ttoguxnanaxranie

“Ma, Ranie pergi dulu, ya. Mau ke lapangan kompleks,” ujar gadis cantik itu setengah berteriak sembari berjalan melalui sang ibu yang tengah sibuk memerhatikan layar ponsel di sofa ruang tamu.

“Mau ke mana, Ran?” balas sang ibu dengan kembali bertanya. Wanita paruh baya yang kecantikannya masih seperti remaja umur 20an itu meluruhkan sedikit kacamata baca yang bertengger di hidungnya.

“Ke lapangan kompleks, Mama,” jawab Ranie malas.

“Ke lapangan kompleks? Cantik begini. Ngapain?” ucapnya seolah menginterogasi.

Sang ibu menelisik penampilan putri tunggalnya dari atas kepala sampai ujung kaki. Untuk seseorang yang akan berolahraga, pakaian yang Ranie kenakan terlalu berlebihan.

Dengan casual dress selutut berwarna navy blue yang kontras dengan kulitnya yang seputih susu serta rambutnya yang ia biarkan tergerai menutupi kedua bahunya, Ranie terlihat sangat menawan sore hari itu.

“Ya, emangnya kenapa? Anak semata wayang Mama ‘kan emang cantik. Kenapa heran?” elak Ranie.

“Oh, Mama tau. Kamu pasti mau ketemu Juna, anaknya Melisa. Iya ‘kan? Ngaku kamu,” sergah wanita paruh baya itu.

Mendengarnya, gadis cantik itu memutar bola matanya. Pada akhirnya, sang ibu mengetahui rencana yang sebenernya. Memang, insting seorang ibu tidak akan pernah salah. Sekarang, mau tidak mau, ingin tidak ingin, Ranie harus mengakuinya.

Belum sempat gadis cantik itu melontarkan penjelasan, sang ibu sudah mendahuluinya. “Mama tuh gak suka sama Juna, Ran. Anaknya sombong banget, persis kayak ibunya. Mama tuh gak pernah mau ke abang tukang sayur kalo Melisa belanja di sana juga,” jelas sang ibu.

Lagi, baru saja gadis cantik itu hendak membuka mulutnya untuk merampungkan kalimat yang sedari tadi tertahan di ujung lidahnya, wanita kesayangannya itu kembali menyela. “Kamu mending sama Savero deh, Ran. Dia anaknya baik, lembut, ramah, sopan juga. Orang tuanya juga Mama sama Papa kenal,” sambungnya.

“Udah belom? Ini mama ngomongnya udah apa belom? Nanti Ranie mau ngomong diputus lagi,” ujar Ranie sembari menatap sang ibu.

“Udah,” singkat wanita cantik itu.

“Ranie sama Savero ‘kan udah temenan dari kecil, Ma. Ya, gak mungkin aja antara Ranie sama Savero ada yang nyimpen rasa, kayak gak mungkin aja gitu,” jelas gadis cantik itu.

“Nih, Mama kasih tau, ya, Ran,” ucap sang ibu sembari menarik pelan tangan anak gadisnya agar duduk di sampingnya. “Gak ada yang gak mungkin. Dulu Mama sama Papa tuh musuhan, kamu tau? Akhirnya, bareng-bareng juga. Mama sama Papa yang saling gak suka aja bisa bersatu, apalagi kamu sama Savero yang dari kecil udah ke mana-mana bareng,” lanjutnya.

Sejenak, gadis cantik putri sulung dari Keluarga Dhanurendra itu menyatu dalam pikirannya. Otak mungilnya mencoba untuk memproses kalimat penjelasan dari wanita cantik kesayangannya.

Ah, tapi sepertinya itu hal yang mustahil. Apalagi, sahabat tampannya itu merupakan lelaki yang paling digemari para gadis disekolahnya. Tidak menutup kemungkinan Savero menaruh hati pada salah satu penggemarnya, bukan?

“Ah, udah deh, Ma. Ranie pusing. Ranie mau pergi dulu. Bye, Ma,” final gadis cantik itu. Sebelum melengang pergi, ia menyempatkan diri untuk mengecup sebelah pipi sang ibu.

Sementara itu, sang ibu hanya menggeleng merespon tingkah anak sulungnya. “Kamu kayak Papamu banget, Ran. Keras kepala. Gak akan berhenti sampe ke titik akhir,” gumamnya.

Tak lama berselang, setelaha kepergian Ranie, seseorang mengetuk pintu utama rumah megah nan mewah itu. Sang pemilik rumah melirik ke arah pintu.

Siapa yang bertamu di sore hari seperti ini, batin sang ibu. Wajah cantik itu terlihat berseri kala melihat sesosok lelaki tampan yang berdiri menjulang di beranda rumahnya.

“Selamat sore, Ma,” ujarnya. Itu Savero Ghazanvar, sahabat dari Ranindya Alister Dhanurendra atau bisa dibilang anak kesayangan Mamanya Ranie setelah anak kandungnya sendiri.

“Eh, Savero! Ya ampun, Nak. Mama kangen sama kamu,” ujar wanita paruh baya itu seraya memeluk erat anak laki-laki di hadapannya.

“Vero juga kangen sama Mama,” balasnya disertai senyuman manis. Lelaki tampan itu mengusap pelan punggung wanita yang ada di dalam dekapannya.

“Baru aja Ranie keluar, Ver. Kamu masuk dulu, ya. Mama buatin minum. Kamu udah makan?” tanyanya bertubi-tubi sesaat setelah melepaskan pelukannya.

Sepasang ibu dan lelaki tampan yang ia sudah anggap seperti anak sendiri itu melengang masuk ke dalam rumah.

Wanita paruh baya itu mempersilakan Savero untuk duduk sementara ia menyiapkan minuman dingin di dapur. Perlu diketahui bahwa Savero memiliki panggilan yang sama seperti Ranie memanggil ibunya, ya, dengan sebutan ‘Mama’.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, baik Ayah dan Bunda yang merupakan orang tua Savero maupun Papa dan Mama orang tua dari Ranie, keduanya sudah menjalin hubungan persahabatan sejak lama.

“Mama, ini ada masakan dari Bunda,” ujar lelaki tampan itu. Savero menyusul ibu dari sahabat kesayangannya itu ke arah dapur.

“Masukin ke kulkas aja, Sayang. Nanti Mama angetin kalo Papa sama Ranie pulang,” jelasnya.

Sejenak, lelaki tampan itu diam membeku dalam posisinya. “Ranie lagi keluar, ya, Ma?” tanya Savero basa-basi seraya memasukkan beberapa menu makanan ke dalam lemari pendingin.

“Iya, tadi katanya mau ke lapangan kompleks, mau ketemu sama Juna deh kayaknya,” lanjut wanita cantik itu.

Mendengarnya, lelaki tampan itu hanya menganggukkan kepalanya beberapa tanda menegerti. Bukannya tidak tahu, Savero malah tahu pasti apa tujuan dari sang sahabat berkunjung ke lapangan bersama itu. Padahal, Ranie sendiri bukan tipe manusia yang untuk bergerak.

Sore itu, Savero tenggelam bersama pikirannya terkait Ranie yang akan menyatakan cintanya pada Juna, sang kakak kelas. Lamunan lelaki tampan itu sempat terhenti kala dering nyaring sebuah ponsel menyeruak di seluruh sudut dapur kediaman Keluarga Dhanuredra.

“Halo, Yah,” ucap sang ibu.

Setelahnya, wanita paruh baya itu berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya, mungkin ke arah kamar tidurnya. Savero kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti.

Setelah selesai, lelaki tampan itu mendudukkan dirinya di atas sofa empuk di ruang tamu. Jemarinya sibuk mengetikkan beberapa pesan untuk dikirim kepada Ranie.

“Savero Sayang,” ucap sang ibu yang tiba-tiba muncul.

“Iya, Ma,” sahutnya.

“Mama jemput Papa dulu, ya. Katanya mobilnya mogok di jalan tol mau pulang ke sini. Vero kalo mau makan masak aja atau pesen makan di ojol aja, ya, Sayang. Uangnya ada di laci dapur,” jelas wanita cantik itu.

“Savero anter aja, ya, Ma?” tawar lelaki tampan itu.

“Gak usah, Sayang. Nanti Mama sekalian mau ke supermarket sama pesen kue buat Neneknya Ranie, untuk ulang tahunnya. Vero di rumah aja, tungguin Ranie pulang,” ujarnya.

Dengan begitu, Savero mengangguk mengerti. Setelah menyalami wanita cantik kesayangan setelah ibu kandungnya itu, ia mengantar Mama sampai di depan rumah.

Ia melambai sembari tersenyum manis ke arah mobil sedan putih yang perlahan mulai menghilang dari indera penglihatannya itu.

Savero hendak masuk ke dalam rumah besar nan megah itu saat sepasang telinganya mendengar jelas suara tangisan seorang perempuan yang samar-samar mendekat. Sepasang manik selegam malamnya memantau ke segala arah. Tak lama, seorang gadis cantik muncul menghampirinya.

“Ranie,” ucap Savero.

Gadis cantik itu berjalan gontai seraya kedua bahunya yang bergetar hebat sebab tangisannya. Melihatnya, Savero panik setengah mati. Ia berlari kecil ke arah Ranie. Apa yang terjadi pada sahabat kesayangannya itu?

“Kamu kenapa, Ran?” tanya lelaki tampan itu tak santai.

Ranie, yang ditanyai seperti itu bukannya menjawab, tangisnya malah semakin kencang. Refleks, Savero mengusap pucuk kepalanya untuk kemudian membawanya ke dalam pelukannya. Tangisan sedu itu terdengar sempat terdengar tertahan.

“Kita masuk dulu, ya. Tenangin diri kamu di dalem rumah,” ujar Savero.

Setelahnya, sepasang sahabat itu berjalan masuk ke dalam rumah Keluarga Dhanurendra. Di atas sofa, keduanya duduk saling berhadapan. Tidak lupa, Savero menyeduh teh herbal hangat untuk melegakan tenggorokan gadisnya yang sedari tadi tidak mau berhenti menangis.

“Ranie, berhenti dulu nangisnya. Nanti dada kamu sakit,” ucap lelaki tampan itu lembut. Tangannya tidak berhenti mengusap sebelah bahu Ranie.

“Aku…ditolak…Kak Juna, Ver,” gumam gadis cantik itu terbata.

Mendengarnya, Savero menghela napas panjang. Lelaki tampan itu sebenarnya sudah memprediksi kejadian ini. Bagaimana tidak, Juna, sang kakak kelas, saat ini tengah menjalin hubungan dengan salah satu siswi program pertukaran pelajaran dari Tiongkok.

Keduanya baru menjadi sepasang kekasih selama beberapa hari. Jadi, wajar saja tidak banyak yang tau. Terlebih lagi seorang Arjuna Hamamammi bukan termasuk ke dalam kategori siswa populer yang informasinya diminati banyak orang.

“Udah, Ranie. Jangan nangis lagi,” kata Savero menahan pilu.

Sejujurnya, melihat sang sahabat menitihkan air mata adalah kelemahan bagi Savero. Baginya, Ranie menangis adalah sakit hati terbesarnya setelah mengetahui apabila kedua orang tuanya sakit.

Senyum manis yang biasa terukir bahkan hanya dengan guyonan sepele itu, hari ini tidak nampak. Jika Ranie sakit hati, maka Savero akan merasakan hal yang sama.

“Aku…suka banget…sama…Kak Juna, Ver,” lirih gadis cantik itu.

“Tuhan itu baik, Ranie. Tuhan gak akan kabulin keinginan kamu kalo itu buruk. Berarti, Kak Juna emang bukan buat kamu,” jelas Savero.

Seolah mantra ajaib, setelah mendengar kalimat tersebut, tangisan gadis cantik itu langsung mereda. Sepasang bahu yang bergetar hebat itu kini berhenti. Manik selegam senja yang masih dienangi air mat aitu berbinar indah menatap sang sahabat.

“Iya, ya, Ver,” ucap Ranie.

“Iya dong, Ran. Jangan nangis lagi, ya. Ranie ‘kan perempuan hebat,” puji lelaki tampan itu dengan senyuman tulus serta maniknya yang menyipit.

Melihatnya, hati Ranie menghangat. Di situasi apapun, di keadaan apa saja, Savero selalu ada di sampingnya. Tidak hanya saat suka, melainkan saat duka juga. Gadis cantik itu harus berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mengirimkan malaikat dalam bentuk Savero Ghazanvar.

“Makasih, ya, Vero. Aku gak tau deh gimana jadinya kalo gak ada kamu,” kata gadis cantik itu lembut.

Di detik selanjutnya, dengan kesadaran penuh, Ranie memeluk erat sahabatnya seolah mengirimkan rasa terima kasih serta menyalurkan rasa sedihnya tadi.

Sementara itu, yang didekap hanya dapat membatu di tempatnya. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, Savero dipeluk oleh Ranie.

“Ran,” panggil lelaki tampan.

Yang dipanggil namanya hanya berdehem singkat untuk kemudian melepaskan dekapannya. Wajah cantik yang sebelumnya terlihat sendu, sekarang kembali berseri.

