ttoguxnanaxranie

Dengan langkah yang tergesa, Faya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah dengan interior kuno itu. Tidak kumuh, namun tidak terlihat modern juga. Satu hal yang pasti, bangunan tersebut tetap nyaman untuk ditinggali, terutama bagi Gibran. Lelaki tampan itu tersenyum sampai menampilkan deretan giginya. Kedua tangannya terbentang lebar.

“Gibran,” lirih Faya saat dirinya masuk ke dalam dekapan hangat yang sudah lama ia rindukn itu.

Gibran, lelaki tampan itu tentunya merasakan hal serupa. “Halo, Faya. Apa kabar?” tanyanya.

“Aku kangen kamu, Gib,” ujar wanita cantik itu seraya mengeratkan pelukannya.

Oleh sebab itu, Gibran tersenyum. Tangannya bergerak mengusap pelan pucuk kepala wanitanya. “Kita ngobrol di dalem aja, ya. Di luar lagi dingin. Aku gak mau alergimu kambuh,” jelasnya.

Keduanya berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah besar itu melalui pintu utamanya. Sesampainya di dalam sana, Faya dapat dengan jelas mencium aroma melati dari diffuser yang dipasang Gibran untuknya. Ternyata, selain susu coklat hangat, Gibran masih mengingat kesukaan Faya yang satu ini.

“Harum,” ucap Faya sambil tersenyum manis.

Gibran lebih memilih untuk tidak membalas pernyataan Faya dengan kata-kata. Lelaki tanpan itu hanya menyimpulkan senyum terbaiknya, senyum yang hanya ia berikan untuk Faya. Kemudian, Gibran berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas coklat hangat dan secangkir kopi hitam miliknya.

“Udah gelas keberapa hari ini, Gib?” tanya Faya lembut. Ia menyesap coklat panasnya.

Gibran terlebih dahulu menyedot racikan kopi yang dibuatnya. “Baru ini, Fay,” jawabnya.

“Jangan lupa apa kata dokter, ya, Gib,” ujar Faya lagi.

Gibran terkekeh kecil. Ia letakkan gelas berisi minuman pahit itu di hadapannya untuk kemudian menatap lamat sepasang manik selegam senja yang selalu berbinar terang untuknya.

“Aku gak pernah dengerin apa kata dokter, Fay. Aku dengerin apa kata kamu. Kalo kamu larang aku minum kopi, ya, aku gak akan minum,” enteng lelaki tampan itu. “Selain Bunda, cuma omongan kamu yang aku percaya,” lanjutnya.

Mendengarnya, Faya tertawa remeh. Gibran tidak pernah berubah semenjak empat tahun lalu ia meninggalkannya. Gibran tetap menjadi lelaki tampan dengan senyuman khas serupa kelinci yang selalu mengganggu pikirannya, terutama saat bersama dengan Asrhav.

“Ashrav,” ucap Gibran. “Kalo kamu di sini, dia gimana?” tanyanya ragu.

Ada satu nama yang disebut oleh Gibran, Faya menoleh. Ia tahu, cepat atau lambat, lelaki kesayangannya itu akan bertanya perihal kabar saudara kembarnya. Wanita cantik itu menghela napas panjang sebelum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gibran.

“Aku gak bisa, Gib. Aku gak bisa sama Ashrav,” jelas Faya.

Wanita cantik itu tidak mampu memandang manik selegam malam favoritnya. Tiba-tiba saja, skenario menyakitkan terlintas di sanubarinya, tentang bagaimana Faya menyakiti Gibran dulu. Perlahan, ia menitihkan air mata.

“Maafin aku, Gib,” lirih wanita cantik itu.

Dengan sigap, Gibran merengkuh wanitanya agar masuk ke dalam pelukannya. Ia menghela napas panjang seraya tersenyum tipis. Tidak peduli seberapa sakit luka yang ditinggalkan, Gibran akan selalu menyambut kedatangan Faya.

“Jangan sedih, Ay,” ucap Gibran menenangkan.

Akhirnya, panggilan manis itu terucap dari mulutnya. Faya dibuat cukup tenang hatinya kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang tidak asing. Wanita cantik itu berusaha untuk menghentikan tangisannya sebab perasaan yang campur aduk.

Gibran melonggarkan pelukannya. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Faya. Lelaki tampan itu banyak melempar senyum pada wanitanya hari ini. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah. Faya kembali padanya.

“Ay,” panggil Gibran. “Aku gak peduli seberapa besar rasa sakit yang kamu sebabkan ke aku, itu gak akan merubah sedikit pun rasa sayang aku ke kamu. Dari pertama kali aku ketemu kamu di kampus, aku udah jatuh cinta sama kamu dan selamanya akan begitu. Aku gak peduli apa kata orang. Aku sayang sama kamu. Kita mulai dari awal, ya.”

Dengan langkah yang tergesa, Faya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah dengan interior kuno itu. Tidak kumuh, namun tidak terlihat modern juga. Satu hal yang pasti, bangunan tersebut tetap nyaman untuk ditinggali, terutama bagi Gibran. Lelaki tampan itu tersenyum sampai menampilkan deretan giginya. Kedua tangannya terbentang lebar.

“Gibran,” lirih Faya saat dirinya masuk ke dalam dekapan hangat yang sudah lama ia rindukn itu.

Gibran, lelaki tampan itu tentunya merasakan hal serupa. “Halo, Faya. Apa kabar?” tanyanya.

“Aku kangen kamu, Gib,” ujar wanita cantik itu seraya mengeratkan pelukannya.

Oleh sebab itu, Gibran tersenyum. Tangannya bergerak mengusap pelan pucuk kepala wanitanya. “Kita ngobrol di dalem aja, ya. Di luar lagi dingin. Aku gak mau alergimu kambuh,” jelasnya.

Keduanya berjalan berdampingan untuk masuk ke dalam rumah besar itu melalui pintu utamanya. Sesampainya di dalam sana, Faya dapat dengan jelas mencium aroma melati dari diffuser yang dipasang Gibran untuknya. Ternyata, selain susu coklat hangat, Gibran masih mengingat kesukaan Faya yang satu ini.

“Harum,” ucap Faya sambil tersenyum manis.

Gibran lebih memilih untuk tidak membalas pernyataan Faya dengan kata-kata. Lelaki tanpan itu hanya menyimpulkan senyum terbaiknya, senyum yang hanya ia berikan untuk Faya. Kemudian, Gibran berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas coklat hangat dan secangkir kopi hitam miliknya.

“Udah gelas keberapa hari ini, Gib?” tanya Faya lembut. Ia menyesap coklat panasnya.

Gibran terlebih dahulu menyedot racikan kopi yang dibuatnya. “Baru ini, Fay,” jawabnya.

“Jangan lupa apa kata dokter, ya, Gib,” ujar Faya lagi.

Gibran terkekeh kecil. Ia letakkan gelas berisi minuman pahit itu di hadapannya untuk kemudian menatap lamat sepasang manik selegam senja yang selalu berbinar terang untuknya.

“Aku gak pernah dengerin apa kata dokter, Fay. Aku dengerin apa kata kamu. Kalo kamu larang aku minum kopi, ya, aku gak akan minum,” enteng lelaki tampan itu. “Selain Bunda, cuma omongan kamu yang aku percaya,” lanjutnya.

Mendengarnya, Faya tertawa remeh. Gibran tidak pernah berubah semenjak empat tahun lalu ia meninggalkannya. Gibran tetap menjadi lelaki tampan dengan senyuman khas serupa kelinci yang selalu mengganggu pikirannya, terutama saat bersama dengan Asrhav.

“Ashrav,” ucap Gibran. “Kalo kamu di sini, dia gimana?” tanyanya ragu.

Ada satu nama yang disebut oleh Gibran, Faya menoleh. Ia tahu, cepat atau lambat, lelaki kesayangannya itu akan bertanya perihal kabar saudara kembarnya. Wanita cantik itu menghela napas panjang sebelum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Gibran.

“Aku gak bisa, Gib. Aku gak bisa sama Ashrav,” jelas Faya.

Wanita cantik itu tidak mampu memandang manik selegam malam favoritnya. Tiba-tiba saja, skenario menyakitkan terlintas di sanubarinya, tentang bagaimana Faya menyakiti Gibran dulu. Perlahan, ia menitihkan air mata.

“Maafin aku, Gib,” lirih wanita cantik itu.

