An Apology
Di siang yang semakin terik sinar mentarinya itu, terlihat seorang lelaki tampan dengan langkahnya yang terdengar mendentum tengah menaiki satu per satu anak tangga untuk sampai ke gedung parkir, tepatnya lantai paling atas. Selain langkahnya yang terdengar mendentum, wajah tampan itu juga menyemburatkan aura kemarahan. Gavin hampir sampai di tempat tujuannya saat seorang perempuan di hadapannya mencoba merengkuhnya.
Dengan sigap, Gavin mencegah hal itu agar tidak terjadi. Tangannya mendorong pelan lawan bicaranya agar tidak dapat menggapai tubuhnya. Haerin tersentak. “Oh? Huh?!” protesnya.
“Jangan aneh-aneh,” tegas Gavin pada teman sekolahnya dulu sekaligus wakilnya sekarang.
Haerin memandang Gavin dengan penuh tanya. “What’s wrong, G?” tanya perempuan itu sembari tersenyum. “You don’t look okay to me,” jelasnya.
“If only you can realize it faster,” ucap lelaki tampan itu sarkas. “Aku memang nggak pernah kelihatan baik-baik aja di depan kamu,” sambungnya.
Mendengarnya, Haerin mengerucutkan bibirnya. “How rude,” balasnya. “Membuat aku semakin yakin kalau kamu lagi not okay,” ucap Haerin. “What’s wrong? It’s because of Vallerie, isn’t it?” tanyanya seolah tanpa dosa.
Kala ada sebuah nama disebut, Gavin melirik sinis ke arah wakilnya. “Seriously, Rin?” tanya Gavin sembari mengangkat sebelah alisnya. “Kamu pikir aku begini karena Vallerie?” tanyanya lagi.
Haerin tersenyum. Ia maju selangkah agar lebih dekat dengan lelaki tampan pujaan hatinya itu. “Oh, poor you,” ucapnya. “Kamu pasti capek, ya, sama Vallerie yang egois dan nggak pernah ngerti sama keadaanmu?” tanya Haerin tanpa beban.
Lagi, sebab ada nama sang kekasih yang disebut oleh orang gila di hadapannya, Gavin menghela napas panjang. “You’re not that stupid to understand what I said,” ujarnya. “Aku NGGAK PERNAH dan NGGAK AKAN PERNAH capek sama Vallerie,” jawab lelaki tampan itu. Gavin mencoba menggarisbawahi beberapa kata dalam kalimat agar Haerin dapat mengerti—walaupun ‘mengerti’ adalah salah satu hal yang sukar sekali dilakukan oleh wakilnya itu.
“It’s okay, G,” kata Haerin. “Kamu bisa jujur kok sama aku kalau kamu capek sama Vallerie.” Haerin masih pada pendiriannya yang mengira biang masalah dari semua yang terjadi di antaranya dan Gavin disebabkan oleh Vallerie. “Aku paham kalau kamu capek sama Vallerie yang nggak pernah mau mengerti sama keadaan kamu tapi kamu nggak perlu khawatir karena aku akan selalu mengerti kamu.”
Gavin merasa pusing tujuh keliling mendengar kalimat tidak masuk akal yang Haerin terus ucapkan padanya. Ia memijat pangkal hidungnya. “Aku ke sini mau menegaskan sesuatu sama kamu,” katanya. “And please stop calling me with that silly nickname while I ask you nicely,” tambah Gavin.
Sebenarnya, Haerin tahu bahwa Gavin marah padanya. Namun, dirinya bertindak seolah-olah tidak tahu sebab ia sangat menyukai ekspresi Gavin yang tengah marah. Bagi Haerin, Gavin yang marah adalah Gavin yang paling tampan. Gavin tidak salah apabila ia menganggap Haerin atau teman semasa sekolahnya dulu atau wakilnya sekarang adalah orang gila karena memang Haerin adalah definisi dari orang gila itu sendiri.
Haerin memutar balik tubuhnya untuk kemudian berjalan menuju tempat mobil Gavin terparkir. Ia memanjat dan mengambil posisi duduk di atas bagasi mobil sedan berwarna putih itu. “What is it, G?” tanya Haerin yang setengah teriak sebab jarak antara dirinya dan Gavin yang cukup terpaut. “Katanya kamu mau menegaskan sesuatu sama aku,” katanya. “I love being affirmed, especially by you,” celoteh perempuan itu.
Gavin mengusap wajahnya kasar. Ia tahu bahwa sekalinya ia pernah berurusan dengan orang gila maka ia tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang orang gila tersebut. Sebenarnya, Gavin tidak ingin lagi berurusan dengan Haerin dan masa lalunya tetapi Gavin sendiri tidak tahu bagaimana Haerin bisa kembali muncul di kehidupannya yang sekarang saat dirinya sudah bersama Vallerie.
Gavin melangkahkan kakinya agar mendekat ke arah Haerin. Ia berdiri tegap di hadapan perempuan yang sedang duduk di atas bagasi mobilnya. “Aku nggak akan ngomong panjang lebar, Rin,” ucap Gavin. “I want us to stop,” singkatnya.
“What do you mean by stop?” tanya Haerin. “We haven't started anything yet,” sambungnya.
“Exactly,” jawab Gavin singkat. “Sebelum semuanya semakin jauh, kita harus berhenti berhubungan nggak sehat kayak gini,” jelasnya. “Aku nggak mau terus-terusan nyakitin Vallerie.”
