<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>ttoguxnanaxranie</title>
    <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 14:11:09 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>The Apology</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/an-apology?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Apology&#xA;&#xA;Itu Valerie. Ia menatap sinis lelaki tampan yang tengah berdiri di depan pintu utama rumahnya. Valerie pindai kekasihnya itu dari kepala sampai kaki dan kembali ke kepala. Valerie sebisa mungkin mendeteksi apa niat dan maksud dari lelaki tampan yang beberapa pekan belakangan bersikap aneh dan seolah tidak memiliki kekasih di dunia ini. Jadi, sekalian saja, Vallerie jadikan kenyataan hasil dari tingkah polah lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Lo ngapain di sini?” tanya Vallerie tak santai.&#xA;&#xA;Gavin menyatukan kedua alisnya. “‘Lo?’” tanyanya. “Kamu marah sama aku, Val?” tanyanya lagi.&#xA;&#xA;Pertanyaan yang dilontarkan Gavin sukses membuat Vallerie memutar bola matanya jengah. “Lo beneran nanya kayak gitu ke gue, Kak?” balasnya dengan kembali bertanya. Vallerie masih menghormati mantan kekasihnya dengan menyisipkan kata sapaan ‘Kak’ di dalam kalimatnya. “Coba inget-inget lagi lo ngapain gue beberapa minggu belakang ini,” suruh gadis cantik itu. “Aneh,” gumamnya pelan.&#xA;&#xA;“Itu…,” penjelasan Gavin tertahan. “Makanya aku ke sini mau ngejelasin semuanya sama kamu,” ujarnya.&#xA;&#xA;Vallerie yang tadinya hanya berdiri di belakang pintu kini menguarkan tubuhnya dari balik sana. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari kembali menatap intens pada lawan bicaranya. Di sisi lain, kedua netra serupa kelinci itu memindai makhluk indah di hadapannya yang mengenakan house dress selutut berwarna biru muda. Gavin dibuat salah fokus dengan penampakan itu. Ia menelan salivanya perlahan.&#xA;&#xA;“Gini, ya, Kak Gavin Prawira, Ketua BEM Fakultas Ekonomi kita yang terhormat,” kata Vallerie mengucap nama lengkap beserta jabatan yang Gavin emban sekarang. “Lo ngejelasin apapun yang pengen lo jelasin sekarang pun nggak akan mengubah sedikit pun keadaan gue sama lo,” jelasnya.&#xA;&#xA;Gavin mengusap wajahnya kasar seketika eksplanasi singkat yang disampaikan oleh Vallerie seolah menjadi jawaban atas semua yang sudah terjadi antara dirinya dan gadis cantik itu. “Ini semua nggak seperti yang kamu pikirin, Vall,” sanggahnya. “Aku nggak selingkuh sama Haerin,” sambung lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Sebelum menjawab, Vallerie memusatkan tatapannya pada rangka wajah tampan yang sampai beberapa hari lalu masih menjadi kesukaannya. “Terus?” tanyanya. “Kalau memang lo nggak selingkuh sama wakil lo itu, tetep nggak ada gunanya lo ngejelasin apapun sama gue, Kak,” ujar gadis cantik itu. “Terlepas lo selingkuh atau enggak sama perempuan itu, tetep nggak mengubah fakta bahwa kemaren lo mengabaikan dan membohongi gue,” tegasnya. &#xA;&#xA;Gavin mulai panik. Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Vallerie padanya membuatnya sakit hati, bukan karena Vallerie salah melainkan karena Vallerie benar. Ia benar tentang semua rasa sakit yang Gavin berikan padanya selama beberapa pekan belakangan atau lebih lama dari yang dapat ia sangka. Gavin kembali mengingat bagaimana ia menyakiti Vallerie sebelumnya ini. Seolah-olah benar bahwa di dalam hubungan ini, Gavin lebih banyak menyakiti gadis cantik itu dibanding membahagiakannya. &#xA;&#xA;“Maaf, ya, Vall,” ucap Gavin. “Aku gagal ngejagain kamu,” pasrahnya kemudian.&#xA;&#xA;Sepasang lengan yang tadinya terlipat, kini terlihat meluruh. “Lo bukannya gagal ngejagain gue, Kak,” sela Vallerie. Ia mengangkat jari telunjuknya untuk memperjelas bahwa lawan bicaranya memang salah. “Lo salah karena lo udah bohong sama gue,” jelas gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Tapi aku nggak bohong sama kamu,” kata Gavin menunjuk dirinya sendiri. “Aku nggak selingkuh sama Haerin,” ucapnya sembari menunjuk ke arah angin seolah Haerin ada di dekatnya saat itu. &#xA;&#xA;“Oke, let’s says lo nggak selingkuh sama Haerin,” ujar Vallerie melengangkan kedua telapak tangannya di hadapannya mantan kekasihnya. “Tapi apa lo ada bilang sama gue kalo lo punya urusan sama perempuan itu?” tanyanya mengintimidasi. “Ada nggak, Kak? Lo bilang nggak sama gue? Kalau lo punya agenda kampus yang mengharuskan lo MESRA-MESRAAN sama perempuan itu,” tanya gadis cantik itu lagi. “Nggak ‘kan?!”&#xA;&#xA;Gavin menghirup dan menghela napas dengan panjang. Otaknya terus-menerus menegaskan bahwa semua yang dikatakan oleh Vallerie adalah benar. Kesalahan Gavin hanyalah tidak menjelaskan secara terbuka apa yang terjadi antara dirinya dan Haerin. Padahal, Gavin tahu bahwa Vallerie tidak akan mengekang pergerakannya dan bisa jadi ia justru mendukung semua kegiatan serta aktivitasnya yang dirasa positif.&#xA;&#xA;Gavin merasa pusing dengan semua ini. “Haerin ngejebak aku,” finalnya.&#xA;&#xA;“Maksudnya?” tanya Vallerie kini lebih hati-hati.&#xA;&#xA;“Kamu udah baca thread dari akun Twitter resmi kampus kita?” tanya Gavin memastikan.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Itu lo, Kak?” tanyanya. &#xA;&#xA;Kali ini, Gavin yang mengangguk. “Haerin nyelundupin dana buat annual project fakultas kita,” singkatnya. “Aku nggak tahu gimana ceritanya bisa kesebar. Padahal, aku udah bilang sama internal BEM untuk nggak bawa masalah ini ke mana-mana dan aku udah janji untuk ganti uangnya,” sambungnya.&#xA;&#xA;Mendengarnya, kedua telapak tangan mungil itu menutupi bibir yang jatuh dari peraduannya. Vallerie tidak percaya bahwa Gavin mampu dan mau mengganti uang dengan nilai puluhan juta rupiah secara sukarela. “Kenapa lo ganti uangnya, Kak?!” tanya Vallerie sedikit tidak santai. Bagaimana pun juga, Vallerie merasa tidak terima mantan kekasihnya diperlakukan dengan semena-mena. “Harusnya lo kasusin aja wakil lo itu!” lanjutnya.&#xA;&#xA;Gavin tersenyum. Ia tahu ada makna tersirat, di mana gadis cantik masih peduli dengannya. “Haerin itu,” katanya menggantung “Mantan aku,” sambung Gavin mengakui.&#xA;&#xA;“HAH?!” ujar Vallerie seiring dengan suaranya yang naik satu oktaf. Terlihat jelas, gadis cantik itu semakin sibuk untuk menutupi bibirnya yang semakin menjauh dari peraduan. Pasalnya, semua fakta ini membuat ritme jantungnya berdetak jauh lebih cepat. “Kak Valdi tau?” tanyanya.&#xA;&#xA;Gavin kembali mengangguk. “Tau,” jawabnya singkat. “Ini buktinya,” kata lelaki tampan itu sembari menunjukkan luka paling parah yang terpampang jelas di wajah tampannya. &#xA;&#xA;Refleks, melihat luka terbuka yang cukup lebar dan merah itu, Vallerie mendekatkankan dirinya pada sang mantan kekasih. Perlahan, jari telunjuknya menekan pelan luka tersebut dan membuat Gavin meringis. “Sakit, ya, Kak?” tanya Vallerie sembari sedikit mengangkat pandangannya agar lebih jelas untuk melihat wajah tampan yang sebenarnya ia rindukan itu. &#xA;&#xA;Gavin mengangguk untuk menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan gadis cantik yang masih menjadi kesayangannya itu. Namun, di saat yang bersamaan, dirinya tersenyum karena mengetahui fakta bahwa Vallerie masih peduli pada keadaannya bahkan setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Gavin selama ini adalah pembodoh yang tidak dapat melihat setulus dan seputih apa kasih sayang dan cinta yang diberikan oleh Vallerie. &#xA;&#xA;Ia menangkup tangan mungil yang berkali-kali menekan luka di wajah tampannya. “Sakit, Vall,” keluhnya. “Tolong kasih aku kesempatan untuk aku ngejelasin semuanya sama kamu,” lanjut lelaki tampan itu. “Aku nggak akan maksa kamu untuk terima maafku apalagi untuk balikan sama kamu tapi yang penting kamu tau apa yang sebenarnya terjadi,” jelas Gavin. &#xA;&#xA;Akhirnya, setelah beberapa menit berada hampir di dalam dekapan lelaki tampan yang sebetulnya masih menjadi kesayangannya, Vallerie sadarkan diri dan segera menjauhkan dirinya. Ia berdehem. “ Ya, udah,” katanya. “Masuk dulu sini biar sekalian lukanya gue obatin,” lanjut gadis cantik itu. &#xA;&#xA;Vallerie berbalik badan untuk kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya. Lalu, gerakan itu diekori oleh Gavin. Ia kembali tersenyum. Namun, kali ini, senyumnya terlihat lebih lebar dan lebih sumringah. Di sisi lain, Gavin merasa bersyukur karena Vallerie masih mau menerima ‘kehadirannya’. Gavin berjanji tidak akan meminta banyak hal pada Vallerie, yaitu hanya satu, penjelasan akan apa yang terjadi sebenar-benarnya. &#xA;&#xA;“Lo udah makan, Kak?” tanya Vallerie saat keduanya sampai di ruang makan. &#xA;&#xA;Gavin menggeleng. “Aku nggak punya waktu buat makan,” jelas lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Makan dulu, ya, Kak,” ucap Vallerie. “Sekalian, gue cari dulu obat merah sama kapas,” ujarnya. &#xA;&#xA;Gavin kembali menggeleng. “Nanti aja, Vall. Aku lagi nggak ada nafsu buat makan,” jelasnya.&#xA;&#xA;Sontak, bersamaan dengan Gavin yang memberikan jawaban, Vallerie menyodorkan segelas air putih hangat di atas meja untuk kemudian menjawab, “Terus nafsunya ngapain?” tanya gadis cantik itu. &#xA;&#xA;Sesaat, tangan kecil yang menggenggam gelas itu terdiam. Sepasang netranya membelalak sempurna. Vallerie dengan kebiasaannya melontarkan guyonan-guyonan kotor itu kepada orang-orang di sekitarnya, seperti Gavin dan Heidy, tiba-tiba menyadari bahwa ini bukan masanya lagi. Ditambah, lelaki tampan yang kini tengah duduk di balik meja makannya sekarang ialah mantan pacarnya. Vallerie mengutuk dirinya sendiri beserta lisannya yang sering kali menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.&#xA;&#xA;Gavin berdehem pelan. “Gimana, Vall?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Nggak,” tukasnya cepat. “Gue nggak ngomong apa-apa,” sambung gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin mengangguk paham. Ia tahu bahwa Vallerie baru saja melontarkan dirty pick up line padanya seperti yang biasa dilakukannya saat dunia seolah milik mereka berdua meskipun hanya sekelibat. Namun, demi keselamatannya dan juga keselamatan harga diri mantan pacarnya itu, Gavin berpura-pura tuli. Padahal, lelaki tampan itu sendiri sudah tidak tahan untuk melepas tawanya dan langsung menyergap gadis cantik kesayangannya itu. Setidaknya, itu yang biasanya terjadi sewaktu keduanya masih bersama. &#xA;&#xA;“Gue ambil kotak P3K dulu,” sela Vallerie.&#xA;&#xA;Setelahnya, dengan niat seperti ingin membenturkan kepalanya pada dinding di dekat kamar tamu, Vallerie mengulurkan tangannya untuk membuka lemari kecil di samping jam dengan lonceng besar yang memiliki aksen interior Eropa kuno itu. Ia memaki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa? Mulutnya seolah tanpa kontrol mengucapkan kalimat memalukan seperti itu, apalagi kepada mantan pacarnya. &#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin tiba-tiba.&#xA;&#xA;Vallerie menoleh ke sumber suara. “Apa, Kak?” tanyanya setengah berteriak. Gavin tak kunjung menjawab. Akhirnya, Vallerie kembali ke ruang makan. “Apa?” ulangnya di hadapan sang kakak tingkat.&#xA;&#xA;Gavin menghabiskan tegukan air putih hangat di dalam gelasnya sebelum menjawab. “Oh, nggak apa-apa,” jawabnya. “Takutnya kamu lupa nyimpe kotak P3K di mana,” jelas lelaki tampan itu. “Di samping jam lonceng. Ketemu ‘kan?” tanyanya serius.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie mengernyitkan keningnya. “Gue nggak gila kali, Kak,” balasnya. “Ini rumah gue. Nggak mungkin gue lupa sama tata letak rumah gue sendiri,” tegas gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin terkekeh mendengar celotehan adik tingkatnya itu. “Kamu lupa ya? Kamu sering ngambek sama aku gara-gara nggak ketemu waktu nyari salep analgesik untuk—”&#xA;&#xA;Penjelasan Gavin terputus. Vallerie juga tidak berniat untuk menanyakan kelanjutannya sebab hanya mereka berdua yang tahu dan memiliki kenangan tentang salep analgesik. Biasanya, setelah sesi permainan panas berakhir, Vallerie akan turun dari kamarnya menuju lemari kecil di samping jam lonceng untuk mencari salep analgesik tersebut untuk meredakan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya sebab sesi intim bersama sang kekasih.&#xA;&#xA;Gavin masih ingat betul bagaimana Vallerie merengek dan hampir menangis sebab salep yang dicarinya tak kunjung ditemukan karena Gavin selalu memasukkan salep tersebut ke dalam kemasannya, di saat Vallerie selalu meletakkan segala benda yang dipegang sekenanya. Oleh karenanya, setiap permainan ala duniawi selesai di antara keduanya, Gavin akan berinisiatif turun dari kamar tidur sang kekasih untuk membawakan salep analgesik tersebut. &#xA;&#xA;Kembali kepada situasi dan kondisi yang canggung di antara sepasang manusia yang sepertinya sama-sama tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang mantan, Gavin memaksakan dirinya untuk batuk demi memecah keheningan yang mengganggu. Sedangkan, Vallerie bergerak mengambilkan lagi segelas air putih hangat untuk kemudian memposisikan dirinya untuk duduk di kursi di samping sang mantan kekasih. &#xA;&#xA;Dengan telaten, Vallerie membersihkan terlebih dahulu debu serta bekas noda darah yang membekas di sudut bibir kakak tingkatnya itu. Kemudian, ia oleskan salep untuk mencegah menggelapnya dan membengkaknya lebam yang berada di sekitar kening dan pelipis lelaki tampan itu. Lalu, barulah ia membubuhkan sedikit demi sedikit obat merah menggunakan kapas di sekitar luka terbuka yang ada di seluruh rangka wajah tampan di hadapannya itu. &#xA;&#xA;“Aduh!” ringis Gavin. “Sakit, Vall,” keluhnya.&#xA;&#xA;“Tahan, Kak,” perintah Vallerie. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. &#xA;&#xA;“Kamu nempelin obat merahnya pelan-pelan,” pinta lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Vallerie menghela napas panjang. “Ini udah pelan-pelan,” balasnya.&#xA;&#xA;Setelahnya, suasana kembali mendingin. Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang mantan kekasih itu. Gavin melamun sebab sibuk mengoreksi dirinya sendiri perihal masalah-masalah yang terjadi di dalam hidupnya, terutama masalah yang berhubungan dengan Vallerie. Sementara itu, Vallerie memusatkan atensi penuh pada setiap luka yang tercipta akibat kemarahan kakak kandungnya pada sang mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin lagi demi memecah keheningan.&#xA;&#xA;“Hm?” Yang dipanggil hanya berdehem singkat. &#xA;&#xA;“Kamu kenapa nggak bilang aja?” tanya Gavin serius.&#xA;&#xA;“Bilang apa?” balas Vallerie tanpa menolehkan pandangannya dari luka-luka kecil di sekitar pelipis dari wajah tampan di hadapannya. &#xA;&#xA;“Bilang sama aku,” kata Gavin. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kalau kamu ngiranya aku selingkuh sama Haerin,” jelasnya.&#xA;&#xA;Vallerie selesai dengan kegiatannya membalurkan salep dan mengoleskan obat merah pada setiap titik yang diperlukan pada wajah tampan mantan kekasihnya. Ia meletakkan kembali semua perkakas yang digunakannya sesuai dengan tempatnya, di mana hal itu membuat Gavin, yang sedari tadi secara diam memperhatikan gerak-geriknya, terheran karena kagum. Kemudian, Vallerie menjauhkan kotak P3K itu dari pandangannya keduanya. &#xA;&#xA;“Untuk apa, Kak?” balas Vallerie dengan kembali bertanya. “Jawabannya ‘kan udah jelas,” ujarnya.&#xA;&#xA;“Aku berani sumpah kalau aku nggak selingkuh, Vall,” tegas Gavin kesekian kalinya.&#xA;&#xA;“Mana ada sih, Kak? Maling ngaku,” jelas Vallerie menganalogikan situasi dan kondisi yang dialami oleh Gavin dengan istilah umum. “Lagian, kalau lo beneran nggak selingkuh, Bang Paldi nggak mukulin lo kayak gini,” sambungnya.&#xA;&#xA;“Valdi juga ngiranya aku selingkuh,” ucap Gavin. “Semuanya ngira aku selingkuh,” tambahnya.&#xA;&#xA;“Jangan dibahas sekarang,” pinta Vallerie. Ia hendak bangkit dari posisinya duduknya.&#xA;&#xA;Namun, lelaki tampan itu lebih gesit. Gavin menahan sebelah lengan kecil itu agar tidak berpaling dari hadapannya. “Aku harus gimana biar kamu percaya?” tanyanya dengan penuh makna. &#xA;&#xA;Vallerie mengibaskan tangannya yang ditahan oleh sang mantan kekasih untuk minta dilepaskan. “Gue nggak perlu penjelasan apapun dari lo, Kak,” ujarnya. “Orang kalau udah selingkuh, ya, selingkuh aja, apapun itu alasannya,” sambung gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Aku mohon…,” ucap Gavin. “Aku takut kalau ini jadi kesempatan terakhir aku untuk ngobrol sama kamu, Vall,” katanya. “Kasih aku kesempatan sekali ini aja untuk ngejelasin semuanya. Aku nggak mau kamu salah paham,” final lelaki tampan itu. &#xA;&#xA;Keduanya saling beradu tatap. Gavin dengan tatapan memohonnya untuk diberi kesempatan meskipun yang terkahir dan Vallerie dengan tatapan bimbang apakah harus memberikan kesempatan untuk lelaki tampan di hadapannya ini untuk kembali menyakitinya atau apa. Namun, sebesar apapun masalahnya, bagi Vallerie, Gavin memiliki hak dan kewajiban untuk menjelaskan semuanya. Oleh karena itu, Vallerie bersedia mendengarkan.&#xA;&#xA;“Alright,” kata Vallerie. Ia menyamankan posisi duduknya. “Jelasin apa yang mau dan harus lo jelasin,” izin gadis cantik itu. &#xA;&#xA;Gavin menghela napas lega. Dengan kemurahan hati gadis cantik itu, ia memiliki kesempatan mungkin terakhir untuk menjelaskan semua yang terjadi dengan sejelas-jelasnya. Gavin tahu bawah gadis cantik di hadapannya ini pantas untuk mendapatkan permintaan maaf dan pengakuan atas apa yang terjadi selama beberapa waktu belakangan. Gavin berharap semoga ini terakhir kalinya pula ia menyakiti hati gadis cantik kesayangannya. &#xA;&#xA;Gavin memberikan kalimat demi kalimat eksplanasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Vallerie karena bagaimana pun semua kisah ini pastinya akan membingungkan bagi Vallerie, mulai dari fakta bahwa Haerin merupakan mantan kekasihnya semasa Sekolah Menengah Atas sampai alasan mengapa Haerin dapat dengan tega menyelundupkan dana dari rancangan acara yang sudah ditetapkan oleh BEM Fakultas Ekonomi. &#xA;&#xA;Di sela-sela penjelasan itu, beberapa kali Vallerie menganga lebar sebab mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Ia juga tak jarang memotong story telling yang dikisahkan oleh mantan kekasihnya itu demi bertanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya, salah satu contohnya ialah, “Jadi, orang tuanya Haerin itu tau kalau anaknya punya mental illness, Kak?”&#xA;&#xA;Gavin mengangguk. “Mereka tau,” jawabnya. “Tapi mereka lebih pilih untuk diam dan nyelesain semua perkara yang dibuat Haerin dengan uang dibanding ngebawa anak mereka untuk konsultasi ke profesional,” jelas lelaki tampan itu. &#xA;&#xA;Bersamaan dengan pertanyaan ke sekian yang dilontarkan Vallerie, selesailah kisah pilu yang diceritakan oleh Gavin mengenai based on true story-nya bersama dengan Haerin. Sepertinya, Vallerie masih berusaha mencerna semua hal-hal yang terjadi di antara dirinya, Gavin, dan juga perempuan bernama Haerin yang ternyata berusaha merusak kebersamaan mereka dan dirinya berhasil. &#xA;&#xA;“Aku nggak akan memaksa kamu untuk maafin aku, Vall, karena aku juga tau kalau aku salah ambil jalan dan akhirnya ngebuat hubungan aku sama kamu jadi nggak jelas kayak gini. Aku udah ngerusak kepercayaan kamu. Aku juga udah ngerusak kepercayaan Valdi,” ujar Gavin. “Tapi ada satu hal yang harus kamu tau kalau aku nggak pernah dan nggak akan pernah selingkuh sama perempuan lain, apalagi Haerin,” sambungnya. “Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, Vallerie Adhikirana,” final lelaki tampan itu. &#xA;&#xA;Detik demi detik yang berubah menjadi menit ke menit, tiba-tiba saja terdengar suara isakan. Vallerie menundukkan pandangannya selagi air mata berlinangan jatuh dari sepasang netranya. Dengan sigap, Gavin menggapai kedua bahu yang ikut bergetar itu. Ia tahu bahwa Vallerie sangat sakit sehingga kembali menangis karena kebodohan dan kesalahannya. Gavin gagal menjadi seseorang yang didamba-dambakan oleh gadis cantik kesayangannya.&#xA;&#xA;“Kamu boleh pukul aku sekeras dan sepuas yang kamu mau, Vall,” kata Gavin. “Aku nggak akan ngelawan karena aku tau rasa sakit dari pukulan kamu itu nggak sebesar rasa sakit yang aku kasih ke kamu,” ucapnya lagi.&#xA;&#xA;“Maafin aku, Kak,” ujar Vallerie seketika ia mengangkat pandangannya. “Aku udah salah sangka sama kamu,” lanjutnya.&#xA;&#xA;“Jangan minta maaf, Vall,” balas Gavin. “Bukan kamu yang salah, aku yang salah,” kata lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Vallerie menggeleng. “Nggak, Kak,” katanya. Ia menyeka jejak air mata pada kedua pipinya. “Seharusnya, aku percaya sama kamu,” ucap gadis cantik itu. “Dari dulu juga kamu selalu berusaha untuk ngelindungin aku,” ujar Vallerie.&#xA;&#xA;Kali ini, Gavin yang menggeleng. Kedua tangan besar yang sebelumnya menggenggam sepasang lengan yang tadinya bergetar kini meluruh untuk menangkup tangan yang lebih kecil. Perlahan, tangan besar Gavin mengusap punggung tangan adik tingkatnya itu. “Untuk kali ini, kamu nggak perlu minta maaf sama aku,” jelasnya. “Di sini, aku yang salah, Vall,” akunya lagi. “Kalau aja waktu itu aku bisa berpikir lebih jernih pasti kejadian nggak akan kayak gini. Kalau aku ada di posisi kamu juga pasti aku bingung dan merasa tersakiti. Makanya, kamu nggak usah minta maaf, ya, Cantik,” final lelaki tampan itu seraya tersenyum.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk paham mendengar eksplanasi singkat dari mantan kekasihnya itu. “Mana kamu udah abis digebukin sama Bang Paldi,” ucap Vallerie sembari tangan kanannya meraih sebelah rangka tegas yang dipenuhi lebam dan luka. &#xA;&#xA;Gavin terkekeh. Ia menggenggam tangan kecil yang menangkup sebelah wajahnya untuk kemudian mengusapnya pelan. “Aku paham kok gimana perasaan Valdi kalau seandainya adik kandung satu-satunya disakitin sama orang lain,” ujarnya.&#xA;&#xA;“Muka ganteng kamu jadi babak belur gini, Kak,” kata Vallerie mengasihani tampang mantan kekasihnya. “Masih sakit nggak?” tanyanya sungguh-sungguh.&#xA;&#xA;“Masih,” jawab Gavin singkat.&#xA;&#xA;“Yang mana?” balas Vallerie kembali bertanya. “Sini biar aku obatin lagi,” ucapnya.&#xA;&#xA;Saat sebelah tangan Vallerie yang terbebas hendak meraih kembali kotak P3K yang terletak tak jauh dari mereka, sebelah tangan Gavin yang juga terbebas menghalang pergerakannya. Ia lekatkan tangan mungil yang hangat itu pada sisa ruang di wajahnya. Lalu, Gavin perlahan membawa ibu jari dari tangan mungil itu untuk mengusap bibirnya. “Di sini yang sakit,” finalnya.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie tidak dapat menahan senyumnya. Ia membuang pandangannya ke segala arah, ke mana saja yang penting tidak menatap langsung sepasang netra bak kelinci yang masih menjadi kesukaannya sampai sekarang. Di sisi lain, Gavin tertawa. Ia sangat merindukan gadis cantik kesayangannya, termasuk seluruh kasih sayang dan cintanya. Gavin mengusak pelan pucuk kepala Vallerie. &#xA;&#xA;“Kamu jangan mancing deh, Kak,” ucap Vallerie. &#xA;&#xA;Ada kata sapaan yang lebih sopan terdengar, Gavin kembali menautkan alisnya. “Ini…,” katanya terputus. “Kamu udah nggak marah lagi sama aku?” tanyanya hati-hati.&#xA;&#xA;Vallerie menghela napas panjang. “Aku marah sama kamu, Kak,” jawab gadis cantik itu. “Aku marah sama ke-nggak jelas-an kamu dan aku marah sama tingkah lakumu yang aneh itu,” jelasnya. “Tapi sekarang aku paham karena kamu udah mohon-mohon sama aku untuk ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi.” Di akhir kalimatnya, Vallerie tersenyum. “Makasih, ya, Kak, karena udah mohon-mohon sama aku untuk ngejelasin semuanya. Aku paham kok,” finalnya.&#xA;&#xA;Sejenak, Gavin membeku di posisinya. Ia tidak mengerti mengapa Vallerie begitu bermurah hati untuk memaafkan kesalahannya, lagi dan lagi. Gavin merasa cukup putus asa dan tidak ingin berharap lebih. Namun, Vallerie malah memberikannya secercah harapan berupa kesempatan kesekian kali untuk berusaha kembali membahagiakannya. Gavin tidak tahu bagaimana nasibnya apabila tidak bersama Vallerie karena selama ini hidupnya ia usahakan dan dedikasikan hanya untuk Vallerie seorang. Mungkin, hal yang sama juga berlaku bagi Vallerie untuk Gavin.&#xA;&#xA;“Masih sakit nggak?” tanya Vallerie memecah lamunan sang kakak tingkat. &#xA;&#xA;“Oh, luka-lukanya?” balas Gavin dengan kembali bertanya. Lalu, ia menggeleng. “Nggak kok,” jawabnya. Perlahan, Vallerie bangkit dari posisi duduknya di hadapan lelaki tampan itu. Ia dudukkan dirinya di atas pangkuan sang dominan. Kedua lengannya ia kalungkan pada bahu lebar yang berada di hadapannya. Dengan sengaja, Vallerie mendekatkan wajah cantiknya pada rangka wajah tegas nan tampan itu. “Katanya tadi yang ‘itu’ masih sakit,” ucapnya sembari sepasang netranya tidak melepaskan tatapan, barang sedetik pun, dari belahan bibir yang selalu menggodanya semenjak pertemuan pertama mereka. &#xA;&#xA;Gavin menyeringai sesaat gadis cantik kesayangannya memprovokasinya dengan aksi yang cukup berani. “Kalau masih sakit…,” balas lelaki tampan itu dengan sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tatap dengan intens peraduan bibir yang merah merona itu sebelum kembali menatap sepasang manik empunya. “Kamu mau ‘ngobatin’?” tanyanya menggoda.&#xA;&#xA;Kali ini, Vallerie yang menyeringai. “Why not?” balasnya.&#xA;&#xA;Selama beberapa detik, dua pasang netra itu saling menatap lebih dalam—seolah saling mengirim rindu yang selama beberapa pekan belakang terpaksa untuk dipendam. Vallerie meremat kemeja lawan mainnya. Ia menggigit mainnya demi menetralisir rasa gugupnya. Sementara itu, Gavin menangkap kegiatan yang dilakukan adik tingkatnya itu sebagai sinyal untuk menggodanya.&#xA;&#xA;Secara bersamaan, keduanya berpagut. Ciuman itu terlihat menuntut, seperti keduanya menginginkan satu sama lain untuk kesekian kalinya di hidup ini. Gavin menekan tengkuk Vallerie agar memperdalam cumbuannya. Sedangkan, Vallerie mengusak kepala bagian kepala lelaki yang memuaskannya saat ini. Tiba-tiba, suara yang sudah lama Gavin rindukan terdengar. Vallerie melenguhkan namanya di sela-sela sesi pertukaran salivanya.&#xA;&#xA;“Nghh, Kak,” rintih gadis cantik itu. Gavin lebih dulu mengakhiri permulaan kegiatan panas itu. Vallerie sukses dibuat panik saat salivanya bercampur dengan darah. Ia mengusap bibirnya yang terasa bengkak. “Kak?!” pekiknya.&#xA;&#xA;Melihatnya, Gavin melakukan hal serupa. Ia menyeka tetesan darah pada bibirnya untuk kemudian terkekeh. “Aku kelepasan, ya,” ucapnya.&#xA;&#xA;Vallerie menelisik dengan teliti belahan bibir di hadapannya. “Di bibir kamu ada lukanya, Kak,” jelasnya. “Aku pikir waktu kamu bilang bibir kamu ‘sakit’ itu cuma ngegodain aku aja,” ujar gadis cantik itu. &#xA;&#xA;Gavin menggeleng untuk menanggapi celotehan Vallerie. “Aku nggak apa-apa kok,” tukasnya.&#xA;&#xA;“Beneran?” tanya Vallerie pelan.&#xA;&#xA;Sepasang netra lembut itu berbinar—memancarkan ketulusan. Gavin dapat melihat dengan jelas manik yang bercahaya itu memandang ke arahnya. Ia tersenyum untuk kemudian mengangguk. “Iya,” singkatnya. “Aku beneran nggak apa-apa kok,” ucap lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Kak,” panggil Vallerie lebih pelan lagi.&#xA;&#xA;“Hm?” balas lelaki tampan itu hanya dengan deheman singkat.&#xA;&#xA;“Mau lagi,” lirih Vallerie.&#xA;&#xA;Dua kata keramat itu sukses membuat Gavin membeku. Sepasang netranya membulat sempurna. “Apa, Vall?” tanyanya setengah sadar.&#xA;&#xA;“Aku mau lagi,” ulang Vallerie. Kali ini, suaranya terdengar jelas. Ia tidak ingin lagi memaksa hasratnya untuk menunggu. &#xA;&#xA;Lalu, ciuman panas itu kembali terjadi. Pagutannya terlihat dan terasa jauh lebih menuntut. Tidak hanya bibir-bibir itu yang bermain, tangan satu sama lain juga ikut bergerak. Gavin mengusap perut gadis cantiknya dan Vallerie terus mengusap tengkuk leher kakak tingkatnya. Bahkan, pendingin ruangan yang tersedia tidak mampu lagi meredam hawa panas yang keduanya ciptakan.&#xA;&#xA;Selanjutnya, tanpa diduga-duga, tanpa melepaskan pagutannya, Gavin menggendong tubuh mungil itu untuk duduk di atas meja makan—meja yang sama yang mereka gunakan untuk menyantap hidangan saat acara ulang tahun Valdi berlangsung. Kali ini, Vallerie yang lebih dulu menyudahi cumbuan di antara keduanya. Ia tertawa kecil sesaat mengetahui apa yang Gavin mungkin akan lakukan kepadanya. &#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin ikut tertawa. “Kenapa, Cantik?” tanyanya.&#xA;&#xA;Vallerie hanya menggeleng. “Nggak, Kak,” dustanya. &#xA;&#xA;Padahal, banyak adegan tidak senonoh yang terputar di kepalanya. Ia sendiri tidak sanggup untuk menahannya. Selagi Vallerie sibuk dengan skenario-skenario kotor di kepalanya, tangan besar yang bersanggah di sisi kanan dan kiri tubuh mungil itu tiba-tiba saja bergerak. Sebelah tangan Gavin dengan aktif menggoda payudara yang terlihat mencuat dari house dress yang dikenakan Vallerie—baju yang membuyarkan atensinya sejak datang ke rumah ini.&#xA;&#xA;“Ahh,” desah Vallerie. &#xA;&#xA;Ia mengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang makan. Kedua tangannya menyangga beban tubuhnya di atas meja makan. Gavin tersenyum puas kala melihat pemandangan gadis cantiknya yang selalu saja terbuai dengan segala permainan yang ia lakukan. Namun, Gavin tidak ingin melakukan sesuatu yang jauh dari kata sempurna. Perlahan, tanpa memberhentikan permainannya dari gunung sintal Vallerie, jari jemari dari tangannya yang terbebas meluruhkan tali gaun tidur yang dikenakan sang gadis. &#xA;&#xA;Vallerie langsung dapat merasakan angin dingin menyentuh permukaan kulitnya, terutama putingnya yang mencuat. Kesempatan itu Gavin gunakan untuk memilin lalu sesekali menekan ke dalam puting menyembul itu. Lagi-lagi, Vallerie terlena dengan servis yang diberikan kayak tingkatnya. Tubuhnya hampir ambruk di atas meja makan apabila tangannya tidak sigap mencengkeram bahu lebar di depannya.&#xA;&#xA;“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.&#xA;&#xA;“Enak, Vall?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk beberapa kali. “Enakhh,” jawabnya.&#xA;&#xA;Gavin mendekatkan diri ke arah Vallerie. Ia biarkan tubuh hangat itu memeluk dirinya. Tangan yang digunakannya untuk memijat payudara sang gadis kini berpindah haluan. Jari jemarinya yang lentik untuk ukuran seorang lelaki menyapu garis leher yang terpampang jelas di hadapannya dan perlahan turun menuju selatan. Di bawah sana, ibu jari serta jari telunjuknya bermain dari bagian luar pakaian dalam. Vallerie semakin mengeratkan dekapannya saat jari-jari tersebut menyentuh kepemilikannya.&#xA;&#xA;“Nghh,” lirih gadis cantik itu. &#xA;&#xA;“Udah basah, ya,” goda Gavin sembari berbisik.&#xA;&#xA;Vallerie terkekeh pelan. Ia membalas bisikkan lelaki tampan di hadapannya. Kedua telapak tangannya ia sengaja letakkan pada dada bidang yang hanya berjarak beberapa inci darinya. “Kamu selalu bisa buat aku basah, Kak,” ucapnya membalas godaan. &#xA;&#xA;Gavin menghentikan seluruh aktivitas nakalnya. Ia memandang ke segala arah sembari menyeringai. Lidahnya bermain di dalam mulutnya. Vallerie selalu bisa membuatnya hasratnya hampir meledak dan meledakannya kemudian. Gavin dibuat menggila oleh gadisnya. Ia kembalikan lagi tatapan itu ke wajah cantik di depannya. Gavin kembali berbisik. “Aku bikin jadi lebih basah lagi,” katanya.&#xA;&#xA;Kemudian, Gavin mundur beberapa langkah dari hadapannya sang gadis. Ia berjalan pelan ke arah lemari pendingin yang terletak di perbatasan ruang makan dan dapur. Sepasang netra lembut itu mengekori pergerakan yang dilakukan oleh lawan mainnya. Vallerie melihat Gavin membuka pintu sebelah kiri dari lemari pendingin miliknya. Di balik tubuh besar itu, Vallerie tidak yakin ia dapat melihat apa yang Gavin lakukan di sana. &#xA;&#xA;Vallerie sukses dibuat menganga saat Gavin membalikkan tubuhnya. Ia secara terang-terangan menunjukkan sebuah bongkahan es yang baru saja ia ambil dari freezer. Gavin berjalan kembali ke arah gadisnya selagi ibu jarinya mengusap permukaan bongkahan es tersebut. Vallerie tidak dapat melepaskan tatapannya dari air beku nan dingin yang digenggam kakak tingkatnya. Gavin tersenyum sesaat sampai di hadapan sang gadis.&#xA;&#xA;“Valdi pernah cerita katanya kamu suka ngunyahin es batu, ya, Vall?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie tidak mampu menjawab. Ia hanya dapat mengangguk sebagai respons sebab baik tubuh maupun lidahnya terasa kelu. Vallerie tengah mengingat sesuatu, lebih tepatnya film biru yang tersimpan di dalam cakram keras yang lelaki tampan itu sita pada permainan panas pertama mereka, di mana mereka juga secara resmi menjadi sepasang kekasih saat itu. Vallerie sempat membuang pandangannya sebelum Gavin mengembalikkannya dengan mencium pipinya.&#xA;&#xA;“Kak?!” protes Vallerie.&#xA;&#xA;Kali ini, Gavin yang tidak mampu menjawab. Namun, tubuhnyalah yang bergerak. Ia menggigit bongkahan es batu yang diambilnya tadi untuk kemudian membuka satu per satu kancing baju kemeja putih yang ia gelung lengannya sampai siku. Luruhan kain itu menampilkan pemandangan tubuh kekar nan besar yang sangat Vallerie sukai. Ia tidak dapat meloloskan tatapannya barang sebentar pada lanskap indah di hadapannya.&#xA;&#xA;Lalu, lelaki tampan itu kembali bergerak. Ia membuka kain tipis berwarna biru muda yang melindungi tubuh gadisnya. Gavin dipuaskan dengan penampilan tubuh indah Vallerie yang kini hanya menyisakan pakaian dalam saja. Jemari itu kembali menyapu tubuhnya sebelum kembali berkutik pada bongkahan es di mulutnya dan melakukan hal yang sama tetapi kali ini ditemani dengan lelehan air dingin dari es batu yang mulai mencair.&#xA;&#xA;“Shh, ahhh,” desis Vallerie. &#xA;&#xA;“Setelah ini,” ucap Gavin menggantung. “Persepsi kamu tentang es batu yang suka kamu kunyahin nggak akan sama lagi,” jelasnya.&#xA;&#xA;Kalimat itu sukses membuat manik Vallerie membulat. Vallerie seolah tidak diberi kesempatan untuk mencerna apa yang Gavin katakan padanya barusan, kini kepemilikannya sudah dijajahi oleh sebuah bongkahan es batu dan dua jari besar milik lawan mainnya. Sontak, Vallerie melebarkan posisi kakinya—membiarkan kombinasi gila antara jari dan es batu itu melecehkan vaginanya. &#xA;&#xA;“Nghhh ahh, Kak,” desah Vallerie setengah memekik.&#xA;&#xA;Vallerie tidak tahu harus menyebutnya sebagai permainan dingin atau panas tetapi yang pasti ide gila yang Gavin putuskan untuk diberikan kepadanya berhasil membuat pandangannya pada langit-langit atap ruang makan menjadi memburam. Ia terlalu dikuasai oleh rasa nikmat yang teramat sangat. Tubuhnya terhuyung. Namun, Gavin menangkapnya dengan cepat. Ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Vallerie.&#xA;&#xA;“Ahhh,” lirih Vallerie. &#xA;&#xA;Tanpa sadar, gadis cantik itu menggoyangkan pinggulnya seolah meminta lebih. Gavin yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum puas. Ia tidak pernah gagal dalam membuat bucket list ala kenikmatan duniawi milik Vallerie menjadi kenyataan. Sebenarnya, diam-diam, Gavin memeriksa satu per satu film maupun video yang terdapat di dalam cakram keras milik mantan kekasihnya itu. Oleh sebabnya, Gavin selalu tahu apa yang Vallerie mau dan butuhkan. &#xA;&#xA;Misalkan, seperti sekarang, Gavin dapat melihat dengan jelas Vallerie semakin meminta dengan menggunakan pinggulnya. “Lagi, Vall?” tanyanya.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. Bongkahan es batu yang berada di dalam vagina bersama dengan dua jari lainnya semakin meleleh dan Vallerie semakin merasa di atas awan. Gavin mempercepat tempo adukannya di bawah sana. Keluar lalu masuk. Memutar. Menekan klitorisnya. Semua Gavin lakukan demi agar gadis cantiknya dapat mencapai titik ternikmatnya. Di sisi lain, Vallerie berusaha dengan maksimal untuk menikmati permainan yang Gavin ciptakan untuknya.&#xA;&#xA;“Nghh, Kak,” panggil Vallerie.&#xA;&#xA;“Ya, Vall,” balasnya.&#xA;&#xA;“Aku mau, ahhh, keluar,” jelasnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.&#xA;&#xA;Gavin tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga sang gadis. “Keluarin aja, Sayang,” bisiknya. &#xA;&#xA;“Nghh ahhh!” pekik Vallerie kemudian.&#xA;&#xA;Tubuhnya meluruh. Napasnya tersengal. Ia memeluk tubuh besar di hadapannya bak koala. Gavin terkekeh melihat gadis cantik yang seolah memercayakan seluruh tubuhnya kepadanya. Tangan besarnya kembali bergerak tetapi kali ini gerakannya lembut dan pasti. Ia mengusap punggung polos serta pucuk kepala Vallerie secara bergantian. Gavin dapat merasakan tubuh mungil itu memanas.&#xA;&#xA;“Vall,” panggilnya.&#xA;&#xA;“Hm?” Vallerie hanya merespons singkat.&#xA;&#xA;“Capek, ya?” tanyanya memastikan.&#xA;&#xA;Selama beberapa detik tidak ada jawaban yang terdengar. Gavin hanya dapat merasakan napas hangat dengan ritme yang teratur. Gavin mengira gadis cantik itu tidur di dalam dekapannya. Namun, Gavin salah besar. Di detik setelahnya, Vallerie melepaskan pelukannya untuk kemudian menghempaskan tubuh besar di depannya. Gavin dibuat terkejut oleh perilakunya yang tiba-tiba itu.&#xA;&#xA;“Vall?” ucap Gavin keheranan.&#xA;&#xA;“Sekarang, giliran aku,” tegas Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin menaikkan sebelas alisnya. “Giliran kamu?” balasnya dengan bertanya.&#xA;&#xA;Vallerie, dengan gerak-gerik yang se-sensual mungkin, membujuk Gavin untuk duduk di kursi yang tadi ia gunakan untuk memangku dirinya setelah sebelumnya meluruhkan celana katun berwarna hitam tersebut—meninggalkan pakaian dalam yang masih melindungi batang beruratnya. Kemudian, tali pinggang dengan warna serupa dengan celana itu Vallerie gunakan untuk mengikat tangan besar kakak tingkatnya. &#xA;&#xA;Gavin dibuat membungkam dengan semua perilaku yang Vallerie perbuat padanya. Ia terkekeh, “Kamu masih punya hard disk lain, ya?” tanya lelaki tampan itu menuduh. “Tau banget gimana bikin aku tegang,” lanjutnya. &#xA;&#xA;Sebelum menjawab, Vallerie lebih dulu menyiapkan posisinya. Ia berlutut di hadapan Gavin dengan sepasang netra yang memandang intens secara bergantian pada manik bak kelinci di atas dan tonjolan yang memaksa ingin keluar dari tempatnya di bawah. “Ini namanya insting, Kak,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Insting?” ulang Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Iya, insting,” balasnya. “Insting bermain liar kalau partner-nya cocok,” sambung gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin tidak diberi kesempatan untuk merespons pernyataan dari sang gadis sebab Vallerie sudah lebih dulu mencium lalu mengusap pelan penisnya yang terkungkung di balik pakaian dalamnya. Gavin memejamkan matanya. Sesekali, ia mendesis sebab tangan mungil yang terasa hangat itu terus menggoda kepemilikannya. Gavin harus mengakui bahwa permainan intim akan terasa semakin nikmat apabila keduanya habis terlibat pertengkaran.&#xA;&#xA;“Nghh, Vall,” lirih Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie terus bermain dengan penis di hadapannya. Ia sentuh kepalanya serta mengelus pelan batangnya. Hanya dengan dua gerakan sederhana seperti itu saja mampu membuat Gavin mengerang kenikmatan. “Enak, Kak?” tanya Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin yang sedari tadi memejamkan matanya kini kembali menatap sang gadis. Ia mengangguk. “Good girl,” pujinya. “Pinter maininnya,” ujar lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Vallerie tersenyum puas. Artinya, tidak sia-sia selama ini dirinya mencari siasat untuk menggunakan media lain untuk mencari ‘pembelajarannya’ sebab cakram keras miliknya yang diambil sepihak oleh mantan pacarnya itu. Lalu, Vallerie kembali memusatkan atensinya pada penis milik kakak tingkatnya. Perlahan namun pasti, tangan kecilnya bergerak meluruhkan pakaian dalam lawan mainnya.&#xA;&#xA;Vallerie menenggak salivanya sesaat batang besar dan berurat itu muncul tepat di hadapannya dengan cairan pre-cum yang melumasi di bagian kepalanya. Dalam diamnya, Gavin menyeringai. “Ayo, Cantik,” bujuk Gavin. “Show me what you got,” sambungnya.&#xA;&#xA;Dengan titah langsung itu, Vallerie menjilat ujung kepala penis tersebut untuk kemudian memasukkannya secara perlahan ke dalam kerongkongannya. Vallerie dapat merasakan penis itu memenuhi mulutnya. Gavin yang kepemilikannya mendapatkan servis berupa mulut gadis cantiknya yang hangat dan basah hanya dapat mendesah. Seperti katanya, Vallerie pandai ‘memainkan’ miliknya.&#xA;&#xA;“Shh ahhh,” desis lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Dari bawah sana, Vallerie dengan giat memainkan penis besar itu di dalam mulutnya. Beberapa kali dirinya sempat hampir tersedak tetapi ia mampu menahannya sebab suara bariton yang terus mendesah dan meluruhkan namanya membuat dirinya menjadi bersemangat. Vallerie merasa batang besar yang berada di dalam mulutnya semakin keras dan menegang. Sepertinya, Gavin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi.&#xA;&#xA;“Nghh, Vall,” panggil Gavin. Namun, gadis cantik itu tidak mendengarnya. “Vallerie, ahhh,” panggilnya lagi. &#xA;&#xA;Gavin berusaha menyadarkan adik tingkatnya itu tetapi sepertinya Vallerie sangat fokus di bawah sana. Gavin yang diselimuti kenikmatan tidak dapat berbuat banyak. Akhirnya, kedua tangannya yang terikat ia paksa untuk bergerak. Tangan besar itu menangkup sebelah pipi sang gadis dan barulah Vallerie kembali pada kenyatannya. Gavin tersenyum sesaat sepasang netra yang berbinat itu memandang ke arahnya.&#xA;&#xA;“Udah,” singkatnya.&#xA;&#xA;“Kamu belum keluar, Kak,” jelas gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Nggak apa-apa,” ucap Gavin. “Aku liat muka kamu udah merah banget, Vall,” jelas lelaki tampan itu. &#xA;&#xA;“Tapi aku mau kamu juga keluar,” tegas Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin tersenyum sembari mengusap pucuk kepala gadisnya. “Ini udah lebih dari cukup,” tegasnya.&#xA;&#xA;Sementara itu, Vallerie tidak setuju dengan Gavin. Ia ingin sekali menentang. Vallerie bangkit dari posisi berlututnya. Ia memandang Gavin dengan tidak senang. Gavin hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah gemas adik dari teman dekatnya itu. Vallerie melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, tiba-tiba saja sesuatu melintas di dalam kepalanya—sebuah taktik untuk mewujudkan penolakannya.&#xA;&#xA;Gavin baru saja akan menyodorkan tangannya untuk meminta dibukakan ikatannya kala Vallerie mendahului aksinya. Vallerie menarik sepasang tangan besar yang masih di dalam belenggu dari tali pinggangnya itu. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah tampan di hadapannya. Sebelah kakinya ia tenggerkan di atas kursi yang Gavin duduki. Gavin dibuat cukup terkejut dengan pergerakan menggoda yang tiba-tiba itu.&#xA;&#xA;Ibu jari Vallerie bergerak menangkup dagu mantan kekasihnya. “Kalau aku enak,” ucapnya menggantung dan sedikit berbisik. “Kamu juga harus enak, Kak,” lanjutnya. &#xA;&#xA;Vallerie seolah dirasuki oleh setan pecinta seks yang biasanya menguasai tubuh kekar Gavin. Setelahnya, Vallerie berdiri tegap di depan kakak tingkatnya itu. Ia mengamati tubuh yang hampir telanjang itu dari atas sampai bawah. Vallerie kembali bergerak. Ia menghempaskan kain terakhir yang melekat di tubuh masing-masing. Dengan begitu, Gavin dapat melihat tubuh polos gadisnya dan sebaliknya. Gavin tidak menanggapi taktik yang Vallerie rancang untuknya. Sesuai dengan ultimatum dari gadis cantik tersebut, ia hanya tersenyum dan menunggu bagaimana permainan ini akan berjalan. &#xA;&#xA;Vallerie kembali berinteraksi dengan batang besar nan berurat yang mengundang hasratnya sejak ia lucuti celana katun berwarna hitam milik mantan kekasihnya itu. Ia mencium pucuk penis itu lebih lama dari yang sebelumnya. Indera pendengaran gadis cantik tersebut sangat dipuaskan dengan suara desisan serta desahan yang mengandung namanya.&#xA;&#xA;“Shh, Vall,” lenguh Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie bangkit dari posisinya untuk kemudian membalikkan tubuhnya. Gavin mulai tahu ke mana arah permainan ini akan berlangsung. Perlahan, gadis cantik itu mendudukkan dirinya di atas lawan mainnya. Vallerie memposisikan penis yang menjulang itu untuk memasukinya. Namun, ia tak ingin masuk hanya dengan sekali hentak. Vallerie beberapa kali menggoda kakak tingkatnya itu dengan menggesekkan ujung penisnya pada permukaan vaginanya—membuat keduanya merasakan nikmat satu sama lain. &#xA;&#xA;“Ahh!”&#xA;&#xA;“Nghhh!”&#xA;&#xA;Lalu, setelah puas menggoda lelakinya, dan juga dirinya, Vallerie memutuskan untuk masuk ke permainan inti. Ia kembali mengatur posisi agar penis besar itu memasuki dirinya secara utuh. Vallerie menggerak-gerakan pinggulnya naik dan turun dengan tempo pelan. Gavin merasakan miliknya masuk dengan sempurna ke dalam gadisnya. Ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit sembari memejamkan matanya. Gavin berusaha menikmati Vallerie dengan sepenuh hatinya.&#xA;&#xA;“Nghh, shit, Vall,” umpat Gavin. “Kamu enakhh banget,” pujinya kemudian. &#xA;&#xA;“Ahhh, Kak,” balas Vallerie.&#xA;&#xA;Vallerie mulai menambah ritme dalam pergerakannya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang beban tubuhnya di atas paha kanan dan kiri mantan kekasihnya. Ia menggigit bibirnya sebab rasa puas akan sesuatu yang besar nan urat yang tengah memasuki dirinya saat ini. Napasnya mulai tersengal sebab sentakan yang dilakukannya secara teratur dan Gavin sadar akan itu. Oleh karenanya, Gavin membantu pergerakan gadisnya. Ia menggerakan pinggulnya dengan menyesuaikan tempo yang dimainkan Vallerie.&#xA;&#xA;“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.&#xA;&#xA;Di hari itu, langit yang dihiasi oleh bulan purnama dan tidak ada satu pun bintang yang menampakkan diri, di pelataran ruang makan dengan lemari pendingin dan kursi makan yang menjadi saksi bisu, Gavin dan Vallerie kembali menyatukan diri mereka. Suara pertemuan antara dua kulit yang basah merupakan pertanda perpaduan tubuh masing-masing. Baik Gavin maupun Vallerie sama-sama merindukan sensasi ini.&#xA;&#xA;“Nghh, Vall,” rintih Gavin. “Aku mau ahh keluar,” ujarnya.&#xA;&#xA;Sepersekian detik setelahnya, Gavin bergerak—seolah tetap ingin menjadi pemimpin di dalam sesi intim nan panas keduanya. Ia mengalungkan tangannya yang terikat pada tubuh mungil di atas pangkuannya. Lalu, dengan akses yang terbatas, tangannya meraih puting gadisnya yang menyembul sempurna. Diberi pelayanan tiba-tiba seperti itu, Vallerie menyandarkan tubuhnya untuk kemudian menarik Gavin untuk masuk ke dalam pagutannya. &#xA;&#xA;“Mphhh,” lirih gadis cantik itu. Tak lama setelahnya, ia menyudahi ciuman itu. “Nghh, Kak, aku mau keluar,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Akhh!”&#xA;&#xA;“Ahhh!”&#xA;&#xA;Keduanya mencapai titik ternikmat secara bersamaan. Tubuh Vallerie menggelinjang hebat di atas pangkuan Gavin. Untuk malam ini, energinya benar-benar ia gunakan semaksimal yang ia bisa. Gavin dan Vallerie menolehkan pandangannya satu sama lain. Keduanya dibanjiri peluh. Kala dua pasang netra itu bertemu, keduanya tertawa pelan untuk sesaat. Gavin tersenyum melihat pemandangan cantik di hadapannya saat ini dan begitu pun dengan Vallerie.&#xA;&#xA;“Capek, Vall?” tanya Gavin memastikan.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Banget, Kak,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Kamu pinter geraknya,” puji Gavin lagi.&#xA;&#xA;“Kok kamu bisa sih, Kak,” ucap gadis cantik itu menggantung. “Nggak capek kalau lagi main sama aku?” tanyanya. “Padahal, kamu yang lebih banyak geraknya,” tambah Vallerie.&#xA;&#xA;“Aku juga nggak tau,” jawab Gavin. “Aku nggak pernah capek kalau main sama kamu,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Kamu minum obat kuat, ya?” tuduh Vallerie.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin tertawa. “Nggak mungkinlah,” balasnya. “Mungkin karena…,” ucapnya menggantung. “Insting?” goda lelaki tampan tersebut. &#xA;&#xA;Vallerie menjawir hidung bangir di depannya. “Ledekin terus aja akunya,” protesnya. &#xA;&#xA;Dengan posisi seperti itu, Gavin tak kuasa menahan hasratnya. Namun, di sisi lain, ia tidak tega apabila harus menggempur habis gadisnya. Sebagai gantinya, Gavin memanggil bibir ranuh di depannya untuk bergabung bersamanya. Ciuman kali ini terlihat dan terasa lebih tenang—seolah keduanya menginginkan satu sama lain tanpa harus adanya dominasi. Baik Gavin dan Vallerie sama-sama menikmati cumbuan itu.&#xA;&#xA;Gavin lebih dulu menyudahi pagutannya. Ia mengangkat tangannya yang terikat. “Sekarang, udah boleh dilepas kan?” tanyanya menggoda.&#xA;&#xA;Vallerie tertawa. “Boleh, Kak,” jawabnya. Vallerie berdiri dari pangkuan kakak tingkatnya untuk kemudian membebaskan sepasang lengan besar itu dari tali pinggang milik sang empunya. Gavin mengusap tangannya yang terasa kaku. “Sakit, ya, Kak?” tanya Vallerie khawatir.&#xA;&#xA;Gavin menggeleng. “Nggak, Sayang,” ucapnya.&#xA;&#xA;Mendengar ada kata panggilan manis yang terkandung di dalam kalimat tersebut, wajah Vallerie memanas. Ia memalingkan wajahnya agar pelakunya tidak dapat melihatnya salah tingkah secara langsung. Namun, Gavin tetaplah menjadi yang paling sigap. Ia sadar akan hal itu. Ia berusaha keras menahan senyumnya. Ia bangkit dari posisi duduknya untuk menyempatkan diri mengusap pucuk kepala gadisnya sebelum berlalu ke kamar tidur tamu. &#xA;&#xA;Sepeninggalan Gavin, Vallerie menghela napasnya. Ia bergumam, “Kalau gini, mana bisa gue jauh dari Kak Gavin,” monolognya.&#xA;&#xA;Srakkk.&#xA;&#xA;Sebuah selimut putih tiba-tiba tersampir pada tubuh polosnya. “Aku juga,” sambungnya.&#xA;&#xA;“Kamu juga apa, Kak?” tanya Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin yang sudah berganti penampilan dengan mengenakan bathrobe yang ia ambil dari kamar tidur tamu menanggapi celotehan Vallerie yang sempat ia dengar sebelum berlalu ke ruang makan. “Aku juga nggak bisa jauh dari kamu, Vall,” jelasnya. “Maafin aku, ya, Vall,” ucapnya meminta maaf kesekian kalinya hari ini. “Aku egois,” tambah lelaki tampan itu. &#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie berhamburan memeluk tubuh besar yang berjarak beberapa langkah di hadapannya. Bahu sempitnya berguncang hebat di sana. Vallerie menangis sejadi-jadinya. Gavin berusaha melepaskan dekapannya tetapi tenaga Vallerie, entah mengapa, jauh lebih kuat darinya. Vallerie tidak ingin Gavin melihatnya menangis. Namun, ia butuh untuk Gavin mendengarkan menangis.&#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin. Tangannya bergerak mengusap punggung gadis cantiknya. “Kenapa nangis?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Aku kangen sama kamu, Kak,” ujarnya diselingi dengan beberapa isakan.&#xA;&#xA;Gavin tersenyum lembut. “Aku juga kangen sama kamu, Vall,” balasnya. &#xA;&#xA;Sejenak, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Gavin masih dengan telaten mengusap punggung sempit yang memeluknya erat itu. Ia menopangkan dagunya pada pucuk kepala yang sesekali berguncang sebab tangisannya. Setelah beberapa saat, isakan itu mulai berhenti. Vallerie menyeka jejak air mata di wajahnya tetapi tetap tidak mau menatap wajah tampan Gavin secara langsung.&#xA;&#xA;“Kak,” panggil Vallerie.&#xA;&#xA;“Iya, Vall,” balasnya lembut.&#xA;&#xA;“Aku suka dipanggil ‘Sayang’ sama kamu,” jelas gadis cantik itu. “Gimana pun keadaannya,” final Vallerie.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin tersenyum. Itu berarti satu hal. Selain menerima maafnya, Vallerie masih bersedia untuk menjadi kekasihnya. Setelah pengakuan masing-masing, di mana keduanya tidak dapat hidup satu sama lain, maka jalan terbaiknya ialah mereka tetap bersama. Baik Gavin dan Vallerie berjanji untuk menghadapi segala sesuatu yang menerpa hubungan mereka secara terbuka. &#xA;&#xA;Gavin mengangguk pelan. “Iya, Vall,” ucapnya. “Aku bakal tetep manggil kamu ‘Sayang’,” jelas lelaki tampan itu. “Gimana pun keadaannya,” ulang Gavin. “Ya, Sayang?” finalnya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Apology</strong></p>

