ttoguxnanaxranie

nyoba lagi

halo lagi..

halo..

halo..

Selepas menikmati makanan berkuah di rumah makanan langganan, Alby memutuskan untuk tidak langsung mengantar pulang Airin ke apartemennya. Tentunya, ia sudah izin terlebih dahulu dan mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.

Airin berkata dengan kejujuran sepenuh hatinya bahwa ia tidak ingin cepat-cepat pulang sebab ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan lelaki manis itu. Di malam yang penuh bintang itu, Alby dibuat tersipu oleh gadis pujaannya.

Bolehkah kita mengatakan bahwa rasa yang tumbuh di antara keduanya sudah mulai menyatu? Tidak ada yang tahu. Rasa hanya diketahui oleh si pemilik hati dan Tuhannya. Namun, jika semesta menyambut, harapan boleh tumbuh.

“Gua udah lama gak keluar malem-malem kayak gini,” ujar Airin. Sepasang maniknya menatap lekat pada lukisan ala kota besar. “Ah, mungkin lebih tepatnya gua gak pernah keluar,” sambungnya.

Mendengarnya, Alby hanya memandang lamat pada gadis cantik yang duduk di sebelah kirinya. Ada seberkas rasa tidak mengenakkan yang mengendap di hatinya. Tetapi, khusus untuk hari ini, hari bahagia gadisnya, lelaki manis itu tidak ingin menunjukkannya secara terang-terangan.

“Mau ke mana lagi, Rin?” tanya Alby seraya membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang di samping pertigaan.

“Ke mana aja asal sama lo,” jawa gadis cantik itu sembari mengalihkan pandangannya pada sang pengemudi.

Hal itu tentunya sukses membuat Alby salah tingkah. Lelaki manis itu hanya dapat tersenyum beriringan dengan maniknya yang menyipit dengan indah. Alby memang jago perihal berkata indah, namun jika dibalas oleh pihak lawan, ia ciut juga.

“Aduh, Rin. Jangan gitu dong. Jantung gua jadi gak sehat nih,” guyonnya.

Mendengarnya, Airin hanya terkekeh untuk kemudian kembali memusatkan atensinya pada apa saja yang mobil klasik milik Alby lewati melalui jendela yang kacanya setengah terbuka di sampingnya. Bahkan, untuk menikmati hal kecil seperti ini saja, Airin jarang merasakannya. Namun, bersama Alby, hampir semua rasa bahagia dirasakan oleh gadis cantik itu.

“Rin,” panggil Alby.

“Iya, By?” balas Airin.

“Pulang, yuk. Udah malem,” ujarnya.

Airin hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali menyetujui pernyataan Alby. Mobil klasik kesayangan lelaki manis itu kini kembali berputar di pertigaan untuk menuju jalan pulang kea rah apartemen gadisnya. Sesampainya di sana, Alby memarkirkan mobilnya di tempat semula.

“Lo tunggu sebentar di sini, ada yang mau gua omongin. Gua mau kasihin soto ke Pak Bagus,” ucap Alby.

Airin dapat melihat raut wajah khawatir lelaki paruh baya itu berubah menjadi bahagia dalam sekejap saat Alby memberinya soto daging yang sempat ia pesan untuk dibawa pulang. Airin mengira bahwa itu untuk dirinya di rumah, namun ternyata dugaannya salah. Setelah Airin, kini ada orang baik lain yang gemar berbagi makanan kepada Pak Bagus. Setelah selesai, lelaki manis itu kembali ke dalam mobil.

“Pak Bagus keliatan seneng banget,” kata Airin.

Alby mengangguk setuju. “Iya, katanya sotonya mau dia bawa pulang aja buat istrinya,” balasnya.

“Lo mau ngomong apa, By? Jangan bilang lo mau nembak gua,” sergah gadis cantik itu.

Mendengarnya, sepasang manik selegam malam itu membelalak. Airin semakin menjadi-jadi, batin Alby. “Lo mau gua tembak sekarang?” tanyanya.

“Ya, terserah lo,” enteng Airin.

Alby terkekeh. Gadis cantik satu ini benar-benar menyita perhatiannya sejak awal dan semakin lama semakin menarik hatinya. “Iya, nanti, ya. Kalo kita udah selesai ujian akhir,” ucapnya.

Airin tidak menjawab pernyataan yang dilontarkan Alby. Ia tidak mengira bahwa candaannya akan ditanggapi dengan serius oleh lelaki manis penuh humor itu. Pada akhirnya, Airin yang kembali dibuat tersipu oleh lawan bicaranya.

“Kok jadi lo yang salting, Rin?” ledek Alby seraya tertawa puas.

“Gua gak salting tuh,” sanggah Airin. Maniknya menatap ke segala arah asal jangan memandang langsung manik minim dengan binar indah di sebelahnya.

Tidak ingin membahas perkara menyatakan cinta ini lebih lanjut lagi, tangan Albu bergerah meraih sesuatu dari jok penumpang di belakang mobilnya. Terlihat sebuah kotak besar dengan hiasan pita berawarna merah yang ada dalam pelukannya sekarang.

“Buat lo,” kata Alby. Ia menyerahkan kotak besar itu pada Airin.

Airin cukup dibuat terkejut oleh hadiah besar itu. Sebab terlalu besar, ia sampai tidak bisa melihat dengan jelas sosok manis di hadapannya. “Besar banget, By. Lebih besar kadonya dibanding gua. Makasih, ya,” ucapnya diiringi dengan senyum manis.