Sejenak, Haerin diam dalam posisinya. Ia tatap sepasang netra yang terlihat sangat tajam dan mungkin saja dapat melukai wajah cantiknya. Kemudian, perempuan itu mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah depan agar dirinya lebih dekat dengan sang ketua. Sebenarnya, Haerin dapat mendengar kalimat yang Gavin ucapkan dengan sangat jelas. Namun, bukan Haerin namanya apabila ia tidak dapat mendapatkan apa yang ia inginkan walaupun keinginannya itu harus menyakiti orang lain. “Are you sure with that?” tanyanya memastikan. “I mean… memangnya kamu bahagia sama Vallerie?” tanyanya lagi.
Pertanyaan terakhir yang Haerin lontarkan sukses membuat bara api yang ada di hati Gavin semakin terbakar. Gavin mengetahui kalau Haerin paham betul bahwa Vallerie adalah titik lemahnya. Oleh sebab itu, Haerin selalu ‘menggunakan’ Vallerie untuk membuat Gavin tunduk padanya. Namun, kali ini, Gavin akan menindak tegas hal tersebut. Ia tidak ingin menyakiti Vallerie dengan hubungannya anehnya bersama Haerin.
“Are you really asking me such a question?” tanya Gavin sarkas.
“Well,” kata Haerin. “Kalau benar kamu bahagia sama Vallerie, nggak mungkin kamu ada di sini sama aku sekarang,” jelasnya.
“Jangan memutarbalikkan fakta, Haerin,” tegas Gavin. “Aku selalu sembunyi-sembunyi untuk ketemu sama kamu karena kamu selalu mengancam aku dengan embel-embel mental illness kamu,” ujar lelaki tampan itu sembari menunjuk-nunjuk perempuan di hadapannya.
Gavin benar-benar marah dan Haerin semakin bersemangat. Ia menangkupkan kedua tangannya pada rangka tegas di depannya. “Kamu tau ‘kan kalau aku yang lebih dulu ketemu kamu? Dibanding Vallerie,” ujarnya. “Ya, I know it very well… bahwa aku sempat pergi sebentar dari kamu but it doesn't mean I don’t love you anymore,” sambung perempuan itu.
“Aku masih menghargai kamu karena kita pernah satu kelas di sekolah dulu dan kamu juga wakilku sekarang,” ujar Gavin. “Tapi kamu harus tau, Rin, jangan sampai kepercayaan ini rusak untuk kesekian kalinya karena ulah kamu sendiri.” Gavin benar-benar mengekspresikan emosi negatifnya melalui kata demi kata yang disampaikannya kepada Haerin.
Mendengarnya, Haerin menundukkan pandangannya. Selagi dirinya masih duduk di atas mobil Gavin, ia mengayun-ayunkan kakinya dan tiba-tiba saja suara tawaan terdengar menggema dengan sangat kencang di seluruh lantai paling atas gedung parkir. Haerin tertawa seperti orang gila. Gavin yang menyaksikan langsung gadis cantik itu tertawa tanpa sebab dengan perlahan memundurkan langkahnya.
Belum sempat Gavin menjauh, Haerin menarik sebelah tangan Gavin untuk menahan pergerakannya. Perlahan, Haerin mengangkat pandangannya untuk kemudian menatap lawan bicaranya sembari tersenyum. Gavin ingat betul tatapan dan senyuman menyeramkan yang Haerin milik—persis seperti yang ia lihat saat dirinya memutuskan untuk menyudahi hubungan asmara dengan gadis cantik tersebut beberapa tahun lalu.
“Rin,” panggil Gavin.
“Yes, My Love, G?” balas Haerin sembari terkekeh.
Gavin kembali menghela napas panjang. “C’mon, Girl,” katanya. “This isn’t you.”
Haerin terkekeh. “What do you mean by that?” ucapnya kembali bertanya. “This is me. Your one and only love, Eyin,” ujar gadis cantik itu. “Remember Eyin?”
Gavin menutup kedua matanya. Sejenak, dirinya terbawa kembali ke masa di mana ia dan Haerin masih menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Ya, Gavin dan Haerin merupakan sepasang mantan kekasih. G dan Eyin adalah panggilan sayang Gavin dan Haerin. Keduanya menjalani hubungan asmara semasa sekolah menengah atas. Semuanya terasa sangat indah seolah Gavin merasakan bahagia yang paling bahagia saat bersama Haerin dan sebaliknya.
Namun, belum genap setengah tahun hubungan mereka berjalan, sedikit demi sedikit perubahan terjadi, terutama pada gadis cantik itu. Dimulai dari hal kecil yang berdampak besar bagi Gavin, seperti Haerin yang sering kali marah besar padanya karena pulang telat dari sekolah padahal dirinya baru saja menyelesaikan rapat bersama anggota OSIS lainnya atau sekadar berlatih ekstrakurikuler paduan suara.
Haerin juga tidak jarang memarahi semua orang yang tersenyum atau sekadar melirik kekasihnya. Sampai ada di tahap di mana Haerin mendapat teguran berupa skors dan ancaman drop out dari pihak sekolah karena ia memukul adik kelas perempuan yang Gavin tolong saat dirinya tidak sengaja hampir tertabrak mobil yang melintas dengan cepat di jalan raya di depan sekolah mereka.
Haerin merasa cemburu dengan semua perilaku Gavin yang tidak melibatkan dirinya. Singkatnya, dirinya harus selalu berada di samping Gavin di mana pun dan kapan pun—membuat Gavin kesulitan menjalani hari-harinya sebagai Ketua OSIS atau bahkan sebagai diri Gavin sendiri. Gavin, hanya dengan mengingat kembali memori-memori kelam itu, membuatnya sakit kepala setengah mati. Ia tentunya tidak ingin kembali ke masa itu.
“Enough,” ucap Gavin.
