señorita
Sesuai aplikasi navigasi yang ada di ponselnya, Ranie memasuki sebuah gedung yang diduga menjadi tempat Thomas berlatih.
Bangunan baru, jika gadis cantik itu telisik lagi. Kaki jenjangnya satu per satu menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai 3.
Di lantai tersebut, di ujung lorong, Ranie berbelok ke kanan untuk kemudian berhenti di depan ruangan paling sudut di sana.
Ranie mengetahui itu ruang latihan milik rekannya yang bernama Thomas Antonio. Setidaknya, nama yang menurutnya tampan itu terpampang jelas di depan daun pintunya.
Perlahan, Ranie mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu. Kala dirinya memasuki ruangan tersebut, suara musik yang sangat mendentum menguar di indera pendengarannya.
Thomas tengah berlatih pada malam itu sehingga tidak menyadari kedatangan teman barunya. Ya, setidaknya sampai lelaki manis itu menoleh ke arah cermin.
“Eh, Ranie, ya?” tanya Thomas seraya mematikan musik dari ponselnya yang tersambung dengan speaker besar di ruangannya.
“Iyaa, Tom. Gua Ranie,” ucap gadis cantik itu sembari mengulurkan tangannya.
Sebelum menyambut uluran tangan sang gadis, Thomas terlebih dahulu menyeka keringat yang berkumpul di tangannya menggunakan handuk kecil.
“Thomas. Sorry, ya, gua lagi latihan, nih,” jawabnya ramah.
“Ranie. Iyaa, gak apa-apa, kok, Tom,” balas Ranie.
“Coach Sandra kasih arahan apa aja ke lo? Biar gua bisa bantu sesuai arahannya,” tanya Thomas to the point.
Lelaki manis itu masih sibuk mengelap guyuran keringat di seluruh tubuhnya. Sepertinya, Thomas benar-benar berlatih dengan keras.
Lihat saja, bahkan Ranie dapat melihat dengan jelas otot perut yang tercetak dari balik kaos putih yang lelaki manis itu kenakan.
Sempat terpukau dengan pemandangan yang tersaji di depannya, akhirnya gadis cantik itu kembali pada kesadarannya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Thomas, lelaki manis itu tentu saja menyadarinya. Sembari membuang handuk putihnya ke sembarang arah, ia terkekeh kecil.
“Coach Sandra gak ngasih arahan pasti, sih, ke gua. Dia ngerekomendasiin cabang dance ini ke gua soalnya gua gak punya waktu banyak buat latihan. Terus, cuma cabang dance ini yang nyedian beasiswa masuk kampus khusus seni,” jelas Ranie.
Mendengarnya, Thomas menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Oke, gua paham. Lo udah punya gambaran mau couple dance yang kayak gimana?” tanyanya lagi.
Ranie menggelengkan kepalanya. “Belom, sih. Gua belom kepikiran,” jawabnya santai.
Thomas menjentikkan jarinya. “Oke, kalo gitu kita langsung aja. Gua tadi udah riset beberapa couple dance dari klub dance nasional. Kita bisa pake beberapa buat inspirasi,” ujar lelaki manis itu.
Setelahnya, sepasang penari itu berlalu ke arah meja yang di atasnya terletak sebuah laptop yang masih menyala. Thomas memperlihatkan beberapa video yang dapat menjadi referensi bagi keduanya.
Ranie dengan seksama menyaksikan beberapa cuplikan yang Thomas tunjukkan padanya. Walaupun malam semakin larut, keduanya tidak berhenti untuk berdiskusi.
Setidaknya, malam ini, mereka berdua harus sudah menemukan lagu dan gerakan dasar dari tarian yang ingin ditampilkan di kompetisi nanti.
“Tom, menurut lo lagu yang lagi booming sekarang untuk couple dance itu lagu yang kayak gimana?” tanya Ranie pada lelaki manis di sebelahnya.
“Kalo gua sempet cek, sih, tadi tuh, gak masalah apa genre musik yang lo pake, tapi yang penting itu lo sama pasangan lo bisa menghayati lagu sama gerakannya. Kenapa? Lo ada ide buat lagunya?” balas Thomas dengan kembali bertanya.
Ranie mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya beberapa kali. “Gua ada kepikiran satu lagu, sih,” ujarnya.
“Apa tuh?” tanya lelaki manis itu sembari menolehkan pandangannya.
“Senorita. Lagunya Shawn sama Camilla,” singkat Ranie.
“Lagu pilihan lo boleh juga,” puji Thomas.