Dengan sigap, Gibran merengkuh wanitanya agar masuk ke dalam pelukannya. Ia menghela napas panjang seraya tersenyum tipis. Tidak peduli seberapa sakit luka yang ditinggalkan, Gibran akan selalu menyambut kedatangan Faya.

“Jangan sedih, Ay,” ucap Gibran menenangkan.

Akhirnya, panggilan manis itu terucap dari mulutnya. Faya dibuat cukup tenang hatinya kala indera pendengarannya menangkap stimulus yang tidak asing. Wanita cantik itu berusaha untuk menghentikan tangisannya sebab perasaan yang campur aduk.

Gibran melonggarkan pelukannya. Tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Faya. Lelaki tampan itu banyak melempar senyum pada wanitanya hari ini. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah. Faya kembali padanya.

“Ay,” panggil Gibran. “Aku gak peduli seberapa besar rasa sakit yang kamu sebabkan ke aku, itu gak akan merubah sedikit pun rasa sayang aku ke kamu. Dari pertama kali aku ketemu kamu di kampus, aku udah jatuh cinta sama kamu dan selamanya akan begitu. Aku gak peduli apa kata orang. Aku sayang sama kamu. Kita mulai dari awal, ya.”

Selepas mengantar sang sepupu untuk berkunjung ke rumah nenek, tak lupa juga lelaki manis itu meminta izin serta maaf bahwa dirinya tidak dapat ikut berkunjung hari ini, mobil klasik itu berhenti di sebuah toko boneka di samping perempatan jalan. Di dalam sana, tersedia banyak boneka dalam berbagai jenis dan ukuran.

Setelah mengadakan konferensi kecil bersama beberapa sel otak di dalam kepalanya, Alby memutuskan untuk kembali dan sekaligus akan menyatakan cintanya pada gadis cantik yang telah menarik perhatiannya sejak insiden roti coklat di hari pertamanya di sekolah baru, Airin Herning Kamarana.

Sepasang manik itu beredar ke segala sudut rak yang tersusun di sana, mulai dari boneka dalam bentuk bayi manusia sampai hewan lucu ada di sana. Alby ingat betul bahwa gadisnya itu memiliki alergi pada serbuk sari dan sangat menyukai makanan manis. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk memberikan Airin sebuah boneka dan beberapa potong kue coklat.

“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya salah satu pegawai dari toko boneka itu ramah.

“Eh, iya, Mbak. Ini saya mau cari boneka buat temen, eh, maksudnya buat calon pacar saya,” jelas Alby sembari terkekeh.

Melihat lelaki manis di hadapannya salah tingkah, pegawai toko tersebut ikut tertawa kecil. “Oh, Kakaknya mau nembak gebetannya, ya?” tanyanya.

“Iya nih, Mba. Doain diterima, ya, Mbak,” guyon Alby. Sepertinya, selain memohon restu dari kedua orang tuanya, meminta doa kepada setiap orang yang ia temui merupakan keharusan bagi Alby.

“Iya, Kak. Saya doain Kakaknya diterima sama gebetannya, ya,” ujar sang pegawai. “Silakan ikut saya, Kak. Saya liatin koleksi boneka yang biasanya dibeli cowok untuk pacarnya,” sambungnya.

Kemudian, keduanya naik ke lantai dua untuk melihat kumpulan boneka beruang berukuran sedang sampai besar dengan berbagai pilihan warna. Setelah hampir 20 menit berdiskusi bersama di antara barisan boneka beruang yang lucu, akhirnya Alby memilih seekor boneka beruang berukuran besar berwarna coklat muda dengan pita berwarna putih sebagai hiasan di lehernya.

“Semuanya jadi 275.000 rupiah, ya, Kak,” ujar pegawai tadi yang sekarang berada di kasir.

Alby menyerahkan uang pecahan seratus ribu sebanyak tiga lembar kepada sang kasir. “Kembaliannya buat Mbak aja, ya,” ucapnya.

“Makasih banyak, ya, Kak. Silakan kembali lagi. Semoga diterima sama gebetannya, ya, Kak,” ucap pegawai tersebut dengan sangat bersemangat.

Setelah selesai, sekarang, waktunya bagi Alby mampir ke toko kue terdekat untuk membeli beberapa potong kue manis kesukaan Airin. Di dalam toko kue tersebut, banyak dijajarkan berbagai macam kue potong, mulai dari strawberry shortcake sampai premium belgian chocolate.

“Saya mau premium belgian chocolate-nya empat potong, ya, Mas,” ucap Alby ramah kepada pegawai yang bertugas.

“Baik, Kak. Semuanya jadi 150.000 ribu rupiah, Kak,” ucap sang pegawai.

Alby kembali menyerahkan pecahan uang seratus ribu sebanyak dua lembar kepada pegawai yang juga merangkap sebagai kasir itu. “Ini, Mas. Kembaliannya buat Mas aja, ya.” Lagi-lagi Alby merelakan uang kembaliannya kepada pegawai yang bertugas di sana.

Bukannya ingin sombong, Alby juga tidak dilimpahkan banyak uang jajan oleh kedua orang tuanya. Namun, menurut ajaran dan kepercayaannya serta orang tuanya, berbagi dengan sesama adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan sebab kita sudah diberi kehidupan yang cukup. Lihat saja, bagaimana lelaki manis itu selalu membawa buah tangan kepada Pak Bagus sang petugas keamanan di unit apartemen Airin.

“Oh? Makasih banyak, ya, Kak. Semoga berkah,” kata pegawai yang ramah itu.

Semua keperluan dan segala persiapan sudah ada pada genggamannya. Selama perjalanan menuju tempat tinggal gadisnya pun, Alby ikut bersenandung pada lagu-lagu romantis dari playlist yang terputar melalui audio di dalam mobilnya, ‘Madam Airin’.

Tak butuh waktu lama bagi mobil klasik itu untuk menyusuri jalanan yang tidak terlalu dipadati oleh pengendara lain. Sesampainya di pekarangan apartemen Airin, Alby memarkirkan mobilnya lalu menghampiri Pak Bagus yang sedang berjaga dari dalam pos.

“Selamat sore, Pak Bagus,” sapa Alby.

“Eh, selamat sore, Nak Alby. Baru keliatan lagi nih, ke mana aja?” tanya Pak Bagus basa-basi.

Alby mengusap tengkuknya. “Iya nih, Pak. Lagi sibuk ujian di sekolah,” elaknya.

“Owalah. Lagi masa ujian di sekolah, ya?” tanyanya lagi.

“Iya, Pak. Ini Alby ada kue buat Bapak,” ujar lelaki manis itu sembari memberikan sekotak kue kepada lelaki paruh baya di depannya.

“Ya ampun, Nak Alby. Makasih banyak, ya. Nak Alby gak pernah lupa sama Bapak, apalagi sama Nak Airin, bawaannya aja banyak begitu,” ucap sang petugas keamanan.

“Iya, Pak, sama-sama. Alby ke tempat Airin dulu, ya, Pak. Mari,” jelas Alby ramah.

Untuk setelahnya, lelaki penuh humor itu mulai berjalan ke dalam gedung apartemen gadisnya lalu menaiki lift. Sebelah tangannya memeluk boneka beruang yang tak kalah besar dengan ukuran tubuhnya dan sebelah tangannya lagi menenteng bungkusan kue coklat.

TING! TONG!

Alby menekan tombol bel pada pintu yang beberapa waktu lalu ia rusak. Tidak ada jawaban yang terdengar. Airin tidak menyahuti panggilannya. Ia merasakan déjà vu, seperti waktu lalu.

TING! TONG!

Kali keduanya masih tidak ada jawaban. Alby mulai gelisah. Ia tidak ingin peristiwa mengenaskan yang pernah terjadi terulang kembali. Tidak, Airin tidak boleh merasakan sakit lagi. Alby sudah berjanji akan menjaga gadisnya, bukan?

TING! TONG!

“Airin,” panggilnya. “Ini gua, Alby,” lanjutnya. “Maafin gua, Rin. Gua mau jelasin banyak hal ke lo. Boleh tolong buka pintunya?”

Hasilnya masih nihil. Alby, pikirannya mulai berkelana ke mana-mana, perasaannya juga mulai cemas. Terbesit rasa bersalah pada hati lelaki manis itu. Benar, memang seharusnya ia tidak meninggalkan Airin sejak itu. Ia tidak pernah tahu apa yang sedang gadisnya coba untuk lalui. Seberapa berat hidup yang tengah disembunyikannya.

“Airin,” panggilnya lagi.