Haerin yang melihat Gavin mulai masuk ke dalam perangkapnya semakin merasa bergairah. “My Love, G,” bisiknya. “Don’t you miss me?” goda gadis cantik.
“I said enough, Haerin,” ulang Gavin. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali demi menepis kenangan-kenangan buruk yang pernah membuatnya trauma.
“Jangan dilawan, Gav,” bujuk Haerin. “We should get back together,” katanya. “Would you be ‘us’ with me… one more time?”
Jika Gavin boleh jujur, kalimat demi kalimat yang diucapkan Haerin untuk memancingnya ke dalam lingkaran setan cukup menggodanya dengan kuat. Gavin tahu bahwa apa yang terbesit di dalam pikirannya dan benaknya saat ini merupakan hal yang salah. Namun, sejatinya Haerin adalah cinta pertama—yang bagi siapa saja—sulit untuk dilupakan. Gavin menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk membuang semua pikiran jahat itu.
Haerin yang mengetahui Gavin mulai masuk ke dalam perangkapnya tersenyum picik. “Gavin,” panggilnya lembut. “Kamu tau ‘kan? Dari dulu pun nggak akan ada yang bisa menggantikan kedudukan kamu di hati aku,” jelas gadis cantik itu sembari tersenyum. “Hal yang sama juga berlaku sama bagi kamu ‘kan?” tanyanya memastikan.
Tawaran khas duniawi yang disampaikan oleh Haerin terlalu kuat untuk Gavin tolak. Ia bertanya-tanya apakah dengan dirinya kembali pada Haerin dan meninggalkan Vallerie akan menjadi jalan terbaik bagi semuanya? Untuk dirinya, untuk Haerin, serta untuk Vallerie? Gavin tidak tahu tetapi ingin tahu. Di sisi lain, Haerin terus menggodanya. Namun, Gavin sadar ia harus serasional mungkin untuk menghadapi orang gila seperti Haerin.
Oleh sebab itu, Gavin memilih untuk pergi. Ia berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Haerin sendiri di sana. “Aku nggak bisa,” ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan mantan kekasihnya itu.
“Kamu mau aku self-harm lagi, Gav?!” tanya Haerin setengah teriak.
Gavin yang mendengar kalimat, yang sebenarnya paling ia hindari dari pertama kali bertemu lagi dengan Haerin, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya yang sedari tadi tertunduk—sebab mengingat Vallerie dan seluruh rasa cinta dan kasih sayang dari gadis cantik itu, kini terangkat. Sejenak, Gavin membatu di tempatnya. Ia tidak bisa membiarkan Haerin kembali menyakiti dirinya karena ia tahu bahwa Haerin adalah tanggung jawabnya.
Oleh sebab itu, Gavin berbalik dan kembali melangkah untuk menghampiri Haerin yang masih setia duduk di atas bagasi mobilnya. Haerin yang melihat lelaki tampan itu kembali padanya tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Ia mengalungkan kedua lengannya pada bahu lebar yang selalu menjadi kesukaannya. Sedangkan, sepasang telapak tangan besar itu bergerak mengusap kedua paha lawan bicaranya.
“Eyin,” panggil Gavin sembari tersenyum.
“Yes, My Love, G?” jawabnya dengan nada paling riang yang pernah Gavin dengar.
“GET THE FUCK OFF ME!” bentak Gavin.
Senyum yang semula terukir indah, seolah memberi harapan pada Haerin bahwa keduanya dapat kembali bersama, seketika sirna. Gavin menghempas sepasang lengan yang bersandar pada bahunya dengan kencang sehingga membuat Haerin sedikit terhuyung. Kemudian, ia mundur beberapa langkah. Gavin sepenuhnya kembali pada akal sehatnya serta kasih sayang dan cintanya pada Vallerie.
Haerin menatap tidak suka kepada mantan kekasihnya itu. “WHAT THE HELL ARE YOU DOING, GAVIN?!” Kali ini, giliran gadis cantik itu yang membentak.
Gavin terkekeh remeh. “Eyin?” Lalu, ia menyeringai. “Are you kidding me?” katanya. “Nggak ada lagi G dan Eyin di kehidupan ini maupun di kehidupan seterusnya.”
“BAJINGAN!” pekik Haerin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“I am, Haerin,” balas Gavin tanpa beban. Ia berulang kali memukul dadanya dengan keras. “Aku memang seorang bajingan,” ucapnya mengakui. “Seharusnya, dari awal kamu balik lagi ke sini dan dengan sengaja ketemu sama aku, aku bisa dengan tegas menolak kehadiran kamu di sisi aku tapi aku dengan bodohnya malah mencari cara aman dengan ketemu sama kamu secara sembunyi-sembunyi karena aku pikir kamu masih tanggung jawab yang harus aku ‘selesaikan’,” jelas lelaki tampan itu.
Haerin memicingkan kedua maniknya sembari mendesis mendengar eksplanasi yang Gavin sampaikan secara terang-terang padanya. “Sialan,” umpatnya.
“But… guess what?” balas Gavin lagi dengan bertanya. “Bahkan dari awal pun kebahagiaan kamu itu bukan tanggung jawabku!” tegasnya. “Mungkin dulu aku berusaha mati-matian untuk membahagiakan kamu atau nggak bikin kamu cemburu dengan status aku sebagai Ketua OSIS, di mana aku harus berinteraksi dengan semua orang, termasuk semua perempuan yang ada di sekolah,” jelasnya lagi.
“What do you mean, Gavin?!” tanya Haerin tidak santai. Air wajahnya terlihat memerah dan mendidih.
“Maksudnya dari awal pun yang paham, yang mengerti, dan yang selalu ada buat aku itu cuma Vallerie,” final lelaki tampan itu. “Hanya Vallerie seorang!”
