ttoguxnanaxranie

“Kamu dulu suka main di sini, ya, By?” tanya Airin sembari menoleh ke arah lelaki manis yang duduk di sebelah kanannya.

Berbeda dengan Airin yang dapat duduk dengan tenang di atas salah satu bangku panjang berbahan kayu yang ada di taman tersebut, Alby sedari tadi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lahan berumput yang dihiasi berbagai macam bunga serta alat permainan ana-anak itu, simpulnya mengembang.

“Iya. Dulu aku sering ke sini,” jawab Alby. “Sama Hana,” lanjutnya.

“Oh, iya. Kenapa Hana gak kamu ajak ke sini juga?” tanya gadis cantik itu lagi.

“Udah,” balas Alby datar. Ia memalingkan kepalanya ke arah sang kekasih. “Tapi dia gak bisa. Hana lagi jalan bareng Abraham,” jelasnya.

“Widih! Kemajuan banget, ya, Hana di sekolah baru,” ujar Airin. “Kamu galau gak, By?” ledeknya.

Alby mengangkat sebelah alisnya. “Galau? Kenapa galau?” tanyanya penasaran.

“Sepupu kesayangan kamu udah gak main lagi sama kamu. Hana udah punya gebetan yang lebih ganteng, lebih banyak duitnya, lebih ada buat Hana,” ujar Airin sengaja memicu api cemburu di relung hati lelaki kesayangannya.

Sejenak, Alby bergumul dengan pikirannya sendiri. Apa yang barusan Airin katakan padanya tidak sepenuhnya salah, malah sebagian besar benar. Jika Alby boleh jujur, Hana jarang sekali berhubungan dengannya, baik via ponsel maupun secara langsung. Di siang menuju sore hari itu, Airin sukses membuat kekasihnya menambah beban pikirannya.

“Enggak,” enteng Alby. “‘Kan ada kamu,” guyonnya.

Mendengarnya, Airin terkekeh. Ia memukul pelan lengan kekar di sebelahnya. “Tuh ‘kan. Gombal lagi deh,” ucapnya.

“Aku serius. Emang kerasa banget sih gak ada Hana yang suka ngikutin, minta jajanin, dan semua tingkahnya yang bikin aku geleng-geleng kepala. Tapi, ya, buat apa aku sedih? ‘Kan ada kamu, Airin, pacar aku,” jelas lelaki manis itu seraya menjawil pangkal hidung bangir sang gadis.

“Jangan usil. Kita masih di tempat umum,” sergah Airin.

“Emang kalo di tempat umum, kenapa? ‘Kan kita gak ngapa-ngapain,” balas Alby.

“Kalo di tempat umum, aku gak bisa puas berantemnya sama kamu. Nanti kalo kita berantem di sini, dipisahin sama warga,” jelas Airin mengada-ada.

Mendapat respon demikian, Alby tertawa puas. “Tega banget mau berantemin pacarnya,” katanya.

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Tangan kiri Alby bergerak menggenggam tangan yang lebih kecil. Lalu, dikecup untuk kemudian diusapnya punggung tangan tersebut. Airin yang mendapat perlakuan manis dari kekasihnya tersebut hanya dapat tersenyum malu.

“Aku masih gak biasa diginiin sama kamu, By,” ujar Airin.

“Biasain dong. Nanti kalo kita udah nikah, masa kamu masih gak biasa diginiin sama aku?” balas Alby menggoda.

Lagi, tangan Airin yang terbebas melayangkan pukulan lain pada bahu lebar di sampingnya. “Ngomongnya udah jauh banget sampe ke nikah,” katanya.

Selepasnya, Alby melepaskan genggaman tangannya dengan Airin. Ia berdiri dari posisi duduknya. “Tunggu di sini aja, ya, Rin. Jangan ke mana-mana. Kalo kamu ilang, aku susah lagi nyari yang kayak kamu,” jelasnya kemudian berlalu pergi.

“Mau ke mana, By?” tanya Airin sedikit berteriak.

“Bentar aja,” jawab Alby juga sedikit berteriak sebab jaraknya yang semakin terpaut dengan sang kekasih.

Airin menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak tahu, sekiranya tingkah dan perlakuan aneh nan ajaib apalagi yang akan Alby perbuat setelah ini. Airin hanya dapat memandang tubuh setinggi tiang bendera itu berjongkok di balik semak-semak. Sepasang manik selegam senja itu menyipit kala ada sesosok anak kecil yang menghampiri Alby.

“Tetangganya Alby, ya?” gumam Airin.

Tak lama setelahnya, Alby bangkit dari posisi berjongkoknya. Sebelah tangan kekarnya menggandeng erat tangan yang sangat mungil itu. Kini, keduanya berlalu ke arah Airin. Sadar akan hal itu, Airin menegakkan tubuhnya di atas kursi. Selama perjalanan menuju kursi panjang berbahan kayu tersebut, Alby tak berhenti tersenyum kepada anak perempuan tersebut.

“Adek tunggu di sini aja, ya. Jangan ke mana-mana, nanti Mama susah nyarinya kalo Adek keliling-keliling terus,” ujar Alby lembut seraya mempersilakan anak kecil itu duduk di antara dirinya dan Airin.

“Tetangga kamu, By?” tanya Airin penasaran.

Alby menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. “Bukan,” jawab Alby singkat.

Mendengarnya, Airin menghela napas panjang. Jika ia tidak salah telisik, anak perempuan yang terlihat sangat menawan ini kemungkinan besar terpisah dari orang tuanya selagi bermain di taman ini. Mengingat, anak cantik ini bukanlah tetangga dari sang kekasih, mungkin ia sedang menunggu kedatangan sang ibu atau ayahnya.

“Adek Cantik,” panggil Airin sembari tersenyum. Ia merendahkan pandangannya agar dapat menatap langsung anak perempuan yang duduk di sebelah kanannya. “Kepisah sama Mama, ya?” tanyanya.

Mendengarnya, anak kecil tersebut hanya mengangguk beberapa kali. Airin dapat melihat dengan jelas bagaimana ketakutan yang terpancar dari binar manik mungil itu. Tidak ingin membuat atmosfer yang ada semakin mencekam, baik Airin maupun Alby, tidak menunjukkan ekspresi serupa dengan sang anak.

“Adek Cantik, tenang aja, ya. Kak Alby sama Kak Airin bakal temenin kamu sampe Mama nyamperin kamu. Gak apa-apa ‘kan main sebentar sama Kak Alby dan Kak Airin sebentar sampe Mama dateng?” ujar Airin dengan suara dan senyum selembut sutra.

Meskipun ragu, anak perempuan itu mengangguk pelan. “Iya, Kak,” katanya.

“Adek namanya siapa?” tanya Alby.

Ia diam sejenak. “Mahika,” jawabnya.

“Adek udah makan? Kak Alby punya permen rasa buah,” ujar Alby sembari mengeluarkan beberapa permen yang dijanjikannya dari saku celananya. “Mahika suka rasa apa?” tanyanya.

Mahika menatap lamat Alby yang menawarkannya makanan manis tersebut. “Mahika boleh minta permennya Kak Alby?” tanyanya ragu.

“Boleh dong! Kak Alby mau berbagi permen sama Mahika,” jawab lelaki manis itu. “Mahika mau yang mana, ambil aja,” katanya.

Sementara Alby sibuk menghibur kerasahan hati anak perempuan yang merasa cemas dan takut itu, di sisi lain, Airin memperhatikannya dengan saksama. Sedari tadi, senyum itu tidak pudar dari wajah cantiknya. Perlakuan lembut yang Alby tunjukkan kepada anak kecil itu membuat hatinya meluluh.

Bagaimana Alby selalu ada di sisinya, menepati janjinya untuk membahagiakannya, serta perilaku manis nan lembut yang ia tunjukkan kepada orang terdekatnya mampu membuat Airin jatuh dan jatuh lagi, bila perlu sedalam-dalamnya, kepada lelaki manis itu. Tuhan benar-benar mengirim malaikat dalam bentuk Alby untuk melindunginya dan juga orang-orang di sekitarnya.

“Mungkin…,” batin Airin bermonolog. “Kalo ‘dia’ bisa selamat, gua bakal ngeliat pemadangan indah ini setiap hari, ya?” ucapnya.

“Selamat ulang tahun, Cantiknya Chandra,” ucap Haksara lembut pada sang kekasih. Kedua tangannya terulur memegang kue ulang tahun dengan banyak hiasan di atasnya, seperti whipped cream dan stroberi kesukaan Ranindya.

Ranindya, yang diberi kejutan seperti itu tidak dapat menyembunyikan senyum manisnya. Sepasang manik selegam senjanya berbinar indah. Di dalam bagasi mobil van pada sore menjelang malam hari itu, ditemani dengan kicauan burung serta deburan ombak yang menari, gadis cantik itu merayakan ulang tahun ke sekian untuk pertama kalinya bersama sang kekasih.

“Makasih, ya, Chan,” balas Ranindya tak kalah lembut. Senyumnya masih belum pudar dari wajah cantiknya.

“Ayo, tiup lilinnya,” ujar lelaki manis itu.

Diberi perintah seperti itu, Ranindya mengatupkan kedua tangannya lalu memejamkan matanya erat. “Semoga di ulang tahun aku seterusnya, kita masih bareng-bareng,” ujar Ranindya untuk kemudian meniup satu per satu lilin kecil dengan berbagai warna yang ada di atas kue ulang tahunnya.

Sebelah tangan kekar Haksara bergerak merengkuh gadisnya agar masuk ke dalam dekapannya. Tangan itu mengusap pelan punggung sempit Ranindya. “Semoga sehat dan bahagia selalu, ya, Kesayangannya Chandra,” kata lelaki manis itu.

“Makasih banyak, ya, Chan. Makasih banyak.” Mulut Ranindya tidak berhenti mengucapkan kata terima kasih kepada sang kekasih. Pelukannya terasa kian erat pada tubuh kekar di sampingnya.

Jika boleh jujur, gadis cantik itu mungkin tidak bisa merasa lebih bahagia lagi dibanding hari ini. Menghabiskan hari ulang tahun bersama orang terkasih merupakan salah satu mimpinya, mengingat kedua orang tuanya yang jarang sekali pulang dari luar negeri serta dirinya hanya seorang anak tunggal membuat Ranindya sangat menghargai setiap momen yang dihabiskan bersama Haksara.

“Gimana, Cantik? Suka sama hadiahnya?” tanya Haksara sesaat setelah ia melonggarkan dekapannya.

Tidak dapat menjawab dengan kata-kata, Ranindya menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan semangat. “Suka banget!” ucapnya. “Kok kamu tau sih, Chan, kalo aku pengen banget trip di bagasi mobil van?” tanya gadis cantik itu penasaran.

Sebelum menjawab, Haksara tertawa pelan. Ia tidak sanggup menahan diri dari gemasnya gadis cantik kesayangannya yang sedang berulang tahun hari ini. Ia letakkan kue yang sedari tadi ada di genggamannya itu di sebelah kanannya. “Inget gak terakhir kali pas aku ke rumah kamu? Yang kamu lagi sakit. Eh, bukan sakit. Lagi pengen,” godanya sembari terkekeh. “Pas kamu lagi mandi, aku gak sengaja liat buku diary kamu di atas laci meja yang di sebelah kasur. Aku sedikit banyak baca keinginan dan harapan kamu di buku itu. Jujur, aku bacanya sedih banget, Ran. Kamu ngerasa banyak kesepian setelah orang tua kamu pergi kerja ke Jepang,” jelas lelaki tampan itu.

Mendengarnya, Ranindya menundukkan pandangannya. Ya, memang benar apa yang dikatakan kekasihnya itu. Entah mengapa, akhir-akhir ini, gadis cantik itu sering kali merasa sendiri padahal tidak jarang Haksara menginap di rumahnya. “Aku kangen sama Papi sama Mamin, Chan,” lirihnya.

Mendengarnya, Haksara dengan inisiatifnya kembali menarik kekasihnya untuk masuk ke dalam dekapannya. Sepasang tangan kekarnya bergerak mengusap pucuk kepala lalu punggung sempit itu secara bergantiannya. Di dalam dekapan hangat itu, Ranindya menghela napas panjang.

“Jangan pernah ngerasa sendiri, ya, Ran. Aku ada di sini buat kamu. Gak peduli kapan dan di mana, aku akan selalu ada kalo kamu butuh. Cantiknya Chandra gak boleh sering-sering sedih, ya,” ucap lelaki manis diakhiri dengan kecupan ringan di kening gadisnya.

Ranindya menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Jangan tinggalin aku, ya, Chan,” pintanya.