Ini tidak benar. Sesuatu pasti telah terjadi. Apa saja bisa terjadi pada gadisnya. Alby meletakkan boneka beruang yang ada di dalam gendongannya ke atas lantai. Sekotak kue yang ada pada genggamannya juga ia letakkan di sebelah boneka tersebut. Alby menghela napas panjang lalu…

BRAKKK!

Lelaki manis itu mendobrak pintu apartemen gadisnya untuk yang kedua kalinya. Sepasang maniknya langsung mengedar ke segala arah. Airin tidak ada di ruang televisi maupun di dapur. Kemudian, ia berlari ke arah kamar tidur. Di dalam sana, tidak ada siapa-siapa, yang terdengar hanyalah suara tetesan air dari arah kamar mandi.

“Airin!” pekik Alby kala indera penglihatannya menangkap sosok gadis cantik yang tergeletak di sebelah toilet dengan darah segar mengalir dari alat vitalnya serta banyak bungkusan blister obat yang berserakan tak jauh dari sana.

Alby menghampiri Airin lalu memangku tubuhnya. Ia dapat merasakan betapa dinginnya tubuh ringkih itu serta wajah cantik yang mulai memucat. Kedua kalinya, lelaki manis itu menemukan gadis cantik pujaannya dalam keadaan sekarat. Alby menangis sejadi-jadinya.

“Maafin gua, Rin. Gua gak seharusnya ninggalin lo. Gua mohon jangan pergi secepat ini, Rin,” lirih Alby pada tubuh yang ada di dalam dekapannya.

“Akhirnya, ya, By. Lo makan makanan selain soto daging. Lo gak muak apa makan gituan setiap hari?” sindir Hana.

Pada siang menjelang sore hari itu, Alby mengajak sepupunya untuk mampir ke sebuah rumah makan sebelum mereka singgah ke kediaman nenek tercinta. Akhirnya, setelah hampir sepekan menjalani hari layaknya mayat hidup, Alby perlahan mulai kembali seperti biasanya, aneh dan penuh humor receh.

Sebelum menjawab pertanyaan Hana, lelaki manis itu menyesap teh hangat tawar pesanannya. “Enggak dan gua gak akan bisa bosen. Gua punya kenangan indah di rumah makan itu,” jelasnya.

“Ya, pasti sih. Soalnya ‘kan itu rumah makan langganan keluarga kita dari dulu,” ujar Hana sembari kembali menyuap sesendok penuh nasi.

Alby menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Bukan,” katanya. “Selain itu,” sambungnya.

“Apaan?” tanya gadis mungil itu penasaran.

“Gua pernah ke sini sama Airin pas dia lagi ulang tahun buat ajak dia makan malem,” jelas Alby.

Mendengarnya, Hana terdiam di tempatnya. Alat makan yang digenggamnya, jika tidak segera diselamatkan, mungkin akan patah saat itu juga. Perlahan, tatapannya menjadi intens. Ia menolehkan pandangannya pada lelaki manis yang duduk di samping kanannya.

“Airin lagi, By,” dingin Hana.

Alby mengerjapkan maniknya beberapa kali. Ia menghela napas panjang. Dalam beberapa waktu belakangan ini, ada sesuatu hal yang lelaki manis itu sadari. Entah ini hanya perasaannya yang semakin emosional saja atau memang Hana yang merasa tersinggung jika ia membahas apapun yang berkaitan dengan Airin sang dambaan hatinya.

“Gua udah bilang sama Ayah, sama Bunda juga,” ucap Alby.

“Bilang apa?” Suara yang biasanya terdengar seperti anak-anak itu kini berubah menjadi sedatar lantai yang dingin.

“Kalo gua suka sama Airin,” singkatnya.

“Terus apa kata Ayah sama Bunda lo? Lo juga ceritain masalah Airin ke mereka?” Hana terdengar sangat putus asa dan penasaran di saat yang bersamaan.

“Gua cerita semuanya ke Ayah sama Bunda. Mereka bilang semuanya terserah gua karena gak ada siapapun yang paling paham tentang perasaan gua selain diri gua sendiri. Mereka juga bilang, ‘ketika lo memutuskan untuk jatuh cinta sama seseorang berarti lo juga memutuskan untuk jatuh cinta sama semua hal yang ada di dalam dirinya, termasuk kekurangan dan masa lalunya’,” ujar Alby panjang lebar.

“Iya, gua tau, By. Tapi lo kalo jatuh cinta juga harus pake logika, kalo lo cuma ngandelin cinta doang nanti yang ada lo malah makan hati terus,” bantah Hana tidak santai. “Kayak sekarang contohnya,” lanjutnya.

Sejujurnya, Alby cukup terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut sepupunya itu. Tidak banyak dan tidak sedikit juga yang mengetahui bahwa Airin dan Hana berteman baik satu sama lain. Namun, sepertinya yang Alby rasakan saat ini tidak ada relasi semacam itu antara gadis kesukaannya dan sepupunya.

Hana sangat membenci Airin. Alby tidak ingin memiliki prasangka buruk terhadap sepupu yang menjadi teman main dan berbagi cerita sejak kecil itu, tetapi ia juga tidak bisa memungkiri fakta bahwa Hana sangat kontra dengan hubungannya bersama Airin.

“Bohong kalo gua bilang gua gak kepikiran sama masalah Airin yang mungkin ada hubungannya sama rumor yang pernah di-posting sama admin di Neofess, Cil, karena semua bukti yang ada mengarah ke Airin,” ucap lelaki manis itu.

“Itu lo tau,” jawab Hana.

“Tapi pas beberapa hari ini gua ngehindar dari Airin… rasanya sakit, Cil. Gua deket sama Airin rasanya sakit, tapi jauh dari Airin rasanya jauh lebih sakit. Gua gak tau dia pernah ngapain aja sama cowoknya yang dulu, si Karel Karel itu, tapi itu ‘kan masa lalu dia, Cil. Ya, masa lalu dia biarin jadi masa lalu dia sama orang lain. Tugas gua sama Airin cuma mikirin masa sekarang dan kalo bisa masa depan juga kalo kita masih bareng-bareng.”

Terdapat keseriusan di setiap kata yang diucapkan oleh Alby. Eksplanasinya perihal perasaannya terhadap Airin yang beberapa hari ini seolah mengambang mampu membuat Hana membeku saat itu juga. Bagaimana lelaki manis itu benar-benar jatuh pada perasaannya bersama Airin dan mungkin gadis cantik itu merasakan hal yang serupa.

Selepas perbincangan serius tentang perasaan Alby terhadap Airin, tidak ada percakapan signifikan lagi antara lelaki manis itu dengan sepupunya. Entah Hana merasa tersinggung atau apapun itu, Alby juga tidak tahu. Keduanya tenggelam dalam pikiran terdalam masing-masing.

Di hadapan meja makan kayu yang di atasnya dipenuhi dengan piring makan kosong beserta alat makan yang kotor setelah digunakan menjadi saksi bisu bahwa hari itu adalah hari di mana Alby memutuskan untuk kembali pada Airin, dimulai dari perasaannya.

Hana, gadis mungil itu sibuk mengadu-aduk es teh tawar pesanannya menggunakan sedotan sembari menatap kosong ke arah depan. Alby, lelaki manis itu bukannya tidak menyadari, hanya saja ia kurang setuju dengan opini sepupunya kali ini. Tentunya, Alby berharap semoga momen ini tidak merusak tali persaudaraan yang sudah terjalin cukup lama di antara mereka.

“Cil,” panggil Alby.

Hana yang dipanggil namanya hanya berdehem kecil tanpa memalingkan pandangannya pada sumber suara. Hari itu, sang sepupu kesayangannya sukses menghancurkan suasana hatinya. Bukan hanya perihal Alby yang kembali pada Airin, tetapi juga sebab beberapa hal lain yang selama ini ia sembunyikan sendiri.

“Hana,” panggilnya lagi.

“Apa, By?” balas Hana malas.

“Lo jangan marah dong,” ucap Alby sembari mengusap sebelah bahu Hana.

“Gua gak marah, By,” jawab Hana. “Gua mana bisa marah sama lo,” ujarnya. Akhirnya, gadis mungil itu mau menatap sepupunya yang penuh humor itu.

Mendengarnya, Alby tersenyum manis. Sepasang manik minimalis itu hilang seketika simpulnya terbentuk. “Makasih, ya, Cil. Cuma lo yang selalu ada buat gua,” lanjutnya sembari mengusap pelan pucuk kepala Hana.