<p>Itu Valerie. Ia menatap sinis lelaki tampan yang tengah berdiri di depan pintu utama rumahnya. Valerie pindai kekasihnya itu dari kepala sampai kaki dan kembali ke kepala. Valerie sebisa mungkin mendeteksi apa niat dan maksud dari lelaki tampan yang beberapa pekan belakangan bersikap aneh dan seolah tidak memiliki kekasih di dunia ini. Jadi, sekalian saja, Vallerie jadikan kenyataan hasil dari tingkah polah lelaki tampan itu.</p>

<p>“Lo ngapain di sini?” tanya Vallerie tak santai.</p>

<p>Gavin menyatukan kedua alisnya. “‘Lo?’” tanyanya. “Kamu marah sama aku, Val?” tanyanya lagi.</p>

<p>Pertanyaan yang dilontarkan Gavin sukses membuat Vallerie memutar bola matanya jengah. “Lo beneran nanya kayak gitu ke gue, Kak?” balasnya dengan kembali bertanya. Vallerie masih menghormati mantan kekasihnya dengan menyisipkan kata sapaan ‘Kak’ di dalam kalimatnya. “Coba inget-inget lagi lo ngapain gue beberapa minggu belakang ini,” suruh gadis cantik itu. “Aneh,” gumamnya pelan.</p>

<p>“Itu…,” penjelasan Gavin tertahan. “Makanya aku ke sini mau ngejelasin semuanya sama kamu,” ujarnya.</p>

<p>Vallerie yang tadinya hanya berdiri di belakang pintu kini menguarkan tubuhnya dari balik sana. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari kembali menatap intens pada lawan bicaranya. Di sisi lain, kedua netra serupa kelinci itu memindai makhluk indah di hadapannya yang mengenakan house dress selutut berwarna biru muda. Gavin dibuat salah fokus dengan penampakan itu. Ia menelan salivanya perlahan.</p>

<p>“Gini, ya, Kak Gavin Prawira, Ketua BEM Fakultas Ekonomi kita yang terhormat,” kata Vallerie mengucap nama lengkap beserta jabatan yang Gavin emban sekarang. “Lo ngejelasin apapun yang pengen lo jelasin sekarang pun nggak akan mengubah sedikit pun keadaan gue sama lo,” jelasnya.</p>

<p>Gavin mengusap wajahnya kasar seketika eksplanasi singkat yang disampaikan oleh Vallerie seolah menjadi jawaban atas semua yang sudah terjadi antara dirinya dan gadis cantik itu. “Ini semua nggak seperti yang kamu pikirin, Vall,” sanggahnya. “Aku nggak selingkuh sama Haerin,” sambung lelaki tampan itu.</p>

<p>Sebelum menjawab, Vallerie memusatkan tatapannya pada rangka wajah tampan yang sampai beberapa hari lalu masih menjadi kesukaannya. “Terus?” tanyanya. “Kalau memang lo nggak selingkuh sama wakil lo itu, tetep nggak ada gunanya lo ngejelasin apapun sama gue, Kak,” ujar gadis cantik itu. “Terlepas lo selingkuh atau enggak sama perempuan itu, tetep nggak mengubah fakta bahwa kemaren lo mengabaikan dan membohongi gue,” tegasnya.</p>

<p>Gavin mulai panik. Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Vallerie padanya membuatnya sakit hati, bukan karena Vallerie salah melainkan karena Vallerie benar. Ia benar tentang semua rasa sakit yang Gavin berikan padanya selama beberapa pekan belakangan atau lebih lama dari yang dapat ia sangka. Gavin kembali mengingat bagaimana ia menyakiti Vallerie sebelumnya ini. Seolah-olah benar bahwa di dalam hubungan ini, Gavin lebih banyak menyakiti gadis cantik itu dibanding membahagiakannya.</p>

<p>“Maaf, ya, Vall,” ucap Gavin. “Aku gagal ngejagain kamu,” pasrahnya kemudian.</p>

<p>Sepasang lengan yang tadinya terlipat, kini terlihat meluruh. “Lo bukannya gagal ngejagain gue, Kak,” sela Vallerie. Ia mengangkat jari telunjuknya untuk memperjelas bahwa lawan bicaranya memang salah. “Lo salah karena lo udah bohong sama gue,” jelas gadis cantik itu.</p>

<p>“Tapi aku nggak bohong sama kamu,” kata Gavin menunjuk dirinya sendiri. “Aku nggak selingkuh sama Haerin,” ucapnya sembari menunjuk ke arah angin seolah Haerin ada di dekatnya saat itu.</p>

<p>“Oke, let’s says lo nggak selingkuh sama Haerin,” ujar Vallerie melengangkan kedua telapak tangannya di hadapannya mantan kekasihnya. “Tapi apa lo ada bilang sama gue kalo lo punya urusan sama perempuan itu?” tanyanya mengintimidasi. “Ada nggak, Kak? Lo bilang nggak sama gue? Kalau lo punya agenda kampus yang mengharuskan lo MESRA-MESRAAN sama perempuan itu,” tanya gadis cantik itu lagi. “Nggak ‘kan?!”</p>

<p>Gavin menghirup dan menghela napas dengan panjang. Otaknya terus-menerus menegaskan bahwa semua yang dikatakan oleh Vallerie adalah benar. Kesalahan Gavin hanyalah tidak menjelaskan secara terbuka apa yang terjadi antara dirinya dan Haerin. Padahal, Gavin tahu bahwa Vallerie tidak akan mengekang pergerakannya dan bisa jadi ia justru mendukung semua kegiatan serta aktivitasnya yang dirasa positif.</p>

<p>Gavin merasa pusing dengan semua ini. “Haerin ngejebak aku,” finalnya.</p>

<p>“Maksudnya?” tanya Vallerie kini lebih hati-hati.</p>

<p>“Kamu udah baca thread dari akun Twitter resmi kampus kita?” tanya Gavin memastikan.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Itu lo, Kak?” tanyanya.</p>

<p>Kali ini, Gavin yang mengangguk. “Haerin nyelundupin dana buat annual project fakultas kita,” singkatnya. “Aku nggak tahu gimana ceritanya bisa kesebar. Padahal, aku udah bilang sama internal BEM untuk nggak bawa masalah ini ke mana-mana dan aku udah janji untuk ganti uangnya,” sambungnya.</p>

<p>Mendengarnya, kedua telapak tangan mungil itu menutupi bibir yang jatuh dari peraduannya. Vallerie tidak percaya bahwa Gavin mampu dan mau mengganti uang dengan nilai puluhan juta rupiah secara sukarela. “Kenapa lo ganti uangnya, Kak?!” tanya Vallerie sedikit tidak santai. Bagaimana pun juga, Vallerie merasa tidak terima mantan kekasihnya diperlakukan dengan semena-mena. “Harusnya lo kasusin aja wakil lo itu!” lanjutnya.</p>

<p>Gavin tersenyum. Ia tahu ada makna tersirat, di mana gadis cantik masih peduli dengannya. “Haerin itu,” katanya menggantung “Mantan aku,” sambung Gavin mengakui.</p>

<p>“HAH?!” ujar Vallerie seiring dengan suaranya yang naik satu oktaf. Terlihat jelas, gadis cantik itu semakin sibuk untuk menutupi bibirnya yang semakin menjauh dari peraduan. Pasalnya, semua fakta ini membuat ritme jantungnya berdetak jauh lebih cepat. “Kak Valdi tau?” tanyanya.</p>

<p>Gavin kembali mengangguk. “Tau,” jawabnya singkat. “Ini buktinya,” kata lelaki tampan itu sembari menunjukkan luka paling parah yang terpampang jelas di wajah tampannya.</p>

<p>Refleks, melihat luka terbuka yang cukup lebar dan merah itu, Vallerie mendekatkankan dirinya pada sang mantan kekasih. Perlahan, jari telunjuknya menekan pelan luka tersebut dan membuat Gavin meringis. “Sakit, ya, Kak?” tanya Vallerie sembari sedikit mengangkat pandangannya agar lebih jelas untuk melihat wajah tampan yang sebenarnya ia rindukan itu.</p>

<p>Gavin mengangguk untuk menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan gadis cantik yang masih menjadi kesayangannya itu. Namun, di saat yang bersamaan, dirinya tersenyum karena mengetahui fakta bahwa Vallerie masih peduli pada keadaannya bahkan setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Gavin selama ini adalah pembodoh yang tidak dapat melihat setulus dan seputih apa kasih sayang dan cinta yang diberikan oleh Vallerie.</p>

<p>Ia menangkup tangan mungil yang berkali-kali menekan luka di wajah tampannya. “Sakit, Vall,” keluhnya. “Tolong kasih aku kesempatan untuk aku ngejelasin semuanya sama kamu,” lanjut lelaki tampan itu. “Aku nggak akan maksa kamu untuk terima maafku apalagi untuk balikan sama kamu tapi yang penting kamu tau apa yang sebenarnya terjadi,” jelas Gavin.</p>

<p>Akhirnya, setelah beberapa menit berada hampir di dalam dekapan lelaki tampan yang sebetulnya masih menjadi kesayangannya, Vallerie sadarkan diri dan segera menjauhkan dirinya. Ia berdehem. “ Ya, udah,” katanya. “Masuk dulu sini biar sekalian lukanya gue obatin,” lanjut gadis cantik itu.</p>

<p>Vallerie berbalik badan untuk kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya. Lalu, gerakan itu diekori oleh Gavin. Ia kembali tersenyum. Namun, kali ini, senyumnya terlihat lebih lebar dan lebih sumringah. Di sisi lain, Gavin merasa bersyukur karena Vallerie masih mau menerima ‘kehadirannya’. Gavin berjanji tidak akan meminta banyak hal pada Vallerie, yaitu hanya satu, penjelasan akan apa yang terjadi sebenar-benarnya.</p>

<p>“Lo udah makan, Kak?” tanya Vallerie saat keduanya sampai di ruang makan.</p>

<p>Gavin menggeleng. “Aku nggak punya waktu buat makan,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>“Makan dulu, ya, Kak,” ucap Vallerie. “Sekalian, gue cari dulu obat merah sama kapas,” ujarnya.</p>

<p>Gavin kembali menggeleng. “Nanti aja, Vall. Aku lagi nggak ada nafsu buat makan,” jelasnya.</p>

<p>Sontak, bersamaan dengan Gavin yang memberikan jawaban, Vallerie menyodorkan segelas air putih hangat di atas meja untuk kemudian menjawab, “Terus nafsunya ngapain?” tanya gadis cantik itu.</p>

<p>Sesaat, tangan kecil yang menggenggam gelas itu terdiam. Sepasang netranya membelalak sempurna. Vallerie dengan kebiasaannya melontarkan guyonan-guyonan kotor itu kepada orang-orang di sekitarnya, seperti Gavin dan Heidy, tiba-tiba menyadari bahwa ini bukan masanya lagi. Ditambah, lelaki tampan yang kini tengah duduk di balik meja makannya sekarang ialah mantan pacarnya. Vallerie mengutuk dirinya sendiri beserta lisannya yang sering kali menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.</p>

<p>Gavin berdehem pelan. “Gimana, Vall?” tanyanya.</p>

<p>“Nggak,” tukasnya cepat. “Gue nggak ngomong apa-apa,” sambung gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin mengangguk paham. Ia tahu bahwa Vallerie baru saja melontarkan dirty pick up line padanya seperti yang biasa dilakukannya saat dunia seolah milik mereka berdua meskipun hanya sekelibat. Namun, demi keselamatannya dan juga keselamatan harga diri mantan pacarnya itu, Gavin berpura-pura tuli. Padahal, lelaki tampan itu sendiri sudah tidak tahan untuk melepas tawanya dan langsung menyergap gadis cantik kesayangannya itu. Setidaknya, itu yang biasanya terjadi sewaktu keduanya masih bersama.</p>

<p>“Gue ambil kotak P3K dulu,” sela Vallerie.</p>

<p>Setelahnya, dengan niat seperti ingin membenturkan kepalanya pada dinding di dekat kamar tamu, Vallerie mengulurkan tangannya untuk membuka lemari kecil di samping jam dengan lonceng besar yang memiliki aksen interior Eropa kuno itu. Ia memaki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa? Mulutnya seolah tanpa kontrol mengucapkan kalimat memalukan seperti itu, apalagi kepada mantan pacarnya.</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin tiba-tiba.</p>

<p>Vallerie menoleh ke sumber suara. “Apa, Kak?” tanyanya setengah berteriak. Gavin tak kunjung menjawab. Akhirnya, Vallerie kembali ke ruang makan. “Apa?” ulangnya di hadapan sang kakak tingkat.</p>

<p>Gavin menghabiskan tegukan air putih hangat di dalam gelasnya sebelum menjawab. “Oh, nggak apa-apa,” jawabnya. “Takutnya kamu lupa nyimpe kotak P3K di mana,” jelas lelaki tampan itu. “Di samping jam lonceng. Ketemu ‘kan?” tanyanya serius.</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie mengernyitkan keningnya. “Gue nggak gila kali, Kak,” balasnya. “Ini rumah gue. Nggak mungkin gue lupa sama tata letak rumah gue sendiri,” tegas gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin terkekeh mendengar celotehan adik tingkatnya itu. “Kamu lupa ya? Kamu sering ngambek sama aku gara-gara nggak ketemu waktu nyari salep analgesik untuk—”</p>

<p>Penjelasan Gavin terputus. Vallerie juga tidak berniat untuk menanyakan kelanjutannya sebab hanya mereka berdua yang tahu dan memiliki kenangan tentang salep analgesik. Biasanya, setelah sesi permainan panas berakhir, Vallerie akan turun dari kamarnya menuju lemari kecil di samping jam lonceng untuk mencari salep analgesik tersebut untuk meredakan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya sebab sesi intim bersama sang kekasih.</p>

<p>Gavin masih ingat betul bagaimana Vallerie merengek dan hampir menangis sebab salep yang dicarinya tak kunjung ditemukan karena Gavin selalu memasukkan salep tersebut ke dalam kemasannya, di saat Vallerie selalu meletakkan segala benda yang dipegang sekenanya. Oleh karenanya, setiap permainan ala duniawi selesai di antara keduanya, Gavin akan berinisiatif turun dari kamar tidur sang kekasih untuk membawakan salep analgesik tersebut.</p>

<p>Kembali kepada situasi dan kondisi yang canggung di antara sepasang manusia yang sepertinya sama-sama tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang mantan, Gavin memaksakan dirinya untuk batuk demi memecah keheningan yang mengganggu. Sedangkan, Vallerie bergerak mengambilkan lagi segelas air putih hangat untuk kemudian memposisikan dirinya untuk duduk di kursi di samping sang mantan kekasih.</p>

<p>Dengan telaten, Vallerie membersihkan terlebih dahulu debu serta bekas noda darah yang membekas di sudut bibir kakak tingkatnya itu. Kemudian, ia oleskan salep untuk mencegah menggelapnya dan membengkaknya lebam yang berada di sekitar kening dan pelipis lelaki tampan itu. Lalu, barulah ia membubuhkan sedikit demi sedikit obat merah menggunakan kapas di sekitar luka terbuka yang ada di seluruh rangka wajah tampan di hadapannya itu.</p>

<p>“Aduh!” ringis Gavin. “Sakit, Vall,” keluhnya.</p>

<p>“Tahan, Kak,” perintah Vallerie. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.</p>

<p>“Kamu nempelin obat merahnya pelan-pelan,” pinta lelaki tampan itu.</p>

<p>Vallerie menghela napas panjang. “Ini udah pelan-pelan,” balasnya.</p>

<p>Setelahnya, suasana kembali mendingin. Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang mantan kekasih itu. Gavin melamun sebab sibuk mengoreksi dirinya sendiri perihal masalah-masalah yang terjadi di dalam hidupnya, terutama masalah yang berhubungan dengan Vallerie. Sementara itu, Vallerie memusatkan atensi penuh pada setiap luka yang tercipta akibat kemarahan kakak kandungnya pada sang mantan kekasihnya.</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin lagi demi memecah keheningan.</p>

<p>“Hm?” Yang dipanggil hanya berdehem singkat.</p>

<p>“Kamu kenapa nggak bilang aja?” tanya Gavin serius.</p>

<p>“Bilang apa?” balas Vallerie tanpa menolehkan pandangannya dari luka-luka kecil di sekitar pelipis dari wajah tampan di hadapannya.</p>

<p>“Bilang sama aku,” kata Gavin. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kalau kamu ngiranya aku selingkuh sama Haerin,” jelasnya.</p>

<p>Vallerie selesai dengan kegiatannya membalurkan salep dan mengoleskan obat merah pada setiap titik yang diperlukan pada wajah tampan mantan kekasihnya. Ia meletakkan kembali semua perkakas yang digunakannya sesuai dengan tempatnya, di mana hal itu membuat Gavin, yang sedari tadi secara diam memperhatikan gerak-geriknya, terheran karena kagum. Kemudian, Vallerie menjauhkan kotak P3K itu dari pandangannya keduanya.</p>

<p>“Untuk apa, Kak?” balas Vallerie dengan kembali bertanya. “Jawabannya ‘kan udah jelas,” ujarnya.</p>

<p>“Aku berani sumpah kalau aku nggak selingkuh, Vall,” tegas Gavin kesekian kalinya.</p>

<p>“Mana ada sih, Kak? Maling ngaku,” jelas Vallerie menganalogikan situasi dan kondisi yang dialami oleh Gavin dengan istilah umum. “Lagian, kalau lo beneran nggak selingkuh, Bang Paldi nggak mukulin lo kayak gini,” sambungnya.</p>

<p>“Valdi juga ngiranya aku selingkuh,” ucap Gavin. “Semuanya ngira aku selingkuh,” tambahnya.</p>

<p>“Jangan dibahas sekarang,” pinta Vallerie. Ia hendak bangkit dari posisinya duduknya.</p>

<p>Namun, lelaki tampan itu lebih gesit. Gavin menahan sebelah lengan kecil itu agar tidak berpaling dari hadapannya. “Aku harus gimana biar kamu percaya?” tanyanya dengan penuh makna.</p>

<p>Vallerie mengibaskan tangannya yang ditahan oleh sang mantan kekasih untuk minta dilepaskan. “Gue nggak perlu penjelasan apapun dari lo, Kak,” ujarnya. “Orang kalau udah selingkuh, ya, selingkuh aja, apapun itu alasannya,” sambung gadis cantik itu.</p>

<p>“Aku mohon…,” ucap Gavin. “Aku takut kalau ini jadi kesempatan terakhir aku untuk ngobrol sama kamu, Vall,” katanya. “Kasih aku kesempatan sekali ini aja untuk ngejelasin semuanya. Aku nggak mau kamu salah paham,” final lelaki tampan itu.</p>

<p>Keduanya saling beradu tatap. Gavin dengan tatapan memohonnya untuk diberi kesempatan meskipun yang terkahir dan Vallerie dengan tatapan bimbang apakah harus memberikan kesempatan untuk lelaki tampan di hadapannya ini untuk kembali menyakitinya atau apa. Namun, sebesar apapun masalahnya, bagi Vallerie, Gavin memiliki hak dan kewajiban untuk menjelaskan semuanya. Oleh karena itu, Vallerie bersedia mendengarkan.</p>

<p>“Alright,” kata Vallerie. Ia menyamankan posisi duduknya. “Jelasin apa yang mau dan harus lo jelasin,” izin gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin menghela napas lega. Dengan kemurahan hati gadis cantik itu, ia memiliki kesempatan mungkin terakhir untuk menjelaskan semua yang terjadi dengan sejelas-jelasnya. Gavin tahu bawah gadis cantik di hadapannya ini pantas untuk mendapatkan permintaan maaf dan pengakuan atas apa yang terjadi selama beberapa waktu belakangan. Gavin berharap semoga ini terakhir kalinya pula ia menyakiti hati gadis cantik kesayangannya.</p>

<p>Gavin memberikan kalimat demi kalimat eksplanasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Vallerie karena bagaimana pun semua kisah ini pastinya akan membingungkan bagi Vallerie, mulai dari fakta bahwa Haerin merupakan mantan kekasihnya semasa Sekolah Menengah Atas sampai alasan mengapa Haerin dapat dengan tega menyelundupkan dana dari rancangan acara yang sudah ditetapkan oleh BEM Fakultas Ekonomi.</p>

<p>Di sela-sela penjelasan itu, beberapa kali Vallerie menganga lebar sebab mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Ia juga tak jarang memotong story telling yang dikisahkan oleh mantan kekasihnya itu demi bertanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya, salah satu contohnya ialah, “Jadi, orang tuanya Haerin itu tau kalau anaknya punya mental illness, Kak?”</p>

<p>Gavin mengangguk. “Mereka tau,” jawabnya. “Tapi mereka lebih pilih untuk diam dan nyelesain semua perkara yang dibuat Haerin dengan uang dibanding ngebawa anak mereka untuk konsultasi ke profesional,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>Bersamaan dengan pertanyaan ke sekian yang dilontarkan Vallerie, selesailah kisah pilu yang diceritakan oleh Gavin mengenai based on true story-nya bersama dengan Haerin. Sepertinya, Vallerie masih berusaha mencerna semua hal-hal yang terjadi di antara dirinya, Gavin, dan juga perempuan bernama Haerin yang ternyata berusaha merusak kebersamaan mereka dan dirinya berhasil.</p>

<p>“Aku nggak akan memaksa kamu untuk maafin aku, Vall, karena aku juga tau kalau aku salah ambil jalan dan akhirnya ngebuat hubungan aku sama kamu jadi nggak jelas kayak gini. Aku udah ngerusak kepercayaan kamu. Aku juga udah ngerusak kepercayaan Valdi,” ujar Gavin. “Tapi ada satu hal yang harus kamu tau kalau aku nggak pernah dan nggak akan pernah selingkuh sama perempuan lain, apalagi Haerin,” sambungnya. “Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, Vallerie Adhikirana,” final lelaki tampan itu.</p>

<p>Detik demi detik yang berubah menjadi menit ke menit, tiba-tiba saja terdengar suara isakan. Vallerie menundukkan pandangannya selagi air mata berlinangan jatuh dari sepasang netranya. Dengan sigap, Gavin menggapai kedua bahu yang ikut bergetar itu. Ia tahu bahwa Vallerie sangat sakit sehingga kembali menangis karena kebodohan dan kesalahannya. Gavin gagal menjadi seseorang yang didamba-dambakan oleh gadis cantik kesayangannya.</p>

<p>“Kamu boleh pukul aku sekeras dan sepuas yang kamu mau, Vall,” kata Gavin. “Aku nggak akan ngelawan karena aku tau rasa sakit dari pukulan kamu itu nggak sebesar rasa sakit yang aku kasih ke kamu,” ucapnya lagi.</p>

<p>“Maafin aku, Kak,” ujar Vallerie seketika ia mengangkat pandangannya. “Aku udah salah sangka sama kamu,” lanjutnya.</p>

<p>“Jangan minta maaf, Vall,” balas Gavin. “Bukan kamu yang salah, aku yang salah,” kata lelaki tampan itu.</p>

<p>Vallerie menggeleng. “Nggak, Kak,” katanya. Ia menyeka jejak air mata pada kedua pipinya. “Seharusnya, aku percaya sama kamu,” ucap gadis cantik itu. “Dari dulu juga kamu selalu berusaha untuk ngelindungin aku,” ujar Vallerie.</p>

<p>Kali ini, Gavin yang menggeleng. Kedua tangan besar yang sebelumnya menggenggam sepasang lengan yang tadinya bergetar kini meluruh untuk menangkup tangan yang lebih kecil. Perlahan, tangan besar Gavin mengusap punggung tangan adik tingkatnya itu. “Untuk kali ini, kamu nggak perlu minta maaf sama aku,” jelasnya. “Di sini, aku yang salah, Vall,” akunya lagi. “Kalau aja waktu itu aku bisa berpikir lebih jernih pasti kejadian nggak akan kayak gini. Kalau aku ada di posisi kamu juga pasti aku bingung dan merasa tersakiti. Makanya, kamu nggak usah minta maaf, ya, Cantik,” final lelaki tampan itu seraya tersenyum.</p>

<p>Vallerie mengangguk paham mendengar eksplanasi singkat dari mantan kekasihnya itu. “Mana kamu udah abis digebukin sama Bang Paldi,” ucap Vallerie sembari tangan kanannya meraih sebelah rangka tegas yang dipenuhi lebam dan luka.</p>

<p>Gavin terkekeh. Ia menggenggam tangan kecil yang menangkup sebelah wajahnya untuk kemudian mengusapnya pelan. “Aku paham kok gimana perasaan Valdi kalau seandainya adik kandung satu-satunya disakitin sama orang lain,” ujarnya.</p>

<p>“Muka ganteng kamu jadi babak belur gini, Kak,” kata Vallerie mengasihani tampang mantan kekasihnya. “Masih sakit nggak?” tanyanya sungguh-sungguh.</p>

<p>“Masih,” jawab Gavin singkat.</p>

<p>“Yang mana?” balas Vallerie kembali bertanya. “Sini biar aku obatin lagi,” ucapnya.</p>

<p>Saat sebelah tangan Vallerie yang terbebas hendak meraih kembali kotak P3K yang terletak tak jauh dari mereka, sebelah tangan Gavin yang juga terbebas menghalang pergerakannya. Ia lekatkan tangan mungil yang hangat itu pada sisa ruang di wajahnya. Lalu, Gavin perlahan membawa ibu jari dari tangan mungil itu untuk mengusap bibirnya. “Di sini yang sakit,” finalnya.</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie tidak dapat menahan senyumnya. Ia membuang pandangannya ke segala arah, ke mana saja yang penting tidak menatap langsung sepasang netra bak kelinci yang masih menjadi kesukaannya sampai sekarang. Di sisi lain, Gavin tertawa. Ia sangat merindukan gadis cantik kesayangannya, termasuk seluruh kasih sayang dan cintanya. Gavin mengusak pelan pucuk kepala Vallerie.</p>

<p>“Kamu jangan mancing deh, Kak,” ucap Vallerie.</p>

<p>Ada kata sapaan yang lebih sopan terdengar, Gavin kembali menautkan alisnya. “Ini…,” katanya terputus. “Kamu udah nggak marah lagi sama aku?” tanyanya hati-hati.</p>

<p>Vallerie menghela napas panjang. “Aku marah sama kamu, Kak,” jawab gadis cantik itu. “Aku marah sama ke-nggak jelas-an kamu dan aku marah sama tingkah lakumu yang aneh itu,” jelasnya. “Tapi sekarang aku paham karena kamu udah mohon-mohon sama aku untuk ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi.” Di akhir kalimatnya, Vallerie tersenyum. “Makasih, ya, Kak, karena udah mohon-mohon sama aku untuk ngejelasin semuanya. Aku paham kok,” finalnya.</p>

<p>Sejenak, Gavin membeku di posisinya. Ia tidak mengerti mengapa Vallerie begitu bermurah hati untuk memaafkan kesalahannya, lagi dan lagi. Gavin merasa cukup putus asa dan tidak ingin berharap lebih. Namun, Vallerie malah memberikannya secercah harapan berupa kesempatan kesekian kali untuk berusaha kembali membahagiakannya. Gavin tidak tahu bagaimana nasibnya apabila tidak bersama Vallerie karena selama ini hidupnya ia usahakan dan dedikasikan hanya untuk Vallerie seorang. Mungkin, hal yang sama juga berlaku bagi Vallerie untuk Gavin.</p>

<p>“Masih sakit nggak?” tanya Vallerie memecah lamunan sang kakak tingkat.</p>

<p>“Oh, luka-lukanya?” balas Gavin dengan kembali bertanya. Lalu, ia menggeleng. “Nggak kok,” jawabnya. Perlahan, Vallerie bangkit dari posisi duduknya di hadapan lelaki tampan itu. Ia dudukkan dirinya di atas pangkuan sang dominan. Kedua lengannya ia kalungkan pada bahu lebar yang berada di hadapannya. Dengan sengaja, Vallerie mendekatkan wajah cantiknya pada rangka wajah tegas nan tampan itu. “Katanya tadi yang ‘itu’ masih sakit,” ucapnya sembari sepasang netranya tidak melepaskan tatapan, barang sedetik pun, dari belahan bibir yang selalu menggodanya semenjak pertemuan pertama mereka.</p>

<p>Gavin menyeringai sesaat gadis cantik kesayangannya memprovokasinya dengan aksi yang cukup berani. “Kalau masih sakit…,” balas lelaki tampan itu dengan sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tatap dengan intens peraduan bibir yang merah merona itu sebelum kembali menatap sepasang manik empunya. “Kamu mau ‘ngobatin’?” tanyanya menggoda.</p>

<p>Kali ini, Vallerie yang menyeringai. “Why not?” balasnya.</p>

<p>Selama beberapa detik, dua pasang netra itu saling menatap lebih dalam—seolah saling mengirim rindu yang selama beberapa pekan belakang terpaksa untuk dipendam. Vallerie meremat kemeja lawan mainnya. Ia menggigit mainnya demi menetralisir rasa gugupnya. Sementara itu, Gavin menangkap kegiatan yang dilakukan adik tingkatnya itu sebagai sinyal untuk menggodanya.</p>

<p>Secara bersamaan, keduanya berpagut. Ciuman itu terlihat menuntut, seperti keduanya menginginkan satu sama lain untuk kesekian kalinya di hidup ini. Gavin menekan tengkuk Vallerie agar memperdalam cumbuannya. Sedangkan, Vallerie mengusak kepala bagian kepala lelaki yang memuaskannya saat ini. Tiba-tiba, suara yang sudah lama Gavin rindukan terdengar. Vallerie melenguhkan namanya di sela-sela sesi pertukaran salivanya.</p>

<p>“Nghh, Kak,” rintih gadis cantik itu. Gavin lebih dulu mengakhiri permulaan kegiatan panas itu. Vallerie sukses dibuat panik saat salivanya bercampur dengan darah. Ia mengusap bibirnya yang terasa bengkak. “Kak?!” pekiknya.</p>

<p>Melihatnya, Gavin melakukan hal serupa. Ia menyeka tetesan darah pada bibirnya untuk kemudian terkekeh. “Aku kelepasan, ya,” ucapnya.</p>

<p>Vallerie menelisik dengan teliti belahan bibir di hadapannya. “Di bibir kamu ada lukanya, Kak,” jelasnya. “Aku pikir waktu kamu bilang bibir kamu ‘sakit’ itu cuma ngegodain aku aja,” ujar gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin menggeleng untuk menanggapi celotehan Vallerie. “Aku nggak apa-apa kok,” tukasnya.</p>

<p>“Beneran?” tanya Vallerie pelan.</p>

<p>Sepasang netra lembut itu berbinar—memancarkan ketulusan. Gavin dapat melihat dengan jelas manik yang bercahaya itu memandang ke arahnya. Ia tersenyum untuk kemudian mengangguk. “Iya,” singkatnya. “Aku beneran nggak apa-apa kok,” ucap lelaki tampan itu.</p>

<p>“Kak,” panggil Vallerie lebih pelan lagi.</p>

<p>“Hm?” balas lelaki tampan itu hanya dengan deheman singkat.</p>

<p>“Mau lagi,” lirih Vallerie.</p>

<p>Dua kata keramat itu sukses membuat Gavin membeku. Sepasang netranya membulat sempurna. “Apa, Vall?” tanyanya setengah sadar.</p>

<p>“Aku mau lagi,” ulang Vallerie. Kali ini, suaranya terdengar jelas. Ia tidak ingin lagi memaksa hasratnya untuk menunggu.</p>

<p>Lalu, ciuman panas itu kembali terjadi. Pagutannya terlihat dan terasa jauh lebih menuntut. Tidak hanya bibir-bibir itu yang bermain, tangan satu sama lain juga ikut bergerak. Gavin mengusap perut gadis cantiknya dan Vallerie terus mengusap tengkuk leher kakak tingkatnya. Bahkan, pendingin ruangan yang tersedia tidak mampu lagi meredam hawa panas yang keduanya ciptakan.</p>

<p>Selanjutnya, tanpa diduga-duga, tanpa melepaskan pagutannya, Gavin menggendong tubuh mungil itu untuk duduk di atas meja makan—meja yang sama yang mereka gunakan untuk menyantap hidangan saat acara ulang tahun Valdi berlangsung. Kali ini, Vallerie yang lebih dulu menyudahi cumbuan di antara keduanya. Ia tertawa kecil sesaat mengetahui apa yang Gavin mungkin akan lakukan kepadanya.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin ikut tertawa. “Kenapa, Cantik?” tanyanya.</p>

<p>Vallerie hanya menggeleng. “Nggak, Kak,” dustanya.</p>

<p>Padahal, banyak adegan tidak senonoh yang terputar di kepalanya. Ia sendiri tidak sanggup untuk menahannya. Selagi Vallerie sibuk dengan skenario-skenario kotor di kepalanya, tangan besar yang bersanggah di sisi kanan dan kiri tubuh mungil itu tiba-tiba saja bergerak. Sebelah tangan Gavin dengan aktif menggoda payudara yang terlihat mencuat dari house dress yang dikenakan Vallerie—baju yang membuyarkan atensinya sejak datang ke rumah ini.</p>

<p>“Ahh,” desah Vallerie.</p>

<p>Ia mengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang makan. Kedua tangannya menyangga beban tubuhnya di atas meja makan. Gavin tersenyum puas kala melihat pemandangan gadis cantiknya yang selalu saja terbuai dengan segala permainan yang ia lakukan. Namun, Gavin tidak ingin melakukan sesuatu yang jauh dari kata sempurna. Perlahan, tanpa memberhentikan permainannya dari gunung sintal Vallerie, jari jemari dari tangannya yang terbebas meluruhkan tali gaun tidur yang dikenakan sang gadis.</p>

<p>Vallerie langsung dapat merasakan angin dingin menyentuh permukaan kulitnya, terutama putingnya yang mencuat. Kesempatan itu Gavin gunakan untuk memilin lalu sesekali menekan ke dalam puting menyembul itu. Lagi-lagi, Vallerie terlena dengan servis yang diberikan kayak tingkatnya. Tubuhnya hampir ambruk di atas meja makan apabila tangannya tidak sigap mencengkeram bahu lebar di depannya.</p>

<p>“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.</p>

<p>“Enak, Vall?” tanya Gavin.</p>

<p>Vallerie mengangguk beberapa kali. “Enakhh,” jawabnya.</p>

<p>Gavin mendekatkan diri ke arah Vallerie. Ia biarkan tubuh hangat itu memeluk dirinya. Tangan yang digunakannya untuk memijat payudara sang gadis kini berpindah haluan. Jari jemarinya yang lentik untuk ukuran seorang lelaki menyapu garis leher yang terpampang jelas di hadapannya dan perlahan turun menuju selatan. Di bawah sana, ibu jari serta jari telunjuknya bermain dari bagian luar pakaian dalam. Vallerie semakin mengeratkan dekapannya saat jari-jari tersebut menyentuh kepemilikannya.</p>

<p>“Nghh,” lirih gadis cantik itu.</p>

<p>“Udah basah, ya,” goda Gavin sembari berbisik.</p>

<p>Vallerie terkekeh pelan. Ia membalas bisikkan lelaki tampan di hadapannya. Kedua telapak tangannya ia sengaja letakkan pada dada bidang yang hanya berjarak beberapa inci darinya. “Kamu selalu bisa buat aku basah, Kak,” ucapnya membalas godaan.</p>

<p>Gavin menghentikan seluruh aktivitas nakalnya. Ia memandang ke segala arah sembari menyeringai. Lidahnya bermain di dalam mulutnya. Vallerie selalu bisa membuatnya hasratnya hampir meledak dan meledakannya kemudian. Gavin dibuat menggila oleh gadisnya. Ia kembalikan lagi tatapan itu ke wajah cantik di depannya. Gavin kembali berbisik. “Aku bikin jadi lebih basah lagi,” katanya.</p>

<p>Kemudian, Gavin mundur beberapa langkah dari hadapannya sang gadis. Ia berjalan pelan ke arah lemari pendingin yang terletak di perbatasan ruang makan dan dapur. Sepasang netra lembut itu mengekori pergerakan yang dilakukan oleh lawan mainnya. Vallerie melihat Gavin membuka pintu sebelah kiri dari lemari pendingin miliknya. Di balik tubuh besar itu, Vallerie tidak yakin ia dapat melihat apa yang Gavin lakukan di sana.</p>

<p>Vallerie sukses dibuat menganga saat Gavin membalikkan tubuhnya. Ia secara terang-terangan menunjukkan sebuah bongkahan es yang baru saja ia ambil dari freezer. Gavin berjalan kembali ke arah gadisnya selagi ibu jarinya mengusap permukaan bongkahan es tersebut. Vallerie tidak dapat melepaskan tatapannya dari air beku nan dingin yang digenggam kakak tingkatnya. Gavin tersenyum sesaat sampai di hadapan sang gadis.</p>

<p>“Valdi pernah cerita katanya kamu suka ngunyahin es batu, ya, Vall?” tanya Gavin.</p>

<p>Vallerie tidak mampu menjawab. Ia hanya dapat mengangguk sebagai respons sebab baik tubuh maupun lidahnya terasa kelu. Vallerie tengah mengingat sesuatu, lebih tepatnya film biru yang tersimpan di dalam cakram keras yang lelaki tampan itu sita pada permainan panas pertama mereka, di mana mereka juga secara resmi menjadi sepasang kekasih saat itu. Vallerie sempat membuang pandangannya sebelum Gavin mengembalikkannya dengan mencium pipinya.</p>

<p>“Kak?!” protes Vallerie.</p>

<p>Kali ini, Gavin yang tidak mampu menjawab. Namun, tubuhnyalah yang bergerak. Ia menggigit bongkahan es batu yang diambilnya tadi untuk kemudian membuka satu per satu kancing baju kemeja putih yang ia gelung lengannya sampai siku. Luruhan kain itu menampilkan pemandangan tubuh kekar nan besar yang sangat Vallerie sukai. Ia tidak dapat meloloskan tatapannya barang sebentar pada lanskap indah di hadapannya.</p>

<p>Lalu, lelaki tampan itu kembali bergerak. Ia membuka kain tipis berwarna biru muda yang melindungi tubuh gadisnya. Gavin dipuaskan dengan penampilan tubuh indah Vallerie yang kini hanya menyisakan pakaian dalam saja. Jemari itu kembali menyapu tubuhnya sebelum kembali berkutik pada bongkahan es di mulutnya dan melakukan hal yang sama tetapi kali ini ditemani dengan lelehan air dingin dari es batu yang mulai mencair.</p>

<p>“Shh, ahhh,” desis Vallerie.</p>

<p>“Setelah ini,” ucap Gavin menggantung. “Persepsi kamu tentang es batu yang suka kamu kunyahin nggak akan sama lagi,” jelasnya.</p>

<p>Kalimat itu sukses membuat manik Vallerie membulat. Vallerie seolah tidak diberi kesempatan untuk mencerna apa yang Gavin katakan padanya barusan, kini kepemilikannya sudah dijajahi oleh sebuah bongkahan es batu dan dua jari besar milik lawan mainnya. Sontak, Vallerie melebarkan posisi kakinya—membiarkan kombinasi gila antara jari dan es batu itu melecehkan vaginanya.</p>

<p>“Nghhh ahh, Kak,” desah Vallerie setengah memekik.</p>

<p>Vallerie tidak tahu harus menyebutnya sebagai permainan dingin atau panas tetapi yang pasti ide gila yang Gavin putuskan untuk diberikan kepadanya berhasil membuat pandangannya pada langit-langit atap ruang makan menjadi memburam. Ia terlalu dikuasai oleh rasa nikmat yang teramat sangat. Tubuhnya terhuyung. Namun, Gavin menangkapnya dengan cepat. Ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Vallerie.</p>

<p>“Ahhh,” lirih Vallerie.</p>

<p>Tanpa sadar, gadis cantik itu menggoyangkan pinggulnya seolah meminta lebih. Gavin yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum puas. Ia tidak pernah gagal dalam membuat bucket list ala kenikmatan duniawi milik Vallerie menjadi kenyataan. Sebenarnya, diam-diam, Gavin memeriksa satu per satu film maupun video yang terdapat di dalam cakram keras milik mantan kekasihnya itu. Oleh sebabnya, Gavin selalu tahu apa yang Vallerie mau dan butuhkan.</p>

<p>Misalkan, seperti sekarang, Gavin dapat melihat dengan jelas Vallerie semakin meminta dengan menggunakan pinggulnya. “Lagi, Vall?” tanyanya.</p>

<p>Vallerie mengangguk. Bongkahan es batu yang berada di dalam vagina bersama dengan dua jari lainnya semakin meleleh dan Vallerie semakin merasa di atas awan. Gavin mempercepat tempo adukannya di bawah sana. Keluar lalu masuk. Memutar. Menekan klitorisnya. Semua Gavin lakukan demi agar gadis cantiknya dapat mencapai titik ternikmatnya. Di sisi lain, Vallerie berusaha dengan maksimal untuk menikmati permainan yang Gavin ciptakan untuknya.</p>

<p>“Nghh, Kak,” panggil Vallerie.</p>

<p>“Ya, Vall,” balasnya.</p>

<p>“Aku mau, ahhh, keluar,” jelasnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.</p>

<p>Gavin tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga sang gadis. “Keluarin aja, Sayang,” bisiknya.</p>

<p>“Nghh ahhh!” pekik Vallerie kemudian.</p>

<p>Tubuhnya meluruh. Napasnya tersengal. Ia memeluk tubuh besar di hadapannya bak koala. Gavin terkekeh melihat gadis cantik yang seolah memercayakan seluruh tubuhnya kepadanya. Tangan besarnya kembali bergerak tetapi kali ini gerakannya lembut dan pasti. Ia mengusap punggung polos serta pucuk kepala Vallerie secara bergantian. Gavin dapat merasakan tubuh mungil itu memanas.</p>

<p>“Vall,” panggilnya.</p>

<p>“Hm?” Vallerie hanya merespons singkat.</p>

<p>“Capek, ya?” tanyanya memastikan.</p>

<p>Selama beberapa detik tidak ada jawaban yang terdengar. Gavin hanya dapat merasakan napas hangat dengan ritme yang teratur. Gavin mengira gadis cantik itu tidur di dalam dekapannya. Namun, Gavin salah besar. Di detik setelahnya, Vallerie melepaskan pelukannya untuk kemudian menghempaskan tubuh besar di depannya. Gavin dibuat terkejut oleh perilakunya yang tiba-tiba itu.</p>

<p>“Vall?” ucap Gavin keheranan.</p>

<p>“Sekarang, giliran aku,” tegas Vallerie.</p>

<p>Gavin menaikkan sebelas alisnya. “Giliran kamu?” balasnya dengan bertanya.</p>

<p>Vallerie, dengan gerak-gerik yang se-sensual mungkin, membujuk Gavin untuk duduk di kursi yang tadi ia gunakan untuk memangku dirinya setelah sebelumnya meluruhkan celana katun berwarna hitam tersebut—meninggalkan pakaian dalam yang masih melindungi batang beruratnya. Kemudian, tali pinggang dengan warna serupa dengan celana itu Vallerie gunakan untuk mengikat tangan besar kakak tingkatnya.</p>

<p>Gavin dibuat membungkam dengan semua perilaku yang Vallerie perbuat padanya. Ia terkekeh, “Kamu masih punya hard disk lain, ya?” tanya lelaki tampan itu menuduh. “Tau banget gimana bikin aku tegang,” lanjutnya.</p>

<p>Sebelum menjawab, Vallerie lebih dulu menyiapkan posisinya. Ia berlutut di hadapan Gavin dengan sepasang netra yang memandang intens secara bergantian pada manik bak kelinci di atas dan tonjolan yang memaksa ingin keluar dari tempatnya di bawah. “Ini namanya insting, Kak,” jawabnya.</p>

<p>“Insting?” ulang Gavin.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Iya, insting,” balasnya. “Insting bermain liar kalau partner-nya cocok,” sambung gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin tidak diberi kesempatan untuk merespons pernyataan dari sang gadis sebab Vallerie sudah lebih dulu mencium lalu mengusap pelan penisnya yang terkungkung di balik pakaian dalamnya. Gavin memejamkan matanya. Sesekali, ia mendesis sebab tangan mungil yang terasa hangat itu terus menggoda kepemilikannya. Gavin harus mengakui bahwa permainan intim akan terasa semakin nikmat apabila keduanya habis terlibat pertengkaran.</p>

<p>“Nghh, Vall,” lirih Gavin.</p>

<p>Vallerie terus bermain dengan penis di hadapannya. Ia sentuh kepalanya serta mengelus pelan batangnya. Hanya dengan dua gerakan sederhana seperti itu saja mampu membuat Gavin mengerang kenikmatan. “Enak, Kak?” tanya Vallerie.</p>

<p>Gavin yang sedari tadi memejamkan matanya kini kembali menatap sang gadis. Ia mengangguk. “Good girl,” pujinya. “Pinter maininnya,” ujar lelaki tampan itu.</p>

<p>Vallerie tersenyum puas. Artinya, tidak sia-sia selama ini dirinya mencari siasat untuk menggunakan media lain untuk mencari ‘pembelajarannya’ sebab cakram keras miliknya yang diambil sepihak oleh mantan pacarnya itu. Lalu, Vallerie kembali memusatkan atensinya pada penis milik kakak tingkatnya. Perlahan namun pasti, tangan kecilnya bergerak meluruhkan pakaian dalam lawan mainnya.</p>

<p>Vallerie menenggak salivanya sesaat batang besar dan berurat itu muncul tepat di hadapannya dengan cairan pre-cum yang melumasi di bagian kepalanya. Dalam diamnya, Gavin menyeringai. “Ayo, Cantik,” bujuk Gavin. “Show me what you got,” sambungnya.</p>

<p>Dengan titah langsung itu, Vallerie menjilat ujung kepala penis tersebut untuk kemudian memasukkannya secara perlahan ke dalam kerongkongannya. Vallerie dapat merasakan penis itu memenuhi mulutnya. Gavin yang kepemilikannya mendapatkan servis berupa mulut gadis cantiknya yang hangat dan basah hanya dapat mendesah. Seperti katanya, Vallerie pandai ‘memainkan’ miliknya.</p>

<p>“Shh ahhh,” desis lelaki tampan itu.</p>

<p>Dari bawah sana, Vallerie dengan giat memainkan penis besar itu di dalam mulutnya. Beberapa kali dirinya sempat hampir tersedak tetapi ia mampu menahannya sebab suara bariton yang terus mendesah dan meluruhkan namanya membuat dirinya menjadi bersemangat. Vallerie merasa batang besar yang berada di dalam mulutnya semakin keras dan menegang. Sepertinya, Gavin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi.</p>

<p>“Nghh, Vall,” panggil Gavin. Namun, gadis cantik itu tidak mendengarnya. “Vallerie, ahhh,” panggilnya lagi.</p>

<p>Gavin berusaha menyadarkan adik tingkatnya itu tetapi sepertinya Vallerie sangat fokus di bawah sana. Gavin yang diselimuti kenikmatan tidak dapat berbuat banyak. Akhirnya, kedua tangannya yang terikat ia paksa untuk bergerak. Tangan besar itu menangkup sebelah pipi sang gadis dan barulah Vallerie kembali pada kenyatannya. Gavin tersenyum sesaat sepasang netra yang berbinat itu memandang ke arahnya.</p>

<p>“Udah,” singkatnya.</p>

<p>“Kamu belum keluar, Kak,” jelas gadis cantik itu.</p>

<p>“Nggak apa-apa,” ucap Gavin. “Aku liat muka kamu udah merah banget, Vall,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>“Tapi aku mau kamu juga keluar,” tegas Vallerie.</p>

<p>Gavin tersenyum sembari mengusap pucuk kepala gadisnya. “Ini udah lebih dari cukup,” tegasnya.</p>

<p>Sementara itu, Vallerie tidak setuju dengan Gavin. Ia ingin sekali menentang. Vallerie bangkit dari posisi berlututnya. Ia memandang Gavin dengan tidak senang. Gavin hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah gemas adik dari teman dekatnya itu. Vallerie melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, tiba-tiba saja sesuatu melintas di dalam kepalanya—sebuah taktik untuk mewujudkan penolakannya.</p>

<p>Gavin baru saja akan menyodorkan tangannya untuk meminta dibukakan ikatannya kala Vallerie mendahului aksinya. Vallerie menarik sepasang tangan besar yang masih di dalam belenggu dari tali pinggangnya itu. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah tampan di hadapannya. Sebelah kakinya ia tenggerkan di atas kursi yang Gavin duduki. Gavin dibuat cukup terkejut dengan pergerakan menggoda yang tiba-tiba itu.</p>

<p>Ibu jari Vallerie bergerak menangkup dagu mantan kekasihnya. “Kalau aku enak,” ucapnya menggantung dan sedikit berbisik. “Kamu juga harus enak, Kak,” lanjutnya.</p>

<p>Vallerie seolah dirasuki oleh setan pecinta seks yang biasanya menguasai tubuh kekar Gavin. Setelahnya, Vallerie berdiri tegap di depan kakak tingkatnya itu. Ia mengamati tubuh yang hampir telanjang itu dari atas sampai bawah. Vallerie kembali bergerak. Ia menghempaskan kain terakhir yang melekat di tubuh masing-masing. Dengan begitu, Gavin dapat melihat tubuh polos gadisnya dan sebaliknya. Gavin tidak menanggapi taktik yang Vallerie rancang untuknya. Sesuai dengan ultimatum dari gadis cantik tersebut, ia hanya tersenyum dan menunggu bagaimana permainan ini akan berjalan.</p>

<p>Vallerie kembali berinteraksi dengan batang besar nan berurat yang mengundang hasratnya sejak ia lucuti celana katun berwarna hitam milik mantan kekasihnya itu. Ia mencium pucuk penis itu lebih lama dari yang sebelumnya. Indera pendengaran gadis cantik tersebut sangat dipuaskan dengan suara desisan serta desahan yang mengandung namanya.</p>

<p>“Shh, Vall,” lenguh Gavin.</p>

<p>Vallerie bangkit dari posisinya untuk kemudian membalikkan tubuhnya. Gavin mulai tahu ke mana arah permainan ini akan berlangsung. Perlahan, gadis cantik itu mendudukkan dirinya di atas lawan mainnya. Vallerie memposisikan penis yang menjulang itu untuk memasukinya. Namun, ia tak ingin masuk hanya dengan sekali hentak. Vallerie beberapa kali menggoda kakak tingkatnya itu dengan menggesekkan ujung penisnya pada permukaan vaginanya—membuat keduanya merasakan nikmat satu sama lain.</p>

<p>“Ahh!”</p>

<p>“Nghhh!”</p>

<p>Lalu, setelah puas menggoda lelakinya, dan juga dirinya, Vallerie memutuskan untuk masuk ke permainan inti. Ia kembali mengatur posisi agar penis besar itu memasuki dirinya secara utuh. Vallerie menggerak-gerakan pinggulnya naik dan turun dengan tempo pelan. Gavin merasakan miliknya masuk dengan sempurna ke dalam gadisnya. Ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit sembari memejamkan matanya. Gavin berusaha menikmati Vallerie dengan sepenuh hatinya.</p>

<p>“Nghh, shit, Vall,” umpat Gavin. “Kamu enakhh banget,” pujinya kemudian.</p>

<p>“Ahhh, Kak,” balas Vallerie.</p>

<p>Vallerie mulai menambah ritme dalam pergerakannya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang beban tubuhnya di atas paha kanan dan kiri mantan kekasihnya. Ia menggigit bibirnya sebab rasa puas akan sesuatu yang besar nan urat yang tengah memasuki dirinya saat ini. Napasnya mulai tersengal sebab sentakan yang dilakukannya secara teratur dan Gavin sadar akan itu. Oleh karenanya, Gavin membantu pergerakan gadisnya. Ia menggerakan pinggulnya dengan menyesuaikan tempo yang dimainkan Vallerie.</p>

<p>“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.</p>

<p>Di hari itu, langit yang dihiasi oleh bulan purnama dan tidak ada satu pun bintang yang menampakkan diri, di pelataran ruang makan dengan lemari pendingin dan kursi makan yang menjadi saksi bisu, Gavin dan Vallerie kembali menyatukan diri mereka. Suara pertemuan antara dua kulit yang basah merupakan pertanda perpaduan tubuh masing-masing. Baik Gavin maupun Vallerie sama-sama merindukan sensasi ini.</p>

<p>“Nghh, Vall,” rintih Gavin. “Aku mau ahh keluar,” ujarnya.</p>

<p>Sepersekian detik setelahnya, Gavin bergerak—seolah tetap ingin menjadi pemimpin di dalam sesi intim nan panas keduanya. Ia mengalungkan tangannya yang terikat pada tubuh mungil di atas pangkuannya. Lalu, dengan akses yang terbatas, tangannya meraih puting gadisnya yang menyembul sempurna. Diberi pelayanan tiba-tiba seperti itu, Vallerie menyandarkan tubuhnya untuk kemudian menarik Gavin untuk masuk ke dalam pagutannya.</p>