Mendengarnya, Ranie mengulas senyum. “Bisa aja lo, Tom,” balas gadis cantik itu.
“Ih, enggak, Ran. Gua serius. Itu lagu ketukannya teratur. Kita bisa lebih mudah buat gerakannya,” ujarnya.
Ranie menganggukan kepalanya setuju. “Lo bener, sih, Tom. Kita jadinya pake lagu ini aja?” tanyanya meyakinkan.
Thomas menganggukan kepalanya. “Ya, kalo lo mau? Gua setuju, kok,” jawabnya.
“Yaudah. Kita pake lagu ini aja,” final Ranie.
“Oh, ya, Ran,” sela Thomas. “Kebetulan gua tau orang-orang yang jadi juri di kompetisi itu nanti, soalnya mantan coach gua juga dulu,” sambungnya.
“Oh, gitu? Bagus dong. Kita bisa jadi tau kriteria penilian dari mereka,” tegas gadis cantik itu.
Lagi, Thomas menjentikkan jarinya. “Itu yang mau gua kasih tau ke lo. Gua dari awal harus warning ke lo kalo mereka suka dancer yang banyak skinship-nya, soalnya menurut mereka makin banyak sentuhan bakal makin kebangun chemistry-nya,” jelasnya.
Mendengarnya, Ranie menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Lo tau banyak, ya, Tom. Lo udah lama, ya, jadi dancer?” tanyanya.
“Kalo suka dance gua emang dari kecil udah suka dance. Tapi, kalo jadi dancer kayaknya baru 7 tahunan deh,” jawabnya seraya membuka aplikasi musik di laptopnya.
Sontak, gadis cantik itu menutupi mulutnya yang menganga. “Itu udah lama banget, Tom,” ucapnya.
“Ya, tapi gak bisa menjamin pengalaman gua lebih banyak dari pada lo, Ran. Gua denger dari Coach Sandra, katanya lo sering banget ikut kompetisi,” balas Tom setelah menyambungkan perangkat laptopnya dengan pengeras suara.
“Gua mau gak mau, sih, sebenernya. Gua gak mau hidup gua dijalanin dengan berat hati. Jadinya, gua buat hobi gua biar bisa ngehasilin uang,” jelas Ranie.
Setelahnya, keduanya melangkahkan kaki menuju ke tengah ruangan luas. Berdiri di hadapan cermin secara berdampingan.
“Bener kata Coach Sandra, lo orang baik, Ran. Pokoknya kita harus menang biar lo bisa masuk ke kampus seni pake beasiswa itu,” ujar Tom.
Tidak lupa lelaki manis itu menyunggingkan senyumnya. Melihatnya, hati Ranie terasa menghangat. Ia sangat bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik di kehidupnnya saat ini.
Sesaat lagu dimulai, sepasang penari itu mulai merancang gerakan-gerakan yang sekiranya sesuai dengan ketukan dari lagu yang dipilih.
Tentunya, sesuai direksi awal dari Thomas, keduanya menggunakan banyak sentuhan fisik dalam tarian mereka.
Kini, lelaki manis itu tengah berdiri di belakang sang gadis dengan Ranie yang merentangkan tangannya ke samping kiri dan kanan.
“Nah, pas masuk beat ini, nanti gua muter ke belakang lo. Terus tangan kanan gua ada di pundak lo, tangan kiri gua ada di pinggang lo. Dari sini, lo tinggal ikutin gerakan gua aja, Ran,” jelas Tom.
Ranie menganggukan kepalanya beberapa kali, tanda mengerti. Dengan begitu, keduanya kembali melanjutkan gerakan yang sempat tertunda.
Lagi dan lagi. Ranie dan Thomas tidak berhenti untuk bergerak mengikuti irama musik yang mengiringi langkah mereka.
Tanpa disadari, jam sudah menunjukkan pukul tengah malam. Sebagian ruangan di gedung itu terlihat gelap sebab lampunya yang padam.
“Ran, istirahat dulu, yuk,” ajak Thomas.
“Boleh,” balasnya.
Akhirnya, setelah merancang gerakan dengan durasi hampir setengah lagu, sepasang penari itu mengistirahatkan diri masing-masing.
Sekarang, keduanya tengah mengambil posisi duduk di atas sofa yang tidak terlalu besar yang terletak di sudut ruangan.
“Lo gak capek, Ran?” tanya lelaki manis itu setelah meneguk sebotol penuh air mineral.
