ttoguxnanaxranie

Alvino dan Nalandra sudah menghabiskan 30 menit untuk mencari keberadaan Airin di seluruh sudut sekolah yang bisa mereka jangkau.

Mulai dari perpustakaan, ruang perlengkapan, kantin, ruang kelas 11 IPA 6, sampai warung bi ijah. Namun, hasilnya tetap nihil.

“Airin dimana sih anjir,” keluh Nalandra.

Sepasang sahabat itu kini tengah mendudukkan diri di pinggir lapangan basket sembari menegak sebotol air mineral dingin.

“Gua gak tau harus cari Airin ke mana lagi,” tambah Alvino.

Baik Alvino maupun Nalandra sama-sama diburu napas. Mencari seorang Airin benar-benar menguras tenaga mereka.

“Coba telpon Farel,” saran Nalandra.

Setelahnya, Alvino mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk kemudian menghubungi sahabat yang entah mengapa selalu lari jika masalah sedang menghampiri gadisnya.

“Gak diangkat,” ujar Alvino.

“Bangsat,” umpat Nalandra.

“Apart,” ucap Alvino.

“Hah,” balas Nalandra.

“Apart-nya. Kalo dia gak nyaman ada di keramaian yang banyak orang kenal dia, pasti dia milih tempat sepi yang gak ada satu pun orang yang kenal dia,” jelas Alvino.

Mendengarnya, Nalandra hanya mengangguk paham. Di detik berikutnya, sepasang lelaki tampan itu melengang dari pekarangan sekolah.

Persetan dengan guru dan mata pelajaran yang akan mereka lewati sebab yang terpenting sekarang adalah di mana Airin berada.

Dengan motor sport kesayangan yang biasa menemani Alvino kemana pun ia pergi, keduanya kini sudah sampai di area parkir apartemen yang menjadi kediaman Airin.

Alvino dan Nalandra melangkahkan kaki jenjang mereka cepat untuk sampai ke lantai 13, tempat Airin tinggal.

Ting! Tong!

Alvino berkali-kali menekan tombol bel yang tersedia di samping pintu dengan nomor 133 itu, tetapi tidak ada respon yang muncul.

Setelah kurang lebih sepuluh kali Alvino dengan seluruh tenaganya hampir menghancurkan tombol bel tersebut, seseorang keluar dari pintu tersebut.

“Airin,” panggil Nalandra.

Dua pasang manik lelaki tampan itu berbinar seolah telah berhasil menemukan peti harta karun. Namun, yang muncul bukanlah seorang gadis berambut panjang.

“Airin gak ada di sini,” ujar Farelio lemas.

Lelaki tampan itu berbicara sembari menatap kedua kakinya yang berpijak di atas lantai dingin. Alvino dan Nalandra menghelas napas panjang setelah mendengar ucapan dari Farelio.

“Lo yang seharusnya cari Airin, Rel,” ujar Alvino.

“Gak bisa,” balas Farelio.

Pada akhirnya, lelaki tampan itu mau menatap lawan bicaranya walau dengan pandangan yang datar.

“Lo lumpuh? Gua gak liat lo lagi sakit atau sekarat, Farel. Lo harus cari Airin,” jelas Nalandra.

“Gua gak bisa,” jawab Farelio.

Alvino dan Nalandra, jika sekarang mereka bukan berada di tempat tinggal orang lain, mungkin sudah menghabisi sahabatnya yang satu itu.

“Kalian tau ‘kan Airin penting buat gua,” sela Farelio. “Tolongin gua,” lirihnya.

Nalandra memutar bola matanya untuk kemudian pergi meninggalkan Farelio. Tak lama setelahnya, Alvino mengikuti langkah sahabatnya.

Sepeninggalan kedua sahabatnya itu, Farelio kembali melengang masuk ke dalam apartemen Airin.

Lelaki tampan itu merebahkan dirinya di atas ranjang tempat ia biasa bermain bersama gadisnya.

Sebelah lengannya bergerak menutupi indera penglihatannya agar cahaya lampu tidak langsung masuk dan menusuk matanya.

“Aku bukannya gak peduli sama kamu, Airin,” monolog Farelio. “Aku gak tau harus gimana ngejelasinnya ke kamu,” sambungnya.

“Airin,” panggil Farelio sembari kepalanya menguar dari balik pintu kamar sang gadis.

Tidak jawaban yang terdengar. Lelaki tampan itu dapat melihat jelas bagaimana sepasang bahu sempit milik Airin bergetar hebat di balik selimut di atas ranjang.

“Kamu udah makan, Rin?” tanya lelaki tampan itu.

Farelio mendudukkan dirinya di tepi kasur. Airin, gadis cantik itu tidak menghiraukan pertanyaan dari lelaki kesayangannya.

Ia tidak mengira Farelio akan menghampirinya secepat ini. Tidak ingin terganggu dengan kehadiran lelaki tampan itu, Airin mengubah posisinya menjadi membelakangi Farelio.

“Rin,” panggil Farelio lagi. “Aku gak bermaksud main tangan sama kamu tadi. Aku kelepasan,” jelasnya.

“Padahal kamu bisa tanya dulu ke aku, Rel,” balas Airin dengan suara yang tersendat. “But you didn’t do that,” sambungnya.

Mendengarnya, Farelio menghela napas panjang. Kini, lelaki tampan memposisikan dirinya untuk berada di samping sang gadis.

Sepasang tangan kekar itu sekarang melingkar pada pinggang mungil sang gadis, memeluknya dari belakang. Airin sempat tersentak, tetapi ia tidak ingin menggubris hal itu.

“Iya, Airin. Aku tau aku salah and i was sorry for that,” ujar Farelio.

Selanjutnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara kedua. Baik Airin maupun Farelio masih nyaman berada di posisi masing-masing.

Ya, paling tidak, sampai sebelah tangan Farelio mulai bergerilya menjamah semua ruang yang bisa ia jangkau.

“I’m really sorry for the earlier, ya, Airin,” ucap Farelio setengah berbisik pada telinga kiri sang gadis.

Airin, yang diberi perlakuan tiba-tiba seperti itu hanya dapat meringis. Pasalnya, sebelah tangan Farelio kini sudah mengusap vaginanya dari arah luar.

Sementara itu, tangan satunya yang terbebas ia gunakan untuk memijat sebelah payudaranya.

“Nghh, Rel,” lirih Airin tertahan sebab ia menggigit pipi bagian dalamnya.

“Hm,” balas lelaki tampan itu hanya dengan deheman singkat yang terdengar begitu dalam.

“Tanganmu,” ucap gadis cantik itu.

“I want to express my apalogize,” sela Farelio. “Lemme show that,” lanjutnya.

Di detik selanjutnya, lelaki tampan itu bergerak memutarbalikkan tubuh gadisnya agar menghadap ke arahnya.

Ditatapnya sepasang manik selegam senja kesukaannya. Farelio menyeringai nakal sebelum menyambar ganas belahan bibir ranum berwarna pink itu.

“Mphh,” desah Airin dalam ciumannya.

Bagaimana tidak. Farelio semakin mendekapnya. Belum lagi, tangan besar itu mendorong tengkuknya agar memperdalam ciuman mereka.