<p>“Mphhh,” lirih gadis cantik itu. Tak lama setelahnya, ia menyudahi ciuman itu. “Nghh, Kak, aku mau keluar,” jelasnya.</p>

<p>“Akhh!”</p>

<p>“Ahhh!”</p>

<p>Keduanya mencapai titik ternikmat secara bersamaan. Tubuh Vallerie menggelinjang hebat di atas pangkuan Gavin. Untuk malam ini, energinya benar-benar ia gunakan semaksimal yang ia bisa. Gavin dan Vallerie menolehkan pandangannya satu sama lain. Keduanya dibanjiri peluh. Kala dua pasang netra itu bertemu, keduanya tertawa pelan untuk sesaat. Gavin tersenyum melihat pemandangan cantik di hadapannya saat ini dan begitu pun dengan Vallerie.</p>

<p>“Capek, Vall?” tanya Gavin memastikan.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Banget, Kak,” jawabnya.</p>

<p>“Kamu pinter geraknya,” puji Gavin lagi.</p>

<p>“Kok kamu bisa sih, Kak,” ucap gadis cantik itu menggantung. “Nggak capek kalau lagi main sama aku?” tanyanya. “Padahal, kamu yang lebih banyak geraknya,” tambah Vallerie.</p>

<p>“Aku juga nggak tau,” jawab Gavin. “Aku nggak pernah capek kalau main sama kamu,” jelasnya.</p>

<p>“Kamu minum obat kuat, ya?” tuduh Vallerie.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin tertawa. “Nggak mungkinlah,” balasnya. “Mungkin karena…,” ucapnya menggantung. “Insting?” goda lelaki tampan tersebut.</p>

<p>Vallerie menjawir hidung bangir di depannya. “Ledekin terus aja akunya,” protesnya.</p>

<p>Dengan posisi seperti itu, Gavin tak kuasa menahan hasratnya. Namun, di sisi lain, ia tidak tega apabila harus menggempur habis gadisnya. Sebagai gantinya, Gavin memanggil bibir ranuh di depannya untuk bergabung bersamanya. Ciuman kali ini terlihat dan terasa lebih tenang—seolah keduanya menginginkan satu sama lain tanpa harus adanya dominasi. Baik Gavin dan Vallerie sama-sama menikmati cumbuan itu.</p>

<p>Gavin lebih dulu menyudahi pagutannya. Ia mengangkat tangannya yang terikat. “Sekarang, udah boleh dilepas kan?” tanyanya menggoda.</p>

<p>Vallerie tertawa. “Boleh, Kak,” jawabnya. Vallerie berdiri dari pangkuan kakak tingkatnya untuk kemudian membebaskan sepasang lengan besar itu dari tali pinggang milik sang empunya. Gavin mengusap tangannya yang terasa kaku. “Sakit, ya, Kak?” tanya Vallerie khawatir.</p>

<p>Gavin menggeleng. “Nggak, Sayang,” ucapnya.</p>

<p>Mendengar ada kata panggilan manis yang terkandung di dalam kalimat tersebut, wajah Vallerie memanas. Ia memalingkan wajahnya agar pelakunya tidak dapat melihatnya salah tingkah secara langsung. Namun, Gavin tetaplah menjadi yang paling sigap. Ia sadar akan hal itu. Ia berusaha keras menahan senyumnya. Ia bangkit dari posisi duduknya untuk menyempatkan diri mengusap pucuk kepala gadisnya sebelum berlalu ke kamar tidur tamu.</p>

<p>Sepeninggalan Gavin, Vallerie menghela napasnya. Ia bergumam, “Kalau gini, mana bisa gue jauh dari Kak Gavin,” monolognya.</p>

<p>Srakkk.</p>

<p>Sebuah selimut putih tiba-tiba tersampir pada tubuh polosnya. “Aku juga,” sambungnya.</p>

<p>“Kamu juga apa, Kak?” tanya Vallerie.</p>

<p>Gavin yang sudah berganti penampilan dengan mengenakan bathrobe yang ia ambil dari kamar tidur tamu menanggapi celotehan Vallerie yang sempat ia dengar sebelum berlalu ke ruang makan. “Aku juga nggak bisa jauh dari kamu, Vall,” jelasnya. “Maafin aku, ya, Vall,” ucapnya meminta maaf kesekian kalinya hari ini. “Aku egois,” tambah lelaki tampan itu.</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie berhamburan memeluk tubuh besar yang berjarak beberapa langkah di hadapannya. Bahu sempitnya berguncang hebat di sana. Vallerie menangis sejadi-jadinya. Gavin berusaha melepaskan dekapannya tetapi tenaga Vallerie, entah mengapa, jauh lebih kuat darinya. Vallerie tidak ingin Gavin melihatnya menangis. Namun, ia butuh untuk Gavin mendengarkan menangis.</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin. Tangannya bergerak mengusap punggung gadis cantiknya. “Kenapa nangis?” tanyanya.</p>

<p>“Aku kangen sama kamu, Kak,” ujarnya diselingi dengan beberapa isakan.</p>

<p>Gavin tersenyum lembut. “Aku juga kangen sama kamu, Vall,” balasnya.</p>

<p>Sejenak, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Gavin masih dengan telaten mengusap punggung sempit yang memeluknya erat itu. Ia menopangkan dagunya pada pucuk kepala yang sesekali berguncang sebab tangisannya. Setelah beberapa saat, isakan itu mulai berhenti. Vallerie menyeka jejak air mata di wajahnya tetapi tetap tidak mau menatap wajah tampan Gavin secara langsung.</p>

<p>“Kak,” panggil Vallerie.</p>

<p>“Iya, Vall,” balasnya lembut.</p>

<p>“Aku suka dipanggil ‘Sayang’ sama kamu,” jelas gadis cantik itu. “Gimana pun keadaannya,” final Vallerie.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin tersenyum. Itu berarti satu hal. Selain menerima maafnya, Vallerie masih bersedia untuk menjadi kekasihnya. Setelah pengakuan masing-masing, di mana keduanya tidak dapat hidup satu sama lain, maka jalan terbaiknya ialah mereka tetap bersama. Baik Gavin dan Vallerie berjanji untuk menghadapi segala sesuatu yang menerpa hubungan mereka secara terbuka.</p>

<p>Gavin mengangguk pelan. “Iya, Vall,” ucapnya. “Aku bakal tetep manggil kamu ‘Sayang’,” jelas lelaki tampan itu. “Gimana pun keadaannya,” ulang Gavin. “Ya, Sayang?” finalnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/an-apology</guid>
      <pubDate>Fri, 13 Feb 2026 14:38:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>An Apology</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/the-apology?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[An Apology&#xA;&#xA;Di siang yang semakin terik sinar mentarinya itu, terlihat seorang lelaki tampan dengan langkahnya yang terdengar mendentum tengah menaiki satu per satu anak tangga untuk sampai ke gedung parkir, tepatnya lantai paling atas. Selain langkahnya yang terdengar mendentum, wajah tampan itu juga menyemburatkan aura kemarahan. Gavin hampir sampai di tempat tujuannya saat seorang perempuan di hadapannya mencoba merengkuhnya.&#xA;&#xA;Dengan sigap, Gavin mencegah hal itu agar tidak terjadi. Tangannya mendorong pelan lawan bicaranya agar tidak dapat menggapai tubuhnya. Haerin tersentak. “Oh? Huh?!” protesnya.&#xA;&#xA;“Jangan aneh-aneh,” tegas Gavin pada teman sekolahnya dulu sekaligus wakilnya sekarang.&#xA;&#xA;Haerin memandang Gavin dengan penuh tanya. “What’s wrong, G?” tanya perempuan itu sembari tersenyum. “You don’t look okay to me,” jelasnya.&#xA;&#xA;“If only you can realize it faster,” ucap lelaki tampan itu sarkas. “Aku memang nggak pernah kelihatan baik-baik aja di depan kamu,” sambungnya.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Haerin mengerucutkan bibirnya. “How rude,” balasnya. “Membuat aku semakin yakin kalau kamu lagi not okay,” ucap Haerin. “What’s wrong? It’s because of Vallerie, isn’t it?” tanyanya seolah tanpa dosa.&#xA;&#xA;Kala ada sebuah nama disebut, Gavin melirik sinis ke arah wakilnya. “Seriously, Rin?” tanya Gavin sembari mengangkat sebelah alisnya. “Kamu pikir aku begini karena Vallerie?” tanyanya lagi. &#xA;&#xA;Haerin tersenyum. Ia maju selangkah agar lebih dekat dengan lelaki tampan pujaan hatinya itu. “Oh, poor you,” ucapnya. “Kamu pasti capek, ya, sama Vallerie yang egois dan nggak pernah ngerti sama keadaanmu?” tanya Haerin tanpa beban.&#xA;&#xA;Lagi, sebab ada nama sang kekasih yang disebut oleh orang gila di hadapannya, Gavin menghela napas panjang. “You’re not that stupid to understand what I said,” ujarnya. “Aku NGGAK PERNAH dan NGGAK AKAN PERNAH capek sama Vallerie,” jawab lelaki tampan itu. Gavin mencoba menggarisbawahi beberapa kata dalam kalimat agar Haerin dapat mengerti—walaupun ‘mengerti’ adalah salah satu hal yang sukar sekali dilakukan oleh wakilnya itu.&#xA;&#xA;“It’s okay, G,” kata Haerin. “Kamu bisa jujur kok sama aku kalau kamu capek sama Vallerie.” Haerin masih pada pendiriannya yang mengira biang masalah dari semua yang terjadi di antaranya dan Gavin disebabkan oleh Vallerie. “Aku paham kalau kamu capek sama Vallerie yang nggak pernah mau mengerti sama keadaan kamu tapi kamu nggak perlu khawatir karena aku akan selalu mengerti kamu.”&#xA;&#xA;Gavin merasa pusing tujuh keliling mendengar kalimat tidak masuk akal yang Haerin terus ucapkan padanya. Ia memijat pangkal hidungnya. “Aku ke sini mau menegaskan sesuatu sama kamu,” katanya. “And please stop calling me with that silly nickname while I ask you nicely,” tambah Gavin.&#xA;&#xA;Sebenarnya, Haerin tahu bahwa Gavin marah padanya. Namun, dirinya bertindak seolah-olah tidak tahu sebab ia sangat menyukai ekspresi Gavin yang tengah marah. Bagi Haerin, Gavin yang marah adalah Gavin yang paling tampan. Gavin tidak salah apabila ia menganggap Haerin atau teman semasa sekolahnya dulu atau wakilnya sekarang adalah orang gila karena memang Haerin adalah definisi dari orang gila itu sendiri.&#xA;&#xA;Haerin memutar balik tubuhnya untuk kemudian berjalan menuju tempat mobil Gavin terparkir. Ia memanjat dan mengambil posisi duduk di atas bagasi mobil sedan berwarna putih itu. “What is it, G?” tanya Haerin yang setengah teriak sebab jarak antara dirinya dan Gavin yang cukup terpaut. “Katanya kamu mau menegaskan sesuatu sama aku,” katanya. “I love being affirmed, especially by you,” celoteh perempuan itu.&#xA;&#xA;Gavin mengusap wajahnya kasar. Ia tahu bahwa sekalinya ia pernah berurusan dengan orang gila maka ia tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang orang gila tersebut. Sebenarnya, Gavin tidak ingin lagi berurusan dengan Haerin dan masa lalunya tetapi Gavin sendiri tidak tahu bagaimana Haerin bisa kembali muncul di kehidupannya yang sekarang saat dirinya sudah bersama Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin melangkahkan kakinya agar mendekat ke arah Haerin. Ia berdiri tegap di hadapan perempuan yang sedang duduk di atas bagasi mobilnya. “Aku nggak akan ngomong panjang lebar, Rin,” ucap Gavin. “I want us to stop,” singkatnya. &#xA;&#xA;“What do you mean by stop?” tanya Haerin. “We haven&#39;t started anything yet,” sambungnya.&#xA;&#xA;“Exactly,” jawab Gavin singkat. “Sebelum semuanya semakin jauh, kita harus berhenti berhubungan nggak sehat kayak gini,” jelasnya. “Aku nggak mau terus-terusan nyakitin Vallerie.”&#xA;&#xA;Sejenak, Haerin diam dalam posisinya. Ia tatap sepasang netra yang terlihat sangat tajam dan mungkin saja dapat melukai wajah cantiknya. Kemudian, perempuan itu mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah depan agar dirinya lebih dekat dengan sang ketua. Sebenarnya, Haerin dapat mendengar kalimat yang Gavin ucapkan dengan sangat jelas. Namun, bukan Haerin namanya apabila ia tidak dapat mendapatkan apa yang ia inginkan walaupun keinginannya itu harus menyakiti orang lain. “Are you sure with that?” tanyanya memastikan. “I mean… memangnya kamu bahagia sama Vallerie?” tanyanya lagi.&#xA;&#xA;Pertanyaan terakhir yang Haerin lontarkan sukses membuat bara api yang ada di hati Gavin semakin terbakar. Gavin mengetahui kalau Haerin paham betul bahwa Vallerie adalah titik lemahnya. Oleh sebab itu, Haerin selalu ‘menggunakan’ Vallerie untuk membuat Gavin tunduk padanya. Namun, kali ini, Gavin akan menindak tegas hal tersebut. Ia tidak ingin menyakiti Vallerie dengan hubungannya anehnya bersama Haerin.&#xA;&#xA;“Are you really asking me such a question?” tanya Gavin sarkas.  &#xA;&#xA;“Well,” kata Haerin. “Kalau benar kamu bahagia sama Vallerie, nggak mungkin kamu ada di sini sama aku sekarang,” jelasnya. &#xA;&#xA;“Jangan memutarbalikkan fakta, Haerin,” tegas Gavin. “Aku selalu sembunyi-sembunyi untuk ketemu sama kamu karena kamu selalu mengancam aku dengan embel-embel mental illness kamu,” ujar lelaki tampan itu sembari menunjuk-nunjuk perempuan di hadapannya.&#xA;&#xA;Gavin benar-benar marah dan Haerin semakin bersemangat. Ia menangkupkan kedua tangannya pada rangka tegas di depannya. “Kamu tau ‘kan kalau aku yang lebih dulu ketemu kamu? Dibanding Vallerie,” ujarnya. “Ya, I know it very well… bahwa aku sempat pergi sebentar dari kamu but it doesn&#39;t mean I don’t love you anymore,” sambung perempuan itu.&#xA;&#xA;“Aku masih menghargai kamu karena kita pernah satu kelas di sekolah dulu dan kamu juga wakilku sekarang,” ujar Gavin. “Tapi kamu harus tau, Rin, jangan sampai kepercayaan ini rusak untuk kesekian kalinya karena ulah kamu sendiri.” Gavin benar-benar mengekspresikan emosi negatifnya melalui kata demi kata yang disampaikannya kepada Haerin.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Haerin menundukkan pandangannya. Selagi dirinya masih duduk di atas mobil Gavin, ia mengayun-ayunkan kakinya dan tiba-tiba saja suara tawaan terdengar menggema dengan sangat kencang di seluruh lantai paling atas gedung parkir. Haerin tertawa seperti orang gila. Gavin yang menyaksikan langsung gadis cantik itu tertawa tanpa sebab dengan perlahan memundurkan langkahnya. &#xA;&#xA;Belum sempat Gavin menjauh, Haerin menarik sebelah tangan Gavin untuk menahan pergerakannya. Perlahan, Haerin mengangkat pandangannya untuk kemudian menatap lawan bicaranya sembari tersenyum. Gavin ingat betul tatapan dan senyuman menyeramkan yang Haerin milik—persis seperti yang ia lihat saat dirinya memutuskan untuk menyudahi hubungan asmara dengan gadis cantik tersebut beberapa tahun lalu.&#xA;&#xA;“Rin,” panggil Gavin.&#xA;&#xA;“Yes, My Love, G?” balas Haerin sembari terkekeh.&#xA;&#xA;Gavin kembali menghela napas panjang. “C’mon, Girl,” katanya. “This isn’t you.”&#xA;&#xA;Haerin terkekeh. “What do you mean by that?” ucapnya kembali bertanya. “This is me. Your one and only love, Eyin,” ujar gadis cantik itu. “Remember Eyin?”&#xA;&#xA;Gavin menutup kedua matanya. Sejenak, dirinya terbawa kembali ke masa di mana ia dan Haerin masih menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Ya, Gavin dan Haerin merupakan sepasang mantan kekasih. G dan Eyin adalah panggilan sayang Gavin dan Haerin. Keduanya menjalani hubungan asmara semasa sekolah menengah atas. Semuanya terasa sangat indah seolah Gavin merasakan bahagia yang paling bahagia saat bersama Haerin dan sebaliknya. &#xA;&#xA;Namun, belum genap setengah tahun hubungan mereka berjalan, sedikit demi sedikit perubahan terjadi, terutama pada gadis cantik itu. Dimulai dari hal kecil yang berdampak besar bagi Gavin, seperti Haerin yang sering kali marah besar padanya karena pulang telat dari sekolah padahal dirinya baru saja menyelesaikan rapat bersama anggota OSIS lainnya atau sekadar berlatih ekstrakurikuler paduan suara. &#xA;&#xA;Haerin juga tidak jarang memarahi semua orang yang tersenyum atau sekadar melirik kekasihnya. Sampai ada di tahap di mana Haerin mendapat teguran berupa skors dan ancaman drop out dari pihak sekolah karena ia memukul adik kelas perempuan yang Gavin tolong saat dirinya tidak sengaja hampir tertabrak mobil yang melintas dengan cepat di jalan raya di depan sekolah mereka. &#xA;&#xA;Haerin merasa cemburu dengan semua perilaku Gavin yang tidak melibatkan dirinya. Singkatnya, dirinya harus selalu berada di samping Gavin di mana pun dan kapan pun—membuat Gavin kesulitan menjalani hari-harinya sebagai Ketua OSIS atau bahkan sebagai diri Gavin sendiri. Gavin, hanya dengan mengingat kembali memori-memori kelam itu, membuatnya sakit kepala setengah mati. Ia tentunya tidak ingin kembali ke masa itu.&#xA;&#xA;“Enough,” ucap Gavin.&#xA;&#xA;Haerin yang melihat Gavin mulai masuk ke dalam perangkapnya semakin merasa bergairah. “My Love, G,” bisiknya. “Don’t you miss me?” goda gadis cantik.&#xA;&#xA;“I said enough, Haerin,” ulang Gavin. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali demi menepis kenangan-kenangan buruk yang pernah membuatnya trauma.&#xA;&#xA;“Jangan dilawan, Gav,” bujuk Haerin. “We should get back together,” katanya. “Would you be ‘us’ with me… one more time?”&#xA;&#xA;Jika Gavin boleh jujur, kalimat demi kalimat yang diucapkan Haerin untuk memancingnya ke dalam lingkaran setan cukup menggodanya dengan kuat. Gavin tahu bahwa apa yang terbesit di dalam pikirannya dan benaknya saat ini merupakan hal yang salah. Namun, sejatinya Haerin adalah cinta pertama—yang bagi siapa saja—sulit untuk dilupakan. Gavin menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk membuang semua pikiran jahat itu.&#xA;&#xA;Haerin yang mengetahui Gavin mulai masuk ke dalam perangkapnya tersenyum picik. “Gavin,” panggilnya lembut. “Kamu tau ‘kan? Dari dulu pun nggak akan ada yang bisa menggantikan kedudukan kamu di hati aku,” jelas gadis cantik itu sembari tersenyum. “Hal yang sama juga berlaku sama bagi kamu ‘kan?” tanyanya memastikan.&#xA;&#xA;Tawaran khas duniawi yang disampaikan oleh Haerin terlalu kuat untuk Gavin tolak. Ia bertanya-tanya apakah dengan dirinya kembali pada Haerin dan meninggalkan Vallerie akan menjadi jalan terbaik bagi semuanya? Untuk dirinya, untuk Haerin, serta untuk Vallerie? Gavin tidak tahu tetapi ingin tahu. Di sisi lain, Haerin terus menggodanya. Namun, Gavin sadar ia harus serasional mungkin untuk menghadapi orang gila seperti Haerin. &#xA;&#xA;Oleh sebab itu, Gavin memilih untuk pergi. Ia berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Haerin sendiri di sana. “Aku nggak bisa,” ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan mantan kekasihnya itu. &#xA;&#xA;“Kamu mau aku self-harm lagi, Gav?!” tanya Haerin setengah teriak. &#xA;&#xA;Gavin yang mendengar kalimat, yang sebenarnya paling ia hindari dari pertama kali bertemu lagi dengan Haerin, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya yang sedari tadi tertunduk—sebab mengingat Vallerie dan seluruh rasa cinta dan kasih sayang dari gadis cantik itu, kini terangkat. Sejenak, Gavin membatu di tempatnya. Ia tidak bisa membiarkan Haerin kembali menyakiti dirinya karena ia tahu bahwa Haerin adalah tanggung jawabnya.&#xA;&#xA;Oleh sebab itu, Gavin berbalik dan kembali melangkah untuk menghampiri Haerin yang masih setia duduk di atas bagasi mobilnya. Haerin yang melihat lelaki tampan itu kembali padanya tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Ia mengalungkan kedua lengannya pada bahu lebar yang selalu menjadi kesukaannya. Sedangkan, sepasang telapak tangan besar itu bergerak mengusap kedua paha lawan bicaranya.&#xA;&#xA;“Eyin,” panggil Gavin sembari tersenyum. &#xA;&#xA;“Yes, My Love, G?” jawabnya dengan nada paling riang yang pernah Gavin dengar.&#xA;&#xA;“GET THE FUCK OFF ME!” bentak Gavin.&#xA;&#xA;Senyum yang semula terukir indah, seolah memberi harapan pada Haerin bahwa keduanya dapat kembali bersama, seketika sirna. Gavin menghempas sepasang lengan yang bersandar pada bahunya dengan kencang sehingga membuat Haerin sedikit terhuyung. Kemudian, ia mundur beberapa langkah. Gavin sepenuhnya kembali pada akal sehatnya serta kasih sayang dan cintanya pada Vallerie. &#xA;&#xA;Haerin menatap tidak suka kepada mantan kekasihnya itu. “WHAT THE HELL ARE YOU DOING, GAVIN?!” Kali ini, giliran gadis cantik itu yang membentak. &#xA;&#xA;Gavin terkekeh remeh. “Eyin?” Lalu, ia menyeringai. “Are you kidding me?” katanya. “Nggak ada lagi G dan Eyin di kehidupan ini maupun di kehidupan seterusnya.”&#xA;&#xA;“BAJINGAN!” pekik Haerin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.&#xA;&#xA;“I am, Haerin,” balas Gavin tanpa beban. Ia berulang kali memukul dadanya dengan keras. “Aku memang seorang bajingan,” ucapnya mengakui. “Seharusnya, dari awal kamu balik lagi ke sini dan dengan sengaja ketemu sama aku, aku bisa dengan tegas menolak kehadiran kamu di sisi aku tapi aku dengan bodohnya malah mencari cara aman dengan ketemu sama kamu secara sembunyi-sembunyi karena aku pikir kamu masih tanggung jawab yang harus aku ‘selesaikan’,” jelas lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Haerin memicingkan kedua maniknya sembari mendesis mendengar eksplanasi yang Gavin sampaikan secara terang-terang padanya. “Sialan,” umpatnya.&#xA;&#xA;“But… guess what?” balas Gavin lagi dengan bertanya. “Bahkan dari awal pun kebahagiaan kamu itu bukan tanggung jawabku!” tegasnya. “Mungkin dulu aku berusaha mati-matian untuk membahagiakan kamu atau nggak bikin kamu cemburu dengan status aku sebagai Ketua OSIS, di mana aku harus berinteraksi dengan semua orang, termasuk semua perempuan yang ada di sekolah,” jelasnya lagi.&#xA;&#xA;“What do you mean, Gavin?!” tanya Haerin tidak santai. Air wajahnya terlihat memerah dan mendidih.&#xA;&#xA;“Maksudnya dari awal pun yang paham, yang mengerti, dan yang selalu ada buat aku itu cuma Vallerie,” final lelaki tampan itu. “Hanya Vallerie seorang!”&#xA;&#xA;Gavin ingin selalu ingat bahwa dirinya memiliki Vallerie sebagai obat baginya. Di saat susah dan duka, selain sang kakak—Valdi, Vallerie-lah yang selalu ada untuknya. ‘Kak Gapin ‘kan cowok keren. Masa putus sama cewek gila kayak gitu aja sedih sih?’ Ia selalu ingat bagaimana Vallerie memujinya terlebih dahulu baru setelahnya memvalidasi emosi negatifnya, di mana itu artinya Vallerie dapat melihat sisi terbaiknya di saat dirinya sendiri tidak bisa melihat hal itu. &#xA;&#xA;Dengan air mata yang tertumpuk di pelupuk matanya, Haerin berkata, “So, are you good &#xA;kalau aku self-harm lagi, right?” ancamnya.&#xA;&#xA;Mendengar ancaman yang sangat tidak masuk akal, Gavin kembali menyeringai. “You won’t, Haerin,” ucapnya. “Kamu nggak akan self-harm lagi.” Gavin mengucapkan kalimat terakhirnya dengan lantang dan percaya diri.&#xA;&#xA;“How do you know? Aku bisa aja self-harm sekarang,” tegas Haerin sembari mengacak-acak isi totebagnya untuk mencari sebilah mini cutter. Padahal, dari awal pun mini cutter itu memang tidak ada di dalam sana.&#xA;&#xA;“I already checked on you.” Kalimat yang Gavin lontarkan sukses membuat pergerakan Haerin yang terburu-buru menjadi berhenti seketika. “You didn’t do it anymore,” jelas lelaki tampan itu sembari menunjuk ke arah kedua paha Haerin yang sempat dipegangnya tadi.&#xA;&#xA;Haerin, sedari sekolah menengah atas, memiliki kebiasaan buruk, yaitu menyakiti dirinya sendiri apabila tengah merasakan dunia seolah runtuh. Biasanya, sebelum melancarkan aksinya, Haerin akan mengirim pesan beserta gambar kepada Gavin yang berisikan ancaman akan menyakiti dirinya sendiri lengkap dengan gambar anggota tubuh—paha—dan sebilah mini cutter. &#xA;&#xA;Jika hal ini terjadi dengan alur waktu mundur ke masa sekolah menengah atas, di mana Gavin masih menyandang peran sebagai pacar sekaligus masih merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya, maka tanpa berpikir dua kali Gavin akan langsung menghampiri Haerin. Gavin sudah tidak sebodoh dulu. Ia tahu hubungannya bersama Haerin bukanlah hubungan yang sehat, baik dulu maupun sekarang.&#xA;&#xA;Ia tidak bisa memiliki hubungan romantis apabila hubungan romantis itu lebih banyak membawa dampak buruk baginya, seperti saat bersama dengan Haerin dulu. Sebaliknya, hubungan romantis bisa dikatakan sehat apabila hubungan tersebut membawa dampak positif dan menjadi ajang untuk menjadikan diri agar lebih baik lagi bersama pasangan, seperti saat bersama Vallerie sekarang.&#xA;&#xA;Ternyata, Gavin salah. Satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghadapi orang gila seperti Haerin adalah dengan menjadi cerminan dari orang gila itu sendiri. Sejak dulu, Gavin selalu ingin menjadi pribadi yang tenang dan menghadapi semuanya dengan kepala dingin. Namun, sepertinya, kiat-kiat itu akan sia-sia apabila diterapkan untuk menghadapi seorang Haerin Shennaya.&#xA;&#xA;“Let’s end this stupid relationship here, Haerin,” ucap Gavin. “Aku mau fokus mencintai Vallerie seutuhnya,” sambungnya. “Aku udah terlalu sering nyakitin Vallerie dan aku nggak mau nyakitin Vallerie lagi dengan hubungan kita yang kayak gini,” ujar lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Such a hypocrite,” kata Haerin.&#xA;&#xA;“Ada baiknya kamu rutin konsultasi ke psikiater dan minum obat,” ucap Gavin. “Orang tua kamu pasti khawatir sama keadaan kamu,” lanjutnya. “‘Sembuh’ itu bukan tergantung orang lain, Rin, tapi tergantung sama diri kamu sendiri. Kalau kamu nggak mengusahakan ‘sembuh’ itu maka ‘sembuh’ itu nggak akan datang ke kamu,” jelas Gavin lagi.&#xA;&#xA;Haerin mematung mendengar penjelasan yang Gavin lontarkan untuknya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Haerin mendapatkan kalimat penenang yang tidak hanya sekadar kalimat melainkan memang Gavin berniat untuk membantu gadis cantik itu. Ada banyak alasan yang membuat Haerin tidak dapat lepas dari Gavin dan itu adalah salah satunya, Gavin selalu melakukan segala hal tulus dari hatinya.&#xA;&#xA;“Gav…,” gumam Haerin.&#xA;&#xA;Gavin yang dipanggil tidak merespon sebab sudah sedari tadi dirinya menghilang dari hadapan wakilnya. Gavin berlari dengan semua sisa tenaganya menuju markas kesayangan The Coast yang tidak jauh dari kampus. Pertama, Gavin harus pergi menemui teman-temannya, terutama Valdi, untuk menjelaskan semuanya. Setelahnya, barulah ia akan menyusul ke tempat di mana Vallerie berada untuk mengakui semuanya.&#xA;&#xA;Di sebuah rumah kecil di samping gedung indekos, Gavin menghentikan langkahnya. Ia melepas sepatu sneakers-nya untuk kemudian masuk ke dalam rumah tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Gavin masuk ke dalam rumah tersebut dengan napas yang menggebu-gebu sembari kedua tangannya bertumpu di atas kedua kakinya. Sedangkan, semua yang hadir di sana—Valdi, Arion, Jasper, dan Silas—menatapnya dengan bingung.&#xA;&#xA;“Gavin?” kata Arion dan Jasper bersamaan.&#xA;&#xA;Valdi, yang sedari tadi duduk selagi kedua tangannya bertumpu pada kaki-kaki jenjangnya, seketika menegapkan tubuhnya kala melihat Gavin datang ke markas besar mereka. Ia menatap sinis ke arah Gavin. Valdi mengetahui semuanya tetapi bukan dari Gavin, mulai dari ketidakhadirannya pada persiapan pesta kejutan ulang tahunnya, kebohongan tentang memiliki agenda rapat, hingga Gavin yang tertangkap basah  bersama perempuan lain selain Vallerie.&#xA;&#xA;“Ngapain lo di sini?!” tanya Valdi tak santai.&#xA;&#xA;Gavin menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu, ia berjalan ke arah kulkas minuman yang terletak di sudut ruangan. Gavin mengambil sebotol air mineral dingin untuk kemudian menegaknya sampai habis tak bersisa. Ia butuh tenaga untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada teman-temannya, terutama Valdi. Gavin yang belum sempat menjelaskan apa-apa tiba-tiba saja kerah baju kemejanya ditarik oleh Valdi.&#xA;&#xA;“Maksud lo apa, Bangsat?!” tanya sang sahabat setengah berteriak.&#xA;&#xA;Arion, Jasper, dan Silas yang melihat adegan mengerikan itu sontak berdiri dari posisi duduk masing-masing. “Santai, Val,” kata Jasper mengingatkan.&#xA;&#xA;“Tunggu, Val,” ucap Gavin. “Gue tau lo marah,” sambungnya. “Ini gue dateng mau ngejelasin semuanya,” ujar lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Gue udah kasih lo kepercayaan untuk jagain adek gue, Gav!” tegas Valdi.&#xA;&#xA;“Bukan gitu maksud gue,” balas Gavin.&#xA;&#xA;“LO KENAPA TEGA NYELINGKUHIN ADEK GUE, BAJINGAN?!” bentak Valdi sebelum melayangkan satu tinjuan keras pada sisi kanan wajah tampan sahabatnya.&#xA;&#xA;BUAGH!&#xA;&#xA;Gavin jatuh tersungkur hanya dengan satu tinjuan yang diberikan oleh sahabatnya. Tanpa aba-aba, Valdi menduduki sahabatnya yang masih terkapar lemas di atas lantai markas The Coast itu sebelum kembali menghujaninya dengan tinjuan dan pukulan pada wajah tampan tersebut. Arion, Jasper, dan Silas yang melihat aksi brutal temannya itu langsung berinisiatif untuk memisahkan keduanya. &#xA;&#xA;Arion dan Jasper menarik Valdi agar berhenti memukuli vokalis mereka. Sedangkan, Silas membantu Gavin untuk perlahan duduk di atas lantai. Gavin menyentuh pelan luka terbuka yang tercipta akibat perkelahian sepihak antara Valdi dan dirinya. Ia meringis tipis. Di sisi lain, Silas bertanya sebab khawatir akan keadaannya. Gavin, dengan sisa tenaganya yang tidak sampai setengah itu, berusaha untuk kembali berdiri.&#xA;&#xA;“Lepasin gue!” bentak Valdi pada Arion dan Jasper yang menghadang pergerakannya.&#xA;&#xA;“Gue tau Gavin salah tapi lo tenang dulu, Val,” ujar Arion.&#xA;&#xA;“Nyelesain masalah nggak harus dengan kekerasan,” sahut Jasper.&#xA;&#xA;“Kalian nggak tau rasanya jadi gue,” ucap Valdi. “KALIAN NGGAK PUNYA ADEK PEREMPUAN YANG DISELINGKUHIN SAMA SAHABAT KALIAN SENDIRI!”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Arion dan Jasper tanpa sadar melepaskan pertahan mereka masing-masing. Oleh sebab itu, Valdi kembali mendapat akses untuk menghajar Gavin bahkan lebih kejam lagi. Namun, sebelum Valdi berhasil melanjutkan keinginannya tersebut menjadi nyata, Silas mengomando Arion dan Jasper untuk kembali menahan kakak kandung dari Vallerie tersebut. Akhirnya, Valdi berhasil kembali ditahan pergerakannya. &#xA;&#xA;“Sialan,” umpat Valdi.&#xA;&#xA;“Valdi!” kata Gavin sembari mengangkat tangannya dengan harapan Valdi mau mendengarkan penjelasannya barang sebentar. “Dengerin gue dulu,” ucapnya.&#xA;&#xA;“Iya, dengerin penjelasan dari Gavin dulu,” bujuk Silas.&#xA;&#xA;“Apalagi, Gav?!” tanya Valdi tak santai. “Kebohongan apalagi yang harus gue denger dari lo?!” bentaknya pada sang sahabat.&#xA;&#xA;“Gue nggak nyelingkuhin Vallerie,” tegas Gavin. “Dan gue nggak akan pernah nyelingkuhin Vallerie,” lanjutnya. &#xA;&#xA;Valdi menghempaskan sepasang lengan kekar yang memegangi kedua tangannya. “Lepasin gue,” katanya. Kemudian, Valdi berjalan menghampiri sofa yang sebelumnya menjadi tempat duduk sebelum memukuli Gavin dengan membabi buta. Ia membuka layar kunci ponselnya yang terletak di sana untuk kemudian menunjukkan sebuah foto yang terpampang dari layar ponselnya. “Kalau bukan selingkuh, ini apa namanya, Gav?!” bentak Valdi.&#xA;&#xA;Pada layar ponsel itu, terlihat sebuah foto yang memperlihatkan Gavin dan Haerin tengah ‘bermesraan’ di gedung parkir siang ini. Gavin memicingkan kedua matanya agar dapat melihat lebih jelas foto yang dimaksud oleh Valdi. “Lo dapet foto ini dari siapa?” tanyanya.&#xA;&#xA;Valdi memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Kenapa? Nggak penting gue dapet foto ini dari mana,” balasnya dengan kembali bertanya. “Itu Haerin ‘kan, Gav?” &#xA;&#xA;“Itu sama sekali nggak bener,” bantah Gavin. “Gue nggak mungkin nyelingkuhin Vallerie,” ucapnya. “Apalagi sama Haerin.”&#xA;&#xA;Ada sebuah nama asing yang disebut, Arion, Jasper, dan Silas saling bertukar pandang. “Lo tau sama cewek ini, Val?” tanya Silas tiba-tiba.&#xA;&#xA;Valdi menoleh ke arah Silas sebentar sebelum kemudian kembali memandang ke arah Gavin. “Iya,” jawabnya. “Itu Haerin, mantan pacarnya Gavin dulu pas SMA,” jelas lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Gavin yang mendengar jawab paling jujur yang dilontarkan Valdi kepada semua anggota The Coast hanya dapat menghela napasnya panjang. Ia memejamkan matanya sejenak. Gavin bertaruh bahwa sebentar lagi akan banyak pertanyaan yang akan dilayangkan untuk dirinya dari teman-temannya yang tidak pernah mengetahui fakta mengerikan ini. Setidaknya, ada tiga pasang tatap mata yang memandanginya dengan penuh arti.&#xA;&#xA;Pasalnya, hubungan antara Gavin dan Haerin hanya diketahui oleh Valdi. Semua suka dan duka—meskipun lebih banyak duka yang dirasakan—yang Gavin rasakan saat menjalin hubungan asmara bersama Haerin, Valdi mengetahuinya. Arion, Jasper, dan Silas tidak mengetahuinya sebab mereka bertiga tidak berada di sekolah yang sama semasa SMA dulu bersama Gavin dan Valdi.&#xA;&#xA;“Haerin? Haerin yang wakil lo itu, Gav?” tanya Arion. Akhirnya, pertanyaan pertama berhasil ditanyakan.&#xA;&#xA;“Kok kita bisa nggak tau kalau Haerin itu mantan lo?” tanya Jasper kemudian.&#xA;&#xA;“Oh, pantes selama ini lo ngakunya selalu sibuk rapat, ya, Gav,” tambah Silas.&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan terakhir yang datang dari Silas membuat Gavin melirik sinis ke arahnya. “Maksud lo?” tanyanya tak santai. “Lo nyuruh Heidy buat mata-matain gue, ya?” tuduh lelaki tampan itu pada temannya.&#xA;&#xA;“Loh? Memangnya salah, Gav? Nggak ‘kan,” balas Valdi. &#xA;&#xA;Silas menggeleng. “Nggak,” jawabnya. “Gue nggak nyuruh Heidy buat mata-matain lo.”&#xA;&#xA;Valdi yang merasa lelah dengan situasi dan kondisi yang tengah dihadapinya sekarang lebih memilih untuk kembali duduk di sofa tempatnya semula. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada serta diikuti oleh kakinya yang bergerak serupa. “Tadi Silas yang ngasih tau gue,” ucap Valdi membuka percakapan yang lebih tenang. “Pas Silas lagi jemput Heidy di kampus, dia ngeliat lo berduaan sama Haerin,” lanjutnya. “Jadi, selama ini, lo balik lagi sama Haerin, Gav?” tanya Valdi. &#xA;&#xA;Gavin mengusap wajahnya kasar. Sejenak, ia menatap Silas dengan tatapan yang Silas sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Lalu, Gavin melangkah menuju tempat Valdi duduk untuk kemudian berdiri tegap di hadapan sang sahabat. “Udah dibilangin gue nggak selingkuh, Val, apalagi sama Haerin,” ulangnya. &#xA;&#xA;Valdi menundukkan pandangannya. “Kurangnya Vallerie apa sih, Gav?” tanya lelaki tampan itu untuk kemudian mengangkat kembali pandangannya. “Apa kurangnya Vallerie? Sampe lo harus balik lagi sama mantan lo itu?” tanya Valdi bertubi-tubi.&#xA;&#xA;“Gue harus bilang berapa kali sih, Val? Gue beneran nggak selingkuh sama Haerin,” jelas Gavin. “Lo tau sendiri Haerin orangnya gimana,” ujarnya. &#xA;&#xA;Valdi menggelengkan kepalanya. “Nggak,” ucapnya. “Gue nggak percaya,” tegas lelaki tampan itu. “Udah terlalu banyak bukti konkret yang sesuai sama alibi lo selama ini,” ujar lelaki berwajah tegas itu.&#xA;&#xA;“Val,” panggil Gavin. Ia mendudukkan dirinya di samping sang sahabat. “Gue harus gimana biar lo percaya sama gue?” tanyanya serius. “Gue nggak selingkuh sama Haerin,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Lo gila,” umpat Valdi. “Haerin gila,” lanjutnya. “Kalian berdua memang cocok karena SAMA-SAMA GILA!”&#xA;&#xA;Seluruh yang hadir di dalam markas besar The Coast pada sore menjelang malam hari itu terlihat sangat tegang. Bahkan Arion, Jasper, dan Silas yang tidak terlibat langsung dalam pertengkaran antara vokalis dan gitaris itu terlibat lebih tidak santai. Gavin berusaha keras menjelaskan semua yang perlu dijelaskan. Sedangkan, Valdi menepis mentah-mentah semua usaha keras Gavin dan penjelasannya.&#xA;&#xA;“Lo nggak usah dateng ke rumah gue lagi,” jelas Valdi. “Apalagi ketemu sama Vallerie,” sambungnya.&#xA;&#xA;“Nggak bisa gitu, Val,” ucap Gavin tidak terima. “Gue juga harus jelasin semuanya ke Vallerie,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Lo nggak perlu repot-repot jelasin apa-apa ke Vallerie,” balas Valdi. “Gue nggak mau ngeliat Vallerie disakitin terus sama lo,” tambahnya.&#xA;&#xA;Di sela-sela perdebatan panas itu, Arion merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi sebab sebuah notifikasi. Sepasang mata drummer dari The Coast itu membelalak sempurna kala indera penglihatannya menangkap sebuah berita yang diunggah oleh sebuah akun di salah satu media sosial kampusnya. Arion menyenggol bahu teman-temannya, Jasper dan Silas, untuk ikut membaca unggahan tersebut.&#xA;&#xA;“Val,” panggil Arion. Namun, yang dipanggil namanya tidak mengindahkannya. &#xA;&#xA;Akhirnya, Jasper, yang memiliki suara paling dalam di The Coast, angkat bicara. “Valdi,” panggilnya.&#xA;&#xA;“Apa?!” jawab Valdi tidak santai sembari sedikit menoleh ke sumber suara. “Lo nggak bisa liat gue lagi ngapain?!” bentaknya.&#xA;&#xA;“Berantem lo sama Gavin dijeda dulu,” kata Jasper.&#xA;&#xA;“Lo harus liat ini,” tambah Silas sembari menyerahkan ponsel miliki Arion yang sedang dipegangnya.&#xA;&#xA;Valdi menarik ponsel tersebut dengan kasar. Sepasang bola matanya—yang apabila sedang tersenyum terlihat seperti bola pingpong—kini membelalak. Ia membaca baris demi baris kalimat dalam bentuk thread yang membahas tentang sang sahabat. Jika biasanya Gavin muncul dengan berbagai prestasi di kanal berita kampus atau bahkan nasional tetapi saat ini wajah lelaki tampan itu disandingkan dengan judul berita yang berkonotasi negatif.&#xA;&#xA;“Kenapa?” tanya Gavin yang penasaran. &#xA;&#xA;“Lo liat aja sendiri,” jawab Jasper. “Ada di thread akun Twitter kampus kita,” sambungnya.&#xA;&#xA;Gavin merogoh saku celana denimnya. Ia membuka unggahan yang dimaksud oleh teman-temannya. Serupa seperti Valdi, Gavin menelisik satu demi satu kisah yang mengandung namanya. Ada banyak ekspresi yang ditunjukkan oleh wajah tampan Gavin dan Valdi sampai akhirnya mereka selesai membaca cerita itu secara bersamaan. Gavin melirik satu per satu temannya. &#xA;&#xA;“Gav.” Valdi mendahului teman-teman untuk membuka percakapan—selain tentang perselingkuhan, Haerin, dan Vallerie—bersama Gavin. &#xA;&#xA;Kata demi kata, baris demi baris, dan paragraf demi paragraf Gavin baca dengan saksama. Genggaman tangannya pada ponsel di tangan kanannya semakin mengeras kala indera penglihatannya menangkap berita tentang seorang Ketua BEM Fakultas Ekonomi dengan inisial GP diduga menyelundupkan dana annual project dari organisasi fakultas. Gavin sangat amat sadar bahwa sosok GP yang dimaksud adalah dirinya. &#xA;&#xA;Gavin menghela napas panjang untuk kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. “Ini apalagi coba,” ucapnya frustasi.&#xA;&#xA;Arion dan Jasper mengangguk bersamaan menyetujui pernyataan yang barusan Valdi lontarkan. “Tapi Heidy bilang sama gue kalau semua persiapannya lancar dan nggak ada kendala biaya sama sekali, Gav,” sahut Silas. &#xA;&#xA;Gavin yang sedari tadi pandangannya menatap dinginnya lantai dengan berbagai kenangan, terutama saat The Coast melakukan latihan bersama, mulai mengangkat wajah tampannya perlahan. “Haerin,” katanya menyebutkan satu nama. “Ini semua ulahnya Haerin,” tegas Gavin.&#xA;&#xA;Arion, Jasper, dan Silas menganga mendengar pengakuan yang Gavin sampaikan. Namun, Valdi terlihat biasa saja karena mungkin dirinya sudah tidak asing dengan tingkah wakil dari sahabatnya itu. &#xA;&#xA;“Haerin lagi, Gav?!” tanya Arion.&#xA;&#xA;Gavin mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan temannya itu. “Gila!” umpat Gavin. Akhirnya, sebab lelah yang melanda raga dan jiwanya, Gavin lebih memilih duduk di atas sofa yang ada di dekatnya. “Mau gimana lag?” ucapnya dengan nada pasrah. “Sekalinya lo berurusan sama orang gila, nggak orang gila itu pergi dari hidup lo,” jelas lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Lo harus lapor ke Kaprodi,” ucap Valdi. “Ke Rektor sekalian kalau perlu,” tambahnya. &#xA;&#xA;“Kebetulan,” sela Silas. “Lo dicari sama Kaprodi,” ucapnya. “Lo juga disuruh ngadep ke Gedung Rektorat.” Informasi yang disampaikan Silas sukses membuat semua netra mengarah ke padanya, kecuali Gavin. Ada tatapan sinis yang dilayangkan Valdi yang mengisyaratkan bahwa timing yang dipilih Silas sangat tidak tepat dan seolah semakin menyudutkan Gavin yang tengah tertimpa masalah bertubi-tubi. “Gue cuma ngasih tau,” bisik Silas.&#xA;&#xA;Gavin kembali menghela napasnya. Namun, kali ini, lebih dalam dan panjang. “Lo kalau mau lanjut gebukin gue nggak apa-apa, Val, biar sekalian,” kata Gavin tiba-tiba. “Abis ini, gue mau ketemu sama Pak Puji,” lanjutnya.&#xA;&#xA;BRAKKK!&#xA;&#xA;Di sela-sela atmosfer yang menegangkan itu, tiba-tiba saja suara pintu yang dibanting terdengar memekik. Gavin, Valdi, Arion, Jasper, dan Silas menengok ke arah pintu masuk utama. Ada sesosok gadis yang kedua tangannya tertumpu pada masing-masing lututnya selagi tangan kanannya mengelus dadanya yang terasa sesak. Gavin kenal dengan gadis itu. Ia menghampiri gadis tersebut dan menatapnya heran.&#xA;&#xA;“Aletha?” panggilnya. &#xA;&#xA;“Gav,” balas gadis itu. “Anjing!” umpatnya kemudian. “Gue udah lari jauh banget sampe ke belakang ternyata HQ The Coast ada di sini,” jelasnya dengan napas yang tersengal.&#xA;&#xA;“Lo ngapain di sini, Tha?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Ya, bantuin lo lah!” jawab gadis itu tak santai. ”Gue udah ngadep ke Pak Puji, ke Rektor juga,” ujarnya. &#xA;&#xA;“Maksudnya?” tanya Gavin polos.&#xA;&#xA;“Lo Ketua BEM tapi agak tolol, ya, Gav,” umpat Aletha masih dengan napasnya yang tersengal.&#xA;&#xA;“Bisa nggak? Nggak usah mencela gue dulu,” pinta Gavin. “Jelasin maksud lo yang tadi,” lanjutnya.&#xA;&#xA;“Gue udah klarifikasi ke Pak Puji tentang thread yang ada di akun Twitter kampus kita,” jelas Aletha. “Gue juga udah minta tolong ke Pak Puji untuk ngejelasin semuanya ke Rektor karena gue mau nemuin lo di sini,” sambungnya.&#xA;&#xA;Gavin menghela napas panjang untuk ke sekian di hari ini. Ia sampai tidak tahu lagi harus berperilaku dan berperasa seperti apa. “Kenapa lo mau repot-repot bantuin gue?” tanyanya. “Gue bisa jelasin sendiri ke Pak Puji, ke Rektor juga.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Aletha memutar bola matanya. “Berhenti seolah-olah lo nggak butuh orang lain, Gav,” ujarnya. “Gue ini Bendahara lo. Memangnya lo pikir gue bisa tidur apa? Dengan mengetahui fakta kalau lo ganti uang yang diselundupin sama Haerin sampe ratusan juta itu,” jelasnya lagi. “Sendirian pula.”&#xA;&#xA;Semua yang ada di sana, terutama Valdi, menganga dengan hebat setelah mengetahui nominal kerugian yang harus Gavin tanggung secara pribadi. Valdi memang mengetahui tabiat buruk Haerin karena pada dasarnya mereka bertiga, Gavin, Valdi, serta Haerin, berada di sekolah yang sama semasa Sekolah Menengah Atas. Namun, untuk kasus yang satu ini, menurut Valdi sangatlah… bahkan Valdi sendiri tidak dapat menjelaskan dengan kata-kata. &#xA;&#xA;Valdi berjalan menghampiri sahabatnya. Ia mengusap pelan bahu lebar sahabatnya. “Lo kenapa nggak bilang ke gue sih, Gav?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Gue nggak bisa, Val,” jawab sang sahabat. “Gue nggak bisa ngebebanin lo lagi,” lanjutnya.&#xA;&#xA;“Lo nggak ngebebanin apa-apa ke gue dan semua yang ada di sini,” jelas Valdi.&#xA;&#xA;“Gimana kita mau bantu lo kalau lo aja nggak bilang kalau lo lagi ada masalah, Gav?” sela Jasper.&#xA;&#xA;“Nggak usah kayak orang baru kenal kemaren kali, Gav,” tambah Arion. &#xA;&#xA;“Kita semua di sini temen lo,” final Silas. &#xA;&#xA;“Gue bukan, ya, ” ucap Aletha tiba-tiba. Seluruh pasang mata yang ada di sana melirik ke arah sumber suara. “Gue masih trauma, Gav, dilabrak sama Haerin gara-gara gue dianter pulang sama lo,” jelasnya. “Padahal, Vallerie yang pacar lo aja nggak masalah.”&#xA;&#xA;Kala ada satu nama yang disebut, Gavin langsung memejamkan matanya. Seketika, ia mengingat momen-momen bahagia bersama kekasihnya itu, di mana beberapa waktu belakangan ini, momen-momen bahagia yang ada mulai tergantikan dengan perdebatan dan pertikaian ala sepasang kekasih. Gavin merindukan Vallerie dan ia harap gadis cantik itu juga merasakan hal yang sama. &#xA;&#xA;“Lain kali, gue aja yang anter pulang,” tukas Jasper tiba-tiba untuk merespon penjelasan dari Aletha. &#xA;&#xA;Kali ini, semua manik tertuju pada Jasper. Kalimat yang diucapkannya sukses membuat teman-temannya menyeringai sebab mengetahui Jasper yang dikenal sebagai sang pemangsa wanita dari fakultas hukum telah kembali. Namun, Aletha, yang diberi respon seperti itu tidak dapat berbuat banyak, kecuali tersenyum masam. Pasalnya, gelar yang disandang Jasper terlalu melekat pada dirinya sehingga banyak perempuan yang merasa enggan untuk dekat dengannya.&#xA;&#xA;“Nggak dulu deh,” balas Aletha. “Gue duluan, ya, Gav. Gue mau balik ke kampus,” finalnya.&#xA;&#xA;“Ini…,” kata Jasper tertahan.  “Gue ditolak, ya?” tanyanya kemudian.&#xA;&#xA;“Iya,” jawab Arion secara gamblang. “Ditolak mateng-mateng,” celetuknya.&#xA;&#xA;“Gav,” panggil Valdi tanpa memalingkan kedua netranya dari layar ponselnya. Kemudian, Valdi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana denimnya. “Lo ditanyain sama Vallerie,” ucapnya.&#xA;&#xA;Mengetahui Valleri menanyakan keberadaannya, Gavin senang bukan kepalang. Apabila tidak ditahan, mungkin lelaki tampan itu sudah melompat ke sana ke mari bak kelinci gila. Ia menggenggam sepasang lengan sahabatnya itu dengan keras dan berkata, “Gue izin ketemu sama Vallerie, ya, Val.” ucapnya. “Gue mau jelasin semuanya ke dia,” jelas Gavin.&#xA;&#xA;Valdi mengangguk sebagai jawaban. “Sana,” jawabnya.&#xA;&#xA;Sepersekian detik kemudian, Gavin melengang dengan cepat dari markas besar The Coast itu. Ia berlari menuju gedung parkir untuk mengambil kembali mobilnya dan bergegas menemui kekasihnya. Gavin tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di halaman rumah mewah tersebut. Kini, lelaki tampan itu sudah berdiri di ambang pintu utama. Ia hendak mengetuk daun pintu berwarna putih itu kala aksinya didahului oleh seseorang.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>An Apology</strong></p>

<p>Di siang yang semakin terik sinar mentarinya itu, terlihat seorang lelaki tampan dengan langkahnya yang terdengar mendentum tengah menaiki satu per satu anak tangga untuk sampai ke gedung parkir, tepatnya lantai paling atas. Selain langkahnya yang terdengar mendentum, wajah tampan itu juga menyemburatkan aura kemarahan. Gavin hampir sampai di tempat tujuannya saat seorang perempuan di hadapannya mencoba merengkuhnya.</p>

<p>Dengan sigap, Gavin mencegah hal itu agar tidak terjadi. Tangannya mendorong pelan lawan bicaranya agar tidak dapat menggapai tubuhnya. Haerin tersentak. “Oh? Huh?!” protesnya.</p>

<p>“Jangan aneh-aneh,” tegas Gavin pada teman sekolahnya dulu sekaligus wakilnya sekarang.</p>

<p>Haerin memandang Gavin dengan penuh tanya. “What’s wrong, G?” tanya perempuan itu sembari tersenyum. “You don’t look okay to me,” jelasnya.</p>

<p>“If only you can realize it faster,” ucap lelaki tampan itu sarkas. “Aku memang nggak pernah kelihatan baik-baik aja di depan kamu,” sambungnya.</p>

<p>Mendengarnya, Haerin mengerucutkan bibirnya. “How rude,” balasnya. “Membuat aku semakin yakin kalau kamu lagi not okay,” ucap Haerin. “What’s wrong? It’s because of Vallerie, isn’t it?” tanyanya seolah tanpa dosa.</p>

<p>Kala ada sebuah nama disebut, Gavin melirik sinis ke arah wakilnya. “Seriously, Rin?” tanya Gavin sembari mengangkat sebelah alisnya. “Kamu pikir aku begini karena Vallerie?” tanyanya lagi.</p>

<p>Haerin tersenyum. Ia maju selangkah agar lebih dekat dengan lelaki tampan pujaan hatinya itu. “Oh, poor you,” ucapnya. “Kamu pasti capek, ya, sama Vallerie yang egois dan nggak pernah ngerti sama keadaanmu?” tanya Haerin tanpa beban.</p>

<p>Lagi, sebab ada nama sang kekasih yang disebut oleh orang gila di hadapannya, Gavin menghela napas panjang. “You’re not that stupid to understand what I said,” ujarnya. “Aku NGGAK PERNAH dan NGGAK AKAN PERNAH capek sama Vallerie,” jawab lelaki tampan itu. Gavin mencoba menggarisbawahi beberapa kata dalam kalimat agar Haerin dapat mengerti—walaupun ‘mengerti’ adalah salah satu hal yang sukar sekali dilakukan oleh wakilnya itu.</p>