Ranie sudah dapat mengulas senyumnya lagi. Berbeda dengan gadisnya, Savero mematung dalam posisi duduknya. Beberapa kali maniknya mengerjap demi mengembalikan kewarasannya.

Ranie terkekeh. “Kamu kenapa deh, Ver? Kok bengong gitu? Baper, ya, aku peluk,” ledeknya.

Menengarnya, Savero menatap sinis ke arah sang sahabat. Lelaki tampan itu menyeringai seram. Savero pada sore menjelang malam hari itu seperti berubah menjadi pribadi yang lain, yang belum pernah Ranie lihat sebelumnya.

“Ver,” panggil gadis cantik itu agak ragu.

Savero, lelaki tampan itu lebih memilih untuk tidak menggubris ucapan sahabatnya. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih mendekat ke arah Ranie, semakin dekat dan semakin dekat. Sampai pada akhirnya, wajah tampan itu berhadapan dengan wajah cantik kesukaannya.

Sepasang manik selegam senja itu membulat. Ranie tidak pernah sedekat ini dengan sang sahabat. Entah mengapa, jantungnya berdegup lebh kencang dari biasanya.

“Ver,” panggil Ranie lagi.

“Hm?” balas Savero hanya dengan deheman singkat.

“Ini kita terlalu deket,” ujarnya.

“Ya, emangnya kenapa?” enteng lelaki tampan itu.

Selanjutnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang sahabat itu. Keduanya seolah larut di dalam atmosfer yang kian nyaman dan memanas.

Savero yang sibuk memandang sahabat kesayangannya itu, sedangkan Ranie yang mati-matian menahan debar aneh di dalam dadanya.

Sepersekian detik kemudian, yang terjadi ialah Savero mencium bibir gadisnya lembut. Ranie, gadis cantik itu sempat terhenyak. Sepasang manik selegam senjanya kembali membelalak, bahkan semakin lebar.

Namun, tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh gadis cantik itu. Ciuman itu seolah memberikan efek penyembuhan bagi hati yang baru saja tersakiti.

Tak lama setelahnya, Savero menyudahi acara mencium sahabatnya. Sepasang manik selegam malam itu mengerjap beberapa kali. Ia sedikit memundurkan jaraknya. “Maaf, ya, Ran. Aku gak tahan. Kamu hari ini keliatan cantik banget,” jelas lelaki tampan itu.

Sesaat, Ranie terbuai dalam rasa haru sebab sang sahabat. Gadis cantik itu tersenyum hangat. “Gak apa-apa, Vero. Lanjutin aja,” balasnya.

Entah apa yang merasuki Ranie kala itu. Kalimat pujian yang dilontarkan sahabatnya terdengar sangat memancing. Mendengarnya, Savero tersenyum puas. Ia tidak menyangka bahwa momen ini akan datang juga kepada dirinya dan juga gadisnya.

Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Savero kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat ragu untuk ia lanjutkan. Dengan gerakan perlahan tapi pasti, lelaki tampan itu menarik tengkuk gadisnya agar masuk lagi ke dalam ciumannya.

Seolah memiliki hasrat yang sama, Ranie menyambut ciuman itu dengan senang hati. Sepasang lengan kurusnya bertengger pada bahu lebar di depannya. Keduanya terbuai dalam perasaan indah yang mereka cipatakan sendiri.

“Nghhh,” lenguhan pertama gadis cantik itu lolos.

Ranie serasa dibawa terbang menuju angkasa oleh Savero. Ciuman itu bagai candu walaupun ini kali pertamanya. Tidak berbeda jauh dengan gadisnya, lelaki tampan itu pun merasakan hal yang sama.

Perlahan, Savero menuntun Ranie agar berbaring di atas sofa sembari melanjutkan sesi berciuman mereka.

Ranie, gadis cantik itu, dengan kesadaran penuh atau tidak, tangannya bergerak melepas satu per satu kancing kemeja hitam yang dikenakan sang sahabat. Sontak, Savero menghentikan kegiatan mereka dan menatap gadisnya intens.

“Jangan, Ran,” cegahnya.

“Kenapa, Ver?” tanya Ranie penasaran.

“Aku takut gak bisa berhenti,” ucap Savero ragu.

Mendengarnya, gadis cantik itu menghela napas panjang. Telapak tangannya bergerak mengusap rangka wajah tegas di atasnya. Hanya dengan kecupan singkat, Savero sukses dibuat tersipu oleh sahabatnya.

“Jujur sama aku, Ver. Kamu suka sama aku?” tanya gadis cantik itu serius.

Savero, lelaki tampan itu terlalu malu untuk menjawab dengan lisan. Oleh karena itu, ia menganggukkan kepalanya beberapa kali untuk merespon pertanyaan yang dilontarkan Ranie. Meihatnya, gadis canik itu tertawa.

“Kamu gemesin banget, Ver. Kalo kamu suka sama aku, maka itu cukup buat aku,” jelasnya.

Di detik selajutnya, Ranie yang bergerak. Ia mendorong pelan kepala bagian belakang sahabatnya agar mendekat lalu kembali menciumnya. Keduanya memulai lagi permainan yang sempat tertuda. Kalimat yang dipaparkan gadisnya seolah penyemangat bagi Savero.

Lihat saja, bagaimana tangan lelaki tampan itu dengan penuh keyakinan bergerilya mengusap punggung sahabatnya. Tidak sampai di situ saja, tangan berotot itu juga menurunkan zipper gaun yang dikenakan Ranie.

“Mphh,” lirihnya gadis cantik itu saat Savero mengecupi ruang di sekitar dada sang gadis.

Padahal, baik bagi lelaki tampan itu maupun sahabatnya, ini adalah yang pertama. Tetapi, entah mengapa, Savero bagaikan seorang ahli dalam menikmati tubuh gadisnya. Ranie seolah diberikan surga dunia oleh sang sahabat.

“Ahh, Ver, nghh,” desah Ranie semakin menjadi.

Kala lelaki tampan itu melepas bra yang melingkar pada dada gadisnya untuk kemudian dengan ganas melahap sebelah payudara sang gadis sementara sebelahnya lagi ia remas lalu sesekali dipilin ujung yang mencuat itu.

Ranie menggigit bibir bagian bawahnya demi menetralisir rasa nikmat yang melingkupinya. “Vero, ahhh,” lenguh gadis cantik itu.

Desahan yang mengelukan namanya itu memberi energi tersendiri bagi Savero untuk terus bersinergi pada gadisnya. Ranie yang diliecehkan seperti itu tidak dapat menahan diri untuk diam di tempatnya.

Tubuh indah yang sudah setengah telanjang itu menggeliat di atas sofa. Tak jarang dengkul gadis cantik itu tidak sengaja, atau mungkin sengaja, mengenai kepemilikan sahabatnya.

“Nghh, Ran,” lirih lelaki tampan itu.

“Enak, Ver, teruh, ahh,” perintah Ranie.

Setelah puas bermain dengan sepasang gunung sintal yang mulai saat ini akan menjadi kesukaannya, Savero mengubah haluannya.

Lelaki tampan itu mencium perut rata sang gadis dan meninggalkan beberapa bekas kepemilikan di sana. Berikutnya, ciuman itu turun ke arah paha bagian dalam gadisnya.

“Ran, aku buka, ya?” tanya Savero meminta izin.

“Iya, Savero. Semuanya punya kamu,” ujar sang sahabat.

Dengan begitu, Savero melucuti kain terakhir yang menempel pada tubuh gadisnya. Ditatapnya aset itu dengan lamat seolah ia tidak pernah melihat pemandangan semenakjubkan itu. Hal itu sukses memunculkan rona merah di seluruh wajah cantik Ranie.

“Cantik, Ran,” puji lelaki tampan itu.

Hanya dengan satu kata kerja yang berbentuk sanjungan itu, jantung sang gadis dibuat kembali berdebar kencang tak karuan. Selain jago dalam memuaskan gadisnya, Savero juga andal membuat hati sahabatnya itu berdetak tidak sesuai dengan irama yang normal.

“Savero!” pekik Ranie kala sang sahabat memulai pergerakan dengan tiba-tiba.

Lelaki tampan itu melesatkan jari telunjuk serta jari tengahnya ke dalam bagian selatan gadisnya tanpa aba-aba. Ranie menengadahkan kepalanya kearah langit-langit ruang tengahnya.

Menurutnya, permainan yang dilakukan Savero pada vaginanya terasa seratus kali lebih nikmat dibanding sebelumnya.

“Ahh, Ver, ahh,” lirih Ranie.

Lihat saja, bagaimana gadis itu tidak berhenti melenguh sejak awal permainan panasnya dengan sang sahabat. Tanpa sadar, bersamaan dengan rasa nikmat yang melangit itu, Ranie menggoyangkan pinggulnya seolah meminta lebih. Peka dengan isyarat tersebut, Savero kembali bergerak.

“Nghh, ahh!” pekik gadis cantik itu lagi kala sang sahabat meneroboskan benda kenyal ke vagina gadisnya.

Lidah lelaki tampan itu bergerak lihai memutari klitoris sang gadis. Ranie semakin dibuat meracau olehnya. Sebab rasa nikmat yang semakin menyerang itu, Ranie akan menjemput pelepasannya sebentar lagi.

“Ver, ahh, aku mau, pipis,” ujar gadis cantik itu susah payah.

Mendengarnya, aksi jari dan lidah lelaki tampan itu semakin menggila. Jika boleh jujur, Ranie akan sangat senang hatinya apabila sesi panas seperti ini bisa terus berlangsung di masa mendatang bersama sang sahabat. Dapat dipastikan, gadis cantiknya itu akan mendapat titik ternikmatnya sebentar lagi.

“Ahh!” pekik Ranie.

Gadis cantik itu mendapatkan kenikmatan puncak. Napasnya terdengar menggebu. Tubuh indah yang sedari tadi menggelinjang, kini mulai meluruh.

Savero menarik jari beserta lidahnya dari vagina sang gadis. Dapat dilihat dengan jelas bahwa kaki Ranie bergetar hebat sebab permainan yang keduanya lakukan.

“Ranie perempuan hebat,” final Savero seraya mengecup kening gadisnya dalam waktu yang cukup lama.

Setelahnya, lelaki tampan itu menyampirkan selimut yang ia ambil dari kamar tidur tamu di dekat sana. Ia rentangkan kain tebal itu untuk menutupi tubuh polos gadisnya.

Savero berlutut di samping Ranie yang terkapar lemah di atas sofa. Tangannya bergerak mengusap pucuk gadisnya lembut hingga tertidur.

Savero terkekeh. “Capek, ya, Ran?” ledek lelaki tampan itu. “Kalo gini caranya, aku pengen cepet-cepet lamar kamu biar aku bisa liat kamu pas mau tidur sama bangun tidur setiap hari,” sambungnya.

Farelio menghela napasnya panjang. Lelaki tampan itu tengah duduk sembari menidurkan kepalanya di atas meja belajar yang menghadap langsung ke arah jendela.

Setidaknya, lelaki tampan itu bersyukur masih bisa mendapat sinar matahari serta makanan yang layak. Ya, walaupun tidak dapat dipungkiri selama beberapa pekan belakangan ini, hidupnya terasa tidak jauh beda dengan napi di penjara.

Pada siang menjelang sore hari itu, yang dapat lelaki tampan itu bayangkan hanyalah wajah cantik gadisnya. Farelio, lelaki tampan itu terhitung sudah hampir dua jam memandang foto Airin yang terpasang di meja belajarnya.

Perasaan ini sungguh menyiksa, yang lelaki tampan itu inginkan hanyalah gadisnya. Namun, mengapa perasaan dan keinginannya ini seolah sebuah dosa?

“Aku kangen kamu, Rin…,” lirih lelaki tampan itu.

Kemudian, Farelio bangkit dari posisinya. Ia berjalan ke arah tempat tidurnya lalu menrebahkan tubuhnya di atas sana dengan sebelah tangannya masih menggenggam gambar cantik Airin.

Sementara itu, tangannya yang satu lagi ia biarkan mengulai di atas sepasang manik selegam malamnya. Lagi, lelaki tampan itu menghela napas panjang.

“Hidupku berat banget rasanya kalo gak ada kamu, Rin,” gumamnya.

Setelah cukup lama merasakan nyaman sekaligus sakit pada posisi tersebut, lelaki tampan itu kembali bangkit. Ia menyadarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Perlahan, tangan kirinya bergerak ke arah nakas untuk meraih sesuatu di dalam laci.

Terlihat sebuah benda kecil berwarna silver dengan ujung tajam yang Farelio genggam. Lelaki tampan itu mengeratkan pandangannya diiringi dengan tangan yang memegang benda itu semakin dekat ke arah nadi di pergelangan tangannya.

“Kalo gak ada kamu, aku gak akan bisa hidup, Rin. Jadi, lebih baik aku mati aja,” monolog Farelio.

Gerakan tangan lelaki tampan itu terlihat semakin pasti. Bagaimana ujung benda tajam itu semakin menghampiri urat tangannya yang menonjol sebab amarah yang tertahan. Dalam beberapa hari ini, Farelio merasa hidupnya kosong dan hampa.