Tidak hanya sampai di situ, tangan Farelio kembali bergerak. Kali ini, membuka satu per satu kancing kemeja seragam sekolahnya gadisnya.

Untuk kemudian setelahnya, ia melepas kemeja seragam sekolahnya sendiri. Juga, Farelio merubah posisinya menjadi di atas Airin.

Airin menelan air liurnya dengan susah payah saat indera penglihatannya menangkap otot perut yang tercetak sempurna di hadapannya.

Walaupun bukan pertama kali melihatnya, namun gadis cantik itu selalu terkesima dengan perut atletis yang Farelio miliki.

“I bet you like what you see, Rin,” goda Farelio.

Mendengarnya, Airin segera memalingkan pandangannya ke segala arah. Tidak dapat dipungkiri, masih terdapat seberkas amarah di dalam hatinya.

“Ahhh,” lenguhan Airin lolos.

Saat tiba-tiba Farelio meremas kuat payudaranya yang entah sejak kapan sudah terlepas dari pelindungnya.

Belum puas sebab desahan itu tidak mengandung namanya, Farelio bergerak. Lelaki tampan itu melumat sebelah puting gadisnya.

“Nghh, ahhh, Rel,” lirih gadis cantik itu.

Telapak tangan Airin meremat kain seprai tempat tidurnya demi menyalurkan rasa nikmat yang Farelio berikan untuknya.

Farelio, lelaki tampan itu tersenyum di sela-sela kesibukkannya saat indera pendengarannya menangkap ada nama panggilan yang Airin sebutkan.

“Ahhh, Rel, it’s tickling,” ucap Airin.

Bukannya berhenti, Farelio justru semakin gencar memainkan puting payudara gadisnya menggunakan lidahnya.

Tangan kanannya yang sedari tadi ia pakai untuk meremas lalu sesekali memijit ujung puting gadisnya yang mencuat, kini berpindah haluan.

Farelio mengusap pakaian dalam yang Airin kenakan. Lelaki manis itu kembali menyeringai kala yang ia pegang di bawah sana sudah terasa lembap.

Dengan begitu, Farelio menghentikan acara menyusu dari payudara gadisnya. Ia melepaskan celana seragam sekolahnya untuk kemudian melakukan hal serupa pada rok seragam sekolah Airin.

Setelahnya, lelaki tampan itu kembali mengungkung gadisnya. Airin, gadis cantik itu dapat merasakan bagaimana bagian bawahnya terus tersentuh dengan milik Farelio.

“Ahh, Rel, masukin aja, nghh,” ujarnya.

“Can’t wait any longer, Rin?” tanya Farelio dengan nada sesensual mungkin.

Sebelah tangan lelaki tampan itu bergerak memakaikan kondom yang ia ambil dari nakas pada kepemilikannya.

Airin tidak mampu menjawab secara lisan, ia hanya dapat menganggukan kepalanya beberapa kali.

“You sure?” tanya lelaki tampan itu memastikan.

Namun, sebelum berhasil menjawab, tubuh mungil itu dibuat menggelinjang terlebih dahulu.

“Farel!” pekik Airin.

Kala penis besar nan mencuat milik Farelio masuk ke dalam vaginanya hanya dengan sekali hentakan.

“Nghh, ahh,” desah Farelio.

Saat merasakan miliknya masuk sempurna ke dalam gadisnya. Padahal, ia belum bergerak tetapi rasa nikmat itu mulai menyelimutinya.

“Move it, ahh, Rel,” pinta gadis cantik itu.

Dengan begitu, Farelio mulai menggempur gadisnya dengan kecepatan rendah. Keduanya terhanyut dalam rasa nikmat.

Airin dibuat kewalahan saat lelaki kesayangannya itu terus menghantam titik manisnya. Hanya dengan tempo itu, Airin menggila.

“Ahh, Rel. You hit, nghh, my sweet spot, ahh,” jelas Airin susah payah.

“Do I, Rin?” balas Farelio seraya memandang ke arah wajah cantik di bawahnya.

Lelaki tampan itu tersenyum puas untuk kemudian menaikkan tempo permainannya. Airin dibuat semakin terbang ke langit olehnya.

Lihat saja, bagaimana gadis cantik itu terus mengelukan nama lelaki tampan yang gemar melecehkannya.

“Ahh, Rel, ahhh, i think, nghh, i wanna cum,” ujar Airin dengan sepasang maniknya yang terpejam erat.

“You will, Airin, but with one condition,” jelas Farelio. “You may not make any noise till i finish,” lanjutnya.

Airin, gadis cantik itu menganggukkan kepalanya semangat sebab ia tidak dapat menahannya lebih lama lagi.

Airin menggigit bibir bagian bawahnya agar mulutnya tidak menghasilkan desahan, lenguhan, ataupun lirihannya.

“Airin,” panggil Farelio.

Lelaki tampan itu menggempur gadisnya lebih keras daripada sebelumnya. Membuat Airin semakin pusing akan rasa nikmat.

“I’m sorry,” lanjutnya.

Sekarang, Farelio menghantam bagian bawah Airin dengan lebih dalam. Kepala penisnya sukses memanjakan g-spot-nya.

“Ahh!”

“Akh!”

Airin dan Farelio menjemput pelepasannya bersama-sama. Keduanya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit dengan napas yang memburu.

Setelah menarik selimut dan membuang kantung yang dipenuhi cairan miliknya ke tempat sampah, Farelio kembali memposisikan dirinya berbaring di samping Airin.

Lelaki tampan itu menarik sang gadis agar masuk ke dalam pelukannya. Farelio berkali-kali mengecup pucuk gadisnya sementara Airin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang lelaki kesayangannya.

“I’m so sorry, Airin,” sergah Farelio. “I really couldn’t control myself back there,” sambungnya.

Tidak ada respon yang terdengar dari Airin. Lelaki tampan itu berpikir mungkin gadisnya masih merasa lemas sehingga kesulitan untuk menjawab.

Namun, saat Airin hendak membalas permohonan maaf yangy Farelio kerap kali lontarkan padanya hari ini, lelaki tampan itu kembali berkata.

“I can’t let them know about us,” finalnya.

“Airin,” panggil Farelio sembari kepalanya menguar dari balik pintu kamar sang gadis.

Tidak jawaban yang terdengar. Lelaki tampan itu dapat melihat jelas bagaimana sepasang bahu sempit milik Airin bergetar hebat di balik selimut di atas ranjang.

“Kamu udah makan, Rin?” tanya lelaki tampan itu.

Farelio mendudukkan dirinya di tepi kasur. Airin, gadis cantik itu tidak menghiraukan pertanyaan dari lelaki kesayangannya.

Ia tidak mengira Farelio akan menghampirinya secepat ini. Tidak ingin terganggu dengan kehadiran lelaki tampan itu, Airin mengubah posisinya menjadi membelakangi Farelio.

“Rin,” panggil Farelio lagi. “Aku gak bermaksud main tangan sama kamu tadi. Aku kelepasan,” jelasnya.

“Padahal kamu bisa tanya dulu ke aku, Rel,” balas Airin dengan suara yang tersendat. “But you didn’t do that,” sambungnya.