<p>“It’s okay, G,” kata Haerin. “Kamu bisa jujur kok sama aku kalau kamu capek sama Vallerie.” Haerin masih pada pendiriannya yang mengira biang masalah dari semua yang terjadi di antaranya dan Gavin disebabkan oleh Vallerie. “Aku paham kalau kamu capek sama Vallerie yang nggak pernah mau mengerti sama keadaan kamu tapi kamu nggak perlu khawatir karena aku akan selalu mengerti kamu.”</p>

<p>Gavin merasa pusing tujuh keliling mendengar kalimat tidak masuk akal yang Haerin terus ucapkan padanya. Ia memijat pangkal hidungnya. “Aku ke sini mau menegaskan sesuatu sama kamu,” katanya. “And please stop calling me with that silly nickname while I ask you nicely,” tambah Gavin.</p>

<p>Sebenarnya, Haerin tahu bahwa Gavin marah padanya. Namun, dirinya bertindak seolah-olah tidak tahu sebab ia sangat menyukai ekspresi Gavin yang tengah marah. Bagi Haerin, Gavin yang marah adalah Gavin yang paling tampan. Gavin tidak salah apabila ia menganggap Haerin atau teman semasa sekolahnya dulu atau wakilnya sekarang adalah orang gila karena memang Haerin adalah definisi dari orang gila itu sendiri.</p>

<p>Haerin memutar balik tubuhnya untuk kemudian berjalan menuju tempat mobil Gavin terparkir. Ia memanjat dan mengambil posisi duduk di atas bagasi mobil sedan berwarna putih itu. “What is it, G?” tanya Haerin yang setengah teriak sebab jarak antara dirinya dan Gavin yang cukup terpaut. “Katanya kamu mau menegaskan sesuatu sama aku,” katanya. “I love being affirmed, especially by you,” celoteh perempuan itu.</p>

<p>Gavin mengusap wajahnya kasar. Ia tahu bahwa sekalinya ia pernah berurusan dengan orang gila maka ia tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang orang gila tersebut. Sebenarnya, Gavin tidak ingin lagi berurusan dengan Haerin dan masa lalunya tetapi Gavin sendiri tidak tahu bagaimana Haerin bisa kembali muncul di kehidupannya yang sekarang saat dirinya sudah bersama Vallerie.</p>

<p>Gavin melangkahkan kakinya agar mendekat ke arah Haerin. Ia berdiri tegap di hadapan perempuan yang sedang duduk di atas bagasi mobilnya. “Aku nggak akan ngomong panjang lebar, Rin,” ucap Gavin. “I want us to stop,” singkatnya.</p>

<p>“What do you mean by stop?” tanya Haerin. “We haven&#39;t started anything yet,” sambungnya.</p>

<p>“Exactly,” jawab Gavin singkat. “Sebelum semuanya semakin jauh, kita harus berhenti berhubungan nggak sehat kayak gini,” jelasnya. “Aku nggak mau terus-terusan nyakitin Vallerie.”</p>

<p>Sejenak, Haerin diam dalam posisinya. Ia tatap sepasang netra yang terlihat sangat tajam dan mungkin saja dapat melukai wajah cantiknya. Kemudian, perempuan itu mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah depan agar dirinya lebih dekat dengan sang ketua. Sebenarnya, Haerin dapat mendengar kalimat yang Gavin ucapkan dengan sangat jelas. Namun, bukan Haerin namanya apabila ia tidak dapat mendapatkan apa yang ia inginkan walaupun keinginannya itu harus menyakiti orang lain. “Are you sure with that?” tanyanya memastikan. “I mean… memangnya kamu bahagia sama Vallerie?” tanyanya lagi.</p>

<p>Pertanyaan terakhir yang Haerin lontarkan sukses membuat bara api yang ada di hati Gavin semakin terbakar. Gavin mengetahui kalau Haerin paham betul bahwa Vallerie adalah titik lemahnya. Oleh sebab itu, Haerin selalu ‘menggunakan’ Vallerie untuk membuat Gavin tunduk padanya. Namun, kali ini, Gavin akan menindak tegas hal tersebut. Ia tidak ingin menyakiti Vallerie dengan hubungannya anehnya bersama Haerin.</p>

<p>“Are you really asking me such a question?” tanya Gavin sarkas.</p>

<p>“Well,” kata Haerin. “Kalau benar kamu bahagia sama Vallerie, nggak mungkin kamu ada di sini sama aku sekarang,” jelasnya.</p>

<p>“Jangan memutarbalikkan fakta, Haerin,” tegas Gavin. “Aku selalu sembunyi-sembunyi untuk ketemu sama kamu karena kamu selalu mengancam aku dengan embel-embel mental illness kamu,” ujar lelaki tampan itu sembari menunjuk-nunjuk perempuan di hadapannya.</p>

<p>Gavin benar-benar marah dan Haerin semakin bersemangat. Ia menangkupkan kedua tangannya pada rangka tegas di depannya. “Kamu tau ‘kan kalau aku yang lebih dulu ketemu kamu? Dibanding Vallerie,” ujarnya. “Ya, I know it very well… bahwa aku sempat pergi sebentar dari kamu but it doesn&#39;t mean I don’t love you anymore,” sambung perempuan itu.</p>

<p>“Aku masih menghargai kamu karena kita pernah satu kelas di sekolah dulu dan kamu juga wakilku sekarang,” ujar Gavin. “Tapi kamu harus tau, Rin, jangan sampai kepercayaan ini rusak untuk kesekian kalinya karena ulah kamu sendiri.” Gavin benar-benar mengekspresikan emosi negatifnya melalui kata demi kata yang disampaikannya kepada Haerin.</p>

<p>Mendengarnya, Haerin menundukkan pandangannya. Selagi dirinya masih duduk di atas mobil Gavin, ia mengayun-ayunkan kakinya dan tiba-tiba saja suara tawaan terdengar menggema dengan sangat kencang di seluruh lantai paling atas gedung parkir. Haerin tertawa seperti orang gila. Gavin yang menyaksikan langsung gadis cantik itu tertawa tanpa sebab dengan perlahan memundurkan langkahnya.</p>

<p>Belum sempat Gavin menjauh, Haerin menarik sebelah tangan Gavin untuk menahan pergerakannya. Perlahan, Haerin mengangkat pandangannya untuk kemudian menatap lawan bicaranya sembari tersenyum. Gavin ingat betul tatapan dan senyuman menyeramkan yang Haerin milik—persis seperti yang ia lihat saat dirinya memutuskan untuk menyudahi hubungan asmara dengan gadis cantik tersebut beberapa tahun lalu.</p>

<p>“Rin,” panggil Gavin.</p>

<p>“Yes, My Love, G?” balas Haerin sembari terkekeh.</p>

<p>Gavin kembali menghela napas panjang. “C’mon, Girl,” katanya. “This isn’t you.”</p>

<p>Haerin terkekeh. “What do you mean by that?” ucapnya kembali bertanya. “This is me. Your one and only love, Eyin,” ujar gadis cantik itu. “Remember Eyin?”</p>

<p>Gavin menutup kedua matanya. Sejenak, dirinya terbawa kembali ke masa di mana ia dan Haerin masih menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Ya, Gavin dan Haerin merupakan sepasang mantan kekasih. G dan Eyin adalah panggilan sayang Gavin dan Haerin. Keduanya menjalani hubungan asmara semasa sekolah menengah atas. Semuanya terasa sangat indah seolah Gavin merasakan bahagia yang paling bahagia saat bersama Haerin dan sebaliknya.</p>

<p>Namun, belum genap setengah tahun hubungan mereka berjalan, sedikit demi sedikit perubahan terjadi, terutama pada gadis cantik itu. Dimulai dari hal kecil yang berdampak besar bagi Gavin, seperti Haerin yang sering kali marah besar padanya karena pulang telat dari sekolah padahal dirinya baru saja menyelesaikan rapat bersama anggota OSIS lainnya atau sekadar berlatih ekstrakurikuler paduan suara.</p>

<p>Haerin juga tidak jarang memarahi semua orang yang tersenyum atau sekadar melirik kekasihnya. Sampai ada di tahap di mana Haerin mendapat teguran berupa skors dan ancaman drop out dari pihak sekolah karena ia memukul adik kelas perempuan yang Gavin tolong saat dirinya tidak sengaja hampir tertabrak mobil yang melintas dengan cepat di jalan raya di depan sekolah mereka.</p>

<p>Haerin merasa cemburu dengan semua perilaku Gavin yang tidak melibatkan dirinya. Singkatnya, dirinya harus selalu berada di samping Gavin di mana pun dan kapan pun—membuat Gavin kesulitan menjalani hari-harinya sebagai Ketua OSIS atau bahkan sebagai diri Gavin sendiri. Gavin, hanya dengan mengingat kembali memori-memori kelam itu, membuatnya sakit kepala setengah mati. Ia tentunya tidak ingin kembali ke masa itu.</p>

<p>“Enough,” ucap Gavin.</p>

<p>Haerin yang melihat Gavin mulai masuk ke dalam perangkapnya semakin merasa bergairah. “My Love, G,” bisiknya. “Don’t you miss me?” goda gadis cantik.</p>

<p>“I said enough, Haerin,” ulang Gavin. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali demi menepis kenangan-kenangan buruk yang pernah membuatnya trauma.</p>

<p>“Jangan dilawan, Gav,” bujuk Haerin. “We should get back together,” katanya. “Would you be ‘us’ with me… one more time?”</p>

<p>Jika Gavin boleh jujur, kalimat demi kalimat yang diucapkan Haerin untuk memancingnya ke dalam lingkaran setan cukup menggodanya dengan kuat. Gavin tahu bahwa apa yang terbesit di dalam pikirannya dan benaknya saat ini merupakan hal yang salah. Namun, sejatinya Haerin adalah cinta pertama—yang bagi siapa saja—sulit untuk dilupakan. Gavin menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk membuang semua pikiran jahat itu.</p>

<p>Haerin yang mengetahui Gavin mulai masuk ke dalam perangkapnya tersenyum picik. “Gavin,” panggilnya lembut. “Kamu tau ‘kan? Dari dulu pun nggak akan ada yang bisa menggantikan kedudukan kamu di hati aku,” jelas gadis cantik itu sembari tersenyum. “Hal yang sama juga berlaku sama bagi kamu ‘kan?” tanyanya memastikan.</p>

<p>Tawaran khas duniawi yang disampaikan oleh Haerin terlalu kuat untuk Gavin tolak. Ia bertanya-tanya apakah dengan dirinya kembali pada Haerin dan meninggalkan Vallerie akan menjadi jalan terbaik bagi semuanya? Untuk dirinya, untuk Haerin, serta untuk Vallerie? Gavin tidak tahu tetapi ingin tahu. Di sisi lain, Haerin terus menggodanya. Namun, Gavin sadar ia harus serasional mungkin untuk menghadapi orang gila seperti Haerin.</p>

<p>Oleh sebab itu, Gavin memilih untuk pergi. Ia berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan Haerin sendiri di sana. “Aku nggak bisa,” ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan mantan kekasihnya itu.</p>

<p>“Kamu mau aku self-harm lagi, Gav?!” tanya Haerin setengah teriak.</p>

<p>Gavin yang mendengar kalimat, yang sebenarnya paling ia hindari dari pertama kali bertemu lagi dengan Haerin, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya yang sedari tadi tertunduk—sebab mengingat Vallerie dan seluruh rasa cinta dan kasih sayang dari gadis cantik itu, kini terangkat. Sejenak, Gavin membatu di tempatnya. Ia tidak bisa membiarkan Haerin kembali menyakiti dirinya karena ia tahu bahwa Haerin adalah tanggung jawabnya.</p>

<p>Oleh sebab itu, Gavin berbalik dan kembali melangkah untuk menghampiri Haerin yang masih setia duduk di atas bagasi mobilnya. Haerin yang melihat lelaki tampan itu kembali padanya tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Ia mengalungkan kedua lengannya pada bahu lebar yang selalu menjadi kesukaannya. Sedangkan, sepasang telapak tangan besar itu bergerak mengusap kedua paha lawan bicaranya.</p>

<p>“Eyin,” panggil Gavin sembari tersenyum.</p>

<p>“Yes, My Love, G?” jawabnya dengan nada paling riang yang pernah Gavin dengar.</p>

<p>“GET THE FUCK OFF ME!” bentak Gavin.</p>

<p>Senyum yang semula terukir indah, seolah memberi harapan pada Haerin bahwa keduanya dapat kembali bersama, seketika sirna. Gavin menghempas sepasang lengan yang bersandar pada bahunya dengan kencang sehingga membuat Haerin sedikit terhuyung. Kemudian, ia mundur beberapa langkah. Gavin sepenuhnya kembali pada akal sehatnya serta kasih sayang dan cintanya pada Vallerie.</p>

<p>Haerin menatap tidak suka kepada mantan kekasihnya itu. “WHAT THE HELL ARE YOU DOING, GAVIN?!” Kali ini, giliran gadis cantik itu yang membentak.</p>

<p>Gavin terkekeh remeh. “Eyin?” Lalu, ia menyeringai. “Are you kidding me?” katanya. “Nggak ada lagi G dan Eyin di kehidupan ini maupun di kehidupan seterusnya.”</p>

<p>“BAJINGAN!” pekik Haerin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.</p>

<p>“I am, Haerin,” balas Gavin tanpa beban. Ia berulang kali memukul dadanya dengan keras. “Aku memang seorang bajingan,” ucapnya mengakui. “Seharusnya, dari awal kamu balik lagi ke sini dan dengan sengaja ketemu sama aku, aku bisa dengan tegas menolak kehadiran kamu di sisi aku tapi aku dengan bodohnya malah mencari cara aman dengan ketemu sama kamu secara sembunyi-sembunyi karena aku pikir kamu masih tanggung jawab yang harus aku ‘selesaikan’,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>Haerin memicingkan kedua maniknya sembari mendesis mendengar eksplanasi yang Gavin sampaikan secara terang-terang padanya. “Sialan,” umpatnya.</p>

<p>“But… guess what?” balas Gavin lagi dengan bertanya. “Bahkan dari awal pun kebahagiaan kamu itu bukan tanggung jawabku!” tegasnya. “Mungkin dulu aku berusaha mati-matian untuk membahagiakan kamu atau nggak bikin kamu cemburu dengan status aku sebagai Ketua OSIS, di mana aku harus berinteraksi dengan semua orang, termasuk semua perempuan yang ada di sekolah,” jelasnya lagi.</p>

<p>“What do you mean, Gavin?!” tanya Haerin tidak santai. Air wajahnya terlihat memerah dan mendidih.</p>

<p>“Maksudnya dari awal pun yang paham, yang mengerti, dan yang selalu ada buat aku itu cuma Vallerie,” final lelaki tampan itu. “Hanya Vallerie seorang!”</p>

<p>Gavin ingin selalu ingat bahwa dirinya memiliki Vallerie sebagai obat baginya. Di saat susah dan duka, selain sang kakak—Valdi, Vallerie-lah yang selalu ada untuknya. ‘Kak Gapin ‘kan cowok keren. Masa putus sama cewek gila kayak gitu aja sedih sih?’ Ia selalu ingat bagaimana Vallerie memujinya terlebih dahulu baru setelahnya memvalidasi emosi negatifnya, di mana itu artinya Vallerie dapat melihat sisi terbaiknya di saat dirinya sendiri tidak bisa melihat hal itu.</p>

<p>Dengan air mata yang tertumpuk di pelupuk matanya, Haerin berkata, “So, are you good
kalau aku self-harm lagi, right?” ancamnya.</p>

<p>Mendengar ancaman yang sangat tidak masuk akal, Gavin kembali menyeringai. “You won’t, Haerin,” ucapnya. “Kamu nggak akan self-harm lagi.” Gavin mengucapkan kalimat terakhirnya dengan lantang dan percaya diri.</p>

<p>“How do you know? Aku bisa aja self-harm sekarang,” tegas Haerin sembari mengacak-acak isi totebagnya untuk mencari sebilah mini cutter. Padahal, dari awal pun mini cutter itu memang tidak ada di dalam sana.</p>

<p>“I already checked on you.” Kalimat yang Gavin lontarkan sukses membuat pergerakan Haerin yang terburu-buru menjadi berhenti seketika. “You didn’t do it anymore,” jelas lelaki tampan itu sembari menunjuk ke arah kedua paha Haerin yang sempat dipegangnya tadi.</p>

<p>Haerin, sedari sekolah menengah atas, memiliki kebiasaan buruk, yaitu menyakiti dirinya sendiri apabila tengah merasakan dunia seolah runtuh. Biasanya, sebelum melancarkan aksinya, Haerin akan mengirim pesan beserta gambar kepada Gavin yang berisikan ancaman akan menyakiti dirinya sendiri lengkap dengan gambar anggota tubuh—paha—dan sebilah mini cutter.</p>

<p>Jika hal ini terjadi dengan alur waktu mundur ke masa sekolah menengah atas, di mana Gavin masih menyandang peran sebagai pacar sekaligus masih merasa bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabnya, maka tanpa berpikir dua kali Gavin akan langsung menghampiri Haerin. Gavin sudah tidak sebodoh dulu. Ia tahu hubungannya bersama Haerin bukanlah hubungan yang sehat, baik dulu maupun sekarang.</p>

<p>Ia tidak bisa memiliki hubungan romantis apabila hubungan romantis itu lebih banyak membawa dampak buruk baginya, seperti saat bersama dengan Haerin dulu. Sebaliknya, hubungan romantis bisa dikatakan sehat apabila hubungan tersebut membawa dampak positif dan menjadi ajang untuk menjadikan diri agar lebih baik lagi bersama pasangan, seperti saat bersama Vallerie sekarang.</p>

<p>Ternyata, Gavin salah. Satu-satunya cara yang paling efektif untuk menghadapi orang gila seperti Haerin adalah dengan menjadi cerminan dari orang gila itu sendiri. Sejak dulu, Gavin selalu ingin menjadi pribadi yang tenang dan menghadapi semuanya dengan kepala dingin. Namun, sepertinya, kiat-kiat itu akan sia-sia apabila diterapkan untuk menghadapi seorang Haerin Shennaya.</p>

<p>“Let’s end this stupid relationship here, Haerin,” ucap Gavin. “Aku mau fokus mencintai Vallerie seutuhnya,” sambungnya. “Aku udah terlalu sering nyakitin Vallerie dan aku nggak mau nyakitin Vallerie lagi dengan hubungan kita yang kayak gini,” ujar lelaki tampan itu.</p>

<p>“Such a hypocrite,” kata Haerin.</p>

<p>“Ada baiknya kamu rutin konsultasi ke psikiater dan minum obat,” ucap Gavin. “Orang tua kamu pasti khawatir sama keadaan kamu,” lanjutnya. “‘Sembuh’ itu bukan tergantung orang lain, Rin, tapi tergantung sama diri kamu sendiri. Kalau kamu nggak mengusahakan ‘sembuh’ itu maka ‘sembuh’ itu nggak akan datang ke kamu,” jelas Gavin lagi.</p>

<p>Haerin mematung mendengar penjelasan yang Gavin lontarkan untuknya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Haerin mendapatkan kalimat penenang yang tidak hanya sekadar kalimat melainkan memang Gavin berniat untuk membantu gadis cantik itu. Ada banyak alasan yang membuat Haerin tidak dapat lepas dari Gavin dan itu adalah salah satunya, Gavin selalu melakukan segala hal tulus dari hatinya.</p>

<p>“Gav…,” gumam Haerin.</p>

<p>Gavin yang dipanggil tidak merespon sebab sudah sedari tadi dirinya menghilang dari hadapan wakilnya. Gavin berlari dengan semua sisa tenaganya menuju markas kesayangan The Coast yang tidak jauh dari kampus. Pertama, Gavin harus pergi menemui teman-temannya, terutama Valdi, untuk menjelaskan semuanya. Setelahnya, barulah ia akan menyusul ke tempat di mana Vallerie berada untuk mengakui semuanya.</p>

<p>Di sebuah rumah kecil di samping gedung indekos, Gavin menghentikan langkahnya. Ia melepas sepatu sneakers-nya untuk kemudian masuk ke dalam rumah tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Gavin masuk ke dalam rumah tersebut dengan napas yang menggebu-gebu sembari kedua tangannya bertumpu di atas kedua kakinya. Sedangkan, semua yang hadir di sana—Valdi, Arion, Jasper, dan Silas—menatapnya dengan bingung.</p>

<p>“Gavin?” kata Arion dan Jasper bersamaan.</p>

<p>Valdi, yang sedari tadi duduk selagi kedua tangannya bertumpu pada kaki-kaki jenjangnya, seketika menegapkan tubuhnya kala melihat Gavin datang ke markas besar mereka. Ia menatap sinis ke arah Gavin. Valdi mengetahui semuanya tetapi bukan dari Gavin, mulai dari ketidakhadirannya pada persiapan pesta kejutan ulang tahunnya, kebohongan tentang memiliki agenda rapat, hingga Gavin yang tertangkap basah  bersama perempuan lain selain Vallerie.</p>

<p>“Ngapain lo di sini?!” tanya Valdi tak santai.</p>

<p>Gavin menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu, ia berjalan ke arah kulkas minuman yang terletak di sudut ruangan. Gavin mengambil sebotol air mineral dingin untuk kemudian menegaknya sampai habis tak bersisa. Ia butuh tenaga untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada teman-temannya, terutama Valdi. Gavin yang belum sempat menjelaskan apa-apa tiba-tiba saja kerah baju kemejanya ditarik oleh Valdi.</p>

<p>“Maksud lo apa, Bangsat?!” tanya sang sahabat setengah berteriak.</p>

<p>Arion, Jasper, dan Silas yang melihat adegan mengerikan itu sontak berdiri dari posisi duduk masing-masing. “Santai, Val,” kata Jasper mengingatkan.</p>

<p>“Tunggu, Val,” ucap Gavin. “Gue tau lo marah,” sambungnya. “Ini gue dateng mau ngejelasin semuanya,” ujar lelaki tampan itu.</p>

<p>“Gue udah kasih lo kepercayaan untuk jagain adek gue, Gav!” tegas Valdi.</p>

<p>“Bukan gitu maksud gue,” balas Gavin.</p>

<p>“LO KENAPA TEGA NYELINGKUHIN ADEK GUE, BAJINGAN?!” bentak Valdi sebelum melayangkan satu tinjuan keras pada sisi kanan wajah tampan sahabatnya.</p>

<p>BUAGH!</p>

<p>Gavin jatuh tersungkur hanya dengan satu tinjuan yang diberikan oleh sahabatnya. Tanpa aba-aba, Valdi menduduki sahabatnya yang masih terkapar lemas di atas lantai markas The Coast itu sebelum kembali menghujaninya dengan tinjuan dan pukulan pada wajah tampan tersebut. Arion, Jasper, dan Silas yang melihat aksi brutal temannya itu langsung berinisiatif untuk memisahkan keduanya.</p>

<p>Arion dan Jasper menarik Valdi agar berhenti memukuli vokalis mereka. Sedangkan, Silas membantu Gavin untuk perlahan duduk di atas lantai. Gavin menyentuh pelan luka terbuka yang tercipta akibat perkelahian sepihak antara Valdi dan dirinya. Ia meringis tipis. Di sisi lain, Silas bertanya sebab khawatir akan keadaannya. Gavin, dengan sisa tenaganya yang tidak sampai setengah itu, berusaha untuk kembali berdiri.</p>

<p>“Lepasin gue!” bentak Valdi pada Arion dan Jasper yang menghadang pergerakannya.</p>

<p>“Gue tau Gavin salah tapi lo tenang dulu, Val,” ujar Arion.</p>

<p>“Nyelesain masalah nggak harus dengan kekerasan,” sahut Jasper.</p>

<p>“Kalian nggak tau rasanya jadi gue,” ucap Valdi. “KALIAN NGGAK PUNYA ADEK PEREMPUAN YANG DISELINGKUHIN SAMA SAHABAT KALIAN SENDIRI!”</p>

<p>Mendengarnya, Arion dan Jasper tanpa sadar melepaskan pertahan mereka masing-masing. Oleh sebab itu, Valdi kembali mendapat akses untuk menghajar Gavin bahkan lebih kejam lagi. Namun, sebelum Valdi berhasil melanjutkan keinginannya tersebut menjadi nyata, Silas mengomando Arion dan Jasper untuk kembali menahan kakak kandung dari Vallerie tersebut. Akhirnya, Valdi berhasil kembali ditahan pergerakannya.</p>

<p>“Sialan,” umpat Valdi.</p>

<p>“Valdi!” kata Gavin sembari mengangkat tangannya dengan harapan Valdi mau mendengarkan penjelasannya barang sebentar. “Dengerin gue dulu,” ucapnya.</p>

<p>“Iya, dengerin penjelasan dari Gavin dulu,” bujuk Silas.</p>

<p>“Apalagi, Gav?!” tanya Valdi tak santai. “Kebohongan apalagi yang harus gue denger dari lo?!” bentaknya pada sang sahabat.</p>

<p>“Gue nggak nyelingkuhin Vallerie,” tegas Gavin. “Dan gue nggak akan pernah nyelingkuhin Vallerie,” lanjutnya.</p>

<p>Valdi menghempaskan sepasang lengan kekar yang memegangi kedua tangannya. “Lepasin gue,” katanya. Kemudian, Valdi berjalan menghampiri sofa yang sebelumnya menjadi tempat duduk sebelum memukuli Gavin dengan membabi buta. Ia membuka layar kunci ponselnya yang terletak di sana untuk kemudian menunjukkan sebuah foto yang terpampang dari layar ponselnya. “Kalau bukan selingkuh, ini apa namanya, Gav?!” bentak Valdi.</p>

<p>Pada layar ponsel itu, terlihat sebuah foto yang memperlihatkan Gavin dan Haerin tengah ‘bermesraan’ di gedung parkir siang ini. Gavin memicingkan kedua matanya agar dapat melihat lebih jelas foto yang dimaksud oleh Valdi. “Lo dapet foto ini dari siapa?” tanyanya.</p>

<p>Valdi memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. “Kenapa? Nggak penting gue dapet foto ini dari mana,” balasnya dengan kembali bertanya. “Itu Haerin ‘kan, Gav?”</p>

<p>“Itu sama sekali nggak bener,” bantah Gavin. “Gue nggak mungkin nyelingkuhin Vallerie,” ucapnya. “Apalagi sama Haerin.”</p>

<p>Ada sebuah nama asing yang disebut, Arion, Jasper, dan Silas saling bertukar pandang. “Lo tau sama cewek ini, Val?” tanya Silas tiba-tiba.</p>

<p>Valdi menoleh ke arah Silas sebentar sebelum kemudian kembali memandang ke arah Gavin. “Iya,” jawabnya. “Itu Haerin, mantan pacarnya Gavin dulu pas SMA,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>Gavin yang mendengar jawab paling jujur yang dilontarkan Valdi kepada semua anggota The Coast hanya dapat menghela napasnya panjang. Ia memejamkan matanya sejenak. Gavin bertaruh bahwa sebentar lagi akan banyak pertanyaan yang akan dilayangkan untuk dirinya dari teman-temannya yang tidak pernah mengetahui fakta mengerikan ini. Setidaknya, ada tiga pasang tatap mata yang memandanginya dengan penuh arti.</p>

<p>Pasalnya, hubungan antara Gavin dan Haerin hanya diketahui oleh Valdi. Semua suka dan duka—meskipun lebih banyak duka yang dirasakan—yang Gavin rasakan saat menjalin hubungan asmara bersama Haerin, Valdi mengetahuinya. Arion, Jasper, dan Silas tidak mengetahuinya sebab mereka bertiga tidak berada di sekolah yang sama semasa SMA dulu bersama Gavin dan Valdi.</p>

<p>“Haerin? Haerin yang wakil lo itu, Gav?” tanya Arion. Akhirnya, pertanyaan pertama berhasil ditanyakan.</p>

<p>“Kok kita bisa nggak tau kalau Haerin itu mantan lo?” tanya Jasper kemudian.</p>

<p>“Oh, pantes selama ini lo ngakunya selalu sibuk rapat, ya, Gav,” tambah Silas.</p>

<p>Mendengar pertanyaan terakhir yang datang dari Silas membuat Gavin melirik sinis ke arahnya. “Maksud lo?” tanyanya tak santai. “Lo nyuruh Heidy buat mata-matain gue, ya?” tuduh lelaki tampan itu pada temannya.</p>

<p>“Loh? Memangnya salah, Gav? Nggak ‘kan,” balas Valdi.</p>

<p>Silas menggeleng. “Nggak,” jawabnya. “Gue nggak nyuruh Heidy buat mata-matain lo.”</p>

<p>Valdi yang merasa lelah dengan situasi dan kondisi yang tengah dihadapinya sekarang lebih memilih untuk kembali duduk di sofa tempatnya semula. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada serta diikuti oleh kakinya yang bergerak serupa. “Tadi Silas yang ngasih tau gue,” ucap Valdi membuka percakapan yang lebih tenang. “Pas Silas lagi jemput Heidy di kampus, dia ngeliat lo berduaan sama Haerin,” lanjutnya. “Jadi, selama ini, lo balik lagi sama Haerin, Gav?” tanya Valdi.</p>

<p>Gavin mengusap wajahnya kasar. Sejenak, ia menatap Silas dengan tatapan yang Silas sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Lalu, Gavin melangkah menuju tempat Valdi duduk untuk kemudian berdiri tegap di hadapan sang sahabat. “Udah dibilangin gue nggak selingkuh, Val, apalagi sama Haerin,” ulangnya.</p>

<p>Valdi menundukkan pandangannya. “Kurangnya Vallerie apa sih, Gav?” tanya lelaki tampan itu untuk kemudian mengangkat kembali pandangannya. “Apa kurangnya Vallerie? Sampe lo harus balik lagi sama mantan lo itu?” tanya Valdi bertubi-tubi.</p>

<p>“Gue harus bilang berapa kali sih, Val? Gue beneran nggak selingkuh sama Haerin,” jelas Gavin. “Lo tau sendiri Haerin orangnya gimana,” ujarnya.</p>

<p>Valdi menggelengkan kepalanya. “Nggak,” ucapnya. “Gue nggak percaya,” tegas lelaki tampan itu. “Udah terlalu banyak bukti konkret yang sesuai sama alibi lo selama ini,” ujar lelaki berwajah tegas itu.</p>

<p>“Val,” panggil Gavin. Ia mendudukkan dirinya di samping sang sahabat. “Gue harus gimana biar lo percaya sama gue?” tanyanya serius. “Gue nggak selingkuh sama Haerin,” jelasnya.</p>

<p>“Lo gila,” umpat Valdi. “Haerin gila,” lanjutnya. “Kalian berdua memang cocok karena SAMA-SAMA GILA!”</p>

<p>Seluruh yang hadir di dalam markas besar The Coast pada sore menjelang malam hari itu terlihat sangat tegang. Bahkan Arion, Jasper, dan Silas yang tidak terlibat langsung dalam pertengkaran antara vokalis dan gitaris itu terlibat lebih tidak santai. Gavin berusaha keras menjelaskan semua yang perlu dijelaskan. Sedangkan, Valdi menepis mentah-mentah semua usaha keras Gavin dan penjelasannya.</p>

<p>“Lo nggak usah dateng ke rumah gue lagi,” jelas Valdi. “Apalagi ketemu sama Vallerie,” sambungnya.</p>

<p>“Nggak bisa gitu, Val,” ucap Gavin tidak terima. “Gue juga harus jelasin semuanya ke Vallerie,” jelasnya.</p>

<p>“Lo nggak perlu repot-repot jelasin apa-apa ke Vallerie,” balas Valdi. “Gue nggak mau ngeliat Vallerie disakitin terus sama lo,” tambahnya.</p>

<p>Di sela-sela perdebatan panas itu, Arion merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang berbunyi sebab sebuah notifikasi. Sepasang mata drummer dari The Coast itu membelalak sempurna kala indera penglihatannya menangkap sebuah berita yang diunggah oleh sebuah akun di salah satu media sosial kampusnya. Arion menyenggol bahu teman-temannya, Jasper dan Silas, untuk ikut membaca unggahan tersebut.</p>

<p>“Val,” panggil Arion. Namun, yang dipanggil namanya tidak mengindahkannya.</p>

<p>Akhirnya, Jasper, yang memiliki suara paling dalam di The Coast, angkat bicara. “Valdi,” panggilnya.</p>

<p>“Apa?!” jawab Valdi tidak santai sembari sedikit menoleh ke sumber suara. “Lo nggak bisa liat gue lagi ngapain?!” bentaknya.</p>

<p>“Berantem lo sama Gavin dijeda dulu,” kata Jasper.</p>

<p>“Lo harus liat ini,” tambah Silas sembari menyerahkan ponsel miliki Arion yang sedang dipegangnya.</p>

<p>Valdi menarik ponsel tersebut dengan kasar. Sepasang bola matanya—yang apabila sedang tersenyum terlihat seperti bola pingpong—kini membelalak. Ia membaca baris demi baris kalimat dalam bentuk thread yang membahas tentang sang sahabat. Jika biasanya Gavin muncul dengan berbagai prestasi di kanal berita kampus atau bahkan nasional tetapi saat ini wajah lelaki tampan itu disandingkan dengan judul berita yang berkonotasi negatif.</p>

<p>“Kenapa?” tanya Gavin yang penasaran.</p>

<p>“Lo liat aja sendiri,” jawab Jasper. “Ada di <em>thread</em> akun Twitter kampus kita,” sambungnya.</p>

<p>Gavin merogoh saku celana denimnya. Ia membuka unggahan yang dimaksud oleh teman-temannya. Serupa seperti Valdi, Gavin menelisik satu demi satu kisah yang mengandung namanya. Ada banyak ekspresi yang ditunjukkan oleh wajah tampan Gavin dan Valdi sampai akhirnya mereka selesai membaca cerita itu secara bersamaan. Gavin melirik satu per satu temannya.</p>

<p>“Gav.” Valdi mendahului teman-teman untuk membuka percakapan—selain tentang perselingkuhan, Haerin, dan Vallerie—bersama Gavin.</p>

<p>Kata demi kata, baris demi baris, dan paragraf demi paragraf Gavin baca dengan saksama. Genggaman tangannya pada ponsel di tangan kanannya semakin mengeras kala indera penglihatannya menangkap berita tentang seorang Ketua BEM Fakultas Ekonomi dengan inisial GP diduga menyelundupkan dana <em>annual project</em> dari organisasi fakultas. Gavin sangat amat sadar bahwa sosok GP yang dimaksud adalah dirinya.</p>

<p>Gavin menghela napas panjang untuk kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. “Ini apalagi coba,” ucapnya frustasi.</p>

<p>Arion dan Jasper mengangguk bersamaan menyetujui pernyataan yang barusan Valdi lontarkan. “Tapi Heidy bilang sama gue kalau semua persiapannya lancar dan nggak ada kendala biaya sama sekali, Gav,” sahut Silas.</p>

<p>Gavin yang sedari tadi pandangannya menatap dinginnya lantai dengan berbagai kenangan, terutama saat The Coast melakukan latihan bersama, mulai mengangkat wajah tampannya perlahan. “Haerin,” katanya menyebutkan satu nama. “Ini semua ulahnya Haerin,” tegas Gavin.</p>

<p>Arion, Jasper, dan Silas menganga mendengar pengakuan yang Gavin sampaikan. Namun, Valdi terlihat biasa saja karena mungkin dirinya sudah tidak asing dengan tingkah wakil dari sahabatnya itu.</p>

<p>“Haerin lagi, Gav?!” tanya Arion.</p>

<p>Gavin mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan temannya itu. “Gila!” umpat Gavin. Akhirnya, sebab lelah yang melanda raga dan jiwanya, Gavin lebih memilih duduk di atas sofa yang ada di dekatnya. “Mau gimana lag?” ucapnya dengan nada pasrah. “Sekalinya lo berurusan sama orang gila, nggak orang gila itu pergi dari hidup lo,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>“Lo harus lapor ke Kaprodi,” ucap Valdi. “Ke Rektor sekalian kalau perlu,” tambahnya.</p>

<p>“Kebetulan,” sela Silas. “Lo dicari sama Kaprodi,” ucapnya. “Lo juga disuruh ngadep ke Gedung Rektorat.” Informasi yang disampaikan Silas sukses membuat semua netra mengarah ke padanya, kecuali Gavin. Ada tatapan sinis yang dilayangkan Valdi yang mengisyaratkan bahwa timing yang dipilih Silas sangat tidak tepat dan seolah semakin menyudutkan Gavin yang tengah tertimpa masalah bertubi-tubi. “Gue cuma ngasih tau,” bisik Silas.</p>

<p>Gavin kembali menghela napasnya. Namun, kali ini, lebih dalam dan panjang. “Lo kalau mau lanjut gebukin gue nggak apa-apa, Val, biar sekalian,” kata Gavin tiba-tiba. “Abis ini, gue mau ketemu sama Pak Puji,” lanjutnya.</p>

<p>BRAKKK!</p>

<p>Di sela-sela atmosfer yang menegangkan itu, tiba-tiba saja suara pintu yang dibanting terdengar memekik. Gavin, Valdi, Arion, Jasper, dan Silas menengok ke arah pintu masuk utama. Ada sesosok gadis yang kedua tangannya tertumpu pada masing-masing lututnya selagi tangan kanannya mengelus dadanya yang terasa sesak. Gavin kenal dengan gadis itu. Ia menghampiri gadis tersebut dan menatapnya heran.</p>

<p>“Aletha?” panggilnya.</p>

<p>“Gav,” balas gadis itu. “Anjing!” umpatnya kemudian. “Gue udah lari jauh banget sampe ke belakang ternyata HQ The Coast ada di sini,” jelasnya dengan napas yang tersengal.</p>

<p>“Lo ngapain di sini, Tha?” tanya Gavin.</p>

<p>“Ya, bantuin lo lah!” jawab gadis itu tak santai. ”Gue udah ngadep ke Pak Puji, ke Rektor juga,” ujarnya.</p>

<p>“Maksudnya?” tanya Gavin polos.</p>

<p>“Lo Ketua BEM tapi agak tolol, ya, Gav,” umpat Aletha masih dengan napasnya yang tersengal.</p>

<p>“Bisa nggak? Nggak usah mencela gue dulu,” pinta Gavin. “Jelasin maksud lo yang tadi,” lanjutnya.</p>

<p>“Gue udah klarifikasi ke Pak Puji tentang <em>thread</em> yang ada di akun Twitter kampus kita,” jelas Aletha. “Gue juga udah minta tolong ke Pak Puji untuk ngejelasin semuanya ke Rektor karena gue mau nemuin lo di sini,” sambungnya.</p>

<p>Gavin menghela napas panjang untuk ke sekian di hari ini. Ia sampai tidak tahu lagi harus berperilaku dan berperasa seperti apa. “Kenapa lo mau repot-repot bantuin gue?” tanyanya. “Gue bisa jelasin sendiri ke Pak Puji, ke Rektor juga.”</p>

<p>Mendengarnya, Aletha memutar bola matanya. “Berhenti seolah-olah lo nggak butuh orang lain, Gav,” ujarnya. “Gue ini Bendahara lo. Memangnya lo pikir gue bisa tidur apa? Dengan mengetahui fakta kalau lo ganti uang yang diselundupin sama Haerin sampe ratusan juta itu,” jelasnya lagi. “Sendirian pula.”</p>

<p>Semua yang ada di sana, terutama Valdi, menganga dengan hebat setelah mengetahui nominal kerugian yang harus Gavin tanggung secara pribadi. Valdi memang mengetahui tabiat buruk Haerin karena pada dasarnya mereka bertiga, Gavin, Valdi, serta Haerin, berada di sekolah yang sama semasa Sekolah Menengah Atas. Namun, untuk kasus yang satu ini, menurut Valdi sangatlah… bahkan Valdi sendiri tidak dapat menjelaskan dengan kata-kata.</p>

<p>Valdi berjalan menghampiri sahabatnya. Ia mengusap pelan bahu lebar sahabatnya. “Lo kenapa nggak bilang ke gue sih, Gav?” tanyanya.</p>

<p>“Gue nggak bisa, Val,” jawab sang sahabat. “Gue nggak bisa ngebebanin lo lagi,” lanjutnya.</p>

<p>“Lo nggak ngebebanin apa-apa ke gue dan semua yang ada di sini,” jelas Valdi.</p>

<p>“Gimana kita mau bantu lo kalau lo aja nggak bilang kalau lo lagi ada masalah, Gav?” sela Jasper.</p>

<p>“Nggak usah kayak orang baru kenal kemaren kali, Gav,” tambah Arion.</p>

<p>“Kita semua di sini temen lo,” final Silas.</p>

<p>“Gue bukan, ya, ” ucap Aletha tiba-tiba. Seluruh pasang mata yang ada di sana melirik ke arah sumber suara. “Gue masih trauma, Gav, dilabrak sama Haerin gara-gara gue dianter pulang sama lo,” jelasnya. “Padahal, Vallerie yang pacar lo aja nggak masalah.”</p>

<p>Kala ada satu nama yang disebut, Gavin langsung memejamkan matanya. Seketika, ia mengingat momen-momen bahagia bersama kekasihnya itu, di mana beberapa waktu belakangan ini, momen-momen bahagia yang ada mulai tergantikan dengan perdebatan dan pertikaian ala sepasang kekasih. Gavin merindukan Vallerie dan ia harap gadis cantik itu juga merasakan hal yang sama.</p>

<p>“Lain kali, gue aja yang anter pulang,” tukas Jasper tiba-tiba untuk merespon penjelasan dari Aletha.</p>

<p>Kali ini, semua manik tertuju pada Jasper. Kalimat yang diucapkannya sukses membuat teman-temannya menyeringai sebab mengetahui Jasper yang dikenal sebagai sang pemangsa wanita dari fakultas hukum telah kembali. Namun, Aletha, yang diberi respon seperti itu tidak dapat berbuat banyak, kecuali tersenyum masam. Pasalnya, gelar yang disandang Jasper terlalu melekat pada dirinya sehingga banyak perempuan yang merasa enggan untuk dekat dengannya.</p>

<p>“Nggak dulu deh,” balas Aletha. “Gue duluan, ya, Gav. Gue mau balik ke kampus,” finalnya.</p>

<p>“Ini…,” kata Jasper tertahan.  “Gue ditolak, ya?” tanyanya kemudian.</p>

<p>“Iya,” jawab Arion secara gamblang. “Ditolak mateng-mateng,” celetuknya.</p>

<p>“Gav,” panggil Valdi tanpa memalingkan kedua netranya dari layar ponselnya. Kemudian, Valdi kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana denimnya. “Lo ditanyain sama Vallerie,” ucapnya.</p>

<p>Mengetahui Valleri menanyakan keberadaannya, Gavin senang bukan kepalang. Apabila tidak ditahan, mungkin lelaki tampan itu sudah melompat ke sana ke mari bak kelinci gila. Ia menggenggam sepasang lengan sahabatnya itu dengan keras dan berkata, “Gue izin ketemu sama Vallerie, ya, Val.” ucapnya. “Gue mau jelasin semuanya ke dia,” jelas Gavin.</p>

<p>Valdi mengangguk sebagai jawaban. “Sana,” jawabnya.</p>

<p>Sepersekian detik kemudian, Gavin melengang dengan cepat dari markas besar The Coast itu. Ia berlari menuju gedung parkir untuk mengambil kembali mobilnya dan bergegas menemui kekasihnya. Gavin tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di halaman rumah mewah tersebut. Kini, lelaki tampan itu sudah berdiri di ambang pintu utama. Ia hendak mengetuk daun pintu berwarna putih itu kala aksinya didahului oleh seseorang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/the-apology</guid>
      <pubDate>Fri, 13 Feb 2026 14:37:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>The Motion</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/a-motion?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[The Motion&#xA;&#xA;“Vallerie,” panggil Gavin kepada sang kekasih. Ia memusatkan atensinya pada gadis cantik dengan wajah murung di sebelah kirinya.&#xA;&#xA;Vallerie dengan sengaja tidak menjawab. Ia berpura-pura fokus pada tumpukan nasi yang tersedia di piring makannya. Vallerie lebih memilih diam sebab ia tahu apabila dirinya terus-terusan berinteraksi dengan kekasihnya itu maka suasana hatinya akan semakin runyam dan Vallerie sangat amat tidak ingin merusak suasana hati semua orang hanya karena amarah yang dipendamnya.&#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin lagi. &#xA;&#xA;Namun, Vallerie masih tetap dengan pendiriannya. Ia meneguk air putih dari gelas di hadapannya. Vallerie merasa dengan diamnya ini justru membuat tenggorokannya semakin kering. Sebenarnya, ada banyak hal ingin ia tanyakan kepada Gavin tetapi waktunya tidak tepat. Vallerie tidak tega kalau semua yang hadir di surprise party Valdi hari ini harus menyaksikan dirinya bertengkar (lagi) dengan sang kekasih. &#xA;&#xA;“Kamu marah sama aku?” tanya Gavin seolah tak ada dosa. &#xA;&#xA;“Nggak,” jawab Vallerie singkat. “Lanjutin makannya, Kak. Kamu pasti capek rapat terus,” sindir gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Vallerie yang sedari tadi menghemat kata-katanya ketika berbicara dengan Gavin, kini mulai mau menjawab meskipun kalimat yang dilontarkannya sukses membuat Gavin membatu. Pasalnya, Gavin tidak tahu-menahu alasan di balik kekasihnya itu bersikap dingin padanya. Namun, Gavin tahu bahwa dirinya harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, dirinya berinisiatif untuk ‘bergerak’ lebih dulu.&#xA;&#xA;Gavin meletakkan sendok dan garpu yang digunakannya di samping kanan dan kiri piring makannya. Di sisi lain, Vallerie yang memutuskan untuk mengakhiri sesi makannya menyilangkan alat makannya di atas piring. Kemudian, Gavin dengan sengaja menjatuhkan garpu yang ada di dekatnya. Dengan alibi ingin mengambil garpu yang dijatuhkannya tersebut, tangan kiri Gavin bergerak mengusap pelan kaki jenjang Vallerie dari bawah sampai atas. &#xA;&#xA;Vallerie yang diperlakukan seperti itu sontak menegang. Ia hampir saja tersedak es jeruk yang tengah ditenggaknya. Sepasang netranya membulat dengan sempurna sembari meletakkan gelas es jeruknya dengan tidak santai. Ia melirik Gavin yang sama sekali merasa tidak bersalah atas perlakuan tidak senonohnya. Vallerie mengumpat di dalam hatinya sebab mengapa harus pada momen seperti ini ‘gerakan’ itu harus berlangsung.&#xA;&#xA;“Santai, Vall,” bisik Gavin.&#xA;&#xA;Dengan cepat, tangan besar Gavin kembali bergerak. Kali ini, menyingkap ujung mini dress yang dikenakan kekasihnya. Gavin dapat mendengar dengan jelas napas Vallerie yang semakin berat. Gavin berhasil memancing Vallerie untuk masuk ke dalam perangkapnya. Tangan kanan Vallerie dengan kuat mencengkram ujung meja makan yang terbuat dari marmer serta tangan kirinya sedari tadi tidak berhenti mengusap peluh yang mengucur di keningnya.&#xA;&#xA;Valdi yang tengah menegak air putih dingin dari gelasnya menyadari ada sesuatu yang aneh dari adiknya. “Kamu nggak apa-apa, Vall?” tanyanya.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie menolehkan pandangannya ke arah Valdi. “Ng-nggak apa-apa, Bang,” ucapnya terbata-bata.&#xA;&#xA;“Kamu yakin?” tanya Valdi lagi. Tangannya bergerak mengusap kening adiknya yang membanjir. “Kamu keringat dingin gini loh,” jelasnya.&#xA;&#xA;Vallerie yang sedang mengobrol dengan Valdi digunakan Gavin sebagai momen gayung bersambut dalam aktivitas menggoda gadisnya. Telapak tangan besar nan berurat itu mencoba melebarkan sepasang paha yang ada pada genggamannya. Lalu, dengan telaten, jari-jari itu bergerak mengusap bagian selatan Vallerie yang masih terlindungi oleh pakaian dalam. Vallerie dibuat semakin tidak tahan.&#xA;&#xA;“B-Beneran kok,” balas Vallerie. “Aku ng-nggak apa-apa.” &#xA;&#xA;Vallerie melirik sinis ke arah lelaki tampan yang duduk di samping kanannya. Melihat tatapan tidak menyenangkan itu, Gavin membalas dengan sebaliknya. Ia justru sangat senang melihat kekasihnya berusaha keras untuk tidak mendesah di depan banyak orang di saat tangannya bergerak di bawah sana. Vallerie berusaha menghentikan segala bentuk kegiatan tangan besar itu pada dirinya tetapi tidak bisa sebab Gavin terlalu kuat.&#xA;&#xA;Gavin mendekatkan wajahnya ke arah Vallerie. “Enak?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Bangsat,” umpat Vallerie tidak suka.&#xA;&#xA;Sepersekian detik kemudian, tangan itu bergerak tetapi lebih brutal. Gavin meneroboskan jari-jarinya agar masuk ke dalam vagina gadisnya melalui celah pakaian dalam yang dikenakannya. Vallerie memejamkan maniknya sembari menundukkan pandangannya. Ia berusaha sangat keras untuk tidak memberikan sinyal kepada orang-orang di sekitarnya bahwa Gavin tengah melecehkan dirinya.&#xA;&#xA;“U-Udah, Kak,” lirihnya. &#xA;&#xA;Bukannya menghentikan pergerakannya, Gavin malah semakin menggoda gadisnya. “Suaranya ditahan, Sayang,” bisiknya.&#xA;&#xA;Vallerie mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah sedang berdoa. Ia mengucapkan semua umpatan yang ia ketahui kepada Gavin di dalam sanubarinya. Sejujurnya, Vallerie tidak menikmati permainan ini. Memang benar adanya ia pernah meminta kepada Gavin untuk ‘bermain’ di tempat terbuka atau public space, di mana banyak orang berlalu-lalang tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat dan Gavin tidak dapat membaca itu.&#xA;&#xA;Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sejak awal Gavin memang ahlinya dalam hal-hal seperti ini. Vallerie masih sangat ingat bagaimana kekasihnya ini pernah mendeklarasikan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang sangat mumpuni perihal seks pada permainan pertama mereka. Meskipun hati Vallerie tidak menerimanya tetapi tubuhnya sangat amat menikmatinya. Sepertinya, Vallerie sebentar lagi akan menjemput pelepasannya.&#xA;&#xA;Gavin dapat merasakan vagina yang ia mainkan berkedut kencang. Ia juga dapat merasakan cairan yang membanjiri tangan besarnya. Gavin yakin bahwa sebentar lagi Vallerie akan mendapatkan titik ternikmatnya. Dengan beberapa isyarat itu, Gavin mempercepat kocokan dan adukannya di bawah sana. Vallerie yang menyadari peningkatan tempo gerakan di bawahnya tidak dapat menahannya lebih lama lagi.&#xA;&#xA;“K-Kak,” lirih Vallerie lagi.&#xA;&#xA;“Iya, Sayang,” balasnya. “Keluarin aja.”&#xA;&#xA;Vallerie merasakan napasnya berembus dengan tidak beraturan, seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin, serta beberapa bagian tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu bahwa dirinya mungkin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi. Vallerie memang merindukan kekasihnya, terutama pada permainan panas seperti ini. Namun, khusus hari ini, Vallerie tidak ingin mengalah dengan perasaannya. Ia ingin logikanya yang mengambil alih.&#xA;&#xA;Dengan semua tenaganya yang tersisa, Vallerie berusaha dengan sekuat tenaga untuk menarik tangan besar Gavin dari vaginanya. Tepat sebelum Vallerie menjemput pelepasannya, ia berhasil menghentikan pergerakan kekasihnya. Gavin sedikit terkejut saat mengetahui Vallerie dapat melawan pergerakannya. Ia mengira bahwa Vallerie sudah mencapai titik ternikmatnya.&#xA;&#xA;Gavin mengeluarkan sapu tangan yang selalu dibawanya dari saku bagian belakang celananya. Ia terlebih dahulu mengelap paha gadisnya yang dibanjiri oleh cairan khas kenikmatan untuk kemudian ia membersihkan jari-jarinya. Sementara itu, Vallerie masih mencoba mengatur napasnya serta menyelaraskan jiwanya yang sedikit terguncang atas apa yang baru saja terjadi pada dirinya.&#xA;&#xA;Gavin hendak mengecup pucuk kepala gadisnya kala pergerakannya itu dihentikan oleh Vallerie. “Good—” Belum sempat lelaki tampan itu menyelesaikan kalimatnya.&#xA;&#xA;Vallerie bangkit dari posisi duduknya sembari menggenggam tangan besar yang beberapa menit lalu melecehkannya. “Ikut aku,” ketusnya. &#xA;&#xA;Gavin yang diberi perintah begitu hanya menurut. Ia mengekori ke mana kekasihnya itu membawanya. Ternyata, Vallerie membawa Gavin naik ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Vallerie memilih kamarnya sebagai tempat untuk mengobrol dengan kekasihnya bukan tanpa alasan. Pasalnya, hanya di kamar tidurnya, suaranya tidak akan terdengar oleh orang lain.&#xA;&#xA;“Buset,” ucap Jasper. “Udah nggak tahan apa gimana itu adek lo?” tanyanya bergurau.&#xA;&#xA;“Nggak bahaya tuh, Val?” tanya Arion.&#xA;&#xA;Valdi hanya menggeleng. “Udah pada gede ini kok,” jawabnya santai.&#xA;&#xA;Namun, di sisi lain, selain Valdi, Jasper, dan Arion yang tengah membuat praduga atas perginya Gavin dan Vallerie dari meja makan, ada seseorang yang perasaannya berseberangan, yaitu Heidy. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sepasang netra sahabatnya itu dipenuhi genangan pada pelupuknya. Heidy tahu bahwa Vallerie merasakan emosi negatif dan bukannya emosi positif kala Gavin datang.&#xA;&#xA;“Dy,” panggil Silas yang menyadari air wajah adik tingkatnya itu berubah drastis.&#xA;&#xA;Heidy menoleh ke sumber suara. “Iya, Kak.”&#xA;&#xA;“Kamu nggak apa-apa?” tanya Silas. “Kamu keliatan kayak nggak tenang gitu.”&#xA;&#xA;Heidy menggeleng. “Ah, nggak kok, Kak,” dustanya.&#xA;&#xA;BRAK!&#xA;&#xA;Valdi, Jasper, Arion, Silas, dan Heidy dapat mendengar suara pintu yang berdentum dengan sangat keras. Semuanya menengok ke arah lantai atas, tepatnya ke arah pintu berbahan kayu yang di depannya tergantung inisial huruf ‘V’ berwarna silver. Valdi, Jasper, dan Arion menggeleng-gelengkan kepala sebab melihat tingkah laku sepasang kekasih itu. Namun, di saat yang bersamaan, Heidy menelan salivanya dan Silas mengetahui ada sesuatu yang salah. &#xA;&#xA;“Kamu apa-apaan sih, Kak?!” tanya Vallerie tak santai setelah menghempas tubuh besar itu ke tepi ranjang. &#xA;&#xA;Gavin mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu, Gavin menghela napasnya. “Abisnya kamu diem aja,” katanya. “Jadi, aku inisiatif ‘gerak’.”&#xA;&#xA;“Kita lagi makan sama yang lain loh, sama ORANG LAIN,” ucap Vallerie menggebu-gebu. “Ada banyak orang di sana!” bentaknya sembari menunjuk ke arah bawah.&#xA;&#xA;“Kamu nggak suka?” tanya Gavin dengan sebelah alisnya terangkat.&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan seperti itu terlontar dari kekasihnya, Vallerie mengernyitkan keningnya. “Apa?” tanyanya. “Kamu bilang apa barusan?” ulang gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin yang sedari tadi nyaman pada posisi duduknya di tepi ranjang, kini berdiri. Ia mendekatkan dirinya ke arah Vallerie. “Memangnya kamu nggak suka?” tanyanya. “Suka ‘kan?” ulang lelaki tampan itu. “Kamu marah karena aku ‘mainin’?”&#xA;&#xA;Vallerie mengusap wajahnya kasar. “Ya, menurut kamu aja deh, Kak,” ucap gadis cantik itu. “Kamu seharusnya bisa menghargai orang lain,” lanjutnya. “Kamu juga seharusnya bisa menghargai Bang Paldi yang lagi ulang tahun.”&#xA;&#xA;Gavin menatap sinis kepada sang kekasih setelah kalimat yang baru saja diucapkannya. ”Kamu kok ngomongnya gitu?” Kali ini, Gavin yang nada bicaranya tidak santai. “Kamu tau nggak? Dengan kamu ngomong gitu, kesannya kayak aku nggak menghargai Valdi dan yang lain,” sambungnya. “Valdi tuh temen aku dari lama. Aku nggak mungkin nggak menghargai dia.”&#xA;&#xA;Vallerie maju selangkah agar lebih dekat dengan kekasihnya. Ia tatap rangka wajah tegas yang selama beberapa hari ini selalu memberi mimpi buruk pada tidurnya. “Kalau kamu menghargai Bang Paldi, seharusnya kamu ikut datang pas yang lain lagi nge-decor ruang tengah untuk acara ulang tahunnya Bang Paldi.”&#xA;&#xA;Gavin kembali menghela napas panjang untuk kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping. Ia tahu bahwa, cepat atau lambat, Vallerie akan menyinggung masalah ini. “Aku udah bilang ke kamu ‘kan? Kalau aku ada rapat BEM,” jelasnya. “Aku cuma minta kamu buat ngerti,” tegasnya. “Masa cuma karena hal sepele gini kamu marah?”&#xA;&#xA;Kalimat terakhir yang diucapkan Gavin sukses membuat hati Vallerie terbelah menjadi berkeping-keping. Ia tidak mengira bahwa acara persiapan untuk acara ulang tahun kakaknya itu dianggap sebagai hal yang sepele oleh sang kekasih. Vallerie masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana dulu dirinya dan Gavin selalu menjadi garda terdepan saat ulang tahun Valdi akan datang. Lalu, berarti usaha yang mereka lakukan selama ini adalah hal yang sepele.&#xA;&#xA;Vallerie berusaha mati-matian untuk tidak menangis di depan Gavin. Untuk kali ini saja, ia ingin berdiri kuat di atas pendirian dan logikanya. Vallerie tidak mau hatinya yang memilih. Ia benci sebab dirinya harus mengakui bahwa ia sangat mencintai Gavin, di mana lelaki tampan itu selalu mencari kesempatan dan kata maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. Namun, hal itu cukup berhenti di sini. Vallerie tidak ingin lagi dipermainkan.&#xA;&#xA;Vallerie tersenyum masam. “Sepele, ya,” ucapnya. “Jadi, apa yang selama ini kita lakukan untuk kebahagiaan Bang Paldi itu sepele, ya, Kak,” jelasnya dengan nada kecewa.&#xA;&#xA;“Nggak gitu, Vall, maksud aku,” ucap Gavin sembari berusaha meraih tangan kecil kekasihnya.&#xA;&#xA;Vallerie menghindarinya. Ia mengangkat kedua tangannya. “Cukup,” kata gadis cantik itu. “Aku nggak mau dengar alasan kamu lagi,” ujarnya. “Aku udah capek.”&#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin. “Aku udah pernah bilang ‘kan sama kamu? Kalau kamu dan Valdi itu dua orang yang paling aku sayang,” ucap lelaki tampan itu. “Aku nggak mungkin nyakitin kalian berdua.”&#xA;&#xA;“Kamu nggak perlu ngejelasin apa-apa lagi ke aku,” balas Vallerie. “Silakan kamu lakukan apapun yang membuat kamu senang,” lanjutnya. “Kamu nggak perlu lagi mikirin aku atau Bang Paldi.”&#xA;&#xA;“Maksud kamu apa?” tanya Gavin cemas.&#xA;&#xA;“Kamu silakan interpretasikan sendiri kalimat yang aku sampaikan ke kamu,” jawab Vallerie. “Ketua BEM ‘kan?” tanya gadis cantik itu sarkas. “Coba ditelaah sendiri.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Motion</strong></p>