“Iya, Sayang. Aku gak akan ninggalin kamu,” kata Haksara.

Di hadapan pantai yang terbentang luas serta langit yang melukiskan mentari terbenam, sepasang kekasih itu, Ranindya dan Haksara, memutuskan untuk mencintai satu sama lain dengan tempo waktu yang tidak ditentukan. Selagi mereka masih bisa bernapas, mereka berjanji untuk ada di sisi satu sama lain. Tidak ingin atmosfer yang memilukan ini berlangsung lebih lama, lelaki tampan itu memutuskan untuk mengakhirinya.

“Liat nih aku bawa apa,” ucap lelaki manis itu setelah melepas pelukannya. Haksara mengambil sekantung plastik penuh berisikan berbagai jenis makanan untuk dibakar, mulai dari jagung sampai dengan marshmallow.

“Well-prepared banget, ya, kamu, Chan,” kata Ranindya.

Haksara hanya terkekeh mendengar gadis cantik kesayangannya mulai pulih dari sedihnya. Ia mencubit ujung hidung Ranindya. “Buat kamu, biar makannya banget. Tangan sama pipi kamu udah gak ada isinya lagi tuh,” ledeknya. “Kita makan dulu, abis itu baru istirahat di dalem mobil,” singkat lelaki manis itu.

“Mau nonton juga dong, Chan,” ucap Ranindya.

“Iya, Sayang. Nanti kita nonton juga,” balas Haksara.

Setelahnya, Ranindya dan Haksara sibuk menyiapkan perapian untuk membakar seluruh bahan makanan yang sudah dibeli. Hari semakin malam dan angin yang berhembus juga semakin dingin nan menusuk. Dari arah belakang, Haksara menyampirkan kain tebal pada tubuh gadisnya.

“Yang lagi ulang tahun gak boleh sakit,” katanya.

“Kamu juga gak boleh sakit, Chandra. Sini deketan,” bantah Ranindya. Kemudian, gadis cantik itu mengisyaratkan Haksara untuk mendekatkan diri padanya lalu menyelimuti tubuh besar kekasihnya itu.

“Nih,” ucap Haksara sembari menyuapi Ranindya sepotong marshmallow. Tak lama, lelaki manis itu terkekeh. “Makannya yang bener dong, Ran.”

“Ya, kamu juga nyuapinnya yang bener, Chandra,” sergah Ranindya.

Mulut gadis cantik itu dipenuhi dengan lelehan dari makanan yang mirip dengan awan itu. Ranindya berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan sisa makanan manis menyatu dengan bibirnya itu, namun usahanya sia-sia. Dengan sigap, Haksara membantunya.

“Gini loh, Cantik, bersihinnya,” sela Haksara.

Tanpa sengaja, dua pasing manik itu saling bertemu, menatap netra pasangannya dengan lamat. Ada semburat cinta yang terpancar dari sana. Ranindya mengulas senyum lebih dulu sebelum sang kekasih melakukan hal serupa. Mungkin, pada malam yang semakin larut itu, sepasang kekasih yang sedang dicandu asmara itu benar-benar merasakan nikmat Tuhan paling indah, yaitu jatuh cinta.

Di detik berikutnya, yang terjadi adalah Haksara menangkup dagu mungil gadisnya untuk kemudian memangkas jarak di antara mereka. Lalu, belahan bibir itu bertaut. Haksara mencium gadisnya dengan penuh perasaan. Tidak sampai di situ saja, tangan Ranindya bergerak mengusap rangka tegas di hadapannya. Ciuman itu kian memanas sehingga dapat mengalahkan dinginnya angin sepoi yang berhembus.

Sejenak, Haksara menghentikan kegiatannya bersama Ranindya. “Kita istirahat di dalem aja, yuk,” ajaknya.

“Ran.” panggil Haksara lembut.

“Iya, Chan,” balas Ranindya tak kalah lembut.

“Sini, deketan dong,” ucap lelaki manis itu.

Di dalam bagasi mobil van, pada hari menuju tengah malam saat itu, Ranindya dan Haksara mengistirahatkan diri mereka di balik selimut tebal yang melindungi tubuh masing-masing. Haksara menarik kekasihnya agar masuk ke dalam pelukannya. Melihat tingkah lucu kekasihnya itu, Ranindya hanya dapat terkekeh.

“Kamu kenapa sih, Chan? Kayaknya manja banget hari ini,” jelas Ranindya.

“Ya, gak kenapa-kenapa sih. Cuma pengen manja aja sama kamu,” jawab Haksara.

Setelahnya, lelaki manis itu kembali melanjutkan aksinya. Kali ini, ia mengusakkan wajahnya di antara sepasang gunung sintal kesukaannya. Selagi bermain di sana, Haksara menghirup dalam-dalam harum pada tubuh gadisnya, wangi bunga lily yang bercampur dengan aroma asli dari tubuh gadis cantik itu sukses membuat Haksara dimabuk kepayang.

“Ih, Chan! Geli tau,” protes Ranindya.

“Diem, Ran. Aku lagi fokus,” sergah Haksara. Kemudian, ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sedang terhenti.

“Geli, Chandra,” keluh gadis cantik lagi.

Akhirnya, dengan sedikit paksaan, Haksara menghentikan kegiatannya. Ia menatap lamat wajah cantik yang kini berada sedikit lebih tinggi darinya untuk kemudian tersenyum manis. Entah mengapa, hari ini Haksara sedang ingin bermanja-manja lebih intens dengan kekasihnya. Sedikit banyak, Ranindya peka akan hal itu.

“Kamu gak mau kasih aku hadiah lain, Chan?” tanya Ranindya menggoda.

Mendengarnya, Haksara mengernyitkan keningnya. “Hadiah? Kamu pengen yang lain lagi?” ucapnya sedikit terkejut.

Ranindya tertawa puas saat melihat lelaki kesayangannya itu kalang kabut. Padahal, bukan di hari ulang tahun pun, Ranindya sering kali mendapatkan hadiah itu dari Haksara. “Iya, aku pengen yang lain lagi,” jelasnya.

Sepasang manik selegam malam itu semakin membelalak. “Kamu pengen apa? Ayo kita cari mumpung tokonya masih buka,” ujar Haksara.

Haksara baru saja akan bangkit dari posisi berbaringnya bersama sang kekasih kala Ranindya menarik tubuh kekar itu untuk kembali mendarat di sampingnya. Selanjutnya, dengan sigap, gadis cantik itu melumat bibir Haksara. Sejenak, Haksara membeku di tempatnya. Kecupan gadisnya terasa sangat menggoda. Setelah sempat bergeming, Haksara mulai mengikuti permainan Ranindya.

“Mphhh,” lenguh Ranindya tertahan.

Ciuman yang terjadi di antara keduanya kian memanas. Sepertinya, mereka melanjutkan acara pertukaran saliva yang sempat tertunda tadi. Lihat saja, bagaimana tangan besar itu bergerak menjangkau bagian tubuh gadisnya yang dapat ia jamah. Tidak ingin kalah, Ranindya juga melakukan hal serupa.

Kemudian, Ranindya mengubah posisinya bersama Haksara. Jika tadi Haksara yang berada di atasnya, memimpin permainan, sekarang gadis cantik itulah yang duduk di atas Haksara. Permainan kembali berlanjut dengan cukup lama. Paling tidak, sampai keduanya merasa pasokan oksigen yang ada di paru-paru mereka mulai menipis.

“Ini apa maksudnya?” tanya Haksara sembari menaikkan sebelah alisnya.

Ranindya menumpukkan kedua lengannya di samping kanan dari kiri tubuh sang kekasih. Ia memangkas jaraknya dengan Haksara. “Gak ada maksud apa-apa,” bisiknya.

“Kamu jangan mancing, Ran. Aku bisa gila kalo kamu kayak gini terus,” jelas Haksara.

Mendengarnya, Ranindya menyeringai puas karena sebenarnya memang hal inilah yang ia inginkan. Haksara yang menjadi tidak waras selama bermain intim dengannya adalah hadiah yang diharapkan gadis cantik itu. Kali ini, satu dari dua tangan Ranindya bergerak mengusap seluruh tubuh kekar yang ada di bawahnya.

Bukan tanpa alasan tertentu, Ranindya sengaja melakukannya agra gairah sang kekasih semakin meningkat. Lihat saja, bagaimana tangan gadis itu menari di seluruh titik rangsang yang Haksara miliki, mulai dari tengkuk, leher, telinga bagian belakang, dan berakhir pada kejantannya.

“Nghh, ahh, Ran,” desah lelaki manis itu.

“Kasih aku hadiah dong, Chan,” ucap Ranindya menggoda. Tangannya masih aktif menggoda kepemilikan kekasihnya yang sudah mulai sesak di balik celana denim itu.

Tidak ingin bersabar lebih lama lagi, Haksara memutar balik keadaan. Dengan cepat, lelaki manis itu membalikkan posisinya dengan Ranindya. Akhirnya, lelaki manis itu kembali pada posisinya semula, di atas sang kekasih sembari mengungkungnya. Ranindya dapat melihat sorot dari sepasang manik selegam malam kesukaannya, Haksara sangat lapar akan tubuhnya.

“Kamu mau hadiah, Ran?” tanya Haksara menggoda.

Ranindya tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Ayo, kasih aku hadiah,” ucapnya tidak kalah menggoda.

Haksara menyeringai seram. “Jangan nyesel, ya,” bisiknya pada sebelah telinga gadisnya. “Bakal banyak kejutan,” lanjutnya.

Ranindya menelan ludahnya dengan susah payah kala bariton itu menyeruak ke dalam indera pendengarannya. Tentunya, Haksara tidak pernah ingkar dengan kata-kata. Mengingat ada kata ‘kejutan’ yang sempat disinggung lelaki manis kesayangannya itu, tiba-tiba saja aliran darahnya berdesir cepat.

Haksara memulai permainan yang seharusnya. Ia mengecup belahan ranum manis gadisnya dengan ganas. Haksara melengangkan lidahnya agar masuk ke dalam mulut Ranindya untuk mengabsen setiap deretan giginya. Malam itu, Haksara benar-benar dibakar api gairah yang bukan lain dipicu oleh Ranindya sendiri.

“Mphhh,” lenguh Ranindya saat merasakan ciuman itu semakin menuntut.

Tidak sampai di situ saja, sekarang tangan kekar itu bergerilya di daerah yang bisa ia jamah. Kini giliran lelaki manis itu untuk menghidupkan setiap titik rangsang yang ada di tubuh ramping gadisnya. Ternyata, umpan yang dilempar oleh Ranindya berhasil dilahap oleh Haksara. Alhasil, ia mendapatkan hadiah panas ini sebagai ganjarannya.

“Ahhh,” desah gadis cantik itu.

Haksara menjilat daun telinga kekasihnya dan hanya dengan gerakan sederhana seperti itu mampu membuat Ranindya dibakar api gairah. Perlahan, jilatan itu turun ke arah leher dan sedikit ruang pada dada kekasihnya yang terekspos. Selagi menikmati setiap inci kulit gadisnya, tangan Haksara bergerak membuka satu per satu kancing cardigan berwarna dusty pink yang Ranindya kenakan.

“Nghhh, Chan,” lirih Ranindya saat Haksara meremas sepasang buah dadanya yang masih dibalut dengan bra berwarna broken white.

“Enak, Ran?” goda Haksara.

Ranindya, yang ditanya seperti itu tidak lagi bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali seraya tangannya meremat kencang kain yang melapisi tempat tidurnya. Meskipun begitu, Ranindya tidak menyesal. Ia sangat menikmati semua kesenangan ini.

Berikutnya, Haksara melepaskan pengait bra yang melindungi payudara kekasihnya. Ia begitu terkesima dengan puting yang berwarna kecoklatan itu mencuat sempurna. Dengan ide gila yang terlintas di otaknya, lelaki manis itu kembali meraih kue ulang tahun milik kekasihnya untuk kemudian hiasan whipped cream yang ada di sana ia oleskan pada ujung puting payudara gadisnya.

“Ah, sial, Chandra!” umpat Ranindya.

“Kamu keliatan manis banget, Ran. Aku cobain, ya,” ucap Haksara sensual.

“Ahhh, Chan,” lirih gadis cantik itu saat Haksara menjilat kedua putingnya.

Ranindya, gadis cantik itu lagi-lagi dibawa terbang menembus langit hitam yang dipenuhi bintang saat Haksara melecehkan sepasang buah dadanya. Haksara, lelaki manis itu seolah bayi yang merindukan susu ibunya. la tidak berhenti menjilat, melumat, lalu sesekali menggigit gunung sintal kesukaannya.

