jubilee (2)

Selepas menikmati makanan berkuah di rumah makanan langganan, Alby memutuskan untuk tidak langsung mengantar pulang Airin ke apartemennya. Tentunya, ia sudah izin terlebih dahulu dan mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.

Airin berkata dengan kejujuran sepenuh hatinya bahwa ia tidak ingin cepat-cepat pulang sebab ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan lelaki manis itu. Di malam yang penuh bintang itu, Alby dibuat tersipu oleh gadis pujaannya.

Bolehkah kita mengatakan bahwa rasa yang tumbuh di antara keduanya sudah mulai menyatu? Tidak ada yang tahu. Rasa hanya diketahui oleh si pemilik hati dan Tuhannya. Namun, jika semesta menyambut, harapan boleh tumbuh.

“Gua udah lama gak keluar malem-malem kayak gini,” ujar Airin. Sepasang maniknya menatap lekat pada lukisan ala kota besar. “Ah, mungkin lebih tepatnya gua gak pernah keluar,” sambungnya.

Mendengarnya, Alby hanya memandang lamat pada gadis cantik yang duduk di sebelah kirinya. Ada seberkas rasa tidak mengenakkan yang mengendap di hatinya. Tetapi, khusus untuk hari ini, hari bahagia gadisnya, lelaki manis itu tidak ingin menunjukkannya secara terang-terangan.

“Mau ke mana lagi, Rin?” tanya Alby seraya membelokkan mobilnya masuk ke dalam gang di samping pertigaan.

“Ke mana aja asal sama lo,” jawa gadis cantik itu sembari mengalihkan pandangannya pada sang pengemudi.

Hal itu tentunya sukses membuat Alby salah tingkah. Lelaki manis itu hanya dapat tersenyum beriringan dengan maniknya yang menyipit dengan indah. Alby memang jago perihal berkata indah, namun jika dibalas oleh pihak lawan, ia ciut juga.

“Aduh, Rin. Jangan gitu dong. Jantung gua jadi gak sehat nih,” guyonnya.

Mendengarnya, Airin hanya terkekeh untuk kemudian kembali memusatkan atensinya pada apa saja yang mobil klasik milik Alby lewati melalui jendela yang kacanya setengah terbuka di sampingnya. Bahkan, untuk menikmati hal kecil seperti ini saja, Airin jarang merasakannya. Namun, bersama Alby, hampir semua rasa bahagia dirasakan oleh gadis cantik itu.

“Rin,” panggil Alby.

“Iya, By?” balas Airin.

“Pulang, yuk. Udah malem,” ujarnya.

Airin hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali menyetujui pernyataan Alby. Mobil klasik kesayangan lelaki manis itu kini kembali berputar di pertigaan untuk menuju jalan pulang kea rah apartemen gadisnya. Sesampainya di sana, Alby memarkirkan mobilnya di tempat semula.

“Lo tunggu sebentar di sini, ada yang mau gua omongin. Gua mau kasihin soto ke Pak Bagus,” ucap Alby.

Airin dapat melihat raut wajah khawatir lelaki paruh baya itu berubah menjadi bahagia dalam sekejap saat Alby memberinya soto daging yang sempat ia pesan untuk dibawa pulang. Airin mengira bahwa itu untuk dirinya di rumah, namun ternyata dugaannya salah. Setelah Airin, kini ada orang baik lain yang gemar berbagi makanan kepada Pak Bagus. Setelah selesai, lelaki manis itu kembali ke dalam mobil.

“Pak Bagus keliatan seneng banget,” kata Airin.

Alby mengangguk setuju. “Iya, katanya sotonya mau dia bawa pulang aja buat istrinya,” balasnya.

“Lo mau ngomong apa, By? Jangan bilang lo mau nembak gua,” sergah gadis cantik itu.

Mendengarnya, sepasang manik selegam malam itu membelalak. Airin semakin menjadi-jadi, batin Alby. “Lo mau gua tembak sekarang?” tanyanya.

“Ya, terserah lo,” enteng Airin.

Alby terkekeh. Gadis cantik satu ini benar-benar menyita perhatiannya sejak awal dan semakin lama semakin menarik hatinya. “Iya, nanti, ya. Kalo kita udah selesai ujian akhir,” ucapnya.

Airin tidak menjawab pernyataan yang dilontarkan Alby. Ia tidak mengira bahwa candaannya akan ditanggapi dengan serius oleh lelaki manis penuh humor itu. Pada akhirnya, Airin yang kembali dibuat tersipu oleh lawan bicaranya.

“Kok jadi lo yang salting, Rin?” ledek Alby seraya tertawa puas.

“Gua gak salting tuh,” sanggah Airin. Maniknya menatap ke segala arah asal jangan memandang langsung manik minim dengan binar indah di sebelahnya.

Tidak ingin membahas perkara menyatakan cinta ini lebih lanjut lagi, tangan Albu bergerah meraih sesuatu dari jok penumpang di belakang mobilnya. Terlihat sebuah kotak besar dengan hiasan pita berawarna merah yang ada dalam pelukannya sekarang.

“Buat lo,” kata Alby. Ia menyerahkan kotak besar itu pada Airin.

Airin cukup dibuat terkejut oleh hadiah besar itu. Sebab terlalu besar, ia sampai tidak bisa melihat dengan jelas sosok manis di hadapannya. “Besar banget, By. Lebih besar kadonya dibanding gua. Makasih, ya,” ucapnya diiringi dengan senyum manis.

Alby menyunggingkan senyum tidak kalah menawan dari gadisnya. Dibanding Airin, dirinya lebih bahagia saat dapat melihat senyum manis yang tersimpul di wajah cantik kesukaannya. Airin tidak bisa berhenti memandangi sebongkah kotak besar yang kini ada di dalam pelukannya. Malam itu, rasa sedihnya sukses berubah menjadi bahagia tak terhingga oleh Alby.

“Rin, gua boleh pegang tangan lo?” tanya lelaki manis itu meminta izin.

Dengan sesuah payah, gadis cantik itu mengulurkan tangannya ke arah lawan bicaranya. Disambutnya tangan mungil itu oleh Alby. Ia mengusap lembut punggung tangan itu dengan ibu jarinya. Berbeda dengan Alby yang terlihat begitu tenang, Airin merasa peredaran darahnya berdesir lebih cepat.

Cup!

Alby mengecup pelan punggung tangan gadisnya. “Mungkin gua bukan orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke lo, Rin,” ujarnya. “Gua sengaja neglakuin itu karena kata orang yang terakhir itu yang paling bermakna.”