Gavin ingin selalu ingat bahwa dirinya memiliki Vallerie sebagai obat baginya. Di saat susah dan duka, selain sang kakak—Valdi, Vallerie-lah yang selalu ada untuknya. ‘Kak Gapin ‘kan cowok keren. Masa putus sama cewek gila kayak gitu aja sedih sih?’ Ia selalu ingat bagaimana Vallerie memujinya terlebih dahulu baru setelahnya memvalidasi emosi negatifnya, di mana itu artinya Vallerie dapat melihat sisi terbaiknya di saat dirinya sendiri tidak bisa melihat hal itu.
Dengan air mata yang tertumpuk di pelupuk matanya, Haerin berkata, “So, are you good kalau aku self-harm lagi, right?” ancamnya.
Mendengar ancaman yang sangat tidak masuk akal, Gavin kembali menyeringai. “You won’t, Haerin,” ucapnya. “Kamu nggak akan self-harm lagi.” Gavin mengucapkan kalimat terakhirnya dengan lantang dan percaya diri.
“How do you know? Aku bisa aja self-harm sekarang,” tegas Haerin sembari mengacak-acak isi totebagnya untuk mencari sebilah mini cutter. Padahal, dari awal pun mini cutter itu memang tidak ada di dalam sana.
“I already checked on you.” Kalimat yang Gavin lontarkan sukses membuat pergerakan Haerin yang terburu-buru menjadi berhenti seketika. “You didn’t do it anymore,” jelas lelaki tampan itu sembari menunjuk ke arah kedua paha Haerin yang sempat dipegangnya tadi.
Haerin, sedari sekolah menengah atas, memiliki kebiasaan buruk, yaitu menyakiti dirinya sendiri apabila tengah merasakan dunia seolah runtuh. Biasanya, sebelum melancarkan aksinya, Haerin akan mengirim pesan beserta gambar kepada Gavin yang berisikan ancaman akan menyakiti dirinya sendiri lengkap dengan gambar anggota tubuh—paha—dan sebilah mini cutter.
Jika hal ini terjadi dengan alur waktu mundur ke masa sekolah menengah atas, di mana Gavin masih menyandang peran sebagai pacar sekaligus masih merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya, maka tanpa berpikir dua kali Gavin akan langsung menghampiri Haerin. Gavin sudah tidak sebodoh dulu. Ia tahu hubungannya bersama Haerin bukanlah hubungan yang sehat, baik dulu maupun sekarang.
Ia tidak bisa memiliki hubungan romantis apabila hubungan romantis itu lebih banyak membawa dampak buruk baginya, seperti saat bersama dengan Haerin dulu. Sebaliknya, hubungan romantis bisa dikatakan sehat apabila hubungan tersebut membawa dampak positif dan menjadi ajang untuk menjadikan diri agar lebih baik lagi bersama pasangan, seperti saat bersama Vallerie sekarang.
Ternyata, Gavin salah. Satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghadapi orang gila seperti Haerin adalah dengan menjadi cerminan dari orang gila itu sendiri. Sejak dulu, Gavin selalu ingin menjadi pribadi yang tenang dan menghadapi semuanya dengan kepala dingin. Namun, sepertinya, kiat-kiat itu akan sia-sia apabila diterapkan untuk menghadapi seorang Haerin Shennaya.
“Let’s end this stupid relationship here, Haerin,” ucap Gavin. “Aku mau fokus mencintai Vallerie seutuhnya,” sambungnya. “Aku udah terlalu sering nyakitin Vallerie dan aku nggak mau nyakitin Vallerie lagi dengan hubungan kita yang kayak gini,” ujar lelaki tampan itu.
“Such a hypocrite,” kata Haerin.
“Ada baiknya kamu rutin konsultasi ke psikiater dan minum obat,” ucap Gavin. “Orang tua kamu pasti khawatir sama keadaan kamu,” lanjutnya. “‘Sembuh’ itu bukan tergantung orang lain, Rin, tapi tergantung sama diri kamu sendiri. Kalau kamu nggak mengusahakan ‘sembuh’ itu maka ‘sembuh’ itu nggak akan datang ke kamu,” jelas Gavin lagi.
Haerin mematung mendengar penjelasan yang Gavin lontarkan untuknya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Haerin mendapatkan kalimat penenang yang tidak hanya sekadar kalimat melainkan memang Gavin berniat untuk membantu gadis cantik itu. Ada banyak alasan yang membuat Haerin tidak dapat lepas dari Gavin dan itu adalah salah satunya, Gavin selalu melakukan segala hal tulus dari hatinya.
“Gav…,” gumam Haerin.
Gavin yang dipanggil tidak merespon sebab sudah sedari tadi dirinya menghilang dari hadapan wakilnya. Gavin berlari dengan semua sisa tenaganya menuju markas kesayangan The Coast yang tidak jauh dari kampus. Pertama, Gavin harus pergi menemui teman-temannya, terutama Valdi, untuk menjelaskan semuanya. Setelahnya, barulah ia akan menyusul ke tempat di mana Vallerie berada untuk mengakui semuanya.
Di sebuah rumah kecil di samping gedung indekos, Gavin menghentikan langkahnya. Ia melepas sepatu sneakers-nya untuk kemudian masuk ke dalam rumah tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Gavin masuk ke dalam rumah tersebut dengan napas yang menggebu-gebu sembari kedua tangannya bertumpu di atas kedua kakinya. Sedangkan, semua yang hadir di sana—Valdi, Arion, Jasper, dan Silas—menatapnya dengan bingung.
“Gavin?” kata Arion dan Jasper bersamaan.