Setelah selesai dengan dua buah benda lembut itu, Haksara ingin mencoba bagian lain dari tubuh kekasihnya. Lagi, ia melumuri perut rata gadi kesayangannya dengan krim kocok dari kue ulang tahun yang ia beli tadi sore di bakery terdekat. Haksara kembali menggoda Ranindya dengan mengusap perut bagian bawah sang gadis lalu menekannya pelan.

“Nghhh, Chan, ahh,” lenguh Ranindya. Sepasang manik selegam senjanya tertutup erat seraya kepalanya menengadah ke arah atas.

“Suka, Ran?” tanya Haksara.

Ranindya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia merasakan nikmat setara surga dunia. Haksara benar-benar berpegang teguh pada prinsip, yaitu untuk memuaskan pasangannya. Haksara memiliki kecenderungan untuk memberikan lawan mainnya kenikmatan yang tiada tara agar dirinya juga merasakan nikmat yang sama.

Dengan begitu, Haksara kembali bermain dengan Ranindya. Permukaan kulit seputih susu yang ditutupi lapisan whipped cream itu kini dipenuhi dengan tanda khas kenikmatan berwarna ungu kehitaman. Haksara meninggalkan jejak kekuasaannya di sana. Ia terus bersemangat sebab kekasih cantik yang terus mengelukan namanya.

“Ahhh, Chan, mphh, enakhhh,” racau Ranindya.

Saat namanya disandingkan dengan desahan ala kenikmatan, Haksara semakin dibuat menggila. Kini, tangannya bergerak melepas rok berbahan tartan berwarna serupa dengan cardigan yang sudah melayang entah ke mana. Haksara tersenyum lebar saat sepasang manik selegam malamnya menangkap celana dalam berwarna broken white itu dipenuhi bercak lembap dari cairan yang dihasilkan gadisnya.

“Udah basah, ya?” tanya Haksara seraya menaikkan sebelah alisnya lagi.

Lalu, Haksara membuka satu per satu kancing baju kemejanya setelah sebelumnya melepas vest yang melindunginya tubuh kekarnya. Namun, sebelum lelaki manis itu rampung dengan kegiatannya, Ranindya menginterupsi. “Aku aja yang buka, Chan. Boleh gak?” tanyanya lembut.

Tidak menjawab secara lisan, lelaki manis itu mendekatkan tubuhnya ke arah Ranindya. Ia menahan beban tubuhnya dengan kedua lengan kekarnya yang menumpu di sisi sebelah kanan dan kiri tubuh sang kekasih. Selama proses pelepasan pakaian milik lelaki tercintanya, Ranindya menatap manik dengan binar indah kesukaannya.

“Chandra ganteng banget hari ini,” puji Ranindya setelah selesai dengan aktivitasnya.

Mendengarnya, Haksara tersipu malu. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah, ke mana saja yang penting tidak melihat langsung netra indah gadisnya. Haksara tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Hanya dengan sanjungan singkat seperti itu mampu membuat jantungnya berdegup lima puluh kali lebih kencang.

“Lucu banget pacar aku,” ujar gadis cantik itu sembari mengusap rangka tegas yang ada di atasnya.

Kemudian, Ranindya mengalungkan sepasang lengannya pada bahu tegap di hadapannya. Ia memberi isyarat kepada kekasihnya agar melanjutkan lagi permainan intimnya. Dengan begitu, Haksara kembali mencium gadis cantik kesayangannya. Namun, kali ini sedikit berbeda sebab tangan kirinya bergerak aktif mengusap kewanitaan kekasihnya yang sudah lembap.

“Nghhh,” desah Ranindya tertahan kala jari-jari nakal itu sekarang menelusup masuk ke dalam miliknya.

Haksara, dengan gerakan tiba-tiba, melesatkan dua jarinya ke dalam kemaluan Ranindya. Di dalam sana, jari telunjuk dan jari tengah itu bergerak aktif, mulai dari menekan lubang vagina sampai memutari klitorisnya. Tubuh gadis cantik itu tidak bisa diam di tempat selama Haksara melecehkannya.

Haksara merasa keintiman kekasihnya semakin menghasilkan cairan pelumas. Oleh sebab itu, ia mempercepat tempo adukannya. Merasa pergerakannya sedikit terhambat, lelaki manis itu meluruhkan kain terakhir yang menempel pada tubuh gadisnya. Dengan begitu, Haksara kembali bermain dengan lubang surgawi favoritnya.

Ritme yang tidak beraturan, tusukan dan gerakan memutar yang memuaskan miliknya, serta ciuman yang terasa mengganas sukses membuat Ranindya akan menjemput pelepasannya sebentar. Sejenak, ia menyudahi ciumannya bersama Haksara. “Nghh, Chan, kayaknya aku, ahhh, pengen, mphh, keluar,” jelas Ranindya susah payah.

Mendengar gadisnya akan mencapai titik ternikmatnya dalam waktu dekat, Haksara menghentikan aktivitasnya. “Aku masukin, ya, Cantik?” tanya lelaki manis itu lembut.

Dengan senyum secerah mentari pagi, Ranindya menganggukkan kepalanya. “Iya, Chan,” jawabnya tak kalah lembut.

Di detik berikutnya, yang terjadi adalah lelaki tampan itu melepas celana denimnya untuk kemudian melakukan hal yang sama dengan celana dalamnya. Manik sepasang senja itu membulat sempurna saat apa yang menjadi milik kekasihnya itu menegang sempurna.

“Kalo sakit bilang, ya, Sayang,” kata Haksara sebelum mulai menggempur kekasihnya.

Perlahan, lelaki manis itu melengangkan penisnya untuk masuk ke dalam lubang kecil yang penuh kenikmatan itu. Ranindya menahan napasnya kala merasakan sesuatu yang besar akan menghantam dirinya. Haksara paham betul bahwa gadisnya selalu merasa gugup jika berkaitan dengan hal itu.

Ditangkupnya dagu mungil itu lalu ditatapnya netra dengan kilau bintang terindah di langit. Haksara tersenyum selembut mungkin sembari melanjutkan kegiatannya di bawah sana. Ranindya yang ditatap begitu seolah tersihir. Tidak ada lagi rasa ragu apalagi takut yang bersarang di hatinya.

“Kalo sakit bilang, ya, Ranie. Aku gak bakal lanjutin kalo kamu gak mau,” jelas Haksara tanpa memudarkan senyumnya.

Dengan cepat, Ranindya menggeleng. “Jangan, Chan, lanjutin aja,” ujarnya. “Tapi pelan-pelan, ya,” lanjut gadis cantik itu.

“Iya, Cantik. Aku pelan-pelan, ya,” balas Haksara.

Permainan yang hampir memasuki acara inti itu berlanjut. Tanpa terasa, penis terbesar yang pernah Ranindya lihat itu sudah masuk sempurna ke dalam vaginanya. Haksara menggerakannya dengan sangat pelan, namun kenikmatan yang terasa menggitu menggelegar.

“Ahhh.”

“Akhh.”

Lenguh keduanya bersamaan. Di dalam bagasi van, di mana hari sudah melewati tengah malam dan kini menuju awalnya pagi, sepasang kekasih itu berbagi nikmat dari tubuh masing-masing. Walaupun di luar sana, dingin terasa menusuk, tetapi tidak di dalam mobil berukuran cukup besar itu sebab permainan panas nan intim sedang berlangsung.

“Aku cepetin, boleh, Ran?” tanya Haksara untuk memastikan agar gadis cantik kesayangannya itu setuju dengan pendapatnya.

Ranindya hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak lagi bisa menjawab pertanyaan yang satu itu sebab rasa nikmat yang menguasainya. Perlahan, Haksara meningkatkan tempo gempurannya. Serupa dengan sang kekasih, Ranindya merasa permainan ini kian terasa menggila. Keduanya, Ranindya dan Haksa, sama-sama menengadahkan kepala mereka ke arah langit-langit.

Ranindya, gadis cantik itu ingin meminta lebih sehingga mengomando Haksara untuk mempercepat gerakannya. “Nghh, Chan, cepetih lagihhh,” pintanya.

Diberi perintah begitu, Haksara kembali menaikkan kecepatan hantamannya. Ranindya sangat suka bagaimana kepala penis kekasihnya menabrak dengan brutal titik manisnya. Lihat saja, bagaimana titik ternikmatnya yang sempat tertunda, kini kembali. Ranindya akan segera menjemput pelepasannya, lagi.

“Chan, ahhh, aku mau, ahh, keluarhh,” jelas Ranindya tertatih.

“Aku juga, Ran,” jawab lelaki manis itu singkat.

Alhasil, Haksara mengerahkan seluruh kekuatan yang ada dalam dirinya untuk menyerang kekasihnya. Keduanya tidak peduli dengan kemungkinan ada saksi mata yang melihat perbuatan kotor yang mereka lakukan di dalam mobil van ini, baik Ranindya maupun Haksara, terlalu sibuk untuk menikmati rasa yang ada dengan maksimal.

“Mphh, aku gak, nghh, kuat, Chan,” ucap Ranindya.

“Sebentar lagi, Ran,” ujar Haksara masih dengan kerja kerasnya.

Ranindya memejamkan maniknya erat kala merasa hal itu akan meledak di dalam dirinya sebentar lagi. Ia berharap Haksara akan datang bersamaan dengannya. Ranindya tidak kuat lagi menahan titik ternikmatnya. Ia menggigit bibir bagian bawahnya untuk menetralisirnya untuk kemudian memeluk tubuh kekar Haksara dengan erat. Sepersekian detik kemudian, Haksara mengeluarkan kepemilikannya dari bagian selatan gadisnya.

“Ahh!”

“Akh!”

Keduanya benar-benar menjemput pelepasannya secara berbarengan. Tubuh mungil yang telanjang itu dipenuhi dengan sperma hangat. Napas mereka saling memburu. Tubuh mereka juga dibanjiri keringat. Haksara tumbang di atas Ranindya. Tangan mungil itu bergerak mengusap pucuk yang ada di atas dadanya dengan lembut.

“Hadiahnya enak, Chan,” ucap Ranindya membuka percakapan.

Mendengarnya, Haksara tertawa dan diikuti oleh Ranindya. “Enak, ya?” tanyanya. “Lain kali, kalo mau kado begini, bilang, ya, Ran,” sambungnya.

Berikutnya, Haksara kembali bergerak. Lelaki manis itu berpindah posisi menjadi di samping sang gadis. Ia menyampirkan selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka yang polos. Haksara menarik Ranindya agar masuk ke dalam dekapannya, lagi. Tangannya bergerak mengelus pucuk lalu punggung sempit itu secara bergantian.

“Selamat ulang tahun, ya, Kesayangannya Chandra,” ujar Haksara yang lagi-lagi mengucapkan selamat ulang tahun kepada kekasihnya.

“Ini udah lewat tengah malem, Chan, ulang tahun aku udah selesai,” jelas Ranindya.

“Gak apa-apa. Aku mau tiap hari kamu ulang tahun. Biar kamu tiap hari minta kado kayak gini,” guyon lelaki manis itu.

“Ih, Chandra!” pekik Ranindya seraya memukul keras dada bidang di depannya.

“Aku bercanda, Ranie. Ya, tapi kalo gak bercanda juga gak apa-apa,” tambahnya lagi.

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Sepertinya, mereka terhanyut dengan atmosfer masing-masing. Tangan kekar lelaki manis itu masih bergerak mengusap bagian tubuh kekasihnya sementar gadis cantik itu tidak mau melepaskan pelukannya dari lelaki kesayangannya. Ya, paling tidak, sampai Ranindya kembali berucap.

“Makasih, ya, Chan,” kata gadis cantik itu. “Makasih udah bikin aku jadi perempuan paling bahagia di dunia ini,” lanjutnya.

“Iya, Sayang, sama-sama,” balas Haksara lembut. “Kamu anugerah terindah yang pernah aku terima dari Tuhan,” tambahnya.

“Janji kayak gini terus sama aku, ya, Chan?” ucap Ranindya meyakinkan sang kekasih.

“Iya, Cantik, kita kayak gini terus bareng-bareng, ya,” jawabnya. “Sayang kamu banyak-banyak, Ranindya,” final Haksara.

“Aduh! Ini kenapa berantakan banget sih?! Diberesin dong, Lan, alat-alat yang gak kepake,” keluh Arraufan.

Di hari Senin pagi sembari ditemani angin yang berhembus pelan serta kicauan burung yang merdu, terlihat empat orang lelaki tampan tengah sibuk menyiapkan sesuatu hal yang berkaitan dengan pelaksanaan upacara Senin pagi hari ini. Ah, apakah benar semua keperluan ini dimaksudkan untuk acara rutin setiap awal pekan tersebut? Sepertinya, tidak.