Lelaki tampan itu seolah merasakan kehilangan seperti kepergian untuk kedua kalinya. Terkadang, dalam mimpinya, ia bertemu Mami yang selalu menjadi kesayangan dalam angannya dan kerap kali Airin muncul dalam bentuk sosok penyelamat di dalam mimpinya.

Entahlah. Farelio memiliki firasat bahwa mimpi-mimpinya itu adalah pertanda. Isyarat bahwa dirinya tidak layak untuk hidup dan dicintai.

Trauma yang ditinggalkan oleh sang ibu sangat membekas di dalam hatinya. Begitu juga dengan Airin yang ia lihat dalam beberapa waktu belakangan ini lebih memilih untuk mengabaikannya dan bergaul dengan siswa pindahan.

“I’ll send my love to you, Airin,” final Farelio.

TING!

Baru saja lelaki tampan itu akan melancarkan aksinya, suara notifikasi khas dari ponselnya menginterupsi. Bukan sembarangan suara, namun Farelio sengaja memasang nada dering yang berbeda, khusus untuk pesan dan panggilan masuk dari gadisnya.

“Airin…,” ujarnya.

Farelio dengan seksama membaca satu per satu pesan singkat yang Airin kiri untuknya. Tidak lain dan tidak bukan, pesan tersebut berisi kalimat penyemangat. Meskipun hubungan mereka semakin renggang, hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa masih terdapat seberkas rasa yang hinggap di hati masing-masing.

Farelio, lelaki tampan itu membutuhkan Airin sebagai penopang dalam hidupnya. Namun, caranya menyayangi gadis cantik itu bisa dibilang cukup unik sehingga Airin merasa lelah dengan perasaan itu. Jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan?

“Makasih, Sayang…,” ucap Farelio yang diiringi tetesan pertama dari air matanya yang tumpah.

DWARR!

Jantung Airin terkejut bukan main. Mungkin, jika tidak cekatan, semua menu masakan yang masih berada di dalam panci itu sudah melesat menuju apron dan juga lantai di dapurnya.

Suara Farelio yang membanting pintu utama apartemennya sangat dipertanyakan alasannya. Iblis apalagi yang merasuki lelaki tampan itu di siang hari seperti ini?

“Kamu apa-apaan sih, Rel?!” teriak Airin saat Farelio muncul di hadapannya.

“Kamu yang apa-apaan, Airin!” balas lelaki tampan itu tidak mau kalah.

Farelio berjalan dengan langkah mendentum untuk menghampiri gadisnya. Ia tarik sebelah pergelangan tangan Airin dan kemudian dihempasnya tubuh mungil itu ke arah tembok.

Airin, gadis cantik itu tentu saja meringis kesakitan. Lelaki manis kesayangannya itu tidak main-main dengan kekuatannya. Farelio, lelaki tampan itu menghimpit gadisnya.

Tidak ada jarak sedikit pun di antara keduanya. Bahkan, mereka dapat merasakan napas hangat dan menggebu satu sama lain.

“Kamu ‘kan tau aku gak suka liat kamu deket sama cowok lain, Rin,” jelas Farelio. “Terus kenapa kamu malah pergi sama anak baru itu?!” bentaknya.

Wajah tampan yang biasanya terlihat menawan itu, kali ini tampak menyeramkan. Sepasang manik selegam malamnya membelalak merefleksikan buncahan kemarahan.

Airin memalingkan wajahnya ke arah samping sebab suara lelakinya yang dengan tiba-tiba meninggi. Ia juga memejamkan matanya erat. Di siang nan panas hari itu, Farelio menggila di hadapan sang gadis.

Rasa cemburu dan iri menguasai hati dan pikirannya. Lelaki tampan itu sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak ada tujuan lain selain memberi gadisnya beberapa pelajaran yang ia harap akan selalu diingat setiap waktu.

“Ask yourself, Farelio! Ke mana kamu pas event halloween kemaren?! Kamu tinggalin aku, ‘kan. Kamu gak berhak marah,” ujar Airin berapi-api.

Sepasang manik selegam senja yang biasanya terlihat berbinar indah itu, kini diselimuti oleh kekecewaan. Airin tidak mau dan tidak ingin berbohong tentang satu hal, Farelio, lelaki tampan kesayangannya.

Bagaimana Farelio selalu pergi ketika masalah menghampiri. Entah sebab rasa malu atau apa, selalu Airin yang menerima konsekuensinya.

“You say you would show me to the entire school that i am your girl, but what i seen just a liar babling about his lies again and again, Farel. Kamu pikir aku gak capek, ya? Kamu pikir kamu gak punya hati, ya? Iya, gitu, Farel?!” lanjut Airin.

Kini, pipi chubby gadis cantik itu sudah dibanjiri oleh air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya. Rahangnya mengeras. Bahkan, untuk menyelesaikan kalimat seperti itu saja, Airin butuh tenaga ekstra sebab napasnya yang tersendat.

“Kamu ngalihin topik pembicaraan kita, Airin,” dingin Farelio. “Itu gak mengubah fakta kalo kemaren kamu pergi sama cowok selain aku. Aku gak suka itu, Airin,” sambungnya.

Airin dapat mendengar jelas lelaki kesayangannya menekankan kata ‘pergi’ dan ‘cowok lain’ pada kalimatnya. Dua pasang manik itu saling memandang dengan intens seolah berperang. Untuk hari ini, hanya saat ini, Airin tidak mau lagi mengalah untuk perbuatan yang Farelio lakukan padanya.

“Kamu bajingan, Farelio,” final Airin.

PLAK!

Itu Farelio. Dengan kesadaran penuh, lelaki tampan itu menampar sebelah pipi sang gadis dengan tenaga khas rasa benci. Lihat saja, bagaimana Airin sampai menolehkan wajahnya ke arah samping sebab pukulan itu. Pipinya memerah padam.

“Coba bilang kayak gitu lagi, Airin. Aku mau denger kamu ngomong kayak gitu lagi,” ujar Farelio.

Airin, gadis cantik itu hanya diam. Ia tidak mau melanjutkan perdebatannya bersama Farelio. Sudah cukup untuk hari ini. Ia tidak memiliki tenaga lebih untuk meladeni lelaki kesayangannya itu.

Namun, saat gadis cantik itu hendak melengang pergi, Farelio lebih dulu menggenggam tangannya. Kemudian, lelaki tampan itu menarik sang gadis untuk menuju kamar tidurnya.

Di dalam sana, tanpa ragu, Farelio kembali membanting tubuh gadisnya, kali ini ke atas ranjang. Dengan gerakan yang tergesa-gesa, lelaki tampan itu melucuti semua pakaian yang dikenakan gadisnya untuk setelahnya ia melakukan hal yang sama.

“Take this, Airin. This is your penalty. I dare you to say the same things earlier after our session today,” jelas Farelio.

Di detik kemudian, yang terjadi adalah lelaki tampan itu mencium kasar gadisnya. Farelio benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya di atas tampat tidur sang gadis pada siang ini.

Lihat saja, bagaimana Airin berkali-kali memukul pundak lelaki kesayangannya sebab oksigennya yang mulai kehilangan fungsi. Tak lama setelahnya, Farelio menyudahi perang lidah bersama gadisnya.

“Kamu gila, ya, Rel?!” pekik Airin sembari menyeka bibirnya yang dipenuhi luka terbuka. Darah segar mengalir di sekitar mulutnya.

Hampir serupa dengan Airin, Farelio juga mengusap bibirnya yang dibanjiri darah miliki lawan mainnya. “As i said before, Airin. You deserve to be punished,” ucapnya.

Farelio, lelaki tampan itu kembali menyiksa gadisnya. Kali ini, ia kecupi seluruh ruang di sekitar leher dan dada gadisnya. Ia meninggalkan beberapa bekas kepemilikan yang tak tersembunyi.

Airin mencoba untuk memberontak. Beberapa kali gadis cantik itu mencakar punggung lebar Farelio. Tetapi, dengan sigap, lelaki tampan itu mengunci pergerakannya. Alhasil, yang bisa dilakukan gadis cantik itu hanyalah melirih kesakitan.

“Farel, nghh, it’s hurt,” kata gadis cantik itu.

Tentunya, Farelio tidak mengindahkan peringatan dari gadisnya. Ia tetap pada pendiriannya untuk menghukum Airin melalui hubungan intim sepihak.

Kini, lelaki tampan itu berubah haluan. Ia menciumi tubuh bagian bawah gadisnya, mulai dari paha bagian dalam sampai ke bibir vaginanya.

“Farel, ahhh, stop!” racau Airin.

Bukannya berhenti, aktivitas lelaki manis itu malah semakin menjadi. Tanpa melalukan foreplay yang rampung, Farelio meneroboskan kepemilikannya dalam sekali hentak ke dalam milik sang gadis.

“Farel!” pekiknya.

Airin berusaha mati-matian untuk menahan rasa sakit itu sendirian. Ia meremat bantal dan kain yang melapisi tempat tidurnya dengan sangat erat. Farelio seolah dirasuki iblis saat menggempur gadisnya.

PLAK!

Lelaki tampan itu baru saja menampar sebelah payudara gadisnya. Pastinya, pukulan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Airin, siang itu dilingkupi oleh rasa sakit yang teramat sangat.

“Rel, please, nghh, stop, ahh, you hurting me,” racau Airin.

Airin menangis sejadi-jadinya. Rasa kecewa dan rasa sedih itu bercampur di dalam sanubarinya. Farelio sukses merobek-robek hatinya bak kertas putih bekas.

Entah mengapa, di sela-sela siksaan itu, yang Airin dapat ingat hanyalah canda tawanya bersama Alby beberapa hari lalu. Bagaimana lelaki manis itu seolah menghilangkan rasa sakit hatinya terhadap Farelio.

Ya, memang benar. Alby selalu muncul kala gadis cantik itu merasa gundah, saat hatinya sakit sebab lelaki kesayangannya. Di waktu yang kritis itu, Alby ada di sampingnya.

“Akhh!” pekik Farelio.

Lelaki tampan itu menjemput pelepasannya. Farelio menyemburkan spermanya ke dalam rahim sang gadis. Itu memang tujuannya. Airin semakin dibuat sendu hatinya oleh lelaki kesayangannya.

“Farel…,” lirih Airin di dalam tangisannya.

“Silakan masuk, Nona Cantik,” ujar Alby sembari tersenyum.

Mendengarnya, Airin terkekeh. “Makasih, By,” balasnya ramah.

Sebelah tangan kekar lelaki tampan itu bergerak menjaga agar pucuk kepala gadisnya tidak terbentur atap mobil klasiknya. Selepasnya, Alby berlari kecil memutari mobilnya untuk kemudian masuk ke dalam sana.

“Mau kemana nih?” tanya Alby seraya menghidupkan mesin mobilnya.

Airin mengangkat kedua bahunya. “Gak tau. ‘Kan tadi lo yang ajak gua jalan,” jawabnya.

Jika boleh jujur, Airin dibuat menghangat hatinya untuk kesekian kali atas perlakuan yang Alby berikan padanya. Bagaimana lelaki manis itu terus memanjakan Airin dengan sikapnya yang juga manis. Juga, Alby selalu membuatnya tertawa dengan tingkah-tingkah konyolnya.

“Bener juga, ya. ‘Kan tadi gua yang gantian ngajak lo jalan. Tapi, jujur nih, ya, Rin, jantung gua rasanya gak karuan banget,” jelas lelaki tampan itu.

“Loh, kenapa? Lo sakit, By?” tanya Airin serius.

“Bukan sakit sih. Gua kelewat seneng aja bisa jalan sama lo. Kayak ini tuh salah satu daftar bucket list yang ada di hidup gua dan terwujud,” enteng Alby.

“Sialan lo, By. Gua kira lo sakit,” ujar Airin sembari memukul pelan lengan kekar lelaki di samping kanannya.

“Kita makan dulu, yuk!” ajak lelaki tampan itu.

Tepat setelahnya, Alby menancap gas mobilnya dari depan pekarangan warung Bi Ijah. Entah ke mana, Airin juga tidak tahu pasti.

Namun, yang ia tahu pasti, ia ingin menghabiskan siang menuju sore hari ini dengan lelaki manis penuh guyon yang sudah memenuhi pikiran serta hatinya dalam beberapa waktu belakangan ini.

“Gua liat lo tadi di kantin. Lo udah makan siang ‘kan, Rin?” tanya Alby seraya mengangkat tuas rem tangan kala mobilnya berhenti di persimpangan yang lampu lalu lintasnya berwarna merah.

Airin mengangguk. “Udah,” singkatnya.

“Yaudah, berarti kita jajan aja,” final lelaki manis itu. “Eh, tapi, kalo lo masih laper bilang aja, ya, Rin,” lanjutnya.

“Iyaa, Alby,” jawab Airin.

Dengan begitu, setelah lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, Alby kembali menancap gas mobilnya untuk menuju ke sekolah dasar terdekat.

Menurutnya, jajanan kaki lima paling menggiurkan adalah jajanan kaki lima yang dijual di sekitar sana.

Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya, hanya ada lagu yang mengalun dari music tape yang terpasang di audio mobil klasik tersebut.