<p>“Vallerie,” panggil Gavin kepada sang kekasih. Ia memusatkan atensinya pada gadis cantik dengan wajah murung di sebelah kirinya.</p>

<p>Vallerie dengan sengaja tidak menjawab. Ia berpura-pura fokus pada tumpukan nasi yang tersedia di piring makannya. Vallerie lebih memilih diam sebab ia tahu apabila dirinya terus-terusan berinteraksi dengan kekasihnya itu maka suasana hatinya akan semakin runyam dan Vallerie sangat amat tidak ingin merusak suasana hati semua orang hanya karena amarah yang dipendamnya.</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin lagi.</p>

<p>Namun, Vallerie masih tetap dengan pendiriannya. Ia meneguk air putih dari gelas di hadapannya. Vallerie merasa dengan diamnya ini justru membuat tenggorokannya semakin kering. Sebenarnya, ada banyak hal ingin ia tanyakan kepada Gavin tetapi waktunya tidak tepat. Vallerie tidak tega kalau semua yang hadir di surprise party Valdi hari ini harus menyaksikan dirinya bertengkar (lagi) dengan sang kekasih.</p>

<p>“Kamu marah sama aku?” tanya Gavin seolah tak ada dosa.</p>

<p>“Nggak,” jawab Vallerie singkat. “Lanjutin makannya, Kak. Kamu pasti capek rapat terus,” sindir gadis cantik itu.</p>

<p>Vallerie yang sedari tadi menghemat kata-katanya ketika berbicara dengan Gavin, kini mulai mau menjawab meskipun kalimat yang dilontarkannya sukses membuat Gavin membatu. Pasalnya, Gavin tidak tahu-menahu alasan di balik kekasihnya itu bersikap dingin padanya. Namun, Gavin tahu bahwa dirinya harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, dirinya berinisiatif untuk ‘bergerak’ lebih dulu.</p>

<p>Gavin meletakkan sendok dan garpu yang digunakannya di samping kanan dan kiri piring makannya. Di sisi lain, Vallerie yang memutuskan untuk mengakhiri sesi makannya menyilangkan alat makannya di atas piring. Kemudian, Gavin dengan sengaja menjatuhkan garpu yang ada di dekatnya. Dengan alibi ingin mengambil garpu yang dijatuhkannya tersebut, tangan kiri Gavin bergerak mengusap pelan kaki jenjang Vallerie dari bawah sampai atas.</p>

<p>Vallerie yang diperlakukan seperti itu sontak menegang. Ia hampir saja tersedak es jeruk yang tengah ditenggaknya. Sepasang netranya membulat dengan sempurna sembari meletakkan gelas es jeruknya dengan tidak santai. Ia melirik Gavin yang sama sekali merasa tidak bersalah atas perlakuan tidak senonohnya. Vallerie mengumpat di dalam hatinya sebab mengapa harus pada momen seperti ini ‘gerakan’ itu harus berlangsung.</p>

<p>“Santai, Vall,” bisik Gavin.</p>

<p>Dengan cepat, tangan besar Gavin kembali bergerak. Kali ini, menyingkap ujung mini dress yang dikenakan kekasihnya. Gavin dapat mendengar dengan jelas napas Vallerie yang semakin berat. Gavin berhasil memancing Vallerie untuk masuk ke dalam perangkapnya. Tangan kanan Vallerie dengan kuat mencengkram ujung meja makan yang terbuat dari marmer serta tangan kirinya sedari tadi tidak berhenti mengusap peluh yang mengucur di keningnya.</p>

<p>Valdi yang tengah menegak air putih dingin dari gelasnya menyadari ada sesuatu yang aneh dari adiknya. “Kamu nggak apa-apa, Vall?” tanyanya.</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie menolehkan pandangannya ke arah Valdi. “Ng-nggak apa-apa, Bang,” ucapnya terbata-bata.</p>

<p>“Kamu yakin?” tanya Valdi lagi. Tangannya bergerak mengusap kening adiknya yang membanjir. “Kamu keringat dingin gini loh,” jelasnya.</p>

<p>Vallerie yang sedang mengobrol dengan Valdi digunakan Gavin sebagai momen gayung bersambut dalam aktivitas menggoda gadisnya. Telapak tangan besar nan berurat itu mencoba melebarkan sepasang paha yang ada pada genggamannya. Lalu, dengan telaten, jari-jari itu bergerak mengusap bagian selatan Vallerie yang masih terlindungi oleh pakaian dalam. Vallerie dibuat semakin tidak tahan.</p>

<p>“B-Beneran kok,” balas Vallerie. “Aku ng-nggak apa-apa.”</p>

<p>Vallerie melirik sinis ke arah lelaki tampan yang duduk di samping kanannya. Melihat tatapan tidak menyenangkan itu, Gavin membalas dengan sebaliknya. Ia justru sangat senang melihat kekasihnya berusaha keras untuk tidak mendesah di depan banyak orang di saat tangannya bergerak di bawah sana. Vallerie berusaha menghentikan segala bentuk kegiatan tangan besar itu pada dirinya tetapi tidak bisa sebab Gavin terlalu kuat.</p>

<p>Gavin mendekatkan wajahnya ke arah Vallerie. “Enak?” tanyanya.</p>

<p>“Bangsat,” umpat Vallerie tidak suka.</p>

<p>Sepersekian detik kemudian, tangan itu bergerak tetapi lebih brutal. Gavin meneroboskan jari-jarinya agar masuk ke dalam vagina gadisnya melalui celah pakaian dalam yang dikenakannya. Vallerie memejamkan maniknya sembari menundukkan pandangannya. Ia berusaha sangat keras untuk tidak memberikan sinyal kepada orang-orang di sekitarnya bahwa Gavin tengah melecehkan dirinya.</p>

<p>“U-Udah, Kak,” lirihnya.</p>

<p>Bukannya menghentikan pergerakannya, Gavin malah semakin menggoda gadisnya. “Suaranya ditahan, Sayang,” bisiknya.</p>

<p>Vallerie mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah sedang berdoa. Ia mengucapkan semua umpatan yang ia ketahui kepada Gavin di dalam sanubarinya. Sejujurnya, Vallerie tidak menikmati permainan ini. Memang benar adanya ia pernah meminta kepada Gavin untuk ‘bermain’ di tempat terbuka atau public space, di mana banyak orang berlalu-lalang tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat dan Gavin tidak dapat membaca itu.</p>

<p>Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sejak awal Gavin memang ahlinya dalam hal-hal seperti ini. Vallerie masih sangat ingat bagaimana kekasihnya ini pernah mendeklarasikan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang sangat mumpuni perihal seks pada permainan pertama mereka. Meskipun hati Vallerie tidak menerimanya tetapi tubuhnya sangat amat menikmatinya. Sepertinya, Vallerie sebentar lagi akan menjemput pelepasannya.</p>

<p>Gavin dapat merasakan vagina yang ia mainkan berkedut kencang. Ia juga dapat merasakan cairan yang membanjiri tangan besarnya. Gavin yakin bahwa sebentar lagi Vallerie akan mendapatkan titik ternikmatnya. Dengan beberapa isyarat itu, Gavin mempercepat kocokan dan adukannya di bawah sana. Vallerie yang menyadari peningkatan tempo gerakan di bawahnya tidak dapat menahannya lebih lama lagi.</p>

<p>“K-Kak,” lirih Vallerie lagi.</p>

<p>“Iya, Sayang,” balasnya. “Keluarin aja.”</p>

<p>Vallerie merasakan napasnya berembus dengan tidak beraturan, seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin, serta beberapa bagian tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu bahwa dirinya mungkin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi. Vallerie memang merindukan kekasihnya, terutama pada permainan panas seperti ini. Namun, khusus hari ini, Vallerie tidak ingin mengalah dengan perasaannya. Ia ingin logikanya yang mengambil alih.</p>

<p>Dengan semua tenaganya yang tersisa, Vallerie berusaha dengan sekuat tenaga untuk menarik tangan besar Gavin dari vaginanya. Tepat sebelum Vallerie menjemput pelepasannya, ia berhasil menghentikan pergerakan kekasihnya. Gavin sedikit terkejut saat mengetahui Vallerie dapat melawan pergerakannya. Ia mengira bahwa Vallerie sudah mencapai titik ternikmatnya.</p>

<p>Gavin mengeluarkan sapu tangan yang selalu dibawanya dari saku bagian belakang celananya. Ia terlebih dahulu mengelap paha gadisnya yang dibanjiri oleh cairan khas kenikmatan untuk kemudian ia membersihkan jari-jarinya. Sementara itu, Vallerie masih mencoba mengatur napasnya serta menyelaraskan jiwanya yang sedikit terguncang atas apa yang baru saja terjadi pada dirinya.</p>

<p>Gavin hendak mengecup pucuk kepala gadisnya kala pergerakannya itu dihentikan oleh Vallerie. “Good—” Belum sempat lelaki tampan itu menyelesaikan kalimatnya.</p>

<p>Vallerie bangkit dari posisi duduknya sembari menggenggam tangan besar yang beberapa menit lalu melecehkannya. “Ikut aku,” ketusnya.</p>

<p>Gavin yang diberi perintah begitu hanya menurut. Ia mengekori ke mana kekasihnya itu membawanya. Ternyata, Vallerie membawa Gavin naik ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Vallerie memilih kamarnya sebagai tempat untuk mengobrol dengan kekasihnya bukan tanpa alasan. Pasalnya, hanya di kamar tidurnya, suaranya tidak akan terdengar oleh orang lain.</p>

<p>“Buset,” ucap Jasper. “Udah nggak tahan apa gimana itu adek lo?” tanyanya bergurau.</p>

<p>“Nggak bahaya tuh, Val?” tanya Arion.</p>

<p>Valdi hanya menggeleng. “Udah pada gede ini kok,” jawabnya santai.</p>

<p>Namun, di sisi lain, selain Valdi, Jasper, dan Arion yang tengah membuat praduga atas perginya Gavin dan Vallerie dari meja makan, ada seseorang yang perasaannya berseberangan, yaitu Heidy. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sepasang netra sahabatnya itu dipenuhi genangan pada pelupuknya. Heidy tahu bahwa Vallerie merasakan emosi negatif dan bukannya emosi positif kala Gavin datang.</p>

<p>“Dy,” panggil Silas yang menyadari air wajah adik tingkatnya itu berubah drastis.</p>

<p>Heidy menoleh ke sumber suara. “Iya, Kak.”</p>

<p>“Kamu nggak apa-apa?” tanya Silas. “Kamu keliatan kayak nggak tenang gitu.”</p>

<p>Heidy menggeleng. “Ah, nggak kok, Kak,” dustanya.</p>

<p>BRAK!</p>

<p>Valdi, Jasper, Arion, Silas, dan Heidy dapat mendengar suara pintu yang berdentum dengan sangat keras. Semuanya menengok ke arah lantai atas, tepatnya ke arah pintu berbahan kayu yang di depannya tergantung inisial huruf ‘V’ berwarna silver. Valdi, Jasper, dan Arion menggeleng-gelengkan kepala sebab melihat tingkah laku sepasang kekasih itu. Namun, di saat yang bersamaan, Heidy menelan salivanya dan Silas mengetahui ada sesuatu yang salah.</p>

<p>“Kamu apa-apaan sih, Kak?!” tanya Vallerie tak santai setelah menghempas tubuh besar itu ke tepi ranjang.</p>

<p>Gavin mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu, Gavin menghela napasnya. “Abisnya kamu diem aja,” katanya. “Jadi, aku inisiatif ‘gerak’.”</p>

<p>“Kita lagi makan sama yang lain loh, sama ORANG LAIN,” ucap Vallerie menggebu-gebu. “Ada banyak orang di sana!” bentaknya sembari menunjuk ke arah bawah.</p>

<p>“Kamu nggak suka?” tanya Gavin dengan sebelah alisnya terangkat.</p>

<p>Mendengar pertanyaan seperti itu terlontar dari kekasihnya, Vallerie mengernyitkan keningnya. “Apa?” tanyanya. “Kamu bilang apa barusan?” ulang gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin yang sedari tadi nyaman pada posisi duduknya di tepi ranjang, kini berdiri. Ia mendekatkan dirinya ke arah Vallerie. “Memangnya kamu nggak suka?” tanyanya. “Suka ‘kan?” ulang lelaki tampan itu. “Kamu marah karena aku ‘mainin’?”</p>

<p>Vallerie mengusap wajahnya kasar. “Ya, menurut kamu aja deh, Kak,” ucap gadis cantik itu. “Kamu seharusnya bisa menghargai orang lain,” lanjutnya. “Kamu juga seharusnya bisa menghargai Bang Paldi yang lagi ulang tahun.”</p>

<p>Gavin menatap sinis kepada sang kekasih setelah kalimat yang baru saja diucapkannya. ”Kamu kok ngomongnya gitu?” Kali ini, Gavin yang nada bicaranya tidak santai. “Kamu tau nggak? Dengan kamu ngomong gitu, kesannya kayak aku nggak menghargai Valdi dan yang lain,” sambungnya. “Valdi tuh temen aku dari lama. Aku nggak mungkin nggak menghargai dia.”</p>

<p>Vallerie maju selangkah agar lebih dekat dengan kekasihnya. Ia tatap rangka wajah tegas yang selama beberapa hari ini selalu memberi mimpi buruk pada tidurnya. “Kalau kamu menghargai Bang Paldi, seharusnya kamu ikut datang pas yang lain lagi nge-decor ruang tengah untuk acara ulang tahunnya Bang Paldi.”</p>

<p>Gavin kembali menghela napas panjang untuk kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping. Ia tahu bahwa, cepat atau lambat, Vallerie akan menyinggung masalah ini. “Aku udah bilang ke kamu ‘kan? Kalau aku ada rapat BEM,” jelasnya. “Aku cuma minta kamu buat ngerti,” tegasnya. “Masa cuma karena hal sepele gini kamu marah?”</p>

<p>Kalimat terakhir yang diucapkan Gavin sukses membuat hati Vallerie terbelah menjadi berkeping-keping. Ia tidak mengira bahwa acara persiapan untuk acara ulang tahun kakaknya itu dianggap sebagai hal yang sepele oleh sang kekasih. Vallerie masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana dulu dirinya dan Gavin selalu menjadi garda terdepan saat ulang tahun Valdi akan datang. Lalu, berarti usaha yang mereka lakukan selama ini adalah hal yang sepele.</p>

<p>Vallerie berusaha mati-matian untuk tidak menangis di depan Gavin. Untuk kali ini saja, ia ingin berdiri kuat di atas pendirian dan logikanya. Vallerie tidak mau hatinya yang memilih. Ia benci sebab dirinya harus mengakui bahwa ia sangat mencintai Gavin, di mana lelaki tampan itu selalu mencari kesempatan dan kata maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. Namun, hal itu cukup berhenti di sini. Vallerie tidak ingin lagi dipermainkan.</p>

<p>Vallerie tersenyum masam. “Sepele, ya,” ucapnya. “Jadi, apa yang selama ini kita lakukan untuk kebahagiaan Bang Paldi itu sepele, ya, Kak,” jelasnya dengan nada kecewa.</p>

<p>“Nggak gitu, Vall, maksud aku,” ucap Gavin sembari berusaha meraih tangan kecil kekasihnya.</p>

<p>Vallerie menghindarinya. Ia mengangkat kedua tangannya. “Cukup,” kata gadis cantik itu. “Aku nggak mau dengar alasan kamu lagi,” ujarnya. “Aku udah capek.”</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin. “Aku udah pernah bilang ‘kan sama kamu? Kalau kamu dan Valdi itu dua orang yang paling aku sayang,” ucap lelaki tampan itu. “Aku nggak mungkin nyakitin kalian berdua.”</p>

<p>“Kamu nggak perlu ngejelasin apa-apa lagi ke aku,” balas Vallerie. “Silakan kamu lakukan apapun yang membuat kamu senang,” lanjutnya. “Kamu nggak perlu lagi mikirin aku atau Bang Paldi.”</p>

<p>“Maksud kamu apa?” tanya Gavin cemas.</p>

<p>“Kamu silakan interpretasikan sendiri kalimat yang aku sampaikan ke kamu,” jawab Vallerie. “Ketua BEM ‘kan?” tanya gadis cantik itu sarkas. “Coba ditelaah sendiri.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/a-motion</guid>
      <pubDate>Fri, 13 Feb 2026 13:09:58 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>A Motion</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/the-motion?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[A Motion&#xA;&#xA;Hari ini, tepatnya tanggal 1 Juli, hamparan langit di bentangan semesta terlihat sangat biru dengan gerombolan awan putih yang menghiasi. Mentari pun bersinar dengan kadar yang cukup, meninggalkan kesan cuaca baik pada khatulistiwa. Namun, tidak sejalan dengan indahnya pemandangan di langit, Valdi terlihat berbanding terbalik. Pasalnya, di hari ulang tahunnya ini, tidak ada satu pun temannya yang menyetujui ajakannya bermain billiard.&#xA;&#xA;Valdi turun dari motor yang ia parkirkan di halaman rumahnya. Kedua kakinya melangkah gontai menuju beranda rumahnya. Ia hendak membuka pintu utama rumahnya kala aksinya itu didahului oleh seseorang. Valdi yang sedari tadi menatap dinginnya keramik lantai yang ia pijak, kini mengangkat pandangannya. Lengkungan yang awalnya terjatuh, perlahan mulai terukir. &#xA;&#xA;“Happy Birthday, Valdi!”&#xA;&#xA;“Happy Birthday, Bang Paldi!”&#xA;&#xA;“BESBI BESBI, BANG PALDI PIW PIW!”&#xA;&#xA;Valdi menutup mulutnya yang menganga lebar saat adiknya—Vallerie, teman adiknya—Heidy, serta teman-teman terdekatnya—Arion, Jasper, dan Silas berdiri serempak di ruang tamu rumahnya. Ternyata, Valdi salah sangka, tidak ada yang melupakan hari ulang tahunnya. Justru orang-orang kesayangannya mempersiapkannya dengan sedemikian rupa. Di hari bahagianya, Valdi merasa sangat bahagia.&#xA;&#xA;“Gue pikir kalian lupa kalau hari ini ulang tahun gue,” ucap Valdi.&#xA;&#xA;“Kita? Lupa?” Jari telunjuk Arion bergerak bergantian menunjuk ke arah dirinya dan lainnya yang berdiri di samping kanan dan kirinya. “Nggak mungkinlah,” lanjutnya.&#xA;&#xA;“Ulang tahun lo dari tahun ke tahun sama, Val,” sambung Jasper sembari terkekeh pelan. “Jadi, nggak mungkin kita lupa.”&#xA;&#xA;“Betul,” sahut Silas. “Kita nggak mungkin lupa.”&#xA;&#xA;“Abang, ayo masuk dulu!” kata Vallerie sambil mendekap sebelah lengan kekar kakaknya untuk diajak masuk ke dalam rumah.&#xA;&#xA;Setelah melepas sepatu sneakersnya, Valdi berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia dapat melihat dengan jelas dekorasi ala ulang tahun dengan tema yang sangat sesuai dengan kepribadiannya terpampang jelas di ruang tengah kediamannya. Valdi tidak dapat berhenti tersenyum. Ia meletakkan tas ranselnya di sembarang tempat selagi sepasang netranya mengedar ke seluruh area ruang tengah. &#xA;&#xA;“Abang suka nggak?!” tanya Vallerie tidak santai sembari mempererat dekapan pada sebelah lengan besar kakaknya.&#xA;&#xA;“Suka dong!” jawab Valdi. “Makasih banyak, ya, Vall.” Sejenak, Valdi memeluk erat adik kesayangannya yang terkadang tingkah lakunya berada di luar nalar. “Makasih juga, Semuanya,” lanjutnya setelah melengangkan diri dari Vallerie.&#xA;&#xA;“Bang Valdi mau potong kue dulu atau mau makan dulu?” tanya Heidy yang berdiri di sebelah Silas.&#xA;&#xA;Valdi berpikir sebentar. “Gue kayaknya mau makan dulu deh,” ujarnya.&#xA;&#xA;Dengan begitu, tanpa basa-basi, Vallerie kembali menarik sebelah tangan kakaknya untuk berlari ke ruang makan. “Ayo!” &#xA;&#xA;Di ruang makan, semuanya mendudukkan diri di balik meja makan besar dengan kapasitas kursi delapan orang itu. Di atas sana, sudah tersedia banyak menu makanan yang Jasper dan Arion beli dari katering yang mereka temui sekenanya. Setelah mengambil piring makan dan mengisinya dengan nasi beserta lauk-pauk yang ada, suasana menjadi lebih hening sebab semua yang ada di meja makan menikmati santapan mereka dengan khidmat.&#xA;&#xA;“Eh, gue baru sadar,” ucap Valdi membuka obrolan. “Gavin nggak ikut, ya?” tanyanya.&#xA;&#xA;Terdapat sebuah nama tidak asing yang diucap, Vallerie yang tadinya hendak menyuapkan sepotong ayam goreng lengkuas ke dalam mulutnya malah melesat ke arah sebaliknya. Alhasil, potongan ayam tersebut terlempar ke arah Arion yang duduk tepat di hadapannya. Jasper, Arion, Silas, dan Heidy hanya dapat menahan tawa karena acara komedi dadakan yang terjadi. Namun, selain keempatnya, Vallerie juga tidak dapat menjawab pertanyaan yang kakaknya lontarkan.&#xA;&#xA;“Makannya hati-hati dong, Vall,” tegas Valdi. &#xA;&#xA;Vallerie sibuk menepuk-nepuk bajunya yang dipenuhi dengan taburan bumbu lengkuas. “Ya, Abang sih,!” protesnya. “Udah tau orang lagi pada sibuk makan malah diajak ngobrol.”&#xA;&#xA;Heidy, yang duduk di sebelah kanan Vallerie, mengambil satu potong ayam goreng lengkuas untuk diletakkan di piring makan sahabatnya. “Tambah lagi ayamnya, Vall.”&#xA;&#xA;Semua yang hadir di sana, terkecuali Valdi, sebisa mungkin untuk tidak membahas Gavin pada perayaan ulang tahun Valdi kali ini, seolah-olah mereka paham bahwa Gavin merupakan salah satu topik sensitif yang tidak dapat dibahas sekarang. Selepas tragedi terlemparnya ayam goreng lengkuas milik Vallerie, semuanya kembali fokus menyantap hidangan yang tersedia di piring makan masing-masing, Namun, lagi-lagi sebuah suara menginterupsi mereka. &#xA;&#xA;Ceklek!&#xA;&#xA;Pintu utama rumah Valdi dan Vallerie terbuka lebar sebab seseorang membukanya dari arah luar. Valdi yang berada paling dekat dengan ruang tamu segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah ruang tamu. Semua yang berada di meja makan bersiap sebab penasaran dengan siapa Valdi berbincang karena nada suaranya terdengar begitu riang. Semua merasa penasaran, kecuali Vallerie.&#xA;&#xA;“Ini termasuk kejutan buat gue juga, ya?” tanya Valdi sedikit menyindir kepada seseorang yang baru datang tersebut sesaat keduanya sampai di ruang makan. “Lo dateng telat gini,” tambahnya.&#xA;&#xA;“Nggak,” jawabnya sembari terkekeh kecil. “Gue memang telat,” lanjutnya. “Sorry, ya.”&#xA;&#xA;“Sialan lo, Gav,” umpat Valdi. “Padahal, biasanya lo sama Vallerie yang paling semangat kalau soal nyiapin ulang tahun gue,” sambungnya. &#xA;&#xA;Mendengar ada bias suara dan nama tak asing yang belum lama menjadi topik bahasan sensitif, Vallerie mengangkat pandangannya. Betapa terkejutnya gadis cantik itu kala sepasang maniknya menangkap adanya sosok seorang Gavin Prawira yang mengenakan kemeja biru tua dan celana putih andalannya. Vallerie yang tengah mengunyah tiba-tiba saja tersedak potongan ayam goreng lengkuas yang baru saja dilahapnya. Vallerie menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.&#xA;&#xA;“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Vallerie tidak berhenti terbatuk.&#xA;&#xA;“Aduh, Vall,” keluh Valdi. “Abang bilang ‘kan makannya pelan-pelan aja.”&#xA;&#xA;Dengan sigap, Heidy bangkit dari duduknya lalu menuangkan segelas air putih untuk sahabatnya. “Santai, Vall.”&#xA;&#xA;Gavin mendekat ke arah Vallerie. Ia mengusap punggung kekasihnya. “Batukin aja, Vall,” perintahnya.&#xA;&#xA;Vallerie menerima segelas air dari Heidy lalu menegaknya sampai habis. “Makasih, Dy,” ucapnya. “Gue… HAMPIR MATI.” Terlihat, gadis cantik itu sedikit menaikkan oktaf suaranya pada dua kata di akhir kalimatnya.&#xA;&#xA;Gavin mendekatkan wajahnya ke arah Vallerie untuk kemudian menatap sepasang netra kesukaannya itu dengan intens. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir.&#xA;&#xA;Sejenak, Vallerie menatap rangka wajah tegas nan tampan yang sudah lama tidak ia temui itu. Lalu, ia menghela napas panjang. “Nggak apa-apa,” ketusnya. “Udah sana makan.” Vallerie mendorong tubuh besar itu agar menjauh dari daerah teritorinya. &#xA;&#xA;Di dalam hatinya, Vallerie tidak tahu harus berperasaan seperti apa. Di satu sisi, ia merasa bahagia sebab kekasihnya itu menyempatkan sedikit waktunya di sela-sela kesibukannya untuk menghadiri acara surprise party kakaknya. Namun, di sisi lain, itu tidak menutup fakta bahwa beberapa hari terakhir dirinya merasa tersakiti sebab perlakuan Gavin kepadanya dan juga kakaknya. &#xA;&#xA;Melihat tingkah aneh dari kekasihnya itu, Gavin bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkinkah dirinya telah melakukan kesalahan? Toh, dirinya sudah menyempatkan diri untuk datang ke acara ulang tahun sahabat karibnya meskipun telat. Sekarang, giliran Gavin yang menghela napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya. Kemudian, memberikan ucapan selamat kepada Valdi lalu menyapa teman-temannya, termasuk Heidy.&#xA;&#xA;“Duduk sini aja, Kak,” tawar Heidy yang duduk di samping kanan Vallerie. Dengan cepat, Heidy bangkit dari tempat duduknya. Namun, pergerakannya sempat dihentikan oleh sang sahabat. “Lepasin nggak?!” bisik Heidy.&#xA;&#xA;“Lo mau ke mana?” tanya Vallerie khawatir. “Sini aja, Dy.”&#xA;&#xA;“Nggak, ya,” ucap Heidy. “Gue mau duduk di samping Kak Silas!” tegasnya.&#xA;&#xA;Heidy berjalan memutari meja makan dengan sepiring penuh nasi dan lauk pauk di tangannya demi berpindah duduk di samping Silas. Tentunya, dengan senang hati,  Silas menarik kursi di sebelah kirinya agar Heidy dapat duduk di sebelahnya. “Makan yang banyak ya, Dy,” ucap Silas sembari mengusap pelan pucuk kepada adik tingkatnya itu.&#xA;&#xA;Vallerie sebagai satu-satunya saksi mata yang menyaksikan adegan romantis tetapi menggelikan itu hanya dapat berpura-pura muntah. Sepertinya, karena kurangnya belaian kasih sayang dari Gavin membuatnya menjadi mulai tak terbiasa dengan adegan romantis seperti itu. Vallerie kembali melanjutkan santapannya yang sempat tertunda. Namun, sesuatu terasa mengganjal. Ya, apalagi kalau bukan karena sang kekasih yang duduk tepat di sebelahnya. &#xA;&#xA;“Kamu bukannya nggak suka ayam bagian dada, Vall?” tanya Gavin selagi dagunya mengidik ke arah potongan dada ayam goreng lengkuas yang berada di dalam piring makan kekasihnya. &#xA;&#xA;“Heidy yang ngambilin,” jawab Vallerie singkat.&#xA;&#xA;Kemudian, Gavin mengambil sisa potongan dada ayam yang ada di piring makan sang kekasih untuk kemudian menukarnya dengan potongan paha ayam yang sudah diambilnya tadi. “Kamu makan ayam punyaku aja,” katanya. &#xA;&#xA;Melihat aksi inisiatif dari kekasihnya, Vallerie bukannya merasa senang malah merasa terbebani. Ia kembali menghela napas panjang. “Kamu kenapa sih, Kak?!” Ia melempar garpu dan sendok yang dipegangnya. Suaranya yang cukup menggelegar di ruang makan membuat semua yang ada di sana menengok ke arahnya dan Gavin. “‘Kamu tau nggak?! Aku tuh udah kenyang banget!” bentaknya. “‘Kan aku jadi harus ngabisin ayam baru lagi,” keluhnya.&#xA;&#xA;Gavin yang mendapat respon seperti itu mengernyitkan keningnya. “Maaf, Sayang,” responnya merasa bersalah. “Aku nggak tau,” lanjut lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Kenapa, Vall?” tanya Valdi menengahi. Ia mulai merasakan keresahan dari sang adik. &#xA;&#xA;“Nggak apa-apa, Bang,” jawab Vallerie lemah.&#xA;&#xA;“Kamu tau kamu nggak perlu semarah itu ‘kan?” balas Valdi lagi. Ia berusaha mengingatkan sang adik agar tidak merusak suasana, apalagi saat sedang makan. “Santai aja ngomongnya sama Gavin. Kamu tinggal bilang ke Gavin kalau kamu nggak mau,” ujarnya.&#xA;&#xA;Vallerie mendesis. “Abang belain aja terus sahabat kesayangan Abang itu,” keluhnya.&#xA;&#xA;Gavin sadar bahwa baik Valdi dan Vallerie mulai terbawa amarah. Oleh sebab itu, ia mengisyaratkan kepada Valdi untuk berhenti. “It’s okay, Val,” kata Gavin pelan kepada Valdi. “Gue yang salah,” sambungnya. “Maaf ya, Sayang. Aku nggak tau kalau kamu udah kenyang,” final Gavin sembari tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya. “Aku aja yang ngabisin makanan kamu.”&#xA;&#xA;Lagi, Vallerie menepis tangan besar yang mengusap kepalanya. “Nggak usah,” ketusnya.&#xA;&#xA;Bukan tanpa alasan Vallerie bersikap se-emosional itu. Pasalnya, beberapa hari terakhir, apalagi sebelum hari ulang tahun Valdi, Gavin bersikap seolah dirinya tidak ada di muka bumi ini. Vallerie merasa kesulitan untuk sekadar mendapatkan kabar dari kekasihnya. Vallerie tidak mengerti apakah ini merupakan konsekuensi yang harus diterimanya karena mempunyai kekasih yang merupakan seorang Ketua BEM atau memang Gavin sengaja melakukannya.&#xA;&#xA;Tidak ingin suasana mendadak menjadi suram, Valdi membuka suara. “Udah ya,” ucapnya. “Kita lanjut lagi makannya.”&#xA;&#xA;Sesuai dengan permintaan dari sang empunya, semua yang ada di sana kembali melanjutkan santapan masing-masing. Selagi menikmati hidangan yang dimasak oleh Vallerie dan Heidy, Valdi berbincang dengan kedua temannya—Jasper dan Arion. Sedangkan, Silas secara terang-terangan bermesraan dengan Heidy. Pada acara makan bersama di acara ulang tahun Valdi tersebut, menyisakan Gavin dan Vallerie yang diselimuti oleh kecanggungan.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>A Motion</strong></p>

<p>Hari ini, tepatnya tanggal 1 Juli, hamparan langit di bentangan semesta terlihat sangat biru dengan gerombolan awan putih yang menghiasi. Mentari pun bersinar dengan kadar yang cukup, meninggalkan kesan cuaca baik pada khatulistiwa. Namun, tidak sejalan dengan indahnya pemandangan di langit, Valdi terlihat berbanding terbalik. Pasalnya, di hari ulang tahunnya ini, tidak ada satu pun temannya yang menyetujui ajakannya bermain billiard.</p>

<p>Valdi turun dari motor yang ia parkirkan di halaman rumahnya. Kedua kakinya melangkah gontai menuju beranda rumahnya. Ia hendak membuka pintu utama rumahnya kala aksinya itu didahului oleh seseorang. Valdi yang sedari tadi menatap dinginnya keramik lantai yang ia pijak, kini mengangkat pandangannya. Lengkungan yang awalnya terjatuh, perlahan mulai terukir.</p>

<p>“<em>Happy Birthday</em>, Valdi!”</p>

<p>“<em>Happy Birthday</em>, Bang Paldi!”</p>

<p>“BESBI BESBI, BANG PALDI PIW PIW!”</p>

<p>Valdi menutup mulutnya yang menganga lebar saat adiknya—Vallerie, teman adiknya—Heidy, serta teman-teman terdekatnya—Arion, Jasper, dan Silas berdiri serempak di ruang tamu rumahnya. Ternyata, Valdi salah sangka, tidak ada yang melupakan hari ulang tahunnya. Justru orang-orang kesayangannya mempersiapkannya dengan sedemikian rupa. Di hari bahagianya, Valdi merasa sangat bahagia.</p>

<p>“Gue pikir kalian lupa kalau hari ini ulang tahun gue,” ucap Valdi.</p>

<p>“Kita? Lupa?” Jari telunjuk Arion bergerak bergantian menunjuk ke arah dirinya dan lainnya yang berdiri di samping kanan dan kirinya. “Nggak mungkinlah,” lanjutnya.</p>

<p>“Ulang tahun lo dari tahun ke tahun sama, Val,” sambung Jasper sembari terkekeh pelan. “Jadi, nggak mungkin kita lupa.”</p>

<p>“Betul,” sahut Silas. “Kita nggak mungkin lupa.”</p>

<p>“Abang, ayo masuk dulu!” kata Vallerie sambil mendekap sebelah lengan kekar kakaknya untuk diajak masuk ke dalam rumah.</p>

<p>Setelah melepas sepatu sneakersnya, Valdi berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ia dapat melihat dengan jelas dekorasi ala ulang tahun dengan tema yang sangat sesuai dengan kepribadiannya terpampang jelas di ruang tengah kediamannya. Valdi tidak dapat berhenti tersenyum. Ia meletakkan tas ranselnya di sembarang tempat selagi sepasang netranya mengedar ke seluruh area ruang tengah.</p>

<p>“Abang suka nggak?!” tanya Vallerie tidak santai sembari mempererat dekapan pada sebelah lengan besar kakaknya.</p>

<p>“Suka dong!” jawab Valdi. “Makasih banyak, ya, Vall.” Sejenak, Valdi memeluk erat adik kesayangannya yang terkadang tingkah lakunya berada di luar nalar. “Makasih juga, Semuanya,” lanjutnya setelah melengangkan diri dari Vallerie.</p>

<p>“Bang Valdi mau potong kue dulu atau mau makan dulu?” tanya Heidy yang berdiri di sebelah Silas.</p>

<p>Valdi berpikir sebentar. “Gue kayaknya mau makan dulu deh,” ujarnya.</p>

<p>Dengan begitu, tanpa basa-basi, Vallerie kembali menarik sebelah tangan kakaknya untuk berlari ke ruang makan. “Ayo!”</p>

<p>Di ruang makan, semuanya mendudukkan diri di balik meja makan besar dengan kapasitas kursi delapan orang itu. Di atas sana, sudah tersedia banyak menu makanan yang Jasper dan Arion beli dari katering yang mereka temui sekenanya. Setelah mengambil piring makan dan mengisinya dengan nasi beserta lauk-pauk yang ada, suasana menjadi lebih hening sebab semua yang ada di meja makan menikmati santapan mereka dengan khidmat.</p>

<p>“Eh, gue baru sadar,” ucap Valdi membuka obrolan. “Gavin nggak ikut, ya?” tanyanya.</p>

<p>Terdapat sebuah nama tidak asing yang diucap, Vallerie yang tadinya hendak menyuapkan sepotong ayam goreng lengkuas ke dalam mulutnya malah melesat ke arah sebaliknya. Alhasil, potongan ayam tersebut terlempar ke arah Arion yang duduk tepat di hadapannya. Jasper, Arion, Silas, dan Heidy hanya dapat menahan tawa karena acara komedi dadakan yang terjadi. Namun, selain keempatnya, Vallerie juga tidak dapat menjawab pertanyaan yang kakaknya lontarkan.</p>

<p>“Makannya hati-hati dong, Vall,” tegas Valdi.</p>

<p>Vallerie sibuk menepuk-nepuk bajunya yang dipenuhi dengan taburan bumbu lengkuas. “Ya, Abang sih,!” protesnya. “Udah tau orang lagi pada sibuk makan malah diajak ngobrol.”</p>

<p>Heidy, yang duduk di sebelah kanan Vallerie, mengambil satu potong ayam goreng lengkuas untuk diletakkan di piring makan sahabatnya. “Tambah lagi ayamnya, Vall.”</p>

<p>Semua yang hadir di sana, terkecuali Valdi, sebisa mungkin untuk tidak membahas Gavin pada perayaan ulang tahun Valdi kali ini, seolah-olah mereka paham bahwa Gavin merupakan salah satu topik sensitif yang tidak dapat dibahas sekarang. Selepas tragedi terlemparnya ayam goreng lengkuas milik Vallerie, semuanya kembali fokus menyantap hidangan yang tersedia di piring makan masing-masing, Namun, lagi-lagi sebuah suara menginterupsi mereka.</p>

<p>Ceklek!</p>

<p>Pintu utama rumah Valdi dan Vallerie terbuka lebar sebab seseorang membukanya dari arah luar. Valdi yang berada paling dekat dengan ruang tamu segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah ruang tamu. Semua yang berada di meja makan bersiap sebab penasaran dengan siapa Valdi berbincang karena nada suaranya terdengar begitu riang. Semua merasa penasaran, kecuali Vallerie.</p>

<p>“Ini termasuk kejutan buat gue juga, ya?” tanya Valdi sedikit menyindir kepada seseorang yang baru datang tersebut sesaat keduanya sampai di ruang makan. “Lo dateng telat gini,” tambahnya.</p>

<p>“Nggak,” jawabnya sembari terkekeh kecil. “Gue memang telat,” lanjutnya. “Sorry, ya.”</p>

<p>“Sialan lo, Gav,” umpat Valdi. “Padahal, biasanya lo sama Vallerie yang paling semangat kalau soal nyiapin ulang tahun gue,” sambungnya.</p>

<p>Mendengar ada bias suara dan nama tak asing yang belum lama menjadi topik bahasan sensitif, Vallerie mengangkat pandangannya. Betapa terkejutnya gadis cantik itu kala sepasang maniknya menangkap adanya sosok seorang Gavin Prawira yang mengenakan kemeja biru tua dan celana putih andalannya. Vallerie yang tengah mengunyah tiba-tiba saja tersedak potongan ayam goreng lengkuas yang baru saja dilahapnya. Vallerie menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.</p>

<p>“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Vallerie tidak berhenti terbatuk.</p>

<p>“Aduh, Vall,” keluh Valdi. “Abang bilang ‘kan makannya pelan-pelan aja.”</p>

<p>Dengan sigap, Heidy bangkit dari duduknya lalu menuangkan segelas air putih untuk sahabatnya. “Santai, Vall.”</p>

<p>Gavin mendekat ke arah Vallerie. Ia mengusap punggung kekasihnya. “Batukin aja, Vall,” perintahnya.</p>

<p>Vallerie menerima segelas air dari Heidy lalu menegaknya sampai habis. “Makasih, Dy,” ucapnya. “Gue… HAMPIR MATI.” Terlihat, gadis cantik itu sedikit menaikkan oktaf suaranya pada dua kata di akhir kalimatnya.</p>

<p>Gavin mendekatkan wajahnya ke arah Vallerie untuk kemudian menatap sepasang netra kesukaannya itu dengan intens. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir.</p>

<p>Sejenak, Vallerie menatap rangka wajah tegas nan tampan yang sudah lama tidak ia temui itu. Lalu, ia menghela napas panjang. “Nggak apa-apa,” ketusnya. “Udah sana makan.” Vallerie mendorong tubuh besar itu agar menjauh dari daerah teritorinya.</p>

<p>Di dalam hatinya, Vallerie tidak tahu harus berperasaan seperti apa. Di satu sisi, ia merasa bahagia sebab kekasihnya itu menyempatkan sedikit waktunya di sela-sela kesibukannya untuk menghadiri acara surprise party kakaknya. Namun, di sisi lain, itu tidak menutup fakta bahwa beberapa hari terakhir dirinya merasa tersakiti sebab perlakuan Gavin kepadanya dan juga kakaknya.</p>

<p>Melihat tingkah aneh dari kekasihnya itu, Gavin bertanya-tanya di dalam hatinya. Mungkinkah dirinya telah melakukan kesalahan? Toh, dirinya sudah menyempatkan diri untuk datang ke acara ulang tahun sahabat karibnya meskipun telat. Sekarang, giliran Gavin yang menghela napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menegakkan tubuhnya. Kemudian, memberikan ucapan selamat kepada Valdi lalu menyapa teman-temannya, termasuk Heidy.</p>

<p>“Duduk sini aja, Kak,” tawar Heidy yang duduk di samping kanan Vallerie. Dengan cepat, Heidy bangkit dari tempat duduknya. Namun, pergerakannya sempat dihentikan oleh sang sahabat. “Lepasin nggak?!” bisik Heidy.</p>

<p>“Lo mau ke mana?” tanya Vallerie khawatir. “Sini aja, Dy.”</p>

<p>“Nggak, ya,” ucap Heidy. “Gue mau duduk di samping Kak Silas!” tegasnya.</p>

<p>Heidy berjalan memutari meja makan dengan sepiring penuh nasi dan lauk pauk di tangannya demi berpindah duduk di samping Silas. Tentunya, dengan senang hati,  Silas menarik kursi di sebelah kirinya agar Heidy dapat duduk di sebelahnya. “Makan yang banyak ya, Dy,” ucap Silas sembari mengusap pelan pucuk kepada adik tingkatnya itu.</p>

<p>Vallerie sebagai satu-satunya saksi mata yang menyaksikan adegan romantis tetapi menggelikan itu hanya dapat berpura-pura muntah. Sepertinya, karena kurangnya belaian kasih sayang dari Gavin membuatnya menjadi mulai tak terbiasa dengan adegan romantis seperti itu. Vallerie kembali melanjutkan santapannya yang sempat tertunda. Namun, sesuatu terasa mengganjal. Ya, apalagi kalau bukan karena sang kekasih yang duduk tepat di sebelahnya.</p>

<p>“Kamu bukannya nggak suka ayam bagian dada, Vall?” tanya Gavin selagi dagunya mengidik ke arah potongan dada ayam goreng lengkuas yang berada di dalam piring makan kekasihnya.</p>

<p>“Heidy yang ngambilin,” jawab Vallerie singkat.</p>

<p>Kemudian, Gavin mengambil sisa potongan dada ayam yang ada di piring makan sang kekasih untuk kemudian menukarnya dengan potongan paha ayam yang sudah diambilnya tadi. “Kamu makan ayam punyaku aja,” katanya.</p>

<p>Melihat aksi inisiatif dari kekasihnya, Vallerie bukannya merasa senang malah merasa terbebani. Ia kembali menghela napas panjang. “Kamu kenapa sih, Kak?!” Ia melempar garpu dan sendok yang dipegangnya. Suaranya yang cukup menggelegar di ruang makan membuat semua yang ada di sana menengok ke arahnya dan Gavin. “‘Kamu tau nggak?! Aku tuh udah kenyang banget!” bentaknya. “‘Kan aku jadi harus ngabisin ayam baru lagi,” keluhnya.</p>

<p>Gavin yang mendapat respon seperti itu mengernyitkan keningnya. “Maaf, Sayang,” responnya merasa bersalah. “Aku nggak tau,” lanjut lelaki tampan itu.</p>

<p>“Kenapa, Vall?” tanya Valdi menengahi. Ia mulai merasakan keresahan dari sang adik.</p>

<p>“Nggak apa-apa, Bang,” jawab Vallerie lemah.</p>

<p>“Kamu tau kamu nggak perlu semarah itu ‘kan?” balas Valdi lagi. Ia berusaha mengingatkan sang adik agar tidak merusak suasana, apalagi saat sedang makan. “Santai aja ngomongnya sama Gavin. Kamu tinggal bilang ke Gavin kalau kamu nggak mau,” ujarnya.</p>

<p>Vallerie mendesis. “Abang belain aja terus sahabat kesayangan Abang itu,” keluhnya.</p>

<p>Gavin sadar bahwa baik Valdi dan Vallerie mulai terbawa amarah. Oleh sebab itu, ia mengisyaratkan kepada Valdi untuk berhenti. “It’s okay, Val,” kata Gavin pelan kepada Valdi. “Gue yang salah,” sambungnya. “Maaf ya, Sayang. Aku nggak tau kalau kamu udah kenyang,” final Gavin sembari tersenyum dan mengusap pelan pucuk kepala kekasihnya. “Aku aja yang ngabisin makanan kamu.”</p>

<p>Lagi, Vallerie menepis tangan besar yang mengusap kepalanya. “Nggak usah,” ketusnya.</p>

<p>Bukan tanpa alasan Vallerie bersikap se-emosional itu. Pasalnya, beberapa hari terakhir, apalagi sebelum hari ulang tahun Valdi, Gavin bersikap seolah dirinya tidak ada di muka bumi ini. Vallerie merasa kesulitan untuk sekadar mendapatkan kabar dari kekasihnya. Vallerie tidak mengerti apakah ini merupakan konsekuensi yang harus diterimanya karena mempunyai kekasih yang merupakan seorang Ketua BEM atau memang Gavin sengaja melakukannya.</p>

<p>Tidak ingin suasana mendadak menjadi suram, Valdi membuka suara. “Udah ya,” ucapnya. “Kita lanjut lagi makannya.”</p>