Yudha Arraufan, sang ketua organisasi sekolah, sedari satu jam yang lalu tidak patah semangat untuk mengoceh dan mengomeli teman-teman seangkatannya. Keempatnya, Alby, Alvino, Nalandra, dan juga Arraufan, bahkan sudah hadir di sekolah mereka tercinta sejak pukul enam pagi. Tentunya, hal itu dilakukan demi keberlangsungan agenda yang sudah direncanakan sebelumnya.

“Kok gua doang sih?! Suruh Vino sama Alby juga dong. Mereka ‘kan juga ikut ngeberantakin,” bantah Nalandra.

“Enggak. Lo doang yang dari tadi kerjaannya cuma ngacak-ngacak,” balas Arraufan seraya menunjuk-nunjuk salah satu anggota sekolahnya, Nalandra.

“Sialan,” umpat Nalandra. “Pantes lo jadi ketos, ya, Fan. Asli mulut lo kayak gak ada capeknya buat ngoceh,” sambung lelaki tampan penuh humor itu.

“Gak ada terima kasihnya banget, ya, gua liat-liat. Kalian udah gua back up biar gak ketauan sama guru konseling malah protes terus,” bantah sang ketua tak mau kalah.

Keempat lelaki tampan itu memiliki tugas yang berbeda-beda. Alvino, Nalandra, dan Arraufan berada di divisi menggambar dan desain hiasan untuk ditempelkan di atas kanvas berukuran sangat besar itu. Sementara itu, Alby dikhususkan untuk merangkai huruf demi huruf agar menjadi satu kesatuan kalimat.

“Nanti kita beresin kok, Fan, tenang aja,” ujar Alvino menengahi perdebatan di antara kedua temannya.

“Iya, Fan. Lo tenang aja. Bakal diberesin kok nanti,” tambah Alby sembari menatap Arraufan yang berkacak pinggang di hadapan Nalandra. “Sama Alan,” guraunya diiringi tertawaan.

Setelah Nalandra puas membangkitkan api amarah yang sudah tertanam di dalam diri Arraufan sejak lahir, lelaki tampan yang sering memenangkan medali olimpiade matematika dan sains itu mulai mereda sebab kehadiran Alby dan Alvino. Ya, walaupun tidak jarang Arraufan ingin sekali mendorong sahabat terdekat Alvino itu dari lantai empat.

“Udah jam segini. Gua tinggal gak apa-apa, ya? Soalnya gua mau briefing sama anak-anak sebelom upacara,” jelas Arraufan seraya melirik ke arah jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirinya.

“Iya, Fan. Kita ditinggal aja gak apa-apa,” jawab Alvino.

“Gak apa-apa, Fan. Sekali lagi makasih, ya, udah mau direpotin,” ujar Alby.

Setelah meminta izin, lelaki tampan itu langsung meninggalkan tempat kejadian perkara. “Good luck, Alby! Semoga lo diterima!” ujar Arraufan sedikit berteriak sembari berlarian kecil menuruni tangga.

Berkat kerjasama serta koordinasi yang baik dan kompak yang terjalin di antara keempat lelaki itu, mahakarya yang ditunggu-tunggu akhirnya selesai juga. Alvino dan Nalandra menggenggam tiap ujung lembaran kanvas raksasa tersebut untuk kemudian membentangkannya. Di permukaan kain itu terlihat jelas pernyataan yang mengandung pengakuan cinta.

Ya, Alby akan menyatakan cintanya kepada Airin hari ini. Di hadapan seluruh siswa, guru, dan semua staff sekolah menengah atas tersebut selagi upacara di Senin pagi sedang berlangsung, lelaki manis tersebut sudah membulatkan tekadnya untuk menjadikan gadis cantik dambaannya itu menjadi kekasihnya.

Nalandra menghimpit ujung kain kanvas tersebut seraya bertepuk tangan. “Woah!” teriaknya. “Gua beneran gak kepikiran lo bakal nembak Airin pake ginian, By,” ujarnya.

“Lo kepikiran ide kayak gini dari mana, By?” tanya Alvino penasaran.

Sejenak, Alby bergumul dengan pikirannya. Ia mengetuk-ngetuk pelan dagunya yang lancip lalu perlahan simpul manisnya muncul. “Airin itu selalu sembunyi,” kata Alby. “Gua gak mau ngeliat Airin sembunyi lagi, baik dari orang lain maupun dari dirinya sendiri. Ya, mungkin kedengeran agak klise sih tapi Airin emang udah narik perhatian gua dari awal kita ketemu sampe pada akhirnya gua penasaran sama semua kegiatannya. Gua mau orang-orang kenal Airin sebagai pribadinya yang sebenar-benarnya,” lanjutnya.

“Gak klise sih, By, yang namanya cinta pasti gak mandang kapan dan di mana,” jelas lelaki tampan dengan senyuman mata yang menawan itu.

“Vino bener sih,” tambah Nalandra. Ia mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.

Kemudian, Alby memandang Alvino dan Nalandra bergantian. Pada sepasang manik selegam malam itu tersirat binar yang penuh makna. “Kalian emangnya gak keberatan bantuin gua? Ya, secara ‘kan kalian temen deketnya Farelio dan sekarang gua mau nembak Airin. Kalian gak apa-apa?” tanya Alby serius. Ia mengusap tengkuknya dengan canggung.

“Untuk apa kita keberatan? Farel juga udah mengiyakan keputusan Airin dengan ikhlas. Jadi, gak ada lagi yang Farel sesalkan. Lagian, kalo urusan Farel sama Airin belom selesai, gua sama Alan gak akan ada di sini bantuin lo buat billboard ini untuk Airin,” jelas Alvino.

Mendengarnya, Nalandra kembali menganggukkan kepalanya menyetujui pernyataan yang sahabatnya itu lontarkan. “Bener yang dibilang Vino,” ucapnya.

“Lo bener-bener doang, Lan,” protes Alvino. “Bener kata Raufan kalo lo kerjaannya cuma ngacak-ngacak,” ledeknya.

“Jaga mulut lo, Alvino! Gua yang ujan-ujanan sama Carla kayak orang India buat beliin semua bahan-bahan ini, ya!” pekik Nalandra seraya jari telunjuknya satu per satu mengarah kepada semua kebutuhan yang tergeletak di atas lantai lorong kelas lantai empat.

Melihatnya, Alby hanya dapat tertawa puas. Persahabatan yang terjalin di antara kedua lelaki tampan itu, dan Farelio juga tentunya, dapat dibilang merupakan idaman banyak orang. Bagaimana mereka selalu mendukung satu sama lain serta tidak lupa untuk menegur salah satu dari mereka jika ada yang melakukan kesalahan. Semua itu terjadi sebab ketiganya memiliki rasa yang sama.

Selagi sepasang sahabat itu masih saling adu mulut, Alby membereskan lalu membersihkan semua bahan yang tercecer di sekitar mereka. Pagi ini, jantungnya berdegup jauh lebih kencang serta perutnya dipenuhi oleh kupu-kupu. Ia hampir tidak percaya bahwa hari ini akan datang juga.

“Perhatian! Diberitahukan kepada seluruh siswa dan siswi, guru, serta seluruh staff untuk segera menuju ke lapangan upacara karena sebentar lagi upacara akan segera dimulai. Sekali lagi… Perhatian! Diberitahukan kepada seluruh siswa dan siswi, guru, serta seluruh staff untuk segera menuju ke lapangan upacara karena sebentar lagi upacara akan segera dimulai.”

Terdengar sebuah imbauan yang ditujukan kepada seluruh penghuni sekolah agar menyegerakan diri untuk memenuhi lapangan sekolah sebab sebentar lagi upacara akan dimulai. Dengan begitu, banyak warga sekolah yang berlarian ke arah lapangan rumput terbuka tersebut. Terlihat Arraufan yang melambaikan tangan ke arah Alby, Alvino, serta Nalandra di lantai empat dari dekat podium di lapangan.

“Kalian ke lapangan aja. Upacaranya udah mau mulai tuh,” ujar Alby seraya melipat lembaran kanvas yang lebar itu dengan telaten agar mudah untuk membentangkannya nanti.

“Lo beneran gak apa-apa di sini sendiri, By?” tanya Alvino khawatir. Ia ikut membantu Alby untuk melipat kain besar itu.

“Gak apa-apa, Vin,” jawab Alby. “Lo sama Alan ikut upacara aja,” katanya.

“Kalo ada guru konseling yang iseng ngecek ke setiap kelas gimana?” tanya Nalandra.

“Gak apa-apa, ‘kan ada Raufan. Kalian turun aja biar Airin gak terlalu curiga juga,” jelas Alby.

“Yaudah, kalo gitu gua sama Alan turun, ya, By,” ucap Alvino sembari melayangkan tos yang diikuti oleh Nalandra.

“Good luck, Alby!” ucap Nalandra.

“Thanks, ya,” balas Alby diiringi dengan senyuman.

Perlahan, sepasang punggung lebar itu mulai menghilang dari pandangannya. Selepas kepergian Alvino dan Nalandra, Alby menghirup kemudian menghela napas panjang. Ia mencoba untuk mengatur napasnya sebab apa yang akan ia lakukan sebentar lagi merupakan salah satu peristiwa yang mungkin akan menjadi salah satu sejarah terindah yang pernah tertulis di buku kehidupannya.

“Lo bisa, Alby,” gumam lelaki manis itu menyemangati dirinya sendiri. “Lo ngelakuin ini demi lo dan Airin,” lanjutnya seraya mengepalkan tangannya.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Alby tidak mengikuti upacara pagi di hari Senin. Tak lama setelahnya, upacara pun dimulai. Semua peserta upacara mengikutinya dengan khidmat, mulai dari penghormatan kepada pemimpin upacara sampai pengibaran bendera merah putih. Dan tibalah momen yang ditunggu-tunggu, amanat dari pemimpin upacara.

“Ya, Anak-anakku sekalian. Pekan lalu sudah Bapak sampaikan bahwa Ujian Akhir Semester akan dilangsungkan dalam dua minggu ke depan,” ujar Pak Ginandjar, sang Kepala Sekolah.

Bersamaan dengan kalimat yang dilontarkan tersebut, seluruh siswa dan siswi yang menghadiri upacara tersebut bersorak kecewa. Entah mengapa waktu seolah mempermainkan mereka, terutama bagi siswa dan siswi tingkat akhir. Padahal nilai dari hasil Ujian Tengah Semester baru saja keluar.

“Bapak tau ini berat buat kalian. Bapak memohon maaf kepada kalian semua di sekolah kita tercinta ini gak ada Dilan, jadi kalian terpaksa menanggung ujian yang berat ini,” guyon Pak Galih.

Sebagian besar para siswa dan guru tertawa terbahak-bahak menanggapi lelucon yang dilontarkan oleh kepala sekolah mereka dan sebagiannya lagi ada yang menganga sebab lelucon tersebut merupakan ciri khas yang memang dimiliki oleh kebanyakan bapak-bapak di dunia.

“Sebelum Bapak tutup pidato pada pagi hari yang cerah ini, ada beberapa hal yang akan Bapak tekankan kepada anak-anak sekalian. Pertama—” Bahkan belum sempat Pak Ginandjar menyampaikan amanat pertamanya sebelum mengakhiri sesi pidatonya, sesuatu menginterupsi sehingga menyita atensi seluruh warga sekolah.

SRAKKK!

Selembar kain kanvas raksasa tiba-tiba saja muncul di tembok perbatasan lorong kelas di lantai empat. Seluruh kepala yang berada di lapangan saat itu langsung menolehkan pandangan mereka ke arah atas. Banyak dari mereka yang berteriak, khususnya para gadis, dan tidak sedikit juga dari mereka yang bersorak gembira. Intinya, aksi Alby di hari Senin pagi itu didukung sebagian besar dari penghuni sekolah.

“WOY! SWEET BANGET. TOLONG!”

“AIRIN YANG DITEMBAK TAPI GUA YANG JANTUNGNYA MELOROT!”

“MAS CRUSH, APA GAK MAU GINI JUGA KE SAYA?!”

Setidaknya, itulah beberapa kalimat yang terlontar dari beberapa dari banyaknya siswa sekolah menengah tersebut. Pernyataan cinta yang diungkapkan oleh Alby sukses membuat suasana pagi itu menjadi ricuh. Berbeda dengan para siswa, guru-guru yang hadir di sana hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Ibu Karmila, selaku Guru Bimbingan Konseling yang sangat memegang teguh profesinya, baru saja akan berlari ke lantai empat saat Arraufan menghentikannya.