Alby menyunggingkan senyum tidak kalah menawan dari gadisnya. Dibanding Airin, dirinya lebih bahagia saat dapat melihat senyum manis yang tersimpul di wajah cantik kesukaannya. Airin tidak bisa berhenti memandangi sebongkah kotak besar yang kini ada di dalam pelukannya. Malam itu, rasa sedihnya sukses berubah menjadi bahagia tak terhingga oleh Alby.

“Rin, gua boleh pegang tangan lo?” tanya lelaki manis itu meminta izin.

Dengan sesuah payah, gadis cantik itu mengulurkan tangannya ke arah lawan bicaranya. Disambutnya tangan mungil itu oleh Alby. Ia mengusap lembut punggung tangan itu dengan ibu jarinya. Berbeda dengan Alby yang terlihat begitu tenang, Airin merasa peredaran darahnya berdesir lebih cepat.

Cup!

Alby mengecup pelan punggung tangan gadisnya. “Mungkin gua bukan orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke lo, Rin,” ujarnya. “Gua sengaja neglakuin itu karena kata orang yang terakhir itu yang paling bermakna.”

Setelah kejadian Farelio dan alat bantu seks itu, yang dapat Airin lakukan hanyalah menangis. Hatinya seolah tersayat bilah bambu tajam. Untuk kesekian kalinya, harapannya dipatahkan oleh lelaki tampan itu. Kini, Airin tengah duduk di beranda gedung apartemennya sembari memeluk dirinya sendiri. Kepalanya yang terasa berat ia tenggelamkan di antara kedua kaki yang menumpu tubuhnya.

Tidak ada siapapun di sana selain petugas keamanan. Bagi Pak Bagus, satpam yang bertugas di bangunan unit tempat gadis cantik itu tinggal, pemandangan Airin yang sedang sesenggukan adalah hal biasa.

Lelaki paruh baya itu memandangi Airin dengan tatapan iba. Menurutnya, gadis cantik itu masih terlalu muda untuk terus-menerus menanggung ujian dari Tuhan. Ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Airin.

Selagi Pak Bagus sibuk menjaga gadis cantik yang sering sekali membelikannya seporsi nasi goreng kala hujan datang dari kejauhan, sebuah mobil datang lalu berhenti tepat di depan posnya. Pak Bagus mulai merasa tak asing dengan mobil klasik itu.

“Eh, Nak Alby. Cari Nak Airin, ya?” tanya lelaki paruh baya itu lembut saat Alby menghampirinya.

“Iya, Pak Bagus. Itu Airin, ya?” jawab Alby dengan kembali bertanya. Hatinya harap-harap cemas.

“Iya, Nak. Itu Nak Airin. Bapak juga gak tau kenapa Nak Airin nangis. Untung Nak Alby dateng. Tolong dihibur, ya, Nak. Bapak gak tega liatnya,” jelas Pak Bagus seraya mengusap sebelah bahu lebar lawan bicaranya.

Mendengarnya, Alby menyimpulkan senyum semenenangkan mungkin baru kemudian ia membalas. “Iya, Pak. Bapak tenang aja. Tugas saya buat bantu Airin bahagia.”

Setelahnya, Alby melangkahkan kakinya menuju beranda apartemen. Perlahan namun pasti, ia pastikan langkahnya tak menganggu momen menyedihkan dari gadis cantik yang ia sayangi.

“Airin,” panggil lelaki manis itu lembut. Alby mendudukkan dirinya di samping Airin.

Mendengar ada sebias suara yang mengalunkan namanya, Airin mengangkat kepala. Ia menoleh ke arah samping, ada Alby di sana. Sudah menjadi kebiasaan bagi gadis cantik itu untuk melihat sosok Alby saat lara datang menyelimuti hatinya.

“Lagi sedih, ya?” tanya Alby. “Sorry, ya, kalo gua ganggu waktu nangis lo,” sambungnya.

“Lo ngapain ke sini, By?” tanya Airin dengan napasnya yang tersendat.

Sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang gadis, lelaki manis itu menyempat diri untuk tersenyum. “Mau ngucapin lo selamat ulang tahun. Lo ulang tahun ‘kan hari ini? Sekalian gua mau kasih hadiah, tapi gua mau nungguin lo selesai nangis dulu,” jelasnya.

Voila! Kalimat lembut yang terdengar bak buih ombak di lautan itu secara ajaib membuat Airin berhenti menangis. Selalu saja begini, di mana ada kesedihan, di situ ada Alby. Anehnya, Alby tak pernah merasa keberatan sebab hal itu, malah Airin yang terkadang merasa tak enak hati pada lelaki manis penuh humor itu.

“Udah selesai nangisnya?” tanya Alby.

Tidak ingin menjawab secara lisan, gadis cantik itu hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dengan begitu, Alby kembali menyunggingkan senyumnya. Lubuk hatinya mulai merasa lega kala gadis kesayangannya sudah berhenti menangis.

“Lo kalo lagi sedih jangan lupa nangis, ya, Airin. Itu hal yang wajar kok, gak apa-apa bagi manusia untuk nangis ketika mereka lagi sedih,” ujar lelaki manis itu. “Tapi, ada satu hal yang mau gua bilang ke lo. Sejujurnya, hati gua sakit ketika liat lo nangis, Rin, makanya sebisa mungkin gua bantu lo buat bahagia. Itu udah jadi tugas buat gua,” lanjut Alby.

Sepasang manik selegam senja itu menatap sepasang manik lainnya. Kumpulan kalimat penenang yang barusan Alby ucapkan padanya seolah obat yang meredakan rasa sakit dalam hatinya. Lelaki manis itu terdengar begitu tulus. Saat di dekatnya, Airin merasakan nyaman yang teramat sangat.

“Makan, yuk. Pasti lo belom makan, ‘kan? Gua ajak lo ke tempat makan enak langganan gua,” ajak Alby.

Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, akhirnya keduanya melengang pergi dari kawasan apartemen gadis cantik itu. Alby melajukan mobilnya melalui kota metropolitan yang padat kendaraan. Mereka disuguhkan pemandangan gedung tinggi dan lampu jalanan yang bersinar kuning terang selama dalam perjalanan.

Lelaki manis itu benar-benar menepati janjinya untuk membawa Airin ke tempat makan yang dulu pernah menjadi andalannya, bahkan sampai sekarang saat dirinya kembali ke kampung halaman. Di malam yang hampir larut ini, memang paling lezat menyantap makanan berkuah. Oleh sebab itu, Alby memesan dua porsi soto daging untuknya dan juga Airin.

Di dalam rumah makan yang tidak terlalu ramai pengunjung itu, Alby dan Airin menyantap hidangan masing-masing dengan khidmat. Sesekali, lelaki tampan itu mencuri pandang pada gadis cantik di sebelahnya. Menurut Alby, Airin terlihat paling cantik ketika sedang menikmati makanan lezat.

“Enak, Rin?” tanya Alby.

Sembari menyuap sesendok lagi nasi, gadis cantik itu menganggukkan kepalanya. “Enak, By. Pantes ini tempat jadi langganan lo, makanannya enak,” puji Airin.

Mendengarnya, lelaki manis itu terkekeh. “Makan yang banyak, ya, Airin. Lo paling cantik kalo lagi makan enak,” ujarnya.

Seketika, pergerakannya terhenti. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Airin merasa tidak asing dengan kalimat yang satu ini. Seseorang pernah mengatakan hal serupa padanya. Namun, ia tidak bisa mengingat jelas siapa sosok itu.

Berbeda dengan sang gadis, Alby sudah menghabiskan santapan malamnya. Sedangkan, Airin, ia masih setengah jalan. Gadis cantik itu benar-benar akan menikmati kuah soto beserta isinya dengan sangat hati-hati. Sebisa mungkin ia resap sari-sari kenikmatan dari makanan khas Betawi itu.

“Rin,” panggil Alby. “Gua mau tanya sesuatu sama lo. Boleh?” tanyanya.

“Boleh. Tanya aja. Tapi gua sambal makan, ya,” balas Airin.

“Iya. Besok kalo mau ke sini lagi, bilang aja, ya, nanti gua temenin,” tawar lelaki manis itu.

Mendengarnya, Airin mengacungkan jempolnya. “Mau tanya apa lo?” lanjutnya.

“Kenapa garpu yang gua pake gak bisa ngambil kuah soto yang gua makan, ya?” ujar Alby sembari memainkan alat makan dan sisa kuah sotonya.

Hampir saja Airin tersedak daging kala indera pengedengarannya menangkap stimulus aneh berupa pertanyaan konyol yang dilontarkan Alby. “Bercanda lo, By,” ucapnya.

“Gua nanya. Lo jawab aja sesuai hati lo,” balas lelaki manis itu.

“Ya, karena itu bukan sendok,” jawab Airin singkat.

Alby menjentikkan jarinya. Sepertinya, jawaban Airin memenuhi ekspektasinya. Setelah menyesap the manis hangat pesanannya, ia membalas pernyataan gadisnya. “Berarti mau sampe kapanpun juga kuah sotonya gak akan bisa diambil ‘kan, ya?”

Dengan cepat, Airin mengangguk merespon kalimat Alby. “Iya.”

“Jadi, sekuat apapun garpu gak akan pernah bisa jadi sendok ‘kan, Rin? Sama kayak dunia, sekuat apapun kita berusaha tapi kalo bukan tempatnya gak akan bisa dipaksain,” jelas lelaki manis itu.

Airin berani bersumpah, kalimat yang dilontarkan Alby saat itu sangat menusuk ke dalam sanubarinya. Bukan dalam sisi negatif, melainkan itu tamparan baginya. Sekuat apapun harapannya akan suatu hal, jika memang bukan untuknya maka hal itu tidak akan datangnya.

Terkadang manusia lupa mereka hanya makhluk biasa yang mempunyai harapan berlebih terhadap dunia tetapi melupakan fakta bahwa semesta juga punya cara sendiri untuk bekerja. Memiliki keinginan pasti boleh, namun keinginan itu memiliki dua jawaban, yakni ‘iya’ atau ‘tidak’.

Dengan langkah yang tergesa, Faya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah dengan interior kuno itu. Tidak kumuh, namun tidak terlihat modern juga. Namun, bangunan tersebut tetap nyaman untuk ditinggali, terutama bagi Gibran. Lelaki tampan itu tersenyum sampai menampilkan deretan giginya. Kedua tangannya terbentang lebar.

“Gibran,” lirih Faya saat dirinya masuk ke dalam dekapan hangat yang sudah lama ia rindukn itu.

Gibran, lelaki tampan itu tentunya merasakan hal serupa. “Halo, Faya. Apa kabar?” tanyanya.

“Aku kangen kamu, Gib,” ujar wanita cantik itu seraya mengeratkan pelukannya.

Oleh sebab itu, Gibran tersenyum. Tangannya bergerak mengusap pelan pucuk kepala wanitanya. “Kita ngobrol di dalem aja, ya. Di luar lagi dingin. Aku gak mau alergimu kambuh,” jelasnya.

Keduanya berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah besar itu melalui pintu utamanya. Sesampainya di dalam sana, Faya dapat dengan jelas mencium aroma melati dari aroma diffuser yang dipasang Gibran untuknya. Ternyata, selain susu coklat hangat, Gibran masih mengingat kesukaan Faya yang satu ini.

“Harum,” ucap Faya sambil tersenyum manis.