Ranie menggelengkan kepalanya. “Enggak,” santainya sembari mengipas-ngipas bagian lehernya dengan tangannya.
“Boleh juga stamina lo,” puji Thomas, lagi.
“Emangnya lo capek, Tom? Enggak juga ‘kan,” sergah Ranie.
Mendengarnya, Thomas terkekeh. Jika ia boleh berpendapat, sejauh karirnya di dalam dunia seni tari, baru kali ini ia menemukan sosok seperti Ranie dalam hidupnya.
Gadis cantik dengan tekad yang kuat dan disertai dengan usaha yang keras. Thomas benar-benar mengapresiasi niat dan upayanya.
Entah mengapa, manik selegam malamnya tidak ingin berhenti untuk menatap objek cantik di sebelahnya. Tentunya, Ranie menyadari hal itu.
“Lo kenapa, Tom? Jelek banget, ya, gua kalo lagi keringetan,” ujar Ranie diakhiri tertawa renyah.
“Gila lo, Ran,” jawab Thomas juga diiringi dengan tawaan. “Mana ada lo jelek. Lo cantik banget malah pas lagi keringetan. Aura seksinya lebih keluar,” lanjutnya.
Ranie, gadis cantik itu tertawa puas dengan sanjungan yang Thomas ucapkan padanya. “Beneran, nih? Bagus dong. Karisma gua jadi lebih keluar pas nari,” katanya.
Setelahnya, gadis cantik itu menyambar botol minum miliknya untuk kemudian meneguk isinya perlahan sampai habis.
Jangan tanya, hanya dengan pemandangan leher putih nan jenjang itu, Thomas sudah tergoda hatinya.
Lelaki manis itu berdehem untuk menormalkan rasanya. Namun, tiba-tiba saja sekelibat ide terlintas di dalam otaknya yang terkenal cerdik.
“Ran,” panggil Thomas.
Yang dipanggil namanya hanya berdehem singkat seraya tangannya bergerak untuk meletakkan kembali botol minumnya di atas meja kayu.
“Lo mau gua kasih tips biar gerakan dance kita lebih dapet chemistry-nya gak?” tanya lelaki manis itu.
Mendengarnya, Ranie menganggukan kepalanya semangat. “Mau lah, Tom. Ayo sharing tips-nya, secara lo ‘kan dancer profesional,” pujinya.
“Sini lo deketan ke gua,” perintahnya.
Tanpa rasa ragu sedikit pun, gadis manis itu menggeser posisi duduknya agar mendekat pada sang rekan kerja.
“Kurang deket, Ran,” ucap Thomas.
Menurut pada perkataan lelaki manis itu, Ranie kembali memindahkan posisi duduknya. Kali ini, lebih dekat.
“Kayaknya kalo duduk gini doang agak kurang deh. Coba lo duduk di pangkuan gua, Ran,” enteng lelaki manis itu.
Ranie sempat terhenyak dengan permintaan Thomas. Namun, kembali pada tujuan awal. Niatnya hanya bekerja sama dengan lelaki manis itu untuk memenangkan kompetisi.
“Nah! Kalo gini pas rasanya,” jelas Thomas.
Kening gadis cantik itu mengernyit kala indera pendengarannya menangkap stimulus asing berupa ucapan aneh yang dilontarkan Thomas.
Tetapi, Ranie tidak ingin ambil pusing. Tentunya, lelaki manis lebih tahu bagaimana cara menyusun strategi yang bijak.
Ya, sampai setidaknya keinginan Thomas berikutnya mampu membuat sepasang manik selegam senjanya membulat.
“Kalungin tangan lo ke leher gua,” tegasnya.
Bias suara yang merdu nan ramah itu entah mengapa rasanya berubah menjadi kian menarik dan menggoda. Terdengar dalam dan mengintimidasi, menurut Ranie.
Dengan gerakan ragu, gadis cantik itu menyatukan sepasang lengan kurusnya untuk mengalungi bahu lebar milik Thomas.
“Sebenernya kita mau ngapain, sih, Tom?” tanya Ranie dengan suaranya yang sedikit bergetar karena rasa takut.
Thomas mengangkat pandangannya sembari menampilkan seringai andalannya. Manik indahnya menelisik setiap inci wajah cantik di hadapannya, terutama pada belahan bibir yang terlihat begitu ranum.
“Lo diem aja, ikutin permainan gua,” singkatnya.
“Maksud—“
Belum sempat Ranie merampungkan kalimatnya, Thomas sudah menyerangnya dengan ganas. Lelaki manis itu menyatukan bibirnya dengan bibir rekan kerjanya.
