A Motion
Hari ini, tepatnya tanggal 1 Juli, hamparan langit di bentangan semesta terlihat sangat biru dengan gerombolan awan putih yang menghiasi. Mentari pun bersinar dengan kadar yang cukup, meninggalkan kesan cuaca baik pada khatulistiwa. Namun, tidak sejalan dengan indahnya pemandangan di langit, Valdi terlihat berbanding terbalik. Pasalnya, di hari ulang tahunnya ini, tidak ada satu pun temannya yang menyetujui ajakannya bermain billiard.
Valdi turun dari motor yang ia parkirkan di halaman rumahnya. Kedua kakinya melangkah gontai menuju beranda rumahnya. Ia hendak membuka pintu utama rumahnya kala aksinya itu didahului oleh seseorang. Valdi yang sedari tadi menatap dinginnya keramik lantai yang ia pijak, kini mengangkat pandangannya. Lengkungan yang awalnya terjatuh, perlahan mulai terukir.
“Happy Birthday, Valdi!”
“Happy Birthday, Bang Paldi!”
“BESBI BESBI, BANG PALDI PIW PIW!”
Valdi menutup mulutnya yang menganga lebar saat adiknya—Vallerie, teman adiknya—Heidy, serta teman-teman terdekatnya—Arion, Jasper, dan Silas berdiri serempak di ruang tamu rumahnya. Ternyata, Valdi salah sangka, tidak ada yang melupakan hari ulang tahunnya. Justru orang-orang kesayangannya mempersiapkannya dengan sedemikian rupa. Di hari bahagianya, Valdi merasa sangat bahagia.
“Gue pikir kalian lupa kalau hari ini ulang tahun gue,” ucap Valdi.
“Kita? Lupa?” Jari telunjuk Arion bergerak bergantian menunjuk ke arah dirinya dan lainnya yang berdiri di samping kanan dan kirinya. “Nggak mungkinlah,” lanjutnya.
“Ulang tahun lo dari tahun ke tahun sama, Val,” sambung Jasper sembari terkekeh pelan. “Jadi, nggak mungkin kita lupa.”
“Betul,” sahut Silas. “Kita nggak mungkin lupa.”
“Abang, ayo masuk dulu!” kata Vallerie sambil mendekap sebelah lengan kekar kakaknya untuk diajak masuk ke dalam rumah.
Setelah melepas sepatu sneakersnya, Valdi berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia dapat melihat dengan jelas dekorasi ala ulang tahun dengan tema yang sangat sesuai dengan kepribadiannya terpampang jelas di ruang tengah kediamannya. Valdi tidak dapat berhenti tersenyum. Ia meletakkan tas ranselnya di sembarang tempat selagi sepasang netranya mengedar ke seluruh area ruang tengah.
“Abang suka nggak?!” tanya Vallerie tidak santai sembari mempererat dekapan pada sebelah lengan besar kakaknya.
“Suka dong!” jawab Valdi. “Makasih banyak, ya, Vall.” Sejenak, Valdi memeluk erat adik kesayangannya yang terkadang tingkah lakunya berada di luar nalar. “Makasih juga, Semuanya,” lanjutnya setelah melengangkan diri dari Vallerie.
“Bang Valdi mau potong kue dulu atau mau makan dulu?” tanya Heidy yang berdiri di sebelah Silas.
Valdi berpikir sebentar. “Gue kayaknya mau makan dulu deh,” ujarnya.
Dengan begitu, tanpa basa-basi, Vallerie kembali menarik sebelah tangan kakaknya untuk berlari ke ruang makan. “Ayo!”
Di ruang makan, semuanya mendudukkan diri di balik meja makan besar dengan kapasitas kursi delapan orang itu. Di atas sana, sudah tersedia banyak menu makanan yang Jasper dan Arion beli dari katering yang mereka temui sekenanya. Setelah mengambil piring makan dan mengisinya dengan nasi beserta lauk-pauk yang ada, suasana menjadi lebih hening sebab semua yang ada di meja makan menikmati santapan mereka dengan khidmat.
“Eh, gue baru sadar,” ucap Valdi membuka obrolan. “Gavin nggak ikut, ya?” tanyanya.
Terdapat sebuah nama tidak asing yang diucap, Vallerie yang tadinya hendak menyuapkan sepotong ayam goreng lengkuas ke dalam mulutnya malah melesat ke arah sebaliknya. Alhasil, potongan ayam tersebut terlempar ke arah Arion yang duduk tepat di hadapannya. Jasper, Arion, Silas, dan Heidy hanya dapat menahan tawa karena acara komedi dadakan yang terjadi. Namun, selain keempatnya, Vallerie juga tidak dapat menjawab pertanyaan yang kakaknya lontarkan.
“Makannya hati-hati dong, Vall,” tegas Valdi.