Sesekali, Alby ikut menyenandung dengan musik kesukaannya. Dan seringkali, Airin mencuri pandang pada lelaki manis yang duduk di sebelahnya.

Entah mengapa, duduk di bangku penumpang tidak pernah terasa semenyenangkan dan semenenangkan ini sebelumnya, setidaknya bagi Airin.

Lihat saja, gadis cantik itu tidak bisa berhenti menyimpulkan garis cantik itu pada wajahnya yang juga cantik.

“Nah, gitu dong! Senyum. ‘Kan cantik diliatnya,” ujar Alby tiba-tiba.

Airin, gadis cantik itu tentunya salah tingkah. Sudah tidak terhitung berapa kali lelaki manis itu menyanjungnya dengan kata ‘cantik’. Anehnya, tidak terasa seperti gombalan, melainkan memang diucapkan secara tulus.

“Emangnya gua gak pernah senyum, ya, By?” tanya gadis cantik itu.

Alby berdehem. “Bukan gak pernah, Rin, tapi jarang. Gua gak tau kenapa orang secantik lo bisa jarang senyum. Padahal, kalo lo senyum, jangankan Karel, kepala sekolah sampe petugas kebersihan juga bisa suka sama lo,” ledeknya.

“Hiper tau gak, By,” balas Airin.

“Lo kalo senyum tuh keliatan cantik, Rin,” ucap Alby tanpa memalingkan pandangannya. Mobil klasik itu tengah melakukan manuver untuk memutari jalan di persimpangan untuk kemudian melaju memasuki sebuah gang.

Pada siang menuju sore kala itu, Airin terpaku pada pemandangan indah di sampingnya, yaitu Alby yang sedang mengendarai mobil klasiknya. Sepasang manik selegam senja itu sampai tidak berkedip seolah tidak ingin melewatkan hal tersebut barang sedetik pun.

“Heh? Lo kenapa, Rin? Kok bengong jadinya,” tegur lelaki manis itu.

Mendengarnya, Airin menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya. “Hah? Enggak kok. Gua gak apa-apa,” bantahnya.

Berbeda dengan Airin, lelaki manis itu terkekeh. “Lucu,” gumamnya pelan.

Tak lama setelahnya, sepasang siswa sekolah menengah atas itu sudah sampai di tujuan, tepatnya di Sekolah Dasar 01 Pelita Hati.

Alby meraih dompetnya yang terletak di saku belakang celana seragamnya kala sepasang maniknya menangkap sang gadis yang sedang membeku di tempat.

“Rin,” panggil Alby.

Yang dipanggil namanya menoleh ke sumber suara. “Ini sekolah gua dulu, By,” jelas Airin.

Alby mengangkat sebelah alisnya. “Lo serius? Gua dulu sekolah di sana,” ucap lelaki manis itu sembari menunjuk ke arah gedung sekolah yang berjarak tak jauh dari gedung sekolah sang gadis. “Tuh di SD 02, sama Hana,” sambungnya.

Ya, bangunan Sekolah Dasar 01 Pelita Hati sangat berdekatan dengan bangunan Sekolah Dasar 02 Pelita Hati. Bisa dibilang, kedua sekolah tersebut berada di satu rumpun yang sama. Keduanya bahkan tidak tahu fakta tersebut.

Setelahnya, gadis cantik dan lelaki manis itu melengang keluar dari mobil dan mulai mencari target jajanan kaki lima yang akan mereka santap.

Ada banyak sekali jenis jajanan yang ditawarkan. Ini pilihan yang sulit. Rasanya ingin sekali Airin memborong semua makanan yang ada di sana.

“Lo dulu sekolah di sini, By?” tanya Airin mengalihkan rasa bimbangnya.

“Iya. Sebenernya gua dulu tuh tinggal di sini, tapi pas Papa dapet jabatan baru harus pindah. Terus, belom lama ini, Papa dapet jabatan lagi dan kebetulan harus pindah lagi ke sii. Ya, jadinya balik. Kalo tau sekolah gua sampingan sama sekolah lo, kali gua gak akan mau diajak pindah, Rin,” jelas Alby.

“Gombal terus, By. Emangnya gak capek?” sindirgadis cantik itu.

“Awas, Rin!” ucap Alby sembari merangkul gadisnya agar mendekat padanya.

Baru saja sebuah kendaraan roda dua berjalan melewati mereka. Padahal, baik Airin maupun Alby berjalan di atas trotoar yang memang diperuntukan untuk pejalan kaki. Lihat saja, pengendara itu bahkan tidak meminta maaf dan malah mengomeli keduanya.

Alby berdesis. “Ini trotoar, Pak!” pekiknya tanpa melepaskan dekapannya.

“Sabar, By,” ujar Airin.

“Lo gak apa-apa?” tanya lelaki manis itu sembari menundukkan pandangan pada gadis cantik di dalam rangkulannya. Dua pasang manik itu saling bertemu untuk memandang satu sama lain. Namun, di detik berikutnya, Alby melepaskan dekapannya. “Sorry, Rin,” ucapnya.

“Gua gak apa-apa kok, By. Makasih, ya,” kata gadis cantik itu sembari tersenyum. Melihatnya, Alby ikut tersenyum. Lihatlah, betapa manis seorang Alby ketika tersenyum. Bagaimana tidak, maniknya menyipit seolah ikut tersenyum.

“Lo mau jajan apa?” tanya Alby.

“Cilok,” singkat Airin.

“Oke,” final lelaki manis itu.

Sesuai dengan rencana, keduanya melanjutkan perjalanan mereka untuk berburu jajanan kaki lima yang lezat khas sekolah dasar.

Untuk makanan seperti cilok pun, terdapat banyak jenisnya di sana. Akhirnya, pilihan Airin jatuh kepada cilok original khas kota hujan.

“Bang, ciloknya dua bungkus, ya,” ujar Alby.

“Oke, Mas,” jawab sang pedagang.

“Bang, kalo saya punya pacar cantik, Abang mau kasih saya diskon cilok gak?” tanya Alby menggoda penjual jajanan kaki lima di depannya.

“Aduh, Mas. Nanti saya rugi dong kalo gitu,” balas sang penjual ramah. “Tapi, gak apa-apa deh, Mas. Pacarnya emang beneran cantik kok.”

Mendengarnya, Alby tertawa puas. “Berarti Abang jangan kasih diskon ke saya sekarang, Bang. Nanti aja, soalnya dia belom jadi pacar saya. Doain, ya, Bang,” jelas lelaki tampan itu.

Entah bergurau ataupun serius, Airin hanya dapat tersenyum lebar menanggapi percakapan lelaki manis itu bersama pedagang cilok di depan sekolahnya.

Sebenarnya, gadis cantik itu sangat berharap hari ini tidak kunjung selesai atau tidak memiliki akhir. Airin tidak ingin menyudahi harinya dengan Alby. Mungkin, Alby Valla Bagasditya mulai mengambil hati seorang Airin Herning Kamarana.

“Silakan masuk, Nona Cantik,” ujar Alby sembari tersenyum.

Mendengarnya, Airin terkekeh. “Makasih, By,” balasnya ramah.

Sebelah tangan kekar lelaki tampan itu bergerak menjaga agar pucuk kepala gadisnya tidak terbentur atap mobil klasiknya. Selepasnya, Alby berlari kecil memutari mobilnya untuk kemudian masuk ke dalam sana.

“Mau kemana nih?” tanya Alby seraya menghidupkan mesin mobilnya.

Airin mengangkat kedua bahunya. “Gak tau. ‘Kan tadi lo yang ajak gua jalan,” jawabnya.

Jika boleh jujur, Airin dibuat menghangat hatinya untuk kesekian kali atas perlakuan yang Alby berikan padanya. Bagaimana lelaki manis itu terus memanjakan Airin dengan sikapnya yang juga manis. Juga, Alby selalu membuatnya tertawa dengan tingkah-tingkah konyolnya.

“Bener juga, ya. ‘Kan tadi gua yang gantian ngajak lo jalan. Tapi, jujur nih, ya, Rin, jantung gua rasanya gak karuan banget,” jelas lelaki tampan itu.

“Loh, kenapa? Lo sakit, By?” tanya Airin serius.

“Bukan sakit sih. Gua kelewat seneng aja bisa jalan sama lo. Kayak ini tuh salah satu daftar bucket list yang ada di hidup gua dan terwujud,” enteng Alby.

“Sialan lo, By. Gua kira lo sakit,” ujar Airin sembari memukul pelan lengan kekar lelaki di samping kanannya.

“Kita makan dulu, yuk!” ajak lelaki tampan itu.

Tepat setelahnya, Alby menancap gas mobilnya dari depan pekarangan warung Bi Ijah. Entah ke mana, Airin juga tidak tahu pasti.

Namun, yang ia tahu pasti, ia ingin menghabiskan siang menuju sore hari ini dengan lelaki manis penuh guyon yang sudah memenuhi pikiran serta hatinya dalam beberapa waktu belakangan ini.

“Gua liat lo tadi di kantin. Lo udah makan siang ‘kan, Rin?” tanya Alby seraya mengangkat tuas rem tangan kala mobilnya berhenti di persimpangan yang lampu lalu lintasnya berwarna merah.

Airin mengangguk. “Udah,” singkatnya.

“Yaudah, berarti kita jajan aja,” final lelaki manis itu. “Eh, tapi, kalo lo masih laper bilang aja, ya, Rin,” lanjutnya.

“Iyaa, Alby,” jawab Airin.

Dengan begitu, setelah lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, Alby kembali menancap gas mobilnya untuk menuju ke sekolah dasar terdekat.

Menurutnya, jajanan kaki lima paling menggiurkan adalah jajanan kaki lima yang dijual di sekitar sana.

Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya, hanya ada lagu yang mengalun dari music tape yang terpasang di audio mobil klasik tersebut.

Sesekali, Alby ikut menyenandung dengan musik kesukaannya. Dan seringkali, Airin mencuri pandang pada lelaki manis yang duduk di sebelahnya.

Entah mengapa, duduk di bangku penumpang tidak pernah terasa semenyenangkan dan semenenangkan ini sebelumnya, setidaknya bagi Airin.

Lihat saja, gadis cantik itu tidak bisa berhenti menyimpulkan garis cantik itu pada wajahnya yang juga cantik.

“Nah, gitu dong! Senyum. ‘Kan cantik diliatnya,” ujar Alby tiba-tiba.

Airin, gadis cantik itu tentunya salah tingkah. Sudah tidak terhitung berapa kali lelaki manis itu menyanjungnya dengan kata ‘cantik’. Anehnya, tidak terasa seperti gombalan, melainkan memang diucapkan secara tulus.

“Emangnya gua gak pernah senyum, ya, By?” tanya gadis cantik itu.

Alby berdehem. “Bukan gak pernah, Rin, tapi jarang. Gua gak tau kenapa orang secantik lo bisa jarang senyum. Padahal, kalo lo senyum, jangankan Karel, kepala sekolah sampe petugas kebersihan juga bisa suka sama lo,” ledeknya.

“Hiper tau gak, By,” balas Airin.

“Lo kalo senyum tuh keliatan cantik, Rin,” ucap Alby tanpa memalingkan pandangannya. Mobil klasik itu tengah melakukan manuver untuk memutari jalan di persimpangan untuk kemudian melaju memasuki sebuah gang.

Pada siang menuju sore kala itu, Airin terpaku pada pemandangan indah di sampingnya, yaitu Alby yang sedang mengendarai mobil klasiknya. Sepasang manik selegam senja itu sampai tidak berkedip seolah tidak ingin melewatkan hal tersebut barang sedetik pun.

“Heh? Lo kenapa, Rin? Kok bengong jadinya,” tegur lelaki manis itu.

Mendengarnya, Airin menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya. “Hah? Enggak kok. Gua gak apa-apa,” bantahnya.

Berbeda dengan Airin, lelaki manis itu terkekeh. “Lucu,” gumamnya pelan.

Tak lama setelahnya, sepasang siswa sekolah menengah atas itu sudah sampai di tujuan, tepatnya di Sekolah Dasar 01 Pelita Hati.

Alby meraih dompetnya yang terletak di saku belakang celana seragamnya kala sepasang maniknya menangkap sang gadis yang sedang membeku di tempat.

“Rin,” panggil Alby.

Yang dipanggil namanya menoleh ke sumber suara. “Ini sekolah gua dulu, By,” jelas Airin.

Alby mengangkat sebelah alisnya. “Lo serius? Gua dulu sekolah di sana,” ucap lelaki manis itu sembari menunjuk ke arah gedung sekolah yang berjarak tak jauh dari gedung sekolah sang gadis. “Tuh di SD 02, sama Hana,” sambungnya.

Ya, bangunan Sekolah Dasar 01 Pelita Hati sangat berdekatan dengan bangunan Sekolah Dasar 02 Pelita Hati. Bisa dibilang, kedua sekolah tersebut berada di satu rumpun yang sama. Keduanya bahkan tidak tahu fakta tersebut.

Setelahnya, gadis cantik dan lelaki manis itu melengang keluar dari mobil dan mulai mencari target jajanan kaki lima yang akan mereka santap.

