ttoguxnanaxranie

“Farel pulang, Pi” ujar lelaki tampan itu.

Farelio melangkahkan kakinya gontai untuk memasuki ruang kerja sang ayah. Sementara itu, Kendrick, terlihat tengah sibuk dengan beberapa berkas perusahaan yang tertata berantakan di atas meja kayunya.

Lelaki paruh baya itu meluruhkan sedikit kacamata yang bertengger di atas hidung bangirnya. Matanya menelisik keadaan putra tunggalnya yang sedang berdiri tepat di depannya.

“Dari mana kamu, Rel?” tanyanya.

“Rumahnya Vino, Pi. Lagi ngerjain tugas bareng, sama Alan juga,” jelas Farelio malas.

Sejujurnya, tanpa lelaki tampan itu jelaskan pun, ayahnya sudah tahu di mana keberadaannya.

Mengingat, Farelio sering kali memergoki seorang pria dengan setelan hitam rapi yang kian hari semakin menguntitnya.

Farelio yakin dengan sepenuh hatinya bahwa pria bertubuh tegap itu adalah salah seorang anak buahnya. Ah, lebih tepatnya mungkin bodyguard sewaan.

“Papi tau Farel gak bohong, kenapa masih nanya?” sambung lelaki tampan itu.

“Watch your mouth, Farelio. Papi gak pernah ajarin kamu untuk ngelawan Papi,” ujar Kendrick.

Mendengarnya, Farelio menghela napas panjang. Sepasang bola mata hitamnya bergulir jengah.

“Put your hands on my table,” lanjutnya.

Farelio, lelaki tampan yang sedari tadi merasa jengkel itu kini merasa cukup terkejut. Tentunya, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“You hear me, Farelio. Your hands on my table,” tegas sang ayah.

Dengan berat hati, lelaki tampan itu meletakkan sepasang lengan kekarnya di atas meja kerja ayahnya.

Selepasnya, Kendrick bangkit dari posisi duduknya untuk kemudian menumpukan kedua tangannya di atas meja, di hadapan sang anak.

“Papi tau kamu menyelinap keluar dua malam yang lalu. Benar ‘kan, Farelio?” ucap Kendrick mengintimidasi. “Dan Papi juga tau, ke mana kamu pergi,” lanjutnya.

Farelio menggertakkan rahangnya. Sialan! Dugaannya benar. Ayahnya mengetahui ia menyusup keluar dari rumah untuk pergi ke apartemen gadisnya.

“You may choose. Papi yang harus ngasih pelajaran ke kamu atau gadis itu yang harus Papi kasih pelajaran,” tawar Kendrick.

Sepasang manik selegam malam yang serupa dengan milik Farelio itu menatap tajam. Sesungguhnya, lelaki tampan itu ingin sekali membalas, namun…

“Farel mohon sama Papi jangan bahayain hidup dia, jangan sakitin dia. Hukuman Papi ada di sini, di Farel. Mulai dari kepergian Mami sampai hubungan Papi sama Farel. Hukuman Papi di sini, di Farel,” jelas Farelio.

Terdengar jelas bahwa lelaki tampan itu menekankan kata hukuman pada kalimatnya. Pastinya, hal itu sukses membakar lebih banyak lagi batu bara api amarah pada hati seorang Kendrick.

Lelaki paruh baya itu menyeringai. “On your own, Farelio.”

Dengan begitu, Kendrick melonggarkan tali pinggang berbahan kulit yang melingkar di tubuhnya.

CTARR!

Satu cambukan mendarat di lengan kanan Farelio.

CTARR!

Satu lagi cambukan berhasil mendarat.

CTARR!

Suara perpaduan antara sabuk kulit impor dengan kulit mulus lelaki tampan itu menggema di seluruh sudut ruang kerja Kendrick sore itu.

Farelio, lelaki tampan itu hanya dapat meringis pelan sembari menahan sakit yang teramat sangat.

Lihat saja, bagaimana lengan berurat itu mulai dipenuhi dengan banyak luka terbuka serta bekas lebam yang bersarang.

Rasa sakit yang Farelio rasakan dalam beberapa waktu belakang ini, bukan lain hanyalah untuk melindungi gadisnya.

Anak buah sang ayah, atau bahkan Kendrick sendiri, tidak akan pernah bisa menemui apalagi menyentuh Airin sedikit pun.

“We should turn this series into squirt game,” ucap Farelio.

Mendengarnya, Airin menatap nanar pada lelaki kesayangannya itu. Ia merenung sejenak.

Jika ditelisik lagi, waktu berkualitas keduanya tidak pernah dihabiskan dengan kegiatan atau aktivitas yang juga berkualitas.

Pada akhirnya, Farelio selalu meminta Airin untuk bermain nafsu dengannya. Dan juga, jika biasanya gadis cantik itu merasa tidak keberatan, tetapi kali ini…

“I’ll start the show,” sambung lelaki tampan itu.

Dengan begitu, Farelio mengalihkan saluran televisi nasional menjadi aplikasi menonton film pada televisi milik gadisnya. Di dalam dekapan yang seharusnya terasa hangat itu, Airin hanya bergeming.

“Farel,” panggil gadis cantik itu. Airin menolehkan pandangannya sedikit lebih tinggi pada lelaki kesayangannya.

“Iya, Rin,” balas Farelio tanpa memalingkan pandangannya.

Sepasang manik selegam senjanya masih berfokus pada layar televisi seraya mencari series yang dimaksud.

Airin, gadis cantik itu berniat mengatakan sesuatu pada Farelio. Namun, akhirnya ia mengurungkan niatnya.

Detik berubah menjadi menit dan menit berubah menjadi jam. Setidaknya, sudah dua episode yang mereka saksikan.

Dengan gerakan tiba-tiba, Farelio memeluk gadisnya untuk kemudian menariknya agar duduk di atas pangkuannya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga gadisnya.

“Rin,” panggil Farelio. “According to my words earlier, i will start our squirt game,” lanjutnya.

Lelaki manis itu lalu menjilat daun telinga gadisnya. Sontak, Airin menolehkan pandangannya sebab rasa yang menggelitik itu.

Di detik berikutnya, Farelio mengecup ruang di sekitar leher dan dadanya untuk meninggalkan tanda kepemilikan. Airin sebisa mungkin menahan desahannya. Ia menggigit bibir bagian bawahnya.

“Let it go, Rin, you know how i love your voice while moaning my name,” jelas Farelio sembari mengangkat pandangannya pada Airin yang kali ini berposisi lebih tinggi darinya.

Setelahnya, Farelio melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Lelaki tampan itu semakin liar mengecupi gadisnya. Airin mencengkram kedua bahu lebar di hadapannya.