Mendengarnya, Farelio menghela napas panjang. Kini, lelaki tampan memposisikan dirinya untuk berada di samping sang gadis.

Sepasang tangan kekar itu sekarang melingkar pada pinggang mungil sang gadis, memeluknya dari belakang. Airin sempat tersentak, tetapi ia tidak ingin menggubris hal itu.

“Iya, Airin. Aku tau aku salah and i was sorry for that,” ujar Farelio.

Selanjutnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara kedua. Baik Airin maupun Farelio masih nyaman berada di posisi masing-masing.

Ya, paling tidak, sampai sebelah tangan Farelio mulai bergerilya menjamah semua ruang yang bisa ia jangkau.

“I’m really sorry for the earlier, ya, Airin,” ucap Farelio setengah berbisik pada telinga kiri sang gadis.

Airin, yang diberi perlakuan tiba-tiba seperti itu hanya dapat meringis. Pasalnya, sebelah tangan Farelio kini sudah mengusap vaginanya dari arah luar.

Sementara itu, tangan satunya yang terbebas ia gunakan untuk memijat sebelah payudaranya.

“Nghh, Rel,” lirih Airin tertahan sebab ia menggigit pipi bagian dalamnya.

“Hm,” balas lelaki tampan itu hanya dengan deheman singkat yang terdengar begitu dalam.

“Tanganmu,” ucap gadis cantik itu.

“I want to express my apalogize,” sela Farelio. “Lemme show that,” lanjutnya.

Di detik selanjutnya, lelaki tampan itu bergerak memutarbalikkan tubuh gadisnya agar menghadap ke arahnya.

Ditatapnya sepasang manik selegam senja kesukaannya. Farelio menyeringai nakal sebelum menyambar ganas belahan bibir ranum berwarna pink itu.

“Mphh,” desah Airin dalam ciumannya.

Bagaimana tidak. Farelio semakin mendekapnya. Belum lagi, tangan besar itu mendorong tengkuknya agar memperdalam ciuman mereka.

Tidak hanya sampai di situ, tangan Farelio kembali bergerak. Kali ini, membuka satu per satu kancing kemeja seragam sekolahnya gadisnya.

Untuk kemudian setelahnya, ia melepas kemeja seragam sekolahnya sendiri. Juga, Farelio merubah posisinya menjadi di atas Airin.

Airin menelan air liurnya dengan susah payah saat indera penglihatannya menangkap otot perut yang tercetak sempurna di hadapannya.

Walaupun bukan pertama kali melihatnya, namun gadis cantik itu selalu terkesima dengan perut atletis yang Farelio miliki.

“I bet you like what you see, Rin,” goda Farelio.

Mendengarnya, Airin segera memalingkan pandangannya ke segala arah. Tidak dapat dipungkiri, masih terdapat seberkas amarah di dalam hatinya.

“Ahhh,” lenguhan Airin lolos.

Saat tiba-tiba Farelio meremas kuat payudaranya yang entah sejak kapan sudah terlepas dari pelindungnya.

Belum puas sebab desahan itu tidak mengandung namanya, Farelio bergerak. Lelaki tampan itu melumat sebelah puting gadisnya.

“Nghh, ahhh, Rel,” lirih gadis cantik itu.

Telapak tangan Airin meremat kain seprai tempat tidurnya demi menyalurkan rasa nikmat yang Farelio berikan untuknya.

Farelio, lelaki tampan tersebut tersenyum di sela-sela kesibukkannya saat indera pendengarannya menangkap ada nama panggilan yang Airin sebutkan.

“Ahhh, Rel, it’s tickling,” ucap Airin.

Bukannya berhenti, Farelio justru semakin gencar memainkan puting payudara gadisnya menggunakan lidahnya.

Tangan kanannya yang sedari tadi ia pakai untuk meremas lalu sesekali memijit ujung puting gadisnya yang mencuat, kini berpindah haluan.

Farelio mengusap pakaian dalam yang Airin kenakan. Lelaki manis itu kembali menyeringai kala yang ia pegang di bawah sana sudah terasa lembap.

Dengan begitu, Farelio menghentikan acara menyusu dari payudara gadisnya. Ia melepaskan celana seragam sekolahnya untuk kemudian melakukan hal serupa pasa rok seragam sekolah Airin.

Setelahnya, lelaki tampan itu kembali mengungkung gadisnya. Airin, gadis cantik itu dapat merasakan bagaimana bagian bawahnya terus tersentuh dengan milik Farelio.

“Ahh, Rel, masukin aja, nghh,” ujarnya.

“Can’t wait any longer, Rin?” tanya Farelio dengan nada sesensual mungkin.

Sebelah tangan lelaki tampan itu bergerak memakaikan kondom yang ia ambil dari nakas pada kepemilikannya.

Airin tidak mampu menjawab secara lisan, ia hanya dapat menganggukan kepalanya beberapa kali.

“You sure?” tanya lelaki tampan itu memastikan.

Namun, sebelum berhasil menjawab, tubuh mungil itu dibuat menggelinjang terlebih dahulu.

“Farel!” pekik Airin.

Kala penis besar nan mencuat milik Farelio masuk ke dalam vaginanya hanya dengan sekali hentakan.

“Nghh, ahh,” desah Farelio.

Saat merasakan miliknya masuk sempurna ke dalam gadisnya. Padahal, ia belum bergerak tetapi rasa nikmat itu mulai menyelimutinya.

“Move it, ahh, Rel,” pinta gadis cantik itu.

Dengan begitu, Farelio mulai menggempur gadisnya dengan kecepatan rendah. Keduanya terhanyut dalam rasa nikmat.

Airin dibuat kewalahan saat lelaki kesayangannya itu terus menghantam titik manisnya. Hanya dengan tempo itu, Airin menggila.

“Ahh, Rel. You hit, nghh, my sweet spot, ahh,” jelas Airin susah payah.

“Do I, Rin?” balas Farelio seraya memandang ke arah wajah cantik di bawahnya.

Lelaki tampan itu tersenyum puas untuk kemudian menaikkan tempo permainannya. Airin dibuat semakin terbang ke langit olehnya.

Lihat saja, bagaimana gadis cantik itu terus mengelukan nama lelaki tampan yang gemar melecehkannya.

“Ahh, Rel, ahhh, i think, nghh, i wanna cum,” ujar Airin dengan sepasang maniknya yang terpejam erat.

“You will, Airin, but with one condition,” jelas Farelio. “You may not make any noise till i finish,” lanjutnya.

Airin, gadis cantik itu menganggukkan kepalanya semangat sebab ia tidak dapat menahannya lebih lama lagi.

Airin menggigit bibir bagian bawahnya agar mulutnya tidak menghasilkan desahan, lenguhan, ataupun lirihannya.

“Airin,” panggil Farelio.

Lelaki tampan itu menggempur gadisnya lebih keras daripada sebelumnya. Membuat Airin semakin pusing akan rasa nikmat.

“I’m sorry,” lanjutnya.

Sekarang, Farelio menghantam bagian bawah Airin dengan lebih dalam. Kepala penisnya sukses memanjakan g-spot-nya.

“Ahh!”

“Akh!”

