaan lelaki kesayangannya itu. Pinggulnya ikut bergoyang lebih keras. Tyson membungkukkan tubuhnya agar kedua tangannya yang terbebas dapat meraih payudara milik Cassie yang menggantung dengan indah. Dengan begitu, Cassie akan kembali mencapai titik ternikmatnya.

“I’m cum, Cassie,” kata Tyson. “Akh!”

“Ahh, Tyson!” pekik Cassie.

Tyson dan Cassie menjemput pelepasannya bersama-sama. Tyson pada pelepasan pertamanya dan Cassie pada pelepasannya keduanya. Setelah permainan panas yang menegangkan, keduanya tumbang di atas ranjang. Dengan sisa tenaganya, Tyson melepaskan ikatan tangan serta membuka dasi yang menghalangi penglihatan gadisnya. Cassie mengerjapkan beberapa kali kala sinar lampu kamar menyerang maniknya.

Cassie tersenyum saat pemandangan pertama kali yang ia lihat setelah warna kembali menghiasi netranya adalah senyuman manis yang terpatri di wajah tampan Tyson. Tyson menarik selimut untuk kemudian mendekap Cassie di dalam pelukannya. Ia mengusap kepala bagian belakang sang gadis. Sedangkan, Cassie sibuk memainkan jari-jarinya pada dada bidang lelaki kesayangannya.

“Capek gak, Cass?” tanya Tyson sembari mengangkat wajah cantik itu agar menatap langsung maniknya.

Cassie mengangguk. “Capek,” jawabnya. “Tapi enak.”

Tyson tertawa mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Cassie. Ia mengusap pelan kepala kekasihnya. “You’re still good at this game,” ujarnya.

“Aku gak akan kayak gini kalo gak sama kamu, Tyson.” Cassie menjawil pangkal hidung bangir Tyson.

“I love the bad cop roles’ you played at this game,” jelas lelaki tampan itu.

“And I love the way you turned into a bad guy when I ask,” balas Cassie.

Mereka tertawa pada lelucon nyata yang memang terjadi di antara keduanya. Setelah kembali mengucap janji untuk sehidup semati bersama, Tyson dan Cassie menghabiskan malam dengan pemainan panas khas keduanya. Baik Tyson maupun Cassie tidak akan menyangka turnamen tahunan yang terselenggara di tahun ini akan membawa keajaiban bagi mereka berdua. Tyson dan Cassie ingin berada di sisi masing-masing selamanya.

Jihan melangkahkan kakinya terburu-buru saat sepasang manik selegam senjanya benar-benar melihat sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti tidak jauh dari tempat duduknya di bawah naungan halte bus. Bersamaan dengan Jihan yang menghampiri mobil tersebut, Jerrico keluar dari dalam sana. Ia menyimpulkan senyum seraya melambaikan tangannya kepada adik kelas kesayangannya.

“Kak Jerrico dari kapan di sini?” tanya Jihan sesampainya ia di hadapan sang pujaan hati.

Jerrico mengetuk-ngetukkan jarinya sembari merengut lucu. “Dari…,” ucapnya menggantung. “Dari kamu keluar gerbang sekolah.”

Mendengarnya, Jihan menganga. “Berarti Kakak ngikutin aku dari pulang sekolah dong?!”

Jerrico menganggukkan kepalanya. “Iya. Bisa dibilang gitu. Dari keluar kelas malah.”

“Kakak kenapa ngikutin aku sih?” tanya Jihan penasaran.

“Ya, abisnya kamu ngehindar terus. Aku bingung harus gimana biar bisa ketemu sama kamu. Yaudah, aku ikutin aja,” jelas lelaki tampan itu.

Jihan mengusap dadanya pasrah. Kedua netranya memandang datar pada kakak kelas favoritnya. Sebetulnya, Jihan tengah mengutuk lelaki tampan setinggi tiang bendera yang berdiri di hadapannya itu. Bagaimana bisa? Jerrico tidak mengindahkan rasa cemburunya. Sedangkan, Jihan setengah mati menahan dirinya agar tidak memukul ataupun meninju setiap gadis genit yang gencar sekali mengincar dambaan hatinya.

“Kita masuk dulu, yuk, ke dalem mobil. Kita makan dulu baru abis itu aku anter kamu pulang.”

Jerrico menuntun Jihan agar masuk ke dalam mobilnya. Ia membukakan pintu dan menjaga pucuk kepala adik kelasnya agar tidak terbentur atap mobil. Kemudian, ia menutup pintu lalu berlari kecil memutari mobilnya untuk masuk ke dalam sana menyusul sang gadis. Setelahnya, Jerrico menancap gas untuk menuju ke restoran cepat saji yang biasa keduanya kunjungi sepulang sekolah atau sebelum berangkat ke tempat kursus.

Selama di dalam perjalanan, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara Jerrico dan Jihan. Jerrico sibuk menyetir seraya mengikuti alunan musik dari audio mobilnya. Sementara itu, Jihan membungkam dirinya sembari maniknya memperhatikan bangunan yang tertata rapi yang ada di sebelah kirinya. Sesekali, Jerrico mencuri pandang ke arah Jihan yang sedang termenung. Ia tersenyum karena tahu apa yang menjadi penyebab kegelisahan sang gadis.

“Jihan,” panggil Jerrico. Mobilnya berhenti di perempatan lampu lalu lintas yang berwarna merah.

“Hm?” Yang dipanggil hanya berdehem singkat tanpa memalingkan pandangannya.

“Kok kamu diem aja sih?” tanya lelaki tampan itu.

“Enggak. Aku emang biasanya diem,” jawab Jihan. Ia masih setiap pada pendiriannya.

“Kamu gak biasanya diem kayak gini, Jihan. Kamu biasanya suka cerita di sekolah ngapain aja,” sanggah lelaki tampan itu. “Tadi di sekolah kamu gak mau ketemu sama aku terus sekarang kamu diemin aku. Kamu kenapa, hm?”.

Mendengar ada deheman yang disandingkan dengan suara sedalam cintanya pada Jerrico, Jihan hampir luluh. Kedua indera pendengarannya sangat dimanjakan oleh bias suara yang sangat menggoda itu. Jihan menolehkan pandangannya. Ia memandang kakak kelasnya itu dengan tatapan yang bahkan Jerrico tidak bisa deskripsikan. Jihan seolah-olah sedang mengidentifikasi dirinya, dari atas kepala sampai bawah kaki.

“Kamu kenapa ngeliatin aku gitu?” tanya Jerrico lagi.

Jihan terkesiap dengan pertanyaan yang dilontarkan Jerrico padanya. “Enggak tuh. Kak Jerrico jangan kepedean. Aku gak liatin Kakak, ya,” jelasnya penuh kebohongan.

“Suka sama aku, ya?” sergah lelaki tampan itu.

Sebelum menjawab, Jihan pura-pura menggaruk pangkal hidungnya. Lalu, ia bergumam sepelan mungkin. Berharap Jerrico tidak mendengar pengakuannya. “Iya,” katanya.

Jerrico terkekeh. Ia tidak dapat menahan semua tingkah laku gemas yang dilakukan gadis kesayangannya. Jika memungkinkan, Jerrico ingin sekali menggigit sepasang pipi chubby yang sedari tadi tidak berhenti menggembung sebab kesal tersebut. Menurut lelaki tampan itu, Jihan yang marah adalah Jihan yang paling menggemaskan. Tak lama setelahnya, lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, Jerrico kembali melajukan mobilnya.

“Kamu lucu, Jihan,” ujar Jerrico.

Jihan menahan senyumnya. Ia berusaha meminimalisir degup jantungnya yang tak karuan kala pujian dari Jerrico itu terus mengganggu di hatinya. Kalau saja, ia tidak ingat bahwa dirinya sedang merajuk, mungkin Jihan sudah melompat dari tempat duduknya dan memeluk kakak kelas kesayangannya itu. Ia tidak bisa apabila harus berdiam diri lebih lama lagi jika Jerrico memperlakukannya sepertinya ini.

Setelah hampir lima belas menit menempuh perjalanan, akhirnya Jerrico dan Jihan sampai di tempat makan yang dimaksud. Di sana, Jerrico memesan satu paket nasi ayam untuk dirinya serta satu paket nasi ayam porsi anak kecil dan ice cream cone untuk adik kelasnya. Seketika sadar bahwa Jerrico membelikannya makanan dengan hadiah mainan yang ada di dalamnya, Jihan berjingkrak senang.

“Kok Kakak tau aku belum punya mainan ini?!” tanya Jihan semangat. Sepasang manik selegam senjanya tidak dapat lepas dari salah satu karakter pokemon berwarna kuning favoritnya yang ada di tangannya.

“Tau dong. ‘Kan terakhir kali kita video call, kamu nunjukkin aku koleksi mainan kamu. Terus aku sadar kamu belum punya yang ini,” jawab Jerrico yakin.

“Ih, Kak Jerrico inget!” ucap gadis cantik itu. “Makasih, ya, Kak.” Jihan tersenyum manis.

Jerrico membalas simpul itu tak kalah manis. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan pucuk kepala Jihan. “Iya, sama-sama, ya, Cantik. Sekarang makan dulu.”

Jika tadi Jerrico seolah berbicara dengan seseorang yang tengah mengidap penyakit sariawan, setelah diberi beberapa sesajen, seperti makanan cepat saji dan es krim, kini Jihan justru tidak dapat berhenti mengoceh, mulai dari tugas fisika yang sangat sulit untuk diselesaikan bahkan oleh peringkat pertama di kelasnya sampai kedua orang tuanya yang tiba-tiba pergi ke Italia tadi pagi.

“Makan dulu, Jihan,” ucap Jerrico. Ia dapat melihat semangat juang gadis cantik itu yang membara-bara.

“Iya, Kak. Ini aku makan kok,” balas Jihan.

“Maksudnya makan yang bener. Nasinya nempel di mulut kamu tuh,” ujar lelaki tampan itu.

Dengan sigap, Jerrico menyeka butiran nasi yang melekat di sudut bibir seranum buah persik itu. Jihan sempat terhenyak ketika tangan besar itu menyentuh ujung mulutnya. Ia mengerjapkan netranya beberapa kali. Jihan dapat merasakan hangatnya tangan itu. Lagi, entah untuk ke berapa kalinya di hari ini, jantungnya tidak berdetak sesuai ritme yang normal. Setelah dirasa bersih, Jerrico menarik kembali tangannya.

“Jangan berantakan dong makannya, Cantik,” kata Jerrico.

“I-Iya, Kak,” ujar Jihan tebata. “Maaf.”

Mendengarnya, Jerrico terkekeh. “Iya, Jihan,” ucap lelaki tampan itu. “Dimaafin kalo makannya abis,” lanjutnya.

Kemudian, sepasang kakak dan adik kelas yang saling memendam rasa itu melanjutkan santapan siang menuju sore masing-masing. Di sela-sela waktu makan, Jerrico berinisiatif untuk memulai percakapan dengan gadisnya terlebih dulu. Jihan-pun memiliki beragam jawaban untuk terus mempertahankan obrolannya dengan sang pujaan hati. Setelah hampir setengah jam, Jerrico mengajak Jihan untuk pulang.

“Jihan,” panggil Jericco saat keduanya baru mendudukkan diri masing-masing di dalam mobil.

“Iya, Kak?” balas Jihan. Tangannya bergerak memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya.

“Mau boba gak?” tanya sang kakak kelas.

Jihan mengerutkan dahinya. Ia memandang kakak kelasnya itu heran. ”Tumben banget Kak Jerrico nawarin aku begituan,” kata Jihan.

“Biasanya ‘kan kalo cewek ngambek terus dikasih yang manis-manis langsung jadi gak ngambek lagi,” jelas Jerrico.

Mendengarnya, Jihan tertawa. “Kakak kata siapa kayak gitu? Terus yang ngambek siapa?”

Jerrico mendekatkan wajahnya ke arah Jihan. Dengan gerakan tiba-tiba itu, Jihan lagi-lagi dibuat membeku di tempatnya. Saat ini, sepasang manik selegam senjanya tengah menatap sepasang senja selegam malam di hadapannya. Baik Jerrico maupun Jihan, sama-sama dapat merasakan napas hangat yang menerpa wajah masing-masing.

Jerrico menyeringai. “Kamu, Jihan. Kamu yang ngambek. Iya ‘kan?” tanya lelaki tampan itu memastikan.

Jihan segera memalingkan wajahnya. Ia mencoba memasukkan pasokan oksigen sebanyak-banyaknya setelah tadi ia menahan napas cukup lama sebab wajah tampan yang menatapnya intens. “Enggak kok. Aku gak ngambek,” jawab gadis cantik itu.

Setelah mendengar jawaban demikian dari sang gadis, barulah Jerrico mau kembali ke tempat semula. Ia mengulas senyum manis sehingga matanya ikut tersenyum. “Oke, kalo gitu. Kita pulang, ya.”

Jerrico melajukan mobilnya keluar dari parkiran restoran cepat saji tersebut. Sesuai dengan rencananya, dan juga berhubung gadisnya menolak ketika ditawari makanan atau minuman manis, ia akan mengantar Jihan pulang. Seharusnya, atmosfer tidak terasa semenegangkan dan semenyeramkan tadi, tetapi entah mengapa gadis cantik yang duduk di sebelahnya tetap bungkam.