<p>Sesuai dengan permintaan dari sang empunya, semua yang ada di sana kembali melanjutkan santapan masing-masing. Selagi menikmati hidangan yang dimasak oleh Vallerie dan Heidy, Valdi berbincang dengan kedua temannya—Jasper dan Arion. Sedangkan, Silas secara terang-terangan bermesraan dengan Heidy. Pada acara makan bersama di acara ulang tahun Valdi tersebut, menyisakan Gavin dan Vallerie yang diselimuti oleh kecanggungan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/the-motion</guid>
      <pubDate>Fri, 13 Feb 2026 13:06:25 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Reward and Punishment</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/reward-and-punishment?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Mentari terbenam di ujung hari, meninggalkan jejak berwarna oranye kemerahan di lengkungan semesta. Di sebuah taman kampus yang sepi pengunjung, seorang lelaki tampan dengan postur tubuh yang tegap tengah duduk dengan gelisah. Kedua tangannya menangkup satu sama lain selagi ibu jarinya mengusap permukaan tangannya. Kaki-kaki jenjangnya pun tidak berhenti membuat ketukan pada tanah yang dipijaknya. &#xA;&#xA;Tak lama setelahnya, seorang lelaki tampan lainnya datang dan mengambil posisi duduk di kursi kayu yang sama. Sunyi, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara mereka. Keduanya sibuk tenggelam dengan pikiran negatif masing-masing. Ditemani mentari yang semakin menghilang, sepasang sahabat yang sudah berteman sangat lama itu, Gavin dan Valdi, untuk pertama kalinya berpotensi mengalami perpecahan.&#xA;&#xA;“Kenapa?” tanya Valdi datar.&#xA;&#xA;“Gue bakal tanggung jawab, Val,” jawab Gavin tetapi bukan menjawab pertanyaan yang sahabatnya maksud.&#xA;&#xA;“Bukan itu pertanyaan gue,” balas lelaki tampan itu. Valdi yang tadinya duduk bertumpu pada kedua kakinya, kini mengangkat tubuhnya dengan tegap. Namun, pandangannya masih mengarah lurus ke depan. “Kenapa harus Vallerie?”&#xA;&#xA;Mendengar ada satu nama yang disebut, Gavin menghela napas panjang. “Lo harus dengerin penjelasan gue dulu,” katanya.&#xA;&#xA;Valdi terdiam sejenak. “Ya, udah. Jelasin.”&#xA;&#xA;Gavin menolehkan pandangannya ke arah Valdi. “Sebelumnya, gue minta maaf karena itu Vallerie, adek lo,” ucapnya. “Tapi yang namanya hati nggak ada yang bisa nebak, Val. Jangankan lo, gue aja bingung kenapa gue malah jatuh ke Vallerie.”&#xA;&#xA;“Ini bukan pertama kalinya lo ketemu sama Vallerie, Gav,” sahut Valdi. “Kalau lo emang suka sama dia, kenapa harus sekarang? Kenapa harus pas adek gue lagi—” Belum sempat lelaki tampan itu merampungkan kalimatnya.&#xA;&#xA;Gavin lebih dulu menyambar. “Kalau lo pikir gue suka sama Vallerie karena gue udah melakukan hal ‘itu’ sama dia, lo salah besar,” jelasnya. “Gue yang terlalu denial sama perasaan gue sendiri.”&#xA;&#xA;Valdi terkekeh remeh mendengar kalimat eksplanasi dari sahabatnya itu. “Klise banget,” sarkasnya.&#xA;&#xA;Setelahnya, selama beberapa detik menuju menit, tidak ada percakapan intens yang terjadi. Valdi terlalu kecewa untuk melanjutkan topik obrolan itu. Sementara itu, Gavin sedang memikirkan cara bagaimana membuktikan kepada sahabatnya itu bahwa cintanya tulus kepada sang adik. Lagi, baik Gavin dan Valdi, larut dalam lamunan masing-masing. Setidaknya, sampai Gavin kembali membuka suara.&#xA;&#xA;“Mau sekeras apapun gue berusaha untuk menunjukkan kalau gue serius sama Vallerie tapi kalau lo sendiri nggak percaya sama gue, semuanya bakal sia-sia,” jelas Gavin. &#xA;&#xA;Valdi terdiam. Ia berusaha mencerna kata demi kata yang sahabatnya itu ucapkan padanya. Di waktu yang bersamaan, ponsel genggamnya berbunyi dan menampilkan notifikasi satu per satu pesan yang adiknya kirimkan melalui WhatsApp Chat. Valdi mencoba menelaah pengakuan dosa dari Vallerie. Kedua maniknya yang serupa bulan purnama membulat dengan sempurna kala menangkap isi dari pesan-pesan tersebut.&#xA;&#xA;Di sisi lain, Gavin mengintip pesan-pesan yang Vallerie kirim kepada sahabatnya itu. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah gadis cantik itu mengaku telah melakukan sesuatu yang berpotensi membuat kakak lelaki kesayangannya itu kecewa. Dalam diamnya, Gavin menghela napas pasrah sembari mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka bahwa Vallerie akan mengambil langkah juga untuk melanjutkan hubungan mereka.&#xA;&#xA;“Lo harus mengapresiasi Vallerie karena udah berani ngaku dosa sama lo,” sergah Gavin.&#xA;&#xA;Valdi mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana denimnya. “Nggak usah sok menggurui gue,” jawabnya ketus. &#xA;&#xA;“Gue nggak berusaha menggurui lo,” balas Gavin. &#xA;&#xA;“Vallerie emang salah tapi lo lebih salah,” ucap Valdi.&#xA;&#xA;Satu kalimat itu sukses menohok sanubari Gavin. Ia menelan salivanya. Apa yang Valdi katakan tidak sepenuhnya salah. “Iya, gue salah. Dan untuk itu, gue sangat memohon maaf sama lo.” Gavin terus menerus meminta maaf kepada kakak dari gadis cantik pujaan hatinya. “Tapi lo harus inget kalau Vallerie itu udah memasuki fase remaja, Val. Dia bakal nyari tau banyak hal, termasuk sesuatu yang berhubungan dengan seksual. Lo juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Vallerie karena hormon di dalam tubuhnya udah mulai bekerja dengan semestinya,” jelas lelaki tampan itu. “Lo harusnya bersyukur karena Vallerie nggak jatuh ke dalam pergaulan bebas.”&#xA;&#xA;“Jadi, maksud lo, kecanduan porno dan ‘main’ sama lo itu lebih baik dibanding pergaulan bebas. Iya, gitu?” tanya Valdi tidak santai.&#xA;&#xA;“Bukan itu maksud gue,” balas Gavin. “Tunggu. Lo tau Vallerie kecanduan porno?” tanyanya.&#xA;&#xA;Valdi mengangguk. “Tau.”&#xA;&#xA;“Terus... Kenapa lo diem aja?” tanya Gavin menuntut.&#xA;&#xA;“Gue bisa apa, Gav?! Dengan tau fakta Vallerie kecanduan porno aja gue udah ngerasa gagal jadi kakak buat dia. Apalagi nggak lama kemudian, gue juga tau kalau adek gue ada main sama sahabat gue sendiri, gue udah nggak bisa apa-apa lagi!” jelas Valdi dengan nada berapi-api.&#xA;&#xA;Gavin meraih sebelah Pundak lebar sahabatnya. “Lo nggak gagal jadi kakak buat Vallerie, Val,” ujarnya.&#xA;&#xA;Valdi menolehkan pandangannya ke sembarang arah, ke mana saja asal tidak menatap langsung netra sahabatnya. “Lo nggak akan paham,” ketusnya.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin untuk kesekian kalinya menghela napas panjang. “Iya, lo bener. Gue nggak akan paham karena posisinya gue nggak punya adek perempuan kayak Vallerie,” jelasnya. “Tapi lo sendiri, Val, lo paham nggak kalau Vallerie itu udah mulai dewasa?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Vallerie itu adek gue, Gav,” jawab Valdi. “Gue yang paling paham sama Vallerie dibanding diri dia sendiri.”&#xA;&#xA;“Lo yakin?” tanya Gavin menuntut.&#xA;&#xA;Valdi tidak berani menjawab. Ia lebih memilih diam dan berpikir keras. Ada seberkas beban di hati terdalamnya. Sedari kecil, Valdi dan Vallerie hidup bagaikan sebatang kara yang digelimangi harta. Kehadiran orang tua keduanya sangat minim sehingga Valdi yang harus maju menggantika peran orang tuanya untuk sang adik tercinta. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Valdi juga memiliki kehidupannya sendiri yang harus ia urus.&#xA;&#xA;“Kalau lo yakin, kenapa lo diem aja pas tau Vallerie mulai menjuru ke suatu hal yang salah?” sindir Gavin. “Gue nggak menyalahkan lo atas yang terjadi sama Vallerie karena gue tau pasti berat ngurusin Vallerie sendiri, apalagi di perempuan,” lanjutnya.&#xA;&#xA;“Kenapa lo bisa yakin kalau lo sama Vallerie ngelakuin ‘hal’ itu atas dasar cinta?” tanya Valdi tiba-tiba. “Vallerie aja belum pernah kenal cowok lain selain gue dan kalian,” sambungnya.&#xA;&#xA;“Nggak mudah, Val, untuk tau gue beneran sayang atau nggak ke Vallerie,” kata lelaki tampan itu. “Selama ini, tanpa gue sadari, gue selalu pengen jadi sosok yang dibanggakan sama Vallerie,” ujarnya.&#xA;&#xA;Valdi kembali terdiam tetapi kali ini dalam artian yang lebih baik. Ia ingin mendengarkan dengan saksama penjelasan dari sang sahabat. Valdi ingin tahu apakah ia bisa memberikan sedikit kepercayaannya kepada Gavin. Lagi pula, apabila Gavin tidak sungguh-sungguh dengan Vallerie, ia tidak akan di sini sekarang bersamanya dan membahas masalah ini dengan serius. &#xA;&#xA;“Lo inget nggak? Dulu pas masih ospek, gue sering banget nginep di rumah lo. Waktu itu, Vallerie banyak tanya-tanya ke gue tentang kehidupan kampus padahal gue sama lo aja baru mulai ospek,” jelas Gavin sembari otaknya memutar kenangan yang dimaksud. “Vallerie banyak cerita sama gue. Dia pernah cerita kalau di sekolahnya ada pentas seni dan ngundang band. Dari situ, Vallerie bilang dia pengen punya pacar anak band. Setelah masuk kampus, gue insiatif bikin band bareng lo dan yang lain. Selain itu, Vallerie juga pengen punya pacar yang pinter bergaul, makanya gue daftar HIMA,” lanjutnya. &#xA;&#xA;“Vallerie nggak pernah cerita kayak gitu sama gue,” kata Valdi.&#xA;&#xA;“Vallerie bukannya nggak mau cerita sama lo tapi dia nggak enak,” ucap Gavin. “Nggak enak kalau harus ganggu lo, soalnya lo kalau di rumah sering keliatan capek.”&#xA;&#xA;“Vallerie bilang gitu ke lo?” tanya Valdi.&#xA;&#xA;Gavin mengangguk sekali. “Iya,” jawabnya. “Tanpa sadar, gue selalu pengen wujudin sosok pacar yang Vallerie pengen, Val.”&#xA;&#xA;Kali ini, Valdi yang menghela napasnya panjang. Ia tatap langit di atasnya yang sudah menggelap sempurna. Valdi dapat melihat hanya ada satu bintang yang bersinar terang di sana seolah memberi tanda serta harapan pada dirinya bahwa ia tidak gagal, baik dalam menjaga adiknya maupun mempertahankan pertemanannya. Valdi sangat sayang kepada adik semata wayangnya dan begitu juga dengan sahabatnya.&#xA;&#xA;Valdi menolehkan pandangannya ke arah Gavin. Semenjak dirinya duduk di situ, baru saat ini ia menatap langsung wajah sahabatnya itu. “Andai gue kasih kepercayaan ini ke lo, Gav, apakah lo mau janji jagain Vallerie sama seperti gue jagain dia?”&#xA;&#xA;Tanpa ragu, Gavin mengangguk. “Gue akan sangat berterima kasih kalau lo mau percaya sama gue,” ujarnya.&#xA;&#xA;“Gue sendiri nggak tau Vallerie beneran suka atau cuma penasaran sama lo,” ucap Gavin.&#xA;&#xA;“Lo nggak usah khawatir, Val,” jawab Gavin. “Itu urusan gue.”&#xA;&#xA;“Jaga janji lo, ya, Gav,” final Gavin.&#xA;&#xA;Gavin mengangguk. “Kalau gue nyakitin Vallerie, gue juga nyakitin lo,” katanya. “Gue nggak akan dan nggak mau nyakitin dua orang kesayangan gue.”&#xA;&#xA;Dalam diamnya, Valdi tersenyum hangat. Ia sangat bersyukur bahwa persahabatannya yang sudah susah payah ia jaga tidak harus kandas malam ini. Namun, tidak menutup kemungkinan masih ada seberkas kekhawatiran di dalam hatinya mengenai Vallerie. Mungkin Valdi bisa menjamin janji yang Gavin ucapkan padanya tetapi tidak untuk Vallerie. Ia bisa aja melakukan hal di luar nalar. &#xA;&#xA;“Lo udah ketemu sama Vallerie?” tanya Valdi.&#xA;&#xA;“Belum,” ucap Gavin. “Gue belum berani nemuin dia kalau gue belum selesai urusannya sama lo.”&#xA;&#xA;“Temuin Vallerie sekarang,” kata Valdi. “Gue takut dia ngelakuin hal-hal di luar nalar.”&#xA;&#xA;“Vallerie,” kata Gavin. “Di mana?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Di rumah,” jawab Valdi. &#xA;&#xA;“Makasih, ya, Gav,” ucap lelaki tampan itu sembari menepuk sebelah pundak sahabatnya.&#xA;&#xA;Setelahnya, Gavin berlalu dari taman kampus, meninggalkan Valdi sendirian. Ia berlarian di area gedung parkir untuk kemudian masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di lantai paling atas. Dengan perasaan bahagia yang tak terbendung, Gavin melajukan mobilnya menuju kediaman sang sahabat sekaligus gadis cantik pujaannya. Tak lama kemudian, ia sampai di rumah besar nan mewah tersebut.&#xA;&#xA;Gavin memarkirkan mobilnya di halaman rumput yang lebar di dalam pekarangan rumah itu. Namun, ada sesuatu hal yang aneh. Gavin dapat melihat dengan jelas bahwa pintu utama rumah dengan cat dominan putih tersebut sedikit terbuka. Ia juga melihat ada sepasang sepatu berwarna putih yang ada di sana, di mana ia yakini itu bukan milik Vallerie, apalagi Valdi.&#xA;&#xA;Gavin masuk ke dalam rumah itu. “Vallerie,” panggilnya.&#xA;&#xA;“Bangun dong, Vall!” pekik seseorang.&#xA;&#xA;Gavin mendengar suara seorang perempuan yang melengking memanggil nama gadisnya. Ia segera melengang ke arah dapur. Gavin menghentikan langkahnya seketika sepasang maniknya menangkap keberadaan dua orang gadis cantik dengan posisi yang tidak aman. Salah seorang dari mereka tengah tergeletak di atas kitchen set. Sedangkan, yang satunya lagi sedang berusaha menyingkirkan beberapa botol minuman beralkohol dari sana.&#xA;&#xA;“Vallerie,” panggil Gavin. Ia mendekat ke arah gadisnya.&#xA;&#xA;“Kak Gavin?” tanya Heidy.&#xA;&#xA;“Iya,” jawab Gavin. “Heidy ‘kan?” tanyanya.&#xA;&#xA;Heidy mengangguk. “Iya, Kak.”&#xA;&#xA;“Ini Vallerie kenapa bisa kayak gini?” tanya Gavin tergesa-gesa.&#xA;&#xA;“Aku nggak tau, Kak,” jawab Heidy. “Tadi Vallerie telpon aku tapi suaranya nggak jelas. Aku takut Vallerie kenapa-napa. Jadi, aku dateng ke sini. Ternyata, bener ‘kan, Vallerie kenapa-napa,” jelasnya.&#xA;&#xA;Gavin berusaha merengkuh tubuh Vallerie untuk ia gendong bak koala yang menempel di punggung lebarnya. “Vallerie minum berapa botol?” tanyanya lagi.&#xA;&#xA;Heidy menggeleng. “Nggak tau juga, Kak,” jawabnya lagi. “Yang aku pegang cuma dua botol tapi tadi aku juga liat ada botol lain di taman belakang sama di ruang tengah.”&#xA;&#xA;Gavin membawa Vallerie untuk berbaring di sofa ruang tengah. Di tengah perjalanan, gadis cantik itu membuat gerakan tiba-tiba. Ia memukul punggung lebar lelaki tampan yang menggendongnya. “Aduh, Vall,” ringis Gavin.&#xA;&#xA;“Kamu siapa?!” pekik Vallerie. “Aku nggak mau, ya, digendong kalau bukan sama Kak Gapin!”&#xA;&#xA;“Ini aku, Vall,” sahut Gavin.&#xA;&#xA;Gavin meletakkan tubuh indah serupa ulat bulu yang meliak-liuk itu di atas sofa. Sementara itu, dirinya mengambil posisi di tepi sofa. Gavin menggenggam tangan Vallerie. “Heidy,” panggilnya.&#xA;&#xA;“Iya, Kak,” jawab gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Gue boleh minta tolong?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Boleh, Kak. Apa?” tanya Heidy.&#xA;&#xA;“Tolong buatin Vallerie teh manis hangat tapi pake teh kamomil, ya. Tehnya ada di laci kayu yang di deket cucian piring,” pinta lelaki tampan itu. &#xA;&#xA;“Sebentar, ya, Kak,” balas Heidy.&#xA;&#xA;Sementara itu, Heidy membuatkan teh hangat untuk sahabatnya, Gavin masih berusaha untuk mengembalikan kesadaran sang gadis yang hanya tinggal seujung jari. “Vall,” panggilnya lagi sembari mengusap pipi Vallerie. “Bangun dong.”&#xA;&#xA;Tak lama kemudian, Heidy datang dengan sebuah nampan di tangannya. Ia mendekat ke arah Gavin dan sahabatnya. Saat Heidy hendak menyerahkan cangkir yang berisikan teh manis hangat tersebut, Vallerie kembali membuat gerakan tiba-tiba. Ia menendang nampan yang Heidy pegang sehingga sang sahabat kehilangan keseimbangannya. Alhasil, nampan beserta cangkir bermotif bunga yang berisikan teh kamomil itu jatuh ke lantai.&#xA;&#xA;“Aduh!” pekik Heidy kala teh panas itu tumpah tepat di atas kaki jenjangnya. &#xA;&#xA;“Astaga,” seru Gavin. “Lo nggak apa-apa, Dy?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Panas, Kak,” keluh Heidy yang terduduk di atas lantai.&#xA;&#xA;“Sana ke toilet, basuh kaki lo pake air dingin,” perintah lelaki tampan itu. “Gue telpon Silas biar jemput lo.”&#xA;&#xA;Mendengar ada satu nama yang tidak asing masuk ke dalam indera pendengarannya, Heidy menoleh ke arah Gavin. “Kakak tau aku deket sama Kak Silas?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Lo beneran nanya kayak gitu sekarang?” sarkas Gavin. “Udah sana ke toilet.”&#xA;&#xA;Dengan langkah terseok, Heidy berjalan menuju toilet terdekat yang ada di lantai pertama rumah tersebut. Ia membasuh kakinya menggunakan air dingin yang mengalir dari shower. Sementara itu, Gavin yang tengah berusaha keras menenangkan Vallerie yang bergerak bagaikan angin puting beliung tetap mencoba menelpon salah satu temannya yang terkenal paling susah untuk dihubungi. Setelah beberapa saat, Silas menjawab panggilan dari Gavin.&#xA;&#xA;“Halo, Las,” ucap Gavin.&#xA;&#xA;“Eh, Gav,” balas Silas di seberang sana. “Lo nggak apa-apa? Kok tumben telpon gue?” tanyanya bertubi-tubi.&#xA;&#xA;“Lo bisa nggak ke rumah Valdi sekarang? Gue tunggu, ya,” ujar Gavin.&#xA;&#xA;“Ke rumah Valdi?” tanya Silas penasaran. “Valdi-nya aja lagi sama kita.”&#xA;&#xA;“Kakinya Heidy kesiram air panas,” jelas Gavin. “Lo anter pulang sana.”&#xA;&#xA;“Hah?!” Seketika mendengar kabar buruk tersebut, Silas berteriak dari seberang sana. “Kok bisa?!”&#xA;&#xA;Gavin menjauhkan jangkauan layar ponselnya dari telinganya. “Nggak sengaja ketendang sama Vallerie,” jelasnya. “Udah nggak usah banyak tanya, lo cepet ke sini.”&#xA;&#xA;“Iya, Gav,” finalnya. “Gue ke sana.”&#xA;&#xA;Setelah mengakhiri panggilan dengan Silas, Gavin meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian, Heidy datang menghampiri. Ia mendudukkan dirinya di sofa seberang Gavin dan Vallerie. Heidy mengusap kaki jenjang nan putihnya yang memerah dan sesekali ia meringis kesakitan. Luka bakar yang disebabkan oleh teh kamomil itu pastinya akan membekas di beberapa tempat.&#xA;&#xA;“Sorry, ya, Dy,” ucap Gavin. “Silas lagi di jalan mau ke sini kok.”&#xA;&#xA;Heidy mengangkat pandangannya lalu tersenyum. “Nggak apa-apa, Kak,” jawabnya. “Lo nggak perlu minta maaf. ‘Kan Vallerie juga nggak sengaja.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, hati Gavin menghangat. Ia bersyukur banyak orang baik yang mengelilingi gadis cantik kesayangannya. “Nanti kalau lo butuh ganti rugi, bilang ke gue aja, ya.”&#xA;&#xA;“Heidy!” pekik seseorang diiringi dengan bantingan pintu. &#xA;&#xA;Silas berlari ke arah ruang tengah. Ia menghentikkan langkahnya di hadapan Heidy untuk kemudian berlutut. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya tergesa-gesa. &#xA;&#xA;“Aku nggak apa-apa kok,” jawab Heidy. &#xA;&#xA;Di sisi lain, Gavin yang melihat kedatangan Silas dengan cepat melepas hoodie yang dikenakannya lalu menyampirkannya pada tubuh bagian bawah Vallerie yang sedikit terekspos. “Las,” sapa Gavin.&#xA;&#xA;“Kok lo bisa ada di sini?” tanya Silas.&#xA;&#xA;“Ya, bisa,” jawabnya singkat. “Valdi gimana?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Valdi aman kok,” jawab Silas. “Dia udah cerita semuanya ke kita.”&#xA;&#xA;“Gue di sini dulu, ya,” ujar Gavin.&#xA;&#xA;“Vallerie kenapa?” tanya Silas lagi.&#xA;&#xA;“Nggak tau tuh,” sahut Heidy. “Tadi dia nelpon aku tapi suaranya nggak jelas. Karena aku khawatir, aku dateng aja ke sini. Pas masuk ke dalem, Vallerie udah jongkok di atas kitchen set,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Mabok parah tuh,” balas Silas.&#xA;&#xA;“Ini udah agak mendingan,” ujar Gavin. “Tadi punggung gue dipukul sama dia.”&#xA;&#xA;Silas terkekeh. “Padahal punggung lo biasanya dicakar sama Vallerie, ya, Gav,” ledeknya.&#xA;&#xA;“Bangsat,” umpat Gavin.&#xA;&#xA;Heidy berusaha keras menyembunyikan tawanya. Kemudian, Silas bangkit dari posisinya. Ia mengalungkan sebelah tangan Heidy agar dapat ia bopong. “Ayo, kita ke klinik dulu,” katanya. “Duluan, ya, Gav,” lanjutnya.&#xA;&#xA;“Duluan, ya, Kak,” sahut Heidy. “Tolong jagain Vallerie,” tambahnya.&#xA;&#xA;“Iya, Dy,” balas Gavin. “Cepet sembuh, ya.”&#xA;&#xA;“Jangan lupa pake pengaman, Gav,” teriak Silas yang sudah berada di ambang pintu.&#xA;&#xA;“Sialan,” gumam Gavin.&#xA;&#xA;Gavin kembali memusatkan atensinya pada gadis cantik kesayangannya. Ia selipkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik Vallerie. Untuk saat ini, Vallerie sudah tidur dengan tenang. Namun, Gavin tidak menjamin beberapa menit, bahkan detik, ke depan seperti apa perilaku yang akan Vallerie tunjukkan. Menurut Gavin, Vallerie yang tengah tertidur pulas adalah Vallerie yang paling cantik.&#xA;&#xA;Gavin ingat sekali kapan terakhir kali Vallerie tertidur di hadapannya seperti ini. Kala itu, Vallerie baru sampai di rumah setelah menghadiri pelajaran tambahan di sekolahnya. Vallerie mendudukkan dirinya di atas sofa dan beberapa detik kemudian dirinya sudah berangkat ke alam mimpi. Gavin yang sedang menyaksikan acara televisi teralihkan fokusnya pada gadis cantik yang tertidur di sampingnya. &#xA;&#xA;“Cantik,” ujar Gavin. “Kamu kok bisa sampe kayak gini sih, Vall?” sambungnya.&#xA;&#xA;Tepat setelah lelaki tampan itu bermonolog demikian, Vallerie bangkit dari posisinya secara tiba-tiba. Tanpa membuka kedua matanya sedikit pun, sepasang tangannya bergerak mengalung pada bahu lebar Gavin untuk kemudian wajah cantik itu bergerak maju dan mencium bibir lelaki tampan yang ia rindukan selama beberapa pekan terakhir. Gavin sempat tercekat dengan gerakan tiba-tiba itu.&#xA;&#xA;“Nghh, Vall,” lirih Gavin.&#xA;&#xA;Gavin dengan seluruh tenaganya mencoba untuk menghentikan Vallerie yang seperti kerasukan iblis itu. Namun, entah karena pengaruh alkohol atau amarah, Gavin merasa kekuatan Vallerie seratus kali lebih kuat semenjak terakhir kali mereka bertemu. Barulah setelah beberapa saat, Vallerie menyudahi ciuman itu. Kemudian, ia tarik kerah kemeja hitam yang dikenakan Gavin. &#xA;&#xA;“Kamu kemana aja?” tanya Vallerie yang setengah sadar.&#xA;&#xA;“Maaf, Vall, aku baru dateng ke kamu sekarang,” jawab Gavin.&#xA;&#xA;“Aku nggak mau kamu minta maaf,” kata gadis cantik itu. “Aku mau kamu nggak pergi dari aku, Kak Gapin!” Di akhir kalimat, suara yang biasanya terdengar merdu itu, kali ini memekik hebat.&#xA;&#xA;Gavin membulatkan kedua matanya. Ia tahu, Vallerie benar-benar marah. “Aku minta maaf, Vall,” ucapnya.&#xA;&#xA;Selanjutnya, yang terjadi adalah Vallerie mendorong Gavin agar berbaring di dalam kungkungannya. Ia menyibakkan rambut hitam panjangnya ke arah belakang. Sebelum melanjutkan sesi memaki dan memarahi lelaki kesayangannya, Vallerie menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Emangnya minta maaf akan balikin keadaan kayak gitu lagi?!” tanyanya tidak santai.&#xA;&#xA;“Vall, dengerin aku dulu,” sela Gavin. “Aku udah bilang sama Valdi tentang kita,” katanya.&#xA;&#xA;“Diem, Kak!” bentak Vallerie. “Kamu nggak tau betapa menderitanya gue selama beberapa minggu terakhir setelah lo tinggal gitu aja,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Iya, aku tau, Vall, makanya—” Belum sempat Gavin menyelesaikan pemaparannya.&#xA;&#xA;Vallerie dengan cepat meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir lelaki tampan itu. “Diem,” singkatnya. Ia mendekatkan wajah cantiknya ke arah wajah tampan yang ada di dalam kuasanya. “Sekarang, giliran aku yang ngomong.” &#xA;&#xA;Dalam diamnya, Gavin mengangguk. Vallerie benar. Ia tidak tahu kesulitan apa saja yang sudah dilewati oleh gadis cantik kesayangannya itu selama beberapa pekan terakhir setelah ia meninggalkannya dengan ketidakjelasan. Gavin mempunyai alasan tersendiri dan begitu juga dengan Vallerie. Gavin sebagai pihak yang lebih menyakiti memiliki hak untuk tetap diam sampai Vallerie selesai berkeluh kesah.&#xA;&#xA;“Aku nyakitin hatinya Bang Paldi karena udah main sama kamu,” ujarnya. “Tapi aku juga pengen tau hal-hal yang selama ini aku sukain, salah satunya seks,” lanjut Vallerie. “Gimana… Caranya… Biar… Aku… Bisa….” Vallerie sengaja menggantungkan kalimatnya dan membuat Gavin menunggu.&#xA;&#xA;Detik berubah menjadi menit tetapi tidak ada kata atau bahkan kalimat lanjutan yang keluar dari mulut Vallerie. Akhirnya, Gavin membuka suaranya. “Vall,” panggilnya.&#xA;&#xA;“Apa?” ketus gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Kamu nggak mau lanjutin omongan kamu?” tanya Gavin serius. &#xA;&#xA;Sepertinya, Vallerie terlalu nyaman dengan posisinya saat ini dan baru menyadarinya, di mana dirinya duduk di atas lelaki kesayangannya sembari menatap rangka tegas dengan paras tampan itu dari jarak dekat. Vallerie memandang intens sepasang manik indah yang berada di dalam kungkungannya. Entah sebab efek rindu atau apa tetapi Gavin beribu kali terlihat lebih tampan dan menawan malam ini, membuat Vallerie ingin menguasainya.&#xA;&#xA;“Kamu ganteng,” ucap Vallerie.&#xA;&#xA;“Hah? Kamu bilang apa?” balas Gavin kebingungan.&#xA;&#xA;“Aku jadi pengen,” final Vallerie.&#xA;&#xA;Di detik berikutnya, gadis cantik itu menangkap rangka tegas yang ada di hadapannya. Diciumnya bibir yang selalu menggoda sanubarinya itu. Dengan ganas, Vallerie menikmati makanan pembukanya alias bibir manis Gavin. Sementara itu, Gavin yang lagi-lagi diberi tembakan maut seperti itu hanya mampu membeku di tempatnya sembari kedua tangannya memegang erat lengan kurus yang bertumpu di atasnya.&#xA;&#xA;“Nghh,” lenguhan pertama Vallerie lolos karena permainannya sendiri.&#xA;&#xA;Gavin paham bahwa gadis cantiknya ini selain membutuhkan kepastian atas hubungan mereka juga merindukan sosok untuk diajak bermain intim. Oleh sebab itu, tanpa basa-basi, Gavin bergabung ke dalam permainan panas tersebut. Ia memeluk tubuh mungil Vallerie sembari membalas cumbuannya dengan penuh gairah. Setelah beberapa pekan, Gavin dan Vallerie kembali bertemu dengan cara mereka. &#xA;&#xA;Kemudian, tangan kanan Vallerie bergerak mengusap dada bidang Gavin yang masih terlapisi kemeja hitam andalannya. Sedangkan, tangan kanan Gavin bergerak menekan tengkuk Vallerie agar cumbuaan mereka terasa lebih dalam dan nikmat. Entah sudah terhitung berapa kali sepasang kepala itu berganti arah, dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Permainan yang sedang berlangsung terasa semakin panas dan menuntut. &#xA;&#xA;“Nghh, ahhh,” desah Vallerie saat ciuman hangat itu berpindah ke area lehernya.&#xA;&#xA;Di sana, untuk pertama kalinya, Gavin memberikan gadis cantiknya tanda khas kepemilikan berwarna ungu kemerahan. Vallerie sangat menikmati bagaimana Gavin menandainya setiap inci demi inci pada permukaan kulitnya seolah tubuh indahnya adalah milik lawan mainnya. Tidak sampai di situ saja, tangan besar itu kembali bergerak mengusap perut rata Vallerie yang hangat.&#xA;&#xA;“Mphhh,” lenguh Vallerie tertahan. Ia menggigit bibir bagian bawahnya.&#xA;&#xA;“Enak, Vall?” bisik Gavin dengan suara baritonnya.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Nghh, iya,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Lagi?” tanya Gavin menggoda.&#xA;&#xA;Vallerie kembali mengangguk. “Iya,” jawab gadis cantik itu yakin.&#xA;&#xA;Mendengar ada permintaan yang tidak bisa ia tolak, Gavin dengan segera merubah keadaan. Ia memutar balik posisinya dengan Vallerie. Jika tadi Vallerie yang memegang kendali, kali ini giliran Gavin yang menguasai gadisnya. Dua pasang netra itu kembali bertemu seolah saling mengirimkan sinyal permainan panas malam ini harus berjalan sempurna setelah apa yang sudah mereka lewati.&#xA;&#xA;Selanjutnya, tangan kanan lelaki tampan itu bergerak membuka satu per satu kancing baju piyama berbahan satin yang melindungi tubuh indah Vallerie. Sementara itu, Vallerie melakukan hal serupa, dibukanya kancing demi kancing kemeja hitam yang terlihat sangat cocok dipakai oleh Gavin. Selain melempar atasan satu sama lain, kedua insan itu saling melempar senyum sebelum memulai permainan yang lebih panas.&#xA;&#xA;“Ahh, Kak,” desah Vallerie saat Gavin tiba-tiba meremas payudaranya yang masih terlindungi oleh bra.&#xA;&#xA;“Aku kangen banget sama kamu, Vall,” ucap lelaki tampan itu di sela-sela permainan. &#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie tersenyum sembari menggigit bibir bagian bawahnya sebab rasa geli dan bahagia yang datang bersamaan. “Nghh, apa, Kak?” ledeknya. “Aku, ahh, nggak denger.”&#xA;&#xA;Gavin menyeringai. Ia tahu bahwa gadis cantik yang sedang ia coba kuasai ini berusaha menggodanya. Gavin memangkas jarak yang memang sudah deka tantara dirinya dan Vallerie. Lalu, tangan besarnya bergerak melepas kaitan bra yang menutupi sepasang gunung sintal kesukaannya. Ia meremas sebelah payudara itu. Sedangkan, payudara lainnya yang terbebas ia isap ujungnya.&#xA;&#xA;“Nghh, ahhh,” desah Vallerie sebab rasa nikmat yang perlahan meningkat.&#xA;&#xA;Gavin menjeda sebentar permainannya. “Aku bilang, aku kangen kamu, Vallerie,” ulangnya. Setelahnya, ia melanjutkan kegiatannya semula.&#xA;&#xA;Vallerie terkekeh. Ia mengusap kepala lelaki tampan kesayangannya yang tengah sibuk menyusu padanya. “Ahh, Kak,” lirihnya. “Aku nggak denger, nghhh, apa-apa.”&#xA;&#xA;Vallerie masih berdiri di atas pendiriannya. Namun, bukan Gavin namanya apabila ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia kembali mendekatkan tubuhnya pada tubuh mungil di dalam kungkungannya. Gavin menjilat daun telinga Vallerie sehingga seluruh tubuhnya meremang. “Udah mulai nakal, ya,” ucapnya sembari menyeringai.&#xA;&#xA;Vallerie berani bersumpah bahwa kalimat yang baru saja Gavin ucapkan padanya sukses membuat gairahnya sampai pada level tertinggi. Ia memejamkan matanya untuk kemudian menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit ruang tengah. Di sisi lain, Gavin kembali melanjutkan permainannya. Ia mengomando Vallerie untuk melumuri jari telunjuk dan jari tengahnya menggunakan air liur dari mulutnya. &#xA;&#xA;“Basahin,” perintah lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;“Kak,” panggil Vallerie yang mulai merasa khawatir.&#xA;&#xA;“Basahin, Vallerie,” ulang Gavin dengan nada suara yang jauh lebih tegas.&#xA;&#xA;Vallerie menelan salivanya. Meskipun begitu, ia tetap melakukan ultimatum yang sudah disampaikan padanya. Vallerie tahu permainan panas malam ini akan jauh terlihat dan terasa lebih menarik sebab jarak dan waktu yang sudah keduanya rasakan. Ia menggenggam tangan besar itu menggunakan kedua tanggannya untuk kemudian mulai menjilat dan melumat dua jari yang juga besar itu dengan cara yang sesensual mungkin. &#xA;&#xA;Vallerie dapat melihat dengan jelas bagaimana Gavin mulai tidak sabar dengan trik yang ia ciptakan sendiri. Gavin menatap Vallerie seolah dirinya adalah makan malamnya. Sepertinya, Gavin memang tidak tahan dengan godaan dari gadisnya. Berikutnya, yang terjadi adalah lelaki tampan itu dengan tiba-tiba bergerak melepaskan celana pendek beserta celana dalam yang Vallerie kenakan. &#xA;&#xA;“Berani berbuat, berani bertanggung jawab, Vallerie,” ucap Gavin. &#xA;&#xA;Vallerie bertaruh. Malam ini, Gavin seolah dirasuki oleh makhluk pencinta seks. Ia dapat melihat binar dari sepasang manik yang serupa konstelasi bintang di semesta itu terlihat berbeda. Kemudian, Gavin membuka sabuk yang melingkari pinggangnya dan memasangkannya kepada Vallerie. Ia letakkan sepasang lengan kurus itu di atas kepala sang empunya. &#xA;&#xA;Gavin sempat melengang dari atas sofa tersebut dan berjalan ke arah tas ranselnya. Dari dalam tas yang banyak berisikan buku dan kliping makalah itu, ia mengeluarkan sebuah dasi berwarna hitam. Vallerie menganga dibuatnya. Kemungkinan besar sebentar lagi ia akan merealisasikan salah satu adegan dari video porno yang pernah ia saksikan. Dengan langkah pasti, Gavin kembali padanya.&#xA;&#xA;“B-Buat apa, Kak?” tanya Vallerie terbata.&#xA;&#xA;Gavin menyeringai. “Kamu tau betul apa guna dasi ini, Vallerie,” jelasnya.&#xA;&#xA;Lalu, di detik berikutnya, Gavin memakaikan dasi yang diambilnya tadi untuk menghalangi penglihatan gadisnya. Semua hal yang akan terjadi selama beberapa saat ke depan akan menjadi kejutan tersendiri bagi Vallerie atau bahkan bagi Gavin juga. Sebelum memulai permainan yang lebih menantang, Gavin menyempatkan diri untuk mengecup kening lawan mainnya dengan khidmat. &#xA;&#xA;“Kalau aku udah mulai kelepasan, kasih tau aku, ya, Vall,” ujar Gavin sembari membukan celana denim yang melekat di pinggulnya. &#xA;&#xA;Vallerie mengangguk dalam diamnya. Sekarang, permainan inti yang menegangkan akan segera dimulai. Gavin memulainya dengan menangkup dagu gadisnya lalu melumat bibir semerah ceri itu dengan kasar. Vallerie yang memiliki akses terbatas sempat kewalahan menghadapi Gavin yang pergerakannya seolah dipandu oleh iblis. Ia beberapa kali sempat kehabisan napas.&#xA;&#xA;“Nghh, ahh, Kak,” desah Vallerie. &#xA;&#xA;Setelah puas menjamah bibir indah yang saat ini terlihat membengkak itu, Gavin berpindah haluan. Kini, ia sedang sibuk bermain dengan sepasang payudara yang menegang hebat. Gavin tidak memberi ampun dengan mengeksploitasi sebisa mungkin mainan kesukaannya itu. Di satu sisi, tangan kanannya meremas, memijat, dan sesekali memilin ujung payudaranya. Di sisi lain, ia melumat ujung payudara itu menggunakan lidahnya.&#xA;&#xA;“Mphh, Kak, ahhh,” lenguh gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin benar-benar tidak memberinya waktu untuk beristirahat atau ampun sedikit pun kepada Vallerie. Dengan indera penglihatannya yang sepenuhnya tertutup, seluruh permainan yang Gavin ciptakan untuknya terasa seratus bahkan seribu kali lebih nikmat. Vallerie terus mengelukan nama lawan mainnya, di mana lirihan, lenguhan, dan desahan itu menjadi bahan bakar untuk Gavin.&#xA;&#xA;“Ahhh,” lirih Vallerie sedikit berteriak kala ada benda hangat yang melesat masuk ke dalam vaginanya.&#xA;&#xA;Ternyata, Gavin sedang menikmati area kewanitaan gadisnya menggunakan lidahnya sembari ibu jarinya sesekali bergerak memutari klitorisnya. Vallerie seperti dibawa terbang ke langit teratas dengan semua servis yang lelaki tampan kesayangannya itu berikan padanya. Ia tidak menyangka pertemuan khas rasa rindunya akan senikmat ini. Vallerie masih ingat saat Gavin bilang dirinya-lah yang paling mumpuni dalam permainan panas seperti ini.&#xA;&#xA;“Nghhh, ahh, Kak,” lirih Vallerie yang terus merasa kenikmatan. &#xA;&#xA;“Enak, Vall?” tanya Gavin sembari tersenyum puas.&#xA;&#xA;“Ahh, iya, Kak,” jawabnya.&#xA;&#xA;Gavin mendekatkan tubuhnya ke arah Vallerie. Sementara itu, tangan kirinya bergerak mengusap untuk kemudian masuk ke dalam vagina gadisnya. “Apa, Vall? Aku nggak denger apa-apa.” Kali ini, giliran Gavin yang menjahili Vallerie.&#xA;&#xA;“Mphh, Kak,” desah gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin semakin mempercepat tempo kocokannya. “Aku masih nggak denger apa-apa, Vallerie,” ucapnya.&#xA;&#xA;“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie tiada henti. “Iya, enakhh.”&#xA;&#xA;“Pinter,” puji Gavin.&#xA;&#xA;Selanjutnya, lelaki tampan itu menghentikan semua permainannya. Ia membuka dasi yang menutupi kedua matanya gadisnya. Tentunya, hal itu membuat Vallerie bertanya. “Kok nggak ditutup lagi, Kak?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Aku mau liat kamu,” jawab Gavin sembari kembali bersiap-siap untuk memasuki gadis cantik itu. “Aku masukin, ya, Vall,” tanyanya.&#xA;&#xA;“Tunggu, Kak,” ucap Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin memerhatikan Vallerie yang mulai merubah posisinya. Sepasang netranya membelalak kala mengetahui posisi yang Vallerie pilih adalah doggy style. Saat ini, gadis cantik itu sedang menungging membelakanginya. “Kamu serius, Vall?” tanya Gavin serius.&#xA;&#xA;“Aku pernah bacanya katany gaya kayak gini bikin penis lebih kerasa di dalem, Kak,” jelas Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin menganga mendengar kalimat eksplanasi itu. “Riset kamu boleh juga,” ujarnya. &#xA;&#xA;Dengan begitu, Gavin mengusap ujung penisnya sebelum memasuki vagina gadisnya. Sedangkan, Vallerie sekeras mungkin untuk bertahan di atas kedua tangannya yang terbilang lemah. Keduanya melenguh saat penis itu sudah setengah masuk ke dalam vagina, baik Gavin maupun Vallerie, sama-sama memejamkan mata sembari menengadahkan kepala mereka ke arah langit-langit ruang tengah.&#xA;&#xA;“Nghh, ahh,” lirih Gavin.&#xA;&#xA;“Ahhh,” lenguh Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin menggoyangkan pinggulnya secara perlahan. Hanya dengan gerakan sederhana yang belum mencapai inti, keduanya sudah merasakan surga dunia. Vallerie lagi-lagi benar. Gaya yang dipilihnya memang memberikan kenikmatan yang hakiki bagi keduanya. Lalu, Gavin kembali meneroboskan penisnya agar masuk dengan sempurna. Ia dapat merasakan ujung penisnya mulai menyentuh dinding rahim.&#xA;&#xA;“Mphh, Kak,” desah Vallerie tertahan.&#xA;&#xA;“Nghh, enak, Vall,” lenguh Gavin.&#xA;&#xA;“Terusin, Kak,” pinta gadis cantik itu. &#xA;&#xA;Ada kalimat perintah seperti demikian, Gavin menambah tempo kecepatan gempurannya. Tubuh polos keduanya bergerak sesuai irama ketukan, di mana ketukan tersebut menandakan kenikmatan yang terjadi. Suara kecipak permukaan kulit yang saling bertemu serta decitan kaki sofa yang seolah meminta tolong menjadi saksi bisu atas permainan panas yang terjadi di antara Gavin dan Vallerie.&#xA;&#xA;“Ahh, cepetin, Kak, nghhh,” ujar Vallerie.&#xA;&#xA;Tanpa jawaban secara lisan, Gavin menambah kecepatannya tiga kali lebih cepat dibanding semula. Vallerie dapat merasakan dengan jelas bagaimana ujung penis besar nan berurat itu menabrak dinding rahimnya dengan keras. Permainan panas kali ini terasa sangat memuaskan, terlihat bagaimana Gavin dan Vallerie membantu satu sama lain agar mencapai nikmat bersama.&#xA;&#xA;“Kerasin lagi, mphhh, Kak,” ucap Vallerie. &#xA;&#xA;Gavin mulai paham bahwa di setiap permainan intim antara dirinya dan Vallerie selalu ada permintaan yang akan gadis cantik itu selipkan. Ia bangga dengan gadisnya sebab dapat menikmati permainan mereka dengan baik. Belum lagi, kenikmatan itu tidak hanya dirasakan oleh Vallerie saja, melainkan dirinya juga ikut merasakan. Gavin bersyukur hatinya jatuh kepada Vallerie.&#xA;&#xA;“Nghh, Kak, aku mau, ahhh, keluar,” jelas Vallerie susah payah. &#xA;&#xA;“Mphh, aku juga, Vall,” balas Gavin.&#xA;&#xA;Setelahnya, keduanya bergerak secepat dan sekeras yang mereka bisa agar dapat menjemput pelepasannya masing-masing. Bulir demi bulir keringat membanjiri wajah cantik dan tampan mereka. Seluruh usaha serta tenaga sudah dikerahkan pada permainan panas malam ini. Sepertinya, permainan panas kali ini Sebagian adalah bentuk balas dendam atas rindu yang ada.&#xA;&#xA;“Ahh!” pekik Vallerie.&#xA;&#xA;Ternyata, gadis cantik itu mencapai titik ternikmatnya lebih dulu. Tubuhnya tumbang sebab kedua tangannya yang sudah tidak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Berbeda dengan Vallerie, Gavin masih berusaha untuk mencapai klimaks. Kemudian, ide gila tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Ia meraih tubuh mungil Vallerie untuk kemudian bermain dengan sepasang payudaranya yang menggelantung dengan bebas.&#xA;&#xA;“Nghh, Kak, ahhh,” desah Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin mampu membuat gadis cantik itu kembali mengelukan namanya. Tidak hanya sampai di situ, Vallerie kemungkinan besar akan menjemput klimaksnya lagi. Ia mengumpat di dalam hatinya tetapi bukan artinya ia tidak menikmati permainan tambahan ini. Padahal, indera penglihatannya sudah tidak tertutup lagi. Namun, Gavin memberikannya kejutan dalam bentuk lain.&#xA;&#xA;“Akh!” pekik Gavin.&#xA;&#xA;“Ahh!” pekik Vallerie lagi.&#xA;&#xA;Keduanya tumbang bersamaan. Dengan tubuh yang dibanjirin keringat, Gavin dan Vallerie sama-sama diburu napas. Gavin memeluk Vallerie dengar erat. Vallerie dapat melihat dengan jelas dada bidang itu terlihat kembang kempis di hadapannya dan keadaan itu pun tak jauh berbeda dengannya. Ia merentangkan tangannya agar dapat memeluk tubuh besar yang mendekapnya.&#xA;&#xA;“Capek, Vall?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Lumayan, Kak,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Sama,” sahut Gavin. “Aku juga.”&#xA;&#xA;Vallerie mengangkat pandangannya agar dapat melihat wajah tampan itu dengan lebih jelas. “Kamu kayak orang gila,” pujinya dalam bentuk umpatan.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin tertawa. “Kamu juga sama gilanya,” balasnya.&#xA;&#xA;Vallerie memukul dada lelaki kesayangannya. “Aku kalau main sama kamu selalu keluar dua kali,” jelasnya.&#xA;&#xA;“Ya, jelas dong,” ucap Gavin. “Kamu tau cara menikmati permainan,” lanjutnya.&#xA;&#xA;Setelahnya, selama beberapa saat, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Gavin dan Vallerie sibuk mengatur kembali oksigen agar masuk dengan sempurna ke sistem pernapasan mereka. Di satu sisi, Gavin sibuk mengusap pucuk kepala gadisnya. Di sisi lain, Vallerie sibuk memainkan jari telunjuknya di dada bidang lelaki tampan kesayangannya.&#xA;&#xA;Paling tidak, sampai Gavin berinisiatif memecah keheningan. “Vall,” panggilnya.&#xA;&#xA;“Apa?” sahut Vallerie.&#xA;&#xA;“Maaf, ya,” ucapnya tanpa menatap wajah cantik gadisnya.&#xA;&#xA;Vallerie hanya berdehem singkat menjawab pernyataan yang satu itu. Gavin tahu ini tidak mungkin mudah baginya, apalagi bagi Vallerie. Jadi, untuk saat ini dan entah sampai kapan, Gavin akan mengikuti bagaimana alur berjalan sesuai kemauan gadis cantik kesayangannya. Ia akan melakukan apapun demi memperbaiki hubungannya dengan Vallerie sebab gadis cantik itu adalah alasan dia menjalani hari-harinya.&#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin lagi.&#xA;&#xA;“Apa, Kak?” jawab Vallerie tidak semangat. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.&#xA;&#xA;Gavin menatap wajah cantik yang berposisi lebih rendah darinya. “Aku mau mandi,” ucapnya.&#xA;&#xA;“Ya, udah,” jawab Vallerie sekenanya. “Sana.”&#xA;&#xA;“Kamu nggak mau ikut?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Duluan aja deh, Kak,” kata gadis cantik itu. “Badan aku masih lemes banget.”&#xA;&#xA;“Oh, oke,” balas Gavin. “Kalau jadi pacar aku, mau?” tanya lelaki tampan itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Mentari terbenam di ujung hari, meninggalkan jejak berwarna oranye kemerahan di lengkungan semesta. Di sebuah taman kampus yang sepi pengunjung, seorang lelaki tampan dengan postur tubuh yang tegap tengah duduk dengan gelisah. Kedua tangannya menangkup satu sama lain selagi ibu jarinya mengusap permukaan tangannya. Kaki-kaki jenjangnya pun tidak berhenti membuat ketukan pada tanah yang dipijaknya.</p>

<p>Tak lama setelahnya, seorang lelaki tampan lainnya datang dan mengambil posisi duduk di kursi kayu yang sama. Sunyi, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara mereka. Keduanya sibuk tenggelam dengan pikiran negatif masing-masing. Ditemani mentari yang semakin menghilang, sepasang sahabat yang sudah berteman sangat lama itu, Gavin dan Valdi, untuk pertama kalinya berpotensi mengalami perpecahan.</p>

<p>“Kenapa?” tanya Valdi datar.</p>

<p>“Gue bakal tanggung jawab, Val,” jawab Gavin tetapi bukan menjawab pertanyaan yang sahabatnya maksud.</p>

<p>“Bukan itu pertanyaan gue,” balas lelaki tampan itu. Valdi yang tadinya duduk bertumpu pada kedua kakinya, kini mengangkat tubuhnya dengan tegap. Namun, pandangannya masih mengarah lurus ke depan. “Kenapa harus Vallerie?”</p>

<p>Mendengar ada satu nama yang disebut, Gavin menghela napas panjang. “Lo harus dengerin penjelasan gue dulu,” katanya.</p>

<p>Valdi terdiam sejenak. “Ya, udah. Jelasin.”</p>

<p>Gavin menolehkan pandangannya ke arah Valdi. “Sebelumnya, gue minta maaf karena itu Vallerie, adek lo,” ucapnya. “Tapi yang namanya hati nggak ada yang bisa nebak, Val. Jangankan lo, gue aja bingung kenapa gue malah jatuh ke Vallerie.”</p>

<p>“Ini bukan pertama kalinya lo ketemu sama Vallerie, Gav,” sahut Valdi. “Kalau lo emang suka sama dia, kenapa harus sekarang? Kenapa harus pas adek gue lagi—” Belum sempat lelaki tampan itu merampungkan kalimatnya.</p>

<p>Gavin lebih dulu menyambar. “Kalau lo pikir gue suka sama Vallerie karena gue udah melakukan hal ‘itu’ sama dia, lo salah besar,” jelasnya. “Gue yang terlalu denial sama perasaan gue sendiri.”</p>

<p>Valdi terkekeh remeh mendengar kalimat eksplanasi dari sahabatnya itu. “Klise banget,” sarkasnya.</p>

<p>Setelahnya, selama beberapa detik menuju menit, tidak ada percakapan intens yang terjadi. Valdi terlalu kecewa untuk melanjutkan topik obrolan itu. Sementara itu, Gavin sedang memikirkan cara bagaimana membuktikan kepada sahabatnya itu bahwa cintanya tulus kepada sang adik. Lagi, baik Gavin dan Valdi, larut dalam lamunan masing-masing. Setidaknya, sampai Gavin kembali membuka suara.</p>

<p>“Mau sekeras apapun gue berusaha untuk menunjukkan kalau gue serius sama Vallerie tapi kalau lo sendiri nggak percaya sama gue, semuanya bakal sia-sia,” jelas Gavin.</p>

<p>Valdi terdiam. Ia berusaha mencerna kata demi kata yang sahabatnya itu ucapkan padanya. Di waktu yang bersamaan, ponsel genggamnya berbunyi dan menampilkan notifikasi satu per satu pesan yang adiknya kirimkan melalui WhatsApp Chat. Valdi mencoba menelaah pengakuan dosa dari Vallerie. Kedua maniknya yang serupa bulan purnama membulat dengan sempurna kala menangkap isi dari pesan-pesan tersebut.</p>

<p>Di sisi lain, Gavin mengintip pesan-pesan yang Vallerie kirim kepada sahabatnya itu. Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah gadis cantik itu mengaku telah melakukan sesuatu yang berpotensi membuat kakak lelaki kesayangannya itu kecewa. Dalam diamnya, Gavin menghela napas pasrah sembari mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka bahwa Vallerie akan mengambil langkah juga untuk melanjutkan hubungan mereka.</p>

<p>“Lo harus mengapresiasi Vallerie karena udah berani ngaku dosa sama lo,” sergah Gavin.</p>

<p>Valdi mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana denimnya. “Nggak usah sok menggurui gue,” jawabnya ketus.</p>

<p>“Gue nggak berusaha menggurui lo,” balas Gavin.</p>

<p>“Vallerie emang salah tapi lo lebih salah,” ucap Valdi.</p>

<p>Satu kalimat itu sukses menohok sanubari Gavin. Ia menelan salivanya. Apa yang Valdi katakan tidak sepenuhnya salah. “Iya, gue salah. Dan untuk itu, gue sangat memohon maaf sama lo.” Gavin terus menerus meminta maaf kepada kakak dari gadis cantik pujaan hatinya. “Tapi lo harus inget kalau Vallerie itu udah memasuki fase remaja, Val. Dia bakal nyari tau banyak hal, termasuk sesuatu yang berhubungan dengan seksual. Lo juga nggak bisa sepenuhnya menyalahkan Vallerie karena hormon di dalam tubuhnya udah mulai bekerja dengan semestinya,” jelas lelaki tampan itu. “Lo harusnya bersyukur karena Vallerie nggak jatuh ke dalam pergaulan bebas.”</p>

<p>“Jadi, maksud lo, kecanduan porno dan ‘main’ sama lo itu lebih baik dibanding pergaulan bebas. Iya, gitu?” tanya Valdi tidak santai.</p>

<p>“Bukan itu maksud gue,” balas Gavin. “Tunggu. Lo tau Vallerie kecanduan porno?” tanyanya.</p>

<p>Valdi mengangguk. “Tau.”</p>

<p>“Terus... Kenapa lo diem aja?” tanya Gavin menuntut.</p>

<p>“Gue bisa apa, Gav?! Dengan tau fakta Vallerie kecanduan porno aja gue udah ngerasa gagal jadi kakak buat dia. Apalagi nggak lama kemudian, gue juga tau kalau adek gue ada main sama sahabat gue sendiri, gue udah nggak bisa apa-apa lagi!” jelas Valdi dengan nada berapi-api.</p>

<p>Gavin meraih sebelah Pundak lebar sahabatnya. “Lo nggak gagal jadi kakak buat Vallerie, Val,” ujarnya.</p>

<p>Valdi menolehkan pandangannya ke sembarang arah, ke mana saja asal tidak menatap langsung netra sahabatnya. “Lo nggak akan paham,” ketusnya.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin untuk kesekian kalinya menghela napas panjang. “Iya, lo bener. Gue nggak akan paham karena posisinya gue nggak punya adek perempuan kayak Vallerie,” jelasnya. “Tapi lo sendiri, Val, lo paham nggak kalau Vallerie itu udah mulai dewasa?” tanya Gavin.</p>

<p>“Vallerie itu adek gue, Gav,” jawab Valdi. “Gue yang paling paham sama Vallerie dibanding diri dia sendiri.”</p>

<p>“Lo yakin?” tanya Gavin menuntut.</p>

<p>Valdi tidak berani menjawab. Ia lebih memilih diam dan berpikir keras. Ada seberkas beban di hati terdalamnya. Sedari kecil, Valdi dan Vallerie hidup bagaikan sebatang kara yang digelimangi harta. Kehadiran orang tua keduanya sangat minim sehingga Valdi yang harus maju menggantika peran orang tuanya untuk sang adik tercinta. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Valdi juga memiliki kehidupannya sendiri yang harus ia urus.</p>

<p>“Kalau lo yakin, kenapa lo diem aja pas tau Vallerie mulai menjuru ke suatu hal yang salah?” sindir Gavin. “Gue nggak menyalahkan lo atas yang terjadi sama Vallerie karena gue tau pasti berat ngurusin Vallerie sendiri, apalagi di perempuan,” lanjutnya.</p>

<p>“Kenapa lo bisa yakin kalau lo sama Vallerie ngelakuin ‘hal’ itu atas dasar cinta?” tanya Valdi tiba-tiba. “Vallerie aja belum pernah kenal cowok lain selain gue dan kalian,” sambungnya.</p>

<p>“Nggak mudah, Val, untuk tau gue beneran sayang atau nggak ke Vallerie,” kata lelaki tampan itu. “Selama ini, tanpa gue sadari, gue selalu pengen jadi sosok yang dibanggakan sama Vallerie,” ujarnya.</p>

<p>Valdi kembali terdiam tetapi kali ini dalam artian yang lebih baik. Ia ingin mendengarkan dengan saksama penjelasan dari sang sahabat. Valdi ingin tahu apakah ia bisa memberikan sedikit kepercayaannya kepada Gavin. Lagi pula, apabila Gavin tidak sungguh-sungguh dengan Vallerie, ia tidak akan di sini sekarang bersamanya dan membahas masalah ini dengan serius.</p>

<p>“Lo inget nggak? Dulu pas masih ospek, gue sering banget nginep di rumah lo. Waktu itu, Vallerie banyak tanya-tanya ke gue tentang kehidupan kampus padahal gue sama lo aja baru mulai ospek,” jelas Gavin sembari otaknya memutar kenangan yang dimaksud. “Vallerie banyak cerita sama gue. Dia pernah cerita kalau di sekolahnya ada pentas seni dan ngundang band. Dari situ, Vallerie bilang dia pengen punya pacar anak band. Setelah masuk kampus, gue insiatif bikin band bareng lo dan yang lain. Selain itu, Vallerie juga pengen punya pacar yang pinter bergaul, makanya gue daftar HIMA,” lanjutnya.</p>

<p>“Vallerie nggak pernah cerita kayak gitu sama gue,” kata Valdi.</p>

<p>“Vallerie bukannya nggak mau cerita sama lo tapi dia nggak enak,” ucap Gavin. “Nggak enak kalau harus ganggu lo, soalnya lo kalau di rumah sering keliatan capek.”</p>

<p>“Vallerie bilang gitu ke lo?” tanya Valdi.</p>

<p>Gavin mengangguk sekali. “Iya,” jawabnya. “Tanpa sadar, gue selalu pengen wujudin sosok pacar yang Vallerie pengen, Val.”</p>

<p>Kali ini, Valdi yang menghela napasnya panjang. Ia tatap langit di atasnya yang sudah menggelap sempurna. Valdi dapat melihat hanya ada satu bintang yang bersinar terang di sana seolah memberi tanda serta harapan pada dirinya bahwa ia tidak gagal, baik dalam menjaga adiknya maupun mempertahankan pertemanannya. Valdi sangat sayang kepada adik semata wayangnya dan begitu juga dengan sahabatnya.</p>

<p>Valdi menolehkan pandangannya ke arah Gavin. Semenjak dirinya duduk di situ, baru saat ini ia menatap langsung wajah sahabatnya itu. “Andai gue kasih kepercayaan ini ke lo, Gav, apakah lo mau janji jagain Vallerie sama seperti gue jagain dia?”</p>

<p>Tanpa ragu, Gavin mengangguk. “Gue akan sangat berterima kasih kalau lo mau percaya sama gue,” ujarnya.</p>

<p>“Gue sendiri nggak tau Vallerie beneran suka atau cuma penasaran sama lo,” ucap Gavin.</p>

<p>“Lo nggak usah khawatir, Val,” jawab Gavin. “Itu urusan gue.”</p>

<p>“Jaga janji lo, ya, Gav,” final Gavin.</p>

<p>Gavin mengangguk. “Kalau gue nyakitin Vallerie, gue juga nyakitin lo,” katanya. “Gue nggak akan dan nggak mau nyakitin dua orang kesayangan gue.”</p>

<p>Dalam diamnya, Valdi tersenyum hangat. Ia sangat bersyukur bahwa persahabatannya yang sudah susah payah ia jaga tidak harus kandas malam ini. Namun, tidak menutup kemungkinan masih ada seberkas kekhawatiran di dalam hatinya mengenai Vallerie. Mungkin Valdi bisa menjamin janji yang Gavin ucapkan padanya tetapi tidak untuk Vallerie. Ia bisa aja melakukan hal di luar nalar.</p>

<p>“Lo udah ketemu sama Vallerie?” tanya Valdi.</p>

<p>“Belum,” ucap Gavin. “Gue belum berani nemuin dia kalau gue belum selesai urusannya sama lo.”</p>

<p>“Temuin Vallerie sekarang,” kata Valdi. “Gue takut dia ngelakuin hal-hal di luar nalar.”</p>

<p>“Vallerie,” kata Gavin. “Di mana?” tanyanya.</p>

<p>“Di rumah,” jawab Valdi.</p>

<p>“Makasih, ya, Gav,” ucap lelaki tampan itu sembari menepuk sebelah pundak sahabatnya.</p>

<p>Setelahnya, Gavin berlalu dari taman kampus, meninggalkan Valdi sendirian. Ia berlarian di area gedung parkir untuk kemudian masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di lantai paling atas. Dengan perasaan bahagia yang tak terbendung, Gavin melajukan mobilnya menuju kediaman sang sahabat sekaligus gadis cantik pujaannya. Tak lama kemudian, ia sampai di rumah besar nan mewah tersebut.</p>