Airin dan Farelio menjemput pelepasannya bersama-sama. Keduanya menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit dengan napas yang memburu.

Setelah menarik selimut dan membuang kantung yang dipenuhi cairan miliknya ke tempat sampah, Farelio kembali memposisikan dirinya berbaring di samping Airin.

Lelaki tampan itu menarik sang gadis agar masuk ke dalam pelukannya. Farelio berkali-kali mengecup pucuk gadisnya sementara Airin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang lelaki kesayangannya.

“I’m so sorry, Airin,” sergah Farelio. “I really couldn’t control myself back there,” sambungnya.

Tidak ada respon yang terdengar dari Airin. Lelaki tampan itu berpikir mungkin gadisnya masih merasa lemas sehingga kesulitan untuk menjawab.

Namun, saat Airin hendak membalas permohonan maaf yang Farelio kerap kali lontarkan padanya hari ini, lelaki tampan itu kembali berkata.

“I can’t let them know about us,” finalnya.

Terdengar suara langkah yang mendetum di sekitar lorong lantai dua. Itu Farelio. Jika bukan, siapa lagi?

Sepasang manik selegam malam itu menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras seolah mengekspresikan kemarahan.

Farelio menghentikan langkahnya kala indera penglihatannya menangkap dua orang gadis yang tengah berdiri berhadapan di depan toilet wanita.

“Kak Farel,” ujar Mona dengan nada suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.

“Kamu gak apa-apa?” tanya Farelio lembut.

Mendengarnya, Airin mengernyitkan keningnya. Rahangnya jatuh dari peraduannya. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan Farelio ucapkan pada Mona.

Mona hanya mengangguk beberapa kali menjawab pertanyaan dari kakak kelasnya itu untuk kemudian menatap sinis pada Airin.

“Tadi dia ngebentak aku, Kak, terus narik rambut aku juga,” jelas gadis berambut sebahu itu.

Airin menyeringai kesal kala indera pengedengarannya menangkap stimulus menyebalkan yang dilontarkan Mona.

Sesungguhnya, yang dikatakan Mona adalah kebohongan. Faktanya, Airin-lah yang diseret oleh sang adik kelas dengan alibi ingin bicara empat mata.

Berikutnya, Farelio mulai melangkah ke arah Airin dan berdiri tepat di hadapan sang gadis untuk kemudian…

PLAK!

Ya, itu Farelio. Lelaki tampan itu dengan enteng menampar pipi mulus kesukaannya. Airin, gadis cantik itu terhenyak. Wajah cantiknya sampai berpaling ke arah kanan.

Peristiwa itu bertepatan dengan datangnya Alvino dan Nalandra. Kedua lelaki tampan itu juga ikut terkejut bukan main.

“Farel,” lirih Airin sembari mengusap pipinya yang terasa perih dan berubah merah.

“Kamu gak berhak nyakitin Mona walaupun kamu juga suka sama aku, Airin,” ujarnya datar.

Setelahnya, lelaki tampan itu merangkul bahu Mona dan mengantarnya untuk masuk ke dalam kelas di lorong lantai satu.

Sebelum berlalu, Farelio membisikkan sesuatu kepada dua teman terdekatnya itu. Alvino dan Nalandra yang diberi perintah begitu hanya dapat mengangguk mengerti.

Selepas kepergian Farelio dan Mona, dua orang kepercayaan Farelio itu berjalan mendekat ke arah Airin yang membeku di tempat.

“Farel bahkan gak nanya alasan gua bisa sama Mona di sini,” jelas Airin dengan suara terputus.

Airin menangis, tentu saja. Bagaimana lelaki tampan kesayangannya itu sampai tega melayangkan tamparan tanpa tahu situasi dan kondisi yang sebenarnya.

Sejujurnya, baik Alvino maupun Nalandra tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan gadis yang baru pertama kali mereka temui ini.

“Jangan nangis, Rin,” ucap Nalandra membuka suara.

“Lo nyuruh jangan nangis yang ada dia malah makin nangis, Lan,” sergah Alvino.

Tidak ingin dibuat semakin pusing dengan kehadiran dua orang di sampingnya, Airin memilih untuk masuk ke dalam toilet wanita yang terletak tak jauh dari mereka.

“Anaknya kabur,” kata Nalandra.

“Yaudah lo ke kantin sana, Lan. Biar gua yang jagain Airin dari luar,” perintah Alvino.

“Kamu mau makan apa, Rin?” tanya Farelio.

Sekarang, keduanya tengah melengang pergi dari arah pekarangan sekolah dengan mobil hasil pinjaman dari Alan.

“Kamu aja yang makan, Rel. Aku gak laper,” jawab Airin.

“Kamu harus makan, Airin. Aku gak liat kamu sarapan pagi ini,” sergahnya.

“Perutku rasanya gak enak, Rel,” bantah gadis cantik itu.

Bertepatan dengan kalimat yang Airin ucapkan, Farelio menghentikan mobilnya sebab lampu lalu lintas di depannya berganti warna menjadi merah.

Lelaki tampan itu menolehkan pandangannya pada gadis cantik yang tengah menyandarkan tubuhnya pada jok penumpang sembari menutup maniknya erat.

“Aku mainnya terlalu kasar apa gimana? Kok kamu bisa sampe kesakitan gini,” tanyanya.

Airin hanya menggelengkan kepalanya menyahuti pertanyaan yang dilontarkan Farelio.

“Makan, ya, Airin. Kalo gak makan nanti kamu tambah sakit,” jelas Farelio seraya mengusap pelan pucuk gadisnya.

Setelahnya, lampu lalu lintas berubah hijau. Lelaki tampan itu kembali menancap gas untuk mengarah ke tempat tujuan.

Farelio berencana untuk membawa Airin ke rumah makan langganan yang sering ia datangi bersama Mami.

Mungkin, dengan atmosfer yang mendukung, Farelio seolah diberi energi dan kesiapan lebih untuk menceritakan semua peristiwa yang terlewatkan kepada Airin.

Tidak membutuhkan waktu lama, kini lelaki tampan itu tengah memarkirkan mobilnya di lahan parkir yang luas.

Farelio menarik tuas rem tangan lalu memeriksa ponselnya sebentar. Saat wajahnya menoleh ke arah Airin, yang ia temukan ialah gadis cantik itu sedang terlelap pulas.

Tanpa sadar, senyumnya terukir dengan sangat manis. Tangannya kembali bergerak mengusap lembut pucuk Airin untuk kemudian menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajahnya.

Farelio, lelaki tampan itu tidak sedikit pun memalingkan tatapannya ke arah objek lain. Wajah cantik milik Airin terlalu sayang untuk ia lewatkan.

“Cantik,” monolognya.

Kemudian, wajah tampan itu mendekat ke arah sang gadis. Dalam waktu yang cukup lama, Farelio mengecup kening Airin.

“I don’t know how to tell you, Rin, but i think i madly in love with you,” jelas lelaki tampan itu. “In a weird and unique way at the same time,”sambungnya.

“Kenapa kita gak main di apart aku aja, Rel?” tanya Airin.

Saat ini, keduanya tengah berada di sudut ruangan perpustakaan sekolah. Setelah mengirim pesan berbau seksual tersebut, Farelio segera menyusul gadisnya.