Gibran lebih memilih untuk tidak membalas pernyataan Faya dengan kata-kata. Lelaki tanpan itu hanya menyimpulkan senyum terbaiknya, senyum yang hanya ia berikan untuk Faya. Kemudian, Gibran berjalan menuju dapur untuk mengambil secangkir coklat hangat dan es kopi hitam miliknya.

“Udah gelas keberapa hari ini, Gib?” tanya Faya lembut. Ia menyesap coklat panasnya.

Gibran terlebih dahulu menyedot racikan kopi yang dibuatnya. “Baru ini, Fay,” jawabnya.

“Jangan lupa apa kata dokter, ya, Gib,” ujar Faya lagi.

Gibran terkekeh kecil. Ia letakkan gelas berisi minuman pahit itu di hadapannya untuk kemudian menatap lamat sepasang manik selegam senja yang selalu berbinar terang untuknya.

“Aku gak pernah dengerin apa kata dokter, Fay. Aku dengerin apa kata kamu. Kalo kamu larang aku minum kopi, ya, aku gak akan minum,” enteng lelaki tampan itu. “Selain Bunda, cuma omongan kamu yang aku percaya,” lanjutnya.

Mendengarnya, Faya tertawa remeh. Gibran tidak pernah berubah semenjak empat tahun lalu ia meninggalkannya. Gibran tetap menjadi lelaki tampan dengan senyuman khas serupa kelinci yang selalu mengganggu pikirannya, terutama saat bersama dengan Asrhav.

“Ashrav,” ucap Gibran. “Kalo kamu di sini, dia gimana?” tanyanya ragu.

Ada satu nama yang disebut oleh Gibran, Faya menoleh. Ia tahu, cepat atau lambat, lelaki kesayangannya itu akan bertanya perihal kabar saudara kembarnya. Wanita cantik itu menghela napas panjang sebelum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gibran.

“Aku gak bisa, Gib. Aku gak bisa sama Ashrav,” jelas Faya.

Wanita cantik itu tidak mampu memandang manik selegam malam favoritnya. Tiba-tiba saja, skenario menyakitkan terlintar di sanubarinya, tentang bagaimana Faya menyakiti Gibran dulu. Perlahan, ia menitihkan air mata.

“Maafin aku, Gib,” lirih wanita cantik itu.

Dengan sigap, Gibran merengkuh wanitanya agar masuk ke dalam pelukannya. Ia menghela napas panjang seraya tersenyum tipis. Tidak peduli seberapa sakit luka yang ditinggalkan, Gibran akan selalu menyambut kedatangan Faya.

“Jangan sedih, Ay,” ucap Gibran menenangkan.

Akhirnya, panggilan manis itu terucap dari mulutnya. Faya dibuat cukup tenang hatinya kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang tidak asing. Wanita cantik itu berusaha untuk menghentikan tangisannya sebab perasaan yang campur aduk.

Gibran melonggarkan pelukannya. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Faya. Lelaki tampan itu banyak melempar senyum pada wanitanya hari ini. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah. Faya kembali padanya.

“Ay,” panggil Gibran. “Aku gak peduli seberapa besar rasa sakit yang kamu sebabkan ke aku, itu gak akan merubah sedikit pun rasa sayang aku ke kamu. Dari pertama kali aku ketemu kamu di kampus, aku udah jatuh cinta sama kamu dan selamanya akan begitu. Aku gak peduli apa kata orang. Aku sayang sama kamu. Kita mulai dari awal, ya.”

Dengan langkah yang tergesa, Faya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah dengan interior kuno itu. Tidak kumuh, namun tidak terlihat modern juga. Namun, bangunan tersebut tetap nyaman untuk ditinggali, terutama bagi Gibran. Lelaki tampan itu tersenyum sampai menampilkan deretan giginya. Kedua tangannya terbentang lebar.

“Gibran,” lirih Faya saat dirinya masuk ke dalam dekapan hangat yang sudah lama ia rindukn itu.

Gibran, lelaki tampan itu tentunya merasakan hal serupa. “Halo, Faya. Apa kabar?” tanyanya.

“Aku kangen kamu, Gib,” ujar wanita cantik itu seraya mengeratkan pelukannya.

Oleh sebab itu, Gibran tersenyum. Tangannya bergerak mengusap pelan pucuk kepala wanitanya. “Kita ngobrol di dalem aja, ya. Di luar lagi dingin. Aku gak mau alergimu kambuh,” jelasnya.

Keduanya berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah besar itu melalui pintu utamanya. Sesampainya di dalam sana, Faya dapat dengan jelas mencium aroma melati dari aroma diffuser yang dipasang Gibran untuknya. Ternyata, selain susu coklat hangat, Gibran masih mengingat kesukaan Faya yang satu ini.

“Harum,” ucap Faya sambil tersenyum manis.

Gibran lebih memilih untuk tidak membalas pernyataan Faya dengan kata-kata. Lelaki tanpan itu hanya menyimpulkan senyum terbaiknya, senyum yang hanya ia berikan untuk Faya. Kemudian, Gibran berjalan menuju dapur untuk mengambil secangkir coklat hangat dan es kopi hitam miliknya.

“Udah gelas keberapa hari ini, Gib?” tanya Faya lembut. Ia menyesap coklat panasnya.

Gibran terlebih dahulu menyedot racikan kopi yang dibuatnya. “Baru ini, Fay,” jawabnya.

“Jangan lupa apa kata dokter, ya, Gib,” ujar Faya lagi.

Gibran terkekeh kecil. Ia letakkan gelas berisi minuman pahit itu di hadapannya untuk kemudian menatap lamat sepasang manik selegam senja yang selalu berbinar terang untuknya.