Walaupun kata-katanya begitu manis, namun tidak ada satupun respon yang Hana tunjukkan. Berbeda dengan gadis mungil itu, Alby bagaikan hidup kembali hari ini. Bagaimana perasaan dan pikiran yang beberapa waktu belakangan ini menggantung seolah terpecahkan satu per satu. Keduanya terlihat sangat kontras. Alby dengan perasaan yang kembali berbunga-bunga dan Hana dengan perasaannya yang muram nan kelam.

“Cil, sorry banget nih. Kayaknya gua gak bisa nemenin lo di rumah Nenek hari ini,” sela Alby.

Hana melirik sepupunya itu tajam. “Mau kemana lo? Ke tempat Airin?” tanyanya.

Alby menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan semangat sampai rambut yang menutupi keningnya ikut memantul. “Iya. Lo mau ikut?” tawarnya.

“Enggak,” tolak gadis mungil itu. “Gua ke rumah Nenek aja. ‘Kan gua udah janji sama Nenek,” lanjutnya.

“Jangan marah sama gua, ya, Cil. Besok gua traktir bakso aci deh,” ujar Alby.

“Gak suka bakso aci,” tolak Hana lagi.

“Yaudah. Kalo gitu gua traktir apa aja yang lo mau deh, mumpung gua lagi seneng banget,” ucap lelaki manis itu.

“Iya, terserah lo. Udah ah, cepetan, anterin gua ke rumah Nenek,” rengek Hana.

“Yaudah, ayo, Anak Kecil. Kita ke rumah Nenek, ya. Jangan menyerah ngedeketin Nenek walaupun cucu kesayangannya tetep gua,” ledek Alby seraya menarik sebelah tangan Hana untuk keluar dari rumah makan itu.

Pada malam yang semakin larut hari itu, bukannya memperhatikan arahan dan masukan dari Mas Edwin yang tengah sibuk menjelaskan, Aruna malah asyik dengan dunianya sendiri. Di balik kamera laptop yang dimatikan, terdapat Aruna yang sedang bermain dengan dirinya sendiri.

Dapat terlihat jelas bagaimana wanita cantik itu menikmati setiap sentuhan dari permainan yang ia ciptakan sendiri. Hanya dengan modal wajah manis dengan rangka tegas milik Mas Edwin yang terpampang di layar laptopnya mampu membuat Aruna memikirkan segala fantasi yang tidak mungkin terjadi di dalam kepalanya.

“Mphh, ahhh,” desah wanita cantik itu. Akhirnya, lenguhan pertamanya lolos.

Aruna menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar. Sementara itu, dua jari di tangan kirinya terus mengaduk-aduk kepemilikannya. Meskipun ini bukan pertama kalinya bagi wanita cantik itu untuk membayangkan lelaki manisnya sebagai bahan bakar seks, namun kenikmatan yang dirasakan sukses membawanya ke surga dunia.

Jika biasanya ia hanya mendengarkan suara Mas Edwin yang diam-diam ia rekam saat sedang melangsungkan sesi konsultasi pekerjaan atau hal semacamnya, kali ini permainan Aruna diwarnai oleh kehadiran sang tokoh utama secara langsung melalui pertemuan virtual.

“Ahhh, Mas,” lirih Aruna lagi.

Tidak apa-apa. Walaupun Mas Edwin tidak ada di hadapannya saat ini, tetapi Aruna sudah cukup puas dengan permainan solonya. Bagaimana Mas Edwin menyentuh sepasang payudaranya lalu meremas, memijat, serta memilin ujung putingnya. Tidak sampai di situ, lelaki manis sang pekerja keras itu juga tidak lupa untuk memanjakan baguan kewanitaan Aruna lidahnya.

Ya, setidaknya skenario liar seperti itu yang sekarang tengah berenang-renang ria di pikiran Aruna. Jika dipikir lagi, wanita cantik ini memang gila. Di saat teman-temannya, Cheryl dan Natya, mengincar sesosok lelaki kaya dengan tubuh menggiurkan, berbeda dengan Aruna. Ia sudah cukup puas dengan Mas Edwin dengan tubuh mungil yang berisi serta otaknya yang hanya dipenuhi dengan hal-hal tentang pekerjaan.

“Nghh, ahhh, Mas, iya di situ,” racaunya sembari mempercepat gerakan jarinya di bawah sana.

Aruna adalah wanita cantik dengan definisi akan menerima pasangannya apa adanya sebab ia sudah jatuh hati terlalu dalam. Entah apa yang membuat Aruna masih mengurungkan niatnya untuk menyatakan cinta pada sang pujaan hati. Ah, benar juga. Mas Edwin pernah berkata padanya bahwa ia tidak akan menikah jika uang di dalam tabungnya tidak memiliki jumlah sebanyak satu milyar rupiah. Aruna yang malang.

Tanpa ia sadari, lelaki manis pujaannya itu sudah sampai di akhir penjelasan. Di seberang sana, dari balik layar, tangan kanannya bergerak untuk menekan tombol enter. Mas Edwin menghidupkan mikrofonnya lalu berkata, “Sudah mengerti, Aruna? Kira-kira seperti itu cara pengerjaannya. Ada yang mau kamu tanyakan lagi?”

Sialan! Aruna baru saja akan mendapatkan titik ternikmatnya saat konsentrasi penuhnya diinterupsi oleh suara bariton yang menyeruak ke dalam indera pendengarannya. Ia mengulurkan tangannya yang terbebas untuk ikut menghidupkan mikrofonnya.

“S-Sudah, mphh, Mas,” jawabnya susah payah. “Ar-Aruna sudah, ahh, mengerti.”

“Aruna. Kamu gak apa-apa? Kok suaramu bergetar?” balas Mas Edwin dengan bertanya. Lelaki manis itu khawatir dengan juniornya.

“Nghh, gak apa-apa kok, Mas,” ujar wanita cantik itu. “Aruna lagi, nghh ahh, makan.”

“Oh, saya kira kenapa. Meeting-nya jangan diputus dulu ya, Run. Saya mau ngerjain laporan yang kemungkinan Pak Wishnu akan suruh kamu follow up lagi,” jelas Mas Edwin yang diakhiri dengan senyuman manis pada layar laptopnya padahal lawan bicaranya di seberang sana sedang sibuk dengan fantasinya sendiri.

Tentunya, hal itu mampu menyita atensi Aruna. Ia menghentikan aktivitas nakalnya sejenak. Lihat saja, sepasang pipi tirus itu mulai memerah sebab tersipu dengan simpulan seindah malaikat yang ada di hadapannya. “Oh, iya, Mas. Aruna gak akan putus meeting-nya dulu,” ujarnya.

Di detik berikutnya, Mas Edwin kembali mematikan mikrofonnya dan kemudian mengambil berkas yang ada di laci meja kerjanya. Ia mulai mengerjakan laporan tersebut menggunakan komputer lain. Sepasang manik selegam malam itu terfokus pada layar komputer yang menampilkan beberapa diagram beserta penjelasannya.

Tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi, Aruna menggunakan momen ini sebagai kesempatan emasnya. Klimaks yang sempat tertunda akan ia tuntaskan sekarang. Dengan wajah manis Mas Edwin yang terpampang jelas di hadapannya akan menjadi perangsang yang kuat baginya.

“Maaf, ya, Mas. Salah Mas sendiri mukanya manis gitu, saya jadi gak tahan,” monolog wanita cantik itu.

Dengan cepat, Aruna bangkit dari posisi duduknya menuju nakas yang ada di sebelah ranjang tidurnya. Dari dalam sana, ia meraih sebuah benda berbentuk tabung kecil dengan ujung tumpul berwarna merah muda. Benda itu dilengkapi dengan remote control. Ya, itu adalah salah satu alat bantu seks, vibrator.

Selepas kembali memposisikan dirinya duduk di depan sang dambaan hati, Aruna memasangkan benda itu ke dalam vaginanya. Padahal benda itu belum bergetar, namun wanita cantik itu kembali mendesahkan nama sang seniornya di kantor.

“Nghhh, iya, Mas, ahh, di situ,” lirih Aruna sesaat vibator itu terpasang sempurna pada kepemilikannya. “Ahhh, Mas,” lenguhnya saat benda itu mulai bergetar.

Berbeda dengan wanita cantik itu, Mas Edwin masih sibuk dengan laporan yang bahkan masa tenggatnya saja masih dua pekan ke depan. Namun, justru hal itulah yang membuat Aruna jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada si gila kerja, Mas Edwin. Terlihat bagaimana wanita cantik itu semakin terbuai dengan permainannya sendiri.