“I have no time, Rin. Habis ini aku mau latihan band,” jelas Farelio.

Perlu diketahui. Perpustakaan adalah ruangan tersepi dan tersunyi kedua setelah toilet wanita di lantai dua.

Perlahan, tangan kekar Farelio melingkar pada pinggang ramping sang gadis. Wajah tampannya mendekat ke arah kening.

Cup!

Farelio mengecup kening Airin sembari memejamkan maniknya. Kemudian, lelaki tampan itu menyisipkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik di hadapannya.

“Aku gak tau harus bersikap gimana ke kamu, Rin,” jelas Farelio. “Aku juga gak bisa pastiin gimana perasaan aku ke kamu, tapi satu hal yang pasti aku akan selalu butuh kamu, kapan pun dan dimana pun,” tambahnya.

Mendengarnya, Airin menundukkan pandangannya. Gadis cantik itu menghela napas panjang.

Entah apa yang Farelio maksud dengan perkataannya yang satu itu. Hati Airin merasakan emosi yang tidak menentu saat itu.

Gadis cantik itu akhirnya mengangkat pandangannya walaupun lubuk hatinya terasa berkecamuk. Ia mengalungkan lengannya pada sepasang bahu lebar di depannya.

“You may start, Farelio,” ujar Airin.

Dengan begitu, Farelio memulai sesi permainan panasnya. Ia menyesap belahan bibir yang selalu menjadi kesukaannya.

Tentu saja, Airin membalasnya. Bagaimana lelaki tampan itu selalu saja membuatnya candu dalam hal-hal seperti ini.

“Mmphh,” lenguh Airin tertahan.

Kala telapak tangan besar itu berpindah dari pinggangnya lalu meremas kuat buah dadanya.

“Shh,” ucap Farelio setelah menyudahi ciumannya. “You’re not allowed to be too loud, Airin, or we will get caught. Understand, hm?” tanyanya.

Airin berani bersumpah. Bias suara sedalam palung Farelio yang barusan mengusik indera pendengarannya sukses membuat darahnya berdesir cepat.

Degup jantungnya bertedak tidak sesuai ritme normal. Belum lagi, tatapan mata tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya kapanpun.

Airin hanya mengangguk paham untuk merespon imbauan dari Farelio. Gadis cantik itu kembali menurunkan pandangannya.

Namun, hal itu tidak berlangsung lama sebab tangan Farelio menangkup dagunya agar tatapan gadis cantik itu mengarah padanya.

“Look me straight in my eyes, Airin,” ujar Farelio. “You’re not allowed to see anything, except my eyes,” tambahnya.

Lagi, Airin hanya mengangguk paham. Farelio, lelaki tampan itu bak menyihir lawan mainnya agar sangat patuh pada segala perintahnya.

“Nghh,” lirih Airin.

Saat Farelio dengan ganas menjilati daun telinganya. Gadis cantik itu meremat baju kemeja seragam sekolah milik Farelio dengan sangat erat.

Tidak ada jarak yang terpaut di antara keduanya. Farelio bermain dengan begitu lihai. Bahkan, tidak ada pergerakannya yang berpotensi menimbulkan suara, kecuali desahan dari Airin sendiri.

Juga, Airin dapat dengan leluasa menghirup perpaduan wewangian yang Farelio biasa pakai bercampur dengan aroma alami dari tubuh lelaki tampan itu.

Kemudian, jilatan itu perlahan turun ke arah dada sang gadis yang sedikit terbuka sembari tangan Farelio bergerak membuka satu per satu kancing kemeja seragam sekolah milik Airin.

“Don’t make it looks so crystal clear, Rel,” pinta Airin.

Saat Farelio mulai membuat tanda berwarna ungu kemerahan di sekitar payudara sang gadis yang yang terbalut bra.

“Roger that, Airin,” jawabnya singkat.

Setelah meninggalkan beberapa bekas lagi, Farelio kembali bergerak. Kali ini, meluruhkan pakaian dalam dari balik rok seragam sekolah gadisnya.

Potongan kain itu Farelio simpan di saku belakang celana seragam sekolahnya untuk kemudian ia berlutut di depan Airin.

“Akh,” pekik Airin pelan.

Pasalnya, Farelio dengan gerakan tiba-tiba mengangkat sebelah kakinya agar bertengger di atas bahunya.

“Glad to see your pinkish pussy again, Airin,” ucap Farelio.

Sepasang manik selegam senja itu tidak mau berhenti menatap aset indah yang tersaji di hadapannya.

Farelio dapat melihat dengan jelas bagaimana vagina gadisnya memerah seolah minta segera dipuaskan.

“Shh ahhh,” desah gadis cantik itu.

Lelaki tampan itu melesatkan lidahnya untuk bertempur di bawah sana. Airin sadar suaranya terlalu menggema di dalam ruangan perpustakaan ini.

Gadis cantik itu menggigit pipi bagian dalamnya untuk mereduksi lenguhan yang berpotensi terucap secara tiba-tiba saat Farelio tengah melecehkannya.

Airin mencoba menahan lirihannya saat hidung bangir Farelio menghantam klitorisnya berkali-kali sementara benda kenyal itu menghujam titik manisnya.

“Shit, Farelio!” umpat Airin.

Mendengarnya, lelaki tampan itu menyeringai puas di sela-sela kesibukannya. Farelio tahu ia berhasil menikmati gadisnya.

“Mphh, i think, ngh ahh, i’m gonna cum,” tambah gadis cantik itu.

Dengan begitu, Farelio menggencarkan permainannya pada vagina Airin. Tentu saja, gadis cantik itu dibuat kewalahan olehnya.

“Ahh!” final Airin.

Gadis cantik itu berhasil menjemput titik ternikmatnya. Kepalanya menengadah ke arah langit-langit serta napasnya menggebu hebat.

“Good job, Airin,” puji Farelio seraya menatap sensual kepada gadis cantik yang kini berada lebih tinggi dibanding dirinya.

Klek!

Pintu kamar terbuka secara perlahan, memperlihatkan Airin yang melangkah masuk ke dalamnya.

“Farel,” panggil Airin.

Gadis cantik itu menutup pintu kamarnya sebelum menghampiri lelaki kesayangannya yang tengah bersandar ke arah ranjang di atas lantai.

Farelio dapat mendengar suara lembut yang mengalunkan namanya. Namun, lelaki tampan itu masih pada posisi yang sama, tanpa bergerak sedikit pun.

Airin mendudukkan dirinya tepat di sebelah Farelio. Ditatapnya lelaki tampan yang sudah menjadi tambatan hatinya selama dua tahun belakangan ini.

Tangannya bergerak mengusap bahu lebar yang terlihat seolah sedang menanggung beban yang sangat berat itu.

“Kamu udah makan, Rel?” tanya Airin. “Aku bawain pangsit kesukaan kamu tuh,” lanjutnya.

Farelio, lelaki tampan itu masih memilih untuk membungkam dirinya. Tatapannya kosong menghadap ke arah lantai yang dingin.

Tidak ingin memperkeruh suasana, Airin tidak menujukkan ekspresi serupa. Simpul semanis mungkin coba ia tampilkan di depan Farelio.