“Aku gak pernah dengerin apa kata dokter, Fay. Aku dengerin apa kata kamu. Kalo kamu larang aku minum kopi, ya, aku gak akan minum,” enteng lelaki tampan itu. “Selain Bunda, cuma omongan kamu yang aku percaya,” lanjutnya.

Mendengarnya, Faya tertawa remeh. Gibran tidak pernah berubah semenjak empat tahun lalu ia meninggalkannya. Gibran tetap menjadi lelaki tampan dengan senyuman khas serupa kelinci yang selalu mengganggu pikirannya, terutama saat bersama dengan Asrhav.

“Ashrav,” ucap Gibran. “Kalo kamu di sini, dia gimana?” tanyanya ragu.

Ada satu nama yang disebut oleh Gibran, Faya menoleh. Ia tahu, cepat atau lambat, lelaki kesayangannya itu akan bertanya perihal kabar saudara kembarnya. Wanita cantik itu menghela napas panjang sebelum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gibran.

“Aku gak bisa, Gib. Aku gak bisa sama Ashrav,” jelas Faya.

Wanita cantik itu tidak mampu memandang manik selegam malam favoritnya. Tiba-tiba saja, skenario menyakitkan terlintar di sanubarinya, tentang bagaimana Faya menyakiti Gibran dulu. Perlahan, ia menitihkan air mata.

“Maafin aku, Gib,” lirih wanita cantik itu.

Dengan sigap, Gibran merengkuh wanitanya agar masuk ke dalam pelukannya. Ia menghela napas panjang seraya tersenyum tipis. Tidak peduli seberapa sakit luka yang ditinggalkan, Gibran akan selalu menyambut kedatangan Faya.

“Jangan sedih, Ay,” ucap Gibran menenangkan.

Akhirnya, panggilan manis itu terucap dari mulutnya. Faya dibuat cukup tenang hatinya kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang tidak asing. Wanita cantik itu berusaha untuk menghentikan tangisannya sebab perasaan yang campur aduk.

Gibran melonggarkan pelukannya. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Faya. Lelaki tampan itu banyak melempar senyum pada wanitanya hari ini. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah. Faya kembali padanya.

“Ay,” panggil Gibran. “Aku gak peduli seberapa besar rasa sakit yang kamu sebabkan ke aku, itu gak akan merubah sedikit pun rasa sayang aku ke kamu. Dari pertama kali aku ketemu kamu di kampus, aku udah jatuh cinta sama kamu dan selamanya akan begitu. Aku gak peduli apa kata orang. Aku sayang sama kamu. Kita mulai dari awal, ya.”

Dengan langkah yang tergesa, Faya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah dengan interior kuno itu. Tidak kumuh, namun tidak terlihat modern juga. Namun, bangunan tersebut tetap nyaman untuk ditinggali, terutama bagi Gibran. Lelaki tampan itu tersenyum sampai menampilkan deretan giginya. Kedua tangannya terbentang lebar.

“Gibran,” lirih Faya saat dirinya masuk ke dalam dekapan hangat yang sudah lama ia rindukn itu.

Gibran, lelaki tampan itu tentunya merasakan hal serupa. “Halo, Faya. Apa kabar?” tanyanya.

“Aku kangen kamu, Gib,” ujar wanita cantik itu seraya mengeratkan pelukannya.

Oleh sebab itu, Gibran tersenyum. Tangannya bergerak mengusap pelan pucuk kepala wanitanya. “Kita ngobrol di dalem aja, ya. Di luar lagi dingin. Aku gak mau alergimu kambuh,” jelasnya.

Keduanya berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah besar itu melalui pintu utamanya. Sesampainya di dalam sana, Faya dapat dengan jelas mencium aroma melati dari aroma diffuser yang dipasang Gibran untuknya. Ternyata, selain susu coklat hangat, Gibran masih mengingat kesukaan Faya yang satu ini.

“Harum,” ucap Faya sambil tersenyum manis.

Gibran lebih memilih untuk tidak membalas pernyataan Faya dengan kata-kata. Lelaki tanpan itu hanya menyimpulkan senyum terbaiknya, senyum yang hanya ia berikan untuk Faya. Kemudian, Gibran berjalan menuju dapur untuk mengambil secangkir coklat hangat dan es kopi hitam miliknya.

“Udah gelas keberapa hari ini, Gib?” tanya Faya lembut. Ia menyesap coklat panasnya.

Gibran terlebih dahulu menyedot racikan kopi yang dibuatnya. “Baru ini, Fay,” jawabnya.

“Jangan lupa apa kata dokter, ya, Gib,” ujar Faya lagi.

Gibran terkekeh kecil. Ia letakkan gelas berisi minuman pahit itu di hadapannya untuk kemudian menatap lamat sepasang manik selegam senja yang selalu berbinar terang untuknya.

“Aku gak pernah dengerin apa kata dokter, Fay. Aku dengerin apa kata kamu. Kalo kamu larang aku minum kopi, ya, aku gak akan minum,” enteng lelaki tampan itu. “Selain Bunda, cuma omongan kamu yang aku percaya,” lanjutnya.

Mendengarnya, Faya tertawa remeh. Gibran tidak pernah berubah semenjak empat tahun lalu ia meninggalkannya. Gibran tetap menjadi lelaki tampan dengan senyuman khas serupa kelinci yang selalu mengganggu pikirannya, terutama saat bersama dengan Asrhav.

“Ashrav,” ucap Gibran. “Kalo kamu di sini, dia gimana?” tanyanya ragu.