“Ahhh, Mas Edwin, enak, Mas,” desahnya seraya tangan sebelahnya bermain dengan tombol tempo dari remote control yang digenggamnya.

Kombinasi getaran hebat, fantasi liar, serta kehadiran langsung sang pujaan hati mampu membuat wanita cantik itu akan menjemput pelepasannya sebentar lagi. Sebelah tangannya yang terbebas memegang erat sudut meja kerjanya. Sepasang maniknya yang sedari tadi memandang lapar ke arah Mas Edwin, kini menutup erat. Wajahnya kembali menengadah ke arah atas.

“Nghh, ahh, Mas Edwin!” pekik Aruna saat mendapatkan pelepasannya.

Aruna, wanita cantik itu napasnya menggebu, wajah dan tubuhnya dibanjiri keringat, serta kedua kakinya di bawah meja bergetar hebat. Ia segera mematikan benda yang berada di vaginanya lalu mengeluarkannya dari sana. Benda yang berukuran kecil namun sedikit panjang itu dipenuhi dengan cairan khas rasa nikmatnya.

Bertepatan dengan berakhirnya permainan panas solo dari Aruna, di seberang sana, Mas Edwin juga sudah merampungkan laporannya. Aruna segera merapikan pakaian yang ia kenakan dan juga posisi duduknya. Sekarang, barulah wanita cantik berani menghidupkan kamera dan menampilkan dirinya di hadapan Mas Edwin.

“Saya sudah selesai, Run. Kamu gak apa-apa kalo meeting-nya jadi sedikit agak lama?” tanya Mas Edwin setelah menghidupkan mikrofonnya.

Aruna hendak menekan tombol enter untuk menghidupkan mikrofonnya, namun sesuatu yang aneh telah terjadi. Ikon bergambar mikrofon yang ada pada layarnya tidak dilengkapi dengan tanda garis miring, di mana artinya mikrofon itu sudah hidup sejak tadi. Apakah wanita cantik itu lupa untuk mematikan mikrofonnya setelah percakapan terakhirnya dengan Mas Edwin beberapa menit lalu?

“Ehm, halo, Mas?” ujar Aruna ragu. Jantungnya berdegup kencang bahkan lebih kencang dibandingkan saat ia menjemput titik ternikmatnya.

“Iya. Kenapa, Aruna?” balas Mas Edwin. Lelaki manis itu menatap intens pada sosok wanita cantik yang ada di layar laptopnya.

“Ini…,” gantungnya. “Suara saya terdengar, ya?” tanya Aruna.

“Kedengeran kok,” enteng sang senior. “Saya langsung jelaskan saya, ya. Kayaknya kamu udah capek banget, Run. Wajahmu keliatan lesu,” jelas Ma Edwin.

“I-Iya. Baik, Mas,” jawab wanita cantik itu.

Entah berpura-pura tidak mendengarnya atau mikrofonnya yang sedang rusak, Aruna tidak tahu apa yang terjadi malam itu, tetapi satu hal yang ia ketahui adalah permainan solonya tadi sangatlah memuaskan. Aruna tidak peduli jika Mas Edwin memang mendengarnya. Aruna ingin Mas Edwin tahu bahwa ia mencintai lelaki manis itu dengan setulus hatinya.

Detik berubah menjadi menit dan menit berubah menjadi jam. Sesi diskusi dan tanya jawab antara Aruna dan Mas Edwin akhirnya berada di penghujung acara dan bertepatan pada pergantian hari. Keduanya sama-sama menoleh ke arah jam dinding yang ada di ruangan masing-masing, pukul 12 dini hari.

“Gak kerasa udah tengah malem aja, ya, Run,” ucap Mas Edwin.

“Iya, Mas, gak kerasa. Kalo diskusi kerjaan sama Mas Edwin selalu lupa waktu,” balas Aruna sembari terkekeh.

“Aduh. Saya jadi gak enak dengernya, Run,” ujar lelaki manis itu.

“Eh, jangan gak enak gitu, Mas Edwin. Saya gak apa-apa banget kok kalo bahas kerjaannya sama Mas,” jelasnya.

“Ada yang mau ditanyakan lagi sebelum kita selesai meeting, Run?” tanya Mas Edwin.

“Ada sih, Mas. Ada detail yang mau saya tanyain ke Mas. Tapi besok aja deh, Mas, sekalian pas ketemu di kantor,” ujar Aruna.

“Sekarang aja gak apa-apa, Run,” tegas Mas Edwin.

“Gak apa-apa, Mas, besok aja. Mas Edwin harus istirahat,” ucap wanita cantik itu.

Aruna menegak botol air mineral yang ada di atas meja kerjanya. Tanpa ia sadari, sedari tadi ia ditatap lamat oleh sang pujaan hati. Perlahan, simpul yang biasanya terlihat manis itu kini berubah. Jika tidak sigap, mungkin wanita cantik itu akan tersedak atau mungkin air mineral yang digenggamnya akan membanjiri kemeja putih yang ia kenakan.

“Eh, maaf, Mas. Saya gak izin mau minum dulu,” kata Aruna.

Bukannya menjawab, Mas Edwin malah menyeringai sembari bermain dengan pena yang ada di tangan kanannya. Aruna berani bersumpah bahwa untuk pertama kalinya di dalam hidup, ia melihat sisi dari Mas Edwin yang satu ini.

“Gak apa-apa, Aruna. Kamu gak perlu minta maaf,” jelas Mas Edwin.

Sejenak, wanita cantik itu terdiam. Entah mengapa sepertinya aura mencekam menyelimutinya dan sang senior. Aruna menundukkan pandangannya. Seketika, adegan-adegan panas dari permainan yang juga panas tadi terlintas di dalam kepalanya.

“Daripada cuma dibayangin mending direalisasikan langsung aja, Aruna,” sela Mas Edwin.

Mendengarnya, Aruna sontak mengangkat pandangannya. “Hah?! Gimana maksudnya, Mas Edwin?” tanyanya setengah berteriak.

“Sebelum sesi diskusi tadi, kamu tanya ke saya kalo suara kamu terdengar atau enggak ‘kan, Run? Iya, terdengar jelas, Aruna. Saya bisa mendengar jelas setiap desahan, lenguhan, dan lirihan dari mulut kamu yang menyebutkan nama saya,” sambung Mas Edwin.

Wajah manis dan sepasang manik Mas Edwin berubah drastis menjadi serius nan tegas. Aura dominan yang lelaki manis ktu pancarkan tiba-tiba saja menguasai atmosfer yang melingkupi keduanya. Di satu sisi, Aruna merasa bahagia dapat melihat Mas Edwin yang seperti ini. Namun, di sisi lain, ia juga merasa takut sebab Mas Edwin bisa melakukan apa saja kepadanya.

“Ah, iya, anu, itu, Mas,” ucap Aruna terbata-batas.

“Kirim alamat tempat tinggal kamu ke saya sekarang. Saya akan jawab pertanyaan yang kamu mau ajukan tadi. Sekalian…,” ucap Mas Edwin. Ia sengaja menggantungnya.

“Sekalian apa, Mas?” tanya Aruna sedikit ragu dan takut.

“Sekalian kita realisasikan adegan yang ada di pikiran kamu,” finalnya.

“Lo harus tenang dulu, By. Kalo lo panik lo jadi gak bisa berpikir jernih,” jelas Hana.

Di siang menjelang sore hari itu, seperti rencana di awal, Alby dan Hana memutuskan untuk kembali berkunjung ke tempat tinggal Airin. Ya, walaupun semua ini murni dari inisiatif lelaki manis itu. Jangan tanya, sang sepupu sangat keberatan dengan hal ini.

Kini, keduanya tengah berdiri menunggu sang pemilik unit untuk membukakan pintu. Namun, seperti saat sebelumnya, Airin seperti tidak berniat untuk memberi siapapun akses masuk, baik ke dalam apartemennya maupun ke dalam kehidupannya.

Ditinggal yang terkasih sudah sangat menyedihkan baginya. Belum lagi, sekarang dirinya tengah berbadan dua. Airin tidak dapat bersikap layaknya manusia normal pada umumnya. Semuanya terasa hancur, terutama hidupnya.

TING! TONG!

Alby kembali menekan bel yang tersedia di samping pintu unit apartemen gadisnya, tetapi kali ini jauh lebih tergesa-gesa dari sebelumnya. Sampai akhirnya tangan yang lebih kecil menghentikan aksinya.