Jihan tidak dapat berhenti bergerak di tempatnya duduk. Semenjak tadi, ketika ia pertama kali melihat serta merasakan wajah tampan favoritnya sedekat nadi, Jihan jadi kesulitan untuk menyamankan posisinya. Seolah tanpa dosa, Jerrico terlihat sangat nyaman mengendarai mobilnya. Di sisi lain, gadisnya hanya sekadar untuk bernapas dengan normal saja membutuhkan tenaga ekstra.

Jihan merasa ada sesuatu yang membuncah di dalam dirinya. Namun, ia sendiri tidak tahu apa itu. Adegan Jerrico, yang seperti hampir menciumnya, tadi terus menghantuinya. Lihat saja, Jihan tidak dapat bernapas dengan normal sejak tadi. Jantungnya terus saja berdegup kencang bagai kuda pacu yang berlari. Juga, perutnya terasa aneh, seperti ada kupu-kupu berterbangan di dalam sana.

Selagi gadis cantik itu sibuk bergumul dengan lamunannya, mobil yang ditumpanginya masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Jerrico memberhentikan mobilnya di depan garasi besar yang ada di sana. Ia melepaskan sabuk pengaman yang melindunginya. Jerrico sempat terkejut kala ia menolehkan pandangannya dan yang ditemukannya adalah sang adik kelas yang serupa dengan patung, hanya diam di tempat tanpa ada pergerakan apapun.

“Jihan,” panggil Jerrico seraya menepuk pundak lawan bicaranya.

Yang dipanggil namanya hanya bergeming dan masih asyik dengan skenario yang ada di kepalanya. Barulah setelah sang kakak kelas mengguncang tubuhnya beberapa kali, Jihan kembali ke alam sadarnya.”Iya, Kak? Kenapa?” ucapnya tidak santai.

“Kita udah sampai,” jawab lelaki tampan itu.

Jihan mengedarkan pandangannya dari dalam mobil tersebut. Benar saja, keduanya sudah sampai di rumahnya. “Oh, iya, Kak.”

Jihan bergerak untuk melepaskan sabuk pengamannya. Namun, entah mengapa, mungkin karena hilangnya konsentrasi, Jihan kesulitan untuk membuka sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya. Pengaitnya tidak mau keluar dari tempatnya. Dengan inisiatif, Jerrico membantu gadisnya. Tubuhnya mendekat ke arah Jihan. Lalu, sepasang lengan kekarnya bergerak menolong tangan mungil Jihan untuk melepaskan benda pengaman tersebut.

“Kamu kenapa, Jihan? Semenjak masuk mobil tadi, kamu jadi diem. Mukamu juga pucet. Ada yang ngeganggu pikiran kamu, ya?” tanya Jerrico. Tangannya masih berjuang melepaskan pengait sabuk pengaman.

“E-Enggak kok, Kak. Aku gak apa-apa,” elaknya.

“Jangan bohong, Jihan,” ucap Jerrico.

Jerrico masih nyaman di posisinya yang setengah bangkit dari tempat duduknya. Meskipun, otot kakinya sudah merasa sedikit kaku, ia tetap mempertahankan postur tersebut. Dan juga, sebetulnya, sudah sedari tadi Jerrico melepaskan kaitan sabuk pengaman gadisnya. Namun, sepertinya, Jihan sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia masih sibuk merangkai dusta demi dusta untuk dilontarkan pada sang pujaan hati.

“Aku gak bohong, Kak Jerrico,” bantah gadis cantik itu.

Jerrico dan wajah tampannya yang saat ini berada lebih rendah dari sang gadis menatap lamat pada sepasang manik selegam senja yang membulat sempurna. Ia dengan sengaja beradu tatap dengan Jihan agar gadis itu mau berkata jujur padanya. Namun, bukannya mengatakan fakta, Jihan malah membeku di tempatnya. Untuk kedua kalinya, Jerrico berada sedekat itu dengannya seraya menatapnya intens.

“Kamu tau ‘kan kalo bohong itu gak baik, Jihan?” kata Jerrico dengan bias suara sedalam palung.

Jihan diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu dengan kebohongan yang sudah direncanakannya. “Tapi aku—”. Belum sempat gadis cantik itu menyelesaikan kalimatnya.

Cup!

Jerrico menciumnya singkat. Walaupun sekelibat, Jihan dapat merasakan dengan jelas bagaimana belahan ranum itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Setelah kecupan singkat itu juga, Jihan merasakan bahwa rasa yang membuncah di dalam dirinya perlahan tersalurkan. Jantungnya berdegup semakin kencang. Serta, kupu-kupu yang ada di dalam perutnya seolah meledak sempurna.

“Masih mau bohong lagi?” tanya Jerrico serius.

Jihan menggeleng. “E-Enggak, Kak,” jawabnya terbata.

Jerrico mengangguk. Ia mengapresiasi kesadaran sang gadis meskipun harus diprovokasi terlebih dahulu. “Bagus,” katanya. “Sekarang aku tanya lagi. Kamu cemburu liat aku deket sama perempuan lain, Jihan?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Jihan dengan susah payah menelan salivanya. Walaupun, intensitas bertemu mereka termasuk ke dalam kategori sering, tetapi percakapan yang terjadi di antara mereka sama sekali dan tidak pernah menjurus ke hal tersebut. Singkatnya, pada lubuk hati terdalam masing-masing, Jerrico tahu bahwa Jihan menyukainya dan sebaliknya. Jihan tidak tahu, untuk pertanyaan yang satu apakah ia harus berbohong atau berkata jujur.

Jihan hendak menggelengkan kepalanya lagi. Bahkan, mulutnya baru membuka setengah dan kata yang terlontar hanya, “Eng—”. Jerrico kembali menciumnya.

Cup!

Sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, kecupan ini terasa dan terlihat lebih kuat. Jerrico tidak mencium gadisnya dalam waktu singkat dan Jihan juga tidak memberontak diperlakukan demikian. Perlahan, tangan besar itu bergerak mengusap sebelah pipi sang gadis dan tangan mungil itu bergerak menangkup bahu lebar lelaki kesayangan. Terhitung sudah beberapa menit berjalan tetapi keduanya belum mau melepaskan. Setidaknya, sampai…

“Tunggu, Kak!” Jihan melepaskan ciuman itu dengan tidak santai. “Aku gak bisa napas,” katanya.

Jerrico terkekeh. “Iya, Jihan,” balasnya. “Kita pelan-pelan aja, ya.”

Di detik berikutnya, Jerrico hendak membawa gadisnya untuk kembali masuk ke dalam ciuman yang sangat candu nan memabukkan itu. Jerrico mengulurkan tangannya untuk menangkup dagu mungil gadisnya. Jihan dapat merasakan ibu jari sang kakak kelas mengusap bibirnya dengan lembut. Kemudian, Jerrico kembali memangkas jarak yang sudah sangat dekat dengan gadisnya. Namun, Jihan menghentikan pergerakan itu.

“Kak,” panggil Jihan.

“Iya, Jihan?” balas Jerrico lembut.

“Di dalam rumah aku aja, ya. Lagi gak ada Papa sama Mama kok.”

Selepasnya, sepasang siswa sekolahan itu ke luar dari dalam mobil. Jihan melangkah terlebih dahulu untuk kemudian diekori oleh Jerrico. Selagi gadis cantik itu sibuk mencari kunci pintu utama rumahnya, Jericho mengusap kedua bahunya. Jihan dapat merasakan dengan jelas seluruh tubuhnya bereaksi. Ia merinding tetapi bukan dalam artian yang buruk. Tangan besar kakak kelas kesayangannya itu menghantarkan hangat pada tubuhnya.

“Ada gak kuncinya? Sini aku bantu cari,” ujar lelaki tampan itu.

Tepat setelah Jerrico menawarkan bantuannya, Jihan menemukan kumpulan kunci yang menggantung menjadi satu dengan hiasan boneka kecil berbentuk hamster. “Ketemu, Kak!” jawab Jihan yang terdengar sangat ceria seolah ia telah menemukan harta karun.

Jihan memutar salah satu kunci berukuran paling besar pada lubang di bawah kenop pintu berwarna putih itu. Dan setelah pintu besar itu terbuka, tampaklah rumah mewah yang diisi oleh interior yang juga mewah. Namun, Jerrico merasakan ada sesuatu yang janggal. Suasana di dalam sana terasa sunyi dan senyap. Jerrico kembali mengikuti langkah gadisnya masuk ke dalam sana.

“Selamat datang di rumah aku, Kak!” ucap Jihan semangat. Ia mengangkat tinggi kedua tangannya.

Jerrico tertawa gemas. “Makasih, Jihan.” Ia mengusap pucuk gadisnya lembut. “Kamar kamu yang mana?” tanyanya.

“Kamar aku ada di lantai 3, Kak,” kata gadis cantik itu. “Kita naik lift aja, ya.”

Jihan menggandeng tangan besar Jerrico untuk mengikutinya masuk ke dalam elevator yang ada di dalam rumahnya. Di dalam sana, Jihan menekan tombol dengan angka tiga untuk menuju lantai di mana kamarnya berada. Satu detik setelah pintu logam itu tertutup rapat, Jerrico meraih tangan Jihan agar mendekat kepadanya. Ia menangkup sebelah sisi wajah cantik itu lalu menciumnya mesra.

Jihan yang kewalahan dengan gerakan tiba-tiba itu mencoba mengikutinya secara perlahan. Ia peluk leher lelaki tampan yang lebih tinggi darinya itu. Paham dengan sinyal itu, Jerrico merendahkan sedikit tubuhnya. Dipeluk erat pinggang adik kelasnya itu. Tak lama kemudian, lift yang mereka naiki sampai di lantai tiga dan pintu pun terbuka. Tidak ingin melewatkan momen barang sedetik, Jerrico menggendong Jihan ke dalam pelukannya.

Tanpa melepaskan pautan mereka, Jerrico melangkah ke luar dari dalam lift. Kaki jenjangnya berjalan pasti menuju kamar paling ujung di lantai itu. Terdapat hiasan makrame berwarna merah muda tergantung di daun pintu itu. Jerrico menyudahi ciumannya terlebih dahulu. Ia tertawa dalam diam saat bibir ranum Jihan kembali mencari bibirnya. Jihan baru sadar setelah beberapa detik. Wajahnya memerah karena malu.

“Masih mau, ya?” ledek Jerrico.

“Ih, Kakak! Jangan gitu. Aku malu,” balas gadis cantik itu sebal.

Jerrico tersenyum. Ia mengeratkan gendongan Jihan pada tubuhnya. “Kamar kamu yang ini ‘kan?” tanyanya.

Jihan memutar balik kepalanya. Kemudian, ia kembali mengarahkan pandangannya pada Jerrico. “Iya, Kak. Ini kamar aku,” katanya sembari mengangguk.

Jerrico mengangguk sebentar. Lalu, tangannya bergerak memutar kenop pintu berwarna emas itu. Ia dorong sedikit pintu besar itu agar terbuka lebar. Setelahnya, keduanya masuk ke dalam kamar tidur itu. Jihan yang masih berada di dalam gendongan ala koala yang memeluk pohon itu mengarahkan Jerrico agar menurunkannya di tepi ranjang. Seolah tidak ingin menghabiskan waktu tanpa lelaki kesayangannya, Jihan masih memeluk Jerrico yang berdiri di hadapannya.

Jerrico lagi-lagi terkekeh. Ia mengusap pucuk kepala gadis cantik yang mendekapnya erat. Sekarang, posisi kepala sang gadis menghadap langsung ke perut atletis sang kakak kelas. “Jihan,” panggilnya.

Mendengar, suara sedalam palung itu memanggil namanya, Jihan menengadahkan kepalanya. Ia tatap lamat sepasang manik dengan binar menawan itu. “Iya, Kak?”

Jerrico merendahkan kepalanya. Ia berusaha sedekat mungkin dengan sang gadis. Ia tersenyum sebelum berkata lembut. “Masih mau lanjut yang tadi?”

Tentunya, Jihan tidak ingin menolak penawaran yang satu ini karena memang itu yang ia inginkan. Setelah merasakan ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya, Jihan ingin rasa itu kembali. Ia mau perasaan yang memohon untuk dipuaskan itu segera dituntaskan. Perlahan, Jerrico kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik sang adik kelas. Bibirnya bertemu lagi dengan bibir kesukaannya sejak hari ini.

Sedikit berbeda dari yang sebelumnya, ciuman kali ini terlihat dan terasa lebih menuntut. Jerrico terus menekan tengkuk gadisnya agar memperdalam ciumannya. Sedangkan, kedua lengan Jihan berpegangan lebih erat dengan bahu lebar kakak kelasnya. Kemudian, posisi duduk Jihan yang duduk di ujung tempat tidur semakin merendah sampai akhirnya ia berbaring. Jerrico meletakkan tangan kekarnya di sebelah kanan dan kiri Jihan.

Sepasang kakak dan adik kelas itu sangat amat menikmati momen intim yang terjadi. Mereka seolah sudah ahli dengan permainan seperti ini. Merasa pautan yang terjalin membangkitkan sesuatu yang panas di dalam diri, Jerrico melonggarkan dasi yang melingkari di lehernya. Selagi ia menjalankan aksinya itu, siku lelaki tampan itu tidak sengaja menyenggol payudara Jihan.

“Ahh!” lenguh Jihan sesaat melepaskan ciumannya.