Ada banyak sekali jenis jajanan yang ditawarkan. Ini pilihan yang sulit. Rasanya ingin sekali Airin memborong semua makanan yang ada di sana.

“Lo dulu sekolah di sini, By?” tanya Airin mengalihkan rasa bimbangnya.

“Iya. Sebenernya gua dulu tuh tinggal di sini, tapi pas Papa dapet jabatan baru harus pindah. Terus, belom lama ini, Papa dapet jabatan lagi dan kebetulan harus pindah lagi ke sii. Ya, jadinya balik. Kalo tau sekolah gua sampingan sama sekolah lo, kali gua gak akan mau diajak pindah, Rin,” jelas Alby.

“Gombal terus, By. Emangnya gak capek?” sindirgadis cantik itu.

“Awas, Rin!” ucap Alby sembari merangkul gadisnya agar mendekat padanya.

Baru saja sebuah kendaraan roda dua berjalan melewati mereka. Padahal, baik Airin maupun Alby berjalan di atas trotoar yang memang diperuntukan untuk pejalan kaki. Lihat saja, pengendara itu bahkan tidak meminta maaf dan malah mengomeli keduanya.

Alby berdesis. “Ini trotoar, Pak!” pekiknya tanpa melepaskan dekapannya.

“Sabar, By,” ujar Airin.

“Lo gak apa-apa?” tanya lelaki manis itu sembari menundukkan pandangan pada gadis cantik di dalam rangkulannya. Dua pasang manik itu saling bertemu untuk memandang satu sama lain. Namun, di detik berikutnya, Alby melepaskan dekapannya. “Sorry, Rin,” ucapnya.

“Gua gak apa-apa kok, By. Makasih, ya,” kata gadis cantik itu sembari tersenyum. Melihatnya, Alby ikut tersenyum. Lihatlah, betapa manis seorang Alby ketika tersenyum. Bagaimana tidak, maniknya menyipit seolah ikut tersenyum.

“Lo mau jajan apa?” tanya Alby.

“Cilok,” singkat Airin.

“Oke,” final lelaki manis itu.

Sesuai dengan rencana, keduanya melanjutkan perjalanan mereka untuk berburu jajanan kaki lima yang lezat khas sekolah dasar.

Untuk makanan seperti cilok pun, terdapat banyak jenisnya di sana. Akhirnya, pilihan Airin jatuh kepada cilok original khas kota hujan.

“Bang, ciloknya dua bungkus, ya,” ujar Alby.

“Oke, Mas,” jawab sang pedagang.

“Bang, kalo saya punya pacar cantik, Abang mau kasih saya diskon cilok gak?” tanya Alby menggoda penjual jajanan kaki lima di depannya.

“Aduh, Mas. Nanti saya rugi dong kalo gitu,” balas sang penjual ramah. “Tapi, gak apa-apa deh, Mas. Pacarnya emang beneran cantik kok.”

Mendengarnya, Alby tertawa puas. “Berarti Abang jangan kasih diskon ke saya sekarang, Bang. Nanti aja, soalnya dia belom jadi pacar saya. Doain, ya, Bang,” jelas lelaki tampan itu.

Entah bergurau ataupun serius, Airin hanya dapat tersenyum lebar menanggapi percakapan lelaki manis itu bersama pedagang cilok di depan sekolahnya.

Sebenarnya, gadis cantik itu sangat berharap hari ini tidak kunjung selesai atau tidak memiliki akhir. Airin tidak ingin menyudahi harinya dengan Alby. Mungkin, Alby Valla Bagasditya mulai mengambil hati seorang Airin Herning Kamarana.

“Mana?” tanya Hardian singkat.

Lelaki tampan itu baru saja masuk ke dalam ruangan luas nan besar di salah satu gedung di pekarangan sekolahnya, di mana tempat itu dipenuhi dengan alat musik khas anak band beserta interiornya yang terkesan menyeramkan. Itu basecamp Aragon.

“Apanya yang mana?” jawab Langit dengan kembali bertanya. Lelaki dengan tubuh bak raksasa itu tengah nyaman pada posisinya di atas sofa empuk sembari memetik gitar.

Sedangkan, yang lainnya sedang sibuk menggulir ibu jarinya pada layar ponsel.

“Dateng udah gak pake salam lagi, tiba-tiba langsung nanya di mana. Sehat lo, Har?” sambung Arjuna tanpa mengalihkan pandangannya.

Mendengarnya, Hardian, yang menjadi bahan obrolan siang itu hanya memutar bola matanya jengah. Tidak seperti ekspektasinya, teman-temannya memang susah untuk diandalkan.

“Predikat doang anak kelas unggulan. Timbang tanya gini pada goblok,” sarkas Hardian sembari mematik api untuk rokoknya.

Berbeda dengan yang lain, Mark menghampiri teman satu grupnya itu. Duduk di sampingnya dengan nyaman untuk kemudian memberikan secarik kertas.

“Ranindya Hartiga. Anak pertama dari pasangan kembar Keluarga Hartiga. Baru pulang dari Amrik sebulan lalu. Punya kembaran, namanya Rachelia Hartiga. Oh, iya, hampir lupa, Ranie juga punya pacar, namanya Adhitama, alumni sekolah kita juga,” jelas lelaki berdarah campuran itu panjang lebar.

Kala indera pendengaran Hardian menangkap pemaparan informasi yang dijelaskan temannya, senyumnya muncul dengan sangat lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Ini yang dia harapkan.

“Nah, gini dong!” ujar lelaki tampan itu sembari menyenggol bahu teman sebelahnya.

“I have to warn you to be careful. Jangan sampe lo ketuker, mereka kembar identik. Gua aja sempet salah cari informasi. Your target is Ranindya Hartiga, aren’t you?” ujar Mark memperingatkan.

Namun, Hardian, lelaki tampan itu bukannya menyetujui pernyataan yang dilontarkan salah satu temannya, ia malah beranjak dari posisi duduknya setelah mematikan puntung nikotin yang sebelum setengah habis. “Gua pergi dulu,” finalnya.

Seperti rencananya di awal, ia akan mengunjungi kediaman Keluarga Hartiga. Ah, sepertinya ini tidak bisa dibilang sebagai sebuah kunjungan sebab lelaki tampan itu tidak meminta izin terlebih dahulu.

Lihat saja, bagaimana Hardian berjalan dengan suara pijakan sepelan mungkin di sekitar pekarangan komplek perumahan mewah itu. Ia menyelinap.

Melalui kebun belakang yang juga terlihat sangat luas tersebut, lelaki tampan itu dengan perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam dapur.

Sepasang mata selegam malamnya menelisik keadaan di dalam rumah yang terdengar dan terlihat sangat sunyi nan senyap itu.

“Ini rumah gedongan segede gini apa gak ada yang jagain?” gumam Hardian.

Lelaki tampan itu kembali melanjutkan aksinya. Kali ini, ia akan berjalan perlahan untuk menaiki tangga ke lantai dua.

Namun, kala kaki kirinya memijak di anak tangga pertama, suara pecahan kaca terdengar menguar di seluruh ruangan. Sontak, Hardian mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

Dan tampaklah seorang gadis cantik dengan setelan baju tidur pendek yang membalut pada tubuhnya. Ia membungkam dirinya sendiri saat sepasang manik selegam senjanya menangkap keberadaan laki-laki yang beberapa jam ini tengah memenuhi pikirannya.

“Hardian Axelio, am i right?” tanya gadis cantik itu setelah menyesuaikan emosi dan jiwanya dengan keadaan.

“Lo kenal gua?” jawab Hardian dengan kembali bertanya. Lelaki tampan itu menghampiri gadis cantik yang baru saja memanggil namanya.

“Gak mungkin ada anak sekolah yang gak kenal lo, yang bukan anak sekolah kita aja tau lo, apalagi yang satu sekolah,” jelasnya.

“Lo siapa?” tanya Hardian penasaran. Di antara Ranie dan Rachel, gadis mana yang tengah berbincang padanya di siang menuju sore hari ini.

Mendengar pertanyaan itu terlontar, gadis cantik itu mengangkat sebelah alisnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Bukannya harusnya gua yang tanya kayak gitu ke lo. Untuk apa lo nyelinap masuk ke dalam rumah orang siang hari begini? Kriminal tau,” ucap gadis cantik itu.

Hardian mendesis. Perkataan gadis cantik itu di depannya ini ada benarnya. Ah, semuanya benar. Ia baru saja tertangkap basah sedang menerobos masuk ke rumah orang lain demi menemui pujaan hatinya.

“Harusnya gua panggil security biar lo diusir kali, ya? Eh, tunggu. Sekalian di-blacklist. Ini perumahan elit,” lanjutnya.

Sialan! Hardian belum sempat menemui Ranindya. Tidak mungkin ia pulang dengan tangan kosong. Maksudnya, tanpa dirinya menemui gadis cantik incarannya itu. Lelaki tampan itu menghela napas panjang.

“Bukannya maksud gua gak sopan, tapi gua mau ketemu sama orang yang tinggal di rumah ini. Lo…,” ucap Hardian menggantung. “Ranie?” tanyanya.

Kala indera pendengarannya menangkap satu nama yang diucapkan Hardian, gadis cantik itu menyeringai. Sepertinya, bermain sebentar akan terasa menyenangkan.

Siapa tahu, di akhir permainan ini, selain dapat mengelabui lelaki pujaannya, ia juga mendapatkan bonus berupa seorang Hardian Axelio menjadi kekasihnya. Siapa yang akan tahu?

“Iya, gua Ranie,” ucap gadis cantik itu sembari mengulurkan tangannya.

Hardian, lelaki tampan itu tentu saja dengan semangat menyambut uluran tangan sang gadis.

Sepasang manik selegam malamnya membinar terang saat mengetahui gadis cantik yang ada di hadapannya ini ternyata adalah Ranie, gadis yang menjadi targetnya. “Finally, lo orang yang gua cari.”

Setelah berkenalan secara resmi, gadis cantik itu mengajak Hardian untuk duduk dan bersantai di ruang tamunya agar sesi mengobrol mereka lebih nyaman.

“So, Hardian, kenapa lo lebih milih nyelinap masuk ke rumah orang dibanding ngetok pintu utamanya rumahnya? Katanya, lo mau kenalan,” tanya gadis cantik itu seraya menyesap teh kamomil yang sempat ia banting cangkirnya di dapur dan menggantinya dengan yang baru.

“Simple, sih, Ran. Pengen buat sesuatu yang berkesan,” jawab lelaki tampan itu dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Bukannya itu tindakan kriminal, ya? Kalo orang rumah tau, lo bisa dipenjarain, loh. Untung di rumah cuma ada gua doang,” jelasnya.

“Di rumah segede ini, cuma ada lo doang?” tanya Hardian yang hampir tersedak minuman hangatnya. Ini kesempatan yang tidak akan ia dapatkan dua kali, batinnya.

Tidak menjawab secara lisan, sang gadis hanya mengangguk pelan beberapa kali. “Iya.”

Mendengarnya, Hardian terkekeh. “Ya, gua cari cara biar gua gak dilaporin ke polisi,” balasnya pada pertanyaan yang sebelumnya.

Terhitung sudah hampir dua jam keduanya membicarakan hal acak di atas sofa empuk berwarna beige di ruang tamu luas nan megah milik Keluarga Hartiga. Tanpa disadari juga, gadis cantik itu semakin jatuh hatinya pada lelaki tampan di hadapannya.

“Cara? Gimana caranya?” tanya gadis cantik itu penasaran.

Hardian menyesap teh herbalnya sebelum menjawab. “Cara gua cuma berlaku kalo orang di rumah ngerasa terancam dengan kedatangan gua. Emangnya, sekarang lo ngerasa terancam dengan kedatangan gua?”

Sejenak, yang ditanya hanya mengetukkan jari telunjuknya pada dagu mungilnya. “Terancam gak, ya? Ngerasa terancam sih kayaknya. Nah, gimana tuh cara lo ngatasinnya?”

“Lo yakin mau tau, Ran?” tanya Hardian serius.

Tanpa terbesit pikiran negatif sedikit pun, gadis cantik itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Iyalah, why not?”

Mendengarnya, Hardian menyeringai puas. I got you, Ran, ucap batinnya. Sepersekian detik kemudian, yang terjadi ialah lelaki tampan itu menarik sebelah tangan gadisnya agar mendekat lalu duduk di atas pangkuannya.

Refleks, gadis cantik itu kembali menjatuhnya cangkir yang ada di genggamannya. Sepasang manik selegam senjanya membulat sempurna.

“No regrets, ya, Ran. I’ll show you the way,” ujar Hardian sensual.

Di detik berikutnya, lelaki tampan itu mulai mengecupi bagian di ruang leher dan dadanya gadisnya yang sudah sedikit terekspos.

Jika boleh jujur, selama beberapa menit bahkan sampai jam saat berbincang dengan gadisnya, Hardian cukup dibuat naik melejit gairahnnya sebab pakaian minim yang dikenakan sang gadis.

“Nghhh,” lenguhnya.