<p>Gavin memarkirkan mobilnya di halaman rumput yang lebar di dalam pekarangan rumah itu. Namun, ada sesuatu hal yang aneh. Gavin dapat melihat dengan jelas bahwa pintu utama rumah dengan cat dominan putih tersebut sedikit terbuka. Ia juga melihat ada sepasang sepatu berwarna putih yang ada di sana, di mana ia yakini itu bukan milik Vallerie, apalagi Valdi.</p>

<p>Gavin masuk ke dalam rumah itu. “Vallerie,” panggilnya.</p>

<p>“Bangun dong, Vall!” pekik seseorang.</p>

<p>Gavin mendengar suara seorang perempuan yang melengking memanggil nama gadisnya. Ia segera melengang ke arah dapur. Gavin menghentikan langkahnya seketika sepasang maniknya menangkap keberadaan dua orang gadis cantik dengan posisi yang tidak aman. Salah seorang dari mereka tengah tergeletak di atas kitchen set. Sedangkan, yang satunya lagi sedang berusaha menyingkirkan beberapa botol minuman beralkohol dari sana.</p>

<p>“Vallerie,” panggil Gavin. Ia mendekat ke arah gadisnya.</p>

<p>“Kak Gavin?” tanya Heidy.</p>

<p>“Iya,” jawab Gavin. “Heidy ‘kan?” tanyanya.</p>

<p>Heidy mengangguk. “Iya, Kak.”</p>

<p>“Ini Vallerie kenapa bisa kayak gini?” tanya Gavin tergesa-gesa.</p>

<p>“Aku nggak tau, Kak,” jawab Heidy. “Tadi Vallerie telpon aku tapi suaranya nggak jelas. Aku takut Vallerie kenapa-napa. Jadi, aku dateng ke sini. Ternyata, bener ‘kan, Vallerie kenapa-napa,” jelasnya.</p>

<p>Gavin berusaha merengkuh tubuh Vallerie untuk ia gendong bak koala yang menempel di punggung lebarnya. “Vallerie minum berapa botol?” tanyanya lagi.</p>

<p>Heidy menggeleng. “Nggak tau juga, Kak,” jawabnya lagi. “Yang aku pegang cuma dua botol tapi tadi aku juga liat ada botol lain di taman belakang sama di ruang tengah.”</p>

<p>Gavin membawa Vallerie untuk berbaring di sofa ruang tengah. Di tengah perjalanan, gadis cantik itu membuat gerakan tiba-tiba. Ia memukul punggung lebar lelaki tampan yang menggendongnya. “Aduh, Vall,” ringis Gavin.</p>

<p>“Kamu siapa?!” pekik Vallerie. “Aku nggak mau, ya, digendong kalau bukan sama Kak Gapin!”</p>

<p>“Ini aku, Vall,” sahut Gavin.</p>

<p>Gavin meletakkan tubuh indah serupa ulat bulu yang meliak-liuk itu di atas sofa. Sementara itu, dirinya mengambil posisi di tepi sofa. Gavin menggenggam tangan Vallerie. “Heidy,” panggilnya.</p>

<p>“Iya, Kak,” jawab gadis cantik itu.</p>

<p>“Gue boleh minta tolong?” tanya Gavin.</p>

<p>“Boleh, Kak. Apa?” tanya Heidy.</p>

<p>“Tolong buatin Vallerie teh manis hangat tapi pake teh kamomil, ya. Tehnya ada di laci kayu yang di deket cucian piring,” pinta lelaki tampan itu.</p>

<p>“Sebentar, ya, Kak,” balas Heidy.</p>

<p>Sementara itu, Heidy membuatkan teh hangat untuk sahabatnya, Gavin masih berusaha untuk mengembalikan kesadaran sang gadis yang hanya tinggal seujung jari. “Vall,” panggilnya lagi sembari mengusap pipi Vallerie. “Bangun dong.”</p>

<p>Tak lama kemudian, Heidy datang dengan sebuah nampan di tangannya. Ia mendekat ke arah Gavin dan sahabatnya. Saat Heidy hendak menyerahkan cangkir yang berisikan teh manis hangat tersebut, Vallerie kembali membuat gerakan tiba-tiba. Ia menendang nampan yang Heidy pegang sehingga sang sahabat kehilangan keseimbangannya. Alhasil, nampan beserta cangkir bermotif bunga yang berisikan teh kamomil itu jatuh ke lantai.</p>

<p>“Aduh!” pekik Heidy kala teh panas itu tumpah tepat di atas kaki jenjangnya.</p>

<p>“Astaga,” seru Gavin. “Lo nggak apa-apa, Dy?” tanyanya.</p>

<p>“Panas, Kak,” keluh Heidy yang terduduk di atas lantai.</p>

<p>“Sana ke toilet, basuh kaki lo pake air dingin,” perintah lelaki tampan itu. “Gue telpon Silas biar jemput lo.”</p>

<p>Mendengar ada satu nama yang tidak asing masuk ke dalam indera pendengarannya, Heidy menoleh ke arah Gavin. “Kakak tau aku deket sama Kak Silas?” tanyanya.</p>

<p>“Lo beneran nanya kayak gitu sekarang?” sarkas Gavin. “Udah sana ke toilet.”</p>

<p>Dengan langkah terseok, Heidy berjalan menuju toilet terdekat yang ada di lantai pertama rumah tersebut. Ia membasuh kakinya menggunakan air dingin yang mengalir dari shower. Sementara itu, Gavin yang tengah berusaha keras menenangkan Vallerie yang bergerak bagaikan angin puting beliung tetap mencoba menelpon salah satu temannya yang terkenal paling susah untuk dihubungi. Setelah beberapa saat, Silas menjawab panggilan dari Gavin.</p>

<p>“Halo, Las,” ucap Gavin.</p>

<p>“<em>Eh, Gav,</em>” balas Silas di seberang sana. “Lo nggak apa-apa? Kok tumben telpon gue?” tanyanya bertubi-tubi.</p>

<p>“Lo bisa nggak ke rumah Valdi sekarang? Gue tunggu, ya,” ujar Gavin.</p>

<p>“<em>Ke rumah Valdi?</em>” tanya Silas penasaran. “Valdi-nya aja lagi sama kita.”</p>

<p>“Kakinya Heidy kesiram air panas,” jelas Gavin. “Lo anter pulang sana.”</p>

<p>“<em>Hah?!</em>” Seketika mendengar kabar buruk tersebut, Silas berteriak dari seberang sana. “<em>Kok bisa?!</em>”</p>

<p>Gavin menjauhkan jangkauan layar ponselnya dari telinganya. “Nggak sengaja ketendang sama Vallerie,” jelasnya. “Udah nggak usah banyak tanya, lo cepet ke sini.”</p>

<p>“<em>Iya, Gav,</em>” finalnya. “<em>Gue ke sana.</em>”</p>

<p>Setelah mengakhiri panggilan dengan Silas, Gavin meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian, Heidy datang menghampiri. Ia mendudukkan dirinya di sofa seberang Gavin dan Vallerie. Heidy mengusap kaki jenjang nan putihnya yang memerah dan sesekali ia meringis kesakitan. Luka bakar yang disebabkan oleh teh kamomil itu pastinya akan membekas di beberapa tempat.</p>

<p>“Sorry, ya, Dy,” ucap Gavin. “Silas lagi di jalan mau ke sini kok.”</p>

<p>Heidy mengangkat pandangannya lalu tersenyum. “Nggak apa-apa, Kak,” jawabnya. “Lo nggak perlu minta maaf. ‘Kan Vallerie juga nggak sengaja.”</p>

<p>Mendengarnya, hati Gavin menghangat. Ia bersyukur banyak orang baik yang mengelilingi gadis cantik kesayangannya. “Nanti kalau lo butuh ganti rugi, bilang ke gue aja, ya.”</p>

<p>“Heidy!” pekik seseorang diiringi dengan bantingan pintu.</p>

<p>Silas berlari ke arah ruang tengah. Ia menghentikkan langkahnya di hadapan Heidy untuk kemudian berlutut. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya tergesa-gesa.</p>

<p>“Aku nggak apa-apa kok,” jawab Heidy.</p>

<p>Di sisi lain, Gavin yang melihat kedatangan Silas dengan cepat melepas hoodie yang dikenakannya lalu menyampirkannya pada tubuh bagian bawah Vallerie yang sedikit terekspos. “Las,” sapa Gavin.</p>

<p>“Kok lo bisa ada di sini?” tanya Silas.</p>

<p>“Ya, bisa,” jawabnya singkat. “Valdi gimana?” tanya Gavin.</p>

<p>“Valdi aman kok,” jawab Silas. “Dia udah cerita semuanya ke kita.”</p>

<p>“Gue di sini dulu, ya,” ujar Gavin.</p>

<p>“Vallerie kenapa?” tanya Silas lagi.</p>

<p>“Nggak tau tuh,” sahut Heidy. “Tadi dia nelpon aku tapi suaranya nggak jelas. Karena aku khawatir, aku dateng aja ke sini. Pas masuk ke dalem, Vallerie udah jongkok di atas kitchen set,” jelasnya.</p>

<p>“Mabok parah tuh,” balas Silas.</p>

<p>“Ini udah agak mendingan,” ujar Gavin. “Tadi punggung gue dipukul sama dia.”</p>

<p>Silas terkekeh. “Padahal punggung lo biasanya dicakar sama Vallerie, ya, Gav,” ledeknya.</p>

<p>“Bangsat,” umpat Gavin.</p>

<p>Heidy berusaha keras menyembunyikan tawanya. Kemudian, Silas bangkit dari posisinya. Ia mengalungkan sebelah tangan Heidy agar dapat ia bopong. “Ayo, kita ke klinik dulu,” katanya. “Duluan, ya, Gav,” lanjutnya.</p>

<p>“Duluan, ya, Kak,” sahut Heidy. “Tolong jagain Vallerie,” tambahnya.</p>

<p>“Iya, Dy,” balas Gavin. “Cepet sembuh, ya.”</p>

<p>“Jangan lupa pake pengaman, Gav,” teriak Silas yang sudah berada di ambang pintu.</p>

<p>“Sialan,” gumam Gavin.</p>

<p>Gavin kembali memusatkan atensinya pada gadis cantik kesayangannya. Ia selipkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik Vallerie. Untuk saat ini, Vallerie sudah tidur dengan tenang. Namun, Gavin tidak menjamin beberapa menit, bahkan detik, ke depan seperti apa perilaku yang akan Vallerie tunjukkan. Menurut Gavin, Vallerie yang tengah tertidur pulas adalah Vallerie yang paling cantik.</p>

<p>Gavin ingat sekali kapan terakhir kali Vallerie tertidur di hadapannya seperti ini. Kala itu, Vallerie baru sampai di rumah setelah menghadiri pelajaran tambahan di sekolahnya. Vallerie mendudukkan dirinya di atas sofa dan beberapa detik kemudian dirinya sudah berangkat ke alam mimpi. Gavin yang sedang menyaksikan acara televisi teralihkan fokusnya pada gadis cantik yang tertidur di sampingnya.</p>

<p>“Cantik,” ujar Gavin. “Kamu kok bisa sampe kayak gini sih, Vall?” sambungnya.</p>

<p>Tepat setelah lelaki tampan itu bermonolog demikian, Vallerie bangkit dari posisinya secara tiba-tiba. Tanpa membuka kedua matanya sedikit pun, sepasang tangannya bergerak mengalung pada bahu lebar Gavin untuk kemudian wajah cantik itu bergerak maju dan mencium bibir lelaki tampan yang ia rindukan selama beberapa pekan terakhir. Gavin sempat tercekat dengan gerakan tiba-tiba itu.</p>

<p>“Nghh, Vall,” lirih Gavin.</p>

<p>Gavin dengan seluruh tenaganya mencoba untuk menghentikan Vallerie yang seperti kerasukan iblis itu. Namun, entah karena pengaruh alkohol atau amarah, Gavin merasa kekuatan Vallerie seratus kali lebih kuat semenjak terakhir kali mereka bertemu. Barulah setelah beberapa saat, Vallerie menyudahi ciuman itu. Kemudian, ia tarik kerah kemeja hitam yang dikenakan Gavin.</p>

<p>“Kamu kemana aja?” tanya Vallerie yang setengah sadar.</p>

<p>“Maaf, Vall, aku baru dateng ke kamu sekarang,” jawab Gavin.</p>

<p>“Aku nggak mau kamu minta maaf,” kata gadis cantik itu. “Aku mau kamu nggak pergi dari aku, Kak Gapin!” Di akhir kalimat, suara yang biasanya terdengar merdu itu, kali ini memekik hebat.</p>

<p>Gavin membulatkan kedua matanya. Ia tahu, Vallerie benar-benar marah. “Aku minta maaf, Vall,” ucapnya.</p>

<p>Selanjutnya, yang terjadi adalah Vallerie mendorong Gavin agar berbaring di dalam kungkungannya. Ia menyibakkan rambut hitam panjangnya ke arah belakang. Sebelum melanjutkan sesi memaki dan memarahi lelaki kesayangannya, Vallerie menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Emangnya minta maaf akan balikin keadaan kayak gitu lagi?!” tanyanya tidak santai.</p>

<p>“Vall, dengerin aku dulu,” sela Gavin. “Aku udah bilang sama Valdi tentang kita,” katanya.</p>

<p>“Diem, Kak!” bentak Vallerie. “Kamu nggak tau betapa menderitanya gue selama beberapa minggu terakhir setelah lo tinggal gitu aja,” jelasnya.</p>

<p>“Iya, aku tau, Vall, makanya—” Belum sempat Gavin menyelesaikan pemaparannya.</p>

<p>Vallerie dengan cepat meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir lelaki tampan itu. “Diem,” singkatnya. Ia mendekatkan wajah cantiknya ke arah wajah tampan yang ada di dalam kuasanya. “Sekarang, giliran aku yang ngomong.”</p>

<p>Dalam diamnya, Gavin mengangguk. Vallerie benar. Ia tidak tahu kesulitan apa saja yang sudah dilewati oleh gadis cantik kesayangannya itu selama beberapa pekan terakhir setelah ia meninggalkannya dengan ketidakjelasan. Gavin mempunyai alasan tersendiri dan begitu juga dengan Vallerie. Gavin sebagai pihak yang lebih menyakiti memiliki hak untuk tetap diam sampai Vallerie selesai berkeluh kesah.</p>

<p>“Aku nyakitin hatinya Bang Paldi karena udah main sama kamu,” ujarnya. “Tapi aku juga pengen tau hal-hal yang selama ini aku sukain, salah satunya seks,” lanjut Vallerie. “Gimana… Caranya… Biar… Aku… Bisa….” Vallerie sengaja menggantungkan kalimatnya dan membuat Gavin menunggu.</p>

<p>Detik berubah menjadi menit tetapi tidak ada kata atau bahkan kalimat lanjutan yang keluar dari mulut Vallerie. Akhirnya, Gavin membuka suaranya. “Vall,” panggilnya.</p>

<p>“Apa?” ketus gadis cantik itu.</p>

<p>“Kamu nggak mau lanjutin omongan kamu?” tanya Gavin serius.</p>

<p>Sepertinya, Vallerie terlalu nyaman dengan posisinya saat ini dan baru menyadarinya, di mana dirinya duduk di atas lelaki kesayangannya sembari menatap rangka tegas dengan paras tampan itu dari jarak dekat. Vallerie memandang intens sepasang manik indah yang berada di dalam kungkungannya. Entah sebab efek rindu atau apa tetapi Gavin beribu kali terlihat lebih tampan dan menawan malam ini, membuat Vallerie ingin menguasainya.</p>

<p>“Kamu ganteng,” ucap Vallerie.</p>

<p>“Hah? Kamu bilang apa?” balas Gavin kebingungan.</p>

<p>“Aku jadi pengen,” final Vallerie.</p>

<p>Di detik berikutnya, gadis cantik itu menangkap rangka tegas yang ada di hadapannya. Diciumnya bibir yang selalu menggoda sanubarinya itu. Dengan ganas, Vallerie menikmati makanan pembukanya alias bibir manis Gavin. Sementara itu, Gavin yang lagi-lagi diberi tembakan maut seperti itu hanya mampu membeku di tempatnya sembari kedua tangannya memegang erat lengan kurus yang bertumpu di atasnya.</p>

<p>“Nghh,” lenguhan pertama Vallerie lolos karena permainannya sendiri.</p>

<p>Gavin paham bahwa gadis cantiknya ini selain membutuhkan kepastian atas hubungan mereka juga merindukan sosok untuk diajak bermain intim. Oleh sebab itu, tanpa basa-basi, Gavin bergabung ke dalam permainan panas tersebut. Ia memeluk tubuh mungil Vallerie sembari membalas cumbuannya dengan penuh gairah. Setelah beberapa pekan, Gavin dan Vallerie kembali bertemu dengan cara mereka.</p>

<p>Kemudian, tangan kanan Vallerie bergerak mengusap dada bidang Gavin yang masih terlapisi kemeja hitam andalannya. Sedangkan, tangan kanan Gavin bergerak menekan tengkuk Vallerie agar cumbuaan mereka terasa lebih dalam dan nikmat. Entah sudah terhitung berapa kali sepasang kepala itu berganti arah, dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Permainan yang sedang berlangsung terasa semakin panas dan menuntut.</p>

<p>“Nghh, ahhh,” desah Vallerie saat ciuman hangat itu berpindah ke area lehernya.</p>

<p>Di sana, untuk pertama kalinya, Gavin memberikan gadis cantiknya tanda khas kepemilikan berwarna ungu kemerahan. Vallerie sangat menikmati bagaimana Gavin menandainya setiap inci demi inci pada permukaan kulitnya seolah tubuh indahnya adalah milik lawan mainnya. Tidak sampai di situ saja, tangan besar itu kembali bergerak mengusap perut rata Vallerie yang hangat.</p>

<p>“Mphhh,” lenguh Vallerie tertahan. Ia menggigit bibir bagian bawahnya.</p>

<p>“Enak, Vall?” bisik Gavin dengan suara baritonnya.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Nghh, iya,” jawabnya.</p>

<p>“Lagi?” tanya Gavin menggoda.</p>

<p>Vallerie kembali mengangguk. “Iya,” jawab gadis cantik itu yakin.</p>

<p>Mendengar ada permintaan yang tidak bisa ia tolak, Gavin dengan segera merubah keadaan. Ia memutar balik posisinya dengan Vallerie. Jika tadi Vallerie yang memegang kendali, kali ini giliran Gavin yang menguasai gadisnya. Dua pasang netra itu kembali bertemu seolah saling mengirimkan sinyal permainan panas malam ini harus berjalan sempurna setelah apa yang sudah mereka lewati.</p>

<p>Selanjutnya, tangan kanan lelaki tampan itu bergerak membuka satu per satu kancing baju piyama berbahan satin yang melindungi tubuh indah Vallerie. Sementara itu, Vallerie melakukan hal serupa, dibukanya kancing demi kancing kemeja hitam yang terlihat sangat cocok dipakai oleh Gavin. Selain melempar atasan satu sama lain, kedua insan itu saling melempar senyum sebelum memulai permainan yang lebih panas.</p>

<p>“Ahh, Kak,” desah Vallerie saat Gavin tiba-tiba meremas payudaranya yang masih terlindungi oleh bra.</p>

<p>“Aku kangen banget sama kamu, Vall,” ucap lelaki tampan itu di sela-sela permainan.</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie tersenyum sembari menggigit bibir bagian bawahnya sebab rasa geli dan bahagia yang datang bersamaan. “Nghh, apa, Kak?” ledeknya. “Aku, ahh, nggak denger.”</p>

<p>Gavin menyeringai. Ia tahu bahwa gadis cantik yang sedang ia coba kuasai ini berusaha menggodanya. Gavin memangkas jarak yang memang sudah deka tantara dirinya dan Vallerie. Lalu, tangan besarnya bergerak melepas kaitan bra yang menutupi sepasang gunung sintal kesukaannya. Ia meremas sebelah payudara itu. Sedangkan, payudara lainnya yang terbebas ia isap ujungnya.</p>

<p>“Nghh, ahhh,” desah Vallerie sebab rasa nikmat yang perlahan meningkat.</p>

<p>Gavin menjeda sebentar permainannya. “Aku bilang, aku kangen kamu, Vallerie,” ulangnya. Setelahnya, ia melanjutkan kegiatannya semula.</p>

<p>Vallerie terkekeh. Ia mengusap kepala lelaki tampan kesayangannya yang tengah sibuk menyusu padanya. “Ahh, Kak,” lirihnya. “Aku nggak denger, nghhh, apa-apa.”</p>

<p>Vallerie masih berdiri di atas pendiriannya. Namun, bukan Gavin namanya apabila ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia kembali mendekatkan tubuhnya pada tubuh mungil di dalam kungkungannya. Gavin menjilat daun telinga Vallerie sehingga seluruh tubuhnya meremang. “Udah mulai nakal, ya,” ucapnya sembari menyeringai.</p>

<p>Vallerie berani bersumpah bahwa kalimat yang baru saja Gavin ucapkan padanya sukses membuat gairahnya sampai pada level tertinggi. Ia memejamkan matanya untuk kemudian menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit ruang tengah. Di sisi lain, Gavin kembali melanjutkan permainannya. Ia mengomando Vallerie untuk melumuri jari telunjuk dan jari tengahnya menggunakan air liur dari mulutnya.</p>

<p>“Basahin,” perintah lelaki tampan itu.</p>

<p>“Kak,” panggil Vallerie yang mulai merasa khawatir.</p>

<p>“Basahin, Vallerie,” ulang Gavin dengan nada suara yang jauh lebih tegas.</p>

<p>Vallerie menelan salivanya. Meskipun begitu, ia tetap melakukan ultimatum yang sudah disampaikan padanya. Vallerie tahu permainan panas malam ini akan jauh terlihat dan terasa lebih menarik sebab jarak dan waktu yang sudah keduanya rasakan. Ia menggenggam tangan besar itu menggunakan kedua tanggannya untuk kemudian mulai menjilat dan melumat dua jari yang juga besar itu dengan cara yang sesensual mungkin.</p>

<p>Vallerie dapat melihat dengan jelas bagaimana Gavin mulai tidak sabar dengan trik yang ia ciptakan sendiri. Gavin menatap Vallerie seolah dirinya adalah makan malamnya. Sepertinya, Gavin memang tidak tahan dengan godaan dari gadisnya. Berikutnya, yang terjadi adalah lelaki tampan itu dengan tiba-tiba bergerak melepaskan celana pendek beserta celana dalam yang Vallerie kenakan.</p>

<p>“Berani berbuat, berani bertanggung jawab, Vallerie,” ucap Gavin.</p>

<p>Vallerie bertaruh. Malam ini, Gavin seolah dirasuki oleh makhluk pencinta seks. Ia dapat melihat binar dari sepasang manik yang serupa konstelasi bintang di semesta itu terlihat berbeda. Kemudian, Gavin membuka sabuk yang melingkari pinggangnya dan memasangkannya kepada Vallerie. Ia letakkan sepasang lengan kurus itu di atas kepala sang empunya.</p>

<p>Gavin sempat melengang dari atas sofa tersebut dan berjalan ke arah tas ranselnya. Dari dalam tas yang banyak berisikan buku dan kliping makalah itu, ia mengeluarkan sebuah dasi berwarna hitam. Vallerie menganga dibuatnya. Kemungkinan besar sebentar lagi ia akan merealisasikan salah satu adegan dari video porno yang pernah ia saksikan. Dengan langkah pasti, Gavin kembali padanya.</p>

<p>“B-Buat apa, Kak?” tanya Vallerie terbata.</p>

<p>Gavin menyeringai. “Kamu tau betul apa guna dasi ini, Vallerie,” jelasnya.</p>

<p>Lalu, di detik berikutnya, Gavin memakaikan dasi yang diambilnya tadi untuk menghalangi penglihatan gadisnya. Semua hal yang akan terjadi selama beberapa saat ke depan akan menjadi kejutan tersendiri bagi Vallerie atau bahkan bagi Gavin juga. Sebelum memulai permainan yang lebih menantang, Gavin menyempatkan diri untuk mengecup kening lawan mainnya dengan khidmat.</p>

<p>“Kalau aku udah mulai kelepasan, kasih tau aku, ya, Vall,” ujar Gavin sembari membukan celana denim yang melekat di pinggulnya.</p>

<p>Vallerie mengangguk dalam diamnya. Sekarang, permainan inti yang menegangkan akan segera dimulai. Gavin memulainya dengan menangkup dagu gadisnya lalu melumat bibir semerah ceri itu dengan kasar. Vallerie yang memiliki akses terbatas sempat kewalahan menghadapi Gavin yang pergerakannya seolah dipandu oleh iblis. Ia beberapa kali sempat kehabisan napas.</p>

<p>“Nghh, ahh, Kak,” desah Vallerie.</p>

<p>Setelah puas menjamah bibir indah yang saat ini terlihat membengkak itu, Gavin berpindah haluan. Kini, ia sedang sibuk bermain dengan sepasang payudara yang menegang hebat. Gavin tidak memberi ampun dengan mengeksploitasi sebisa mungkin mainan kesukaannya itu. Di satu sisi, tangan kanannya meremas, memijat, dan sesekali memilin ujung payudaranya. Di sisi lain, ia melumat ujung payudara itu menggunakan lidahnya.</p>

<p>“Mphh, Kak, ahhh,” lenguh gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin benar-benar tidak memberinya waktu untuk beristirahat atau ampun sedikit pun kepada Vallerie. Dengan indera penglihatannya yang sepenuhnya tertutup, seluruh permainan yang Gavin ciptakan untuknya terasa seratus bahkan seribu kali lebih nikmat. Vallerie terus mengelukan nama lawan mainnya, di mana lirihan, lenguhan, dan desahan itu menjadi bahan bakar untuk Gavin.</p>

<p>“Ahhh,” lirih Vallerie sedikit berteriak kala ada benda hangat yang melesat masuk ke dalam vaginanya.</p>

<p>Ternyata, Gavin sedang menikmati area kewanitaan gadisnya menggunakan lidahnya sembari ibu jarinya sesekali bergerak memutari klitorisnya. Vallerie seperti dibawa terbang ke langit teratas dengan semua servis yang lelaki tampan kesayangannya itu berikan padanya. Ia tidak menyangka pertemuan khas rasa rindunya akan senikmat ini. Vallerie masih ingat saat Gavin bilang dirinya-lah yang paling mumpuni dalam permainan panas seperti ini.</p>

<p>“Nghhh, ahh, Kak,” lirih Vallerie yang terus merasa kenikmatan.</p>

<p>“Enak, Vall?” tanya Gavin sembari tersenyum puas.</p>

<p>“Ahh, iya, Kak,” jawabnya.</p>

<p>Gavin mendekatkan tubuhnya ke arah Vallerie. Sementara itu, tangan kirinya bergerak mengusap untuk kemudian masuk ke dalam vagina gadisnya. “Apa, Vall? Aku nggak denger apa-apa.” Kali ini, giliran Gavin yang menjahili Vallerie.</p>

<p>“Mphh, Kak,” desah gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin semakin mempercepat tempo kocokannya. “Aku masih nggak denger apa-apa, Vallerie,” ucapnya.</p>

<p>“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie tiada henti. “Iya, enakhh.”</p>

<p>“Pinter,” puji Gavin.</p>

<p>Selanjutnya, lelaki tampan itu menghentikan semua permainannya. Ia membuka dasi yang menutupi kedua matanya gadisnya. Tentunya, hal itu membuat Vallerie bertanya. “Kok nggak ditutup lagi, Kak?” tanyanya.</p>

<p>“Aku mau liat kamu,” jawab Gavin sembari kembali bersiap-siap untuk memasuki gadis cantik itu. “Aku masukin, ya, Vall,” tanyanya.</p>

<p>“Tunggu, Kak,” ucap Vallerie.</p>

<p>Gavin memerhatikan Vallerie yang mulai merubah posisinya. Sepasang netranya membelalak kala mengetahui posisi yang Vallerie pilih adalah doggy style. Saat ini, gadis cantik itu sedang menungging membelakanginya. “Kamu serius, Vall?” tanya Gavin serius.</p>

<p>“Aku pernah bacanya katany gaya kayak gini bikin penis lebih kerasa di dalem, Kak,” jelas Vallerie.</p>

<p>Gavin menganga mendengar kalimat eksplanasi itu. “Riset kamu boleh juga,” ujarnya.</p>

<p>Dengan begitu, Gavin mengusap ujung penisnya sebelum memasuki vagina gadisnya. Sedangkan, Vallerie sekeras mungkin untuk bertahan di atas kedua tangannya yang terbilang lemah. Keduanya melenguh saat penis itu sudah setengah masuk ke dalam vagina, baik Gavin maupun Vallerie, sama-sama memejamkan mata sembari menengadahkan kepala mereka ke arah langit-langit ruang tengah.</p>

<p>“Nghh, ahh,” lirih Gavin.</p>

<p>“Ahhh,” lenguh Vallerie.</p>

<p>Gavin menggoyangkan pinggulnya secara perlahan. Hanya dengan gerakan sederhana yang belum mencapai inti, keduanya sudah merasakan surga dunia. Vallerie lagi-lagi benar. Gaya yang dipilihnya memang memberikan kenikmatan yang hakiki bagi keduanya. Lalu, Gavin kembali meneroboskan penisnya agar masuk dengan sempurna. Ia dapat merasakan ujung penisnya mulai menyentuh dinding rahim.</p>

<p>“Mphh, Kak,” desah Vallerie tertahan.</p>

<p>“Nghh, enak, Vall,” lenguh Gavin.</p>

<p>“Terusin, Kak,” pinta gadis cantik itu.</p>

<p>Ada kalimat perintah seperti demikian, Gavin menambah tempo kecepatan gempurannya. Tubuh polos keduanya bergerak sesuai irama ketukan, di mana ketukan tersebut menandakan kenikmatan yang terjadi. Suara kecipak permukaan kulit yang saling bertemu serta decitan kaki sofa yang seolah meminta tolong menjadi saksi bisu atas permainan panas yang terjadi di antara Gavin dan Vallerie.</p>

<p>“Ahh, cepetin, Kak, nghhh,” ujar Vallerie.</p>

<p>Tanpa jawaban secara lisan, Gavin menambah kecepatannya tiga kali lebih cepat dibanding semula. Vallerie dapat merasakan dengan jelas bagaimana ujung penis besar nan berurat itu menabrak dinding rahimnya dengan keras. Permainan panas kali ini terasa sangat memuaskan, terlihat bagaimana Gavin dan Vallerie membantu satu sama lain agar mencapai nikmat bersama.</p>

<p>“Kerasin lagi, mphhh, Kak,” ucap Vallerie.</p>

<p>Gavin mulai paham bahwa di setiap permainan intim antara dirinya dan Vallerie selalu ada permintaan yang akan gadis cantik itu selipkan. Ia bangga dengan gadisnya sebab dapat menikmati permainan mereka dengan baik. Belum lagi, kenikmatan itu tidak hanya dirasakan oleh Vallerie saja, melainkan dirinya juga ikut merasakan. Gavin bersyukur hatinya jatuh kepada Vallerie.</p>

<p>“Nghh, Kak, aku mau, ahhh, keluar,” jelas Vallerie susah payah.</p>

<p>“Mphh, aku juga, Vall,” balas Gavin.</p>

<p>Setelahnya, keduanya bergerak secepat dan sekeras yang mereka bisa agar dapat menjemput pelepasannya masing-masing. Bulir demi bulir keringat membanjiri wajah cantik dan tampan mereka. Seluruh usaha serta tenaga sudah dikerahkan pada permainan panas malam ini. Sepertinya, permainan panas kali ini Sebagian adalah bentuk balas dendam atas rindu yang ada.</p>

<p>“Ahh!” pekik Vallerie.</p>

<p>Ternyata, gadis cantik itu mencapai titik ternikmatnya lebih dulu. Tubuhnya tumbang sebab kedua tangannya yang sudah tidak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Berbeda dengan Vallerie, Gavin masih berusaha untuk mencapai klimaks. Kemudian, ide gila tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Ia meraih tubuh mungil Vallerie untuk kemudian bermain dengan sepasang payudaranya yang menggelantung dengan bebas.</p>

<p>“Nghh, Kak, ahhh,” desah Vallerie.</p>

<p>Gavin mampu membuat gadis cantik itu kembali mengelukan namanya. Tidak hanya sampai di situ, Vallerie kemungkinan besar akan menjemput klimaksnya lagi. Ia mengumpat di dalam hatinya tetapi bukan artinya ia tidak menikmati permainan tambahan ini. Padahal, indera penglihatannya sudah tidak tertutup lagi. Namun, Gavin memberikannya kejutan dalam bentuk lain.</p>

<p>“Akh!” pekik Gavin.</p>

<p>“Ahh!” pekik Vallerie lagi.</p>

<p>Keduanya tumbang bersamaan. Dengan tubuh yang dibanjirin keringat, Gavin dan Vallerie sama-sama diburu napas. Gavin memeluk Vallerie dengar erat. Vallerie dapat melihat dengan jelas dada bidang itu terlihat kembang kempis di hadapannya dan keadaan itu pun tak jauh berbeda dengannya. Ia merentangkan tangannya agar dapat memeluk tubuh besar yang mendekapnya.</p>

<p>“Capek, Vall?” tanya Gavin.</p>

<p>“Lumayan, Kak,” jawabnya.</p>

<p>“Sama,” sahut Gavin. “Aku juga.”</p>

<p>Vallerie mengangkat pandangannya agar dapat melihat wajah tampan itu dengan lebih jelas. “Kamu kayak orang gila,” pujinya dalam bentuk umpatan.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin tertawa. “Kamu juga sama gilanya,” balasnya.</p>

<p>Vallerie memukul dada lelaki kesayangannya. “Aku kalau main sama kamu selalu keluar dua kali,” jelasnya.</p>

<p>“Ya, jelas dong,” ucap Gavin. “Kamu tau cara menikmati permainan,” lanjutnya.</p>

<p>Setelahnya, selama beberapa saat, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara keduanya. Gavin dan Vallerie sibuk mengatur kembali oksigen agar masuk dengan sempurna ke sistem pernapasan mereka. Di satu sisi, Gavin sibuk mengusap pucuk kepala gadisnya. Di sisi lain, Vallerie sibuk memainkan jari telunjuknya di dada bidang lelaki tampan kesayangannya.</p>

<p>Paling tidak, sampai Gavin berinisiatif memecah keheningan. “Vall,” panggilnya.</p>

<p>“Apa?” sahut Vallerie.</p>

<p>“Maaf, ya,” ucapnya tanpa menatap wajah cantik gadisnya.</p>

<p>Vallerie hanya berdehem singkat menjawab pernyataan yang satu itu. Gavin tahu ini tidak mungkin mudah baginya, apalagi bagi Vallerie. Jadi, untuk saat ini dan entah sampai kapan, Gavin akan mengikuti bagaimana alur berjalan sesuai kemauan gadis cantik kesayangannya. Ia akan melakukan apapun demi memperbaiki hubungannya dengan Vallerie sebab gadis cantik itu adalah alasan dia menjalani hari-harinya.</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin lagi.</p>

<p>“Apa, Kak?” jawab Vallerie tidak semangat. Sepertinya, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.</p>

<p>Gavin menatap wajah cantik yang berposisi lebih rendah darinya. “Aku mau mandi,” ucapnya.</p>

<p>“Ya, udah,” jawab Vallerie sekenanya. “Sana.”</p>

<p>“Kamu nggak mau ikut?” tanya Gavin.</p>

<p>“Duluan aja deh, Kak,” kata gadis cantik itu. “Badan aku masih lemes banget.”</p>

<p>“Oh, oke,” balas Gavin. “Kalau jadi pacar aku, mau?” tanya lelaki tampan itu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/reward-and-punishment</guid>
      <pubDate>Sat, 20 May 2023 15:21:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ambivalent</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/ambivalent?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Di tengah musik yang mengalun dengan keras, keempat eksekutif muda, Syahra, Nada, Jasmine, dan juga Kamilla tengah sibuk membahas isu yang sedang panas di semua kalangan pebisnis ulung. Ya, apalagi jika bukan Heuston yang menarik diri dari akuisisi bersama Morelle.&#xA;&#xA;“Audin nolak gitu aja? Lo serius, Ra?” tanya Nada.&#xA;&#xA;Syahra mengusap bibir gelas minumannya menggunakan jari telunjuknya. Ia mengangguk sekali. “Iya,” jawab wanita cantik itu pasrah.&#xA;&#xA;“Gue gak paham deh sama pola pikir Audin,” tambah Kamilla. “Maksud gue, Syahra udah rela bikin perusahaan lain waiting list cuma gara-gara ngasih kesempatan kedua buat Heuston.”&#xA;&#xA;“Lo pada seharusnya gak usah heran,” kata Jasmine. “Lo liat aja gimana dulu Audin ninggalin Syahra,” ucapnya. “No offense, ya, Ra.”&#xA;&#xA;Syahra hanya tersenyum datar menanggapi pernyataan yang dilontarkan temannya itu. Jasmine tidak sepenuhnya salah. Ia bahkan masih ingat betul bagaimana surat cerai itu tiba-tiba ada di meja kantornya di pagi hari yang cerah setelah kepulangannya dari rumah sakit. &#xA;&#xA;“Ya, mau gimana lagi,” ujar Syahra. “Mungkin Audin punya alasan tersendiri.”&#xA;&#xA;“Masih aja dibela,” sindir Kamilla sembari menegak minuman yang bertengger di tangan kanannya.&#xA;&#xA;Setelahnya, tidak ada lagi percakapan dengan topik berat di antara mereka berempat. Syahra dan teman-temannya sepakat untuk bersenang-senang dan meninggalkan sejenak pekerjaan mereka yang menumpuk malam ini. Keempatnya butuh waktu untuk menyalurkan penatnya.&#xA;&#xA;“Suami lo gimana, Mil?” tanya Jasmine. &#xA;&#xA;“Apanya?” balas Kamilla dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Winston gak keberatan lo hangout sama kita di sini?” tanya Nada.&#xA;&#xA;Kamilla mengibaskan telapak tangannya beberapa kali. “Tenang aja,” katanya. “Asal sama kalian, Winston pasti ngebolehin.”&#xA;&#xA;“Berarti lo nanti dijemput sama dia?” tanya Jasmine lagi.&#xA;&#xA;Kamilla mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Bisa jadi nanti dia nyusul gue ke sini.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Syahra langsung menegakkan posisi duduknya. “Gak sama Audin kan?” tanyanya dengan nada tidak santai.&#xA;&#xA;“Hai, Sayang,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba datang.&#xA;&#xA;“Hai, Win,” sapa Kamilla. “Rapatnya udah selesai?” tanyanya.&#xA;&#xA;Winston mendudukkan dirinya di sebelah istrinya. Ia mengecup singkat pipi kanan Kamilla. “Udah,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Kalau udah punya suami mah beda, ya,” celetuk Nada.&#xA;&#xA;Winston dan Kamilla terkekeh pelan mendengar pernyataan Nada. “Kenapa, Nad? Iri? Mau gue comblangin gak?” ledek Winston bertubi-tubi. &#xA;&#xA;“Mau dong!” jawab Nada semangat.&#xA;&#xA;“Sini sama gue,” sahut Gerald yang tiba-tiba datang.&#xA;&#xA;Melihat kehadiran Gerald yang muncul bak hantu, Nada melengos. “Gak makasih,” tolaknya. “Mending gue jomblo seumur hidup.”&#xA;&#xA;“Mulutnya, Nad,” tegur Jasmine. &#xA;&#xA;Di antara perbincangan antara para elit itu, ada seseorang yang dengan sengaja diam pada tempatnya sehingga menyerupai patung. Meskipun begitu, sepasang maniknya menelisik serta hatinya berharap bahwa Audin tidak datang ke tempat ini, setidaknya malam ini.&#xA;&#xA;“Kamu mau turun, Win?” tanya Kamilla pada suaminya.&#xA;&#xA;“Kamu mau? Ayo,” ajak Winston.&#xA;&#xA;Winston dan Kamilla menjadi pasangan pertama yang turun dari lantai dua menuju lantai dansa. Di meja bundar tersebut menyisakan Gerald yang sibuk adu mulut dengan Nada beserta Brandon dan juga Jasmine. &#xA;&#xA;“Lo pada mending turun deh,” ucap Jasmine. “Gue pusing liat kalian berantem.”&#xA;&#xA;Akhirnya, Nada turun ke lantai dansa. Namun, bukan bersama Gerald, melainkan Jasmine. Demi mengikuti langkah Nada, Gerald menyeret Brandon untuk ikut turun ke lantai dansa. Sekarang, hanya Syahra yang tersisa.&#xA;&#xA;“Gue pusing banget,” gumam Syahra.&#xA;&#xA;Sepertinya, banyak hal yang sedang mengganggu pikiran wanita cantik itu. Isi dari gelas yang digenggamnya sudah habis dalam waktu kurang dari lima belas menit. Syahra meletakkan gelas kosong itu di hadapannya dan hendak memanggil pelayan wanita.&#xA;&#xA;Gayung bersambut. Seorang pelayan wanita datang menghampirinya. Namun, saat Syahra akan menyebutkan pesanannya, pelayan wanita tersebut meletakkan sebuah gelas martini dengan buah ceri yang bertengger di atasnya.&#xA;&#xA;“Silakan,” kata pelayan wanita itu. “Pesanannya, Nona.”&#xA;&#xA;“Tapi saya belum order,” kata Syahra. &#xA;&#xA;“Minumannya sudah dipesan oleh seseorang, Nona,” balas pelayan wanita tersebut.&#xA;&#xA;Sepersekian detik setelahnya, pemesan yang dimaksud oleh pelayan wanita tersebut datang. “Makasih,” ucap Audin kepada pelayan wanita tersebut sembari memberinya tip sebagai tanda terima kasih. Setelahnya, pelayan wanita tersebut pergi. “Masih jadi kesukaan kamu ‘kan?” tanya lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Syahra tersenyum sembari mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Cherry on top.”&#xA;&#xA;“Aku boleh duduk di sini?” tanya Audin lagi.&#xA;&#xA;Syahra kembali mengangguk. “Boleh kok.”&#xA;&#xA;Audin mendudukkan dirinya di sebelah kanan Syahra dengan jarak yang cukup terpaut. “Kamu ke sini sama siapa?” tanyanya basa-basi. Sebenarnya, Audin tahu bahwa mantan istrinya itu datang bersama Nada, Jasmine, dan Kamilla. &#xA;&#xA;“Biasa,” jawab Syahra lagi. “Nada, Jasmine, Kamilla.”&#xA;&#xA;Audin mengangguk paham. “Kamu kenapa gak turun bareng mereka?” Ia mengidikkan dagunya ke arah teman-temannya beserta teman-teman mantan istrinya yang sedang asyik berdansa di lantai dansa.&#xA;&#xA;Syahra menggeleng sekali. “Enggak,” jawabnya. “Aku lagi capek.”&#xA;&#xA;“Kerjaan lagi hectic banget, ya?” Audin tiada henti-hentinya mewawancarai wanita cantik itu.&#xA;&#xA;“Kamu lucu deh, Na.” Bukannya menjawab pertanyaan yang mantan suaminya lontarkan padanya, Syahra malah menyindir Audin.&#xA;&#xA;“Maksudnya?” balas Audin dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Perasaan dulu pas masih sama aku, kamu gak pernah sepeduli ini,” ujar Syahra. &#xA;&#xA;Audin menghela napasnya. Sejenak, ia tatap sepatu pantofelnya yang memijak pada lantai klub yang dingin untuk kemudian kembali menatap sepasang manik yang selalu menjadi kesukaannya itu dengan nanar. “Bukan gitu maksud aku, Ra.”&#xA;&#xA;“Kamu kenapa mundur dari akuisisi kita?” tanya Syahra skak mat. “Kali ini, tolong… kasih alasan yang masuk akal,” tambahnya.&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan yang Syahra ucapkan, Audin membatu. Pikiran dan emosinya terlalu kalang kabut untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Audin tahu betul bahwa Syahra berhak atas penjelasan darinya. &#xA;&#xA;“Kalau kamu enggan karena aku mantan istri kamu…,” ucap Syahra menggantung. “Anggap aku mitra kamu. Kamu tau ‘kan, Na? Kalau aku butuh penjelasan kenapa kamu mundur dari kesepakatan kita.”&#xA;&#xA;Audin mengangguk pelan. “Iya, Ra,” katanya. “Aku tau.”&#xA;&#xA;“Jadi, kenapa Heuston mundur dari kandidat akuisisi sama Morelle?” tanya Syahra lagi. “Padahal, seperti yang kamu tau, Heuston punya peluang paling besar untuk akuisisi sama Morelle.”&#xA;&#xA;Untuk berapa saat, Audin diam. Bukannya tak ingin menjawab pertanyaan dari mitra perusahaannya itu tetapi perihal apa yang akan disampaikannya kepada Syahra. Sementara itu, Syahra masih menunggu jawaban dari Audin.&#xA;&#xA;“Ra,” panggil Audin. Ia memfokuskan pandangannya pada wajah cantik yang selalu sukses menyihir perasaannya. “Boleh aku ngomong jujur?” tanya Audin serius.&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan yang Syahra pikir mustahil keluar dari mulut Audin, wanita cantik itu tersenyum dalam diamnya. Pasalnya, hal inilah yang Syahra inginkan dari Audin selama menjadi suaminya maupun mitra kerjanya. “Boleh, Na,” jawab Syahra. “Kamu boleh ngomong apapun sama aku.”&#xA;&#xA;“Kamu tau ‘kan kalau Heuston bukan aku yang bangun tapi Papi,” ujar Audin.&#xA;&#xA;Syahra mengangguk. “Iya,” katanya.&#xA;&#xA;“Waktu aku nikah sama kamu, bahkan sebelum aku nikah sama kamu, Heuston sering banget ngalamin masalah,” jelas Audin. “Papi pengen aku jadi penerusnya tapi di hati aku yang paling dalam aku gak pengen jadi pebisnis,” lanjutnya. “Jadinya, setelah aku take over Heuston, ada aja masalah yang terjadi.”&#xA;&#xA;“Emangnya kamu sukanya apa, Na?” tanya Syahra lembut.&#xA;&#xA;Audin menolehkan pandangannya ke arah Syahra. Ia tersenyum. “Acting,” jawabnya. “Atau musik,” tambahnya. “Pokoknya yang berhubungan dengan seni.”&#xA;&#xA;Syahra mengangguk paham. “Pantes aja kamu banyak tau trivia tentang seni,” ujarnya.&#xA;&#xA;“Iya, ya,” ucap Audin. “Aku bahkan gak sadar.”&#xA;&#xA;“Kamu udah pernah coba ngomong jujur ke Papi?” tanya Syahra lagi tetapi kali ini lebih serius.&#xA;&#xA;Audin menggeleng. “Aku anak tunggal, Ra,” katanya. “Aku gak tega kalau harus ngehancurin harapan Papi sama anak satu-satunya ini. Cuma aku satu-satunya harapan Papi,” lanjut lelaki tampan itu. Audin kembali menundukkan pandangannya. “Belum lagi, setelah nikah sama kamu… aku banyak nyusahin kamu.”&#xA;&#xA;Mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut mantan suaminya itu, Syahra sempat terdiam. “Kamu tau kamu gak nyusahin aku, Na.”&#xA;&#xA;Audin tersenyum masam. “Aku banyak nyusahin kamu, Ra,” ucapnya. “Setelah kamu nikah sama aku, kamu jadi lebih sering pulang malem dan bulak-balik keluar kota untuk bantu ngurusin Heuston karena aku gak becus.”&#xA;&#xA;“Aku juga pebisnis, Na,” tegas wanita cantik itu. “Itu udah bagian dari kewajiban aku.”&#xA;&#xA;“Kamu ngurusin aku, Heuston, Morelle, dan calon anak kita yang ada di dalem perut kamu,” jelas Audin. &#xA;&#xA;Kalimat terakhir yang diucapkan diam mampu membuat Syahra terdiam seribu bahasa. Padahal, Syahra hampir lupa dengan kejadian itu, di mana dirinya mengalami keguguran karena terlalu lelah bekerja. &#xA;&#xA;“Aku gagal ngurusin Heuston, aku gagal bantu kamu ngurusin Morelle, aku gagal jadi suami kamu, dan aku juga gagal jadi ayah dari calon anak kita,” ujar Audin. “Kenapa aku batalin akuisisi sama Morelle? Karena aku tau aku gak akan bisa ngurusin itu semua, Ra.” Ia mengusap wajahnya kasar.&#xA;&#xA;Syahra baru tahu bahwa Audin sama terpukulnya dengan dirinya saat mereka kehilangan calon bayi yang ada di perutnya. Yang Syahra tahu hanyalah Audin dengan tega meninggalkannya sehari setelah dirinya mengalami keguguran. &#xA;&#xA;Syahra mendekatkan dirinya ke arah Audin. Ia mengusap bahu lebar yang dulu sering menjadi tempatnya bersandar. “Na,” panggilnya.&#xA;&#xA;Yang dipanggil namanya menoleh. Syahra dapat melihat dengan jelas sepasang manik yang biasanya terlihat tegas itu kini memerah. Audin menahan tangisnya. Di saat seperti itu, Syahra tetap tersenyum agar tidak memperkeruh suasana.&#xA;&#xA;“Kamu gak gagal,” kata Syahra. “Semua orang mengalami yang namanya ‘pertama kali’,” ucapnya. “Bukan salah kamu kalau kamu gagal ngurus semua keperluan Heuston, apalagi bakat dan kemauan kamu bukan di situ. Bukan salah kamu juga kalau aku keguguran dan kehilangan anak kita.”&#xA;&#xA;“Andai aku bisa berbuat lebih, Ra, mungkin semua ini gak akan terjadi,” ungkap Audin.&#xA;&#xA;Syahra menggeleng sebab tidak setuju dengan pernyataan tersebut. “Enggak, Na, kamu udah berbuat cukup, sangat cukup,” ujarnya. &#xA;&#xA;Mendengarnya, Audin bergerak merengkuh tubuh mungil yang duduk di sampingnya. Ia sembunyikan wajah tampannya yang sudah berlinangan air mata pada ceruk leher mantan istrinya. &#xA;&#xA;“Maafin aku, Ra,” ucap Audin.&#xA;&#xA;Syahra mengusap punggung lebar yang menanggung banyak beban itu dengan lembut. “Iya, Na.”&#xA;&#xA;Audin sangat merindukan masa-masa bersama Syahra, masa-masa di mana Syahra selalu ada untuk menyiapkan semua keperluan, membantunya menyelesaikan pekerjaan, sampai menenangkannya apabila lelah sedang melanda harinya. &#xA;&#xA;Bagi Audin, Syahra adalah sebaik-baiknya perempuan yang pernah ditemuinya, bahkan mendekati kata sempurna. Jika memungkinkan, Audin ingin Syahra kembali hadir di dalam hidupnya.&#xA;&#xA;Syahra melepaskan pelukannya dengan Audin. Ia tangkup rangka wajah tegas yang tampan itu. Ibu jarinya bergerak menyeka jejak air mata yang ada. Ditatapnya sepasang manik yang masih menyisakan air mata penyesalan itu.&#xA;&#xA;“Na,” panggil Syahra.&#xA;&#xA;“Iya, Ra,” sahut Audin.&#xA;&#xA;“Udah lega?” tanya wanita cantik itu.&#xA;&#xA;Audin mengangguk sekali. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik di depannya. Dikecupnya kening yang sangat ia rindukan itu. “Udah,” jawabnya. “Makasih, ya, Ra.”&#xA;&#xA;“Yang kuat, ya, Na,” ucap Syahra. “Kamu hebat udah sampai di sini.”&#xA;&#xA;“Ra.” Kali ini, Audin yang memanggil nama mantan istrinya itu.&#xA;&#xA;“Iya, Na,” balas Syahra.&#xA;&#xA;“Seandainya aku minta kesempatan kedua dari kamu… untuk kita, mungkin gak?” tanya Audin.&#xA;&#xA;Bersama pertanyaan yang lelaki tampan itu lontarkan, jantung Syahra meledak. Audin melamarnya untuk yang kedua kali di tempat pertama kali mereka bertemu. Syahra tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Bagaimana pun, Audin memiliki hatinya.&#xA;&#xA;Serupa dengan Audin, wanita cantik itu juga ingin memulai lembaran baru dengan pujaan hatinya itu. Syahra tersenyum lalu mengangguk pelan. Lengkungan seindah jagat raya itu dibalas serupa oleh Audin.&#xA;&#xA;“Ikut aku, Ra,” ajak Audin.&#xA;&#xA;Audin menggenggam tangan wanitanya itu agar mengikuti langkahnya. Ia membawa Syahra menuju lantai teratas dari bangunan yang sekarang mereka singgahi. Sesampainya di sana, Audin dan Syahra dapat melihat dengan jelas pemandangan city light dari atas sana.&#xA;&#xA;“Cantik, ya, Na,” ujar Syahra.&#xA;&#xA;Berbeda dengan Syahra yang sibuk memfokuskan atensinya ke arah lampu yang terlihat seperti kunang-kunang dari ketinggian bangunan tersebut, Audin memusatkan pandangannya pada wajah cantik yang berdiri di sampingnya.&#xA;&#xA;“Iya, Ra,” balas Audin. “Cantik.”&#xA;&#xA;“Aku udah lama gak menghirup udara malam,” kata Syahra.&#xA;&#xA;“Aku juga udah lama,” tambah Audin.&#xA;&#xA;Syahra menolehkan pandangannya ke arah Audin. “Udah lama apa?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Udah lama gak menghirup kamu,” celetuk Audin sembari tersenyum. &#xA;&#xA;“Mulai deh,” protes Syahra.&#xA;&#xA;Kemudian, dengan gerakan secepat angin, Audin memeluk Syahra dari belakang. “Tapi serius, Ra,” katanya. “Aku sekangen itu sama kamu sampai mau mati rasanya. Entah apa jadinya aku kalau gak sama kamu.”&#xA;&#xA;Syahra tersenyum. Ia sangat suka bagaimana Audin merangkai kata-kata indah untuknya walaupun cukup jarang dilakukan. Syahra memeluk dirinya sendiri di atas lengan besar yang melingkarinya.&#xA;&#xA;“Aku juga kangen sama kamu, Na,” balas wanita cantik itu.&#xA;&#xA;Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara Audin dan Syahra. Sepasang suami dan istri yang baru saja rujuk itu sibuk menatap intens pemandangan masing-masing. Audin dengan Syahra dan Syahra dengan city light view.&#xA;&#xA;“Na,” panggil Syahra membuka suara.&#xA;&#xA;“Iya, Ra,” balas lelaki tampan itu lembut.&#xA;&#xA;“Aku boleh minta sesuatu sama kamu?” tanya Syahra serius. &#xA;&#xA;Audin yang sedari tadi menenggerkan dagunya pada bahu Syahra kini menoleh ke arah sumber suara. “Anything, Ra,” jawabnya. “Selama aku mampu, aku akan berusaha turuti apapun kemauan kamu.”&#xA;&#xA;“Janji, ya, sama aku,” ucap Syahra. “Kalau ada apa-apa, kita diskusikan bareng-bareng. Kamu jangan pendam semuanya sendiri,” katanya. “Aku ada buat kamu dan sebaliknya, Na,” jelasnya. &#xA;&#xA;Audin tersenyum. Syahra selalu memiliki cara untuk merepih dirinya beserta kelemahannya tanpa membuatnya merasa rendah diri. Audin tahu bahwa dirinya kembali jatuh cinta pada wanita hebat yang ada di dalam dekapannya. “Iya, Ra. Aku janji,” ucapnya.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Syahra tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala yang berada tepat di samping kanannya. Audin ikut tersenyum. Ia mendekatkan wajah tampannya pada wajah cantik sang istri. Hidung bangir keduanya saling bertemu.&#xA;&#xA;Audin dan Syahra saling melempar tatap khas rasa rindu dari jarak mereka yang hanya terpaut beberapa senti itu. Audin, dengan gerakan perlahan tetapi pasti, mendekatkan bibirnya ke arah bibir ranum Syahra. Di detik berikutnya, kedua belahan itu berjumpa setelah sekian lama.&#xA;&#xA;Bentangan semesta yang dihiasi oleh bintang menjadi saksi bisu bahwa Audin dan Syahra memutuskan untuk kembali bersama dan memulai kehidupan yang baru. Sepertinya, keduanya sama-sama dimabuk rindu.&#xA;&#xA;Pagutan yang terjadi di antara sepasang suami dan istri itu enggan untuk disudahi. Angin malam yang dingin terasa kontras dengan ciuman mereka yang semakin memanas. Audin mengeratkan pelukannya dan Syahra menekan tengkuk lawan mainnya.&#xA;&#xA;“Mphhh,” lenguh Syahra kala merasa cumbuan itu semakin menuntut padanya.&#xA;&#xA;Audin mendorong pelan tubuh mungil istrinya agar merapat pada tembok yang menjadi pembatas antara mereka dengan langit malam. Kemudian, ia bubuhi tengkuk Syahra dengan ciuman. &#xA;&#xA;“Nghhh, Na,” lirih wanita cantik itu.&#xA;&#xA;Audin sudah lama tidak menyentuh istrinya. Ia tidak menyangka rasanya terasa jauh lebih nikmat karena rindu yang sempat dipendamnya. Audin tidak memberi kesempatan bagi Syahra untuk membalas. &#xA;&#xA;“Ahh, Na,” desah Syahra. “Jangan di sini,” pintanya.&#xA;&#xA;Mendengar permintaan tersebut, Audin berhenti. Ia terkekeh dan berkata. “Maaf, ya,” ucapnya sembari mengusap tengkuknya canggung. “Aku kangen banget sama kamu.”&#xA;&#xA;Syahra ikut terkekeh mendengar respon menggemaskan dari suaminya. Kali ini, wanita cantik itu yang menggenggam tangan besar Audin. Ia menarik lelaki tampan itu agar mengikuti langkahnya.&#xA;&#xA;Audin dan Syahra menuruni satu per satu anak tangga untuk menuju lift. Setelah masuk ke dalam lift, keduanya hanya turun tiga lantai. Syahra membawanya menuju penthouse yang tersedia di dalam bangunan tersebut. &#xA;&#xA;“Penthouse ini punya kamu?” tanya Audin.&#xA;&#xA;Syahra menggeleng. “Bukan sih,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Punya siapa?” tanya Audin lagi.&#xA;&#xA;“Kamu,” ucap Syahra sembari tersenyum lebar. Ia mengajak sang suami untuk masuk ke dalam kamar utama. “Tadinya aku mau kasih surprise untuk ulang tahun kamu,” jelasnya. “Tapi kamunya malah minta cerai.”&#xA;&#xA;Mendengar penjelasan dari Syahra, Audin hanya dapat tersenyum masam. “Waduh,” ucapnya. “Aku minta maaf, ya.”&#xA;&#xA;Syahra tertawa lepas. “Kamu udah tiga kali minta maaf sama aku, Na.”&#xA;&#xA;“Kesalahan aku terlalu besar, Ra,” sahut Audin. “Aku akan selalu minta maaf sama kamu.”&#xA;&#xA;Syahra menggeleng beberapa kali. Ia menempatkan jari telunjuknya di depan bibir Audin. “Enggak, Na,” katanya. “Kamu udah minta maaf dengan tulus dan janji sama aku. Itu udah sangat cukup,” jelas Syahra.&#xA;&#xA;“Tapi, Ra—” Belum sempat Audin merampungkan kalimatnya.&#xA;&#xA;Syahra menyambar terlebih dahulu. “Daripada kamu minta maaf terus, mending kamu lanjutin yang tadi,” godanya.&#xA;&#xA;Audin terkekeh. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menolak permintaan dari istrinya itu, apalagi perihal berbagi kasih seperti ini. Di dalam kamar yang luas dan megah itu, Audin dan Syahra mendudukan diri mereka di tepi ranjang. &#xA;&#xA;Aduin menangkup wajah cantik Syahra dengan telapak tangannya yang besar. “Cantik,” pujinya. Seberkas pujian itu mampu membuat wajah cantik yang ditangkupnya menyemburatkan rona serupa buah ceri. Audin tertawa. “Tuh ‘kan cantik.”&#xA;&#xA;“Kamu kebiasaan deh,” keluh Syahra. &#xA;&#xA;Tingkah lucu Syahra membuat Audin semakin tidak tahan. Akhirnya, ia cium kembali bibir seksi yang terus menggodanya. Audin, dengan semua rasa rindu dan kasih sayangnya, bergerak dengan semangat. &#xA;&#xA;Tentunya, Syahra tidak ingin kalah. Kedua tangannya bergerak melepas jas hitam yang melindungi tubuh atletis sang suami. Ia usap lengan besar nan berotot itu. Entah Syahra terbawa suasana atau memang tubuh Audin yang semakin membesar.&#xA;&#xA;“Mphhh,” lenguh Syahra saat Audin menggigit bibirnya. &#xA;&#xA;Sejenak, Audin menjeda kegiatannya. Ia tatap sepasang manik secerah konstelasi bintang di bentangan semesta itu sembari tangannya bergerak melepas satu per satu kancing dari blus putih yang Syahra kenakan.  &#xA;&#xA;Audin dapat melihat sepasang payudara yang masih terlindungi bra berwarna hitam itu terus memanggilnya. Lalu, lelaki tampan itu menggendong Syahra agar menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur. &#xA;&#xA;Audin hendak melonggarkan dasi yang melingkari kerah kemejanya tetapi pergerakannya dihentikan oleh Syahra. “Aku aja yang buka,” katanya. Dengan telaten, wanita cantik itu melonggarkan dasi berwarna merah tua yang ternyata adalah pemberiannya. “Ini dasi dari aku, ya?” tanya Syahra.&#xA;&#xA;Audin mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Aku selalu pake ini.”&#xA;&#xA;Dalam diamnya, Syahra salah tingkah. Ia melanjutkan aktivitasnya. Syahra membuka satu per satu kancing kemeja putih yang dikenakan Audin. Seketika tubuh besar itu terpampang di hadapannya, Syahra terdiam. Ia meneguk salivanya.&#xA;&#xA;Audin mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?” tanyanya.&#xA;&#xA;Syahra menggelengkan kepalanya beberapa kali demi mengembalikan kesadarannya. “Gak apa-apa,” jawabnya.&#xA;&#xA;Audin terkekeh mengetahui istrinya salah tingkah. Kemudian, lelaki tampan itu menempatkan tubuh Syahra di dalam kungkungannya sebelum kembali mencium istrinya dengan penuh gairah. &#xA;&#xA;Sepertinya, Audin lebih merindukan Syahra dibanding wanita cantik itu merindukannya. Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu mencium Syahra sampai istrinya itu merasa kewalahan. Perlahan, ciuman itu turun menuju leher dan dadanya.&#xA;&#xA;“Nghh, ahhh,” desah Syahra. &#xA;&#xA;Audin membumbui tubuh istrinya yang sudah terekspos dengan tanda kepemilikan. Kemudian, tangan besar itu bergerak melepas bra yang melindungi sepasang gunung sintal yang selalu menjadi kesukaannya. &#xA;&#xA;“Ahhh, Na,” lirih Syahra.&#xA;&#xA;Audin mengulum sebelah puting payudaranya. Sedangkan, payudaranya yang lain dipijat, diremas, dan sesekali dipilih ujung putingnya oleh sang suami. Sudah lama sekali rasanya wanita cantik itu tidak merasakan nikmat seperti ini dari Audin.&#xA;&#xA;“Nghh, Na, ahhh,” desah Syahra.&#xA;&#xA;Syahra tidak dapat berhenti mengelukan nama sang suami yang sibuk bermain dengan payudara. Ternyata Audin masih hapal dengan titik-titik sensitif yang dapat merangsang tubuhnya. &#xA;&#xA;“Enak, Ra?” tanya Audin menggoda.&#xA;&#xA;Syahra tidak dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Syahra terlalu fokus untuk mengkhidmati semua rasa nikmat yang melingkupinya.&#xA;&#xA;Selanjutnya, dengan tangan kiri yang masih setia bermain pada payudara sang istri, tangan kanan Audin bergerak melepaskan celana kulot serta celana dalam yang dikenakan Syahra. Ia dapat melihat bagian selatan itu memerah dan berkedut samar.&#xA;&#xA;Audin kembali menghentikan kegiatannya untuk sementara waktu. Ia melakukan hal serupa pada dirinya. Audin melepas tali pinggang dan celana hitam yang dipakainya. Terlihat batang besar itu sudah menegang dengan sempurna. &#xA;&#xA;Lalu, Audin mendekatkan tubuhnya pada Syahra. Ia memejamkan matanya untuk kemudian mengecup kening istrinya. “Aku sayang kamu, Syahra Suwardhono,” ujarnya.&#xA;&#xA;Mendengar afirmasi cinta tersebut, Syahra tersenyum. Ia memeluk tubuh besar suaminya. “Aku juga sayang sama kamu, Audin Nareswara,” bisiknya.&#xA;&#xA;Audin semakin bersemangat kala suara merdu itu mengalun pada indera pendengarannya. Sekarang, ia akan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Audin menciumi senti demi senti tubuh Syahra. &#xA;&#xA;Syahra dapat merasakan dengan jelas ujung penis suaminya yang mulai terlumuri pelumas alami terus menyentuh tubuhnya. Sebab rasa geli bercampur nikmat di bagian selatannya, Syahra kerap kali menutup kakinya. Namun, kerap kali juga Audin dengan sigap menahannya. &#xA;&#xA;“Ahhh,” lirih Syahra  saat merasakan hangatnya bibir itu saat menyentuh permukaan kulitnya. &#xA;&#xA;Tubuhnya wanita cantik itu mulai menggelinjang. Tanpa sadar, Syahra menggoyangkan pinggulnya. Pastinya, Audin sadar akan hal itu. Kemudian, jari tengah dan telunjuk lelaki tampan itu bergerak. Ia melengangkan kedua jarinya untuk memeriksa vagina wanita cantik itu. &#xA;&#xA;“Udah basah, ya?” goda Audin &#xA;&#xA;“Nghh, Na, ahhh.” Syahra yang diperlakukan seperti itu hanya dapat mendesah kencang. &#xA;&#xA;Baik Audin maupun Syahra sudah siap untuk permainan inti. Perlahan, lelaki tampan itu meneroboskan penisnya untuk masuk ke dalam vagina sang istri. Syahra meremat kain yang melindungi kasurnya saat ujung penis sang suami mulai memasukinya.&#xA;&#xA;“Nghhh.” Kali ini, Audin yang mendesah. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar.  Penis itu sudah masuk separuh jalan. Audin mulai bergerak dengan tempo lambat.&#xA;&#xA;“Mphhh,” lenguh Syahra.&#xA;&#xA;Di menit berikutnya, Audin menambah tempo gempurannya. Ranjang yang mereka tiduri mulai berguncang hebat sesuai dengan irama hentakan penis Audin di dalam vagina wanita cantik itu. Keduanya dibawa terbang ke langit teratas oleh permainan panas itu.&#xA;&#xA;“Ahhh, cepetin, Na,” pinta Syahra.&#xA;&#xA;Sesuai dengan permintaan tersebut, Audin bergerak dua kali lebih cepat. Sementara itu, Syahra membantu suaminya dengan menggoyangkan pinggulnya. Ia dapat merasakan ujung penis Audin menabrak dinding rahimnya. &#xA;&#xA;Audin dan Syahra bermain selagi bermandikan keringat. Permainan malam ini adalah yang terpanas yang pernah mereka lakukan sebab keduanya baru saja bangkit dari keterpurukan masing-masing. &#xA;&#xA;“Aku, nghh, mau keluar, ahhh,” ujar Syahra susah payah.&#xA;&#xA;Dengan inisiatif, Audin menghentakkan penisnya di bawah sana. Ia dapat merasakan vagina sang istri seolah menyedot kepemilikannya. Syahra benar-benar akan menjemput pelepasannya sebentar lagi.&#xA;&#xA;“Ahh!” pekik wanita cantik itu.&#xA;&#xA;Syahra mendapatkan titik ternikmatnya tetapi pergerakannya tidak berhenti. Ia tetap harus membantu Audin untuk menjemput pelepasannya. Syahra memandang rangka wajah tegas yang terlihat semakin tampan itu dari posisinya. &#xA;&#xA;“Nghh, aku keluar, ahh, Ra,” ucap Audin. &#xA;&#xA;Audin hendak mencabut penisnya dari dalam sana. Namun, Syahra lebih dulu dengan sekuat tenaganya menarik tubuh besar itu agar memeluknya. Akhirnya, Audin menyemprotkan spermanya di dalam rahim sang istri.&#xA;&#xA;“Ra,” panggil Audin khawatir.&#xA;&#xA;“Kenapa, Na?” balas Syahra dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Maaf,” ucap Audin sedikit ketakutan. Suaranya bergetar. “Aku keluar di dalam.”&#xA;&#xA;Syahra tersenyum. “Gak apa-apa, Na,” ucap Syahra. “Kalau di awal main aku bilang aku mau kamu keluar di dalam, kamu pasti bakal nolak.”&#xA;&#xA;“Kenapa kamu pengen aku keluar di dalam, Ra?” tanya Audin serius.&#xA;&#xA;“Kamu tau betul apa alasannya, Na,” jawab Syahra.&#xA;&#xA;Mendengarnya, hati Audin menghangat. Ia tersenyum mengetahui kebesaran hati istrinya itu. “Makasih, ya, Sayang,” katanya.&#xA;&#xA;Audin merebahkan tubuhnya di samping Syahra. Ia dekap tubuh mungil yang polos itu seolah akan pergi jauh. Audin tidak berhenti mengecup pucuk kepala istrinya. Tangan besarnya juga bergerak mengusap punggung sempit Syahra.&#xA;&#xA;Tak lama kemudian, Audin mendengar suara helaan napas yang teratur. Ia menundukkan sedikit pandangannya. Audin tersenyum saat melihat istrinya tidur dengan nyenyak di dalam pelukannya. &#xA;&#xA;Sebelum hari berakhir, Audin kembali mengecup kening Syahra tetapi kali ini sedikit lama. “Wanita cantik yang hebat,” katanya. “Makasih udah hadir lagi di hidupku.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah musik yang mengalun dengan keras, keempat eksekutif muda, Syahra, Nada, Jasmine, dan juga Kamilla tengah sibuk membahas isu yang sedang panas di semua kalangan pebisnis ulung. Ya, apalagi jika bukan Heuston yang menarik diri dari akuisisi bersama Morelle.</p>