“Bu Mila, biar Raufan aja, Bu, yang turun tangan,” ujar lelaki tampan itu.

Di sisi lain, Alvino dan Nalandra melayangkan tos satu sama lain. Keduanya sekarang dapat menghela napas lega sebab rencana besar itu berjalan dengan lancar. Dari kejauhan, sepasang sahabat itu dapat melihat dengan jelas bagaimana Airin bergeming di tempatnya. Pastinya, gadis cantik itu terkejut bukan main.

Di berikutnya, Airin memalingkan pandangannya ke arah Alvino dan Nalandra yang terpaut beberapa barisan darinya. Ia bertanya tanpa bersuara. Alvino mengangkat kedua bahunya sedangkan Nalandra menyuruhnya untuk segera menjawab pertanyaan yang Alby lontarkan padanya melalui kain kanvas besar itu.

“TERIMA! TERIMA! TERIMA!”

Meskipun banyak suara yang mendukung dirinya untuk mengiyakan ajakan berpacaran itu, Airin masih ragu. Bukannya tidak suka, melainkan tindakan lelaki manis penuh humor itu akan menuai banyak protes dari banyak pihak, khususnya para guru. Namun, walaupun begitu, Airin tidak dapat berhenti tersenyum. Setelah sekian lama, ia kembali merasakan bahagia yang amat sangat.

“AIRIN!” teriak Alby dari atas sana.

Mendengarnya, Airin menoleh ke sumber suara. Sepasang manik selegam senjanya menatap langsung ke arah netra lelaki manis yang dalam beberapa waktu terakhir ini selalu mengisi hari-harinya serta menemaninya melewati manis dan pahitnya kehidupan meskipun dari jarak yang cukup terpaut.

“AYO JADI PACAR GUA!” Alby tidak bertanya, melainkan mengajak Airin untuk menjadi pacarnya.

“Dimohon untuk tenang kepada semua siswa dan siswi, terutama para siswi. Bapak tau ini gak sehat dan gak ramah untuk jantung kalian, tapi tolong jangan ribut. Itu Airin belum jawab ajakannya,” ujar Pak Ginandjar. “Bagi yang merasa namanya Airin…,” sang kepala sekolah menggantungkan kalimatnya. “Terima aja, Nak, biar kita cepet selesai upacaranya. Bapak udah kepanasan banget ini.”

Airin tersenyum mendengar Pak Ginandjar berkata demikian kepadanya. Ditambah, dengan suara sorakan yang semakin menggema. Dua pasang manik yang memancarkan rasa sayang dan cinta itu kembali mengadu pandang. Alby juga ikut tersenyum kala wajah cantik itu terlihat sangat berseri hari ini.

Para siswa dan siswa yang berdiri di sekitarnya memusatkan atensi kepada Airin seolah mereka menunggu persetujuan dari pertanyaan yang Alby utarakan padanya. Dalam waktu yang cukup lama, gadis cantik itu berpikir keras sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Kemudian, dalam diamnya, Airin mengangguk pelan.

“DITERIMA WOY DITERIMA!”

“COUPLE OF THE YEAR!”

“KALO PROM WAJIB JADI KING SAMA QUEEN!”

Teriakan yang pro akan peristiwa yang terjadi hari ini semakin menjadi-jadi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kericuhan manis seperti ini terjadi di lingkungan sekolah menengah atas tersebut.

Dan begitulah, hari pertama bagi Airin dan Alby dalam menjalani hari sebagai sepasang kekasih. Setelah mengalami naik dan turun, manis dan pahit, serta bahagia dan sedih yang semesta berikan pada mereka, akhirnya keduanya memutuskan untuk bersama.

Alby mengedarkan pandangannya setelah sampai di dalam ruangan yang sejak dahulu ia ketahui menjadi tempat pelarian ternyaman bagi Hana kala sepupunya itu merasa sedih atau sendiri. Ia tersenyum tipis saat indera penglihatannya menangkap sesosok gadis mungil tengah menelungkupkan wajahnya ke arah meja kayu yang ditempatinya.

“Han,” panggil Alby pelan.

Mendengar ada bias suara sedalam palung yang menyeruak ke dalam telinganya, Hana menolehkan pandangannya. Alby memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah kanan Hana. Sejenak, dua pasang manik itu memandang satu sama lain dengan tatapan yang bahkan keduanya tidak dapat artikan.

“Lo gak ke kantin?” tanya Hana basa-basi.

“Lo kenapa gak ke kantin?” jawab Alby dengan kembali bertanya.

Hana menghela napas panjang. Meskipun raut wajahnya mengekspresikan kekesalan, namun di dasar hatinya ia merasa lega. Setelah beberapa hari belakang ini merasakan keresahan yang hebat, kini semuanya sirna kala lelaki manis kesayangannya ini menampakkan diri tepat di hadapannya.

“Lo sendiri di sini?” tanya Alby.

Hana menganggukkan kepalanya beberapa kali. Entah mengapa, sekarang rasa guguplah yang menyelimuti dirinya. Ia mengulum lalu sesekali menggigit bibir bagian bawahnya. Hana mengerti betul akan ke mana arah perbincangannya ini. Berbeda dengan sang gadis, Alby justru terlihat sangat tenang.

“Airin udah sehat, Han,” ujar Alby. “Airin juga udah mulai sekolah,” lanjutnya.

“Iya, gua tau. ‘Kan gua sekelas sama Airin, By,” sergah Hana.

Mendengarnya, Alby terkekeh. Ia tahu, pasti di lubuk sanubarinya yang terdalam, Hana masih mempedulikan sahabatnya yang satu itu. “Airin sering nanyain lo pas lagi dirawat di rumah sakit,” jelasnya.

“Lo bilang apa ke Airin?” tanya Hana penasaran. Sepasang maniknya menatap Alby intens.

“Ya, gua jawab aja kalo lo lagi sibuk bantuin Mama di resto,” sanggah Alby.

“Lo tau gimana perasaan gua yang sebenarnya ke Airin ‘kan, By?” tanya gadis mungil itu memastikan.

Alby menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang sepupu. “Iya, tau kok,” entengnya. “Sebenernya lo sesayang itu sama Airin, Cil,” sambungnya.

Pada akhirnya, Alby kembali memanggil Hana dengan panggilan sayang yang biasa ia ucapkan, ‘Acil’. Ia hanya tidak ingin memperburuk atmosfer yang terjadi di antara keduanya. Ada kata tak asing yang terdengar oleh telinganya, hati Hana mulai menghangat. Di dalam hatinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri.

“Lo ngomong apaan sih, By,” elak Hana.

Di detik berikutnya, Alby mencengkram sebelah bahu Hana. “Dengerin gua, ya, Cil. Gua gak akan ngebahas kalimat lo tempo hari yang bikin gua sampe gak bisa tidur semaleman karena semakin dipikir semakin gak masuk akal. Itu perasaan lo dan gua gak berhak untuk ngaturnya tapi yang gua bakal gua tegaskan di sini adalah kita itu sepupu, Cil. Gua gak tau sebenernya rasa yang lo rasain itu diliat dari sudut pandang siapa,” jelas lelaki manis itu.

Hana yang mendengar kalimat itu keluar dari mulut sepupunya, hanya dapat menundukkan pandangannya. Sepasang manik indahnya menatap sepatu putih pada kakinya yang menyentuh lantai ruang perpustakaan. Terdapat sebersit penyesalan di dalam hatinya. Mengapa mereka terlahir sebagai sepasang sepupu dan bukannya sepasang kekasih?

“Hana Vilory. Lo itu orang paling baik yang gua kenal. Gua punya kepribadian sekuat dan seberani sekarang itu karena lo,” ujar Alby. “Inget gak lo rela berantem di atas lumpur pas lagi hujan cuma untuk ngebelain gua yang waktu itu tasnya dirusakin sama temen sekelas? Padahal lo paling gak suka kalo baju sama sepatu lo basah dan kotor,” sambungnya.

Mendengarnya, simpul senyum itu mengembang. Seketika banyak kenangan indah nan lucu yang terputar di dalam otaknya. Bagaimana sepasang sepupu yang serupa perangko dan amplop itu selalu menjalani hari-harinya bersama. Tanpa terasa, genangan yang sedari tadi tertahan itu perlahan mengalir deras.

“Ya, lagian lo digangguin malah diem aja,” sela Hana sembari mengusap jejak air mata pada sepasang pipi chubby-nya. Ia mengangkat pandangannya agar dapat menatap wajah manis sepupunya dengan jelas.

Melihatnya, Alby tersenyum manis. Sepasang manik minimalisnya semakin menyipit saat menangkap sebuah simpul yang sudah lama tidak ia lihat keberadaannya. Menurutnya, sepupunya ini paling cantik ketika sedang tersenyum. “Mereka badannya gede-gede banget, Cil,” ucap lelaki manis itu.

“Harusnya lo tetep lawan mereka, By. Itu ‘kan tas kesukaan lo yang dibeliin sama Bunda,” jelas Hana.

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Entah sebab satu atau dua hal lainnya, baik Alby maupun Hana, seolah-olah mengenang masa lalu mereka secara diam. Lihat saja, bagaimana sepasang sepupu itu terlihat terkekeh sesekali saat adegan menggemaskan terputar pada ingatan mereka.

Kemudian, Alby menatap lamat wajah mungil Hana. “Kemaren pas di rumah sakit, Airin banyak cerita tentang lo, Cil,” kata Alby membuka suara.

Tidak ada jawaban yang terdengar dari Hana. Namun, Alby berani bertaruh bahwa sepasang manik itu memancarkan binar khas rasa penasaran. Entah mengapa Hana bersikap seolah-olah ia adalah orang yang jahat. Bagi Alby dan Airin, Hana adalah gadis mungil yang manis dan cantik yang memiliki sifat layaknya malaikat.

“Katanya Airin, dulu dia gak punya temen pas ospek di sekolah ini,” jelas Alby. “Tapi tiba-tiba aja ada cewek cantik yang rambutnya dikuncir dua nyamperin dia terus banyak nanya ke dia. Lo emang dari dulu cerewet, ya, Cil,” ledeknya.

“Ih, Alby!” protes Hana. Sebelah tangannya terangkat untuk melayangkan pukulan keras pada lengan lelaki manis itu.

“Gua lanjutin, ya,” ucap Alby. “Airin bukan tipe orang yang suka ngobrol sama orang lain tapi entah kenapa ngobrol sama cewek cantik yang cerewet ini dia ngerasa nyaman banget. Walaupun beberapa kali Airin ngerasa kewalahan karena temennya ini gak berhenti nanya tapi Airin bersyukur. Seenggaknya, ada orang yang peduli sama dia. Airin gak pernah ngerasa seseneng dan sebersyukur itu sampe punya temen kayak lo, Hana,” sambungnya.

Di akhir ceritanya, Alby tersenyum lebar. Berbeda dengan sang sepupu, Hana, gadis mungil itu sibuk menyeka air matanya yang membanjiri wajahnya. Alby tahu Hana tidak merasa sedih, melainkan terharu. Hana ingat betul bagaimana dirinya dan Airin selalu membeli jajanan yang sama di kantin selama jam istirahat pada tingkat pertama.

Mengingatnya, simpul senyum Hana merekah. Ternyata, Alby benar. Hana memang menyayangi sahabatnya yang satu itu. Ada seberkas rasa penyesalan yang menusuk ke dalam hatinya perihal peristiwa yang beberapa waktu lalu sempat menimpa Airin. Hana juga ingat bagaimana nafsu makannya hilang total setelah mengetahui teman sebangkunya itu dilarikan ke rumah sakit.

“Gua terlalu menyangkal, ya, By,” lirih Hana seraya sepasang maniknya yang berkaca-kaca itu menatap Alby. “Gua udah jahat banget sama Airin, By,” lanjutnya.

Tidak ada respon yang terdengar. Alby hanya tersenyum tipis. Selanjutnya, yang terjadi adalah Alby merengkuh sepupunya itu agar masuk ke dalam dekapannya. Hana, secara sadar atau tidak, juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi antara dirinya dan Airin. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang sepupu.

“Hubungan persahabat lo sama Airin terlalu berharga untuk diakhiri, Cil,” ujar Alby.

Airin tersenyum saat sepasang manik selegam senjanya menangkap sesosok lelaki manis bertubuh tinggi tengah duduk memandangi lantai rumah sakit yang dingin sembari bermain dengan jari-jari tangannya. Ia tidak tahu apa yang Alby sedang lakukan, namun itu mampu membuat gadis cantik itu kepalang bahagia.