Akhirnya, satu lirihan lolos. Di sisi lain, yang sedang dilecehkan juga menyeringai puas. Permainan ini adalah bukan lain merupakan tujuan awal dari Rachelia menggoda dambaan hatinya.

Yap! Jika kalian kira bahwa gadis cantik yang sedari tadi mengobrol dengan Hardian adalah Ranindya, kalian salah besar. Mengenalkan diri dengan nama kakaknya ialah salah satu rencana dari si gadis licik, Rachelia.

Tidak sampai di situ saja, gadis cantik itu kembali dengan pikiran nakalnya. Lihat saja, dengan kesadaran penuh, Rachelia menggoyangkan pinggulnya hingga kepunyaannya mengenai kepemilikan lelakinya.

“Ran,” panggil Hardian. “Yours got mine,” ujarnya.

Lelaki tampan itu mati-matian menahan hasratnya agar tidak menggempur gadisnya pada pertemuan pertama mereka.

“Kenapa, Har? Lo gak suka?” tanya Rachelia menggoda.

“This is our first meet, girl. Next time, i will smash you up sampe lo gak bisa masuk sekolah,” balasnya tidak mau kalah. “Sekarang, gua dulu yang kerja, lo yang santai,” sambungnya.

Agar gadisnya tidak kembali memberontak, Hardian lebih dulu bergerak. Lelaki tampan itu mengubah posisi mereka. Ia membanting pelan Rachelia agar berbaring di dalam kungkungannya di atas sofa.

“Lo gak boleh gerak sedikit pun, biar gua aja,” perintah lelaki tampan itu.

Belum sempat sang gadis menjawab, lelaki tampan itu sudah mencium gadisnya kasar. Sedikit berbeda dengan sebelumnya, kali ini, sebelah tangan berototnya bergerilya ke segala tempat yang bisa ia jamah.

“Mphhh,” lirih Rachelia tertahan.

Tubuh mungilnya melengkung sebab perlakuan Hardian. Rachelia mulai dibawa terbang ke angkasa saat lelaki tampan itu bermain dengan lidahnya di dalam ciuman mereka dan ditambah dengan tangannya yang meremas lalu sesekali memijat kedua payudaranya secara beragntian.

Sialan! Hardian sangat andal dalam hal-hal memuaskan seperti ini. Rachelia cukup menyesal tidak pindah lebih cepat ke sekolahnya yang sekarang lalu berkenalan dengan seorang Hardian Axelio.

“This feels so fucking good,” puji gadis cantik itu dalam bentuk umpatan saat Hardian melepaskan ciuman mereka.

Hanya dengan kalimat singkat nan sensual itu, Hardian seolah diberi bahan bakar tambahan untuk terus memuaskan gadisnya. Sekarang, lelaki tampan itu berubah haluan.

Kedua tangannya bergerak membuka satu per satu kancing piyama tidur yang sedari tadi membuatnya diselimuti oleh napsu. Sepasang manik selegam malam itu membulat kala menemukan sepasang gunung sintal gadisnya tidak dilapisi apapun selain baju tidurnya.

Hardian tentunya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Dengan cepat, ia melahap sebelah payudara gadisnya serta bermain dengan ujung puting pada payudara satunya yang terbebas.

“Ahhh, Har,” desah gadis cantik itu seraya menarik pelan rambut bagian belakang lelakinya.

Rachelia seolah merasakan surga dunia saat Hardian menyentuh setiap inci kulit pada tubuhnya. Hatinya berteriak gembira sebab memang inilah yang ia inginkan.

Hardian sudah membuat seorang Rachelia jatuh hati pada pertemuan pertama mereka dua hari yang lalu. Di kantin sekolah, saat jam makan siang, tepatnya saat Hardian membantu salah satu petugas kebersihan yang sedang memungut botol plastik yang berserakan di lantai kantin.

Siapa yang akan menyangka, selain sisi nakal, lelaki tampan itu juga memiliki sisi malaikat dalam dirinya. Bagi Rachelia, yang sudah mencari tahu informasi mengenai pujaan hatinya, Hardian adalah paket komplit.

“Nghh, ahh, Har,” lirih Rachelia lagi.

Kala lumatan itu berubah menjadi kecupan pada perut ratanya dan perlahan turun ke arah paha bagian dalamnya. Rachelia meremas bantal yang menjadi sandaran kepalanya. Pasalnya, permainan ini semakin dirasa semakin nikmat.

Hardian, lelaki tampan itu benar-benar menepati ucapannya. Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu hanya berfokus pada orientasi kenikmatan pada gadisnya, yang masih ia kira adalah Ranindya.

“I will open the main prize, ya, Ran,” ucap lelaki tampan itu seolah meminta izin kepada sang pemilik.

Mendengarnya, Rachelia tersenyum teduh. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dengan cara yang semenggoda mungkin, Hardian meluruhkan celana pendek baju tidur beserta pakaian dalam sang gadis.

“Looks so beautiful,” pujinya pada aset indah milik Rachelia.

Sebuah kalimat sanjungan itu sukses membuat gadisnya salah tingkah. Ia memalingkan pandangannya ke segala arah, ke mana saja asal tidak menatap langsung lelaki tampan yang semakin mencuri hatinya.

Melihatnya, Hardian terkekeh. “Lo lebih cantik, Ran.”

Rachelia, gadis cantik itu tidak diberi peluang besar untuk menikmati kupu-kupu yang berterbangan di perutnya oleh sang pujaan hati. Sepersekian detik kemudian, Hardian melesatkan, tidak hanya satu melainkan dua jarinya, masuk ke dalam vagina sang gadis.

“Nghh, akh!” pekik sang gadis.

Kepalanya menengadah ke arah langit-langit ruang tamu. Tangannya semakin erat mencengkram bantal kecil yang menumpu kepalanya. Melihat pemandangan cantik saat wajah gadisnya mengekspresikan kenikmatan, Hardian tersenyum puas.

“You even look more beautiful, Ran,” pujinya lagi.

Sepertinya, kupu-kupu yang memenuhi perut gadis cantik itu kini sudah berubah menjadi seekor naga. Bagaimana lelaki tampan itu melecehkannya lalu memberinya sanjungan di saat yang bersamaan membuat Rachelia mungkin tidak akan mampu melepaskan Hardian untuk orang lain.

“Ahh, Har, move it, nghh, faster,” pinta gadis cantik itu.

Hardian mengangkat sebelah alisnya. “Faster or harder, girl?” tanyanya sensual.

“Both, ahhh, please,” racau Rachelia.

“As you wish,” finalnya.

Sesuai dengan permintaan sang gadis, Hardian memenuhinya. Lelaki tampan itu bahkan berbuat melebihi ekspektasi gadisnya. Ia meneroboskan lagi satu jarinya untuk kemudian lidahnya ikut masuk ke bawah sana.

“Ahhh,” desah gadis cantik itu.

Rachelia menggigit pipi bagian dalamnya demi menetralisir rasa nikmat dari permainan panasnya bersama sang dambaan hati. Hardian seolah mengaduk-aduk vaginanya dengan rasa nikmat yang tiada tara.

“Har, nghh, ahh, i think i’m, ahh, gonna cum,” ujar Rachelia susah payah.

Mendengarnya, Hardian tentunya menjadi lebih cepat dan tanggap. Tangannya yang terbebas ia gunakan untuk memilin ujung sebelah payudara gadisnya yang mencuat.

Rachelia tidak bisa berkata-kata. Perasaannya terlalu diselimuti rasa nikmat saat ini. Tanpa sadar, ia kembali menggoyangkan pinggulnya seolah meminta lebih. Dan, tak lama setelahnya, gadis cantik itu mencapai titik ternikmatnya.

“Akhh!” pekik Rachelia.

Napasnya menggebu seolah diburu. Juga, tubuhnya menggelinjang dan bergetar hebat. Rachelia sangat dipuaskan oleh permainan yang dilakukan Hardian.

Setelah melepaskan jari-jari beserta lidahnya dari bawah sana, Hardian merangkak ke atas untuk mencium kening gadisnya dalam waktu yang cukup lama.

“Good job, girl,” ucapnya disertai simpul manis.

Setelahnya, lelaki tampan itu ikut berbaring di samping gadisnya, memeluk Rachelia dengan sangat erat. Tangannya juga bergerak mengusap lembut kepala bagian belakang lalu punggung sempit sang gadis secara bergantian.

Untuk sejenak, keduanya terlalut dalam atmosfir yang menenangkan antara satu sama lain. Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi, hanya napas teratur yang terdengar beradu.

Rachelia, gadis cantik itu, tiba-tiba saja di dalam hatinya terasa ada sesuatu yang mengganjal. Ya, apalagi jika bukan terkait identitasnya. Cepat atau lambat, ia harus mengaku bahwa ia bukanlah Ranindya, melainkan Rachelia.

“Har,” panggil gadis cantik itu.

“Hm?” jawab Hardian hanya dengan berdehem singkat.

Rachelia sedikit mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah tampan Hardian secara sempurna. “Lo suka sama Ranie, ya?” tanyanya.

“Maksudnya, suka sama lo? Iyalah pasti,” balasnya pasti.

Rachelia kembali menundukkan pandangannya. Jari telunjuknya bermain pada dada bidang lelaki kesayangannya dari balik baju seragam. Di pikirannya terbesit sesuatu yang menyedihkan.

Bagaimana jika Hardian meninggalkannya setelah ini? Bagaimana jika Hardian pergi setelah mengetahui dirinya bukanlah sang kakak? Bagaimana jika…

“Tapi, gua bisa berubah jadi suka sama Rachel,” ujar Hardian tanpa aba-aba.

Pandangan keduanya bertemu. Rachelia yang menatap Hardian dengan lamat, dan juga sebaliknya. Lelaki tampan itu tersenyum teduh.

“Lo Rachelia, iya, kan?” tanya Hardian memastikan.

Awalnya, Rachelia ragu. Haruskah ia berbohong atau mengatakan yang sejujurnya. Ternyata Hardian menyadari bahwa ia bukanlah gadis cantik incaran yang sebenarnya. Namun, akhirnya, ia mengaku.

“Iya, gua Rachelia. Sorry, ya, Har,” ucap gadis cantik itu lemas.

Hardian, lelaki tampan itu bukannya marah atau kalut dalam emosi, senyumnya malah semakin terlihat bermakna. “You don’t have to say sorry, Chel,” ujarnya.

Rachelia, gadis cantik itu terkejut bukan main. Bagaimana tidak, semua rasa sedih serta pikiran negatifnya sirna. Semua ini jauh dari harapannya, in a good way.

“Soalnya, entah kenapa gua jadi jatuh sejatuh-jatuhnya sama lo, Rachelia Hartiga. Even today was our first meet, i still want you di kesempatan selanjutnya, Chel. Gua maunya selalu sama lo. Lagian, Ranie juga udah punya pacar, kan? So, ngapain gua cari yang lain kalo udah ada lo di depan mata gua,” jelas Hardian.

Mendengarnya, Rachelia menghangat hatinya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya. Siapa yang akan mengira bahwa harapannya di awal rencana berjalan dengan mulus.

Pada akhirnya, Rachelia Hartiga, si kembar anak pindahan, secara resmi dan utuh menjadi milik seorang Hardian Axelio, si berandalan sekolah yang pintar serta drummer dari Band Aragon.

“I accidentally falling in love with you, Rachelia Hartiga. Be mine, please?” final lelaki tampan itu.

“Acaranya di GSG,” ujar Airin kepada sesosok hantu yang mendekatinya.

Gadis cantik itu tengah duduk di pinggir lapangan basket sembari memeluk tubuhnya sendiri saat sesosok tubuh tinggi yang tertutup kain putih di sekujur tubuhnya itu berjalan mendekat ke arahnya.

Airin tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia takut akan seseorang, jika bisa dibilang itu adalah manusia, yang tengah menghampirinya.

Tanpa ada sepatah kata pun, sesosok menyeramkan itu duduk dengan jarak yang terpaut di sebelah kanannya.

“Pake,” singkatnya.

Suaranya terdengar berat dan tidak asing. Sesosok yang ternyata seorang lelaki itu, berdasarkan penelisikan Airin dari bias suaranya, menyerahkan kemeja berbahan flanel berwarna merah kepadanya.

“Untuk apa?” tanya gadis cantik itu.

“Pake dulu,” balasnya.

Pada akhirnya, Airin menyambut tangan besar berotot yang mengulurkan sebuah kemeja untuknya.

Jika boleh jujur, gadis cantik itu mulai merasa kedinginan sebab baju yang seharusnya berfungsi untuk menutup seluruh permukaan kulitnya, malam ini tidak berfungsi dengan baik.

“Gua kenal suara lo,” sela Airin seraya memakaikan potongan kain itu pada tubuh bagian atasnya.

“Pasti kenal lah,” jawab lelaki itu.

“Lo ngapain di sini? Acaranya ‘kan di GSG,” tanyanya.

“Nyamperin lo lah,” jawabnya lagi.

“Sumpah! Gua kenal suara lo,” ucap gadis cantik itu lagi.

“Gua Alby, Airin,” final lelaki tampan itu.

“Lo ngapain di sini, By?” tanya Airin tiada hentinya.