Jerrico menatap khawatir pada adik kelasnya itu. “Kamu gak apa-apa, Han? Sakit, ya?” tanyanya.

“Enggak, Kak,” jawabnya. Jihan menggigit bibir bawahnya. Tampaknya, ia enggan untuk mengatakan fakta menggelikan yang akan keluar dari mulutnya. “Mau lagi,” ucapnya sangat pelan.

“Apa, Jihan? Aku gak dengar,” kata Jerrico.

Jihan memanyunkan bibirnya. “Mau lagi.”

Jerrico tersenyum. “Kamu mau lagi? Kayak tadi?” tanyanya meyakinkan.

Jihan mengangguk pelan. Jerrico juga mengangguk pelan menyetujui permintaan gadisnya itu. Kemudian, Jerrico mengangkat tubuh mungil Jihan untuk bersandar di kepala ranjang agar memudahkan dirinya untuk menjalani semua aktivitas panas yang akan datang. Jerrico tersenyum dan tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik Jihan. Ia dapat merasakan pipi chubby itu menghangat.

“Cantik,” puji Jerrico.

Jihan yang disanjung seperti itu tidak dapat menahan senyumnya. Ia tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. “Kak Jerrico juga ganteng kok,” balasnya.

Di detik selanjutnya, tangan besar itu bergerak. Jerrico membuka satu per satu kancing kemeja seragam sekolah milik adik kelasnya. Di balik pakaian tersebut, Jerrico dapat melihat dengan samar sepasang payudara mengencang yang masih ditutupi oleh pelindungnya. Sepertinya, Jihan sudah mulai terangsang. Tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama, Jerrico meraup gunung sintal itu.

“Nghhh, ahh,” lirih Jihan saat Jerrico memainkan payudaranya.

Dalam diamnya, masih dengan tangannya yang bergerak aktif, Jerrico tersenyum puas. Ia sangat suka bagaimana Jihan terlena dengan permainannya. Lihat saja, wajah yang mengekspresikan kenikmatan itu terpampang nyata di hadapannya. Jihan sesekali menggigit bibir bagian bawahnya lalu menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit. Tangannya meremat seprai yang melindungi ranjangnya.

“Enak gak, Jihan?” tanya Jerrico menggoda.

“Mphh, enakhh, Kak,” jawab Jihan susah payah.

“Lagi?” tanya lelaki tampan itu serius.

“Lagihhh,” sergah Jihan.

Dengan begitu, Jerrico menangkup sebelah payudara adik kelasnya. Ia keluarkan gunung sintal itu dari penutupnya. Kemudian, Jerrico memilin ujung payudaranya. Jihan yang dilecehkan seperti itu semakin dibuat terbang angkasa. Tangannya kini mencengkram kemeja seragam sekolah kakak kelasnya. Kedua kakinya meringkuk. Jihan merasakan sesuatu yang aneh, seperti geli dan nikmat, di bagian bawahnya.

“Nghhh, Kak,” panggil gadis cantik itu.

“Iya, Cantik?” balas Jerrico lembut.

“Gelihh,” racaunya.

“Kenapa, Han?” tanya Jerrico.

“Geli, Kak,” ulang Jihan. “Di bawahhh.”

Jerrico menyeringai. Tangannya yang sedari tadi asyik meremas payudara sang gadis beralih ke arah selatan. JerrIco mengusap kewanitaan Jihan dari luar pakaian dalamnya. “Di sini?” godanya.

Jihan menganggukkan kepalanya berapa kali. “Iyahh, Kak.” Tanpa sadar, kakinya membuka lebar.

“Aku mainin. Mau?” tawar lelaki tampan itu.

Jihan lagi-lagi mengangguk pasrah. Ia tidak tahan dengan semua rasa nikmat yang menyelimutinya. Kepalanya terasa pusing. “Mau.”

Selanjutnya, Jerrico berpindah posisi. Di atas ranjang besar nan empuk itu, Jerrico duduk di belakang sang gadis. Jihan berada di dalam rengkuhan Jerrico. Kemudian, tangan besar itu kembali bergerak. Jerrico mengusap leher, sepasang payudara, dan berakhir pada paha bagian dalam adik kelasnya. Lalu, Jerrico menepuk pelan vagina yang masih terbungkus celana dalam itu. Ia dapat merasakan ada bercak basah di sana.

Jerrico meletakkan dagunya di atas bahu kanan Jihan. “Aku masukin, ya, Jihan.” Ia meminta izin.

Setelahnya, Jerrico melesatkan dua jarinya ke dalam sana. Tubuh Jihan menegang kala vaginanya tersentuh oleh Jerrico. Beberapa kali Jihan berusaha menutup kakinya demi menetralisir rasa nikmat yang menjalar dan beberapa kali juga Jerrico kembali melebarkannya. Jari-jarinya di dalam sana bermain dengan sangat andal. Bergerak memutar, ke atas dan ke bawah, serta tak lupa untuk memanjakan klitorisnya.

“Nghhh, ahh, Kak,” desah Jihan kenikmatan.

Jerrico mengecup pipi sang gadis. “Enak?”

“Lagihhh, Kak,” kata Jihan menagih.

Sesuai dengan titah, tangan Jerrico bergerak semakin brutal dan menusuk. Ia menambahkan satu jari lagi untuk masuk ke dalam sana. Ibu jarinya tidak berhenti bergerak memutar pada klitoris sang gadis. Jihan yang diperlakukan seperti itu hanya dapat menikmati permainan dan mengelukan nama kakak kelasnya. Kedua tangannya menarik celana seragam sekolah Jerrico. Jihan merasakan ada sesuatu yang ingin keluar.

“Kak,” panggil Jihan.

“Iya, Cantik?” balas Jerrico.

“Nghh, gak tahan, ahh,” ujar gadis cantik itu terbata. “Mau dimasukin.”

Mendengarnya, sepasang manik selegam malam itu membulat sempurna. Ia tidak menyangka Jihan akan meminta hal itu kepadanya. Jerrico tahu, ia tidak boleh bergerak lebih jauh lagi. Jerrico tidak ingin melakukan hal itu kepada Jihan. Setidaknya, dalam waktu dekat. Jihan masih terlalu muda untuk hal demikian. Namun, permainan tangannya pada bagian selatan adik kelasnya itu masih berlangsung.

“Jihan,” panggil lelaki tampan itu. “Gak sekarang, ya, Cantik.”

“Ahh, Kak. Tapi, nghhh, aku mau….” Jihan tidak mampu merampungkan kalimatnya. Sepertinya, puncak kenikmatannya akan datang sebentar lagi.

“Iya, Cantik. Aku bantu keluarin aja, ya,” final Jerrico.

Tepat setelah ucapannya berakhir, Jerrico mempercepat gerakannya. Tanpa sadar, Jihan ikut menggoyangkan pinggulnya. Ia ingin sesuatu yang akan menggelitik seluruh tubuhnya ini menemukan titik terang. Pastinya, Jerrico sadar akan hal itu. Oleh karena itu, tangannya kanannya bergerak menangkup payudara yang menganggur. Jerrico remas, pijat, dan sesekali memilin ujung payudara itu.

“Nghhh, Kak. Mau keluarhh,” jelas gadis cantik itu.

Jerrico mengangguk. “Iya, gak apa-apa, Cantik. Keluarin aja,” ucapnya lembut.

“Ahh, Kak!” pekik Jihan.

Jihan menjemput titik ternikmatnya. Tubuhnya yang sedari tadi menegang kini mulai meluruh. Seluruh permukaan tubuhnya dibanjiri keringat. Jihan tumbang di dalam pelukan lelaki kesayangannya. Di dalam dekapan itu, Jerrico memeluk erat Jihan. Ia mengusap pelan bahu dan pucuk kepala gadisnya secara bergantian. Jerrico tersenyum saat mendengar Jihan yang terengah-engah.

“Jihan,” panggil Jerrico.

“Iya, Kak? Jihan mengangkat sedikit pandangannya.

“Enak gak?” tanyanya lagi.

Jihan mengangguk pelan. ”Enak, Kak.”

“Mau lagi?” guyon Jerrico.

Jihan menggeleng cepat. “Nanti dulu, Kak. Aku capek banget.”

Jerrico tertawa dengan jawaban antisipatif dari adik kelasnya itu. Lalu, dengan inisiatif, Jerrico mengecup pucuk kepala gadisnya dalam waktu yang cukup lama. Jerrico seolah ingin menyalurkan rasa sayangnya lewat ciuman itu. Ia dapat menghirup harum shampoo yang bercampur dengan aroma asli dari tubuh Jihan. Selagi menikmati waktu romantis itu, Jerrico teringat sesuatu.

“Jihan,” panggil lelaki tampan itu.

“Iya, Kak?” balas Jihan pelan.

“Mau cheese cake gak?” tanya Jerrico asal.

Jihan mengetahui ada yang tidak beres dari pernyataan itu. Ia menegakkan tubuhnya. Ditatapnya lelaki tampan yang duduk di belakangnya itu. Jihan menyampirkan selimut pada tubuhnya yang setengah polos itu. Jerrico terkekeh saat menyadari aksinya. Kemudian, ia bergerak memeluk Jihan agar gadis cantik itu tidak perlu merasa malu. Sementara itu, Jihan semakin bingung dengan tingkah Jerrico.

“Kak Jerrico kenapa tiba-tiba nawarin aku cheese cake?” balas Jihan dengan kembali bertanya.

Jerrico terkekeh sebelum menjawab. “Itu loh. Biasanya ‘kan cewek kalo lagi ngambek suka kalo dikasih yang manis-manis.”

Jihan menatap heran kakak kelasnya itu. “Aku gak marah,” katanya.

“Beneran?” tanya Jerrico memastikan.

Jihan mengangguk. “Iya, Kak. Aku gak marah kok.”

“Aku pikir kamu marah,” ucapnya lagi.

“Karena?” tanya Jihan penasaran.

Jerrico menekatkan mulutnya ke telinga kiri Jihan. Ia berbisik. “Karena gak aku masukin.”

Sontak, Jihan bergerak menjauh. Ia memukul lengan kekar yang memeluknya. “Ih, Kayak! Jangan gitu dong. Aku jadi malu sendiri nih,” keluhnya.

Jerrico tertawa lepas saat mengetahui Jihan malu setengah mati saat dirinya membahas permintaannya itu di tengah-tengah permainan panas tadi. Jerrico kembali mendekap Jihan yang memberi jarak padanya dari belakang. Dipeluknya erat tubuh mungil itu seolah Jihan akan pergi meninggalkannya apabila ia lemah. Ia kecup lagi pucuk kepala itu untuk kemudian sepasang pipi chubby kesukaannya.

“Jangan marah, ya, Cantik. Aku bukannya gak mau. Aku takut kalo aku kayak gitu aku jadi kehilangan kontrol. Aku gak mau kalo kita kelepasan,” jelas Jerrico memberikan pengertian kepada adik kelasnya. “Kamu masih punya masa depan yang panjang. Kamu masih punya banyak keinginan dan impian. Kita pelan-pelan aja, ya.”

Mendengarnya, hati Jihan menghangat. Namun, ada satu hal yang mengganggunya. Jerrico bilang ingin menjalani hubungannya dengan perlahan tetapi ia hanyalah sekadar adik kelas yang mempunyai rasa cinta dan kasih sayang. “Kak Jerrico bilang kita pelan-pelan aja…,” ucap Jihan menggantung. “Tapi aku gak punya hak, Kak. Aku gak punya hak buat menjalani hubungan yang pelan-pelan itu.”

Jerrico mengernyitkan dahinya.”Maksud kamu apa, Jihan?”

Jihan menghela napas panjang. “Aku ‘kan bukan pacarnya Kak Jerrico. Jadi, aku gak bisa dong menjalani hubungan pelan-pelan itu sama Kakak,” jelasnya.

Jerrico tersenyum. Jadi, ini yang ia maksud. Jerrico lupa bahwa ia belum meresmikan hubungannya dengan Jihan. Ia sibuk memuaskan Jihan dengan permainan intimnya. “Kamu bisa gak, Jihan? Gak usah lucu banget kayak gitu. Aku pengen gigit kamu rasanya.”

“Aku lagi serius loh, Kak.” Nada bicara Jihan meninggi.

“Maaf, ya. Aku lupa,” entengnya. “Aku keasyikan ‘main’ sama kamu sampai aku lupa kalo kita belum pacaran.”

Jihan kembali memanyunkan bibirnya. “Tuh ‘kan, Kak Jerrico.”

“Yaudah, kalo gitu. Jihan Chalondra, adik kelas paling cantik, paling lucu, dan paling bahagia kalo lagi makan enak… mau, ya, jadi pacarnya aku?”

Jihan tersenyum. Lalu, dengan tiba-tiba ia merangkul Jerrico erat. “Nah, gitu dong, Kak!” ujarnya senang. “Sayang Kak Jerrico banyak-banyak!”

Sean menyandarkan tubuh kekarnya pada kursi panjang berbahan logam yang ia duduki. Di malam yang semakin larut ini, Sean memutuskan untuk mendatangi taman kecil di kompleks perumahannya untuk menghirup udara segar. Sebetulnya, suhu di luar semakin rendah dan terasa menusuk tetapi lelaki setinggi tiang bendera itu tetap memaksakan diri untuk meninggalkan rumahnya.