Ada satu nama yang disebut oleh Gibran, Faya menoleh. Ia tahu, cepat atau lambat, lelaki kesayangannya itu akan bertanya perihal kabar saudara kembarnya. Wanita cantik itu menghela napas panjang sebelum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gibran.

“Aku gak bisa, Gib. Aku gak bisa sama Ashrav,” jelas Faya.

Wanita cantik itu tidak mampu memandang manik selegam malam favoritnya. Tiba-tiba saja, skenario menyakitkan terlintar di sanubarinya, tentang bagaimana Faya menyakiti Gibran dulu. Perlahan, ia menitihkan air mata.

“Maafin aku, Gib,” lirih wanita cantik itu.

Dengan sigap, Gibran merengkuh wanitanya agar masuk ke dalam pelukannya. Ia menghela napas panjang seraya tersenyum tipis. Tidak peduli seberapa sakit luka yang ditinggalkan, Gibran akan selalu menyambut kedatangan Faya.

“Jangan sedih, Ay,” ucap Gibran menenangkan.

Akhirnya, panggilan manis itu terucap dari mulutnya. Faya dibuat cukup tenang hatinya kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang tidak asing. Wanita cantik itu berusaha untuk menghentikan tangisannya sebab perasaan yang campur aduk.

Gibran melonggarkan pelukannya. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Faya. Lelaki tampan itu banyak melempar senyum pada wanitanya hari ini. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah. Faya kembali padanya.

“Ay,” panggil Gibran. “Aku gak peduli seberapa besar rasa sakit yang kamu sebabkan ke aku, itu gak akan merubah sedikit pun rasa sayang aku ke kamu. Dari pertama kali aku ketemu kamu di kampus, aku udah jatuh cinta sama kamu dan selamanya akan begitu. Aku gak peduli apa kata orang. Aku sayang sama kamu. Kita mulai dari awal, ya.”

“Den Farel, Bi Ijah tinggal dulu ke rumah, ya. Bibi mau masak untuk makan siang. Nanti, kalo ada yang dateng suruh ke rumah Bibi aja, ya, Den,” jelas wanita paruh baya itu ramah kepada salah satu langganannya.

Mendengarnya, lelaki tampan itu tersenyum. “Iya, Bi,” ucapnya.

“Makasih, ya, Den,” balas Bi Ijah. “Den Farel jangan lupa makan, wajah gantengnya jadi pucet gitu. Nanti Bibi ajak makan siang di rumah Bibi aja, ya. Mau, Den?” tawarnya.

Farelio menggelengkan kepalanya sembari kedua telapak tangannya bergerak melambai. “Gak usah, Bi. Saya gak apa-apa kok. Makasih banyak, ya, Bi,” jawab lelaki tampan itu lembut.

Setelah percakapannya dengan Farelio, Bi Ijah melengang pergi menuju rumahnya yang berjarak dari warung tempatnya berjualan, masih berada di sekitaran sekolah menengah atas itu juga.

Di siang hari yang mendung disertai dengan angin yang berhembus pelan, Farelio mengatupkan kedua tangannya. Lelaki tampan itu sangat merefleksikan perasaan bimbang.

Ya, apalagi jika bukan perihal gadisnya. Farelio menyesal tidak menggunakan waktu dua tahun belakang ini untuk mengenal baik gadis kesayangannya. Ia terlihat gelisah.

Selain rindu yang melanda, lelaki tampan itu juga merasa terpukul hatinya. Ingin sekali Farelio memberikan hadiah kecil untuk Airin. Mengingat dirinya tidak pernah memberikan apapun kepada gadisnya, selain rasa nikmat.

“Airin sukanya apa?” monolognya.

Tak lama berselang, terdengar suara langkah yang mendekat. Farelio mengangkat pandangannya dan yang ia temukan ialah sesosok yang tidak terduga tetapi ia harapkan kehadirannya.

Bukan Airin, melainkan Alby. Lelaki tampan itu menatap intens pada teman sekolahnya yang sudah sejak lama ingin ia temui.

“Bu Ijah mana?” tanya Alby.

“Bi Ijah, bukan Bu Ijah,” balas Farelio dingin.

Alby terkekeh kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang terdengar tak asing. Sepasang manik indahnya menyipit. “Jawabannya persis kayak Airin,” ucapnya.

“Apa lo bilang?” tanya Farelio tidak santai. Lelaki tampan itu bangkit dari posisi duduknya.

“Gua gak bilang apa-apa,” elak sang lawan bicaranya. “Bi Ijahnya ke mana?” tanya Alby lagi.

“Lagi pulang ke rumahnya,” jelas Farelio.

Mendengarnya, Alby mengangguk beberapa kali tanda mengerti. Setelahnya, lelaki manis itu mengambil posisi duduk pada kursi kayu yang sebelumnya ditempati oleh Farelio.

Melihatnya, Farelio melakukan hal yang sama. Entah mengapa, rasa penasaran dalam hati lelaki tampan itu semakin membuncah. Hubungan seperti apa yang tengah dijalani siswa pindahan ini bersama gadisnya.

Tapi, tiba-tiba saja rasa penasaran itu hilang dalam sekejap. Menurut Farelio, ada hal yang lebih penting untuk dipusingkan sekarang. Ya, sekiranya hadiah apa yang akan Airin suka atau mungkin lelaki tampan itu bisa memberi gadisnya sesuatu yang sangat ia butuhkan, perhatian misalnya.

“Coklat atau bunga, ya?” gumam Farelio.

Hanya dengan dua kata benda yang diucapkan teman di sebelahnya itu mampu membuat Alby menoleh dengan semangat. “Lo bilang apa? Coklat atau bunga, ya. Buat siapa? Airin, ya?” tanya lelaki manis itu.