“Dibilangin gua nyariin lo,” balas Alby.

“Lo cosplay jadi siapa sih sebenernya? Perasaan tadi gua liat di Twitter lo jadi penjaga pintu neraka,” jelas gadis cantik itu.

Airin, gadis cantik itu penasaran tentang banyak hal. Mulai dari mengapa Alby mencarinya di malam dengan hembusan angin dingin seperti ini lalu memberinya kemeja flanel berwarna merah sampai konsep hantu seperti apa yang lelaki manis itu pilih untuk acara sekolah malamini.

“Diem deh lo,” sergah lelaki manis itu. “Lo sendiri jadi apa malem ini? Lo gak sempet ngejahit baju apa gimana? Keliatan semua tuh,” lanjutnya.

“Ya, gua gak tau,” enteng gadis cantik itu. “Gua dibeliin,” lanjutnya.

Airin menggelantungkan kakinya dari tempat yang ia duduki lalu mengayunkannya ke depan dan ke belakang.

Alby, lelaki manis itu mati-matian menahan untuk tidak meraup gadis cantik di sebelahnya sebab rasa gemas.

“Lo mending pulang deh. Di sini dingin, acaranya juga bentar lagi selesai,” dusta Alby.

Mendengarnya, Airin terkekeh. Ia menolehkan pandangannya ke sebelah kanan untuk mencoba melihat sosok Alby lebih jelas lagi.

“Jangan ngedeket!” pekik lelaki manis itu.

“Gua bukan setan, Alby. Lo gak perlu teriak,” ujar Airin sembari memutar bola matanya yang berbinar sebab ditimpa sinar rembulan.

Sejenak, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Airin cukup merasa terkejut dengan hal itu.

Ini aneh. Jika biasanya Alby akan menanyakan semua hal konyol, kali ini lelaki manis itu didominasi oleh kesunyian. Alby hanya diam di tempatnya duduk.

“Lo pulang aja deh, acaranya gak seru,” alibi lelaki manis itu.

“Iya, nanti, By. Tunggu selesai dulu,” jawab Airin.

“Lo pulang sama Karel, ya?” tanya Alby.

“Farel, By. Namanya Farel,” jawab gadis cantik itu lagi sembari menahan tertawaannya.

“Ya, pokoknya cowok itu lah,” balasnya.

“Iya. Gua pulang sama Farel,” jelas Airin.

“Lo kenapa sama dia?” tanya Alby tiba-tiba.

“’Kan gua udah bilang ke lo kalo gua ke acara sekolah bareng orang lain,” ucap gadis cantik itu.

“Bukan itu,” selanya.

“Ya, terus apa?” balas gadis cantik itu dengan bertanya.

Alby bukannya menjawab malah menguspa wajahnya kasar dari balik kain putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Kemudian, lelaki manis itu bangkit dari posisi duduknya.

“Lo gak bakal ngerti kalo gua jelasin juga. Otak lo gak mampu,” ejeknya.

“Nyesel gua ngobrol bareng lo,” kata Airin. “Padahal gua sedikit punya harapan lo bakal gangguin gua lagi karena jujur sepi rasanya,” lanjut gadis cantik itu.

Alby tanpa sepengetahuan Airin, sepasang manik indahnya membelalak kala indera pendengerannya menangkap stimulus yang mungkin ingin sekali ia dengarkan.

“Gua bakal ganggui lo lagi,” jelas lelaki manis itu. “Tapi gak sekarang karena sekarang lo harusnya pulang. Tapi lo pulangnya gua pesenin taksi online karena gua gak bisa anter lo. Tenang aja, supirnya mantan supir gua juga kok, jadi aman,” sambungnya.

Airin, gadis cantik itu mengernyitkan keningnya saat mendengar pernyataan yang lelaki manis itu sampaikan kepadanya.

Tanpa mengucapkan salam perpisahan, Alby mulai melangkahkan kakinya menjauhi sang gadis. Namun, sebelum terlampau jauh, ia berhenti sejenak.

“Lo malem ini cantik banget, Rin. Gua gak bohong pas gua bilang gua mau dateng ke acara sekolah karena mau liat lo pake kostum cantik. Tapi…,” Alby menggantungkan kalimatnya.

Walaupun terdengar samara, Airin masih dapat mendengarnya dengan jelas. Bagaimana Alby memuji kecantikannya mala mini. Berbeda dengan Farelio yang hanya berfokus dengan keseksian dan keterbukaannya saja.

“Terlalu terbuka,” singkatnya. “Gua udah pernah bilang sama lo buat gak pake sesuatu yang terlalu terbuka, kan?”

Selepasnya, Alby kembali melangkah menjauh. Namun, kali ini ia tidak berhenti untuk melontarkan sanjungan kepada gadis cantik sang pujaan hatinya. Entah kembali ke dalam gedung tempat acara sedang berlangsung atau ke mana, Airin tidak tahu.

Tapi, ada satu hal yang Airin tahu. Malam ini, saat langit dipenuhi bintang kala dirinya sedang bersedih, Alby datang mencarinya. Alby memujinya dengan kata cantik dan tulus. Airin, hatinya tidak pernah seluluh itu sebelumnya.

“Thanks, By,” gumam Airin seraya tersenyum penuh makna.

Sementara itu, di sisi lain, Alby menghentikan langkahnya di balik pohon besar yang jaraknya sebenarnya tak jauh dari tempat Airin duduk. Sesekali, lelaki manis itu mengintip dari balik pohon dengan sebelah matanya yang tertutup.

“Anjir lah,” umpat Alby. “Gegara Karel gua harus jadi liat Airin dari balik kain putih ini,” keluhnya.

“Acaranya di GSG,” ujar Airin kepada sesosok hantu yang mendekatinya.

Gadis cantik itu tengah duduk di pinggir lapangan basket sembari memeluk tubuhnya sendiri saat sesosok tubuh tinggi yang tertutup kain putih di sekujur tubuhnya itu berjalan mendekat ke arahnya.

Airin tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia takut akan seseorang, jika bisa dibilang itu adalah manusia, yang tengah menghampirinya.

Tanpa ada sepatah kata pun, sesosok menyeramkan itu duduk dengan jarak yang terpaut di sebelah kanannya.

“Pake,” singkatnya.

Suaranya terdengar berat dan tidak asing. Sesosok yang ternyata seorang lelaki itu, berdasarkan penelisikan Airin dari bias suaranya, menyerahkan kemeja berbahan flanel berwarna merah kepadanya.

“Untuk apa?” tanya gadis cantik itu.

“Pake dulu,” balasnya.

Pada akhirnya, Airin menyambut tangan besar berotot yang mengulurkan sebuah kemeja untuknya.

Jika boleh jujur, gadis cantik itu mulai merasa kedinginan sebab baju yang seharusnya berfungsi untuk menutup seluruh permukaan kulitnya, malam ini tidak berfungsi dengan baik.

“Gua kenal suara lo,” sela Airin seraya memakaikan potongan kain itu pada tubuh bagian atasnya.

“Pasti kenal lah,” jawab lelaki itu.

“Lo ngapain di sini? Acaranya ‘kan di GSG,” tanyanya.

“Nyamperin lo lah,” jawabnya lagi.

“Sumpah! Gua kenal suara lo,” ucap gadis cantik itu lagi.

“Gua Alby, Airin,” final lelaki tampan itu.

“Lo ngapain di sini, By?” tanya Airin tiada hentinya.

“Dibilangin gua nyariin lo,” balas Alby.

“Lo cosplay jadi siapa sih sebenernya? Perasaan tadi gua liat di Twitter lo jadi penjaga pintu neraka,” jelas gadis cantik itu.

Airin, gadis cantik itu penasaran tentang banyak hal. Mulai dari mengapa Alby mencarinya di malam dengan hembusan angin dingin seperti ini lalu memberinya kemeja flanel berwarna merah sampai konsep hantu seperti apa yang lelaki manis itu pilih untuk acara sekolah malamini.

“Diem deh lo,” sergah lelaki manis itu. “Lo sendiri jadi apa malem ini? Lo gak sempet ngejahit baju apa gimana? Keliatan semua tuh,” lanjutnya.

“Ya, gua gak tau,” enteng gadis cantik itu. “Gua dibeliin,” lanjutnya.

Airin menggelantungkan kakinya dari tempat yang ia duduki lalu mengayunkannya ke depan dan ke belakang.

Alby, lelaki manis itu mati-matian menahan untuk tidak meraup gadis cantik di sebelahnya sebab rasa gemas.

“Lo mending pulang deh. Di sini dingin, acaranya juga bentar lagi selesai,” dusta Alby.

Mendengarnya, Airin terkekeh. Ia menolehkan pandangannya ke sebelah kanan untuk mencoba melihat sosok Alby lebih jelas lagi.

“Jangan ngedeket!” pekik lelaki manis itu.

“Gua bukan setan, Alby. Lo gak perlu teriak,” ujar Airin sembari memutar bola matanya yang berbinar sebab ditimpa sinar rembulan.

Sejenak, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Airin cukup merasa terkejut dengan hal itu.

Ini aneh. Jika biasanya Alby akan menanyakan semua hal konyol, kali ini lelaki manis itu didominasi oleh kesunyian. Alby hanya diam di tempatnya duduk.

“Lo pulang aja deh, acaranya gak seru,” alibi lelaki manis itu.

“Iya, nanti, By. Tunggu selesai dulu,” jawab Airin.

“Lo pulang sama Karel, ya?” tanya Alby.

“Farel, By. Namanya Farel,” jawab gadis cantik itu lagi sembari menahan tertawaannya.

“Ya, pokoknya cowok itu lah,” balasnya.

“Iya. Gua pulang sama Farel,” jelas Airin.

“Lo kenapa sama dia?” tanya Alby tiba-tiba.

“’Kan gua udah bilang ke lo kalo gua ke acara sekolah bareng orang lain,” ucap gadis cantik itu.

“Bukan itu,” selanya.

“Ya, terus apa?” balas gadis cantik itu dengan bertanya.

Alby bukannya menjawab malah menguspa wajahnya kasar dari balik kain putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Kemudian, lelaki manis itu bangkit dari posisi duduknya.

“Lo gak bakal ngerti kalo gua jelasin juga. Otak lo gak mampu,” ejeknya.

“Nyesel gua ngobrol bareng lo,” kata Airin. “Padahal gua sedikit punya harapan lo bakal gangguin gua lagi karena jujur sepi rasanya,” lanjut gadis cantik itu.

Alby tanpa sepengetahuan Airin, sepasang manik indahnya membelalak kala indera pendengerannya menangkap stimulus yang mungkin ingin sekali ia dengarkan.

“Gua bakal ganggui lo lagi,” jelas lelaki manis itu. “Tapi gak sekarang karena sekarang lo harusnya pulang. Tapi lo pulangnya gua pesenin taksi online karena gua gak bisa anter lo. Tenang aja, supirnya mantan supir gua juga kok, jadi aman,” sambungnya.

Airin, gadis cantik itu mengernyitkan keningnya saat mendengar pernyataan yang lelaki manis itu sampaikan kepadanya.

Tanpa mengucapkan salam perpisahan, Alby mulai melangkahkan kakinya menjauhi sang gadis. Namun, sebelum terlampau jauh, ia berhenti sejenak.

“Lo malem ini cantik banget, Rin. Gua gak bohong pas gua bilang gua mau dateng ke acara sekolah karena mau liat lo pake kostum cantik. Tapi…,” Alby menggantungkan kalimatnya.

Walaupun terdengar samara, Airin masih dapat mendengarnya dengan jelas. Bagaimana Alby memuji kecantikannya mala mini. Berbeda dengan Farelio yang hanya berfokus dengan keseksian dan keterbukaannya saja.

“Terlalu terbuka,” singkatnya. “Gua udah pernah bilang sama lo buat gak pake sesuatu yang terlalu terbuka, kan?”

Selepasnya, Alby kembali melangkah menjauh. Namun, kali ini ia tidak berhenti untuk melontarkan sanjungan kepada gadis cantik sang pujaan hatinya. Entah kembali ke dalam gedung tempat acara sedang berlangsung atau ke mana, Airin tidak tahu.

Tapi, ada satu hal yang Airin tahu. Malam ini, saat langit dipenuhi bintang kala dirinya sedang bersedih, Alby datang mencarinya. Alby memujinya dengan kata cantik dan tulus. Airin, hatinya tidak pernah seluluh itu sebelumnya.

“Thanks, By,” gumam Airin seraya tersenyum penuh makna.

Sementara itu, di sisi lain, Alby menghentikan langkahnya di balik pohon besar yang jaraknya sebenarnya tak jauh dari tempat Airin duduk. Sesekali, lelaki manis itu mengintip dari balik pohon dengan sebelah matanya yang tertutup.

“Anjir lah,” umpat Alby. “Gegara Karel gua harus jadi liat Airin dari balik kain putih ini,” keluhnya.

Setelah meninggalkan Hana beserta janjinya dengan toko buku, Airin melangkahkan kakinya keluar dari ruang kelas untuk segera menuju ke warung Bi Ijah.

Pasalnya, Farelio sudah menunggu kedatangannya semenjak bel pulang sekolah berbunyi beberapa menit lalu.