Valdi, yang sedari tadi duduk selagi kedua tangannya bertumpu pada kaki-kaki jenjangnya, seketika menegapkan tubuhnya kala melihat Gavin datang ke markas besar mereka. Ia menatap sinis ke arah Gavin. Valdi mengetahui semuanya tetapi bukan dari Gavin, mulai dari ketidakhadirannya pada persiapan pesta kejutan ulang tahunnya, kebohongan tentang memiliki agenda rapat, hingga Gavin yang tertangkap basah bersama perempuan lain selain Vallerie.
“Ngapain lo di sini?!” tanya Valdi tak santai.
Gavin menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu, ia berjalan ke arah kulkas minuman yang terletak di sudut ruangan. Gavin mengambil sebotol air mineral dingin untuk kemudian menegaknya sampai habis tak bersisa. Ia butuh tenaga untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada teman-temannya, terutama Valdi. Gavin yang belum sempat menjelaskan apa-apa tiba-tiba saja kerah baju kemejanya ditarik oleh Valdi.
“Maksud lo apa, Bangsat?!” tanya sang sahabat setengah berteriak.
Arion, Jasper, dan Silas yang melihat adegan mengerikan itu sontak berdiri dari posisi duduk masing-masing. “Santai, Val,” kata Jasper mengingatkan.
“Tunggu, Val,” ucap Gavin. “Gue tau lo marah,” sambungnya. “Ini gue dateng mau ngejelasin semuanya,” ujar lelaki tampan itu.
“Gue udah kasih lo kepercayaan untuk jagain adek gue, Gav!” tegas Valdi.
“Bukan gitu maksud gue,” balas Gavin.
“LO KENAPA TEGA NYELINGKUHIN ADEK GUE, BAJINGAN?!” bentak Valdi sebelum melayangkan satu tinjuan keras pada sisi kanan wajah tampan sahabatnya.
BUAGH!
Gavin jatuh tersungkur hanya dengan satu tinjuan yang diberikan oleh sahabatnya. Tanpa aba-aba, Valdi menduduki sahabatnya yang masih terkapar lemas di atas lantai markas The Coast itu sebelum kembali menghujaninya dengan tinjuan dan pukulan pada wajah tampan tersebut. Arion, Jasper, dan Silas yang melihat aksi brutal temannya itu langsung berinisiatif untuk memisahkan keduanya.
Arion dan Jasper menarik Valdi agar berhenti memukuli vokalis mereka. Sedangkan, Silas membantu Gavin untuk perlahan duduk di atas lantai. Gavin menyentuh pelan luka terbuka yang tercipta akibat perkelahian sepihak antara Valdi dan dirinya. Ia meringis tipis. Di sisi lain, Silas bertanya sebab khawatir akan keadaannya. Gavin, dengan sisa tenaganya yang tidak sampai setengah itu, berusaha untuk kembali berdiri.
“Lepasin gue!” bentak Valdi pada Arion dan Jasper yang menghadang pergerakannya.
“Gue tau Gavin salah tapi lo tenang dulu, Val,” ujar Arion.
“Nyelesain masalah nggak harus dengan kekerasan,” sahut Jasper.
“Kalian nggak tau rasanya jadi gue,” ucap Valdi. “KALIAN NGGAK PUNYA ADEK PEREMPUAN YANG DISELINGKUHIN SAMA SAHABAT KALIAN SENDIRI!”
Mendengarnya, Arion dan Jasper tanpa sadar melepaskan pertahan mereka masing-masing. Oleh sebab itu, Valdi kembali mendapat akses untuk menghajar Gavin bahkan lebih kejam lagi. Namun, sebelum Valdi berhasil melanjutkan keinginannya tersebut menjadi nyata, Silas mengomando Arion dan Jasper untuk kembali menahan kakak kandung dari Vallerie tersebut. Akhirnya, Valdi berhasil kembali ditahan pergerakannya.
“Sialan,” umpat Valdi.
“Valdi!” kata Gavin sembari mengangkat tangannya dengan harapan Valdi mau mendengarkan penjelasannya barang sebentar. “Dengerin gue dulu,” ucapnya.
“Iya, dengerin penjelasan dari Gavin dulu,” bujuk Silas.
“Apalagi, Gav?!” tanya Valdi tak santai. “Kebohongan apalagi yang harus gue denger dari lo?!” bentaknya pada sang sahabat.
“Gue nggak nyelingkuhin Vallerie,” tegas Gavin. “Dan gue nggak akan pernah nyelingkuhin Vallerie,” lanjutnya.
Valdi menghempaskan sepasang lengan kekar yang memegangi kedua tangannya. “Lepasin gue,” katanya. Kemudian, Valdi berjalan menghampiri sofa yang sebelumnya menjadi tempat duduk sebelum memukuli Gavin dengan membabi buta. Ia membuka layar kunci ponselnya yang terletak di sana untuk kemudian menunjukkan sebuah foto yang terpampang dari layar ponselnya. “Kalau bukan selingkuh, ini apa namanya, Gav?!” bentak Valdi.
Pada layar ponsel itu, terlihat sebuah foto yang memperlihatkan Gavin dan Haerin tengah ‘bermesraan’ di gedung parkir siang ini. Gavin memicingkan kedua matanya agar dapat melihat lebih jelas foto yang dimaksud oleh Valdi. “Lo dapet foto ini dari siapa?” tanyanya.
Valdi memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Kenapa? Nggak penting gue dapet foto ini dari mana,” balasnya dengan kembali bertanya. “Itu Haerin ‘kan, Gav?”
“Itu sama sekali nggak bener,” bantah Gavin. “Gue nggak mungkin nyelingkuhin Vallerie,” ucapnya. “Apalagi sama Haerin.”
