long-distance
Tak berselang lama dari pesang singkat yang Airin terima dari Farelio, lelaki tampan tersebut menghubunginya melalui video call.
“Airin,” panggil Farelio dari seberang sana.
Gadis cantik dibuat terhenyak hatinya kala indera penglihatannya menangkap kondisi dari lelaki kesayangannya. Airin hampir menangis saat itu juga.
Tubuh yang biasanya terlihat atletis, kini nampak sangat kurus. Juga, kantung mata tebal dari manik selegam malam milik Farelio. Ditambah, tatanan kamar berantakan yang menjadi latar belakang.
“Kamu gak apa-apa, Rel?” tanya Airin khawatir.
“Enggak, Rin. Aku gak baik-baik aja. Aku butuh kamu,” jelas lelaki tampan itu.
“Aku mau bantu andai aku bisa, Rel,” balas Airin.
“Tolong bantu aku, Rin,” ucap Farelio lemas.
“Apa yang bisa aku bantu untuk kamu, Rel?” tanya gadis cantik itu memastikan.
“Aku mau main sama kamu,” ucapnya.
Airin, gadis cantik itu sempat menahan napasnya sebentar. Sepasang manik selegam senjanya menatap lurus kea rah layar ponsel.
“Apa, Rel?” tanya Airin lagi.
“Aku mau main sama kamu, Airin. You heard that,” sergah Farelio.
Terdapat penekanan di setiap kata yang lelaki tampan itu ucapkan, terutama pada bagian bermain. Mendengarnya, gadis cantik itu menghela napas panjang.
“Kamu udah makan, Rel?” ucap Airin mengalihkan topik.
Farelio menggeleng menjawab pertanyaan dari gadisnya. “I can’t even eat, Airin. I want you.”
“Kamu gak laper emangnya? Kamu mending makan dulu, nanti kamu sakit,” ujar sang gadis.
Bergantian, kali ini Farelio yang menghela napas sembari mengusap wajahnya kasar. “Sounds so cliché,” gumamnya.
Walaupun berucap pelan, Airin dapat mendengar jelas apa yang lelaki kesayangannya itu katakan. Hatinya bagai dihujam seribu belati.
Jika boleh jujur, Airin sangat mengkhawatirkan keadaan Farelio. Namun, apa yang ia dapatkan?
Hanya gairah yang memuncak yang terus saja muncul dari lelaki itu. Airin sebisa mungkin menahan tangisnya.
“Airin,” panggil Farelio.
Yang dipanggil Namanya hanya berdehem singkat. Gadis cantik itu memalingkan wajahnya dari arah kamera depan ponsel, membuat Farelio curiga.
“Kamu kenapa, Rin?” tanyanya seolah tanpa dosa.
“I’m okay, Rel,” balas Airin.
“Then, let’s start,” ajak Farelio.
Mendengarnya, Airin menundukkan pandangannya. Sejujurnya, ia tidak nyaman dengan hal ini, having sex by phone. Gadis cantik itu tidak menyukainya.
Setelah berkata demikian, Farelio meletakkan ponselnya di atas meja belajar dengan tumpukkan buku yang menjadi peyangga.
Airin, gadis cantik itu mau tidak mau harus mengikuti perintah sang dominan. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia sangat sulit berkata tidak.
Serupa dengan lelaki kesayangannya, Airin memindahkan posisi ponselnya ke atas meja belajarnya, sedangkan dirinya duduk di tepi ranjang demi memudahkan Farelio memandang seluruh tubuhnya.
“You look so gorgeous, Airin,” puji Farelio.
Kala Airin perlahan melucuti seluruh baju tidurnya dan menyisakan sepasang bra dan pakaian dalam berwarna hitam.
Jika biasanya sanjungan yang Farelio ucapkan padanya dapat membuat perutnya dipenuhi kupu-kupu, tetapi hal itu tidak berlaku pada kesempatan ini.
Di seberang sana, Farelio mulai meluruhkan celana pendek berserta celana dalamnya. Membebaskan kepemilikannya yang sudah terasa sesak sejak tadi.
“What you want me to do, Farel?” tanya Airin pasrah.
Sepasang manik selegam senjanya memandang ke arah kamera ponsel dengan tatapan datar. Airin dapat melihat bagaimana Farelio mulai terbakar api gairah.
“Squeeze you boobies,” kata lelaki tampan itu.