“Airin,” gumam lelaki tampan itu tanpa memalingkan pandangannya.

“Iyaa, Rel,” balas Airin.

“Airin,” panggil Farelio lagi.

“Iyaa, Farel. Aku di sini,” jelasnya.

“Jangan kemana-mana,” ujar lelaki tampan itu.

Kali ini, Farelio menolehkan tatapannya menghadap gadis cantik di sebelah kirinya. Sepasang manik selegam malam yang biasanya berbinar tajam, sekarang terlihat sangat sayu.

“Aku gak kemana-mana, Rel,” ucap Airin.

Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Farelio, lelaki tampan itu masih ingin menatap wajah cantik Airin lebih lama dari biasanya.

Untuk kemudian, ia bergerak pelan. Farelio mendekatkan tubuhnya pada sang gadis. Kedua tangannya terbentang agar Airin masuk ke dalam pelukannya.

Lelaki tampan itu menelusupkan wajahnya di perpotongan leher Airin. Ia sebisa mungkin menghirup aroma tubuh yang selalu menjadi candu baginya.

“Jangan pernah tinggalin aku kayak tadi lagi,” pinta Farel dengan suara parau.

Walaupun tidak terlihat dengan jelas, Airin tahu bahwa lelaki tampan itu mungkin menangis seharian menunggu kehadirannya.

“Iyaa, Farel. Aku gak akan tinggalin kamu,” jawab Airin.

“Janji?” tanyanya meyakinkan.

Mendengarnya, Airin menghela napas panjang. Entah sumpahnya ini akan menjadi malapetaka atau anugerah baginya.

Gadis cantik itu masih bergumul dengan pikiran dan juga perasaannya. Mungkinkah di esok hari hatinya masih mencintai seorang Farelio?

“Airin,” panggil lelaki tampan ktu saat Airin tak kunjung menjawab pertanyaannya. “Kamu janji jangan tinggalin aku,” tambahnya.

“Iyaa, Farel. Aku janji,” jawabnya dengan nada datar.

Mendengarnya, hati Farelio sedikit meluluh. Lelaki tampan itu mengeratkan dekapannya. Ada sedikit rasa iba yang tersimpan di hati sang gadis.

“Akh!” pekik Airin.

Setelah obrolan singkat nan menyakitkan Farelio dengan orang tuanya, lelaki tampan itu dengan langkah mendentum menghampiri gadisnya.

Airin yang masih setia menunggu kartu atm milik Farelio untuk digesek di mesin pembayaran cashless itu merasa terkejut saat Farelio secara tiba-tiba menarik tangannya kasar.

Di dalam toilet pria, lelaki tampan itu menghempaskan tubuh mungil gadisnya ke arah tembok. Airin meringis sebab itu.

“Sakit, Rel,” rintih Airin.

Tidak menghiraukan sang gadis, Farelio justru mendekatkan wajahnya lalu mencium Airin ganas. Gadis cantik itu kewalahan.

Lelaki tampan itu bahkan tidak menghentikan ciumannya kala dirasa darah mengalir dari bibir sang gadis.

Farelio terlalu dilingkupi amarah untuk bersikap lembut pada gadisnya. Bahkan Airin harus memukul dengan keras dada lelaki tampan itu untuk mengembalikan kesadarannya.

Airin menghirup napas sebanyak yang ia bisa saat Farelio melepas ciuman mereka. Lelaki tampan itu menyeka darah sang gadis yang menempel di sudut bibirnya.

Napas keduanya menggebu. Sepasang manik selegam malam itu menatap tajam ke arah gadis cantik di hadapannya.

“Kamu kenapa, Farel? Ini kita masih di tempat umum. Kalo kita ketauan gimana?” sergah Airin sembari membersihkan darah yang mengalir dari bibirnya.

“Kamu pilih, main di sini atau di mobil?” tanya Farelio sinis.

“Maksudnya?” balas Airin tidak percaya. “Terlalu beresiko, Rel. Kita mending balik dulu ke apart,” lanjutnya.

Airin hendak berlalu pergi dari dalam toilet pria itu sembari menggenggam tangan Farelio saat lelaki tampan itu kembali melempar tubuhnya ke arah tembok.

Berbeda dengan yang tadi, kali ini Farelio mendekatkan dirinya pada sang gadis. Wajah tampan itu kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah sang gadis.

“Kelamaan,” singkat Farelio. “Di sini atau di mobil?” tanyanya lagi.

Terdapat penekanan di setiap kata yang diucapkan oleh lelaki tampan itu. Farelio hendak mencium kembali gadisnya saat Airin menginterupsi.

“Di mobil,” jawabnya. “Tapi, tolong jangan di sini, Rel. Kita bisa ketauan,” jelas gadis cantik itu.

Dengan begitu, Farelio pergi kembali ke dalam toko untuk menyelesaikan transaksinya. Lelaki tampan itu akhirnya membayar dengan uang tunai.

Airin, gadis cantik itu berjalan gontai ke arah mobil. Pelupuk maniknya digenangi oleh cairan bening yang sebentar lagi akan tumpah.

Setelah menyelasikan pembayaran, Farelio kembali ke dalam mobil untuk kemudian menancap gas dengan kekuatan penuh.

Di sepanjang jalan, manik selegam malam itu menelisik ke segala sudut. Sekiranya di mana tempat yang aman bagi dirinya untuk menjalankan aksinya.

Setelah beberapa menit, Farelio menemukan lapangan luas yang dihalangi banyak pohon rimbun. Di sekitarnya banyak ruko yang sudah tutup.

Tidak ingin membuang waktu lebih lama, lelaki tampan itu segera memberhentikan mobilnya di antara pohon besar. Tangannya bergerak menarik tuas rem tangan.

Di detik selanjutnya, yang terjadi adalah Farelio kembali mencium kasar gadisnya. Lelaki tampan itu menarik Airin agar duduk di atas pangkuannya.

Lidahnya aktif mengabsen satu per satu gigi sang gadis serta melilit lidah lawannya. Tidak sampai situ, sepasang tangan Farelio juga bergerak menjamah semua aset yang bisa ia jangkau.

“Ahh, Rel,” desah Airin saat lelaki tampan itu meremas payudaranya kuat.

Awalnya memang terasa nikmat, namun rasa itu lama kelamaan berubah menjadi menyakitkan. Farelio semakin gencar bermain ganas dengan buah dadanya.

Airin menggigir bibir bagian bawahnya. “Sshhh, sakit, Rel,” rintihnya.

Farelio, lelaki tampan itu tidak menghiraukan pernyataan yang dilontarkan gadisnya. Ia malah melonggarkan tali pinggangnya.

“Bukan celana kamu,” perintahnya.

“Sekarang?” tanya Airin ragu.

Pasalnya, ia belum sepenuhnya terangsang. Kepemilikannya di bawah sana pasti belum basah seluruhnya.

“Sekarang, Airin,” ujar bias suara sedalam palung itu.

Tidak ada pilihan lain, gadis cantik itu harus menuruti permintaan sang dominan atau yang terjadi berikutnya akan lebih mengenaskan dibanding sekarang.