Ada sebuah nama asing yang disebut, Arion, Jasper, dan Silas saling bertukar pandang. “Lo tau sama cewek ini, Val?” tanya Silas tiba-tiba.
Valdi menoleh ke arah Silas sebentar sebelum kemudian kembali memandang ke arah Gavin. “Iya,” jawabnya. “Itu Haerin, mantan pacarnya Gavin dulu pas SMA,” jelas lelaki tampan itu.
Gavin yang mendengar jawab paling jujur yang dilontarkan Valdi kepada semua anggota The Coast hanya dapat menghela napasnya panjang. Ia memejamkan matanya sejenak. Gavin bertaruh bahwa sebentar lagi akan banyak pertanyaan yang akan dilayangkan untuk dirinya dari teman-temannya yang tidak pernah mengetahui fakta mengerikan ini. Setidaknya, ada tiga pasang tatap mata yang memandanginya dengan penuh arti.
Pasalnya, hubungan antara Gavin dan Haerin hanya diketahui oleh Valdi. Semua suka dan duka—meskipun lebih banyak duka yang dirasakan—yang Gavin rasakan saat menjalin hubungan asmara bersama Haerin, Valdi mengetahuinya. Arion, Jasper, dan Silas tidak mengetahuinya sebab mereka bertiga tidak berada di sekolah yang sama semasa SMA dulu bersama Gavin dan Valdi.
“Haerin? Haerin yang wakil lo itu, Gav?” tanya Arion. Akhirnya, pertanyaan pertama berhasil ditanyakan.
“Kok kita bisa nggak tau kalau Haerin itu mantan lo?” tanya Jasper kemudian.
“Oh, pantes selama ini lo ngakunya selalu sibuk rapat, ya, Gav,” tambah Silas.
Mendengar pertanyaan terakhir yang datang dari Silas membuat Gavin melirik sinis ke arahnya. “Maksud lo?” tanyanya tak santai. “Lo nyuruh Heidy buat mata-matain gue, ya?” tuduh lelaki tampan itu pada temannya.
“Loh? Memangnya salah, Gav? Nggak ‘kan,” balas Valdi.
Silas menggeleng. “Nggak,” jawabnya. “Gue nggak nyuruh Heidy buat mata-matain lo.”
Valdi yang merasa lelah dengan situasi dan kondisi yang tengah dihadapinya sekarang lebih memilih untuk kembali duduk di sofa tempatnya semula. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada serta diikuti oleh kakinya yang bergerak serupa. “Tadi Silas yang ngasih tau gue,” ucap Valdi membuka percakapan yang lebih tenang. “Pas Silas lagi jemput Heidy di kampus, dia ngeliat lo berduaan sama Haerin,” lanjutnya. “Jadi, selama ini, lo balik lagi sama Haerin, Gav?” tanya Valdi.
Gavin mengusap wajahnya kasar. Sejenak, ia menatap Silas dengan tatapan yang Silas sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Lalu, Gavin melangkah menuju tempat Valdi duduk untuk kemudian berdiri tegap di hadapan sang sahabat. “Udah dibilangin gue nggak selingkuh, Val, apalagi sama Haerin,” ulangnya.
Valdi menundukkan pandangannya. “Kurangnya Vallerie apa sih, Gav?” tanya lelaki tampan itu untuk kemudian mengangkat kembali pandangannya. “Apa kurangnya Vallerie? Sampe lo harus balik lagi sama mantan lo itu?” tanya Valdi bertubi-tubi.
“Gue harus bilang berapa kali sih, Val? Gue beneran nggak selingkuh sama Haerin,” jelas Gavin. “Lo tau sendiri Haerin orangnya gimana,” ujarnya.
Valdi menggelengkan kepalanya. “Nggak,” ucapnya. “Gue nggak percaya,” tegas lelaki tampan itu. “Udah terlalu banyak bukti konkret yang sesuai sama alibi lo selama ini,” ujar lelaki berwajah tegas itu.
“Val,” panggil Gavin. Ia mendudukkan dirinya di samping sang sahabat. “Gue harus gimana biar lo percaya sama gue?” tanyanya serius. “Gue nggak selingkuh sama Haerin,” jelasnya.
“Lo gila,” umpat Valdi. “Haerin gila,” lanjutnya. “Kalian berdua memang cocok karena SAMA-SAMA GILA!”
Seluruh yang hadir di dalam markas besar The Coast pada sore menjelang malam hari itu terlihat sangat tegang. Bahkan Arion, Jasper, dan Silas yang tidak terlibat langsung dalam pertengkaran antara vokalis dan gitaris itu terlibat lebih tidak santai. Gavin berusaha keras menjelaskan semua yang perlu dijelaskan. Sedangkan, Valdi menepis mentah-mentah semua usaha keras Gavin dan penjelasannya.
“Lo nggak usah dateng ke rumah gue lagi,” jelas Valdi. “Apalagi ketemu sama Vallerie,” sambungnya.
“Nggak bisa gitu, Val,” ucap Gavin tidak terima. “Gue juga harus jelasin semuanya ke Vallerie,” jelasnya.
“Lo nggak perlu repot-repot jelasin apa-apa ke Vallerie,” balas Valdi. “Gue nggak mau ngeliat Vallerie disakitin terus sama lo,” tambahnya.
Di sela-sela perdebatan panas itu, Arion merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi sebab sebuah notifikasi. Sepasang mata drummer dari The Coast itu membelalak sempurna kala indera penglihatannya menangkap sebuah berita yang diunggah oleh sebuah akun di salah satu media sosial kampusnya. Arion menyenggol bahu teman-temannya, Jasper dan Silas, untuk ikut membaca unggahan tersebut.