“Nghh, Rel, i think i’m not, mphh, in the mood for today,” sela Airin.

Farelio, lelaki tampan itu tidak menghiraukan perkataan gadisnya. Ia masih sibuk dengan sajian yang ada di depannya.

Bahkan, lelaki tampan itu kini berubah haluan menjadi bermain dengan sepasang gunung sintal milik gadisnya.

“Ahh, Rel,” lirih gadis cantik itu.

Merasa tidak cukup puas, sebelah tangan Farelio sekarang bergerilya menuju arah selatan sang gadis.

Lelaki tampan itu dengan cepat menyingkap gaun tidur yang dikenakan Airin untuk kemudian mengusap vaginanya dari arah luar.

“Nghh, ahh, Rel,” racau Airin.

Mendengarnya, Farelio menambah tempo permaiannya dengan sepasang aset kesukaannya.

Sejujurnya, lelaki tampan itu sangat terkesima dengan permainannya hari ini. Lihat saja, bagaimana Airin dengan cepat akan menjemput pelepasannya hanya dengan aksi tangannya.

“Rel, nghh, ahh, i wanna cum,” jelas gadis cantik itu.

“On three, Airin,” perintah Farelio.

Benar saja, setelah hitungan ketiga, Airin mencapai titik ternikmatnya. Gadis cantik itu menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit.

“Kamu cepet banget, Rin, gak kayak biasanya,” ujar lelaki tampan itu.

“Iya, Rel, mungkin aku lagi pengen banget,” jawab Airin.

Setelahnya, gadis cantik itu melengang pergi ke arah toilet untuk membersihkan dirinya. Namun, sesampainya di dalam sana, bukannya mengguyur tubuhnya, Airin malah mendudukkan dirinya di atas water closet.

“I’m sorry, Rel,” gumam gadis cantik itu. “For faking my climax,” lanjutnya.

Pada pagi menjelang siang hari itu, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Farelio rela berbohong demi bertemu dengan gadisnya.

“Maaf, ya, Rin, akhir-akhir ini aku jadi jarang ngobrol sama kamu,” ujar Farelio.

Lelaki tampan itu merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan sepasang paha Airin yang menjadi penumpu kepalanya.

Airin sibuk mengusap pelan pucuk lelaki kesayangannya. Namun, pandangannya gadis cantik itu tertuju lurus ke depan.

Entah menyaksikan acara yang sedang berlangsung pada layar televisi atau ada sesuatu sedang mengganggu pikirannya.

“Rin,” panggil lelaki tampan itu saat Airin tak kunjung membalas perkataannya.

“Iya, Rel,” balas Airin pada akhirnya.

Gadis cantik itu menundukkan pandangannya. Kemudian, dua pasang manik itu bertemu. Farelio menatap Airin dengan lamat.

“Kamu mikirin apa?” tanyanya.

“Hah? Enggak, aku gak mikirin apa-apa kok,” jawab gadis cantik itu.

“Kamu gak fokus dari tadi aku ajak ngobrol,” jelas Farelio.

“Ah, iya, maaf, Rel,” selanya.

Terhitung, ini sudah hari ketiga sejak Airin berpikir keras perihal kalimat yang Alby ucapkan padanya tempo hari.

‘Lo mungkin gak butuh nama gua sekarang, Airin, karna lo juga belom butuh kehadiran gua di hidup lo. Tapi, cepat atau lambat, gua bisa pastiin kehadiran gua dibutuhkan di hidup lo.’

Airin dapat mengingat dengan jelas bagaimana setiap kata itu terlontar dari mulut Alby, serta suaranya yang sedalam palung tapi tetap terdengar merdu.

“Nonton, yuk, Rin,” ajak Farelio tiba-tiba.

Mendengarnya, Airin berusaha mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“You okay, Rin?” tanya lelaki tampan itu lagi sembari mengangkat sedikit kepalanya.

“I’m okay, Rel. You don’t need to worry,” jelas Airin yang diakhiri dengan senyuman manis.

“Aku tadi ngajak kamu nonton, kamu mau?” ajaknya sekali lagi.

“Boleh. Kamu mau nonton apa?” tanya gadis cantik itu.

Farelio bangkit dari posisi berbaringnya. Kini, lelaki tampan itu duduk berdampingan dengan sang gadis. Ia rangkul bahu sempit itu agar lebih mendekat padanya.

“Aku mau nonton Squid Game di Netflix. Interested?” ucapnya seraya menaikkan sebelah alisnya.

“Itu series yang lagi hype banget itu, kan? Banyak banget yang ngomongin. Boleh deh kita nonton itu. Aku juga penasaran,” ujar Airin.

“Tapi…,” sergah Farelio.

“Tapi apa?” balas Airin.

“Woy,” sapa Alby.

Lelaki manis itu mendudukkan dirinya tepat di samping Airin di bangku panjang pinggir lapangan.

Sontak, melihat kedatangan laki-laki aneh yang ia temui beberapa hari lalu, gadis cantik itu menggeser posisi duduknya.

Airin mengernyitkan keningnya. Sedangkan, Alby mengulas senyum terindahnya. Untuk waktu yang cukup lama, keduanya saling menatap.

“Udah lama nih gak ketemu,” ucap lelaki manis itu.

Mendengarnya, Airin menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu berdecak. “Lo cowok teraneh yang pernah gua temuin,” jelasnya.

“Cowok terganteng kali maksud lo,” balas Alby.

Airin, gadis cantik itu lebih memilih untuk tidak meladeni dan menyahuti lelaki aneh tapi manis di samping kirinya.

Gadis cantik itu kembali memfokuskan dirinya pada foto Farelio yang terpampang jelas pada layar ponselnya.

Alby, lelaki manis itu tentu saja menyadarinya. Lihat saja, bagaimana ia sedari tadi mencuri pandang pada tampilan layar gadis yang duduk di sebelahnya.

“Laki lo?” tanya Alby tiba-tiba.

“Hah?” jawab Airin heran. Gadis cantik itu menolehkan pandangannya.

“Itu cowok. Laki lo, bukan?” tanyanya lagi.

Sejenak, Airin menatap sinis dari ujung kaki sampai ke atas kepala pada lelaki manis di sampingnya.

“Mau laki gya atau enggak juga bukan urusan lo,” ketus gadis cantik itu.

“Ya, bener sih,” balas Alby. “Tapi seenggaknya kalo lo belom jadi istri orang, gua masih bisa nikung,” lanjutnya.

Mendengarnya, belahan ranum itu jatuh dari peraduannya. Airin menganga lebar kala indera pendengarannya menangkap kalimat aneh dari orang yang juga aneh.