Farelio berdecak sebal. “Lo gak perlu tau,” singkatnya.

“Jelas, lo perlu tau,” balas Alby. “Airin itu alergi sama serbuk sari. Tapi, dia suka makanan manis. Jadi, kalo mau kasih sesuatu, mending lo kasih coklat aja ke dia,” jelasnya.

Sepasang manik selegam malam itu menatap benci pada lelaki manis yang duduk di sebelahnya. Keduanya saling beradu pandang dan tidak ada yang mau mengalah, seolah Farelio dan Alby tengah memperbutkan Airin yang tak kasat mata.

Di detik berikutnya yang terjadi adalah Farelio mencegkram kerah kemeja sekolah Alby sembari bangkit dari posisi duduknya.

Tentunya, lelaki manis itu sedikit terangkat tubuhnya. Walaupun begitu, Alby sebisa mungkin untuk tidak ikut larut ke dalam amarah temannya. Ia mencoba untuk tenang.

“Tau apa lo tentang Airin? Lo bukan siapa-siapanya. Jadi, gak usah sok tau,” desis Farelio.

Mendengarnya, Alby tertawa remeh. “Mending lo tanya sendiri ke orangnya,” ucapnya santai.

BUAGH!

Tidak ingin bersabar lebih lama lagi, Farelio meninju sebelah wajah tampan Alby sampai temannya itu terhempas ke tanah. Alby menyeka luka kecil yang timbul di ujung bibirnya. Ia menyeringai.

Sepasang manik indahnya menatap tidak suka pada Farelio yang berdiri menjulang di hadapannya. Apa-apaan orang ini, batinnya.

“Lo kenapa deh, Rel? Padahal, gua cuma ngasih tau informasi penting tentang Airin ke lo, tapi lo semarah ini. Kenapa? Lo iri sama gua karena gua lebih kenal Airin. Iya, Rel?” tanya Alby.

Beberapa kalimat itu sukses memberikan pasokan batu bara khas amarah yang membuat amarah Farelio semakin berapi-api. Sepasang manik selegam malam yang biasanya bersinar indah itu, kini berubah drastis.

Dari tatapan itu seolah mengartikan Alby akan mati hari itu juga. Setelahnya, Fareio kembali bergerak. Lelaki tampan itu menimpa tubuh besar sang lawan untuk kemudian kembali melayangkan pukulan lain.

BUAGH!

Satu pukulan.

BUAGH!

Dua pukulan.

Dan saat Farelio akan melayangkan pukulan ketiga, sepasang lengan ringkih menghentikan pergerakannya. “Farel!” pekik Airin.

Dengan begitu, Farelio baru sepenuhnya sadar dari emosi negatif yang menyelimutinya. Airin menarik sebelah tangan berotot itu agar bangun dari tubuh Alby.

Di sisi lain, Hana ikut membantu sepupunya untuk bangkit lalu duduk di tempat. Ia beberapa kali menepuk pipi Alby sebab dirasa lelaki manis itu mulai kehilangan kesadarannya.

“Alby,” panggil Hana.

“Tenang, Cil. Gua masih hidup,” gurau Alby di sela-sela atmosfer menegangkan di sana.

“Kita pulang,” singkat Airin.

Selepasnya, gadis cantik itu menggandeng tangan lelaki kesayangannya untuk pergi dari kerumunan. Sementara itu, Alby yang wajahnya dipenuhi luka terbuka hanya dpat memandang nanar pada gadis pujaan hatinya yang perlahan menghilang dari pandangannya sembari menggenggam tangan Farelio. Melihatnya, Alby berdecak seraya menyeringai.

“Lo gak apa-apa, By?” tanya Hana khawatir.

“Enggak, gua kenapa-napa. Hati gua sakit, Cil,” jelasnya.

#scuffle

“Den Farel, Bi Ijah tinggal dulu ke rumah, ya. Bibi mau masak untuk makan siang. Nanti, kalo ada yang dateng suruh ke rumah Bibi aja, ya, Den,” jelas wanita paruh baya itu ramah kepada salah satu langganannya.

Mendengarnya, lelaki tampan itu tersenyum. “Iya, Bi,” ucapnya.

“Makasih, ya, Den,” balas Bi Ijah. “Den Farel jangan lupa makan, wajah gantengnya jadi pucet gitu. Nanti Bibi ajak makan siang di rumah Bibi aja, ya. Mau, Den?” tawarnya.

Farelio menggelengkan kepalanya sembari kedua telapak tangannya bergerak melambai. “Gak usah, Bi. Saya gak apa-apa kok. Makasih banyak, ya, Bi,” jawab lelaki tampan itu lembut.

Setelah percakapannya dengan Farelio, Bi Ijah melengang pergi menuju rumahnya yang berjarak dari warung tempatnya berjualan, masih berada di sekitaran sekolah menengah atas itu juga.

Di siang hari yang mendung disertai dengan angin yang berhembus pelan, Farelio mengatupkan kedua tangannya. Lelaki tampan itu sangat merefleksikan perasaan bimbang.

Ya, apalagi jika bukan perihal gadisnya. Farelio menyesal tidak menggunakan waktu dua tahun belakang ini untuk mengenal baik gadis kesayangannya. Ia terlihat gelisah.

Selain rindu yang melanda, lelaki tampan itu juga merasa terpukul hatinya. Ingin sekali Farelio memberikan hadiah kecil untuk Airin. Mengingat dirinya tidak pernah memberikan apapun kepada gadisnya, selain rasa nikmat.

“Airin sukanya apa?” monolognya.

Tak lama berselang, terdengar suara langkah yang mendekat. Farelio mengangkat pandangannya dan yang ia temukan ialah sesosok yang tidak terduga tetapi ia harapkan kehadirannya.