Mendengarnya, gadis cantik itu melakukan persis apa yang sang dominan perintahkan. Kedua tangannya bekerja meremas sepasang payudara sintalnya.
“Nghh, ahh, Airin, nghh, you look so hot,” ujar Farelio. “Moan my name, Rin,” sambungnya.
Lelaki tampan itu sibuk memijat penisnya yang mencuat. Perlahan, tangan kirinya terus memberikan alat vitalnya permainan solo.
“Ahh, Farel, ahhh,” desah Airin sembari masih memijat payudaranya.
“Now, take off youe bra,” lanjut Farelio.
Dengan begitu, gadis cantik itu melepas bra yang melindungi buah dadanya. Ia lempar kain it uke sembarang arah. Jika boleh jujur, Airin sangat tidak menikmati permainan ini.
“Ahh, shit!” umpat Farelio sembari menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit.
Berbeda dengan sang gadis, lelaki tampan itu benar-benar menikmati permainan yang ia ciptakan sendiri.
Airin masih bermain dengan sepasang gunung sintalnya di sana. Gadis cantik itu dapat melihat dengan jelas bagaimana Farelio menikmati dirinya.
“Ahh, remove, nghh, your panties, Rin,” ujar Farelio susah payah.
Sesuai dengan permintaan Farelio, gadis cantik itu menanggalkan kain terkahir yang menempel pada tubuh indahnya.
Dapat dilihat bahwa Farelio terlalu berlarut pada fantasi yang ada di dalam kepalanya serta pemandangan yang ada pada layar ponselnya.
“Nghh, ahh, Airin,” desah Farelio.
Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu mengelukan nama gadisnya untuk dijadikan sebagai bahan bakar hasratnya. Tangannya terus bekerja keras di bawah sana.
“Rub your clit,” singkat lelaki tampan itu.
“Mine doesn’t wet at all, Farel. It would hurt me,” jelas Airin.
“Use your saliva,” entengnya.
Mendengarnya, gadis cantik itu menghela napas panjang. Ia masih tidak percaya dengan aktivitas yang tengah ia lakukan bersama lelaki kesayangannya sekarang. Kemudian, ia menjilat jari tengah dan jari telunjuknya.
“Mphh,” lirihan gadis cantik itu tertahan.
Saat ia mengusap kepemilikannya. Terasa ngilu dan nikmat secara bersamaan. Namun, Airin berani bertaruh bahawa rasa sakit lebih menguasai dirinya.
Setelah dari tadi sibuk memandang ke arah atas dan penisnya secara bergantian, kini Farelio menatap gadis cantik yang terpampang pada layar ponselnya dengan intens.
Lelaki manis itu selalu menyukai bagaimana penampakan vagina gadisnya yang terlihat menggiurkan dengan warna pink kemerahan. Belum lagi, kedutan samar yang terlihat sangat jelas, menurut Farelio.
“Ahh, Rin, nghh, i’m close,” ucap Farelio seraya mempercepat pergerakan tangannya pada penisnya.
Demi mempercepat penjemputan titik ternikmat lelaki kesayangannya, Airin melakukan hal serupa.
Ia meningkatkan tempo permainan jarinya pada vaginanya. Jari tengahnya bergerak menusuk titik manisnya berkali-kali.
“Ahh, Rel,” desah Airin.
Farelio, lelaki tampan itu memejamkan sepasang manik selegam malamnya dengan sangat erat saat dirasa pelepasannya sebentar lagi akan datang.
“Ahh!” pekiknya yang dilingkupi akan rasa nikmat.
Cairan kental berwarna putih itu mengotori paha, permukaan meja belajar, bahkan sedikit wajahnya. Farelio diburu napas.
Begitu tahu lelaki kesayangannya mencapai pelepasannya, dengan segera Airin mencabut jari-jarinya dari bawah sana. Ia meringis kesakitan.
Airin bangkit dari posisi duduknya untuk berlari kecil ke kamar mandi. Di dalam sana, setelah mencuci tangannya, gadis cantik membekap mulutnya sendiri. Airin menangis.
Di samping rasa perih pada vaginanya, gadis cantik itu juga merasa perih pada hatinya. Air mata yang turun dari pelupuk matanya membanjiri pipinya.
“Farel,” lirih Airin tertahan.
Di saat yang bersamaan, Farelio yang masih dilingkupi oleh rasa nikmat, tanpa sadar juga menggumamkan nama gadisnya.
“Airin.”