Perlahan, Airin membuka celana denimnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Farelio. Berbeda dengan sang gadis, miliknya sudah berdiri tegak.

Saat Airin hendak menanggalkan pakaian dalamnya, pergerakannya dihentikan oleh Farelio.

“Aku aja yang buka,” ucapnya.

Lelaki tampan itu melepaskan kain yang menutupi vagina gadisnya untuk kemudian ibu jarinya bergerak mengusap pelan klitorisnya.

“Nghh, ahh,” lenguh Airin.

Gadis cantik itu menengadahkan kepalanya. Tangannya mencengkram kuat bahu lebar lelaki tampan di hadapannya.

Farelio tidak ingin bermain lama dengan jarinya, lelaki tampan itu ingin penisnya yang bermain dengan milik Airin.

Lelaki tampan itu menarik ibu jarinya. Ia arahkan ibu jarinya tersebut ke arah mulut Airin. Tentunya, gadis cantik itu menyambutnya dengan baik.

Airin mengulum jari yang dilapisi cairan kenikmatannya. Farelio dibuat makin bergairah oleh aksi itu.

Gadis cantik itu bahkan dapat merasakan penis Farelio yang semakin menusuk ke bibir vaginanya.

“Sshhh,” lenguh Farelio. “You are a good kitten,” lanjutnya.

Sepertinya Farelio tidak bisa menahan lebih lama lagi. Lihat saja, bagaimana kepala penisnya sudah dibanjiri dengan cairan pra-ejakulasi.

Tanpa aba-aba, Farelio melesatkan penisnya masuk dalam sekali hentak ke dalam vagina Airin saat gadis itu masih sibuk menggoda lawan mainnya.

“AKH!” pekik Airin.

Airin merasakan sakit yang teramat sangat sebab sesi foreplay yang dilakukan Farelio belum sepenuhnya rampung.

Sehingga vaginanya belum seutuhnya terlumuri cairan pelumas alami. Gadis cantik itu memejamkan maniknya erat.

Sementara itu, Farelio seperti tidak memberi ampun padanya. Setelah menerobosnya miliknya masuk ke dalam sana, lelaki tampan itu langsung menggempurnya tanpa jeda.

“Ahh, Farel, sakithh,” lirihnya.

Namun, Farelio lagi-lagi tidak menggubris kalimatnya. Ia malah menarik tengkuk gadisnya agar masuk ke dalam ciumannya.

Di dalam ciuman tersebut, Airin merintih kesakitan. Ia mencoba memberi peringatan pada Farelio.

Tetapi, lelaki tampan itu seperti dirasuki oleh iblis. Farelio terus menggoyangkan pinggulnya agar penisnya menabrak ujung rahim gadisnya tanpa tahu Airin merasa kesakitan.

“Mmphh,” lenguh Airin dalam ciuman mereka.

Akhirnya, meski sebentar, Farelio menghentikan ciuman mereka. Walaupun dirinya masih bekerja keras di bawah sana.

“Ahh, kamu sempit, ahhh, banget, Rin,” ujarnya.

“Aku, nghh, sakit, Rel,” jelas Airin.

“Sebentar lagi, Rin,” balas lelaki tampan itu.

Sesuai dengan pernyataan sebelumnya, Farelio benar-benar akan mencapai pelepasannya sebentar lagi.

Ia mempercepat tempo serta memperdalam hantamannya pada vagina Airin. Sedangkan, gadis cantik itu hanya bisa menahan sakit. Airin menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Farelio.

“Ahh!” pekik Farelio.

Lelaki tampan itu telah mencapai titik ternikmatnya. Ia menyemburkan spermanya ke dalam rahim sang gadis. Farelio menyandarkan tubuhnya ke arah jok.

Airin pada awalnya tidak tahu bahwa Farelio tidak mengenakan pengaman hari ini. Namun, ia sadar saat perutnya terasa hangat.

Gadis cantik itu menegakkan tubuhnya. Ia menatap wajah tampan yang dipenuhi bulir keringat itu.

“Kamu gak pake pengaman, Rel?” tanya Airin sinis.

Masih dengan posisi yang sama, Farelio menggelengkan kepalanya beberapa kali. Entah ia lupa atau bagaimana.

“Gila kamu, Rel!” bentak Airin.

Akhirnya, setelah diberi ujaran kebencian seperti itu. Farelio mulai mengembalikan fungsi indera penglihatannya.

“Kamu gak akan hamil, Airin,” tegasnya.

“Kamu tau dari mana?! Emang kamu bisa memastikan?! Kamu bukan dokter, Farel!” protes gadis cantik itu.

Mendengarnya, Farelio mengangkat pandangannya pada wajah cantik yang saat ini berada lebih tinggi darinya.

Dua pasang manik itu saling menatap seolah maut. Bagaikan keduanya tengah bertengkar melalui jendela dunia itu.

Kemudian, sebelah tangan besar itu bergerak untuk menangkup dagu mungil Airin. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah sang gadis.

“Kamu gak akan hamil, Airin,” ulang Farelio. “Kalo sampe kamu hamil, aku bakal cari cara,” lanjutnya.

Airin, gadis cantik itu merasa jantungnya seperti dihunus tombak saat itu juga. Padahal, Farelio baru saja membuatnya menjadi gadis paling bahagia di dunia ini.

Namun, beberapa saat setelah, Farelio juga yang membuatnya merasa seperti didorong dari ujung tebing dengan dasar yang tajam.

Air mata yang sedari Airin tahan di pelupuk maniknya, perlahan turun. Rahangnya mengeras merefleksikan kemarahan.

Tidak ingin ambil pusing, Farelio malah melanjutkan kegiatannya. Ia mului mengecup daerah dada gadisnya yang terekspos. Berharap rasa sedih dan marah itu tergantikan oleh rasa nikmat dari permainannya.

Setelah pelayanan mengantar beberapa jenis makanan dan minuman yang telah dipesan sebelumnya, lelaki tampan itu mempersilakan gadisnya untuk makan terlebih dahulu.

“Makan, Rin,” ucap Farelio.

“Iyaa, Farel. Kamu juga makan, ya,” balas Airin.

Gadis cantik itu menyuap pastry yang tersedia di hadapannya. Ia tersenyum puas saat makanan itu menyentuh lidahnya.

“Astaga! Ini enak banget, Rel. Kamu harus cobain,” jelas Airin.

Kemudian, tangan Airin bergerak menyuap sesendok penuh makanan manis itu ke mulut lelaki kesayangannya.

“You’re right. This croffle’s so tasty,” ujar lelaki tampan itu. “Cobain dong matcha latte-nya, Rin,” tambahnya.

Mendengarnya, Airin mengangguk semangat. Ia menyesap minuman berwarna hijau yang disajikan di dalam gelas kaca dengan hiasan whipped cream di atasnya.

Sepasang manik selegam malam milik Farelio, khusus untuk hari itu, rasanya tidak ingin lepas dari gadis cantik yang duduk di hadapannya.

Airin, entah kenapa, terlihat sangat bahagia hari ini. Wajah cantiknya berseri serta manik matanya berbinar indah.