Setelah bertukar pesan singkat, yang sebenarnya tidak singkat, dengan kekasihnya, Sean semakin dibuat bingung. Pasalnya, selama beberapa hari terakhir, Sena tidak mengirim pesan sebaris pun untuk sekadar berkabar padanya. Sekalinya mengirim pesan, gadis cantik itu malah ingin mengakhiri hubungannya dengan Sean. Entah apa yang merasuki Sena? Mungkinkah informasi bodong yang ia baca dari salah satu akun sosial media kampus mereka?

“Aku harus apa, Sena?” monolog Sean.

Sean bertarung dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Ia tidak akan rela apabila harus menyudahi hubungan asmaranya bersama Sena. Sean sudah menjatuhkan hatinya semenjak hari pertama mereka di universitas. Tepatnya, rasa itu mulai tumbuh sejak hari-hari di pekan ospek. Di hari pertama ospek, Sena membantu teman sekelompoknya yang pingsan karena dehidrasi. Sean membantu kakak panitia membopong teman barunya itu.

Tidak hanya sampai di situ saja, sepulang ospek, Sean kembali menangkap Sena tengah membawakan barang belanjaan seorang nenek tua yang hendak menyebrang di jalan raya besar. Di saat calon mahasiswa lain yang ada di sekitar sana sibuk mencatat materi perkuliahan, memeriksa isi tas ranselnya, dan membeli keperluan yang harus dibawa ke kampus keesokan harinya, Sena lebih memilih untuk menolongkan nenek tua itu.

“Aku gak akan bisa kalo harus kehilangan kamu,” tambahnya.

Sean masih nyaman dengan posisinya yang setengah berbaring sembari indera penglihatannya secara samar-samar memandang gelapnya langit semesta yang serupa seperti perasaannya saat ini. Juga, otak dan sanubarinya masih dipenuhi dengan bayang-bayang sang kekasih. Selagi lelaki tampan itu masih bergumul dengan emosi negatif yang bersarang dalam hatinya, sebuah sosok menghampirinya perlahan.

“Sean?”

Mendengarnya, sontak, Sean menegakkan posisi duduknya. Sepasang manik selegam malamnya membelalak sempurna saat mengetahui sesosok yang mendekatinya adalah malaikat tercantik yang pernah ia temui. Ya, itu kekasihnya, Sena Ainsley. Di malam yang semakin gelap ini, Sean dapat melihat dengan jelas senyum tipis yang terpatri di wajah bak putri kerajaan itu.

“Sena?” sapa Sean kebingungan. “Kok kamu bisa ada di sini?”

Sena terkekeh pelan. “Aku lagi ada di rumah nenek aku di deket sini. Kamu gak tau, ya, Sean?”

Sean menggeleng. “Sini duduk, Na,” ajak lelaki tampan itu.

Sena mengangguk menyetujui. Ia menempatkan dirinya duduk di sebelah Sean. “Kamu gak tau, ya, Sean?” tanyanya.

“Gak tau apa?” balas Sean kembali bertanya.

“Kalo rumah nenek aku ada di sekitar sini. Di deket rumah kamu,” jelas Sena.

Sean menggeleng. Ia menundukkan pandangannya. Sementara itu, Sena tertawa miris. Inilah yang dimaksud oleh gadis cantik itu. Sean tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Jangankan untuk hal besar, hal kecil seperti siapa nama kucing peliharaannya saja, Sean tidak tahu. Entah memang Sean yang memiliki kepribadian seperti itu atau Sean tidak memedulikan aspek-aspek di dalam hidupnya.

“Maaf, Na,” ujar Sean pelan.

Sena menolehkan pandangannya. “Kamu gak perlu minta maaf, Sean. ‘Kan aku yang salah,” katanya.

“Enggak, Sena. Kamu gak salah,” bantah Sean.

“Aku salah karena aku terlalu berharap banyak dari kamu, Sean.”

Pandangan Sena beralih menjadi menatap halaman playground yang berjarak tak jauh darinya. Sena sering kali mendudukkan dirinya di dalam perosotan berwarna merah terang itu kala rasa rindu akan Sean menghantam dadanya. Sena lebih memilih membungkam dirinya alih-alih harus menyampaikan perasaannya sebab ia tahu lelaki seperti apa Sean itu. Sean Ghanendra, lelaki tampan dan cuek yang sebenarnya sangat amat mencintainya.

“Mau pindah duduk di ayunan aja gak?” tawar Sean tiba-tiba.

“Boleh.”

Dengan begitu, sepasang kekasih yang statusnya masih di ambang ketidakjelasan itu berpindah haluan. Sean duduk di ayunan di sebelah kanan dan Sena di sebelah kiri. Saat Sena hendak mendudukkan dirinya di atas kursi permainan yang khas dengan anak-anak itu, secara diam-diam Sean memperhatikannya. Sepertinya, Sena merasa kesusahan untuk duduk di sana. Sean baru saja akan membantu gadisnya, dan di saat yang bersamaan…

“Awas, Sena!”

Dengan sigap, Sean menangkap tubuh mungil yang hampir menyentuh tumpukan pasir yang ada di atas tanah di sana. Sena dapat merasakan lengan berotot dan telapak tangan besar yang menopang tubuhnya. Kemudian, dua pasang jendela dunia itu saling bertukar tatap. Di bawah sinar rembulan malam yang cenderung redup, baik Sean dan Sena, merasa wajah pasangannya terlihat lebih menawan nan menarik.

“Kamu gak apa-apa, Na?” tanya Sean.

Refleks, Sena membangkitkan tubuhnya. Ia buru-buru mendudukkan dirinya di atas kursi ayunan. “Aku gak apa-apa, Sean,” jawabnya. “Makasih, ya.”

Dalam diamnya dan masih pada posisi berlututnya, Sean tersenyum. Untuk pertama kalinya, dalam setahun belakangan, ia dapat memeluk gadisnya secara tidak langsung. Jika biasanya Sena yang berinisiatif untuk menggandeng lengan atau telapak tangan serta menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Sean, kali ini dekapan itu terjadi dengan izin semesta. Sean memang lelaki tampan yang memiliki kepribadian unik.

Sean bangkit dan kembali ke tempat duduknya. Setidaknya, hampir lima belas menit mereka menghabiskan waktu dengan menikmati atmosfer yang menyelimuti mereka. Sean sesekali menggoyangkan ayunannya agar bergerak maju dan mundur. Sedangkan, Sena kerap kali menggoyangkan kakinya sehingga telapak sepatunya menyapu butiran pasir di bawahnya. Meskipun begitu, tersimpan banyak kalimat yang ingin disampaikan satu sama lain.

“Sena.”

“Sean.”

Keduanya memanggil satu sama lain bersamaan. Dan lagi, netra mereka saling memandang. Sean mengulas senyum terlebih dahulu sebelum diikuti oleh sang gadis. Lalu, Sean dan Sena tertawa terbahak-bahak. Setidaknya, tertawaan itu dapat meredakan sejenak perang dingin yang, secara sadar atau tidak sadar, terjadi di antara mereka. Setelah puas melepas sedikit perasaan buruk di sanubari masing-masing, Sean dan Sena kembali pada realita.

“Kamu mau ngomong duluan, Na?” tawar Sean.

“Seharusnya…,” kata Sena menggantung. “Tanpa aku ngomong lagi pun kamu tau aku mau ngomong apa.”

Sean bergeming di tempatnya. Kecemasan yang sedari tadi ia sembunyikan akhirnya menghampirinya. Ya, Sena dan permintaan putusnya. “Sena,” panggil lelaki tampan itu.

“Iya, Sean?” balasnya lembut.

“Boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?” tanya Sean.

“Boleh, Sean,” jawab gadis cantik itu.

“Aku mau minta maaf sama kamu, Na,” ucap Sean.

“‘Kan aku udah bilang kamu gak perlu minta maaf, Sean. Aku—” Belum sempat Sena menyelesaikan kalimatnya.

Sean sudah menyambarnya. “Aku gak bisa kehilangan kamu, Na.” Ia menolehkan pandangannya ke sebelah kiri, ke arah Sena. Ditatapnya manik yang kilauannya mengalahkan bintang di langit. “Maaf butuh waktu lama untuk aku sadar. Aku sayang sama kamu, Sena, sayang banget. Aku gak siap dan gak rela kalo harus ngelepas kamu.”

“Sean…,” gumam Sena.

“Aku bukan tipe cowok yang bisa dengan mudah mengekspresikan rasa sayang dan cinta lewat kata-kata ataupun tindakan, Na. Bukannya aku gak mau tapi aku gak tau caranya. Aku juga gak tau kalo ternyata kamu tersiksa dengan perilaku aku yang seperti ini ke kamu. Aku minta maaf. Aku gak tau harus gimana ke kamu tapi aku tau aku sayang dan cinta sama kamu itu tulus dan bukannya perasaan yang dipaksa,” jelas lelaki tampan itu.

“Kamu gak perlu merasa sebersalah itu, Sean,” ujar Sena menenangkan. “Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri dan begitu juga dengan kamu. Juga… berubah itu bukan perihal mudah. Iya ‘kan, Sean?”

“Tapi aku gak tahan kalo harus ngeliat kamu sakit dan merasa gak dihargai,” tambah Sean. “Kalo dengan pribadi aku yang kayak gini aku bisa kehilangan kamu maka lebih baik aku berubah.”

Sena menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa. Sena cukup terkagum dengan pengakuan yang dilontarkan sang kekasih padanya. Di satu sisi, ia merasa tidak sepenuhnya yakin. Dengan pengalaman yang dimilikinya bersama orang-orang di sekitarnya, Sena ragu bahwa Sean benar-benar ingin berubah demi dirinya. Di sisi lainnya, Sena juga belum ingin melepaskan Sean seutuhnya, apalagi setelah penjelasannya tadi.

“Aku gak pernah mau rela berkorban demi seseorang sebelumnya, Na,” tukas Sean. “Aku gak pernah merasa kayak gini sebelumnya. Banyak kebahagiaan yang aku rasakan dan itu bersumber dari kamu. Aku gak akan ngomong banyak lagi ke kamu. Aku akan berusaha untuk jadi apa yang kamu harapkan.”

“Kenapa, Sean?” tanya Sena. “Kenapa kamu mau berubah hanya demi aku?”

Sean bangkit dari posisi duduknya. Ia memposisikan dirinya berdiri tegak di hadapan sang gadis. Kemudian, ia menyejajarkan wajahnya agar dapat menatap wajah cantik kesukaannya lebih dekat. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya. “Kamu bukan sekadar ‘hanya’ buat aku, Sena. Kamu segalanya,” finalnya seraya tersenyum.

Kalimat terakhir yang mengandung sanjungan pada pernyataan yang kekasihnya itu lontarkan untuknya sukses membuat Sena tersenyum manis. Sean berani bertaruh bahwa simpul ini adalah simpul paling indah yang pernah Sena tampilkan dan itu untuknya. Sean mengusap pelan pucuk kepala gadisnya. Akhirnya, lelaki tampan itu dapat mengutarakan perasaannya yang sebenarnya kepada gadisnya.

“Cantik,” puji Sean.

Sena tersipu malu mendengar lelaki kesayangannya, berkata demikian. “Sean,” ucapnya. “Jangan gitu.”

“Kenapa? ‘Kan kamu emang cantik, Na,” balas Sean.

“Ya, tapi tetep aja. Jangan gitu,” sanggahnya.

Sean terkekeh. Sena terlihat sangat menggemaskan dengan senyum yang disembunyikan serta wajah yang memerah seperti itu. Oleh sebabnya, Sean berjanji akan terus membuat Sena terlihat demikian dengan membahagiakannya. Sepertinya, Sean terlalu larut dengan wajah cantik yang menunjukkan kebahagiaannya itu. Tanpa ia sadari, dirinya semakin mendekat ke arah Sena.

“Sena,” panggil Sean.

“Iya, Sean?” balas Sena.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut lelaki tampan itu. Namun, Sena dapat melihat dengan jelas sepasang manik selegam malam kekasih itu tidak berhenti memandang belahan ranumnya. Sean juga dapat mendengar dengan jelas degup jantung gadisnya yang berdetak tidak karuan. Keduanya dapat merasakan napas hangat masing-masing yang berhembus semakin cepat.

Kemudian, sebelah tangan kekar itu bergerak. Sean menangkup dagu mungil Sena agar sepasang manik selegam senja yang berbinar serupa konstelasi bintang itu mau menatap langsung ke arahnya. Sena sama sekali tidak tahu motif macam apa yang melatarbelakangi perbuatan kekasihnya malam ini. Namun, satu hal yang ia tahu adalah apa yang akan Sean lakukan selanjutnya.

Sean memangkas jarak antara dirinya dan Sena. Ia memejamkan matanya erat. Berbeda dengan Sean, Sena tidak melakukan hal serupa. Ia membeku di tempatnya. Kedua telapak tangan yang menggenggam rantai ayunan di sebelah kanan dan kirinya semakin mengerat. Napasnya tertahan beriringan dengan bibir cantik nan menggoda yang kian mendekat pada miliknya. Sebelum milik lelakinya bertemu dengannya, Sena menolehkan wajahnya.

Sean terkejut dengan tingkah laku gadisnya. “Kenapa, Sena?” tanyanya. “Kamu gak mau? Aku gak akan lanjutin kalo kamu gak mau.”

“Bukan gitu.” Sena mengulum bibirnya. “Jangan di sini,” bisiknya.