Gadis cantik itu bangkit dari tempat duduknya. Airin hendak melengang pergi saat bias suara sedalam palung itu menghentikan langkahnya.

“Alby,” ucapnya.

Lelaki manis itu merentangkan sepasang tangan kekarnya di atas kepala kursi. Sebelah kakinya bertumpu di atas kaki lainnya.

“Alby Valla Bagasditya,” sambung Alby.

Airin kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti kala Alby lagi-lagi berucap padanya.

“Lo mungkin gak butuh nama gua sekarang, Airin, karna lo juga belom butuh kehadiran gua di hidup lo. Tapi, cepat atau lambat, gua bisa pastiin kehadiran gua dibutuhkan di hidup lo,” jelasnya.

“Nenek,” sapa Alby sembari memeluk wanita tua kesayangannya itu.

Setelah Alby menelpon sang nenek dan mengabari bahwa dirinya sudah tiba di kampung halaman, wanita tua itu kepalang bahagia. Apalagi setelah lelaki tampan itu berkata dia akan berkunjung ke rumahnya.

Bahkan, semenjak percakapan mereka via telpon telah berakhir, Nenek dengan setia menunggu kedatangan sang cucu di beranda depan rumah tuanya sembari menyesap teh melati favoritnya.

“Valla akhirnya pulang, Sayang” balas sang nenek seraya mengusap lembut pucuk cucunya.

Begitulah, bagaimana Nenek memanggil cucu tertuanya itu, dengan nama tengahya. Panggilan khas yang selalu Alby sukai.

“Nenek apa kabar?” tanya Alby setelah melonggarkan dekapannya.

Untuk kemudian lelaki tampan itu menyalimi tangan keriput namun masih terasa lembut itu dengan perlahan. Hana pun melakukan hal serupa.

“Baik, Valla. Kamu gimana? Ayah sama Bunda sehat ‘kan?” jawab Nenek dengan bertanya.

“Sehat kok, Nek. Ayah sama Bunda tadi nitip salam sama maaf katanya gak bisa kalo mau nemuin Nenek hari ini soalnya Ayah masih ada urusan di kantor baru,” jelas Alby.

“Iya, gak apa-apa. Masuk dulu, Nenek udah bikin sop jagung kesukaan Valla,” ujar wanita tua itu.

Nenek merangkul sang cucu yang tingginya jauh terapaut dengannya lalu melengang masuk ke dalam rumah, meninggalkan Hana sendirian di teras rumah.

“Ih Nenek! Vilo jangan ditinggal sendiri dong, mentang-mentang Alby udah pulang,” keluh Hana.

Ya, serupa dengan Alby, Hana juga mempunyai panggilan sayang khusus dari sang nenek, Vilo, dari nama belakangnya, Vilory.

Kini, ketiganya sudah berada di dapur. Di sana, Alby menarik salah satu kursi dari meja makan berbentuk persegi panjang tersebut untuk Nenek lalu membantunya duduk.

“Caper lo,” hujat Hana sembari mendudukkan dirinya di balik meja makan.

“Yang bukan cucu kesayangan diem aja, ya,” sarkas Alby seraya tersenyum mengejek.

“Mba, sopnya tolong dimangkokin terus bawa ke sini, ya,” ujar Nenek pada salah satu asistennya. “Valla sama Vilo makan yang dulu, berantemnya nanti lagi,” lanjutnya.

Mendengarnya, Alby dan Hana hanya terkekeh seraya menatap manik satu sama lain. Melihat bagaimana Nenek terus bertambah tua tetapi kasih sayangnya tetap sama atau bahkan bertambah seperti mereka baru lahir ke dunia dulu.

Wajar saja, sekarang Nenek hanya tinggal sendiri. Setelah kepergian Kakek, tidak ada lagi yang dapat Nenek ajak untuk berbicara selain anak dan cucunya yang kerap kali berkunjung. Ah, dan tentu saja para asistennya.

“By,” panggil Hana.

Yang dipanggil namanya hanya berdehem singkat sebab masih menikmati sup hangat yang disediakan sang nenek.

“Mau minta tolong apa?” tanya gadis cantik itu.

Tangannya kembali bergerak menyuap sesendok penuh kuah hangat dari sop jagungnya.

Berbeda dengan Alby, Hana hanya menyantap potongan daging ayam yang ada di dalam supnya. Gadis cantik itu tidak terlalui menyukai jagung.

Mendengarnya, Alby segera menelan makanan yang tersisa di mulutnya untuk kemudian meneguk setengah gelas air putih di hadapannya.

“Oh, iya. Untung lo ingetin gua,” ujar Alby. “Lo kenal Airin?” tanyanya.

Hana meletakkan sendok makannya di sebelah mangkuk. “Lo kenal Airin?” balasnya dengan bertanya.

“’Kan gua nanya sama lo, Han. Kenapa lo jadi nanya balik ke gua?” sarkas lelaki tampan itu.

“Ish!” keluh Hana “‘Kan aneh kalo lo udah kenal anak-anak di sekolah selain anggota kelas lo padahal masuk kemaren, makanya gua nanya,” sambungnya.

Alby, lelaki tampan itu merapikan alat makannya di dalam mangkuk sup yang sudah ia lahap habis. Ia memejamkan maniknya sejenak lalu menghela napas panjang.

“Heran banget gua sama kebodohan lo yang gak pernah ilang dari dulu. Tinggal jawab aja apa susahnya sih,” balas Alby.

“Padahal lo yang minta tolong, tapi gua yang dibodoh-bodohin,” protes gadis cantik itu.

“Harus banyak-banyak sabar emang ngobrol sama lo ini, Han. Nenek kenapa tahan sih kedatengan lo tiap hari? Heran gua,” sindirnya.

“Lo nanti gua siram pake kuah sop jagung, mau, ya, By,” ancam Hana.

“Paling lo yang kena marah Nenek. Iya ‘kan, Nek,” ucap lelaki tampan itu sembari menoleh ke arah Nenek

Ternyata wanita tua itu sudah terlelap saat menemani sepasang cucunya menyantap makanan di meja makan.

“Nenek tidur. Lo gak ada yang belain,” balas gadis cantik itu seraya mengeluarkan lidahnya, menggoda sang sepupu.

“Balik lagi deh ke pertanyaan gua,” ucap Alby.

“Airin? Iya, gua kenal. Itu temen sebangku gua. Kenapa? Demen lo?” tanyanya bertubi-tubi.

“Iya,” jawab lelaki tampan itu singkat.

“Santai, By. Masih hari pertama, udah naksir orang aja lo,” ujar Hana.