Vallerie sibuk menepuk-nepuk bajunya yang dipenuhi dengan taburan bumbu lengkuas. “Ya, Abang sih,!” protesnya. “Udah tau orang lagi pada sibuk makan malah diajak ngobrol.”
Heidy, yang duduk di sebelah kanan Vallerie, mengambil satu potong ayam goreng lengkuas untuk diletakkan di piring makan sahabatnya. “Tambah lagi ayamnya, Vall.”
Semua yang hadir di sana, terkecuali Valdi, sebisa mungkin untuk tidak membahas Gavin pada perayaan ulang tahun Valdi kali ini, seolah-olah mereka paham bahwa Gavin merupakan salah satu topik sensitif yang tidak dapat dibahas sekarang. Selepas tragedi terlemparnya ayam goreng lengkuas milik Vallerie, semuanya kembali fokus menyantap hidangan yang tersedia di piring makan masing-masing, Namun, lagi-lagi sebuah suara menginterupsi mereka.
Ceklek!
Pintu utama rumah Valdi dan Vallerie terbuka lebar sebab seseorang membukanya dari arah luar. Valdi yang berada paling dekat dengan ruang tamu segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah ruang tamu. Semua yang berada di meja makan bersiap sebab penasaran dengan siapa Valdi berbincang karena nada suaranya terdengar begitu riang. Semua merasa penasaran, kecuali Vallerie.
“Ini termasuk kejutan buat gue juga, ya?” tanya Valdi sedikit menyindir kepada seseorang yang baru datang tersebut sesaat keduanya sampai di ruang makan. “Lo dateng telat gini,” tambahnya.
“Nggak,” jawabnya sembari terkekeh kecil. “Gue memang telat,” lanjutnya. “Sorry, ya.”
“Sialan lo, Gav,” umpat Valdi. “Padahal, biasanya lo sama Vallerie yang paling semangat kalau soal nyiapin ulang tahun gue,” sambungnya.
Mendengar ada bias suara dan nama tak asing yang belum lama menjadi topik bahasan sensitif, Vallerie mengangkat pandangannya. Betapa terkejutnya gadis cantik itu kala sepasang maniknya menangkap adanya sosok seorang Gavin Prawira yang mengenakan kemeja biru tua dan celana putih andalannya. Vallerie yang tengah mengunyah tiba-tiba saja tersedak potongan ayam goreng lengkuas yang baru saja dilahapnya. Vallerie menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Vallerie tidak berhenti terbatuk.
“Aduh, Vall,” keluh Valdi. “Abang bilang ‘kan makannya pelan-pelan aja.”
Dengan sigap, Heidy bangkit dari duduknya lalu menuangkan segelas air putih untuk sahabatnya. “Santai, Vall.”
Gavin mendekat ke arah Vallerie. Ia mengusap punggung kekasihnya. “Batukin aja, Vall,” perintahnya.
Vallerie menerima segelas air dari Heidy lalu menegaknya sampai habis. “Makasih, Dy,” ucapnya. “Gue… HAMPIR MATI.” Terlihat, gadis cantik itu sedikit menaikkan oktaf suaranya pada dua kata di akhir kalimatnya.
Gavin mendekatkan wajahnya ke arah Vallerie untuk kemudian menatap sepasang netra kesukaannya itu dengan intens. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir.
Sejenak, Vallerie menatap rangka wajah tegas nan tampan yang sudah lama tidak ia temui itu. Lalu, ia menghela napas panjang. “Nggak apa-apa,” ketusnya. “Udah sana makan.” Vallerie mendorong tubuh besar itu agar menjauh dari daerah teritorinya.
Di dalam hatinya, Vallerie tidak tahu harus berperasaan seperti apa. Di satu sisi, ia merasa bahagia sebab kekasihnya itu menyempatkan sedikit waktunya di sela-sela kesibukannya untuk menghadiri acara surprise party kakaknya. Namun, di sisi lain, itu tidak menutup fakta bahwa beberapa hari terakhir dirinya merasa tersakiti sebab perlakuan Gavin kepadanya dan juga kakaknya.
Melihat tingkah aneh dari kekasihnya itu, Gavin bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkinkah dirinya telah melakukan kesalahan? Toh, dirinya sudah menyempatkan diri untuk datang ke acara ulang tahun sahabat karibnya meskipun telat. Sekarang, giliran Gavin yang menghela napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya. Kemudian, memberikan ucapan selamat kepada Valdi lalu menyapa teman-temannya, termasuk Heidy.
“Duduk sini aja, Kak,” tawar Heidy yang duduk di samping kanan Vallerie. Dengan cepat, Heidy bangkit dari tempat duduknya. Namun, pergerakannya sempat dihentikan oleh sang sahabat. “Lepasin nggak?!” bisik Heidy.