“Val,” panggil Arion. Namun, yang dipanggil namanya tidak mengindahkannya.
Akhirnya, Jasper, yang memiliki suara paling dalam di The Coast, angkat bicara. “Valdi,” panggilnya.
“Apa?!” jawab Valdi tidak santai sembari sedikit menoleh ke sumber suara. “Lo nggak bisa liat gue lagi ngapain?!” bentaknya.
“Berantem lo sama Gavin dijeda dulu,” kata Jasper.
“Lo harus liat ini,” tambah Silas sembari menyerahkan ponsel miliki Arion yang sedang dipegangnya.
Valdi menarik ponsel tersebut dengan kasar. Sepasang bola matanya—yang apabila sedang tersenyum terlihat seperti bola pingpong—kini membelalak. Ia membaca baris demi baris kalimat dalam bentuk thread yang membahas tentang sang sahabat. Jika biasanya Gavin muncul dengan berbagai prestasi di kanal berita kampus atau bahkan nasional tetapi saat ini wajah lelaki tampan itu disandingkan dengan judul berita yang berkonotasi negatif.
“Kenapa?” tanya Gavin yang penasaran.
“Lo liat aja sendiri,” jawab Jasper. “Ada di thread akun Twitter kampus kita,” sambungnya.
Gavin merogoh saku celana denimnya. Ia membuka unggahan yang dimaksud oleh teman-temannya. Serupa seperti Valdi, Gavin menelisik satu demi satu kisah yang mengandung namanya. Ada banyak ekspresi yang ditunjukkan oleh wajah tampan Gavin dan Valdi sampai akhirnya mereka selesai membaca cerita itu secara bersamaan. Gavin melirik satu per satu temannya.
“Gav.” Valdi mendahului teman-teman untuk membuka percakapan—selain tentang perselingkuhan, Haerin, dan Vallerie—bersama Gavin.
Kata demi kata, baris demi baris, dan paragraf demi paragraf Gavin baca dengan saksama. Genggaman tangannya pada ponsel di tangan kanannya semakin mengeras kala indera penglihatannya menangkap berita tentang seorang Ketua BEM Fakultas Ekonomi dengan inisial GP diduga menyelundupkan dana annual project dari organisasi fakultas. Gavin sangat amat sadar bahwa sosok GP yang dimaksud adalah dirinya.
Gavin menghela napas panjang untuk kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. “Ini apalagi coba,” ucapnya frustasi.
Arion dan Jasper mengangguk bersamaan menyetujui pernyataan yang barusan Valdi lontarkan. “Tapi Heidy bilang sama gue kalau semua persiapannya lancar dan nggak ada kendala biaya sama sekali, Gav,” sahut Silas.
Gavin yang sedari tadi pandangannya menatap dinginnya lantai dengan berbagai kenangan, terutama saat The Coast melakukan latihan bersama, mulai mengangkat wajah tampannya perlahan. “Haerin,” katanya menyebutkan satu nama. “Ini semua ulahnya Haerin,” tegas Gavin.
Arion, Jasper, dan Silas menganga mendengar pengakuan yang Gavin sampaikan. Namun, Valdi terlihat biasa saja karena mungkin dirinya sudah tidak asing dengan tingkah wakil dari sahabatnya itu.
“Haerin lagi, Gav?!” tanya Arion.
Gavin mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan temannya itu. “Gila!” umpat Gavin. Akhirnya, sebab lelah yang melanda raga dan jiwanya, Gavin lebih memilih duduk di atas sofa yang ada di dekatnya. “Mau gimana lag?” ucapnya dengan nada pasrah. “Sekalinya lo berurusan sama orang gila, nggak orang gila itu pergi dari hidup lo,” jelas lelaki tampan itu.
“Lo harus lapor ke Kaprodi,” ucap Valdi. “Ke Rektor sekalian kalau perlu,” tambahnya.
“Kebetulan,” sela Silas. “Lo dicari sama Kaprodi,” ucapnya. “Lo juga disuruh ngadep ke Gedung Rektorat.” Informasi yang disampaikan Silas sukses membuat semua netra mengarah ke padanya, kecuali Gavin. Ada tatapan sinis yang dilayangkan Valdi yang mengisyaratkan bahwa timing yang dipilih Silas sangat tidak tepat dan seolah semakin menyudutkan Gavin yang tengah tertimpa masalah bertubi-tubi. “Gue cuma ngasih tau,” bisik Silas.
Gavin kembali menghela napasnya. Namun, kali ini, lebih dalam dan panjang. “Lo kalau mau lanjut gebukin gue nggak apa-apa, Val, biar sekalian,” kata Gavin tiba-tiba. “Abis ini, gue mau ketemu sama Pak Puji,” lanjutnya.
BRAKKK!
Di sela-sela atmosfer yang menegangkan itu, tiba-tiba saja suara pintu yang dibanting terdengar memekik. Gavin, Valdi, Arion, Jasper, dan Silas menengok ke arah pintu masuk utama. Ada sesosok gadis yang kedua tangannya tertumpu pada masing-masing lututnya selagi tangan kanannya mengelus dadanya yang terasa sesak. Gavin kenal dengan gadis itu. Ia menghampiri gadis tersebut dan menatapnya heran.
“Aletha?” panggilnya.
“Gav,” balas gadis itu. “Anjing!” umpatnya kemudian. “Gue udah lari jauh banget sampe ke belakang ternyata HQ The Coast ada di sini,” jelasnya dengan napas yang tersengal.
“Lo ngapain di sini, Tha?” tanya Gavin.