“Naksir orang mah gak kenal waktu, Han. Kayak lo nih. Pasti naksir orangnya nunggu waktu, jadinya malah gak pernah suka sama orang,” ledek Alby.

“Gua siram kuah sop beneran, ya, By,” gertak gadis cantik itu.

“Ya, gua bener, kan? Buktinya sampe sekarang lo gak pernah suka sama orang,” entengnya.

“Lo gak tau apa-apa mending diem,” ucap Hana. “Dan kalo lo mau tau tentang Airin mending nurut sama gua,” finalnya sembari memelototi sang lawan bicara.

“Neng Airin sendiri aja? Biasanya sama Den Farel,” tanya Bi Ijah ramah.

Sebetulnya, selain Alvino dan Nalandra, hanya Bi Ijah-lah yang mengetahui kedekatan Farelio dengan Airin.

“Iya, Bi. Farel-nya belom dateng,” jawab Airin tak kalah ramah.

Di pagi yang mendung nan berawan hari ini, sebelum memasuki lingkungan sekolah, gadis cantik itu menyempatkan dirinya untuk membeli sebungkus roti dan sekotak susu, untuk sarapan pastinya.

“Den Vino sama Den Alan juga belom dateng, Neng?” tanya Bi Ijah lagi seraya menyerahkan uang kembalian.

Airin menerima pecahan uang sepuluh ribu itu lalu memasukkannya ke saku yang menempel pada kemeja seragamnya.

“Kayaknya mereka bertiga bareng, Bi,” balas gadis cantik itu.

“Bu, ada roti coklat?” tanya seorang siswa laki-laki yang datang tiba-tiba.

Airin, gadis cantik itu terhenyak saat suara sedalam palung dari lelaki tampan yang berdiri di sebelahnya menyeruak ke dalam indera pendengarannya.

“Mau yang merk apa, Den? Ini dipilih aja,” ujar Bi Ijah.

Wanita paruh baya itu mempersilakan siswa laki-laki tersebut untuk memilih sesuka hatinya roti dengan brand apa yang akan dibelinya.

Terdapat banyak roti isi coklat atau roti rasa coklat yang dapat ia pilih. Lelaki tampan tersebut mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada dagunya yang runcing.

“Enaknya yang mana, Bu?” tanyanya.

“Aduh, Den. Bibi ‘kan di sini jualan, pasti Bibi bakal bilang semuanya enak dong,” ujar Bi Ijah dengan candaannya yang khas.

Mendengarnya, siswa laki-laki itu tertawa. Sepasang matanya menyipit saat suara tertawaan yang juga dalam itu terdengar.

Masih bingung dengan pilihannya, akhirnya lelaki tampan itu menolehkan pandangannya pada Airin yang tengah fokus mengetik pada layer ponselnya sembari memeluk jajanannya.

“Eh, cewek,” panggilnya.

Merasa seseorang menyeru padanya, gadis cantik itu mengangkat pandangannya untuk kemudian menatap heran pada lelaki yang memiliki tinggi badan jauh terpaut darinya.

“Gua?” tanya Airin memastikan. Jari telunjuknya mengarah pada wajahnya.

“Ya, emangnya selain lo, ada cewek lain di sini?” ujarnya seraya mengidikkan dahunya.

“Bi Ijah,” enteng gadis cantik itu.

Jari telunjuk yang sedari tadi mengarah padanya, kini mengarah kepada wanita paruh baya di depannya.

Bi Ijah, yang menyaksikan adegan komedi tersebut, hanya tertawa renyah sembari menunjukkan deretan giginya.

“Ya, udah, terserah lo. Roti yang enak apa? Cepetan. Gua laper,” jelas lelaki tampan itu.

“Gak tau,” ucap Airin. “Gua selalu beli merk ini,” sambungnya.

Gadis cantik itu menunjukkan bungkusan roti rasa coklat yang dimilikinya. Menanggapinya, lelaki tampan itu hanya mengangguk paham dan Airin Kembali fokus pada ponselnya.

“Ya, udah, Bu. Saya beli yang ini aja,” ujarnya.

Lelaki tampan itu akhirnya memilih roti coklat dengan brand yang sama dengan yang Airin beli. Kemudian, ia mengeluarkan uang pecahan seratus ribu untuk diserahkan ke Bi Ijah.

“Aduh, Den. Ini uangnya gede banget, gak ada uang kecil, ya?” tanya Bi Ijah.

“Maaf, Bu. Saya juga uangnya cuma itu,” jelasnya diiringi dengan senyuman menawan.

“Bibi cari kembaliannya dulu, ya, Den,” ucap wanita paruh baya itu.

Setelahnya, Bi Ijah melengang masuk ke dalam rumahnya yang terletak tak jauh dari sana, masih di berada di sekitaran lingkungan sekolah.

“Lo pasti gak suka stoberi, ya,” sela lelaki tampan itu.

“Hah? Kok lo tau?” tanya Airin penasaran.

Gadis cantik itu kembali menengok pada siswa laki-laki tampan yang berdiri tepat di sebelahnya. Jujur, Airin belum terbiasa dengan suara beratnya.

“Orang yang biasanya beli roti isi coklat tuh karena dia gak suka sama roti isi stoberi. Rasa lain terlalu aneh, jadi pelariannya coklat,” jelasnya.

Airin mengernyitkan keningnya. Sepasang manik selegam senjanya mengerjap beberapa kali. Ada benarnya apa yang lelaki tampan di hadapannya ini katakana, batinnya.

“Bener sih,” jawabnya.

“Ini, Den, kembaliannya. Maaf, ya, lama,” sela Bi Ijah yang datang membawa banyak pecahan uang untuk dijadikan kembaliannya.

“Makasih, Bu,” ucap lelaki tampan itu.

“Bi, Airin duluan, ya,” ucap Airin sembari melangkahkan kakinya menjauh dari warung kecil tersebut.

Namun, belum jauh gadis cantik itu berjalan, sebuah tangan kekar menghentikan pergerakannya. Lelaki tampan itu menarik tas ransel yang Airin gunakan.

“Tunggu,” ucapnya.

“Lo gak bisa lebih lembut sedikit, ya? Hampir jatoh nih gua,” protes Airin.

“Lo satu sekolah sama gua ‘kan?” tanya lelaki tampan itu.

“Iya,” singkatnya.

“Oh, ya, udah. Syukur deh. Sana lo balik jalan lagi,” ujar siswa laki-laki itu.

Selepasnya, Airin mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap lelaki tampan yang hampir saja membuat tali tas ranselnya putus dengan sinis.

Berbeda dengan gadis cantik itu, siswa laki-laki itu hanya membalas Airin dengan sebuah seringai. Melihatnya, Airin langsung melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda.