Bukan Airin, melainkan Alby. Lelaki tampan itu menatap intens pada teman sekolahnya yang sudah sejak lama ingin ia temui.

“Bu Ijah mana?” tanya Alby.

“Bi Ijah, bukan Bu Ijah,” balas Farelio dingin.

Alby terkekeh kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang terdengar tak asing. Sepasang manik indahnya menyipit. “Jawabannya persis kayak Airin,” ucapnya.

“Apa lo bilang?” tanya Farelio tidak santai. Lelaki tampan itu bangkit dari posisi duduknya.

“Gua gak bilang apa-apa,” elak sang lawan bicaranya. “Bi Ijahnya ke mana?” tanya Alby lagi.

“Lagi pulang ke rumahnya,” jelas Farelio.

Mendengarnya, Alby mengangguk beberapa kali tanda mengerti. Setelahnya, lelaki manis itu mengambil posisi duduk pada kursi kayu yang sebelumnya ditempati oleh Farelio.

Melihatnya, Farelio melakukan hal yang sama. Entah mengapa, rasa penasaran dalam hati lelaki tampan itu semakin membuncah. Hubungan seperti apa yang tengah dijalani siswa pindahan ini bersama gadisnya.

Tapi, tiba-tiba saja rasa penasaran itu hilang dalam sekejap. Menurut Farelio, ada hal yang lebih penting untuk dipusingkan sekarang. Ya, sekiranya hadiah apa yang akan Airin suka atau mungkin lelaki tampan itu bisa memberi gadisnya sesuatu yang sangat ia butuhkan, perhatian misalnya.

“Coklat atau bunga, ya?” gumam Farelio.

Hanya dengan dua kata benda yang diucapkan teman di sebelahnya itu mampu membuat Alby menoleh dengan semangat. “Lo bilang apa? Coklat atau bunga, ya. Buat siapa? Airin, ya?” tanya lelaki manis itu.

Farelio berdecak sebal. “Lo gak perlu tau,” singkatnya.

“Jelas, lo perlu tau,” balas Alby. “Airin itu alergi sama serbuk sari. Tapi, dia suka makanan manis. Jadi, kalo mau kasih sesuatu, mending lo kasih coklat aja ke dia,” jelasnya.

Sepasang manik selegam malam itu menatap benci pada lelaki manis yang duduk di sebelahnya. Keduanya saling beradu pandang dan tidak ada yang mau mengalah, seolah Farelio dan Alby tengah memperbutkan Airin yang tak kasat mata.

Di detik berikutnya yang terjadi adalah Farelio mencegkram kerah kemeja sekolah Alby sembari bangkit dari posisi duduknya.

Tentunya, lelaki manis itu sedikit terangkat tubuhnya. Walaupun begitu, Alby sebisa mungkin untuk tidak ikut larut ke dalam amarah temannya. Ia mencoba untuk tenang.

“Tau apa lo tentang Airin? Lo bukan siapa-siapanya. Jadi, gak usah sok tau,” desis Farelio.

Mendengarnya, Alby tertawa remeh. “Mending lo tanya sendiri ke orangnya,” ucapnya santai.

BUAGH!

Tidak ingin bersabar lebih lama lagi, Farelio meninju sebelah wajah tampan Alby sampai temannya itu terhempas ke tanah. Alby menyeka luka kecil yang timbul di ujung bibirnya. Ia menyeringai.

Sepasang manik indahnya menatap tidak suka pada Farelio yang berdiri menjulang di hadapannya. Apa-apaan orang ini, batinnya.

“Lo kenapa deh, Rel? Padahal, gua cuma ngasih tau informasi penting tentang Airin ke lo, tapi lo semarah ini. Kenapa? Lo iri sama gua karena gua lebih kenal Airin. Iya, Rel?” tanya Alby.

Beberapa kalimat itu sukses memberikan pasokan batu bara khas amarah yang membuat amarah Farelio semakin berapi-api. Sepasang manik selegam malam yang biasanya bersinar indah itu, kini berubah drastis.

Dari tatapan itu seolah mengartikan Alby akan mati hari itu juga. Setelahnya, Fareio kembali bergerak. Lelaki tampan itu menimpa tubuh besar sang lawan untuk kemudian kembali melayangkan pukulan lain.

BUAGH!

Satu pukulan.

BUAGH!

Dua pukulan.

Dan saat Farelio akan melayangkan pukulan ketiga, sepasang lengan ringkih menghentikan pergerakannya. “Farel!” pekik Airin.

Dengan begitu, Farelio baru sepenuhnya sadar dari emosi negatif yang menyelimutinya. Airin menarik sebelah tangan berotot itu agar bangun dari tubuh Alby.

Di sisi lain, Hana ikut membantu sepupunya untuk bangkit lalu duduk di tempat. Ia beberapa kali menepuk pipi Alby sebab dirasa lelaki manis itu mulai kehilangan kesadarannya.

“Alby,” panggil Hana.

“Tenang, Cil. Gua masih hidup,” gurau Alby di sela-sela atmosfer menegangkan di sana.

“Kita pulang,” singkat Airin.

Selepasnya, gadis cantik itu menggandeng tangan lelaki kesayangannya untuk pergi dari kerumunan. Sementara itu, Alby yang wajahnya dipenuhi luka terbuka hanya dpat memandang nanar pada gadis pujaan hatinya yang perlahan menghilang dari pandangannya sembari menggenggam tangan Farelio. Melihatnya, Alby berdecak seraya menyeringai.

“Lo gak apa-apa, By?” tanya Hana khawatir.

“Enggak, gua kenapa-napa. Hati gua sakit, Cil,” jelasnya.