Ranie yang mendapat serangan tiba-tiba tentunya ingin mengelak. Namun, Thomas menahan tengkuknya untuk kemudian mendorongnya agar memperdalam ciuman mereka.
Ini gila. Apa yang ada di benak seorang Thomas Antonio pada tengah malam kala itu? Apa yang mampu membutnya bertindak gegabah seperti itu?
Menurut Thomas, jawabannya hanya satu. Ya, apalagi kalau bukan Ranindhya Alister Dhanurendra itu sendiri.
Melihat bagaimana persona gadis cantik itu serta gerakannya yang lihai saat menari. Belum lagi, satu pasang pakaian ketat yang bahkan tidak menutupi setengah tubuhnya.
Bagaimana Thomas tidak tahan jika disuguhkan pemandangan seperti itu? Seumur hidupnya, lelaki manis itu tidak pernah terangsang dengan rekan kerjanya, kecuali Ranie.
Setelah dirasa sang gadis mulai kehabisan oksigen, Thomas mengakhiri sesi bertukar saliva sepihaknya. Ranie bangkit dari posisi duduknya di atas pangkuan lelaki manis itu.
“Thomas!” pekik Ranie. “Lo apa-apaan, sih?! Lo gila, ya?!” bentaknya.
Thomas mengusap bibirnya yang basah menggunakan ibu jarinya. Ia kembali menyeringai seram.
“Kan gua bilang gua mau kasih tips buat bangun chemistry kita. Katanya lo mau menang. Iya ‘kan, Ran?” tanya Thomas menggoda.
“Lo gila, Tom. Gua berhenti,” final Ranie.
Gadis cantik itu hendak meninggalkan ruang latihan setelah mengambil handuk, botol minum, serta tas selempangnya saat sebuah tangan menghentikan pergerakannya.
Thomas menggenggam sebelah lengan Ranie untuk kemudian menghempaskan tubuh ringkih tapi kuat itu kembali ke atas sofa.
Mendapat perlakuan demikian, Ranie menatap sinis pasangannya. Namun, Thomas bukannya berhenti, ia malah semakin bergairah.
“Gua bilang kita harus menangin kompetisi ini ‘kan, Ran. Ikutin apa kata gua, kita pasti menang,” jelas Thomas.
Posisi lelaki manis itu saat ini tepat berada di atas tubuh mungil Ranie. Thomas mengungkung tubuh rekan kerjanya.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke sebelah telinga gadisnya. “Trust me, Ran. We will get our chemistry well-built,” ujar Thomas.
Bias suara sedalam palung itu seolah mantra hitam bagi Ranie. Lihat saja, gadis cantik itu benar-benar tidak berkutik setelahnya.
Thomas sedikit menegakkan tubuhnya. Lelaki manis itu melempar kaos putih yang sudah basah dibanjiri oleh keringatnya ke sembarang arah.
Sekarang, sepasang manik selegam senja itu tengah menyaksikan secara nyata otot tubuh yang terpatri pada tubuh atletis milik Thomas.
Melihatnya, lelaki manis itu terkekeh puas. “Like what you see, girl?” ucapnya sensual.
Ranie menelan ludahnya susah payah. Maniknya mengerjap beberapa kali sebelum memandang ke sembarang arah.
Selanjutnya, Thomas kembali memposisikan tubuhnya di atas Ranie. Kedua lengannya ia gunakan untuk menopang bobot tubuhnya.
“Nghhh,” desahan Ranie tertahan.
Saat Thomas menjilat daun telinganya. Gadis cantik itu memejamkan maniknya dengan sangat erat. Tangannya meremas sofa yang ia tiduri.
Sungguh, hanya dengan jilatan dan sesekali gigitan yang dilakukan Thomas sukses membut libido gadisnya ikut naik.
Perlahan namun pasti, lelaki manis itu menciumi seluruh wajah Ranie dan berakhir pada belahan manis yang menjadi candu buatnya.
Berbeda dengan sebelumnya, Ranie tidak melawan saat ini. Justru gadis cantik itu ikut menikmati permainan dari sang rekan kerja.
“Ahhh,” lenguhannya lolos.
Kala ciumannya pada bibir itu beralih turun pada leher dan bagian dadanya yang sedikit terekspos. Thomas meninggalkan beberapa tanda khas kenikmatan di sana.
Seolah tidak sabar, lelaki manis itu merobek baju olahraga gadisnya. Tentu saja, Ranie tidak terima akan hal itu. Ia sangat menyukai pakaiannya yang satu ini.