“Cantik.”

“Aneh.”

Paling tidak, itulah kata yang masing-masing keluar dari mulut sepasang siswa yang baru saja membeli roti isi coklat di warung tempat Bi Ijah berjualan pagi ini.

Tak berselang lama dari pesang singkat yang Airin terima dari Farelio, lelaki tampan tersebut menghubunginya melalui video call.

“Airin,” panggil Farelio dari seberang sana.

Gadis cantik dibuat terhenyak hatinya kala indera penglihatannya menangkap kondisi dari lelaki kesayangannya. Airin hampir menangis saat itu juga.

Tubuh yang biasanya terlihat atletis, kini nampak sangat kurus. Juga, kantung mata tebal dari manik selegam malam milik Farelio. Ditambah, tatanan kamar berantakan yang menjadi latar belakang.

“Kamu gak apa-apa, Rel?” tanya Airin khawatir.

“Enggak, Rin. Aku gak baik-baik aja. Aku butuh kamu,” jelas lelaki tampan itu.

“Aku mau bantu andai aku bisa, Rel,” balas Airin.

“Tolong bantu aku, Rin,” ucap Farelio lemas.

“Apa yang bisa aku bantu untuk kamu, Rel?” tanya gadis cantik itu memastikan.

“Aku mau main sama kamu,” ucapnya.

Airin, gadis cantik itu sempat menahan napasnya sebentar. Sepasang manik selegam senjanya menatap lurus kea rah layar ponsel.

“Apa, Rel?” tanya Airin lagi.

“Aku mau main sama kamu, Airin. You heard that,” sergah Farelio.

Terdapat penekanan di setiap kata yang lelaki tampan itu ucapkan, terutama pada bagian bermain. Mendengarnya, gadis cantik itu menghela napas panjang.

“Kamu udah makan, Rel?” ucap Airin mengalihkan topik.

Farelio menggeleng menjawab pertanyaan dari gadisnya. “I can’t even eat, Airin. I want you.”

“Kamu gak laper emangnya? Kamu mending makan dulu, nanti kamu sakit,” ujar sang gadis.

Bergantian, kali ini Farelio yang menghela napas sembari mengusap wajahnya kasar. “Sounds so cliché,” gumamnya.

Walaupun berucap pelan, Airin dapat mendengar jelas apa yang lelaki kesayangannya itu katakan. Hatinya bagai dihujam seribu belati.

Jika boleh jujur, Airin sangat mengkhawatirkan keadaan Farelio. Namun, apa yang ia dapatkan?

Hanya gairah yang memuncak yang terus saja muncul dari lelaki itu. Airin sebisa mungkin menahan tangisnya.

“Airin,” panggil Farelio.

Yang dipanggil Namanya hanya berdehem singkat. Gadis cantik itu memalingkan wajahnya dari arah kamera depan ponsel, membuat Farelio curiga.

“Kamu kenapa, Rin?” tanyanya seolah tanpa dosa.

“I’m okay, Rel,” balas Airin.

“Then, let’s start,” ajak Farelio.

Mendengarnya, Airin menundukkan pandangannya. Sejujurnya, ia tidak nyaman dengan hal ini, having sex by phone. Gadis cantik itu tidak menyukainya.

Setelah berkata demikian, Farelio meletakkan ponselnya di atas meja belajar dengan tumpukkan buku yang menjadi peyangga.

Airin, gadis cantik itu mau tidak mau harus mengikuti perintah sang dominan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia sangat sulit berkata tidak.

Serupa dengan lelaki kesayangannya, Airin memindahkan posisi ponselnya ke atas meja belajarnya, sedangkan dirinya duduk di tepi ranjang demi memudahkan Farelio memandang seluruh tubuhnya.

“You look so gorgeous, Airin,” puji Farelio.

Kala Airin perlahan melucuti seluruh baju tidurnya dan menyisakan sepasang bra dan pakaian dalam berwarna hitam.

Jika biasanya sanjungan yang Farelio ucapkan padanya dapat membuat perutnya dipenuhi kupu-kupu, tetapi hal itu tidak berlaku pada kesempatan ini.

Di seberang sana, Farelio mulai meluruhkan celana pendek berserta celana dalamnya. Membebaskan kepemilikannya yang sudah terasa sesak sejak tadi.

“What you want me to do, Farel?” tanya Airin pasrah.

Sepasang manik selegam senjanya memandang ke arah kamera ponsel dengan tatapan datar. Airin dapat melihat bagaimana Farelio mulai terbakar api gairah.

“Squeeze you boobies,” kata lelaki tampan itu.

Mendengarnya, gadis cantik itu melakukan persis apa yang sang dominan perintahkan. Kedua tangannya bekerja meremas sepasang payudara sintalnya.

“Nghh, ahh, Airin, nghh, you look so hot,” ujar Farelio. “Moan my name, Rin,” sambungnya.

Lelaki tampan itu sibuk memijat penisnya yang mencuat. Perlahan, tangan kirinya terus memberikan alat vitalnya permainan solo.

“Ahh, Farel, ahhh,” desah Airin sembari masih memijat payudaranya.

“Now, take off youe bra,” lanjut Farelio.

Dengan begitu, gadis cantik itu melepas bra yang melindungi buah dadanya. Ia lempar kain it uke sembarang arah. Jika boleh jujur, Airin sangat tidak menikmati permainan ini.

“Ahh, shit!” umpat Farelio sembari menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit.

Berbeda dengan sang gadis, lelaki tampan itu benar-benar menikmati permainan yang ia ciptakan sendiri.

Airin masih bermain dengan sepasang gunung sintalnya di sana. Gadis cantik itu dapat melihat dengan jelas bagaimana Farelio menikmati dirinya.

“Ahh, remove, nghh, your panties, Rin,” ujar Farelio susah payah.

Sesuai dengan permintaan Farelio, gadis cantik itu menanggalkan kain terkahir yang menempel pada tubuh indahnya.

Dapat dilihat bahwa Farelio terlalu berlarut pada fantasi yang ada di dalam kepalanya serta pemandangan yang ada pada layar ponselnya.

“Nghh, ahh, Airin,” desah Farelio.

Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu mengelukan nama gadisnya untuk dijadikan sebagai bahan bakar hasratnya. Tangannya terus bekerja keras di bawah sana.

“Rub your clit,” singkat lelaki tampan itu.

“Mine doesn’t wet at all, Farel. It would hurt me,” jelas Airin.

“Use your saliva,” entengnya.

Mendengarnya, gadis cantik itu menghela napas panjang. Ia masih tidak percaya dengan aktivitas yang tengah ia lakukan bersama lelaki kesayangannya sekarang. Kemudian, ia menjilat jari tengah dan jari telunjuknya.