Sean menangkat sebelah alisnya. Pasalnya, Sena menggumam dengan suara yang amat kecil sehingga lelaki tampan itu tidak dapat mendengarnya. Sean mendekatkan telinganya ke arah Sena. “Apa, Na? Aku gak denger kamu ngomong apa.”

“Jangan di sini,” ulangnya.

Sean memandang heran kekasihnya itu “Maksud—” Belum sempat Sean menyelesaikan kalimatnya, Sena mendahuluinya.

“Di rumah aku aja,” ucap gadis cantik itu.

Lalu, Sena bangkit dari posisi duduknya. Ia genggam tangan besar itu untuk ikut berlari dengannya. Dari taman kompleks yang memiliki lahan berumput luas itu, Sena menggandeng Sean dengan erat untuk menuju rumah sang nenek yang berjarak tidak begitu jauh. Pada wajah cantik dan tampan sepasang kekasih itu, terpatri jelas senyum secerah mentari pagi. Sean tidak dapat menyembunyikan simpul bahagianya dan begitu juga dengan Sena.

Sesampainya di depan rumah, Sena mengomando kekasihnya untuk meredam suara langkah yang ada sepelan mungkin. Hari memang sudah malam. Namun, besar kemungkinannya bahwa Rosita, nenek dari kekasih Sean itu, masih terjaga. Perlahan, Sena menggeser gerbang tua berkarat yang membatasi rumah besar itu dari jalan beraspal. Ia dapat melihat bayangan Rosita tengah mengaduk teh di dalam cangkir di pelataran dapur dari halaman depan.

Sepasang kekasih itu menyelinap masuk melalui pintu utama rumah mewah dengan interior Eropa kuno tersebut. Tidak ada lagi akses masuk yang memungkinkan bagi Sean dan Sena untuk melengang masuk ke dalam sana, selain pintu utama. Jika Sean dan Sena lebih memilih untuk masuk melewati pintu kecil dari arah garasi maka mereka akan dibawa langsung bertemu dengan Rosita.

Sena membuka pelan pintu berbahan kayu jati di rumahnya. Keduanya mengendap masuk melalui ruang tamu dan ruang keluarga. Sean dan Sena dapat mendengar langkah kaki beserta deruan sendok yang beradu dengan cangkir porselen dari jarak dekat. Sena memusatkan fungsi indera penglihatannya ke arah dapur seraya tangan kirinya masih menggenggam erat sang kekasih.

“Kamar aku ada di atas,” ucap Sena.

Sean mengangguk sebagai jawaban. Entah karena terlalu fokus atau malah atensinya teralihkan, Sena tidak menyadari bahwa tepat di depannya, Matcha, kucing abu-abu kesayangannya, tengah menunggu kedatangannya. Sontak, Sena berhenti mendadak dan membuat Sean menabrak tubuhnya. Sena hampir saja terjatuh ke atas lantai keramik yang dingin jika saja kekasihnya itu tanggap menarik tubuh mungil itu.

“Matcha?!” pekik Sena dengan intonasi suara serendah mungkin.

“Kamu gak apa-apa, Na?” tanya Sean.

“Sena?” panggil Rosita.

Dua pasang manik itu membelalak. Mereka dapat mendengar dengan jelas suara Rosita yang menggema dari arah dapur. “Iya, Oma.”

“Kamu udah pulang, Sayang?” tanya Rosita yang masih sibuk dengan teh dan kue keringnya di dapur.

“Udah, Oma,” jawab Sena.

Sean membantu sang gadis untuk berdiri dengan tegap. “Itu Oma kamu?” tanyanya.

“Iya,” balas Sena singkat.

“Aku kenalan, ya?” tawar lelaki tampan itu.

“Jangan!” pekik Sena sembari menutup mulut Sean menggunakan telapak tangannya.

“Sena panggil Oma, Sayang?” ujar Rosita.

Mendengar cucu kesayangannya sudah datang dari jalan-jalan malam, Rosita berniat untuk menghampirinya. Ia membawa nampan yang berisikan teh kamomil dan kue kering buatannya. Baik Sean maupun Sena dapat mendengar jelas bahwa Rosita berjalan mendekat ke arah mereka. Ini gawat. Rosita bisa saja pingsan jika mengetahui Sena membawa pulang seorang laki-laki yang tak dikenalnya ke dalam rumah ini.

“Enggak, Oma,” kata gadis cantik itu. “Sena capek, Oma. Sena mau langsung tidur, ya. Good night, Oma!”

Selepasnya, Sena kembali menggandeng tangan Sean dari berlari kencang untuk menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar tidur Sena. Di dalam kamarnya, Sena langsung mengunci pintu. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak. Rosita hampir saja memergokinya pulang bersama Sean. Belum beranjak dari balik pintu, Sena memastikan sang nenek tidak mengikutinya. Ia menempelkan sebelah telinganya ke daun pintu kamarnya.

Melihatnya, Sean terkekeh. “Kamu lucu deh,” katanya.

Setelah yakin bahwa nenek tercintanya tidak mengekorinya, Sena menghela napas panjang. “Lucu gimana? Aku bisa mati kalo Oma tau aku bawa kamu ke rumah,” jelasnya.

“Ya, lagian kamu ngelarang aku kenalan. Padahal, aku mau kenalan sama Oma kamu,” ledek Sean.

Sena memukul pelan dada kekasihnya. “Ih, Sean! Kamu ada-ada aja deh. Kalo gitu nanti kita berdua bisa mati.”

Sean tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik kesukaannya. “Ya, kalo matinya sama kamu sih aku mau aja,” katanya menggombal.

Mendengar ada suara serak nan berat yang menyeruak ke dalam indera pendengarannya disertai dengan wajah tampan yang menatapnya intens, Sena bergeming. Sepasang manik selegam senjanya menatap lurus ke arah manik yang selama ini ia ketahui tidak pernah memancarkan kepastian. Tetapi, Sena berani bertaruh, Sean berubah hanya dengan hitungan jam. Sena seolah bertemu dengan sosok baru malam ini.

“Jangan gombal,” sergah Sena. Ia memalingkan wajahnya tersipu malu.

Lagi, Sean terkekeh. “Iya, Sena. Aku gak gombal lagi,” ucapnya seraya mengusap pucuk kepala sang gadis.

Seolah melanjutkan adegan yang sempat terhenti sebelumnya, dua pasang manik yang berbinar indah itu kembali bertukar tatap. Sean tidak dapat melewatkan kecantikan yang gadisnya pancarnya dari jarak sedekat ini. Sementara itu, Sena tidak ingin membuang waktunya barang sedetik demi untuk menikmati karya Tuhan yang diciptakan, mungkin, hanya untuknya.

“Kita udah di rumah aku,” ujar Sena.

“Jadi, aku boleh…,” Sean sengaja menggantung kalimatnya. Membiarkan sang gadis untuk bermain dengan imajinasinya.

Sean mengangguk sekali. Ia menyetujui permintaan dari sang kekasih. Mendengarnya, Sean tersenyum puas. Kemudian, lelaki tampan itu menempelkan tangan kirinya di samping kepala sang gadis di atas daun pintu. Sedangkan, tangannya yang satu lagi mengelus wajah dengan kulit halus dan seputih susu. Berikutnya, Sean kembali memangkas jarak yang sudah sangat dekat antara dirinya dan Sena.

Akhirnya, setelah lama menunggu, kedua bibir yang menginginkan satu sama lain itu bertemu. Untuk pertama kalinya, Sean mengecup mesra belahan selembut awan milik gadisnya. Dilumatnya benda kenyal itu menggunakan bibirnya. Dengan inisiatif sendiri, Sena mengalungkan lengannya pada bahu lebar di hadapannya. Sean, yang seolah mendapat lampu hijau, bergerak lebih.

Ia bawa tubuh mungil Sena ke dalam gendongannya. Masih dengan belahan yang terpaut, Sean berjalan dengan sang gadis di dalam dekapannya. Langkahnya pasti menuju ranjang tidur Sena. Di atas sana, Sean membanting pelan tubuh yang menggodanya sejak ia memasuki kamar tidur ini. Kemudian, lelaki tampan itu membuka jaket denimnya dan melemparnya ke sembarang arah.

Ciuman panas yang terlihat dan terasa semakin menuntut itu berlangsung kurang lebih selama lima belas menit. Lihat saja, bagaimana tangan besar itu bergerilya ke segala area yang bisa dijangkaunya. Sena, yang diperlakukan seperti itu, sudah pasti menyambut dengan baik. Ia mengusap otot perut kekasihnya yang tercetak jelas dari balik kaos hitam yang dikenakannya. Keduanya saling memancing hasrat pasangannya.

Tak lama kemudian, Sean menyudahi kecupannya terlebih dahulu. Ia dibuat terkesima dengan permainan balasan dari sang gadis. “Sena,” gumamnya. “You’re good at this thing.”

Mendengarnya, Sena tertawa pelan. “Beneran?” balasnya. “This is my first time.”

Sean yang mengetahui fakta itu semakin merasa kagum dengan Sena. “Am I your first kiss?” tanyanya.

Sena mengangguk. “Iya,” katanya. “And also my first boyfriend.”

Kali ini, Sean yang tertawa. Ia cukup lega mengetahui kebenaran tersebut. “Then, I’m the lucky one here,” ucapnya. “Aku gak salah dengan keputusan aku mempertahankan kamu. Makasih, ya, Sena, udah mau ngasih aku kesempatan kedua.”

Sena tersenyum. Ia mencubit pangkal hidung bangir kekasihnya. “We’re both lucky, Sean,” jelasnya. “Aku belum pernah menemukan seseorang yang sungguh-sungguh dengan kehadiran aku. Kamu jadi yang pertama yang bisa buat aku percaya kalo aku emang pantas untuk dihargai. Makasih, ya, Sean.”

Sean dan Sena saling melempar senyum. Sepertinya, bagi mereka, tidak ada malam yang lebih membahagiakan dibanding malam ini. Pastinya, sebab mereka sudah menemukan titik terang dan kejelasan dari hubungan yang terjalin. Walaupun, di luar sana dingin terasa hampir membekukan aliran darah tetapi tidak di dalam kamar dan di atas ranjang ini. Kegiatan yang sangat panas sebentar lagi akan terjadi.

“May I continue?” tanya Sean meminta izin.

“Yes, please,” balas gadis cantik itu.

Dengan begitu, setelah mendapat persetujuan, barulah Sean melanjutkan niatnya untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi aset indah milik sang gadis. Ia kembali mencium belahan ranum yang mulai sekarang akan menjadi kesukaannya. Sementara itu, tangan bergerak menjamah semua bagian tubuh gadisnya yang bisa disentuhnya. Sena menggigit bibir lawan mainnya saat merasakan tangan besar itu meremat payudara.

Sean yang mengetahui ada darah segar yang mengalir karena perbuatan gadisnya, bukannya berhenti malah menjadi semakin bersemangat. Sena memang benar-benar andal dalam permainan intim seperti ini. Lalu, tangan lelaki tampan itu kembali bergerak. Sean membuka kancing piyama tidur gadisnya satu per satu untuk kemudian membuka bra yang melindungi sepasang gunung sintal Sena.

“Nghhh, ahh, Sean.” Lenguhan pertama Sena lolos.

Cumbuan itu turun perlahan membubuhi setiap area di sekitar dada dan perut sang gadis. Sean meninggalkan tanda khas kenikmatan di sekujur tubuh indah Sena. Sean sesekali mencuri pandangan pada ujung puting yang mencuat sebab gadisnya yang mulai terangsang hebat. Ia tidak tahan lagi apabila harus membiarkan sepasang payudara itu bergoyang tanpa ada yang memainkan.

“Sean, ahhh, mphh,” desah Sena.

Sean berpindah haluan. Sekarang, seolah anak bayi yang merindukan air susu ibunya, Sean melumat puting dari gunung sintal sang gadis. Sedangkan, tangannya yang terbebas, ia gunakan untuk meremas, memijat, lalu memilin ujung puting payudara yang satunya lagi. Sean baru mulai dengan bagian atas tubuhnya, tetapi nikmat yang diberikan setara dengan surga dunia.

“Ahhh, Sean,” lirih gadis cantik itu.

Sean sungguh-sungguh menikmati tubuh Sena dan Sena benar-benar menikmati segala bentuk tidakan yang Sean lakukan padanya. Keduanya hanyut dalam nikmatnya permainan yang mereka ciptakan berdua. Sena dapat merasakan ada sesuatu yang memohon untuk segera masuk ke dalam dirinya di bawah sana dan Sean dapat merasakan bahwa sesuatu terasa semakin basah di bawah sana.

Selanjutnya, setelah puas dengan sepasang payudara sang gadis, Sean ingin menikmati bagian tubuh Sena yang lain. Sena, yang gairahnya serupa dengan kekasih, juga menginginkan miliknya untuk segera disentuh. Sean, yang peka dengan hal tersebut, kembali berbuat. Ia melepaskan celana pendek beserta pakaian dalam yang melindungi aset indah di dalamnya. Sean tersenyum sesaat indera penglihatannya dimanjakan oleh vagina gadisnya.

“Sean!” protes Sena. “Kamu kebiasaan deh. Jangan diliatin gitu,” tegurnya.

Sean tertawa. “Ya, gimana aku gak tergoda untuk ngeliatin. Punya kamu secantik itu.”