Sepasang maniknya tertuju pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir dengan mesin menyala tepat di depan warung Bi Ijah.

Tidak ingin membuat lelaki kesayangannya menunggu lebih lama, gadin cantik itu segera masuk ke dalam mobil tersebut.

“Farel,” sapa Airin sembar meletakkan bokongnya di atas kursi penumpang di sebelah kiri.

Untuk sementara, lelaki tampan itu lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan gadisnya. Farelio sibuk menggulirkan ibu jarinya pada layar ponsel. Kemudian, ia menghela napas panjang.

“Kamu gak apa-apa, Rel?” tanya gadis cantik itu.

Airin, gadis cantik itu menelisik lelaki tampan yang sebenarnya pergerakannya sudah tidak asing lagi. Ia tahu, Farelio mungkin sedang merajuk padanya entah sebab perkara apa.

Lagi, tanpa menjawab, lelaki tampan itu meletakkan ponselnya di dalam saku celana seragam sekolahnya.

Kemudian, ia mulai menancap gas untuk meninggalkan pekarangan sekolah bersama gadisnya.

Tidak ingin membuat atmosfer semakin mencekam, Airin juga memilih untuk membungkam dirinya.

Biarkan saja, cepat atau lambat, gadis cantik itu akan mengetahui apa yang membuat lelaki tampan di sebelahnya ini berubah menjadi bongkahan es batu.

Di persimpangan jalan yang ramai, mobil hitam mewah itu berhenti saat lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah.

Airin sesekali melirik ke arah kanannya, semetara Farelio masih berfokus pada hamparan jalan di depannya.

“Kamu tadi sama siapa di perpus?” tanya lelaki tampan itu to the point tanpa mengalihkan padangannya.

“Kapan?” balas Airin dengan kembali bertanya.

“Gak usah pura-pura lupa,” sarkasnya.

Mendengarnya, gadis cantik itu memutar bola matanya. Ah, benar juga. Alby Valla Bagasditya, si pengganggu setia dari Airin Herning Kamarana.

“Alby,” singkat Airin.

“Kamu tau namanya,” ujar Farelio masih dengan tatapannya yang seolah bisa membelah jalanan aspal di hadapannya.

Tidak hanya itu, genggaman tangannya pada setir mobil pun semakin mengerat. Farelio marah.

“Semua orang juga tau kali, Rel, ‘kan pernah masuk base sekolah,” jelasnya.

Nada bicara Airin mulai meninggi. Oleh karenanya, Farelio kembali diam. Saat lampu berwarna merah itu berganti warna menjadi hijau, lelaki tampan itu kembali melajukan mobilnya.

Dan, tak lama setelahnya, Farelio memberhentikan mobilnya di depan toko baju kecil yang sepi pengunjung. Jangankan pelanggan, pemilik atau pegawai tokonya pun tak kasat mata.

Setelahnya, lelaki tampan itu melonggarkan dasi sekolah yang menggantung di lehernya. Untuk sejenak, ia memandang wajah gadisnya dengan lamat. Melihatnya, Airin membalas tatapan itu dengan tak kalah intens.

“Aku gak suka, Rin,” singkat Farelio.

Di detik berikutnya yang terjadi adalah Farelio menarik tengkuk gadisnya agar masuk ke dalam ciumannya. Airin, tentu saja gadis cantik itu terkesiap dengan gerakan tiba-tiba tersebut.

Gadis cantik itu berusaha memberontak sebab suasana hatinya sedang tidak menginkan hal-hal sensitif seperti ini terjadi. Namun, bukan Farelio namanya jika memberikan gadisnya pengampunan.

Lihat saja, bagaimana sepasang lengan kekarnya bergerak menangkup sepasang lengan lainnya yang lebih kecil untuk kemudian mengikatnya menggunakan dasi sekolah lalu menggantungnya di handgrip pintu mobil.

Lelaki tampan itu sama sekali tidak melepaskan ciumannya. Baru setelah selesai degan aktivitas mengikat dan menggantung tangan gadisnya, Farelio menyudahi ciuman kasarnya.

“Aku gak suka, Airin, kalo kamu deket sama laki-laki selain aku,” jelas Farelio dengan bias suara semengintimidasi mungkin.

Airin terhenyak mendengar pengakuan dari lelaki kesayangannya. “Tapi aku emang gak deket sama cowok selain kamu, Farel,” jawabnya.

“Aku liat kamu sama Alby berduaan di perpus. Kamu juga ngaku kok,” bantah Farelio tidak mau kalah.

Mendengarnya, Airin menghela napas panjang. Farelio Evan Pratama membuatnya benar-benar naik darah hari ini.

“Lepasin dulu tangan aku, baru aku jelasin,” ucap Airin seraya sedikit menggoyangkan tangannya.

“No, Airin,” tegas lelaki tampan itu. “You deserve to be punished,” finalnya.

Sepersekian detik kemudian, Farelio kembali mencium kasar sang gadis. Sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, kini tangannya muai bergerilya ke arah sepasang gunung sintal itu, meremas lalu sesekali memijatnya.

Airin, gadis cantik itu kembali memberontak. Sungguh, untuk saat ini, ia tidak sedang ingin disentuh oleh lelakinya. Namun, tidak dapat dipungkiri, Farelio terlalu bersemangat.

“Nghhh,” lenguhannya lolos.

Mendengar ada yang melirih, Farelio berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menyeringai puas. “Seems you like our after school session, Airin,” godanya.

Gadis cantik menggelengkan kepalanya beberapa kali. “I’m not, Farel? I begged you, only for this time, can we not do this, hm?” pintanya.

Indera pendengarannya menangkap adanya kalimat permohonan dari sang gadis. Mendengarnya, Farelio malah tidak ingin berhenti, melainkan kata-kata itu semakin membangkitkan gairahnya.

“Don’t be such a hypocrite, Airin. You know you’ll like that,” balas Farelio.

Berikutya, Farelio kembali menjamah gadisnya. Lelaki tampan itu mengecup ruang di sekitar leher jenjang gadisnya dan meninggalkan beberapa bekas kepemilikan.

Airin, gadis cantik itu hanya bisa memejamkan maniknya erat sembari menggigit bibir bagian bawhanya.

“Relax, Airin,” ujar lelaki tampan itu di sela-sela kesibukannya.

Tangan besar itu bergerak lagi. Kali ini, mengusap paha bagian dalam sang gadis yang masih terbalut rok seragam sekolah. Airin mati-matian menahan rasa yang sang sangat menggelitik itu.

“I will start with one condition. You’re not allowed to cum until i tell you to,” jelas Farelio seraya membisik sensual.

Airin menolehkan pandangannya ke arah samping. Sepasang manik selegam senjanya semakin tertutup erat berikut dengan kedua kakinya.

Melihatnya, Farelio merespon. “Don’t be scared, Airin. This isn’t our first. You used to be like it.”

PLAKK!

Lelaki tampan itu menampar paha gadisnya agar mau membuka lebar. Mau tidak mau, ingin tidak ingin, Airin kembali memberi akses masuk untuk tangan beserta jari berurat milik kekasihnya.

“Ah, i almost forgot,” sergahnya. “If you lose in this game, I won’t give you any remission. Understand?” tanya Farelio sembari menangkup dagu mungi sang gadis.

Airin tentunya tidak mau menjawab sebab ia memang tidak menginginkan semua ini. Tidak kunjung merespon pertanyaannya, Farelio kembali mencium kasar gadisnya, bahkan sampai berdarah.

Dengan terpaksa, gadis cantik itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Cairan bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya mulai turun perlahan membanjiri pipi chubby-nya.

“I won’t hurt you, Airin, only if you do exactly what i say,” perintah lelaki tampan itu.

Kembali pada aktivitasnya yang sempat tertunda, tangan Farelio bergerak ke arah selatan gadisnya. Ia mengusap kepemilikan Airin yang masih terbungkus oleh pakaian dalam.

Perlahan, jari tengah dan telunjuk lelaki tampan menarik kain berwarna putih yang menutupi vagina gadisnya agar tangannya dapat dengan leluasa melesat ke dalam sana.

“Akhh!” pekik Airin.

Tubuhnya menggeinjang. Bukan karena rasa nikmat yang mengangkasa, melainkan sebab rasa sakit yang amat luar biasa. Farelio, lelaki taman itu tidak hanya meneroboskan satu atau dua, tetapi tiga jarinya sekaligus tanpa ada sesi foreplay yang rampung.

Air yang mengalir dari sepasang manik selegam senja dengan binar indah itu semakin deras. Berbeda dengan Airin, Farelio justru sangat menikmati momen tersebut.

“Farel, sakit…,” lirih gadis cantik itu seraya tersesak.

Walaupun dapat mendengarnya dengan jelas, lelaki tampan itu tidak mengiraukann peringatan dari gadisnya.

Farelio terlalu sibuk dengan rasa cemburu yang bersarang di hatinya sehingga ia tega menyiksa Airin.

“Farel pulang, Pi” ujar lelaki tampan itu.

Farelio melangkahkan kakinya gontai untuk memasuki ruang kerja sang ayah. Sementara itu, Kendrick, terlihat tengah sibuk dengan beberapa berkas perusahaan yang tertata berantakan di atas meja kayunya.

Lelaki paruh baya itu meluruhkan sedikit kacamata yang bertengger di atas hidung bangirnya. Matanya menelisik keadaan putra tunggalnya yang sedang berdiri tepat di depannya.

“Dari mana kamu, Rel?” tanyanya.

“Rumahnya Vino, Pi. Lagi ngerjain tugas bareng, sama Alan juga,” jelas Farelio malas.

Sejujurnya, tanpa lelaki tampan itu jelaskan pun, ayahnya sudah tahu di mana keberadaannya.

Mengingat, Farelio sering kali memergoki seorang pria dengan setelan hitam rapi yang kian hari semakin menguntitnya.

Farelio yakin dengan sepenuh hatinya bahwa pria bertubuh tegap itu adalah salah seorang anak buahnya. Ah, lebih tepatnya mungkin bodyguard sewaan.

“Papi tau Farel gak bohong, kenapa masih nanya?” sambung lelaki tampan itu.

“Watch your mouth, Farelio. Papi gak pernah ajarin kamu untuk ngelawan Papi,” ujar Kendrick.

Mendengarnya, Farelio menghela napas panjang. Sepasang bola mata hitamnya bergulir jengah.

“Put your hands on my table,” lanjutnya.

Farelio, lelaki tampan yang sedari tadi merasa jengkel itu kini merasa cukup terkejut. Tentunya, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“You hear me, Farelio. Your hands on my table,” tegas sang ayah.

Dengan berat hati, lelaki tampan itu meletakkan sepasang lengan kekarnya di atas meja kerja ayahnya.

Selepasnya, Kendrick bangkit dari posisi duduknya untuk kemudian menumpukan kedua tangannya di atas meja, di hadapan sang anak.

“Papi tau kamu menyelinap keluar dua malam yang lalu. Benar ‘kan, Farelio?” ucap Kendrick mengintimidasi. “Dan Papi juga tau, ke mana kamu pergi,” lanjutnya.

Farelio menggertakkan rahangnya. Sialan! Dugaannya benar. Ayahnya mengetahui ia menyusup keluar dari rumah untuk pergi ke apartemen gadisnya.

“You may choose. Papi yang harus ngasih pelajaran ke kamu atau gadis itu yang harus Papi kasih pelajaran,” tawar Kendrick.

Sepasang manik selegam malam yang serupa dengan milik Farelio itu menatap tajam. Sesungguhnya, lelaki tampan itu ingin sekali membalas, namun…

“Farel mohon sama Papi jangan bahayain hidup dia, jangan sakitin dia. Hukuman Papi ada di sini, di Farel. Mulai dari kepergian Mami sampai hubungan Papi sama Farel. Hukuman Papi di sini, di Farel,” jelas Farelio.

Terdengar jelas bahwa lelaki tampan itu menekankan kata hukuman pada kalimatnya. Pastinya, hal itu sukses membakar lebih banyak lagi batu bara api amarah pada hati seorang Kendrick.

Lelaki paruh baya itu menyeringai. “On your own, Farelio.”

Dengan begitu, Kendrick melonggarkan tali pinggang berbahan kulit yang melingkar di tubuhnya.

CTARR!

Satu cambukan mendarat di lengan kanan Farelio.

CTARR!

Satu lagi cambukan berhasil mendarat.

CTARR!

Suara perpaduan antara sabuk kulit impor dengan kulit mulus lelaki tampan itu menggema di seluruh sudut ruang kerja Kendrick sore itu.

Farelio, lelaki tampan itu hanya dapat meringis pelan sembari menahan sakit yang teramat sangat.

Lihat saja, bagaimana lengan berurat itu mulai dipenuhi dengan banyak luka terbuka serta bekas lebam yang bersarang.

Rasa sakit yang Farelio rasakan dalam beberapa waktu belakang ini, bukan lain hanyalah untuk melindungi gadisnya.

Anak buah sang ayah, atau bahkan Kendrick sendiri, tidak akan pernah bisa menemui apalagi menyentuh Airin sedikit pun.