“Mphh,” lirihan gadis cantik itu tertahan.

Saat ia mengusap kepemilikannya. Terasa ngilu dan nikmat secara bersamaan. Namun, Airin berani bertaruh bahawa rasa sakit lebih menguasai dirinya.

Setelah dari tadi sibuk memandang ke arah atas dan penisnya secara bergantian, kini Farelio menatap gadis cantik yang terpampang pada layar ponselnya dengan intens.

Lelaki manis itu selalu menyukai bagaimana penampakan vagina gadisnya yang terlihat menggiurkan dengan warna pink kemerahan. Belum lagi, kedutan samar yang terlihat sangat jelas, menurut Farelio.

“Ahh, Rin, nghh, i’m close,” ucap Farelio seraya mempercepat pergerakan tangannya pada penisnya.

Demi mempercepat penjemputan titik ternikmat lelaki kesayangannya, Airin melakukan hal serupa.

Ia meningkatkan tempo permainan jarinya pada vaginanya. Jari tengahnya bergerak menusuk titik manisnya berkali-kali.

“Ahh, Rel,” desah Airin.

Farelio, lelaki tampan itu memejamkan sepasang manik selegam malamnya dengan sangat erat saat dirasa pelepasannya sebentar lagi akan datang.

“Ahh!” pekiknya yang dilingkupi akan rasa nikmat.

Cairan kental berwarna putih itu mengotori paha, permukaan meja belajar, bahkan sedikit wajahnya. Farelio diburu napas.

Begitu tahu lelaki kesayangannya mencapai pelepasannya, dengan segera Airin mencabut jari-jarinya dari bawah sana. Ia meringis kesakitan.

Airin bangkit dari posisi duduknya untuk berlari kecil ke kamar mandi. Di dalam sana, setelah mencuci tangannya, gadis cantik membekap mulutnya sendiri. Airin menangis.

Di samping rasa perih pada vaginanya, gadis cantik itu juga merasa perih pada hatinya. Air mata yang turun dari pelupuk matanya membanjiri pipinya.

“Farel,” lirih Airin tertahan.

Di saat yang bersamaan, Farelio yang masih dilingkupi oleh rasa nikmat, tanpa sadar juga menggumamkan nama gadisnya.

“Airin.”

Sesampainya di rumah, Farelio langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah nan megah itu. Dalam pandangannya, tidak ada siapapun di sana selain para asisten rumah tangganya.

“Farelio,” panggil suara berat itu.

Itu Kendrick, ayahnya. Lelaki paruh baya itu tiba-tiba saja muncul dari ruang kerjanya saat Farelio hendak menaiki tangga menuju kamar tidurnya.

“Masuk. Papi mau bicara sama kamu,” ujar Kendrick.

Setelahnya, lelaki paruh baya itu kembali masuk ke dalam ruangannya dengan Farelio yang mengekorinya.

Farelio, lelaki tampan itu mendudukkan dirinya di atas sofa besar yang terletak berseberangan dengan meja kerja sang ayah.

“Dari mana aja kamu?” tanya Kendrick.

Kendrick memposisikan dirinya menyandar pada meja kerjanya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang maniknya menatap lurus pada sang anak.

“Rumah temen,” jawab Farelio singkat.

“Siapa?” tanya Kendrick lagi.

“Vino sama Alan,” balasnya.

“Jangan bohong. Kamu gak di rumah mereka selama dua minggu ini. Di mana kamu?”

Suara yang pernah menjadi favorit Farelio sebelum ia tidur di malam hari itu terdengar kian mengintimidasi.

Lelaki tampan yang sedari tadi mengatupkan telapak tangannya seraya memandang ke arah lantai, kini berubah menjadi menatap tajam ke arah sang ayah.

“Papi udah tau tapi kenapa masih tanya Farel? Papi ‘kan udah dapet informasi dari kaki tangan Papi. Jadi, untuk apa Papi tanya Farel lagi?” sarkas Farelio.

Dalam hitungan detik, atmosfer di dalam ruang kerja yang dipenuhi dengan kumpulan buku yang tersusun rapi pada rak kayu mahal itu berubah mencekam.

Aura kuat yang dikeluarkan sepasang ayah dan anak itu benar-benar terasa menegangkan.

“Kamu maunya apa sih, Rel? Papi capek ngadepin kamu yang kayak gini. Kamu tau kamu bisa minta apa aja ke Papi. Bilang aja ke Papi apa mau kamu,” jelas Kendrick.

“Farel udah bilang ‘kan kalo Farel maunya Mami, Pi,” ujar lelaki tampan itu.

Mendengarnya, Kendrick mengusap wajahnya kasar. Kemudian, lelaki paruh baya itu menghela napas panjang. Selalu saja sama, apa yang terjadi antara dirinya dan anak tunggalnya itu.

“Ada Yolanda, Farel. Dia yang akan jadi Mami buat kamu mulai sekarang. Masalahnya di mana?” tegas sang ayah.

“Mami Farel cuma satu, Pi, Mami Alisha, gak ada yang lain,” jelas Farelio.

“Kamu tau keadaan kita sekarang, Farel. Alisha ninggalin kita berdua! Dia pergi dari hidup kita, Farel,” ucap Kendrick.

Farelio dapat mendengar jelas bagaimana sang ayah memberi penekanan pada kata ‘meninggalkan’ di dalam kalimatnya.

Setelahnya, lelaki tampan itu berdiri dari posisi duduknya. Ia mengeratkan handle tas ranselnya pada punggung sebelah kanannya.

“Farel rasa Farel gak harus ngejelasin alasan Mami pergi ninggalin kita, Pi. Papi yang tau kenapa Mami bisa pergi dari hidup kita,” jelas Farelio.

Mendengar apa yang Farelio sampaikan padanya, Kendrick menggeram rendah untuk kemudian melangkah mendekati sang anak.

PLAK!

Kendrick menampar Farelio dengan keras. Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu sampai menoleh ke arah samping sebab ulah sang ayah.

Farelio dapat merasakan sakitnya tamparan itu, tapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan kepergian sang ibu.

Lelaki tampan itu kembali memalingkan wajahnya untuk menatap sang ayah. “Farel sayang Papi,” finalnya.

Selepasnya, Farelio melengang pergi dari ruang kerja Kendrick untuk menuju kamar tidurnya di lantai dua. Kendrick dapat mendengar jelas sang anak yang membanting pintu dengan keras.

Masih dengan amarah yang berapi-api, Kendrick merogoh celana kerjanya dan mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka aplikasi dan kemudian menekan satu tombol, di mana tombol tersebut berfungsi untuk mengunci pintu kamar tidur anaknya secara otomatis.