“Hai, By,” sapa Airin ramah sesaat setelah kursi rodanya sampai di hadapan Alby.

Alby mengangkat pandangannya. “Eh, Rin? Dari mana?” tanyanya disertai dengan senyuman. Namun, simpul itu tidak bertahan lama kala maniknya menemukan Farelio di sana. Alby segera membuang pandangannya.

“Udah lama di sini, By?” tanya Airin.

“Udah dari hari pertama, gua gak pernah ke mana-mana,” sindir Alby seraya menatap sinis musuh sejatinya itu.

Melihatnya, Farelio menatap ke segala arah asalkan tidak memandang langsung ke wajah Alby. Ia sedang mencoba berdamai dengan keadaan, alias bersama Alby yang menjadi pilihan gadisnya, dengan tidak memulai pertengkaran di tengah-tengah gedung rumah sakit, apalagi di depan Airin.

Sedangkan, Airin, di satu sisi, ia benar-benar gemas dengan Alby yang mungkin cemburu dengan kehadiran Farelio. Di sisi lain, ia sudah tidak sabar dengan beberapa hal yang akan disampaikannya kepada lelaki manis penuh humor itu. Setelah sekian lama, Airin tidak memandang wajah manis kesukaannya itu, ia sangat merindukan Alby.

“Oh, iya, bener juga. Ternyata suara lo yang gua denger pas gua lagi tidur panjang. Makasih, ya, By, udah mau stay di samping gua,” ujar gadis cantik itu.

“Lo dari mana? Kok lo gak istirahat?” tanya Alby bertubi-tubi.

“Abis ngobrol—” Belum sempat Airin menyelesaikan penjelasannya, Farelio sudah lebih dulu berbicara.

“Abis ngobrol sama gua,” ketusnya.

“Oh,” singkat Alby.

Mendengarnya, Farelio menatap tajam ke arah Alby dan sebaliknya. Alby tidak suka bagaimana Farelio bersikap padanya dan juga Airin. Setelah mencampakkan Airin begitu saja, tiba-tiba saja Farelio datang lagi dan memohon untuk kembali bersama gadis cantik itu. Airin bukanlah barang yang bisa ia pungut dan ambil sepuasnya.

“Sekarang Airin mau ngobrol sama lo,” ujar Farelio. “Aku duluan, ya, Rin. See you when I see you,” ucap lelaki tampan itu sembari mengusap pelan pucuk Airin.

“See you when I see you Take care, ya, Rel,” balas Airin ramah.

Alby mengernyitkan keningnya. Ia tidak percaya dengan adegan yang baru saja terjadi tepat di depannya. Bagaimana bisa Airin merespon semua yang dikatakan Farelio dengan senyuman yang amat sangat manis? Bahkan setelah semua yang sudah Farelio perbuat untuknya? Airin memang memiliki hati seperti malaikat, batin Alby.

“Lo gak apa-apa, Rin?” tanya Alby khawatir.

“Gua gak apa-apa, By,” jawab Airin disertai dengan senyuman.

“Farel mau ke mana?” tanyanya lagi.

“Pulang. Farel mau pindah ke Kanada,” enteng Airin.

Manik selegam malam itu membulat. “Maksudnya?” tanya Alby penasaran.

“Ya, Farel pulang karena dia mau pindah ke Kanada,” jelas gadis cantik itu. “Gua sama Farel udahan, By. Kita mutusin buat jalan masing-masing,” lanjutnya.

Lagi, sepasang manik itu kian membulat. Airin banyak membawa kejutan padanya hari ini. Akhirnya, Alby dapat bernapas dengan lega. Airin tidak lagi terjebak dalam hubungan labirin dengan lelaki tampan itu. Serupa dengan Airin, Alby sama bahagianya. Apakah ini memang jalan yang Tuhan ciptakan untuk mereka?

“Lo serius, Rin?” tanya Alby tanpa henti.

Airin menganggukan kepalanya dengan semangat. “Gua sayang sama Farel, By, tapi gua butuh lo. Gua bahagia sama Farel tapi gua jauh lebih bahagia bareng lo,” jelas Alby.

Penjelasan yang tidak terlalu panjang itu membuat Alby mematung di tempatnya. Ditatapnya sepasang manik selegam senja yang sudah menjadi kesukaannya sejak hari pertama ia mendatangi sekolah yang sama dengan Airin. Tanpa ia sadari, senyum manisnya mengembang.

“Makasih, ya, Rin. Makasih udah ngasih kesempatan buat gua,” ujar Alby tergesa-gesa. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

“Harusnya gua yang bilang makasih, By,” balas Airin serius. “Makasih udah selalu ada di samping gua, gak cuma pas seneng aja tapi pas sedih juga. Di saat dunia menjauh dari gua, lo malah mendekat. Maaf gua pernah buat lo kecewa, By,” ujarnya.

Di detik berikutnya, tanpa diduga-duga, Alby menarik Airin agar masuk ke dalam pelukannya. Airin dapat merasakan pelukan khas rasa rindu yang tulus dari Alby. Kedua tangannya bergerak mengusap punggung sempit yang sudah memikul beban berat selama ini. Untuk pertama kalinya, ia menghirup aroma tubuh Airin yang mungkin akan menjadi candu baginya.

“Jangan minta maaf, Airin. Lo gak salah apa-apa,” kata Alby masih di dalam dekapannya.

“Makasih, ya, By. Makasih banyak untuk semuanya,” ucap Airin seraya mengeratkan dekapannya.

Tak lama, Alby melonggarkan pelukannya. “Eh, sorry, Rin. Gua kelepasan.” Ia mengusap tengkuknya canggung.

Berbeda dengan Alby, Airin malah tertawa puas. “Gak apa-apa, Alby. Ini nih yang bikin gua gak bisa jauh dari lo, By. Gua baru tau dari mana semua kebaikan lo setelah ketemu sama Bunda,” jelas Airin.

“Lo udah ketemu sama Bunda? Ngobrol apa aja sama Bunda?” tanya Alby semangat.

Airin kembali menganggukkan kepalanya beberapa. Ia tersenyum, namun kali ini terlihat berbeda seolah kesedihan tersirat di dalamnya. “Gak banyak sih. Bunda cuma nyampein apa yang perlu disampein dari dr. Tiffany,” ujarnya.

Alby, lelaki manis itu menyadari ada yang salah dari gadisnya. Senyum itu mengisyaratkan sesuatu yang buruk. “Lo gak apa-apa, Rin?”

“Gua…,” kata Airin. “Keguguran, By,” lirihnya.

Mendengarnya, Alby kembali mematung di tempatnya. Ia mengerjapkan maniknya beberapa kali. Indera pendengarannya seperti tidak mau menerima informasi menyedihkan yang satu ini. Alby dapat melihat dengan jelas bagaimana gadisnya itu merasa kehilangan. Perlahan, titik air mata jatuh membanjiri pipi Airin.

“Gua izin peluk lo lagi, ya, Rin,” ucap Alby.

Tidak mampu menjawab dengan kata-kata, Airin hanya mengangguk untuk mengiyakan permintaan lelaki manis itu. Alby merengkuh sang gadis agar kembali masuk ke dalam pelukannya. Di dalam pelukan yang terasa sangat lara itu, bahu Airin bergetar. Alby tidak dapat berbuat banyak selain menenangkan gadis cantik itu.

“Jangan sedih lagi, ya, Airin. Lo punya gua yang selalu ada di samping lo,” jelas Alby sembari mengusap kepala bagian belakang Airin. “Gua minta maaf karena lo harus sampe ngerasain semua rasa sakit ini,” lanjutnya.

Airin menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Alby. Hanya bersama lelaki manis itulah, Airin dapat menjadi dirinya sendiri. Hanya dengan Alby, gadis cantik itu dapat meluapkan semua emosi yang selama ini ia tahan sendiri. Tuhan mendatangkan Alby di hidupnya bukan tanpa tujuan.

“Gua gagal, By. Gua gak bisa jagain dia,” gumam Airin dalam tangisannya.

“Enggak, Rin. Lo gak gagal dalam apapun. Jangan ngerasa bersalah, ya, Airin,” bantah Alby. Hatinya seperti disayat mendengar gadisnya ini merintih sebab rasa sedih.

Dari semua peristiwa yang terjadi hari ini, Airin dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup adalah tentang pilihan. Kita semua mempunyai pilihan bagaimana kita akan menjalani hidup ini. Airin lebih memilih untuk bersama Alby dibanding Farelio sebab memang lelaki manis itulah yang Airin butuhkan.

Katanya, mencari pasangan itu bukan hanya berdasarkan kemauan, tetapi juga kebutuhan. Airin ingin Farelio untuk menemani hari-harinya, namun ia membutuhkan Alby untuk ada di hidupnya. Bukan opsi yang sederhana, tetapi Airin diharuskan untuk memilih sebab bagaimana pun juga kebahagiaannya adalah yang utama. Di antara Farelio dan Alby, Alby-lah yang menyadari hal itu.

Perlahan, sepasang lengan kekar itu menggenggam gagang dari kursi roda yang diduduki oleh gadisnya. Setelah menjemput Airin dari kamar inapnya, Farelio membawa gadis cantik itu untuk menghirup udara segar di taman rumah sakit yang berada tak jauh dari sana. Sesuai janji yang telah dibuat, keduanya akan berbicara empat mata, tentang kelanjutan dari hubungan mereka.

“You sure you okay, Rin? You look so pale,” ujar Farelio sesaat setelah mendudukan dirinya di salah satu bangku panjang yang ada di taman itu. Ia memposisikan dirinya sejajar dengan sang gadis.

“I’m okay, Farel,” balas Airin sembari tersenyum.

“It’s been a while, Airin. I really miss you,” ucap Farelio seraya meraih sebelah tangan Airin untuk ia usap lembut lalu mengecupnya.

“I miss you too, Farelio,” kata Airin lembut.

Melihatnya, hati Airin menghangat. Sudah lama sekali sejak lelaki kesayangannya itu memanjakan dirinya seperti ini. Setelah kepergiannya, Airin sempat hilang arah. Ada ruang di hatinya yang terasa hampa. Ketidakhadiran Farelio membawa dampak yang cukup besar pada kesehariannya.

Dalam waktu yang lama, keduanya saling bertukar tatap melalui manik masing-masing seolah melepaskan kerinduan yang sempat tertahan dan membuncah. Baik Farelio maupun Airin menyadari bahwa mereka memang saling mencintai satu sama lain. Farelio memilik peran di dalam hidup gadisnya dan Airin memiliki peran di dalam hidup lelakinya.

“My beautiful beautiful Airin,” ujar Farelio tiba-tiba seraya tersenyum manis.

Hanya dengan seberkas sanjungan yang dilontarkan lelaki kesayangan mampu membuat Airin tersipu malu. Ia menundukkan kepalanya menghadap tanah berumput sembari menahan senyum. Farelio, lelaki tampan itu selalu saja berhasil membuatnya menjadi gadis paling bahagia di dunia, meskipun hanya sesaat.

“Kamu bilang tadi aku pucet banget, kenapa tiba-tiba jadi cantik?” tanya Airin.

“Ya, karena kamu Airin. Kamu pasti cantik mau gimana pun keadaan kamu,” jelas Farelio.

Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi. Mereka berdua, Farelio dan Airin, terhanyut dalam atmosfer yang menyelimuti. Ditemani oleh sinar mentari pagi serta angin sepoi yang berhembus pelan, keduanya seolah membuka lembaran baru. Tetapi, jika boleh jujur, bukan itu tujuan Airin untuk menemui dengan Farelio.

“Farelio, i have to tell you something,” ucap Airin memecah keheningan.

“Go ahead, Airin. I’m listening,” balas Farelio.

“Let’s stop,” singkat gadis cantik itu.

Mendengarnya, simpul senyum yang terpatri pada wajah tampan Farelio perlahan memudar. Ia ingin menyangkal, namun indera pendengarannya menangkap sangat jelas apa yang dikatakan Airin barusan. “What do you mean by stop, Airin?” tanyanya memastikan.

Sebelum menjawab pertanyaan Farelio, gadis cantik itu menengadahkan kepalanya ke arah langit biru yang membentang luas di atasnya. Kala itu, awan berjalan sangat pelan seolah menunggu keputusan yang akhirnya Airin berani untuk bicarakan dengan lelaki kesayangannya. Kemudian, ia kembali memusatkan atensinya pada lelaki tampan di sebelahnya.

“Kamu tau aku hamil ‘kan, Rel?” balas Airin dengan kembali bertanya.

“Ya, of course. I know that you’re pregnant. That’s why I’m here. Our baby, right?” jelas Farelio.