“Ya, bantuin lo lah!” jawab gadis itu tak santai. ”Gue udah ngadep ke Pak Puji, ke Rektor juga,” ujarnya.
“Maksudnya?” tanya Gavin polos.
“Lo Ketua BEM tapi agak tolol, ya, Gav,” umpat Aletha masih dengan napasnya yang tersengal.
“Bisa nggak? Nggak usah mencela gue dulu,” pinta Gavin. “Jelasin maksud lo yang tadi,” lanjutnya.
“Gue udah klarifikasi ke Pak Puji tentang thread yang ada di akun Twitter kampus kita,” jelas Aletha. “Gue juga udah minta tolong ke Pak Puji untuk ngejelasin semuanya ke Rektor karena gue mau nemuin lo di sini,” sambungnya.
Gavin menghela napas panjang untuk ke sekian di hari ini. Ia sampai tidak tahu lagi harus berperilaku dan berperasa seperti apa. “Kenapa lo mau repot-repot bantuin gue?” tanyanya. “Gue bisa jelasin sendiri ke Pak Puji, ke Rektor juga.”
Mendengarnya, Aletha memutar bola matanya. “Berhenti seolah-olah lo nggak butuh orang lain, Gav,” ujarnya. “Gue ini Bendahara lo. Memangnya lo pikir gue bisa tidur apa? Dengan mengetahui fakta kalau lo ganti uang yang diselundupin sama Haerin sampe ratusan juta itu,” jelasnya lagi. “Sendirian pula.”
Semua yang ada di sana, terutama Valdi, menganga dengan hebat setelah mengetahui nominal kerugian yang harus Gavin tanggung secara pribadi. Valdi memang mengetahui tabiat buruk Haerin karena pada dasarnya mereka bertiga, Gavin, Valdi, serta Haerin, berada di sekolah yang sama semasa Sekolah Menengah Atas. Namun, untuk kasus yang satu ini, menurut Valdi sangatlah… bahkan Valdi sendiri tidak dapat menjelaskan dengan kata-kata.
Valdi berjalan menghampiri sahabatnya. Ia mengusap pelan bahu lebar sahabatnya. “Lo kenapa nggak bilang ke gue sih, Gav?” tanyanya.
“Gue nggak bisa, Val,” jawab sang sahabat. “Gue nggak bisa ngebebanin lo lagi,” lanjutnya.
“Lo nggak ngebebanin apa-apa ke gue dan semua yang ada di sini,” jelas Valdi.
“Gimana kita mau bantu lo kalau lo aja nggak bilang kalau lo lagi ada masalah, Gav?” sela Jasper.
“Nggak usah kayak orang baru kenal kemaren kali, Gav,” tambah Arion.
“Kita semua di sini temen lo,” final Silas.
“Gue bukan, ya, ” ucap Aletha tiba-tiba. Seluruh pasang mata yang ada di sana melirik ke arah sumber suara. “Gue masih trauma, Gav, dilabrak sama Haerin gara-gara gue dianter pulang sama lo,” jelasnya. “Padahal, Vallerie yang pacar lo aja nggak masalah.”
Kala ada satu nama yang disebut, Gavin langsung memejamkan matanya. Seketika, ia mengingat momen-momen bahagia bersama kekasihnya itu, di mana beberapa waktu belakangan ini, momen-momen bahagia yang ada mulai tergantikan dengan perdebatan dan pertikaian ala sepasang kekasih. Gavin merindukan Vallerie dan ia harap gadis cantik itu juga merasakan hal yang sama.
“Lain kali, gue aja yang anter pulang,” tukas Jasper tiba-tiba untuk merespon penjelasan dari Aletha.
Kali ini, semua manik tertuju pada Jasper. Kalimat yang diucapkannya sukses membuat teman-temannya menyeringai sebab mengetahui Jasper yang dikenal sebagai sang pemangsa wanita dari fakultas hukum telah kembali. Namun, Aletha, yang diberi respon seperti itu tidak dapat berbuat banyak, kecuali tersenyum masam. Pasalnya, gelar yang disandang Jasper terlalu melekat pada dirinya sehingga banyak perempuan yang merasa enggan untuk dekat dengannya.
“Nggak dulu deh,” balas Aletha. “Gue duluan, ya, Gav. Gue mau balik ke kampus,” finalnya.
“Ini…,” kata Jasper tertahan. “Gue ditolak, ya?” tanyanya kemudian.
“Iya,” jawab Arion secara gamblang. “Ditolak mateng-mateng,” celetuknya.
“Gav,” panggil Valdi tanpa memalingkan kedua netranya dari layar ponselnya. Kemudian, Valdi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana denimnya. “Lo ditanyain sama Vallerie,” ucapnya.
Mengetahui Valleri menanyakan keberadaannya, Gavin senang bukan kepalang. Apabila tidak ditahan, mungkin lelaki tampan itu sudah melompat ke sana ke mari bak kelinci gila. Ia menggenggam sepasang lengan sahabatnya itu dengan keras dan berkata, “Gue izin ketemu sama Vallerie, ya, Val.” ucapnya. “Gue mau jelasin semuanya ke dia,” jelas Gavin.
Valdi mengangguk sebagai jawaban. “Sana,” jawabnya.
Sepersekian detik kemudian, Gavin melengang dengan cepat dari markas besar The Coast itu. Ia berlari menuju gedung parkir untuk mengambil kembali mobilnya dan bergegas menemui kekasihnya. Gavin tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di halaman rumah mewah tersebut. Kini, lelaki tampan itu sudah berdiri di ambang pintu utama. Ia hendak mengetuk daun pintu berwarna putih itu kala aksinya didahului oleh seseorang.