Klik!

Farelio menoleh kala suara tak asing itu menyeruak ke dalam indera pendengarannnya.

Ia berdecak kesal sebab tau asal dari suara itu. Ya, sang ayah mengurungnya di dalam kamar tidurnya.

Lelaki tampan itu melempar tas ranselnya ke sembarang arah. Ia melempar dirinya ke atas ranjang berukuran besar dan kemudian memejamkan maniknya.

“Airin,” lirih Farelio.

“Kamu masak apa, Rin?” tanya Farelio dari posisi duduknya di atas sofa di ruang televisi.

“Apa, Rel?” balas Airin dengan kembali bertanya.

Pasalnya, gadis cantik itu tidak dapat mendengar jelas apa yang lelaki kesayangannya itu tanyakan padanya.

Dengan begitu, Farelio melompat posisi duduknya untuk kemudian menghampiri gadisnya yang tengah sibuk menumis di dapur.

“Aku nanya, kamu masak apa?” tanya Farelio lagi.

Namun, kali ini, lelaki tampan itu melingkarkan sepasang lengan kekarnya pada pinggang ramping yang membelakanginya.

Airin, gadis cantik itu sempat terkesiap sebab dekapan Farelio yang tiba-tiba dan terasa sangat erat.

“Aku masak ayam lada hitam sama capcay,” jelas Airin seraya mengatur napasnya yang menggebu sebab darahnya yang berdesir cepat.

Ya, bagaimana tidak. Selain Farelio yang memeluknya semakin kencang, telapak tangan besarnya juga bergerilya di daerah sekitar.

“Aku lagi masak, Rel,” ujar gadis cantik itu.

“Iya, aku tau,” entengnya.

“Lepas dulu,” pinta Airin.

Mendengarnya, bukannya berhenti, Farelio malah semakin bersemangat untuk menggoda gadisnya.

Dihirupnya aroma tubuh Airin yang selalu menjadi candu baginya. Hidung bangir itu terasa menggelitik pada area lehernya.

“Nghh, Farel,” keluh gadis cantik itu.

“Kamu lanjut masak aja,” ujar Farelio.

“Ya, gimana aku bisa masak kalo kamu meluk aku kayak gini,” jelas Airin.

Farelio, lelaki tampan itu seolah tuli dan tidak memperdulikan peringatan yang dilontarkan gadisnya.

Sebelah tangan Farelio meluruhkan tali gaun tidur yang dikenakan Airin. Dengan segera, gadis cantik itu mematikan kompornya.

“Farel,” panggil Airin.

“Hm,” balasnya hanya dengan deheman singkat.

“Kamu mau apa?” tanyanya.

Mendengarnya, Farelio membuka matanya yang sedari tadi terpejam sebab permainan yang ia ciptakan sendiri.

“Can i be honest? I want you,” jelasnya.

Sepersekian detik kemudian, Farelio menangkup gadisnya agar naik ke dalam gendongannya.

Lelaki manis itu membawa Airin untuk duduk di atas meja makan setelah sebelumnya menyapu bersih barang-barang yang ada di atas sana.

“You look so fucking tempting with this house dress,” ujar Farelio.

“This is just a simple house dress, Farel,” balas Airin.

“But still, Airin. You turn me on,” jawab lelaki tampan itu.

Selanjutnya, yang terjadi adalah Farelio menarik tengkuk gadisnya agar masuk ke dalam ciumannya.

Refleks, Airin mengalungkan sepasang lengannya pada bahu lebar di depannya. Ia mulai mengikuti permainan tersebut.

“Mphh,” lirih Airin.

Kala Farelio menyingkap gaun tidurnya untuk kemudian mengusap lembut paha bagian dalamnya.

Farelio menyudahi acara bertukar saliva dengan sang gadis. Lalu, lelaki tampan itu berjalan ke arah lemari pendingin.

Ia mengambil tiga buah bongkahan es batu berukuran kecil dari freezer. Farelio kembali menghampiri Airin yang sudah tersedia di atas meja makan.

“I will put these ice cubes into your pussy, Airin. Then, if these things already melted down there, i will smash you up till i feel satisfy,” jelas Farelio sembari berbisik pada telinga kiri Airin.

Gadis cantik itu dengan susay payah menelan ludahnya saat bias suara sedalam palung itu menyeruak ke dalam indera pendengarannya.

Setelah pemaparan singkat nan menggoda itu, Farelio bergerak membuka gaun tidur gadisnya dan meletakkannya di kursi meja makan.

“Damn, you look so delicious, Airin,” ucap Farelio.

Dihadapannya, kini, terlihat pemandangan yang membuat Farelio tidak akan merasa bosan walau harus menatapnya seharian penuh.

Airin yang setengah telanjang, hanya menggunakan sepasang bra dan pakaian dalam dengan warna senada, navy blue.

Farelio menatap Airin seolah dirinyalah yang menjadi menu makan siangnya. Sepasang manik selegam malam itu membulat.

Ingin berpenampilan serupa dengan sang gadis, Farelio juga membuka satu per satu kancing kemeja sekolahnya yang sedari tadi masih membalut tubuh atletisnya.

“Nghh, ahh!” pekik Airin.

Saat suhu hangat tangan Farelio bercampur dengan dinginnya bongkahan es batu yang mengenai vaginanya.

Airin menengadah ke arah langit-langit dapur dengan sepasang lengan kurusnya yang menumpu beban tubuhnya.

Setelah selesai, Farelio kembali mendekatkan wajahnya pada telingan kiri Airin. Ia menjilat daun telinga sang gadis.

“I will start,” singkat lelaki tampan itu.

Farelio memulai permainan dengan memberikan gadisnya tanda kepemilikan berwarna merah keungunan di segala tempat yang bisa ia jamah.

Airin menggiggit pipi bagian dalamnya demi menetralisir rasa ngilu yang bercampur dengan nikmat itu.

“Ahh, Rel,” desah Airin.

Bagaimana kecupan serta lidah lelai tanpan langsung mengenai setiap inci tubuhnya, Airin sangat merasa terpuaskan.

Belum lagi, lelehan es batu yang membanjiri vaginanya. Entah dari mana Farelio mendapat ide gila ini. Airin sangat menyukainya.

Farelio menyelesaikan sesi mengotori ruang leher dan dada gadisnya dengan tanda khas kenikmatan yang ia buat.

Kemudian, tangannya bergerak melepas pengait bra yang melingkat pada dada sang gadis.

“Nghh, ahhh, Rel,” lirih gadis cantik itu.