Airin menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iya, bayi kita,” katanya. “Tapi sekarang bayi itu udah bahagia di surga, Rel. Dia bantu aku biar aku gak ngerasain sakit lagi,” lanjut Airin.

Farelio, lelaki tampan itu hampir tidak mempercayai penjelasan yang keluar dari mulut gadisnya. Apakah itu artinya…

“Aku keguguran, Rel,” tambahnya lagi.

Hanya dengan kalimat singkat yang diucapkan Airin, Farelio sukses dibuat mematung di tempatnya. Maniknya menatap kosong ke arah sang gadis. Indera penglihatannya dapat menangkap dengan jelas bagaimana senyum yang tersimpul di wajah gadisnya sebenarnya menyembunyikan rasa sakit dan sedih yang teramat dalam.

“Airin, aku minta maaf,” kata Farelio. “Aku—” Belum sempat lelaki tampan itu merampungkan kalimatnya, Airin kembali bersuara.

“Jangan minta maaf, Rel. Ini bukan sepenuhnya salah kamu,” jelasnya.

“Maaf, Rin, aku bener-bener gak tau,” tambah Farelio. Sepasang manik selegam malam itu mulai berkaca-kaca

Sebelah tangan Airin bergerak menangkup tangan yang lebih besar. Diusapnya punggung tangan yang dipenuhi dengan guratan rasa lelah itu. Farelio jauh lebih terkejut dibanding dirinya. Apakah lelaki tampan itu benar-benar merasa kehilangan? Airin tidak tahu pasti, tetapi Farelio sama sedihnya dengannya.

“Iya, gak apa-apa, Farelio. Dia belum siap ketemu sama kita,” ujar Airin menenangkan.

Di detik selanjutnya, Farelio merengkuh erat gadis cantik kesayangannya yang beberapa waktu terakhir ini telah melewati masa-masa paling menyakitkan di dalam hidupnya dan ditambah dirinya tidak pernah ada di sisinya saat masalah menghampiri. Farelio sangat menyesal akan hal itu.

“Be strong, Farelio. Kamu gak inget dulu kamu yang gak pengen dia ada di antara kita?” sarkas gadis cantik itu.

Farelio melepas pelukannya. “No, I’m not, Airin. Aku dikuasai amarah waktu itu. Kamu tau aku pengen banget dia hadir di antara kita. Aku pengen kita ulang semuanya dari awal, Rin,” ujarnya.

Mendengarnya, Airin tersenyum pilu. “Gak ada yang perlu kita ulang dari awal, Rel. Like I’ve said before, we have to stop,” ucapnya.

“You… don’t love me anymore, Airin?” tanya Farelio ragu-ragu.

Airin menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Aku bukannya udah gak sayang lagi sama kamu, Farelio, tapi kita udah gak bisa sama-sama. Kalo dipaksa untuk lanjut, kita kayak menggenggam setangkai bunga mawar di tangan kita. Kita suka banget sama bunga mawar, tapi semakin kita menggenggamnya semakin kita akan merasa sakit,” jelas gadis cantik itu.

“I don’t want to lose you, Airin,” lirih Farelio.

“Kamu gak kehilangan aku, Farel. Aku cuma gak bisa ada lagi di samping kamu, nemenin hari-hari kamu, jadi tempat pelampiasan kalo kamu lagi marah, itu aja,” tegas Airin.

“Aku cuma ngasih luka aja ke kamu, ya, Rin” kata lelaki tampan itu.

Mendengarnya, Farelio baru sadar sepenuhnya ternyata selama ini yang ia berikan pada Airin hanyalah rasa sakit. Farelio bukannya tidak menyadari hal itu, hanya saja dirinya menganggap caranya mencintai merupakan suatu hal yang unik tanpa memperhatikan bahwa keunikannya itu banyak memberi luka pada gadisnya.

“Kamu banyak ngasih aku kenangan indah juga kok, Farel. Dua tahun lebih deket sama kamu bakal banyak yang aku inget pas kamu gak ada,” ujar Airin.

Farelio, lelaki tampan itu lebih memilih untuk tidak melanjutkan percakapannya dengan sang gadis. Ia merenungkan semua perbuatannya kepada Airin selama dua tahun lebih belakangan. Mau tidak mau, ingin tidak ingin, dirinya harus mengerti bahwa inilah keputusan yang diambil Airin.

“Aku rasa aku udah cukup ngejelasin apa yang pengen aku sampein ke kamu, Rel. Makasih, ya, untuk dua tahunnya,” final Airin.

“Maaf, ya, Rin, aku terlambat ngerti,” balas Farelio diiringi dengan senyum yang dipaksakan.

“Let’s hug each other for the last time,” tawar Airin.

Tentunya, Farelio tidak ingin menolak yang satu itu. Sepasang tangannya membentang lebar lalu perlahan Airin masuk ke dalam dekapannya yang beberapa tahun terakhir selalu menjadi candunya. Farelio bukanlah lelaki jahat, bagi Airin. Ia hanya tidak dapat mengekspresikan emosinya dengan baik.

“Live well, Airin. Cepet sembuh, ya,” ujar lelaki tampan itu masih di dalam pelukannya.

“Kamu juga, ya, Farel,” balas Airin.

Setelah melepaskan dekapan masing-masing, keduanya kembali bertukar pandangan. Baik Farelio maupun Airin tidak mengira bahwa hari ini akan menghampiri mereka, hari di mana keduanya harus melepaskan satu sama lain, bukan karena rasa benci melainkan demi kebaikan masing-masing.

“Can you help me, Farel?” tanya gadis cantik itu.

“Sure, Airin. Just say anything,” balas Farel.

“Kamu bisa anterin aku balik ke kamar, Alby udah nungguin aku,” kata Airin.

Airin menghela napas panjang sembari merebahkan dirinya di atas ranjang rumah sakit yang menurutnya terasa lebih nyaman dibanding ranjang yang ada di tempat tinggalnya. Entah mengapa gadis cantik itu merasa gedung serba putih yang dipenuhi oleh dokter, perawat, dan para pasien ini akan menjadi rumah keduanya.

“Gua harus apa sekarang?” gumam Airin seraya menatap kosong ke arah langit-langit ruang inapnya.

Terhitung sudah sejak dua jam yang lalu ponselnya tidak berhenti berdering, baik itu pesan singkat atau panggilan yang masuk, dari Farelio. Lelaki tampan itu benar-benar tak gentar untuk mendapatkan perhatian gadisnya atau mungkin permohonan maaf? Airin belum lagi mau membahas apapun terkait hal itu.

“Farel… Alby…,” lirih gadis cantik itu.

Sejenak, Airin kembali bergumul dengan pikirannya. Ada banyak, banyak sekali, hal yang terlintas, mulai dari kondisi kesehatannya sampai dengan hubungan percintaannya. Airin tentunya ingin sekali menjalani hidup yang tenang barang sehari. Namun, apalah daya, Tuhan sangat menyayanginya.

Tok! Tok! Tok!

Airin membangkitkan dirinya agar duduk di atas ranjang. Ia mengernyitkan keningnya. Siapa yang datang berkunjung, pikirnya. Bukankah dr. Tiffany baru saja keluar dari ruangannya beberapa menit yang lalu? Airin tidak mengizinkan siapapun masuk, kecuali tenaga kesehatan yang bertugas untuk memeriksanya.

Klek!

Tak lama setelahnya, pintu itu terbuka. Sepasang manik selegam senja itu membulat kala menangkap sesosok wanita paruh baya yang kecantikannya setara dengan seorang dewi. Airin belum pernah melihat wanita ini sebelumnya, tapi ia berani bertaruh bahwa fitur wajah yang ada pada wanita ini terlihat tidak asing. Seperti Airin pernah melihatnya pada seseorang.

“Permisi,” ucapnya lembut sembari berjalan mendekat ke arah Airin. “Airin, ya?”

“I-Iya,” jawab Airin terbata.

“Perkenalkan, saya Shinta Arumnika, Bundanya Alby,” jelas Shinta seraya tersenyum lembut.

Medengarnya, Airin menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia membalas senyum manis nan menenangkan yang terukir di wajah cantik Shinta. “Oh? Iya, Tante. Saya Airin, temennya Alby,” ujarnya.

“Airin gimana kondisinya, Nak? Perutnya sakit gak?” tanya Shinta ramah.

“Sedikit sih, Tante,” jawab Airin lagi.

“Makannya gimana? Teratur gak?” tanyanya lagi.

“Masih agak mual, Tante. Makanan yang masuk jadi keluar lagi,” jelas gadis cantik itu.

“Oh, gitu. Sudah dijelaskan ke dr. Tiffany apa yang dirasain sama Airin, Nak?” lanjut Shinta.

“Sudah, Tante,” katanya.

Shinta banyak mengajukkan pertanyaan kepada gadis yang duduk di hadapannya. Wajahnya terlihat pucat pasi, namun tetap terlihat cantik. Shinta akhirnya mengetahui alasan mengapa anak tunggalnya itu bisa jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadis cantik ini. Belum lagi, senyum manis nan menenangkan yang terpatri pada wajahnya.

Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi antara Airin dan Shinta. Wanita paruh baya itu sibuk menelisik seluruh keadaan gadis cantik dambaan sang putra. Ia mengulas senyum pilu kala maniknya menangkap banyak luka sayat yang bersarang di lengan kurus Airin.

“Sakit, ya, Nak?” tanya Shinta tiba-tiba. Sebelah tangannya terulur mengusap punggung tangan Airin yang terbebas dari jarum dan selang infus.

Airin sontak mengangkat pandangan yang sedari hanya tertuju pada kepalan tangannya yang bergerak gelisah. Suara selembut awan itu bertanya tentang kondisinya, lagi. “Enggak kok, Tante. Airin cuma mual aja,” jawabnya sembari tersenyum.

Airin, gadis cantik itu sebisa mungkin menyembunyikan lukanya. Menurutnya, rasa sakit yang ada hanya cukup diketahui oleh Tuhan dan dirinya. Sejak kecil, Airin sudah terlatih untuk mengunci semua emosi negatifnya di dalam hati. Orang lain tidak perlu tahu tentang kesedihannya, termasuk kedua orang tuanya dulu. Emosi yang dirasakannya adalah hal receh.

“Airin kalo perlu apa-apa, kasih tau Tante, ya, Nak,” pinta wanita cantik paruh baya itu.

“Iya, Tante. Makasih banyak. Alby di mana, Tante?” jawab Airin dengan kembali bertanya. Ia hanya basa-basi.

“Ada di luar sama Ayahnya. Tante denger katanya Airin belum mau ketemu sama orang lain, ya?” ucap Shinta.

Mendengarnya, Airin kembali menundukkan pandangannya. “Iya, Tante.” Airin bersuara sepelan mungkin.

“Gak apa-apa, Sayang. Makasih banyak, ya, udah izinin Tante ketemu sama Airin.” Sebelah tangan Shinta kembali bergerak, kali ini mengusap lembut pucuk kepala gadis cantik itu.

Airin, gadis cantik itu menghangat hatinya. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Sekarang Airin mengerti mengapa Alby selalu hadir saat semesta bahkan menjauh darinya. Ternyata semua itu diwariskan oleh ibunya sendiri. Jika boleh jujur, Airin merasa memiliki seorang ibu, hanya untuk hari ini.

“Iya, Tante, sama-sama,” balasnya.

“Tante dateng ke sini mau ngasih tau beberapa hal dari dr. Tiffany untuk Airin,” jelas Shinta. “Tante gak mau bohong sama Airin perihal apa yang mau Tante sampein ke Airin, Nak. Kalo Airin gak kuat, Airin nangis aja, ya, Nak. Peluk Tante kalo perlu,” lanjutnya.

Penjelasan singkat nan mencekam yang menusuk ke dalam indera pendengarannya membuat Airin menahan napasnya sejenak. Apa yang telah terjadi pada saat dirinya mengalami tidur panjang selama beberapa hari belakangan ini? Shinta tentunya menyadarinya. Oleh sebab itu, ia kembali mengulas senyum semenenangkan mungkin.

“Airin jangan khawatir, ya. Banyak yang sayang Airin di sini. Ada Tante, Alby, sama temen-temen Airin lainnya yang setia nungguin Airin di depan ruangan. Airin siap, Nak?” tanya wanita cantik itu memastikan.

Sepasang manik selegam senja yang biasanya berbinar indah itu kini terlihat redup. Terlihat jelas bahwa dari tatapannya, Airin menyimpan banyak sekali perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Namun, mau bagaimana pun juga, ia tetap harus menghadapi apa yang sudah menunggunya sejak lama.

“Airin siap, Tante,” ucap Airin.