“Alby!” pekik Hana.

“Gua khawatir, Han!” balas Alby dengan nada bicara dan pitam yang semakin naik. “Gua gak tau keadaan Airin di dalem sana kayak gimana. Lo tau seberapa berharga Airin buat gua,” sambungnya.

Mendengarnya, Hana memutar bola matanya. Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, Alby tidak pernah seemosional ini sebelumnya. Ya, setidaknya sebelum ia bertemu dengan Airin. Bagi lelaki manis yang penuh dengan humor itu, gadis cantik dambaannya mampu merebut hatinya hanya dalam beberapa detik. Hal itulah yang menyebabkan Alby bertingkah seperti ini.

Alby mengusap wajahnya kasar. “Gua dobrak aja pintunya,” ucapnya.

“Hah? Gimana?” tanya Hana terheran-heran.

“Gua mau dobrak pintunya. Airin bisa aja kenapa-kenapa di dalem sana,” jelasnya.

BRAK!

Dorongan pertama tidak berhasil.

BRAK!

Kali ini dorongannya jauh lebih kuat.

BRAK!

Barulah pada dorongan ketiga, pintu berwarna putih itu lepas kuncinya dan perlahan mulai terbuka.

Alby menguarkan kepalanya ke dalam ruangan yang terlihat gulita. Tidak ada satu pun lampu yang hidup. Hanya ada televisi yang tengah menampilkan sinetron terbaru dengan volume yang sangat besar.

“Rin,” panggil Alby sesaat kakinya melangkah masuk ke dalam sana dengan Hana yang mengekorinya.

Dua pasang manik itu menelisik segala sudut yang dapat dijangkau. Jika boleh jujur, tempat tinggal Airin terlihat seperti unit yang ditinggal oleh penghuninya secara tiba-tiba sebab ada urusan mendadak.

Bagaimana tidak, pemandangan di sana mendeskripsikan demikian. Potongan baju yang tergeletak di mana-mana. Tas sekolah yang biasa Airin gunakan tergantung di atas lemari makanan. Kemudian, tumpukan piring dan alat makan lainnya di atas meja serta bungkus makanan yang berserakan di segala tempat.

“Airin,” panggil Alby lagi. Namun, tidak ada seorang pun yang merespon panggilannya.

Berbeda dengan Alby dan semua rasa cemasnya, Hana menatap jijik ke sekelilingnya. Bagaimana bisa seorang gadis cantik tinggal di dalam kandang sapi seperti ini, batinnya. Untuk sesaat, Hana tidak ingin jauh dari sang sepupu. Ia takut setengah mati.

“Aduh!” keluh Hana kala kepalanya terbentur dengan punggung lebar Alby.

Pasalnya, lelaki manis itu berhenti secara tiba-tiba di depan pintu yang diduga sebagai ruang yang gadisnya gunakan untuk tidur. Sepasang manik minimalis yang terlihat indah saat tersenyum itu kini hilang.

Alby memandangi pintu kamar dengan hiasan makrame berwarna beige di depannya itu dengan perasaan yang sangat campur aduk. Perlahan namun pasti, tangannya terulur menggenggam kenop pintu yang terbuat dari bahan mental itu. Ia menghela napas panjang.

Cklek.

Berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya, ruang tidur ini terlihat begitu terang. Semua lampu dan sistem penerangan yang ada hidup dengan sempurna. Juga, jika tidak salah dengar, ada keran air mengalir yang terbuka dari kamar mandi di dalam sana.

Tanpa rasa ragu sedikit pun sebab ingin mengetahui kondisi gadis kesayangannya sesegera mungkin, Alby membuka lebar pintu kamar tidur tersebut. Betapa terkejutnya sepasang sepupu itu kala manik mereka menangkap sebuah tubuh ringkih yang bersimbah darah kental tergeletak di atas ranjang.

Alby mematung di tempatkan. Sedangkan, Hana berusaha kerasa menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya. Untuk sejenak, keduanya sempat tidak percaya dengan apa yang manik mereka saksikan secara langsung.

“Airin!” pekik Alby. Ia berlari menghampiri gadisnya. “Sadar, Rin!” teriaknya sembari menepuk pelan pipi Airin.

“Airin…,” lirih Hana.

Hana dapat melihat dengan jelas bagaimana semua luka terbuka yang ada pada tubuh sahabatnya itu mengeluarkan banyak darah serta benda tajam kecil berwarna silver yang jatuh dari genggamannya saat Alby memeluk tubuh Airin.

Hana berniat untuk mencari untuk menghubungi paramedis telepon saat pandangannya mengedar ke seluruh sudut kamar tidur itu. Namun, bukannya menemukan telepon kabel atau alat komunikasi lainnya yang ia temukan, melainkan…

“Tolongin gua bawa Airin, Han. Kita bawa Airin ke rumah sakit,” lirih Alby dengan napasnya yang tersendat sebab dadanya terasa sangat sesak.

“Hah? Apa? Oh, iya, By,” jawab Hana terbata.

Meskipun linglung, Alby dan Hana mengerahkan tenaga mereka secara maksimal untuk membopong Airin. Selain mereka berdua, Pak Bagus juga tak kalah terkejut dengan adegan yang terjadi tepat di hadapannya.

“Ya Tuhan, Nak Airin?!” ujar pria paruh baya itu. Kemudian, ia membantu Alby dan Hana menggotong tubuh Airin agar masuk ke dalam mobil Alby. “Nak Alby duluan ke rumah sakit, ya, Nak. Pak Bagus nanti nyusul ke sana setelah tukeran shift sama temen Bapak. Hati-hati, ya, Nak,” lanjutnya.

Terdengar dengan jelas bagaimana rasa khawatir yang muncul pada diri Pak Bagus kala melihat gadis sekolahan yang sangat ia hormati itu ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Semuanya berusaha dengan keras untuk menyelamatkan nyawa Airin, termasuk Hana.

Di dalam mobil, Hana duduk di kursi penumpang bagian belakang seraya memangku kepala sahabatnya yang tak sadarkan diri. Sementara itu, di kursi supir di bagian depan, Alby beberapa hampir membentur pinggir trotoar jika saja motor yang melewatinya tidak membunyikan klakson.

“Konsen, By. Jangan sampe lo lukain kita semua juga,” tegas Hana.

Berkat kesigapan keduanya, kini mereka sudah sampai di pekarangan rumah sakit. Sesaat mobil klasik Alby berhenti di depan instalasi gawat darurat, sekumpulan perawat dengan cepat membawa ranjang khas rumah sakit untuk mengangkut Airin lalu di bawa ke dalam ruang tindakan.

“Temennya pasien, ya?” tanya salah satu perawat yang bertugas.

“Iya, Sus,” balas Hana.

“Tunggu di luar aja, ya. Biar dokter yang tanganin temennya. Nanti kalo sudah selesai, dokternya akan segera keluar,” jelas sang perawat.

Menurut apa kata perawat tersebut, akhirnya Hana menududukkan dirinya di bangku panjang berbahan logam yang tersedia di sana. Tak lama, ada suara langkah yang menggema di sekitar lorong.

“Airin?” tanya Alby terngengah-engah.

“Ada di ruang tindakan lagi ditanganin sama dokter,” jelas Hana.

Mendengarnya, Alby mulai dapat bernapas dengan normal. Lelaki manis itu bertumpu pada kedua lututnya sembari menatap kakinya yang menapak pada lantai dingin di rumah sakit. Melihatnya, Hana mengusap sebelah pundak lebar sepupu kesayangannya.

“By,” panggilnya.

“Iya, Cil?” balas Alby tanpa menolehkan pandangannya.

Sejenak, gadis mungil itu terdiam. Perasaannya berkecamuk. Haruskah ia menjelaskan apa yang ia lihat tadi selain cutter kecil yang ada di genggaman Airin? Atau mungkin tidak? Tidak sekarang atau tidak pernah? Di sore menjelang malam hari itu, Hana diselimuti rasa ragu dan bimbang.

“Kenapa, Cil?” tanya Alby lagi sembari menatap Hana sebab sepupunya itu tidak kunjung menjawab.

“Gak apa-apa, By. Semoga Airin gak kenapa-napa,” dusta Hana.

Di lorong rumah sakit yang sepi itu, Alby sibuk merapalkan doa setelah mengambil posisi duduk di sebelah Hana. Sedangkan, gadis mungil itu mengabari orang tuanya bahwa ia sedang menjenguk salah satu temannya di rumah sakit.