Sena lagi-lagi dibuat berdegup jantungnya dengan pujian yang dilontarkan lelaki kesayangannya. Sepasang manik selegam senjanya memandang ke segala arah, ke mana saja asal tidak menatap langsung sepasang manik selegam malam itu. Ia tidak mau Sean tahu bahwa dirinya cepat luluh jika kekasihnya itu terus mengumbar sanjungan padanya. Setidaknya, sampai sesuatu memasuki kewanitaannya. Sena dibuat menggelinjang.

“Mphh, ahhh,” lenguh Sena saat Sean menelusupkan dua jarinya ke dalam vaginanya sembari telapak tangannya menekan pelan perut bagian bawahnya.

Sena menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar tidurnya. Kedua telapak tangannya mencengkram erat kain, yang sudah dibuat kusut, yang melapisi tempat tidurnya. Berulang kali sepasang kaki jenjang itu hendak menutup demi menetralisir rasa nikmat yang ada dan berulang kali Sean menghalangi pergerakannya itu. Tanpa aba-aba, ia mempercepat adukan jarinya.

“Sean, ahhh,” desah Sena tak tertahan.

“Enak, Na?” tanya lelaki tampan itu.

Sena menggeleng cepat. “Enggakhh.”

“Lagi?” tawar Sean.

“Iya lagihhh,” jawab Sena semangat.

Sesuai dengan permohonan dari sang gadis, Sean meningkatkan kecepatan permainan tangannya di bawah sana. Sean dapat merasakan cairan yang melumuri kewanitaan Sena dan juga tangannya semakin deras. Apabila Sean boleh menerka, Sena sebentar lagi akan menjemput pelepasannya. Namun, jika memang hal itu benar akan terjadi, Sean akan segera menghentikannya. Sebab…

“Nghhh, ahh, Sean,” panggil Sena.

“Iya, Sayang?” balas Sean.

“Mau, ahh, keluar,” ucap Sena.

Sean menghentikan aktivitasnya pada vagina sang gadis. Ia bergerak mendekatkan tubuhnya kepada Sena. Sean mengungkung tubuh mungil itu di bawah kuasanya. Lalu, ia berbisik. “Aku masukin, ya.”

Barusan yang keluar dari mulut Sean bukanlah sebuah bentuk pertanyaan melainkan pernyataan. Jadi, dengan ada atau tidaknya izin yang Sena ucapkan, kekasih tampan itu akan tetap melakukan aksinya. Kedua tangan Sena yang tadinya meremas erat kain tempat tidurnya kini beralih pada sepasang bahu lebar di atasnya. Pegangannya semakin kencang kala sesuatu di bawah sana mulai memasuki dirinya.

“Shh, ahhh, Na,” lirih Sean.

Padahal, milik Sean belum sepenuhnya masuk. Namun, nikmat yang ada sudah mulai memuncak. Sena menahan napasnya seiring dengan penis besar yang melesat masuk ke dalam vaginanya. Bagian selatannya terasa penuh. Kemudian, setelah dirasa sudah masuk dengan sempurna, Sean membiarkan kejantanannya beradaptasi dengan lubang sempit yang dimasukinya.

“Nghh, Sean,” panggil Sena.

Sean mengangkat pandangannya menghadap wajah cantik di bawahnya. “Iya, Na?”

“Gerakin aja,” pintanya.

Sean mengangguk. “Kalo sakit bilang, ya, Sayang,” katanya.

Perlahan, mengikuti titah sang gadis, lelaki tampan itu mulai bergerak. Awalnya, Sean menggempur bagian bawah gadisnya dengan tempo pelan. Namun, seiring dengan desahan yang mengelukan namanya dan juga nikmat yang ada semakin bertambah, ia menambah kecepatannya. Decitan kaki ranjang beserta suara khas kenikmatan yang menggema di seluruh sudut kamar tidur menjadi saksi bisu atas permainan keduanya.

“Shh, Na, ahhh,” lirih lelaki tampan itu sembari terus meningkatkan tempo hantamannya.

Serupa dengan sang kekasih, Sena ikut menggoyangkan pinggulnya seolah ingin kepala penis itu terus menabrak dinding rahimnya. “Nghh, ahh, Sean.”

Keduanya bergerak semakin brutal. Mereka ingin memasuki satu sama lain lebih dalam demi memuaskan gairah yang ada. Sepasang kekasih itu ingin merasakan titik nikmat tertinggi. Lihat saja, tubuh-tubuh polos itu dibanjiri oleh keringat. Selimut yang tadinya menyampir pada tubuh mereka, kini jatuh tak berdaya di atas lantai keramik yang dingin. Sepertinya, baik Sean maupun Sena, akan menjemput pelepasannya.

“Ahh, Sean, aku mau, nghhh, keluar,” ujar Sena susah payah.

“Hold on, Na,” balas Sean. “With me.”

Sean bergerak tiga kali lebih cepat dan lebih keras dibanding yang sebelumnya. Membuat tempat tidur yang mereka tempati bergoyang dengan sangat kencang. Sena mencakar punggung lebar Sean selagi dirinya menahan gairah yang membuncah. Sean dapat merasakan penisnya terjepit oleh otot-otot yang menengah di dalam vagina gadisnya. Sena akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi.

“Ahh, Sean, aku gak, mphh, tahan,” ucap Sena.

“Go ahead, Sena,” ujar lelaki tampan itu.

Dengan disetujui permintaanya, Sena segera melepaskan apa yang seharusnya dilepas. Sepasang kaki jenjangnya bergetar hebat. Setelah tiga hentakan, Sean mengeluarkan penisnya dari dalam Sena. Ia semburkan sperma hangat itu ke sembarang arah. Kemudian, Sean memposisikan tubuhnya berbaring di sebelah sang gadis. Keduanya diburu napas masing-masing.

Sean tertawa pelan. “Pacar aku pinter mainnya.” Ia seka helaian rambut yang menghalangi wajah cantik gadisnya.

Sena ikut tertawa. “Kamu enak mainnya,” balasnya.

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Sean dan Sena ingin menikmati atmosfer menenangkan yang melingkupi mereka. Sean yang sibuk menatap wajah secantik dewi Yunani di hadapannya. Sedangkan, Sena sibuk bermain dengan rangka wajah tegas yang mulai sekarang ia yakini akan selalu menyayanginya. Setidaknya, sampai Sean kembali membuka suara.

“Makasih, ya, Sena,” katanya. “Makasih udah kasih kesempatan kedua buat aku. Makasih udah percaya sama aku. Aku gak tau lagi harus bilang apalagi. Aku beruntung banget ketemu sama kamu. Maaf aku pernah nyakitin kamu. Maaf aku pernah mengabaikan rasa kamu. Aku sebisa mungkin akan pegang janji aku ke kamu. Jadi…,” potong Sean. “Jangan pergi, ya, Sena.”

Mendengarnya, Sena tersenyum teduh. “Iya, Sean. Aku terima permintaan maaf kamu. Aku juga berterima kasih sama kamu udah mau berusaha untuk aku.” Sena mendekatkan wajahnya ke arah Sean. “Untuk kita.”

Selagi sepasang kekasih itu tengah memadu cinta di dalam kamar. Tanpa sepengetahuan mereka, sedari tadi, Rosita memantau kegiatan mereka melalui connecting door yang menghubungkan kamar tidurnya dengan kamar tidur Sena. Anehnya, bukannya merasa marah sebab cucu kesayangannya sudah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan laki-laki yang tidak pernah ia kenal, Rosita malah tersenyum tenang.

“Sena sudah besar, ya, Sayang,” monolognya. “Siapa tadi namanya? Sean? Nama yang bagus,” lanjut sang nenek. “Makasih, ya, Sean, sudah mengembalikan kepercayaan cucu kesayanganku terhadap laki-laki. Kamu adalah laki-laki pertama yang mendapat kepercayaannya. Sedangkan, ayahnya sendiri saja tidak. Semoga Sean dapat menjaga kepercayaan yang Sena berikan, ya,” final Rosita seolah Sean dapat mendengar wejangannya.

Claretta menutup mulutnya yang menganga lebar menggunakan kedua telapak tangannya. Pasalnya, mobil sedan hitam mewah benar-benar terparkir di halaman rumahnya. Melihat ada sesosok yang keluar dari mobil tersebut, Claretta segera menutup jendela kamarnya dan berlari kecil menuruni tangga di rumahnya. Saat sepasang tangan mungilnya berusaha membuka pintu utama rumahnya, tampaklah seorang lelaki tampan yang menatap datar ke arahnya.

“Rendika?” tanya Claretta ragu.

Yang ditanya mengangguk sekali. “Iya. Claretta ‘kan?” balasnya dengan bertanya.

Rahang tajam gadis cantik itu kembali terjatuh. Namun, kali ini kepalan tangannya tidak berusaha untuk melindungi. “Lo beneran tau rumah gua?! Lo stalker, ya?”

Rendika menghela napas panjang. Ia mengangkat kedua tangannya yang dipenuhi oleh bungkusan berbagai macam makanan berat, makan ringan, hingga camilan. “Sebelum lo protes mending lo suruh gua masuk dulu. Berat nih makanannya,” jelas lelaki tampan itu. “Atau kalo lo tetep bersikukuh gak ngebolehin gua masuk gua bakal dobrak pintu rumah lo.”

Claretta lagi-lagi dibuat tercengang oleh lelaki tampan yang berdiri di hadapannya ini. Jika tadi ia dikejutkan dengan kedatangannya yang tiba-tiba, sekarang ia dikejutkan dengan kalimat tanpa batas yang keluar dari mulutnya. Meskipun begitu, Claretta tetap mempersilakan Rendika untuk masuk ke dalam kediamannya. Di dalam sana, Rendika menelisik segala sudut yang ada. Ia mengerutkan keningnya.

“Gua liat-liat kayaknya lo orang kaya,” ucap Rendika sembari mendudukkan dirinya di atas sofa impor yang orang tuanya Claretta beli setahun lalu tanpa persetujuan dari sang empunya.

“I am,” balas Claretta. “Gua emang kaya kok.”

Rendika terdiam sebentar sebelum berujar. “Tapi kenapa lo bisa digoblokin orang kayak Noah? I mean… lo tau ‘kan Noah orangnya kayak apa?” sarkasnya.

Claretta menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Ia memandang sinis makhluk tampan, yang bahkan ia berani jamin lebih tampan dari kekasihnya, Noah Gibson, yang bersikap semena-mena padanya. Claretta menatap Rendika dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rendika pun melakukan hal yang sama. Keduanya seolah-olah tengah mengobservasi lawan bicara masing-masing.

“Sini duduk,” ucap Rendika. Ia menepuk-nepuk sisi kosong sofa di sebelahnya seolah dia-lah si pemilik rumah megah itu dan bukannya Claretta.

Entah dengan kesadaran penuh atau tidak, Claretta menurutinya. Ia mendudukkan dirinya di sebelah kiri Rendika. “Lo masih belum jawab pertanyaan gua, Rendika,” katanya.

“Yang mana, Claretta? Pertanyaan kenapa gua bisa tau rumah lo? Gua temen deketnya Noah,” jelas Rendika. “Noah cerita banyak tentang lo ke gua.”

“Lo temen deketnya Noah?” tanya Claretta skeptis.

Rendika mengangguk. “Bisa dibilang begitu.”

“Tapi kenapa lo bisa kecolongan? I mean… kenapa pacar lo bisa selingkuh sama pacar gua.” Sekarang giliran Claretta yang menusuk Rendika menggunakan sindirannya.

Rendika menyeringai. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya pada wajah cantik yang baru pertama kali ditemuinya. Rendika berani bertaruh tentang kecantikan dan aura yang dimiliki gadis yang duduk tepat di sebelahnya. Claretta jauh lebih menawan dibanding Alicia Wong, kekasihnya sekarang. Sesekali sepasang manik selegam malamnya mencuri pandangan pada belahan ranum yang sangat menggiurkan.

“Itu artinya lo gak boleh terlalu percaya sama orang,” ujarnya. “Ngerti, ya, Cantik?”

Rendika mengembalikan posisinya semula, sedikit menjauh dari Claretta. Sementara itu, Claretta membeku di tempatnya. Ia mengerjapkan netranya beberapa kali lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh jatuh dengan pesona palsu yang dipancarkan Rendika. Seperti yang sudah disinggung oleh lelaki tampan itu sebelumnya. Jika Noah, sang kekasih, saja bisa berkhianat kepadanya, apalagi Rendika yang notabenenya ialah orang asing untuknya.

“Gua gak ngerti kenapa Noah harus ninggalin lo demi pacar gua,” celetuk Rendika. Ia melepaskan hoodie yang dikenakannya. “Lo jauh lebih cantik dan pinter dibanding Alicia.”

Claretta menyeringai. Ia menyandarkan tubuhnya ke arah sofa sembari memandang layar televisi yang hitam sebab tidak dinyalakan. Claretta dapat melihat dirinya duduk bersebelahan dengan Rendika. “Lo tau dari mana kalo gua pinter?” tanya gadis cantik itu penasaran.

“Gua pernah sekelas sama lo tapi kayaknya lo sibuk ngebulol sama Noah,” jawab Rendika yakin. “Walaupun lo sibuk ngebucin gak jelas sama Noah tapi nilai lo yang paling tinggi di kelas kita. Dari situ gua tau kalo lo ternyata pinter. ”

Claretta menganggukkan kepalanya beberapa kali. Rendika benar mengenai fakta itu tentang dirinya. “You’re an observant, Rendika, aren’t you?” tanya gadis cantik itu setelahnya.