“Lo mau ke mana?” tanya Vallerie khawatir. “Sini aja, Dy.”
“Nggak, ya,” ucap Heidy. “Gue mau duduk di samping Kak Silas!” tegasnya.
Heidy berjalan memutari meja makan dengan sepiring penuh nasi dan lauk pauk di tangannya demi berpindah duduk di samping Silas. Tentunya, dengan senang hati, Silas menarik kursi di sebelah kirinya agar Heidy dapat duduk di sebelahnya. “Makan yang banyak ya, Dy,” ucap Silas sembari mengusap pelan pucuk kepada adik tingkatnya itu.
Vallerie sebagai satu-satunya saksi mata yang menyaksikan adegan romantis tetapi menggelikan itu hanya dapat berpura-pura muntah. Sepertinya, karena kurangnya belaian kasih sayang dari Gavin membuatnya menjadi mulai tak terbiasa dengan adegan romantis seperti itu. Vallerie kembali melanjutkan santapannya yang sempat tertunda. Namun, sesuatu terasa mengganjal. Ya, apalagi kalau bukan karena sang kekasih yang duduk tepat di sebelahnya.
“Kamu bukannya nggak suka ayam bagian dada, Vall?” tanya Gavin selagi dagunya mengidik ke arah potongan dada ayam goreng lengkuas yang berada di dalam piring makan kekasihnya.
“Heidy yang ngambilin,” jawab Vallerie singkat.
Kemudian, Gavin mengambil sisa potongan dada ayam yang ada di piring makan sang kekasih untuk kemudian menukarnya dengan potongan paha ayam yang sudah diambilnya tadi. “Kamu makan ayam punyaku aja,” katanya.
Melihat aksi inisiatif dari kekasihnya, Vallerie bukannya merasa senang malah merasa terbebani. Ia kembali menghela napas panjang. “Kamu kenapa sih, Kak?!” Ia melempar garpu dan sendok yang dipegangnya. Suaranya yang cukup menggelegar di ruang makan membuat semua yang ada di sana menengok ke arahnya dan Gavin. “‘Kamu tau nggak?! Aku tuh udah kenyang banget!” bentaknya. “‘Kan aku jadi harus ngabisin ayam baru lagi,” keluhnya.
Gavin yang mendapat respon seperti itu mengernyitkan keningnya. “Maaf, Sayang,” responnya merasa bersalah. “Aku nggak tau,” lanjut lelaki tampan itu.
“Kenapa, Vall?” tanya Valdi menengahi. Ia mulai merasakan keresahan dari sang adik.
“Nggak apa-apa, Bang,” jawab Vallerie lemah.
“Kamu tau kamu nggak perlu semarah itu ‘kan?” balas Valdi lagi. Ia berusaha mengingatkan sang adik agar tidak merusak suasana, apalagi saat sedang makan. “Santai aja ngomongnya sama Gavin. Kamu tinggal bilang ke Gavin kalau kamu nggak mau,” ujarnya.
Vallerie mendesis. “Abang belain aja terus sahabat kesayangan Abang itu,” keluhnya.
Gavin sadar bahwa baik Valdi dan Vallerie mulai terbawa amarah. Oleh sebab itu, ia mengisyaratkan kepada Valdi untuk berhenti. “It’s okay, Val,” kata Gavin pelan kepada Valdi. “Gue yang salah,” sambungnya. “Maaf ya, Sayang. Aku nggak tau kalau kamu udah kenyang,” final Gavin sembari tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya. “Aku aja yang ngabisin makanan kamu.”
Lagi, Vallerie menepis tangan besar yang mengusap kepalanya. “Nggak usah,” ketusnya.
Bukan tanpa alasan Vallerie bersikap se-emosional itu. Pasalnya, beberapa hari terakhir, apalagi sebelum hari ulang tahun Valdi, Gavin bersikap seolah dirinya tidak ada di muka bumi ini. Vallerie merasa kesulitan untuk sekadar mendapatkan kabar dari kekasihnya. Vallerie tidak mengerti apakah ini merupakan konsekuensi yang harus diterimanya karena mempunyai kekasih yang merupakan seorang Ketua BEM atau memang Gavin sengaja melakukannya.
Tidak ingin suasana mendadak menjadi suram, Valdi membuka suara. “Udah ya,” ucapnya. “Kita lanjut lagi makannya.”
Sesuai dengan permintaan dari sang empunya, semua yang ada di sana kembali melanjutkan santapan masing-masing. Selagi menikmati hidangan yang dimasak oleh Vallerie dan Heidy, Valdi berbincang dengan kedua temannya—Jasper dan Arion. Sedangkan, Silas secara terang-terangan bermesraan dengan Heidy. Pada acara makan bersama di acara ulang tahun Valdi tersebut, menyisakan Gavin dan Vallerie yang diselimuti oleh kecanggungan.