“Gila lo, Thomas! Baju gua!” sergahnya.
“Nanti gua beliin lagi,” santai lelaki manis itu.
“Bukan itu, Tom. Gua pulangnya gimana?” tanya Ranie cemas.
“Ada baju gua,” entengnya.
Napas lelaki manis itu menggebu bak diburu napsu. Memang demikian, bahkan sepasang gunung sintal itu masih terbalut oleh sport bra tetapi seolah Thomas tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
“Ahh, Tom,” lirih Ranie.
Saat Thomas tiba-tiba meremas kedua payudaranya. Gadis cantik itu menengadahkan kepalanya ke arah atas.
Sialan! Ranie tidak akan mengira membangun chemistry dengan rekan kerjanya akan terasa senikmat ini.
Mendengar desahan yang mengandung namanya, tentu saja Thomas merasa sangat puas. Tetapi ia tidak mau berhenti di sini. Ia ingin meminta dan memberi lebih.
Kali ini, Thomas dengan lembut membantu gadisnya untuk melepas sport bra yang melindungi gunung sintalnya.
“Thomas!” pekik gadis cantik itu.
Lelaki manis itu dengan cepat melahap sebelah payudara gadisnya. Sementara tangannya yang terbebas bergerak memijat lalu sesekali memilin ujung payudara Ranie.
Ranie meracau kenikmatan. Selama ini, gadis cantik itu terlalu fokus pada hidupnya sehingga melupakan fakta bahwa ia juga butuh hiburan semacam ini.
Mungkinkah bertemu dengan Thomas Antonio adalah sebuah anugerah baginya? Jika boleh egois, Ranie ingin terus bertemu dengan temannya ini bukan hanya perilah dansa saja.
Thomas tahu permainannya membuat sang gadis semakin gila. Lihat saja, lelaki manis itu semakin gencar memainkan sepasang payudara yang mulai saat ini akan menjadi kesukaannya.
“Nghh ahhh,” desahannya tak tertahan.
Setelah cukup puas bermain dengan gunung sintal di atas sana, kini Thomas ingin mencoba aset cantik lainnya.
Lelaki manis itu kini membubuhi perut rata gadisnya dengan banyak ciuman dan tanda kepemilikan sembari tangannya bergerak membuka celana legging milik Ranie.
Thomas tersenyum puas kala maniknya menangkap pakaian dalam yang berwarna cerah itu sudah lembap sebab ulahnya.
Lelaki manis itu mengangkat sebelah kaki gadisnya untuk bertengger pada bahunya. Ia gunakan jarinya untuk mengusap vagina indah itu dari bagian luar.
“Tom, ahh,” racau Ranie.
“Enak, Ran?” tanya Thomas menggoda.
Sebenarnya, Ranie ingin mengumpat pada lelaki manis di hadapannya ini. Apakah perlu ia menanyakan hal konyol seperti itu?
Jika Ranie tidak menikmatinya, mana mungkin ia berkenan untuk melanjutkan permainannya bersama Thomas.
Walaupun begitu, Ranie menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban. Melihatnya, Thomas tersenyum.
Sepersekian detik kemudian, lelaki manis itu menciumi lalu menjilat dan sesekali menggigit pelan paha bagian dalam gadisnya.
“Ahhh,” lirihnya.
Ranie dibuat semakin menggila olehnya. Thomas menyempatkan diri menciumi vagina gadisnya dari luar sebelum melucuti kain terakhir yang menempel pada tubuhnya.
“Gua buka, ya, Ran?” tanya Thomas meminta izin.
Lagi, gadis cantik itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan begitu, Thomas menanggalkan pakaian dalam berwarna baby pink milik gadisnya.
“Thomas!” pekik Ranie lagi.
Kala secara sengaja lelaki manis itu melesatkan dua buah jarinya untuk masuk ke dalam milik gadisnya. Ranie menggigit bibir bagian bawahnya.
Thomas sengaja membiarkan jari tengah dan jari telunjuknya untuk berdiam diri sejenak di dalam vagina gadisnya.
“Move it, please, Tom,” pinta Ranie.
Baru setelah mendengar permohonan itu, Thomas menggerakkan jarinya perlahan. Gerakan tangan itu mampu membuat Ranie terbang ke langit.
Buktinya, Ranie tidak berhenti mendesahkan nama rekan kerjanya sejak tadi. Belum lagi saat Thomas menaikkan tempo kecepatannya.