Rendika menyetujui pernyataan gadis cantik di depannya. “Ya, approximately.”

Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi antara sepasang remaja akhir yang sama-sama dikhianati pasangan satu sama lain itu. Rendika sibuk menata rapi makanan dan minuman yang dibelinya. Sedangkan, Claretta sibuk menggulirkan ibu jarinya pada layar ponselnya. Rendika mencoba mengintip apa kegiatan yang sedang dilakukan Claretta di sana. Dan ternyata…

“Lo ngapain re-read chat lo sama Noah sih?”

Sontak, Claretta langsung mengunci ponselnya. “Lo gak sopan, ya,” keluhnya.

“Makan dulu,” perintah Rendika.

Claretta tidak menyadari bahwa ketika ia sedang fokus pada ponselnya dan pesan-pesan singkat manis dari Noah, Rendika menyiapkan makan malam dan beberapa camilan untuknya. Sepasang manik selegam senjanya mengabsen satu per satu makanan yang tersedia di atas meja. Claretta kagum dan juga tersentuh. Noah bahkan tidak pernah melakukan hal-hal seromantis seperti ini kepadanya.

Claretta menolehkan pandangannya pada lelaki tampan yang duduk di sebelahnya. “Ini semua buat gua?” tanyanya.

“Iya. Gua gak tau lo sukanya apa. Jadi, gua bawain semua makanan yang sekiranya cewek bakal suka,” jelas Rendika diakhiri dengan senyum manis.

Tanpa sadar, gadis cantik itu menyimpulkan senyumnya untuk membalas senyum serupa malaikat yang ditampilkan oleh Rendika. “Makasih, ya, Rendika.”

Claretta tidak paham bagaimana Rendika dapat mengetahui bahwa tidak ada makanan lain selain air putih yang ditegaknya semenjak kemarin malam. Claretta juga tidak paham kenapa hatinya berdebar kencang padahal makanan yang dibawakan oleh Rendika kebanyakan adalah makanan kaki lima tetapi rasanya mengalahkan koki yang sehari-hari biasa memasak di rumahnya. Claretta yakin aksi yang Rendika lakukan-lah yang menjadi sumbernya.

Selagi menyantap makanan yang ada, gadis cantik itu tidak berhenti tersenyum. Berulang kali kata terima kasih terlontar dari mulutnya. “Makasih banyak, ya, Ren. Gua gak expect lo bakal bawa makanan sebanyak ini untuk gua.”

Rendika terkekeh. Ia tidak tahan melihat kegemasan yang Claretta lakukan. Lihat saja, sepasang pipi tirus itu menggembung dipenuhi oleh makanan. “Iya, Ta, sama-sama. Lo udah bilang ‘makasih’ seribu kali ke gua. Makan yang banyak, ya.” Kemudian, Rendika mengusap pelan pucuk kepala Claretta.

Setelah menghabiskan hampir setengah hidangan yang tersedia di hadapannya, akhirnya Claretta mengakhiri sesi makan malamnya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke atas kepala sofa yang empuk seraya mengusap perutnya yang terlihat sedikit membuncit. Dibanding Claretta, Rendika-lah yang lebih merasakan puas saat mengetahui makanan yang dibawanya tidak terbuang sia-sia.

“Makan lo banyak juga, ya, Ta,” ucap Rendika.

Claretta, yang tengah memejamkan maniknya seraya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit, menggeleng. “Gua gak biasanya makan sebanyak ini, Ren,” jawabnya.

“Bohong banget lo,” bantah lelaki tampan itu. “Gua berani bertaruh lo punya chef sendiri di rumah ini. Jadi, gak mungkin kalo setiap harinya lo gak bertambah nafsu makannya.”

Claretta kembali menggeleng. Namun, kali ini mencoba untuk mengembalikan fungsi indera penglihatannya. Ia menoleh ke arah Rendika. “Gua gak bohong, Ta,” katanya. “Dulu gua pernah stress eating karena dapet nilai di bawah kkm pas ujian tengah semester dan berat badan gua naik karena itu. Besoknya, pas gua ketemu sama Noah, dia bilang gini, ‘Kamu gendutan, ya, Ta? Aku lebih suka bentuk badan kamu yang kemaren loh.’,” jelas Claretta.

Rendika yang diceritakan kisah sedih seperti itu sudah tidak dapat lagi menahan amarahnya. Ia bertanya-tanya. Ke mana Noah yang selalu berkata manis? Ke mana Noah yang selalu bersikap baik dan ramah? Ke mana Noah yang selalu membantu siapa saja yang sedang membutuhkan? Jika seperti itu praduga yang Rendika spekulasikan, maka ia salah besar. Noah tidak berubah. Ia hanya baru menunjukkan wajah aslinya saja.

“Semenjak saat itu, gua selalu jaga makan gua atau kalo bisa gua gak makan. Karena gua pikir, apapun yang gua lakukan itu untuk Noah. Iya dong, ya? Kalo bukan untuk dia, untuk siapa?” tambah gadis cantik itu.

“Tapi tetep aja, Ta. Dia gak seharusnya ngomong kayak gitu ke lo. Itu namanya dia mencintai lo ada apanya bukan karena apa adanya. Maksud gua, lo kurangnya apa sih? Hampir gak ada. Noah aja yang gak bersyukur punya lo,” sanggah Rendika.

Claretta tertawa miris. “Gitu, ya, Ren?” Di sisi lain, hati Claretta menghangat. Entah mengapa kalimat yang Rendika ucapkan padanya terdengar sangat amat tulus di telinganya.

“Udah deh, Ta. Gua gak mau ngomongin Noah lagi. Semakin gua denger ceritanya semakin gua pengen datengin rumahnya terus tonjokin sampe pingsan,” ujar lelaki tampan itu menggebu-gebu.

“Calm down, Rendika. Kita gak tau ‘kan siapa tau gua yang emang pantas diperlakukan seperti itu.”

“Claretta!” Rendika menolehkan wajahnya untuk menatap lamat wajah cantik yang banyak menyembunyikan rasa sakit itu. Ia dapat melihat dengan jelas air mata yang terbendung di kedua mata indah gadis cantik itu. “Gak ada manusia yang pantas diperlakukan semena-mena oleh manusia lain, termasuk lo.”

“Ren,” panggil Claretta.

“We better arrange our vengeance to them,” tegas Rendika. “Gua gak tahan kalo salah satu dari kita harus ada yang tersakiti lagi,” sambungnya. “Terutama lo, Claretta.”

Claretta mengernyitkan keningnya. “Gimana caranya?”

“Di mana kamar lo?” tanya Rendika serius.

“Kamar?” balas gadis cantik itu dengan kembali bertanya. “Ngapain lo nanya kamar gua?!”

Rendika mengusap wajahnya kasar. “Tadi katanya lo mau balas dendam ‘kan? Ayo.”

Sedikit banyak, Claretta tahu ke mana arah perbincangan ini akan berakhir. Jika boleh jujur, ia sedikit keberatan. “Kalo cara harus kayak ‘gitu’ gua gak mau,” ujarnya.

Rendika tahu bahwa Claretta resah. Rendika juga tahu Claretta akan menolak mentah-mentah rencananya ini. Setidaknya, pada awalnya. “Kita gak harus kayak ‘gitu’, Ta. Kita buat seola-olah kita kayak ‘gitu’. Gimana? Kalo lo gak mau, gua gak akan maksa. I won’t force you. Kita bisa cari cara lain.”

Dalam waktu yang cukup lama, Claretta bergumul dengan pikirannya sendiri. Ia bertanya-tanya, apakah cara ini akan berhasil? Atau Noah akan benar-benar pergi meninggalkannya? Claretta tidak pernah berbuat lebih selain bergandengan tangan, merangkul bahu satu sama lain, atau mencium pipi kekasihnya. Oleh sebab itu, ia ragu. Haruskah gadis cantik itu melakukan hal ‘tersebut’ bersama laki-laki lain?

“I have nothing to lose,” sergah Claretta. “Toh, cuma pura-pura aja ‘kan?”

“Iya,” jawab Rendika. “We just have to pretend like we do ‘that’.”

Claretta menghela napas panjang. “Okay, then. Let’s go!”

“So…,” ucap lelaki tampan itu menggantung. “Where’s your room?”

Dengan begitu, Claretta menuntun Rendika untuk menuju kamar tidurnya di lantai atas. Di dalam sana, Rendika tidak henti-hentinya terkesima. Bagaimana tidak? Kamar luas dengan interior mewah, barang-barang yang ditata dengan sangat rapi, serta penerangan yang temaram. Rendika, yang memiliki jiwa perfeksionis tinggi, merasa sangat dipuaskan. Ia tersenyum karena Claretta mengingatkan pada dirinya.

Claretta terkekeh menyadari Rendika takjub dengan isi kamarnya. “Ren,” panggilnya.

Seketika, Rendika kembali pada kesadarannya. “Kamar lo rapi banget,” pujinya. “Gua suka.”

“Makasih. Gua selalu gak tahan kalo ngeliat kamar gua berantakan,” jelas gadis cantik itu.

“Sama berarti,” timpal Rendika.

“Keliatan sih,” ucap Claretta sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang. “Dari cara berpakaian lo, dari cara lo parkir mobil di depan halaman rumah gua, sama dari cara lo susun makanan di atas meja yang tadi gua. Semuanya memperlihatkan kalo lo orang yang disiplin, teratur, dan terencana. So, I can assume that you’ve been thinking ‘this scene’ all night long or—” Belum sempat Claretta menyelesaikan kalimatnya, Rendika melakukan hal di luar dugaan.

Rendika menerjang gadisnya di atas tempat tidur. Tubuh besar lelaki tampan itu menghimpit tubuh yang lebih kecil. “You mean ‘this scene’?”

Dua pasang netra itu saling melempar pandang. Claretta bersusah payah menelan salivanya. Dari jarak sedekat ini, Rendika terlihat seribu kali lebih menawan. Pemandangan yang gadis cantik itu dapat lihat secara langsung antara lain seperti rambut hitam yang dipotong rapi dan menyesuaikan rangka wajahnya, sepasang mata yang menunjukkan binar kepastian, hidung bangir yang terlihat indah, serta bibir tipis yang sangat menggiurkan.

Tak berbeda jauh dengan lawan mainnya, Rendika jatuh ke dalam tatapan Claretta. Kini, di bawah tubuhnya ada seorang gadis cantik yang baru saja merasakan sakit yang teramat dalam. Rendika penasaran, laki-laki bodoh mana yang tega menyakiti gadis secantik, sepandai, dan sekarismatik Claretta? Ah, itu sahabatnya sendiri, Noah. Rendika tahu bahwa Noah telah membuang sebongkah berlian demi jagung sebiji.

“Kita…,” kata Claretta memecah keheningan. “Kayak gini terus? Atau gimana?” tanyanya gugup.

Rendika berdehem. “Ya, kurang lebih kayak gini,” jawabnya seraya menegakkan tubuhnya untuk berpindah posisi.

Setelahnya, tanpa menghiraukan peristiwa canggung yang baru saja terjadi, Rendika dan Claretta mengatur posisi masing-masing. Sesuai rencana yang sebelumnya sudah didiskusikan, keduanya akan mengambil foto seolah-olah mereka tengah bermesraan satu sama lain untuk kemudian foto-foto tersebut diunggah ke sosial media yang hanya berisikan Noah dan Alicia. Mereka berharap, setidaknya, ini akan memberikan efek jera kepada para pengkhianat itu.

Percobaan pertama, Rendika dan Claretta berdiri menghadap satu lain. Claretta mengulas senyum terbaiknya selagi Rendika menangkup pipi chubby gadis cantik itu. Mereka terlihat sangat bahagia. Percobaan kedua, Claretta duduk di atas pangkuan Rendika di atas sofa yang ada di kamarnya sembari mengalungkan lengannya pada bahu lelaki tampan itu. Rendika menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher Claretta. Mereka terlihat sangat romantis.

Percobaan ketiga, yang terakhir, tidak jauh berbeda dengan ketidaksengajaan yang terjadi sebelumnya. Claretta merebahkan dirinya di atas ranjang dan Rendika berada di atasnya. Ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Claretta sehingga terlihat keduanya tengah berciuman. Pada pose inilah, semuanya berakhir, dari foto untuk rencana balas dendam sampai hubungan tidak sehat dengan pasangan masing-masing.

Setelah mengunggah foto di akun sosial media satu sama lain, Rendika menukar ponselnya dengan milik Claretta dan sebaliknya. Rendika membiarkan Claretta untuk menanggapi protes dan celotehan tidak jelas dari mantan kekasihnya, Alicia. Sedangkan, Claretta membiarkan Rendika menanggapi kata-kata manis yang penuh dengan dusta dari sahabatnya yang bermuka dua, Noah.

“Pacar lo cerewet banget, ya, Ren. Kok lo bisa tahan sih pacaran sama nenek lampir kayak gini?” ujar Claretta.

“Noah ada aja alasannya, yang inilah, yang itulah. Udah tau salah bukannya ngaku salah malah membela diri,” cecar Rendika.

Tidak ingin merasa pusing lebih lanjut, Rendika dan Claretta meletakkan ponsel masing-masing di nakas yang tersedia di samping tempat tidur. Selagi memandang langit-langit kamar yang tinggi dan dihiasi oleh chandelier berukuran besar, keduanya tertawa demi menyalurkan emosi negatif yang selama ini bersarang di hati. Sekarang, semua amarah serta kesedihan sudah sirna dan digantikan dengan ketenangan jiwa.