Belum lagi, gadis cantik itu dengan antusias menikmati semua makanan dan minuman yang ada di atas meja, pesanan Farelio.

Dengan ide licik yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya, jari telunjuk lelaki tampan itu bergerak mencolek ujung krim kocok dari matcha latte milik gadisnya untuk kemudian ia letakkan di pangkal hidung bangir Airin.

“Ihh Farel!” protes Airin.

Farelio, yang melihat ekpresi gemas dari gadisnya itu tidak dapat berhenti tertawa puas. Lihat saja, bagaimana Airin mencoba membalas perbuatannya.

Saat gadis cantik itu hendak melakukan hal serupa pada oknum menyebalkan tapi tampan di depannya, tangan Farelio bergerak lebih cepat.

Ditangkupnya telapak tangan kecil itu. Lalu, Farelio mengusapnya pelan. Setelahnya, ia mengecup punggung tangan itu.

“You look so beautiful when you enjoy delicious food, Airin,” puji Farelio.

Airin, gadis cantik itu tidak dapat menahan simpulnya kala indera pendengarannya mendengar sanjungan dari lelaki kesayangannya.

“Thanks, Rel,” balas Airin lembut.

“Ganti baju kamu. Aku udah bawain. Ada di belakang,” ujar Farelio.

Airin baru saja mendudukkan dirinya di dalam mobil saat lelaki tampan itu memeberi perintah untuk mengganti bajunya.

“Kita sebenernya mau kemana sih, Rel?” tanya Airin penasaran.

“Kamu ganti baju dulu nanti aku kasih tau,” jelasnya.

“Aku ganti baju di sini?” tanya gadis cantik itu memastikan.

“Iyalah. Mau di mana lagi?” balas lelaki tampan itu.

Tidak ada jawaban dari sang lawan bicara. Airin hanya memfokuskan atensinya pada potongan pakaian yang Farelio bawakan untuknya.

“Kenapa? Kamu malu? Gak make sense kalo kamu malu, Rin. Kita udah sering liat satu sama lain,” jelas Farelio.

Airin, gadis cantik itu hanya mengangguk paham. Pada akhirnya, ia melepas semua seragam sekolahnya tepat di hadapan Farelio.

Sesekali lelaki tampan itu melirik ke arah pemandangan yang tersaji di sampingnya. Menurutnya, Airin tidak pernah gagal dalam membuatnya bergairah.

Farelio menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia menghempas semua skenario nakal yang berenang ria di kepalanya.

Kemudian, lelaki tampan itu menancap gas mobilnya untuk melengang pergi dari pekarangan sekolah.

Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara mereka. Farelio masih berfokus pada jalanan aspal di hadapannya. Sementara, Airin sibuk bermain dengan ponselnya.

“Kamu udah makan, Rin?” tanya Farelio tiba-tiba.

Mendengarnya, Airin menolehkan pandangannya. Sudah lama sekali sejak pertanyaan ini terlontar dari mulut lelaki kesayangannya itu.

“Belom. Kamu udah makan, Rel?” jawabnya dengan kembali bertanya.

“Belom juga,” balas lelaki tampan itu singkat.

Tak lama, setelah obrolan singkat itu, keduanya kembali hening. Namun, situasi itu berlangsung singkat sebab kini mereka sudah sampai ke tempat tujuan.

Farelio memarkirkan mobilnya di samping bangunan kecil yang menghadap langsung ke arah pesisir pantai.

“Ayo turun,” ajaknya.

Sejenak, Airin merasa linglung. Untuk apa Farelio mengajaknya ke tempat makan yang terletak jauh dari apartemennya.

Padahal, biasanya, apabila keduanya terlalu malas untuk menyantap makanan di luar, Airin akan memasak menu sederhana atau Farelio akan memesan lewat aplikasi delivery.

Tak kunjung turun dari jok penumpang, akhirnya, lelaki tampan itu membukakan pintu agar sang gadis ke luar dari sana.

“Kamu ngapain? Ayo. Emangnya kamu gak laper?” tanya Farelio bertubi-tubi.

Airin lebih memilih tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sebagai respon. Tak jarang ekor matanya menangkap wajah tampan yang berjalan menjulang di sebelahnya.

Tingkling!

Bunyi bel terdengar saat mereka memasuki cafe sederhana tersebut. Tempat itu didominasi oleh interior berbahan kayu.

Cafe yang cocok dijadikan sebagai tempat bersantai, di tambah ini jauh dari kerumunan. Farelio tidak perlu khawatir akan bertemu seseorang yang ia kenal di sini.

Bangunan tersebut tidak terlalu dipenuhi oleh banyak pengunjung. Hanya ada beberapa meja yang terisi.

Meja di dekat jendela yang diduduki oleh dua oranf gadis serta sepasang kekasih yang duduk di meja dekat kasir.

“Kamu duduk aja, biar aku yang pesen,” ujar Farelio.

Mengikuti kemauan lelaki tampan itu, Airin melangkah untuk mencari meja yang akan mereka tempati.

Gadis cantik tersebut memilih meja kayu berbentuk lingkaran dengan kursi yang ditata berseberangan di dekat pintu ke luar.

Airin menarik kursi untuk kemudian duduk di sana. Ia menopang dagu mungilnya di atas kedua kepalan tangannya.

“Farelio random banget sampe ngajak ke cafe yang sejauh ini,” monolognya.

“Kamu aku pesenin matcha latte, ya, Rin,” ujar Farelio yang tiba-tiba datang dan duduk di hadapannya.

“Oh, iya, Rel. Makasih,” balas gadis cantik itu.

“Sama croffle juga,” tambahnya.

Airin hanya mengangguk beberapa kali. Sejujurnya, sesuatu sedang mengganggu pikirannya sekarang.

Untuk apa seorang Farelio Evan Pratama membawanya ke cafe kecil di dekat pantai pada siang hari ini?

Tidak biasanya lelaki tampan itu bersikap sangat manis padanya, seperti ini. Airin terlalu berlarut pada lamunannya sehingga mengabaikan Farelio.

“Kamu mikirin apa, Rin?” tegur Farelio.

“Ah, enggak,” ucap Airin sembari mengibaskan tangannya. “Aku kepikiran tugas aja,” dustanya.

“Kalo kesusahan, nanti aku bantu kerjain,” tawar lelaki tampan itu.

Lagi? Jika terus seperti ini, Airin tidak mampu lagi untuk menahan rasa bahagianya. Walaupun aneh, Airin sangat menyukainya.

Untuk hari ini, Farelio sukses membuat dirinya merasa diperlakukan selayaknya seorang kekasih.

“Aku inget kamu pernah bilang mau minum matcha latte. Kata Vino, di sini minuman sama makanannya enak dan jauh dari tempat rame,” jelas Farelio seraya tersenyum manis.

Mendengarnya, Airin menatap sepasang manik selegam malam milik lelaki tampan di hadapannya. Tanpa sadar, dirinya ikut menyungging senyum.

“Kamu inget, Rel?” tanyanya memastikan.

“Inget,” jawab Farelio singkat.

“Makasih, ya,” ujar gadis cantik itu.

“No need to say thank you, Airin,” balas lelaki tampan itu sambil mengusap pelan pucuk sang gadis.