Saat Farelio mengulum sebelah putingnya dan tangannya yang terbebas digunakan untuk memijat lalu sesekali memilin ujung putingnya yang mencuat.

Airin memejamkan matanya erat-erat. Rasa nikmat yang melingkupinya membuatnya terbang ke angkasa. Farelio sangat andal.

Farelio, lelaki tampan itu menyeringai puas di sela-sela kegiatannya. Tak jarang, ia juga melirik ke arah atas untuk melihat wajah Airin.

Farelio seolah mendapat lotere saat memandang wajah cantik gadisnya yang mengekspresikan kenikmatan duniawi.

“Ahh, Rel, i can’t, nghh, hold it, ahhh, anymore,” ujar Airin susah payah.

Mendengarnya, Farelio mengehentikan aktivitas menyusu pada payudara kesukannya. Wajahnya mendekat pada wajah sang gadis.

“What thing that you can’t hold anymore, Airin?” tanya Farelio sensual.

“Down there, ahh,” jawab gadis cantik itu.

“But these ice aren’t melted yet,” balasnya.

“Please, nghh, ahh,” ucap Airin putus asa.

“Sure. I will give you my hand,” jelas Farelio.

Airin mengira bahwa Farelio akan memberinya bantuan berupa mengeluarkan es batu berbentuk kubus itu dari kepemilikannya.

Ternyata, yang sebenarnya yang terjadi adalah dua jari lelaki tampan itu ikut menelusup masuk ke dalam vaginanya dari balik pakaian dalamnya.

“Ahhh,” lenguh Airin.

Kala ibu jari lelaki tampan itu memutari klitorisnya. Sebelah tangan gadis cantik itu mencengkram erat bahu erat di hadapannya.

Perpaduan sensasi dingin dari es batu yang perlahan mencair dengan aksi jemari yang Farelio mainkan sukses membuat Airin terus mengelukan nama lawan mainnya.

“Do you feel good, Rin?” goda Farelio.

Airin, gadis cantik itu tidak sanggup menjawab dengan kata-kata. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Melihatnya, Farelio tersenyum puas. Lelaki manis itu semakin gencar memainkan jarinya di bawah sana.

“Nghh, ahh, Rel,” desahnya.

Pergerakan jari-jari lelaki tampan itu semakin leluasa pada vagina sang gadis. Sepertinya, semua bongkahan es itu telah meleleh sempurna.

Dengan cepat, Farelio menarik tangannya dari bawah sana untuk kemudian menurunkan celana seragam dan pakaian dalamnya.

“Akh!” pekik Airin lagi.

Saat penis yang sudah berdiri tegak itu masuk ke dalam vaginanya hanya dengan satu hentakan keras.

Farelio menikmati bagaimana miliknya mulai beradaptasi dengan milik Airin di bawah sana sebelum mulai bergerak pelan.

“Shh, ahh,” lirih Farelio.

Lelaki tampan itu menambah tempo permainannya sehingga menghasilkan suara pertemuan antara kulit yang lembap.

Farelio menyukai bagaimana vagina gadisnya terasa lebih basah sebab es batu yang sudah mencair.

“Rel, ahh,” lenguh Airin.

“This is so fucking good,” ujar Farelio seraya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit.

Airin dibuat kewalahan saat Farelio menggempurnya dengan tempo yang terus naik.

Plak!

Suara tepukan itu berasal dari Farelio yang menampar sebelah payudara Airin sehingga berubah warna menjadi merah.

“Ahh, Rel, i’m close,” ujar Airin.

“Me too, Rin,” balas Farelio.

Farelio makin dibuat gila oleh rasa nikmat yang menyelimutinya. Setelah dirasa akan menjemput pelepasannya, Farelio mengeluarkan penisnya dari dalam sana.

“Akh!”

“Ahh!”

Farelio menyemburkan sperma hangatnya ke arah perut rata Airin saat gadis cantik itu mencapai titik ternikmatnya.

Keduanya sama-sama diburu napas serta peluh membanjiri seluruh tubuh. Farelio menumpukkan kepalanya pada bahu kiri Airin.

Gadis cantik itu mendekap erat lelaki kesayangannya. Diusapnya dengan lembut kepala bagian belakang Farelio.

“Kamu jangan berani-berani pake daster kayak gini lagi di depan aku kalo kamu gak mau aku gempur sampe pingsan, ya, Rin,” ujar Farelio dengan napas yang tercekat.

Mendengarnya, sepasang manik selegam senja itu membulat lebar. Airin tahu Farelio tidak pernah main-main dengan ucapannya.

“Airin,” panggil Farelio lembut.

Airin, gadis cantik itu hanya diam sembari menatap deburan ombak lembut yang menari di hadapannya.

Farelio menghela napas panjang untuk kemudian memposisikan dirinya duduk di samping gadis kesayangannya.

“Kamu dari mana, Rel?” tanya Airin tanpa memalingkan tatapannya. “Kamu udah makan?” lanjutnya.

Farelio, lelaki tampan itu berniat untuk tidak menjawab pertanyaan yang Airin lontarkan padanya.

Ia lebih memilih untuk memandang pahatan indah wajah cantik gadisnya. Ditatapnya wajah yang selalu menjadi penawar ketika amarah datang menyelimutinya.

“Maaf,” ujar Farelio.

“Kenapa kamu minta maaf, Rel?” balas Airin memastikan.

Akhirnya, gadis cantik itu menolehkan pandangan pada lelaki tampan yang duduk di samping kanannya.

Airin, gadis cantik itu tidak menangis ataupun marah. Bahkan, di wajah cantiknya terpatri simpul manis yang selalu menjadi kesukaan Farelio.

“Maaf, aku gak ada waktu kamu butuh,” jawab Farelio.

Bukannya meladeni permohonan maaf dari lelaki kesayangannya, Airin malah terkekeh. Tangan kanannya bergerak untuk mengusap sebelah pipi Farelio.

“Akan selalu begini, Rel,” ucap Airin.

Farelio menangkup tangan kecil yang mengelus lembut pipinya. Lelaki tampan itu menggenggam tangan gadisnya erat.

“Setiap saat kamu nyakitin aku dan setiap saat aku berpikir untuk pergi dari kamu, tapi aku gak bisa. Mau sehebat apapun rasa sakit ini, mau seberapa keras aku berusaha untuk pergi, aku selalu balik lagi ke kamu. Aku gak tau hubungan ini baik atau enggak, untuk kita,” jelas gadis cantik itu.

Dengan penjelasan singkat nan menusuk hati, Farelio dapat melihat genangan air bening yang menumpuk di pelupuk manik indah gadisnya.

“Kamu harus tau aku sayang banget sama kamu, Farelio,” final Airin.