“Ren,” panggil Claretta pelan.

“Apa?” balas lelaki tampan itu.

“Makasih, ya,” kata Claretta seraya mendudukkan dirinya di atas ranjang. Ia tatap sepasang manik selegam malam terindah yang pernah ditemuinya, milik Rendika. Ia juga dapat melihat dengan jelas lengkungan manis yang terpatri di wajah tampan itu.

Rendika terkekeh. “Iya, Claretta, sama-sama.” Rendika bangkit dari posisi berbaringnya untuk menyamakan pandangannya dengan Claretta. Tangannya bergerak mengusap pucuk kepala lalu bergantian dengan sebelah pipi sang gadis. “Cepet sembuh, ya. Semoga abis ini lo ketemu sama cowok yang bisa menghargai dan menghormati diri lo apa adanya. Bukan karena usaha atau apapun yang lo punya tapi karena itu lo, Claretta Anamari.”

Di malam yang semakin larut itu, Claretta sadar bahwa ia telah jatuh ke dalam pesona yang ia sempat kira dibuat-buat oleh sang empunya. Namun, ternyata anggapannya salah. Rendika memang tulus kepadanya. Meskipun, lelaki tampan itu gemar berbuat dan berkata sesuka hatinya tetapi jauh di dalam hatinya ia adalah seseorang yang Claretta mungkin cari selama ini. Pada pertemuan pertamanya, Claretta dibuat luluh hatinya oleh Rendika.

Rendika juga sadar bahwa ia telah terperangkap dengan aura yang dipancarkan oleh lawan mainnya. Claretta mempunyai semua hal yang Rendika idam-idamkan, mulai dari wajah yang cantik, isi kepala yang mengagumkan, hingga kepribadian yang anggun. Rendika sangat bersyukur dapat bertemu dengan gadis cantik di hadapannya ini. Pada pertemuan pertamanya, Rendika dibuat terkesima oleh Claretta.

“Ta,” panggil Rendika.

“Kenapa, Ren?” balas Claretta.

Kedua netra lelaki tampan itu tidak dapat lepas dari pemandangan indah yang terlihat semakin menggoda di bawah sinar lampu yang redup. Tentunya, Claretta juga menyadari hal itu. Serupa dengan Rendika, gadis cantik itu juga tidak dapat mengalihkan tatapannya dari wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Atmosfer yang tadinya terasa menenangkan berubah menjadi menegangkan. Keduanya larut di dalam suasana yang mulai memanas.

“Kalo…,” kata Rendika terputus. “Kita lanjutin balas dendam ke Noah sama Alicia. Lo mau?”

Claretta bergeming seolah disirih oleh kalimat yang dilontarkan Rendika padanya. Beberapa adegan sudah terputar di kepalanya. Benarkah ia benar-benar menginginkan hal tersebut atau hanya sekadar gairah belaka? Claretta tahu apa yang ia inginkan. Ia menganggukkan kepalanya pelan. “Mau.”

Selanjutnya, yang terjadi adalah tangan besar itu bergerak menangkup dagu mungil di hadapannya. Rendika memangkas jarak yang memang sudah sangat dekat antara dirinya dan juga Claretta. Claretta memejamkan erat kedua netranya dan begitu pun dengan Rendika. Hanya berselang satu detik, dua belah ranum yang saling menginginkan itu akhirnya bertemu. Rendika dapat merasakan hangatnya bibir yang ia kehendaki itu.

Walaupun terlihat pelan namun sensasi yang ada terasa pasti. Rendika melumat bibir tebal itu lalu dibalas oleh sang gadis. Kemudian, Claretta mengalungkan lengannya pada bahu lebar lelaki tampan itu. Rendika seolah mendapatkan isyarat untuk bergerak maju. Oleh karena itu, dengan perlahan, Rendika bergerak menidurkan tubuh Claretta. Lagi, Rendika berada di atas Claretta dan mencoba untuk menguasainya.

“Ahh.” Lenguhan pertama berhasil lolos.

Cumbuan panas itu berpindah haluan. Rendika mengecup seluruh permukaan yang bisa ia jangkau. Dimulai dari leher jenjang sampai bagian dada yang sudah sedikit terekspos sebab Claretta mengenakan gaun tidur berbahan satin berwarna biru laut. Sepasang kaki jenjang yang dikekang oleh sang dominan itu sedari tadi tidak dapat berhenti bergerak menggesek stau sama lain.

“Nghhh,” lirih gadis cantik itu.

Kini, lelaki tampan itu sedang bermain dengan dua gunung sintal yang mulai sekarang akan menjadi favoritnya. Tangan besar itu memijat, meremas, dan sesekali memilin ujung puting payudara yang masih terlindungi oleh pakaian. Rendika menyeringai puas kala sepasang maniknya menangkap ekspresi wajah Claretta yang tengah menikmati permainan intim mereka. Claretta sangat amat cantik saat berada di bawah kendalinya.

“Enak, Ta?” tanya Rendika.

Claretta mengangguk cepat. “Nghh, ahhh, iya,” jawabnya.

“Lagi?” goda lelaki tampan itu.

“Yes, please.” Tidak terdengar keraguan dari permintaan yang Claretta titahkan pada Rendika.

Berikutnya, Rendika melepas semua pakaian yang dikenakan untuk kemudian melakukan hal yang sama kepada Claretta. Awalnya, gadis cantik itu sempat terhenyak. Pasalnya, ia tidak pernah seterbuka ini kepada orang lain bahkan saat bersama Noah. Namun, dengan cepat, Rendika menyampirkan selimut untuk menutupi tubuh mereka karena ia tahu Claretta masih merasa sedikit malu.

“Lo gak pernah bilang kalo lo ternyata secantik ini, Ta,” puji Rendika menenangkan gadisnya.

Sanjungan itu sukses membuat wajah cantik Claretta menyemburatkan rona merah. “Jangan gitu, Ren. Gua malu tau.”

Rendika tertawa pelan. Claretta terlihat menggemaskan dan menggoda di saat yang bersamaan. “Gua nyesel gak kenal lo lebih cepet, Ta.”

Bahkan, di sela-sela kegiatan panas seperti itu saja, Rendika masih bisa mencairkan suasana untuk meneduhkan hati Claretta. Mendengar ada kalimat yang membuat hatinya semakin jatuh dan jantungnya berdegup lebih kencang, Claretta tersenyum. Di dalam diamnya, ia menyetujui pernyataan yang lelaki tampan itu ucapkan. Seandainya, waktu dapat diputar kembali, Claretta ingin jatuh kepada Rendika alih-alih sahabatnya.

“Ta,” panggil Rendika pelan.

“Ya?” balas Claretta lembut.

“Is this your first time?” tanyanya.

Meskipun, Claretta ragu untuk berkata jujur. Akhirnya, ia mengangguk juga. “Iya.”

Simpul bak mentari pagi yang menghangatkan semesta kembali muncul di wajah tampan Rendika. “Thank you,” katanya. “Makasih udah percaya sama gua. Kalo lo sakit atau lo gak mau, lo bilang sama gua, ya, Ta.”

Claretta membalas senyum lelaki tampan itu dengan tak kalah manis. “Iya, Rendika.”

Setelahnya, Rendika kembali memimpin permainan. Perlahan, ia meneroboskan penisnya untuk masuk ke dalam vagina sang gadis. Saat kepemilikan mereka bertemu, Rendika dan Claretta menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit tempat tidur. Ini baru permulaan tetapi rasanya sudah membuat kepala pusing sebab rasa nikmat. Claretta menggigit bibir bagian bawahnya. Ada rasa nikmat dan perih yang bercampur jadi satu.

“Nghhh, ahh,” desah Claretta.

“Shh, ahhh,” lirih Rendika.

Keduanya bernapas lega kala kejantannya itu akhirnya dapat masuk dengan sempurna ke dalam organ intim gadisnya. Setelah dirasa sudah beradaptasi, Rendika mulai bergerak dengan tempo pelan. Ia sembunyikan wajahnya di perpotongan leher Claretta. Sedangkan, Claretta yang sedang dilingkupi terlalu banyak rasa nikmat hanya dapat memeluk tubuh besar di atasnya.

“Ahhh, Ren,” lenguh gadis cantik itu.

Merasa terpanggil, Rendika mengangkat pandangannya. Ditatapnya wajah yang tetap cantik itu walaupun keringat membasihnya. “Sakit, Ta?” tanyanya khawatir.

Claretta menggeleng. “Nghhh, enggak,” jawabnya.

Rendika mengangkat sebelah alisnya. “Faster?”

“Yes, please.”

Sesuai perintah, lelaki tampan itu bergerak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Sepasang lengan kurus yang sedari tadi mengalung kini meluruh. Claretta meremat kain yang melapisi ranjangnya. Nikmat yang ada semakin menguasainya dan begitu juga Rendika yang semakin mengendalikannya. Ia merasakan sesuatu membuncah pada kewanitaannya. Claretta sangat menyukai sensasi itu.

“Mphh, Ren, ahhh,” desah gadis cantik itu.

Rendika sangat dimanjakan sepasang indera pendengarannya. Pasalnya, selama sesi intim ini berlangsung, Claretta tidak berhenti meneriakan suara-suara indah yang mengandung namanya, di mana hal tersebut menjadi pasokan bahan bakar untuk terus menggempur gadisnya. Lihat saja, lelaki tampan itu bergerak semakin brutal. Decitan dari kaki ranjang bersamaan dengan suara pertemuan kulit yang lembap menjadi pengiring.

“Nghh, Ren,” panggil Claretta.

“Iya, Cantik?” balas Rendika dengan bias suaranya yang sedalam palung.

“Harder, please,” pintanya.

Sepertinya, Claretta akan menjemput pelepasannya sebentar lagi. Beruntungnya, Rendika merasakan hal yang sama. Rendika menambah kekuatan gempuran penisnya pada vagina sang gadis. Dan lagi-lagi, Claretta dibuat terbang ke angkasa. Sementara itu, Rendika sangat menikmati bagaimana lubang surgawi itu seolah menghisap dan memijat kejantanannya. Baik Rendika dan Claretta, dipuaskan satu sama lain.

“Ren, ahhh, i’m close, ahh,” ujar gadis cantik itu susah payah.

“Shhh, me too, Claretta,” kata Rendika.

Di malam yang hampir berganti hari, disaksikan oleh lampu yang bersinar tenang, suara khas kenikmatan yang menggelora di seluruh ruangan, serta rasa yang secara masif tumbuh di dalam hati, Rendika dan Claretta terhanyut dalam atmosfer yang mereka ciptakan sendiri. Di kesempatan ini, keduanya memutuskan untuk lebih mengenal satu sama lain melalui kegiatan intim yang sedang dilakukan.

Siapa yang akan menyangka? Bahwa balas dendam akan terasa senikmat ini. Rendika terus mempercepat dan memperkuat hantamannya. Sedangkan, Claretta semakin masuk ke alam bawah sadarnya. Tanpa diduga, keduanya mencapai titik ternikmatnya di waktu yang bersamaan. Namun, sebelum Rendika benar-benar menjemput pelepasannya, ia menarik penisnya keluar dari bawah sana.

“Ahh!”

“Akh!”

Cairan kental berwarna putih itu menyembur ke segala sudut di tempat kejadian perkara, terutama di atas perut rata Claretta. Rendika menjatuhkan dirinya di sebelah sang gadis. Rendika dan Claretta sama-sama diburu napas dan tubuh mereka dibanjiri keringat. Masih di balik selimut yang sama, keduanya termenung meratapi peristiwa yang baru saja terjadi. Tidak ada yang menyangka semuanya akan berakhir seperti itu.

Kemudian, Rendika membangkitkan setengah tubuhnya. Ditatapnya Claretta yang masih mencoba mengatur napasnya selagi sepasang manik selegam senjanya terpejam. “Ta,” panggilnya. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya.

“Iya, Ren?” Claretta mengembalikan fungsi indera penglihatannya dan yang ia temukan adalah wajah tampan Rendika tengah mengulas senyum padanya.

Rendika terkekeh. “Capek, ya?” tanyanya.

Claretta tertawa pelan. “Lumayan sih. Soalnya pertama kali,” jelas gadis cantik itu.

Kedua muda-mudi itu kembali larut dalam tatapan satu sama lain tanpa sadar hari telah berganti. Jam kuno berukuran besar terletak di ruang keluarga di kediaman sang gadis berdenting keras menandakan sudah lewat tengah malam. Rendika melirik jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirinya. Claretta menolehkan pandangannya pada jam kecil berbentuk kelinci di nakas sebelah ranjangnya.

“It’s June 1st,” ucap Claretta.

Tidak ada jawaban yang terdengar dari Rendika. Ia masih setia menatap jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 00.01 dini hari. Lalu, lelaki tampan itu berkata, “Claretta. I want to tell you something.”

Mendengarnya, Claretta memusatkan atensinya pada Rendika. “Bilang aja, Ren,” katanya.

“This is the end of May, right?” tanya lelaki tampan itu.

“Iya. And then?” balas Claretta

“You’re the best thing that happened to me in the end of May, Ta,” jelas Rendika. Sepasang manik selegam malamnya menatap lamat pasangan manik lainnya. “So…,” ucapnya terpotong. “May I be yours?”