“Thomas, ahh,” lirihnya.
“Seems you really like our session in building our chemistry, ya, Ran,” jelas Thomas.
Ranie tidak mampu lagi menjawab. Dirinya kini sudah dikuasai rasa nikmat yang tak tertandingi.
Tanpa sadar, gadis cantik itu ikut menggoyangkan pinggulnya pelan selaras dengan tempo permainan jari yang dilakukan Thomas.
“You’re gonna like this one, Ran,” ujar lelaki manis itu.
“Ahh, Tom!” pekiknya lagi dan lagi.
Ranie dibuat merasakan sesuatu paling nikmat yang pernah ia rasakan kala benda kenyal itu ikut menerobos masuk ke dalam vaginanya.
Gadis cantik itu bersumpah di dalam hatinya bahwa Thomas benar-benar membuatnya gila pada malam menjelang pagi hari ini.
Semua permainan yang dilakukan lelaki manis itu membuatnya merasakan surga duniawi. Lihat saja, sebentar lagi gadis cantik itu akan mencapai pelepasannya.
“Tom, nghh, gua pengen, ahh, pipis,” jelasnya susah payah.
Mendengarnya, Thomas semakin menaikkan tempo permainannya di bawah sana. Dan benar saja, tak lama setelahnya, Ranie menjemput pelepasannya.
“Thomas!” teriak Ranie.
Gadis cantik itu berhasil meraih titik ternikmat yang pernah ia alami. Napasnya menggebu. Tubuh polosnya yang menggelinjang mulai meluruh.
Serupa dengan Ranie, seluruh tubuh Thomas juga dibanjiri oleh keringat. Namun, terselip rasa puas di dalam dirinya sebab telah memanjakan gadisnya.
Thomas merangkak naik untuk menyeka keringat yang mengaliri wajah cantik gadisnya. Lelaki manis itu memberi Ranie banyak kecupan, dari keningnya, pipinya, pangkal hidunya, dan yang terakhir pada belahan bibirnya.
Lelaki manis itu tersenyum, begitu juga dengan gadisnya. Ranie menangkup wajah tanpan di atasnya. Ibu jarinya bergerak mengusap sepasang pipi tirus itu.
“Gua rasa chemistry kita udah kebentuk utuh, deh, Tom,” guyonnya.
Mendengarnya, Thomas terkekeh. “Bisa aja lo, Ran,” jawabnya.
“Lo nekat, tapi gua suka cara lo,” balas Ranie.
“Iyaa, gua juga suka sama lo, Ran,” enteng Thomas.
Berbeda dengan Thomas, mendengar kalimat gombal itu, aliran darahnya berdesir cepat. Ranie membeku di tempatnya ia berbaring.
Lelaki manis itu bangkit dari posisinya untuk kemudian bergerak mengumpulkan kain pakaian yang berserakan di lantai ruang latihan.
“Balik, yuk. Lo butuh istirahat biar besok bisa latihan lagi,” ucap Thomas sembari mengulurkan tangannya pada Ranie.
Gadis cantik itu menyambut uluran tangan sang rekan kerja. Dengan bantuan Thomas, Ranie mengenakan kembali pakaiannya yang sempat tanggal.
“Sorry, ya, Ran. Kaki lo jadi gemeteran gini. Besok bisa latihan? Kalo gak bisa, libur dulu aja, gak apa-apa,” tawar lelaki manis itu pada gadisnya.
“Gua gak apa-apa, Thomas. Gua anggap ini sebagai latihan,” jawabnya diakhiri dengan kekehan.
“Yaudah, yuk, balik. Ke tempat gua aja, ya,” ajak Thomas.
Ranie, gadis cantik itu tidak ada pilihan lain selain mengiyakan tawaran sang rekan kerja. Lagi pula, hari terlalu larut untuk dirinya pulang ke apartemen.
“Sini, Ran. Gua gendong,” ucap Thomas.
“Eh, gak usah, Tom. Gua masih bisa jalan,” jawab Ranie sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
“Gua yang ngeri ngeliat lo jalan tapi gemeteran gitu. Udah sini, naik,” paksanya.
Pada akhirnya, malam larut menjemput pagi kala itu, Ranie berada pada gendongan rekan kerjanya.
Gadis cantik itu tidak menyangka kompetisi couple dance-nya pada kesempatan kali ini akan membawakannya banyak kejutan.
Iya, banyak kejutan itu bergabung menjadi satu. Kejutan oleh dari semesta untuknya berbentuk seorang Thomas Antonio.