“Tante jelasin pelan-pelan ke Airin, ya. Airin tau ‘kan kalo di dalem perutnya ada janin?” tanya Shinta.

Airin, gadis cantik itu mengangguk pelan. “Iya, Tante.”

“Tadi dr. Tiffany bilang sama Tante. Sewaktu Airin dibawa ke rumah sakit ini, ‘kan Airin sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena pendarahan hebat, ya? Nah, di saat yang bersamaan juga, janin yang ada di dalem perut Airin gak kuat nahan pendarahan hebat yang terjadi sama Airin. Jadi—” Belum sempat Shinta merampungkan eksplanasinya.

Airin menyela. “Airin keguguran, Tante?” tanya gadis cantik itu memastikan.

Shinta mengangguk pelan, “Janin yang ada di perut Airin gak bisa diselamatkan, Nak,” ujarnya pelan.

Mendengarnya, Airin membeku di tempatnya. Pandangannya tiba-tiba saja terasa menghilang. Hatinya seolah tidak menerima informasi yang satu ini. Ternyata, keinginannya yang sempat terlintas di dalam benaknya untuk menghilangkan nyawa dari manusia mungil di dalam perutnya itu benar-benar terwujud. Namun, bukan rasa bahagia yang menghampiri, Airin malah menangis sejadi-jadinya.

Shinta merengkuh gadis ringkih itu ke dalam pelukannya. Shinta tahu betul apa yang sedang dirasakan oleh anak gadis itu sebab dirinya pernah ada di posisi yang sama. Kehilangan memang tidak pernah gagal dalam mendatangkan lirih pada manusia. Meskipun Airin sempat membenci apa yang ada di dalam perutnya, tetapi ia juga tidak ingin kehilangannya.

“Airin yang sabar, ya, Nak. Ada Tante di sini,” kata Shinta menenangkan Airin. “Airin gak apa-apa nangis. Tante bakal temenin Airin.”

“Anak Airin, Tante,” lirih Airin dalam tangisannya.

“Iya, Nak. Itu anaknya Airin. Sekarang, anaknya Airin udah bahagia di surga. Dia gak mau lihat Mamanya terus kesakitan,” tegas Shinta.

Airin tidak pernah mengira bahwa nyawa kecil yang pernah ia anggap sebagai hasil dari rasa benci dan kesalahan itu akan membawa dampak sebesar ini baginya. Penyesalan itu seolah menusuk hatinya sampai ke yang terdalam. Di antara banyak hal menyedihkan yang ada di kepalanya, ada satu hal yang ia sadari. Apakah Farelio mengetahui hal ini? Apakah lelaki tampan itu tahu bahwa anaknya telah meninggalkan dunia ini?

“Maafin Mama, Sayang,” monolog Airin di dalam batinnya.

Setelah melewati rintangan tersulit, yaitu pengawal sewaan sang ayah, akhirnya Farelio sampai di rumah sakit tempat Airin dirawat. Sesampainya di sana, Farelio menghampiri bagian administrasi dan bertanya di mana ruangan sang gadis dirawat. Ia ingin cepat-cepat menghampiri tambatan hatinya.

“Makasih, Sus,” ucap lelaki tampan itu.

Kemudian, Farelio kembali berlarian di sekitar lorong rumah sakit. Tidak jarang, sebab kepalang panik, ia menabrak beberapa orang yang berjalan melewatinya dan dengan sopan ia meminta maaf atas perbuatannya.

Di dalam hatinya, hanya ada Airin, Airin, dan Airin. Persetan dengan ayahnya yang mengetahui hal ini. Entah seperti apalagi hukuman yang akan Kendrick lampiaskan untuknya karena sekarang yang terpenting adalah Farelio dapat bertemu dengan Airin.

“I’m coming for you, Airin,” gumamnya.

Tak lama setelahnya, di ujung lorong, sepasang manik selegam malam ini menangkap dua orang sedang berbincang serius di depan ruang perawatan. Itu Alvino dan Nalandra, sahabat kesayangannya. Melihatnya, simpul senyum itu mulai merekah.

“FAREL?!” pekik Nalandra saat Farelio berhenti di hadapannya dengan napasnya yang tersendat. Ia menumpukkan kedua tangannya pada lututnya.

Tidak hanya Nalandra, Alvino yang terhitung sudah mengetahui kabar ini juga sama terkejutnya. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu akan datang secepat ini. Perasaannya campur aduk saat itu, sedih dan senang di saat yang bersamaan.

“Lo gak apa-apa, Rel?” tanya Alvino khawatir. Ia mengusap pelan punggung Farelio.

“I’m okay,” jawab Farelio seraya kembali menegakkan tubuhnya.

“Lo ke sini sama siapa, Rel?” tanya Nalandra penasaran.

“Sendiri. Gua kabur,” singkatnya. “Airin gimana?” tanya lelaki tampan itu.

“Masih belum siuman,” jawab Alvino.

“Airin di dalem sendiri?” tanya Farelio lagi.

“Enggak. Di dalem ada Alby,” jelas Nalandra.

Mendengar ada satu nama tak asing yang tertangkap indera pendengarannya, Farelio menahan napasnya sejenak. Dugaannya selama ini ternyata benar. Dirinya mungkin bukan lagi satu-satunya lelaki yang ada di hati Airin. Posisinya mungkin sudah tergantikan oleh Alby. Tidak ingin berbohong, Farelio cukup tersakiti dengan fakta itu.

“Gua mau ke dalem,” ucap lelaki tampan itu. Baru saja Farelio melangkahkan kakinya mendekat pada pintu ruangan rawat inap, aksinya didahului oleh seseorang.

Cklek!

“Lo ngapain di sini?” tanya Alby sinis.

“Mau nemuin Airin. Makasih udah jagain Airin selama gua pergi. Sekarang lo boleh minggir,” sarkas Farelio.

Dua pasang itu saling bertemu. Bukan lagi mengindikasikan kebencian, keduanya seolah berperang melalui jendela dunia itu. Jika boleh jujur, Alby sangat amat terganggu dengan kedatangan Farelio yang tiba-tiba ini dan mungkin Airin juga merasakan hal yang sama, menurutnya.

Di sisi lain, Farelio kurang lebih merasakan hal yang serupa dengan Alby. Ia tidak suka bahwa di masa kritis gadis cantik tersebut, entah dari mana Farelio kembali menghampirinya. Jika memang ia peduli dengan Airin, tidak seharusnya ia meninggalkan Airin bersama semua rasa sakit itu.

Alvino dan Nalandra yang menyaksikan perang dingin itu hanya dapat bungkam. Keduanya lebih memilih untuk netral dan tidak memihak kepada siapapun. Dalam urusan ini, biarlah Airin yang menentukan pilihannya.

“Airin belom sadar. Mending lo tunggu di luar. Airin gak boleh diganggu,” ujar Alby.

“Gua mau liat Airin,” balas Farelio tidak mau kalah.

“Lo gak denger apa kata gua? Airin lagi gak boleh diganggu,” ulang lelaki manis itu.

Farelio mulai kehilangan kesabarannya. Ia melangkah lebih maju agar wajahnya dapat menatap secara langsung wajah yang menurutnya sudah merusak hubungannya dengan Airin sejak dulu. Melihatnya, Alby tidak gentar. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Farelio. Namun, di saat atmosfer yang menyelimuti keduanya semakin mencekam. Seseorang kembali membuka pintu ruang perawatan intensif tersebut.

Cklek!

“Airin?” ucap Alvino dan Nalandra serempak.

“Airin,” ujar Farelio dan Alby bersamaan.

Farelio menghela napas panjang lalu mengusap wajahnya kasar. Setelah memutuskan untuk kembali pada gadisnya, ia menyegerakan diri untuk menghampiri Airin. Namun, sepasang manik selegam malamnya menangkap adanya stimulus berbahaya yang ada tepat di hadapannya, berupa barisan pria berjas hitam lengkap dengan senjata tajam serta senapan api.

Baru saja lelaki tampan itu melengang keluar dari penjaranya ketika dirinya disambut dengan sekumpulan

Farelio sedikit meregangkan sendi di seluruh tubuhnya sebelum berkata. “Alright. Here we go again,” ujarnya sembari menyiapkan kepalan tangannya untuk menghadiahi beberapa pukulan kepada jejeran lawan di depannya.

Setidaknya, ada tujuh sampai sembilan orang di sana, jika Farelio tidak salah hitung. Sesuai perintah, mereka siaga untuk melaksanakan tugas dari sang atasan, Kendrick. Farelio menatap tajam satu per satu pengawal yang ada di sana demi menjatuhkan mental mereka. Ia tidak akan kalah hari ini, demi Airin.

“Laksanakan, Tuan,” ucap salah satu pria berjas yang berada di paling belakang dekat dengan elevator. Perintah itu berasal dari in-ear yang terpasang di telinga kanannya. “Serang!” pekiknya kemudian.

Mendengarnya, dua orang pengawal yang ada di barisan terdepan mengambil langkah terlebih dahulu. Mereka hendak melayangkan pukulan pada Farelio secara bersamaan, tetapi lelaki tampan itu bergerak lebih cepat. Ia berlari menghampiri dua orang tersebut.

BUAGH!

Tinjuan pertama mendarat pada wajah salah satu dari mereka dan ia pun tumbang sementara. Lalu, dengan cepat, Farelio kembali bergerak. Kali ini lelaki tampan itu menendang tepat di dada pengawal lainnya.

BUAGH!

“Maju!” ucap sang ketua dari mereka lagi.

Setelahnya, empat orang pria bertubuh besar nan kekar kembali menghampiri Farelio. Mereka siap menghadang segala pergerakan anak tunggal dari atasannya yang berpotensi memperlancar aksinya dalam melarikan diri.

“Come on and get me,” sarkas Farelio diiringi dengan gerakan tangan yang seolah-olah memancing mereka untuk menghajar dirinya. Namun, sebelum salah satu dari mereka berhasil menangkapnya, lelaki manis itu menunduk untuk menghindar.

BUAGH! BUAGH!

Farelio meninju lawannya dari arah bawah. Lalu, dirinya bersembunyi di balik tubuh besar itu dan menggunakannya sebagai tameng. Dari belakang sana, Farelio melakukan tendangan tiga kali berturut-turut, dari dada satu ke dada pengawal yang lain. Ketiganya ambruk secara bersamaan.

Sekarang, masih tersisa dua orang lagi yang harus Farelio taklukan. Sebelum memulai perkelahian selanjutnya, Farelio menggulung kemeja yang dikenakannya sebatas siku. Di antara keenam pengawal tadi, yang akan ia hadapi sekarang adalah pengawal dengan tubuh paling besar dan paling kekar.

“Shit!” umpatnya. “Do you guys have PT class every morning? I like your body but let us see who’s gonna win today. I have a beautiful girl to fight for,” lanjut Farelio seraya kembali menyiapkan kepalan tangannya seolah siap meninju.

Berbeda dengan pengawal-pengawal yang sebelumnya, kedua pria bertubuh paling atletis ini melakukan beberapa jurus awalan sebelum memulai pertandingan. Sepertinya, mereka adalah yang terbaik di antara yang terbaik, sang penguasa segala teknik bela diri. Walaupun begitu, tidak membuat Farelio bergidik ngeri.

“Habisi sekarang juga!” teriak pemimpin pengawal tersebut.

Mereka mengeluarkan dua buah benda dari saku celana masing-masing. Farelio dapat mengidentifikasinya dengan jelas, itu jarum suntik yang di dalamnya berisikan obat bius dosis tinggi dan ujung jarum itu siap menghujam setiap titik dari tubuhnya kapan pun.

“Okay, let’s go!” pekik Farelio.

Selanjutnya, kedua pengawal itu berlari menghampiri Farelio. Namun, belum sempat benda tajam itu menyentuh permukaan kulitnya, Farelio menggelincirkan dirinya di atas lantai melalui dua orang pengawal tersebut untuk kemudian dengan cepat berdiri dan meninju keras wajah pengawal utama yang menjadi tangan kanan langsung sang ayah.

BUAGH! BUAGH!

Ini kesempatan emas dan tentunya Farelio tidak ingin menyia-nyiakannya. Pria berjas itu sempat terhuyung dan di saat yang bersamaan dua orang tadi berbalik ke arahnya. Farelio menggunakan tubuh pengawal tersebut untuk melindunginya. Alhasil, kumpulan jarum suntik itu menyerang tepat pada jantung sang ketua pengawal.

“Have a good sleep, Sir,” final Farelio sebelum berlalu pergi. Lelaki tampan itu lebih memilih tangga darurat untuk turun dari sana.