Tanpa keduanya sadari, sedari tadi ada seorang lelaki yang tengah berdiri dengan jarak cukup jauh di ujung lorong seraya memerhatikan gerak-gerik keduanya seolah sedang memata-matai sepasang sepupu itu.

“Banyak banget, ya, By. Padahal kita mau jenguk Airin doang, bukan jenguk satu apartemennya,” sindir Hana.

“Harus totalitas dong, Cil. Kalo sama orang yang disayang gak boleh perhitungan,” balas lelaki manis itu.

“Gua liat-liat dari buah tropis sampe buah impor juga ada di buah bawaan lo,” ucap Hana lagi.

Yang diujar begitu hanya membalas dengan sentilan di kening mungil dan mulus lawan bicaranya. Sepasang sepupu itu baru saja keluar dari toko buah yang ada di perempatan di dekat sekolah mereka. Sesuai rencana awal, Alby dan Hana akan berkunjung ke tempat tinggal Airin untuk memeriksa keadaannya.

Berbeda dengan Hana, Alby kelewat cemas semenjak dirinya mengetahui bahwa gadis cantik pujaan tidak memberi kabar baik padanya maupun pada teman terdekatnya. Airin yang diketahui sudah melewatkan sekolah selama beberapa hari belakangan sukses membuat lelaki manis penuh humor itu kepalang khawatir.

Setelah mendapat bingkisan buah yang diinginkan, keduanya melengang pergi dari sana untuk menuju apartemen Airin. Sesaat sepasang sepupu itu sampai di pelataran parkiran gedung apartemen, mereka disambut baik oleh Pak Bagus sang petugas keamanan.

“Sore, Pak Bagus,” sapa Alby.

“Sore, Pak,” ucap Hana serupa.

“Saya mau jenguk Airin, Pak. Airin udah beberapa hari ini gak masuk sekolah,” jelas lelaki manis itu.

Pak Bagus yang mendengar pernyataan demikian hanya dapat menganga heran. “Owalah. Pantesan, ya, Nak. Bapak udah beberapa hari ini juga gak pernah liat Nak Airin pergi sama pulang sekolah. Bapak gak tau kalo Nak Airin sakit. Semoga Nak Airin cepat sembuh, ya. Tolong sampaikan salam Bapak sama Nak Airin,” ujarnya.

“Iya, Pak. Nanti saya sampaikan. Saya ke atas dulu, ya, Pak. Mari,” ucap Alby diakhiri dengan senyuman ramah.

Selepasnya, Alby dan Hana mulai masuk ke dalam bangunan tempat tinggal Airin. Mereka menaiki lift untuk sampai ke lantai yang di tuju. Pada awalnya, tidak ada percakapan signfikan yang terjadi antara sepasang sepupu itu. Alby sibuk dengan perasaan cemasnya dan Hana dengan rasa cemburunya.

Setidaknya, sampai gadis mungil itu mulai penasaran dan bertanya pada sang sepupu kesayangan. “Satpamnya kenal sama lo, By?” tanya Hana.

“Iya,” singkat Alby. “Gua ‘kan sering anter sama jemput Airin,” lanjutnya.

Mendengarnya, Hana memutar bola matanya jengah dan itu bertepatan dengan dentingan bel dari elevator tersebut yang menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai yang dimaksud. Suasana di lorong unit tersebut terasa cukup mencekam mengingat para penghuninya yang masih melakukan aktivitas di luar.

Baik Alby maupun Hana hanya dapat merasakan atmosfir yang sunyi nan senyap. Sesampainya di depan unit tempat tinggal Airin, sembari masih memeluk keranjang yang berisi buah-buahan yang tadi dibeli, Alby menekan tombol bel yang tersedia di sana.

TING! TONG!

Satu kali dan tidak ada jawaban.

TING! TONG!

Sekali lagi dan masih tidak ada respon yang terdengar.

TING! TONG!

Alby menekan tombol bel seraya mengetuk daun pintunya, namun hasilnya tetap nihil.

“Coba lo telpon, Cil,” perintah Alby.

Dengan begitu, Hana merogoh saku rok seragam sekolahnya untuk mengambil ponselnya. Ia menelusuri kontak dengan nama Airin lalu membuat panggilan atas nama tersebut. Tidak hanya Hana, tetapi Alby juga mendengar suara itu, suara nada dering yang terus berbunyi sebab pihak seberang tidak menjawab panggilannya.

“Gak diangkat, By,” ucap Hana. “Mungkin Airin lagi berobat kali,” sambungnya.

Alby hanya dapat menghela napas panjang. Seketika sepasang bahunya meluruh. Pikirannya kalut dan hatinya gelisah. Ke mana gadis cantik dambaan hatinya selama beberapa hari ini? Keberadaan Airin sekarang mampu membuat seorang Alby tidak dapat berpikir jernih.

“Pulang, yuk, By. Guru privat gua udah mau dateng ke rumah. Buah sama nomor ujiannya dititip aja di pos satpam,” ujar gadis mungil itu. “Sabar, ya, By,” lanjut Hana seraya mengusap bahu lebar di sampingnya.

“Yaudah,” singkat Alby.

Akhirnya, sepasang sepupu itu memutuskan untuk pulang. Alby melangkah lebih dulu untuk kemudian diekori oleh Hana. Namun, di waktu yang bersamaan, pada saat Hana hendak membalikkan tubuhnya, indera pendengarannya menangkap sebuah stimulus berupa suara seorang perempuan yang sedang menangis.

Oleh sebab itu, bulu kuduknya langsung merinding. Melihat Alby yang langkahnya hampir mendekati elevator, Hana dengan segera menyusulnya. Dalam sekejap, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, aliran darah di tubuhnya berdesir cepat, serta napasnya ikut menggebu.

Tangan gadis mungil itu bergerak menekan bel dengan tanda panah ke bawah itu berkali-kali yang ada di samping pintu elevator. Alby sadar sepupunya itu tiba-tiba bertingkah aneh. Ia mengulurkan tangannya untuk menghentikan pergerakan kompulsif yang dilakukan Hana.

“Heh, Cil. Lo kenapa?” tanya lelaki manis itu sembari menggenggam tangan mungil yang dipenuhi dengan keringat dingin.

“Hah? Apa?” balas Hana dengan kembali bertanya. Ia menolehkan kepalanya pada lelaki manis yang lebih tinggi yang berdiri di sebelahnya.

“Lo kenapa? Lo keringet dingin ini,” jelas Alby. Tangan besar yang tengah menggandeng tangan yang lebih kecil itu terangkat.

“Oh…,” ucap gadis mungil itu terbata. “Gua gak apa-apa,” dustanya.

Mendengarnya, Alby mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu ada yang tidak beres dengan sepupu kesayangannya ini. “Aneh lo,” ledeknya.

Setelah elevator sampai dan membuka pintunya secara otomatis, dengan cepat Hana menarik tangan Alby untuk masuk ke dalamnya. Gadis mungil itu melakukan hal serupa pada tombol bertuliskan lower ground di dalam tabung besi tersebut tersebut. Dengan begitu, paru-parunya baru dapat bernapas sewajarnya.

“Itu gua gak salah denger ‘kan? Masa iya ada suara cewek nangis dari kamar Airin? Itu hantu atau…,” batin Hana sengaja menggantung perkataannya sendiri.

“Dua tahun aku deket sama kamu, aku baru tau ini tempat kamu nongkrong sama Alan-Vino,” sergah Airin selagi maniknya menginvestigasi setiap sudut dari markas tempat The Celestial’s biasa berkumpul.

Di salah satu gedung bertingkat yang berjarak tak jauh dari sekolah itu dipenuhi dengan keperluan musik ala anak band, seperti gitar, bass, drum, speaker serta standing microphone yang tersusun rapi di sudut ruangan.

Farelio, lelaki tampan itu lebih memilih untuk tidak menghiraukan pernyataan gadisnya. Ia mempersilakan Airin untuk duduk di salah satu sofa besar berlapis kulit berwarna hitam yang ada di sana.

“Kamu mau minum apa, Rin?” tanya Farelio.

Mendengarnya, Airin tersenyum masam sembari menundukkan pandangannya. Indera pendengarannya terasa asing saat mendengar lelaki kesayangannya itu melontarkan sesuatu yang manis dan lembut padanya.

“Sorry, Rel. It feels kinda weird for me,” balas gadis cantik itu.

“It’s totally okay, Airin. I knew it,” ujar Farelio.

“Better for you to make it fast, Farelio. Aku gak punya waktu banyak,” tegas Airin.

Sepasang manik selegam senja yang biasa berbinar itu kini hilang. Di sore menjelang malam hari itu, Farelio benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda dari gadisnya. Ia tidak mengetahui pasti apa itu, tetapi ia tahu bahwa perubahan itu berkaitan dengan perasaan mereka satu sama lain.

“Ah, iya, i’m sorry. Aku bakal langsung ke intinya aja,” katanya. “I love you, Airin.”

Mendengar ada tiga kata keramat yang menyeruak masuk ke dalam telinganya, Airin bergeming. Wajah cantiknya menunjukkan ekspresi yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa jelaskan. Perasaannya berkecamuk kala itu.

Ia tersenyum sebelum membalas perkataan Farelio. “Di mana, Rel?”

“What do you mean by ‘di mana’, Airin?” balas Farelio dengan sebelah alisnya yang terangkat.

“You said you love me, right, Farelio?” tanya Airin memastikan.

“Of course. I love you and it will always,” ujar lelaki tampan itu.

“Then show me the love you mean by that,” ucapnya. “Selama ini aku gak pernah bisa liat, aku gak pernah bisa sentuh, aku gak pernah bisa denger, aku gak pernah bisa ngerasain apa yang kamu maksud dengan ‘cinta’, Farelio.”

“Kamu tau persis gimana cara aku mencintai kamu, Airin,” tegas Farelio.

Airin menghela napas panjang. Sebisa mungkin gadis cantik itu menahan tangisnya. “Kamu bener, Rel. Aku bisa kok liat, sentuh, denger, dan ngerasain cinta kamu yang ‘unik’ itu.”

Farelio mengusap wajahnya kasar. Sebelumnya, ia tidak pernah mengira bahwa proses mencintai dan dicintai akan menjadi serumit ini. “Terus aku harus gimana, Rin? Aku gak bisa kehilangan kamu. Aku bisa berubah kalo kamu mau, tapi aku mohon jangan tinggalin aku. I will never live if it’s without you.”

“I’m so sorry, Farelio. Apapun yang kamu ucapkan sekarang ke aku….” Airin sengaja menggantung kalimatnya. Ia tatap sepasang manik selegam malam yang pernah menjadi kesukaannya, lalu ia berkata. “Aku cuma mau bilang semuanya terlambat. Aku gak bisa lanjutin ‘kita’.”

“Rin, please…,” pinta Farelio. “I beg you.”

Di detik berikutnya, sebelah tangan lelaki tampan itu bergerak menggenggam tangan yang lebih kecil. Farelio menarik tangan mungil itu agar Airin masuk ke dalam dekapannya. Di sisi lain, Airin mencoba memberontak. Ia sangat tidak menginginkan hal ini terjadi.

“Rel, please….” Kali ini, Airin yang memohon. “Let me go.”

Bukannya mendengar apa yang gadisnya ucapkan, Farelio malah semakin mengeratkan pelukannya seolah-olah Airin benar-benar akan pergi jika ia melepaskannya. Tak lama, terdengar suara dari seseorang yang menekan tombol angka pada pintu smart lock ruangan itu.

“Rel,” panggil Alvino yang datang bersama Nalandra.

Dengan begitu, Farelio baru mau melepaskan dekapannya. Kesempatan itu Airin gunakan untuk meloloskan diri dari lelaki tampan yang selama dua tahun belakang membuat perasaannya campur aduk.

“You okay, Rin?” tanya Alvino.

“I’m okay, Vin. Thanks,” ucap Arin.

Berbeda dengan Alvino yang lebih memberi perhatian pada Airin, Nalandra justru merasa prihatin dengan Farelio. Lelaki tampan yang sering bercanda itu menatap iba pada sang sahabat.

Menurut Nalandra, usaha yang Farelio lakukan selama ini semata-mata untuk mempertahankan keberadaan gadis yang dicintainya. Namun, entah mengapa semua ini terasa tidak benar.

Sepasang sahabat dari Farelio itu kemudian mengambil posisi duduk di seberang Airin dan Farelio. Untuk sejenak, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara mereka. Setidaknya, sebelum Alvino kembali berucap.

“Udah makan, Rin? Kalo belom, gua pesenin makan, ya,” tawarnya.

Airin menggeleng. “Gak usah, Vin. Gua udah makan sama Alby kok sebelom ke sini,” ujarnya.

Farelio menggeram rendah sembari mengepalkan kuat telapak tangannya saat ada satu nama tak asing yang ia benci masuk melalui indera pendengarannya. Sudut maniknya melirik Airin yang terlihat seolah tidak berdosa setelah mengucapkan nama lelaki lain tepat di hadapannya.

“I really need to talk to you, Airin, and i’ll take you home later,” jelas Farelio. “You need to know that i risk my life for this talk with you,” lanjutnya.

Suara sedalam palung yang mengekspresikan keseriusan itu menyita perhatian Airin. Meskipun begitu, ia lebih memilih untuk diam. Untuk saat ini, hati kecilnya cukup merasa aman dan lega sebab kehadiran Alvino dan Nalandra di antara mereka. Farelio tidak mungkin melakukan hal gila pada gadisnya di depan teman-temannya, bukan?

Selepasnya, Farelio sibuk berbincang bersama Alvino dan Nalandra, meninggalkan Airin yang akhirnya memilih untuk berkirim pesan singkat dengan Alby melalui ponselnya. Sesekali, lelaki tampan itu melirik ke arah layar ponsel gadisnya dan yang ia temukan lagi-lagi adalah nama sang musuh.

Tanpa terasa, sore sudah berganti jadi malam. Dari jendela besar yang ditutupi tirai putih terpancar sinar berwarna oranye yang perlahan meredup. Selagi ketiga sahabat itu masih serius mengobrol, Farelo merasakan bahu sebelah kanannya semakin berat. Saat dirinya menoleh yang ia temukan ialah Airin yang tidak sadarkan diri tengah bersandar padanya.

Farelio tersenyum melihat gadisnya yang terlelap. “It’s been a long time since you slept next to me, Airin,” bisiknya.

Alvino dan Nalandra yang berada di tempat kejadian hanya dapat memandang satu sama lain. “Lo anterin pulang sana, Rel,” ujar Nalandra.

“Iya, ini mau gua anter pulang kok,” jawab Farelio tanpa memalingkan pandangannya. Lelaki tampan itu tengah asyik menyeka helaian rambut yang menghalangi wajah cantik yang sedang tertidur pulas di bahunya.

“Poor you, Farel,” gumam Alvino.

“Tutup mata kalian,” ujar lelaki tampan itu diiringi dengan tatapan serius pada kedua sahabatnya.

“Heh, Farelio! Anak orang lagi tidur, ya. Kebangetan lo,” ucap Nalandra setengah berbisik.

“Lo gak lupa masih ada gua sama Alan di sini ‘kan, Rel?” tambah Alvino.

Mendengarnya, sang pelaku hanya terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. “Gua tau gua minta kalian ke sini untuk nahan gua kalo gua kelepasan sama Airin, tapi itu bukan maksud gua sekarang,” balas Farelio. “Lo gak liat rok seragam Airin pendek banget gitu? Kalo gua gedong Airin nanti pahanya keliatan kemana-mana dan gua gak mau kalian ngeliat punya gua,” jelasnya.

“Udah jantungan aja gua denger lo nyuruh tutup mata,” balas Nalandra seraya mengelus-elus dadanya.

Setelahnya, sepasang sahabat yang sudah menemani Farelio sejak kecil itu mengeratkan manik masing-masing, sesuai perintah. Dengan begitu, Farelio baru merasa cukup tenang untuk menggendong gadisnya. Lelaki tampan itu membawa Airin masuk ke dalam mobilnya lalu mengantar gadis cantik itu pulang menuju apartemennya.

Di pelataran parkir gedung tempat tinggal Airin, Farelio menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan yang mungkin tidak akan dapat ia lihat lagi selamanya setelah ini, yaitu momen saat Airin sedang tertidur pulang di hadapannya. Farelio mendekatkan wajahnya pada kening sang gadis.

“Sleep well, Airin,” ucapnya. “Also eat and live well,” lanjutnya. “I will always be love you no matter when and where i am,” final Farelio diiringi dengan kecupan hangat di kening Airin.

sumpah.. kalo gabisa gua harus apa? aneh banget jadi gak aesthetic hshshshshshshs

bisa gak ya?