<p>“Audin nolak gitu aja? Lo serius, Ra?” tanya Nada.</p>

<p>Syahra mengusap bibir gelas minumannya menggunakan jari telunjuknya. Ia mengangguk sekali. “Iya,” jawab wanita cantik itu pasrah.</p>

<p>“Gue gak paham deh sama pola pikir Audin,” tambah Kamilla. “Maksud gue, Syahra udah rela bikin perusahaan lain waiting list cuma gara-gara ngasih kesempatan kedua buat Heuston.”</p>

<p>“Lo pada seharusnya gak usah heran,” kata Jasmine. “Lo liat aja gimana dulu Audin ninggalin Syahra,” ucapnya. “No offense, ya, Ra.”</p>

<p>Syahra hanya tersenyum datar menanggapi pernyataan yang dilontarkan temannya itu. Jasmine tidak sepenuhnya salah. Ia bahkan masih ingat betul bagaimana surat cerai itu tiba-tiba ada di meja kantornya di pagi hari yang cerah setelah kepulangannya dari rumah sakit.</p>

<p>“Ya, mau gimana lagi,” ujar Syahra. “Mungkin Audin punya alasan tersendiri.”</p>

<p>“Masih aja dibela,” sindir Kamilla sembari menegak minuman yang bertengger di tangan kanannya.</p>

<p>Setelahnya, tidak ada lagi percakapan dengan topik berat di antara mereka berempat. Syahra dan teman-temannya sepakat untuk bersenang-senang dan meninggalkan sejenak pekerjaan mereka yang menumpuk malam ini. Keempatnya butuh waktu untuk menyalurkan penatnya.</p>

<p>“Suami lo gimana, Mil?” tanya Jasmine.</p>

<p>“Apanya?” balas Kamilla dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Winston gak keberatan lo hangout sama kita di sini?” tanya Nada.</p>

<p>Kamilla mengibaskan telapak tangannya beberapa kali. “Tenang aja,” katanya. “Asal sama kalian, Winston pasti ngebolehin.”</p>

<p>“Berarti lo nanti dijemput sama dia?” tanya Jasmine lagi.</p>

<p>Kamilla mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Bisa jadi nanti dia nyusul gue ke sini.”</p>

<p>Mendengarnya, Syahra langsung menegakkan posisi duduknya. “Gak sama Audin kan?” tanyanya dengan nada tidak santai.</p>

<p>“Hai, Sayang,” ucap seorang lelaki yang tiba-tiba datang.</p>

<p>“Hai, Win,” sapa Kamilla. “Rapatnya udah selesai?” tanyanya.</p>

<p>Winston mendudukkan dirinya di sebelah istrinya. Ia mengecup singkat pipi kanan Kamilla. “Udah,” jawabnya.</p>

<p>“Kalau udah punya suami mah beda, ya,” celetuk Nada.</p>

<p>Winston dan Kamilla terkekeh pelan mendengar pernyataan Nada. “Kenapa, Nad? Iri? Mau gue comblangin gak?” ledek Winston bertubi-tubi.</p>

<p>“Mau dong!” jawab Nada semangat.</p>

<p>“Sini sama gue,” sahut Gerald yang tiba-tiba datang.</p>

<p>Melihat kehadiran Gerald yang muncul bak hantu, Nada melengos. “Gak makasih,” tolaknya. “Mending gue jomblo seumur hidup.”</p>

<p>“Mulutnya, Nad,” tegur Jasmine.</p>

<p>Di antara perbincangan antara para elit itu, ada seseorang yang dengan sengaja diam pada tempatnya sehingga menyerupai patung. Meskipun begitu, sepasang maniknya menelisik serta hatinya berharap bahwa Audin tidak datang ke tempat ini, setidaknya malam ini.</p>

<p>“Kamu mau turun, Win?” tanya Kamilla pada suaminya.</p>

<p>“Kamu mau? Ayo,” ajak Winston.</p>

<p>Winston dan Kamilla menjadi pasangan pertama yang turun dari lantai dua menuju lantai dansa. Di meja bundar tersebut menyisakan Gerald yang sibuk adu mulut dengan Nada beserta Brandon dan juga Jasmine.</p>

<p>“Lo pada mending turun deh,” ucap Jasmine. “Gue pusing liat kalian berantem.”</p>

<p>Akhirnya, Nada turun ke lantai dansa. Namun, bukan bersama Gerald, melainkan Jasmine. Demi mengikuti langkah Nada, Gerald menyeret Brandon untuk ikut turun ke lantai dansa. Sekarang, hanya Syahra yang tersisa.</p>

<p>“Gue pusing banget,” gumam Syahra.</p>

<p>Sepertinya, banyak hal yang sedang mengganggu pikiran wanita cantik itu. Isi dari gelas yang digenggamnya sudah habis dalam waktu kurang dari lima belas menit. Syahra meletakkan gelas kosong itu di hadapannya dan hendak memanggil pelayan wanita.</p>

<p>Gayung bersambut. Seorang pelayan wanita datang menghampirinya. Namun, saat Syahra akan menyebutkan pesanannya, pelayan wanita tersebut meletakkan sebuah gelas martini dengan buah ceri yang bertengger di atasnya.</p>

<p>“Silakan,” kata pelayan wanita itu. “Pesanannya, Nona.”</p>

<p>“Tapi saya belum order,” kata Syahra.</p>

<p>“Minumannya sudah dipesan oleh seseorang, Nona,” balas pelayan wanita tersebut.</p>

<p>Sepersekian detik setelahnya, pemesan yang dimaksud oleh pelayan wanita tersebut datang. “Makasih,” ucap Audin kepada pelayan wanita tersebut sembari memberinya tip sebagai tanda terima kasih. Setelahnya, pelayan wanita tersebut pergi. “Masih jadi kesukaan kamu ‘kan?” tanya lelaki tampan itu.</p>

<p>Syahra tersenyum sembari mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Cherry on top.”</p>

<p>“Aku boleh duduk di sini?” tanya Audin lagi.</p>

<p>Syahra kembali mengangguk. “Boleh kok.”</p>

<p>Audin mendudukkan dirinya di sebelah kanan Syahra dengan jarak yang cukup terpaut. “Kamu ke sini sama siapa?” tanyanya basa-basi. Sebenarnya, Audin tahu bahwa mantan istrinya itu datang bersama Nada, Jasmine, dan Kamilla.</p>

<p>“Biasa,” jawab Syahra lagi. “Nada, Jasmine, Kamilla.”</p>

<p>Audin mengangguk paham. “Kamu kenapa gak turun bareng mereka?” Ia mengidikkan dagunya ke arah teman-temannya beserta teman-teman mantan istrinya yang sedang asyik berdansa di lantai dansa.</p>

<p>Syahra menggeleng sekali. “Enggak,” jawabnya. “Aku lagi capek.”</p>

<p>“Kerjaan lagi hectic banget, ya?” Audin tiada henti-hentinya mewawancarai wanita cantik itu.</p>

<p>“Kamu lucu deh, Na.” Bukannya menjawab pertanyaan yang mantan suaminya lontarkan padanya, Syahra malah menyindir Audin.</p>

<p>“Maksudnya?” balas Audin dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Perasaan dulu pas masih sama aku, kamu gak pernah sepeduli ini,” ujar Syahra.</p>

<p>Audin menghela napasnya. Sejenak, ia tatap sepatu pantofelnya yang memijak pada lantai klub yang dingin untuk kemudian kembali menatap sepasang manik yang selalu menjadi kesukaannya itu dengan nanar. “Bukan gitu maksud aku, Ra.”</p>

<p>“Kamu kenapa mundur dari akuisisi kita?” tanya Syahra skak mat. “Kali ini, tolong… kasih alasan yang masuk akal,” tambahnya.</p>

<p>Mendengar pertanyaan yang Syahra ucapkan, Audin membatu. Pikiran dan emosinya terlalu kalang kabut untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Audin tahu betul bahwa Syahra berhak atas penjelasan darinya.</p>

<p>“Kalau kamu enggan karena aku mantan istri kamu…,” ucap Syahra menggantung. “Anggap aku mitra kamu. Kamu tau ‘kan, Na? Kalau aku butuh penjelasan kenapa kamu mundur dari kesepakatan kita.”</p>

<p>Audin mengangguk pelan. “Iya, Ra,” katanya. “Aku tau.”</p>

<p>“Jadi, kenapa Heuston mundur dari kandidat akuisisi sama Morelle?” tanya Syahra lagi. “Padahal, seperti yang kamu tau, Heuston punya peluang paling besar untuk akuisisi sama Morelle.”</p>

<p>Untuk berapa saat, Audin diam. Bukannya tak ingin menjawab pertanyaan dari mitra perusahaannya itu tetapi perihal apa yang akan disampaikannya kepada Syahra. Sementara itu, Syahra masih menunggu jawaban dari Audin.</p>

<p>“Ra,” panggil Audin. Ia memfokuskan pandangannya pada wajah cantik yang selalu sukses menyihir perasaannya. “Boleh aku ngomong jujur?” tanya Audin serius.</p>

<p>Mendengar pertanyaan yang Syahra pikir mustahil keluar dari mulut Audin, wanita cantik itu tersenyum dalam diamnya. Pasalnya, hal inilah yang Syahra inginkan dari Audin selama menjadi suaminya maupun mitra kerjanya. “Boleh, Na,” jawab Syahra. “Kamu boleh ngomong apapun sama aku.”</p>

<p>“Kamu tau ‘kan kalau Heuston bukan aku yang bangun tapi Papi,” ujar Audin.</p>

<p>Syahra mengangguk. “Iya,” katanya.</p>

<p>“Waktu aku nikah sama kamu, bahkan sebelum aku nikah sama kamu, Heuston sering banget ngalamin masalah,” jelas Audin. “Papi pengen aku jadi penerusnya tapi di hati aku yang paling dalam aku gak pengen jadi pebisnis,” lanjutnya. “Jadinya, setelah aku take over Heuston, ada aja masalah yang terjadi.”</p>

<p>“Emangnya kamu sukanya apa, Na?” tanya Syahra lembut.</p>

<p>Audin menolehkan pandangannya ke arah Syahra. Ia tersenyum. “Acting,” jawabnya. “Atau musik,” tambahnya. “Pokoknya yang berhubungan dengan seni.”</p>

<p>Syahra mengangguk paham. “Pantes aja kamu banyak tau trivia tentang seni,” ujarnya.</p>

<p>“Iya, ya,” ucap Audin. “Aku bahkan gak sadar.”</p>

<p>“Kamu udah pernah coba ngomong jujur ke Papi?” tanya Syahra lagi tetapi kali ini lebih serius.</p>

<p>Audin menggeleng. “Aku anak tunggal, Ra,” katanya. “Aku gak tega kalau harus ngehancurin harapan Papi sama anak satu-satunya ini. Cuma aku satu-satunya harapan Papi,” lanjut lelaki tampan itu. Audin kembali menundukkan pandangannya. “Belum lagi, setelah nikah sama kamu… aku banyak nyusahin kamu.”</p>

<p>Mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut mantan suaminya itu, Syahra sempat terdiam. “Kamu tau kamu gak nyusahin aku, Na.”</p>

<p>Audin tersenyum masam. “Aku banyak nyusahin kamu, Ra,” ucapnya. “Setelah kamu nikah sama aku, kamu jadi lebih sering pulang malem dan bulak-balik keluar kota untuk bantu ngurusin Heuston karena aku gak becus.”</p>

<p>“Aku juga pebisnis, Na,” tegas wanita cantik itu. “Itu udah bagian dari kewajiban aku.”</p>

<p>“Kamu ngurusin aku, Heuston, Morelle, dan calon anak kita yang ada di dalem perut kamu,” jelas Audin.</p>

<p>Kalimat terakhir yang diucapkan diam mampu membuat Syahra terdiam seribu bahasa. Padahal, Syahra hampir lupa dengan kejadian itu, di mana dirinya mengalami keguguran karena terlalu lelah bekerja.</p>

<p>“Aku gagal ngurusin Heuston, aku gagal bantu kamu ngurusin Morelle, aku gagal jadi suami kamu, dan aku juga gagal jadi ayah dari calon anak kita,” ujar Audin. “Kenapa aku batalin akuisisi sama Morelle? Karena aku tau aku gak akan bisa ngurusin itu semua, Ra.” Ia mengusap wajahnya kasar.</p>

<p>Syahra baru tahu bahwa Audin sama terpukulnya dengan dirinya saat mereka kehilangan calon bayi yang ada di perutnya. Yang Syahra tahu hanyalah Audin dengan tega meninggalkannya sehari setelah dirinya mengalami keguguran.</p>

<p>Syahra mendekatkan dirinya ke arah Audin. Ia mengusap bahu lebar yang dulu sering menjadi tempatnya bersandar. “Na,” panggilnya.</p>

<p>Yang dipanggil namanya menoleh. Syahra dapat melihat dengan jelas sepasang manik yang biasanya terlihat tegas itu kini memerah. Audin menahan tangisnya. Di saat seperti itu, Syahra tetap tersenyum agar tidak memperkeruh suasana.</p>

<p>“Kamu gak gagal,” kata Syahra. “Semua orang mengalami yang namanya ‘pertama kali’,” ucapnya. “Bukan salah kamu kalau kamu gagal ngurus semua keperluan Heuston, apalagi bakat dan kemauan kamu bukan di situ. Bukan salah kamu juga kalau aku keguguran dan kehilangan anak kita.”</p>

<p>“Andai aku bisa berbuat lebih, Ra, mungkin semua ini gak akan terjadi,” ungkap Audin.</p>

<p>Syahra menggeleng sebab tidak setuju dengan pernyataan tersebut. “Enggak, Na, kamu udah berbuat cukup, sangat cukup,” ujarnya.</p>

<p>Mendengarnya, Audin bergerak merengkuh tubuh mungil yang duduk di sampingnya. Ia sembunyikan wajah tampannya yang sudah berlinangan air mata pada ceruk leher mantan istrinya.</p>

<p>“Maafin aku, Ra,” ucap Audin.</p>

<p>Syahra mengusap punggung lebar yang menanggung banyak beban itu dengan lembut. “Iya, Na.”</p>

<p>Audin sangat merindukan masa-masa bersama Syahra, masa-masa di mana Syahra selalu ada untuk menyiapkan semua keperluan, membantunya menyelesaikan pekerjaan, sampai menenangkannya apabila lelah sedang melanda harinya.</p>

<p>Bagi Audin, Syahra adalah sebaik-baiknya perempuan yang pernah ditemuinya, bahkan mendekati kata sempurna. Jika memungkinkan, Audin ingin Syahra kembali hadir di dalam hidupnya.</p>

<p>Syahra melepaskan pelukannya dengan Audin. Ia tangkup rangka wajah tegas yang tampan itu. Ibu jarinya bergerak menyeka jejak air mata yang ada. Ditatapnya sepasang manik yang masih menyisakan air mata penyesalan itu.</p>

<p>“Na,” panggil Syahra.</p>

<p>“Iya, Ra,” sahut Audin.</p>

<p>“Udah lega?” tanya wanita cantik itu.</p>

<p>Audin mengangguk sekali. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik di depannya. Dikecupnya kening yang sangat ia rindukan itu. “Udah,” jawabnya. “Makasih, ya, Ra.”</p>

<p>“Yang kuat, ya, Na,” ucap Syahra. “Kamu hebat udah sampai di sini.”</p>

<p>“Ra.” Kali ini, Audin yang memanggil nama mantan istrinya itu.</p>

<p>“Iya, Na,” balas Syahra.</p>

<p>“Seandainya aku minta kesempatan kedua dari kamu… untuk kita, mungkin gak?” tanya Audin.</p>

<p>Bersama pertanyaan yang lelaki tampan itu lontarkan, jantung Syahra meledak. Audin melamarnya untuk yang kedua kali di tempat pertama kali mereka bertemu. Syahra tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Bagaimana pun, Audin memiliki hatinya.</p>

<p>Serupa dengan Audin, wanita cantik itu juga ingin memulai lembaran baru dengan pujaan hatinya itu. Syahra tersenyum lalu mengangguk pelan. Lengkungan seindah jagat raya itu dibalas serupa oleh Audin.</p>

<p>“Ikut aku, Ra,” ajak Audin.</p>

<p>Audin menggenggam tangan wanitanya itu agar mengikuti langkahnya. Ia membawa Syahra menuju lantai teratas dari bangunan yang sekarang mereka singgahi. Sesampainya di sana, Audin dan Syahra dapat melihat dengan jelas pemandangan city light dari atas sana.</p>

<p>“Cantik, ya, Na,” ujar Syahra.</p>

<p>Berbeda dengan Syahra yang sibuk memfokuskan atensinya ke arah lampu yang terlihat seperti kunang-kunang dari ketinggian bangunan tersebut, Audin memusatkan pandangannya pada wajah cantik yang berdiri di sampingnya.</p>

<p>“Iya, Ra,” balas Audin. “Cantik.”</p>

<p>“Aku udah lama gak menghirup udara malam,” kata Syahra.</p>

<p>“Aku juga udah lama,” tambah Audin.</p>

<p>Syahra menolehkan pandangannya ke arah Audin. “Udah lama apa?” tanyanya.</p>

<p>“Udah lama gak menghirup kamu,” celetuk Audin sembari tersenyum.</p>

<p>“Mulai deh,” protes Syahra.</p>

<p>Kemudian, dengan gerakan secepat angin, Audin memeluk Syahra dari belakang. “Tapi serius, Ra,” katanya. “Aku sekangen itu sama kamu sampai mau mati rasanya. Entah apa jadinya aku kalau gak sama kamu.”</p>

<p>Syahra tersenyum. Ia sangat suka bagaimana Audin merangkai kata-kata indah untuknya walaupun cukup jarang dilakukan. Syahra memeluk dirinya sendiri di atas lengan besar yang melingkarinya.</p>

<p>“Aku juga kangen sama kamu, Na,” balas wanita cantik itu.</p>

<p>Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara Audin dan Syahra. Sepasang suami dan istri yang baru saja rujuk itu sibuk menatap intens pemandangan masing-masing. Audin dengan Syahra dan Syahra dengan city light view.</p>

<p>“Na,” panggil Syahra membuka suara.</p>

<p>“Iya, Ra,” balas lelaki tampan itu lembut.</p>

<p>“Aku boleh minta sesuatu sama kamu?” tanya Syahra serius.</p>

<p>Audin yang sedari tadi menenggerkan dagunya pada bahu Syahra kini menoleh ke arah sumber suara. “Anything, Ra,” jawabnya. “Selama aku mampu, aku akan berusaha turuti apapun kemauan kamu.”</p>

<p>“Janji, ya, sama aku,” ucap Syahra. “Kalau ada apa-apa, kita diskusikan bareng-bareng. Kamu jangan pendam semuanya sendiri,” katanya. “Aku ada buat kamu dan sebaliknya, Na,” jelasnya.</p>

<p>Audin tersenyum. Syahra selalu memiliki cara untuk merepih dirinya beserta kelemahannya tanpa membuatnya merasa rendah diri. Audin tahu bahwa dirinya kembali jatuh cinta pada wanita hebat yang ada di dalam dekapannya. “Iya, Ra. Aku janji,” ucapnya.</p>

<p>Mendengarnya, Syahra tersenyum. Ia mengusap pucuk kepala yang berada tepat di samping kanannya. Audin ikut tersenyum. Ia mendekatkan wajah tampannya pada wajah cantik sang istri. Hidung bangir keduanya saling bertemu.</p>

<p>Audin dan Syahra saling melempar tatap khas rasa rindu dari jarak mereka yang hanya terpaut beberapa senti itu. Audin, dengan gerakan perlahan tetapi pasti, mendekatkan bibirnya ke arah bibir ranum Syahra. Di detik berikutnya, kedua belahan itu berjumpa setelah sekian lama.</p>

<p>Bentangan semesta yang dihiasi oleh bintang menjadi saksi bisu bahwa Audin dan Syahra memutuskan untuk kembali bersama dan memulai kehidupan yang baru. Sepertinya, keduanya sama-sama dimabuk rindu.</p>

<p>Pagutan yang terjadi di antara sepasang suami dan istri itu enggan untuk disudahi. Angin malam yang dingin terasa kontras dengan ciuman mereka yang semakin memanas. Audin mengeratkan pelukannya dan Syahra menekan tengkuk lawan mainnya.</p>

<p>“Mphhh,” lenguh Syahra kala merasa cumbuan itu semakin menuntut padanya.</p>

<p>Audin mendorong pelan tubuh mungil istrinya agar merapat pada tembok yang menjadi pembatas antara mereka dengan langit malam. Kemudian, ia bubuhi tengkuk Syahra dengan ciuman.</p>

<p>“Nghhh, Na,” lirih wanita cantik itu.</p>

<p>Audin sudah lama tidak menyentuh istrinya. Ia tidak menyangka rasanya terasa jauh lebih nikmat karena rindu yang sempat dipendamnya. Audin tidak memberi kesempatan bagi Syahra untuk membalas.</p>

<p>“Ahh, Na,” desah Syahra. “Jangan di sini,” pintanya.</p>

<p>Mendengar permintaan tersebut, Audin berhenti. Ia terkekeh dan berkata. “Maaf, ya,” ucapnya sembari mengusap tengkuknya canggung. “Aku kangen banget sama kamu.”</p>

<p>Syahra ikut terkekeh mendengar respon menggemaskan dari suaminya. Kali ini, wanita cantik itu yang menggenggam tangan besar Audin. Ia menarik lelaki tampan itu agar mengikuti langkahnya.</p>

<p>Audin dan Syahra menuruni satu per satu anak tangga untuk menuju lift. Setelah masuk ke dalam lift, keduanya hanya turun tiga lantai. Syahra membawanya menuju penthouse yang tersedia di dalam bangunan tersebut.</p>

<p>“Penthouse ini punya kamu?” tanya Audin.</p>

<p>Syahra menggeleng. “Bukan sih,” jawabnya.</p>

<p>“Punya siapa?” tanya Audin lagi.</p>

<p>“Kamu,” ucap Syahra sembari tersenyum lebar. Ia mengajak sang suami untuk masuk ke dalam kamar utama. “Tadinya aku mau kasih surprise untuk ulang tahun kamu,” jelasnya. “Tapi kamunya malah minta cerai.”</p>

<p>Mendengar penjelasan dari Syahra, Audin hanya dapat tersenyum masam. “Waduh,” ucapnya. “Aku minta maaf, ya.”</p>

<p>Syahra tertawa lepas. “Kamu udah tiga kali minta maaf sama aku, Na.”</p>

<p>“Kesalahan aku terlalu besar, Ra,” sahut Audin. “Aku akan selalu minta maaf sama kamu.”</p>

<p>Syahra menggeleng beberapa kali. Ia menempatkan jari telunjuknya di depan bibir Audin. “Enggak, Na,” katanya. “Kamu udah minta maaf dengan tulus dan janji sama aku. Itu udah sangat cukup,” jelas Syahra.</p>

<p>“Tapi, Ra—” Belum sempat Audin merampungkan kalimatnya.</p>

<p>Syahra menyambar terlebih dahulu. “Daripada kamu minta maaf terus, mending kamu lanjutin yang tadi,” godanya.</p>

<p>Audin terkekeh. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menolak permintaan dari istrinya itu, apalagi perihal berbagi kasih seperti ini. Di dalam kamar yang luas dan megah itu, Audin dan Syahra mendudukan diri mereka di tepi ranjang.</p>

<p>Aduin menangkup wajah cantik Syahra dengan telapak tangannya yang besar. “Cantik,” pujinya. Seberkas pujian itu mampu membuat wajah cantik yang ditangkupnya menyemburatkan rona serupa buah ceri. Audin tertawa. “Tuh ‘kan cantik.”</p>

<p>“Kamu kebiasaan deh,” keluh Syahra.</p>

<p>Tingkah lucu Syahra membuat Audin semakin tidak tahan. Akhirnya, ia cium kembali bibir seksi yang terus menggodanya. Audin, dengan semua rasa rindu dan kasih sayangnya, bergerak dengan semangat.</p>

<p>Tentunya, Syahra tidak ingin kalah. Kedua tangannya bergerak melepas jas hitam yang melindungi tubuh atletis sang suami. Ia usap lengan besar nan berotot itu. Entah Syahra terbawa suasana atau memang tubuh Audin yang semakin membesar.</p>

<p>“Mphhh,” lenguh Syahra saat Audin menggigit bibirnya.</p>

<p>Sejenak, Audin menjeda kegiatannya. Ia tatap sepasang manik secerah konstelasi bintang di bentangan semesta itu sembari tangannya bergerak melepas satu per satu kancing dari blus putih yang Syahra kenakan.</p>

<p>Audin dapat melihat sepasang payudara yang masih terlindungi bra berwarna hitam itu terus memanggilnya. Lalu, lelaki tampan itu menggendong Syahra agar menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur.</p>

<p>Audin hendak melonggarkan dasi yang melingkari kerah kemejanya tetapi pergerakannya dihentikan oleh Syahra. “Aku aja yang buka,” katanya. Dengan telaten, wanita cantik itu melonggarkan dasi berwarna merah tua yang ternyata adalah pemberiannya. “Ini dasi dari aku, ya?” tanya Syahra.</p>

<p>Audin mengangguk. “Iya,” jawabnya. “Aku selalu pake ini.”</p>

<p>Dalam diamnya, Syahra salah tingkah. Ia melanjutkan aktivitasnya. Syahra membuka satu per satu kancing kemeja putih yang dikenakan Audin. Seketika tubuh besar itu terpampang di hadapannya, Syahra terdiam. Ia meneguk salivanya.</p>

<p>Audin mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?” tanyanya.</p>

<p>Syahra menggelengkan kepalanya beberapa kali demi mengembalikan kesadarannya. “Gak apa-apa,” jawabnya.</p>

<p>Audin terkekeh mengetahui istrinya salah tingkah. Kemudian, lelaki tampan itu menempatkan tubuh Syahra di dalam kungkungannya sebelum kembali mencium istrinya dengan penuh gairah.</p>

<p>Sepertinya, Audin lebih merindukan Syahra dibanding wanita cantik itu merindukannya. Lihat saja, bagaimana lelaki tampan itu mencium Syahra sampai istrinya itu merasa kewalahan. Perlahan, ciuman itu turun menuju leher dan dadanya.</p>

<p>“Nghh, ahhh,” desah Syahra.</p>

<p>Audin membumbui tubuh istrinya yang sudah terekspos dengan tanda kepemilikan. Kemudian, tangan besar itu bergerak melepas bra yang melindungi sepasang gunung sintal yang selalu menjadi kesukaannya.</p>

<p>“Ahhh, Na,” lirih Syahra.</p>

<p>Audin mengulum sebelah puting payudaranya. Sedangkan, payudaranya yang lain dipijat, diremas, dan sesekali dipilih ujung putingnya oleh sang suami. Sudah lama sekali rasanya wanita cantik itu tidak merasakan nikmat seperti ini dari Audin.</p>

<p>“Nghh, Na, ahhh,” desah Syahra.</p>

<p>Syahra tidak dapat berhenti mengelukan nama sang suami yang sibuk bermain dengan payudara. Ternyata Audin masih hapal dengan titik-titik sensitif yang dapat merangsang tubuhnya.</p>

<p>“Enak, Ra?” tanya Audin menggoda.</p>

<p>Syahra tidak dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Syahra terlalu fokus untuk mengkhidmati semua rasa nikmat yang melingkupinya.</p>

<p>Selanjutnya, dengan tangan kiri yang masih setia bermain pada payudara sang istri, tangan kanan Audin bergerak melepaskan celana kulot serta celana dalam yang dikenakan Syahra. Ia dapat melihat bagian selatan itu memerah dan berkedut samar.</p>

<p>Audin kembali menghentikan kegiatannya untuk sementara waktu. Ia melakukan hal serupa pada dirinya. Audin melepas tali pinggang dan celana hitam yang dipakainya. Terlihat batang besar itu sudah menegang dengan sempurna.</p>

<p>Lalu, Audin mendekatkan tubuhnya pada Syahra. Ia memejamkan matanya untuk kemudian mengecup kening istrinya. “Aku sayang kamu, Syahra Suwardhono,” ujarnya.</p>

<p>Mendengar afirmasi cinta tersebut, Syahra tersenyum. Ia memeluk tubuh besar suaminya. “Aku juga sayang sama kamu, Audin Nareswara,” bisiknya.</p>

<p>Audin semakin bersemangat kala suara merdu itu mengalun pada indera pendengarannya. Sekarang, ia akan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Audin menciumi senti demi senti tubuh Syahra.</p>

<p>Syahra dapat merasakan dengan jelas ujung penis suaminya yang mulai terlumuri pelumas alami terus menyentuh tubuhnya. Sebab rasa geli bercampur nikmat di bagian selatannya, Syahra kerap kali menutup kakinya. Namun, kerap kali juga Audin dengan sigap menahannya.</p>

<p>“Ahhh,” lirih Syahra  saat merasakan hangatnya bibir itu saat menyentuh permukaan kulitnya.</p>

<p>Tubuhnya wanita cantik itu mulai menggelinjang. Tanpa sadar, Syahra menggoyangkan pinggulnya. Pastinya, Audin sadar akan hal itu. Kemudian, jari tengah dan telunjuk lelaki tampan itu bergerak. Ia melengangkan kedua jarinya untuk memeriksa vagina wanita cantik itu.</p>

<p>“Udah basah, ya?” goda Audin</p>

<p>“Nghh, Na, ahhh.” Syahra yang diperlakukan seperti itu hanya dapat mendesah kencang.</p>

<p>Baik Audin maupun Syahra sudah siap untuk permainan inti. Perlahan, lelaki tampan itu meneroboskan penisnya untuk masuk ke dalam vagina sang istri. Syahra meremat kain yang melindungi kasurnya saat ujung penis sang suami mulai memasukinya.</p>

<p>“Nghhh.” Kali ini, Audin yang mendesah. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar.  Penis itu sudah masuk separuh jalan. Audin mulai bergerak dengan tempo lambat.</p>

<p>“Mphhh,” lenguh Syahra.</p>

<p>Di menit berikutnya, Audin menambah tempo gempurannya. Ranjang yang mereka tiduri mulai berguncang hebat sesuai dengan irama hentakan penis Audin di dalam vagina wanita cantik itu. Keduanya dibawa terbang ke langit teratas oleh permainan panas itu.</p>

<p>“Ahhh, cepetin, Na,” pinta Syahra.</p>

<p>Sesuai dengan permintaan tersebut, Audin bergerak dua kali lebih cepat. Sementara itu, Syahra membantu suaminya dengan menggoyangkan pinggulnya. Ia dapat merasakan ujung penis Audin menabrak dinding rahimnya.</p>

<p>Audin dan Syahra bermain selagi bermandikan keringat. Permainan malam ini adalah yang terpanas yang pernah mereka lakukan sebab keduanya baru saja bangkit dari keterpurukan masing-masing.</p>

<p>“Aku, nghh, mau keluar, ahhh,” ujar Syahra susah payah.</p>

<p>Dengan inisiatif, Audin menghentakkan penisnya di bawah sana. Ia dapat merasakan vagina sang istri seolah menyedot kepemilikannya. Syahra benar-benar akan menjemput pelepasannya sebentar lagi.</p>

<p>“Ahh!” pekik wanita cantik itu.</p>

<p>Syahra mendapatkan titik ternikmatnya tetapi pergerakannya tidak berhenti. Ia tetap harus membantu Audin untuk menjemput pelepasannya. Syahra memandang rangka wajah tegas yang terlihat semakin tampan itu dari posisinya.</p>

<p>“Nghh, aku keluar, ahh, Ra,” ucap Audin.</p>

<p>Audin hendak mencabut penisnya dari dalam sana. Namun, Syahra lebih dulu dengan sekuat tenaganya menarik tubuh besar itu agar memeluknya. Akhirnya, Audin menyemprotkan spermanya di dalam rahim sang istri.</p>

<p>“Ra,” panggil Audin khawatir.</p>

<p>“Kenapa, Na?” balas Syahra dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Maaf,” ucap Audin sedikit ketakutan. Suaranya bergetar. “Aku keluar di dalam.”</p>

<p>Syahra tersenyum. “Gak apa-apa, Na,” ucap Syahra. “Kalau di awal main aku bilang aku mau kamu keluar di dalam, kamu pasti bakal nolak.”</p>

<p>“Kenapa kamu pengen aku keluar di dalam, Ra?” tanya Audin serius.</p>

<p>“Kamu tau betul apa alasannya, Na,” jawab Syahra.</p>

<p>Mendengarnya, hati Audin menghangat. Ia tersenyum mengetahui kebesaran hati istrinya itu. “Makasih, ya, Sayang,” katanya.</p>

<p>Audin merebahkan tubuhnya di samping Syahra. Ia dekap tubuh mungil yang polos itu seolah akan pergi jauh. Audin tidak berhenti mengecup pucuk kepala istrinya. Tangan besarnya juga bergerak mengusap punggung sempit Syahra.</p>

<p>Tak lama kemudian, Audin mendengar suara helaan napas yang teratur. Ia menundukkan sedikit pandangannya. Audin tersenyum saat melihat istrinya tidur dengan nyenyak di dalam pelukannya.</p>

<p>Sebelum hari berakhir, Audin kembali mengecup kening Syahra tetapi kali ini sedikit lama. “Wanita cantik yang hebat,” katanya. “Makasih udah hadir lagi di hidupku.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/ambivalent</guid>
      <pubDate>Tue, 21 Mar 2023 11:36:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Trial and Error</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/trial-and-error?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[“Hai, Vall,” sapa Gavin dengan senyum serupa kelinci sesaat Vallerie membukakan pintu untuknya.&#xA;&#xA;“E-Eh, Kak Gapin,” balas Vallerie ragu. “Kenapa, Kak?” tanyanya.&#xA;&#xA;Gavin yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol menyandarkan dirinya di kerangka pintu kamar Vallerie. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Gavin menggelengkan kepalanya beberapa kali demi menjaga kesadarannya.&#xA;&#xA;“Gue…,” ucapnya menggantung.&#xA;&#xA;“Gue…,” ulang Vallerie. “Gue kenapa, Kak?”&#xA;&#xA;Gavin mengusap dadanya yang terasa panas sebab minuman kerasa yang ditenggaknya. “Gue boleh…,” katanya kembali terpotong.&#xA;&#xA;“Boleh apa, Kak?” tanya Vallerie lagi.&#xA;&#xA;“Gue boleh pinjem….” Gavin terus memenggal kata per kata yang ingin ia ucapkan.&#xA;&#xA;“Pinjem?” tanya Valleri sembari menggigit bibir bagian bawahnya. “Pinjem apa, Kak?”&#xA;&#xA;Mendengar pernyataan yang diucapkan Gavin, Vallerie dengan otak kotornya sudah berkelana ke sana kemari. Ia memiliki prasangka bahwa Gavin akan meminjam sesuatu yang ada di tubuhnya. &#xA;&#xA;Vallerie memang memiliki hobi menyaksikan film porno. Namun, jika sudah dihadapkan dengan kenyataan, nyalinya langsung berubah menjadi ciut. Ia mundur beberapa langkah. Sementara itu, Gavin semakin mendekatkan langkah kepadanya.&#xA;&#xA;“Kak,” panggil Vallerie yang kakinya terus berjalan mundur. &#xA;&#xA;Yang dipanggil tidak menghiraukannya. Vallerie yang langkahnya terus mundur disambut baik dengan Gavin yang terus melangkah dengan maju tak gentar. Langkah mereka yang kian bersambut akhirnya terhenti sebab Vallerie berada di sudut kamarnya. &#xA;&#xA;Vallerie menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Sedangkan, Gavin menyandarkan tangannya kanannya tepat di sebelah kepala gadis cantik itu. Vallerie menolehkan pandangannya sembari  memejamkan kedua matanya dengan erat.&#xA;&#xA;Gavin mendekatkan wajahnya ke arah telinga kiri Valerie. Lalu, ia berbisik. “Gue mau pinjem kamar mandi lo,” katanya.&#xA;&#xA;Vallerie yang mendengar pernyataan itu mulai membuka matanya. Pandangannya perlahan kembali pada wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. “Di situ, Kak,” ujarnya. Jari telunjuknya mengarah ke pintu yang ada di sebelah lemari baju.&#xA;&#xA;Pandangan Gavin mengikuti ke mana jari telunjuk Vallerie tertuju. Ia mengangguk pelan. “Oke,” ucapnya sembari tersenyum manis. &#xA;&#xA;Setelah kepergian Gavin yang masuk ke dalam kamar mandinya, Vallerie berjongkok pada posisinya di sudut ruangan. “Anjir,” umpat gadis cantik itu sembari mengusap dadanya. “Gue pikir gue bakal diapa-apain sama Kak Gapin.” &#xA;&#xA;Kemudian, Vallerie bangkit dan memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang. Ia menunggu Gavin untuk keluar dari kamar mandinya. Vallerie ingin memastikan bahwa dirinya dapat melanjutkan menonton film porno dengan tenang.&#xA;&#xA;Detik demi detik yang akhirnya berubah menjadi menit, Gavin tidak kunjung keluar dari dalam sana. Terhitung sudah hampir setengah jam lelaki tampan itu ada di dalam kamar mandinya. Vallerie menunggu dengan tidak sabar.&#xA;&#xA;Vallerie ingin sekali menyerukan nama dari teman kakaknya itu. Namun, ia tidak ingin mengambil resiko. Orang yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol dapat melakukan apa saja di luar nalarnya, apalagi laki-laki. &#xA;&#xA;Akhirnya, Vallerie memilih untuk meninggalkan Gavin yang ada di dalam kamar mandinya dan meneruskan film biru yang sedang disaksikannya. Vallerie menyembunyikan dirinya bersama laptop dan harddisk kesayangannya di bawah naungan selimut.&#xA;&#xA;Vallerie sangat amat menikmati waktu berkualitasnya dengan film favoritnya itu. Tanpa sadar, Gavin keluar dari kamar mandinya. Tadinya, Gavin hendak langsung keluar dari kamar tersebut tetapi indera pendengarannya menangkap sesuatu.&#xA;Gavin yang berada di ambang pintu menghentikan langkahnya. Ia memutar balik tubuhnya menuju gundukan selimut yang ada di atas ranjang. Gavin dapat mendengar dengan jelas suara desahan seorang wanita. &#xA;&#xA;Dengan kesadaran yang ala kadarnya, Gavin menggenggam ujung selimut berwarna biru muda itu. Suara desahannya yang didengarnya semakin intensif. Gavin berpikir bahwa ia akan memergoki salah satu temannya sedang bercinta dengan Vallerie. &#xA;&#xA;Srak!&#xA;&#xA;Gavin menyingkirkan kain tebal yang menyelimuti Vallerie dan alat perangnya. Gavin dan Vallerie sama-sama terkejut. Vallerie langsung terduduk di tempatnya. Keduanya saling beradu tatap.&#xA;&#xA;“Kak Gapin!” pekik Vallerie.&#xA;&#xA;“Vall,” panggil Gavin. “Kamu ngapain?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Itu, Kak… Anu….” Vallerie bingung harus merangkai kebohongan yang seperti apa jika tertangkap basah seperti ini. &#xA;&#xA;“Ngapain?” tanya Gavin lagi.&#xA;&#xA;Vallerie mengusap tengkuknya canggung. “Nonton film, Kak,” jawabnya. “Ada tugas untuk analisis film,” dusta gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Vallerie harap semoga Gavin dapat mempercayai kebohongannya yang seadanya sebab masih dalam pengaruh minuman keras. Apabila begitu, berarti Vallerie salah besar. Selama di dalam kamar mandi tadi, Gavin berusaha keras mengembalikan kesadarannya. &#xA;&#xA;Gavin merebut laptop yang ada di pangkuan Vallerie. Ia menggulirkan jari telunjuknya dan membuka satu demi satu folder yang tersimpan di dalam harddisk yang tersambung. Vallerie berusaha menahan tetapi kekuatan Gavin jauh dari jangkauannya.&#xA;&#xA;“Kamu suka nontonin yang kayak gini, Vall?” tanya Gavin tanpa memalingkan pandangannya dari layar laptop.&#xA;&#xA;Vallerie yang ditanya seperti itu hanya dapat diam. Ia menundukkan pandangannya pada sepasang kakinya yang menapak di atas lantai dingin. Vallerie pikir saat Valdi memergokinya sedang menonton film porno adalah yang terburuk tetapi ternyata dugaannya salah.&#xA;&#xA;“Jawab, Vall,” tegas Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie menatap wajah dengan rangka tegas yang berdiri di hadapannya dengan sinis. “Lo gak ada hak nanya-nanya kayak gitu ke gue, Kak,” ujarnya tak santai. “Itu privasi gue.”&#xA;&#xA;Gavin menolehkan pandangannya ke arah Vallerie. Ia dapat melihat tatapan khas amarah yang terpancar dari bola mata yang cantik itu. “Gue cuma nanya, Vall, bukan mengusik privasi lo,” jelas Gavin. “Gue masih temen kakak lo.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie memutar bola matanya sembari menghela napas panjang. “Iya,” jawabnya singkat.&#xA;&#xA;“Valdi tau?” tanya Gavin lagi. Ia kembali memeriksa film-film yang ada di sana.&#xA;&#xA;“Tau,” jawab Vallerie. “Kayaknya,” lanjutnya.&#xA;&#xA;Kemudian, Gavin menutup laptop tersebut dan meletakkanya di atas ranjang. “Lo dapet dari mana film kayak gini?” tanyanya bak anggota kepolisian.&#xA;&#xA;“Temen,” jawab Vallerie.&#xA;&#xA;“Siapa?” tanya Gavin. “Yang tadi gue jemput lo di rumahnya?” terkanya.&#xA;&#xA;Mendengar kalimat yang dilontarkan Gavin, kedua mata Vallerie membulat sempurna. “Bukan!” jawabnya setengah berteriak.&#xA;&#xA;Gavin menyeringai. “Bener tebakan gue.”&#xA;&#xA;Vallerie menatap Gavin dengan tidak santai. “‘Kan gue bilang bukan, Kak,” tegasnya.&#xA;&#xA;“Justru dengan gelagat lo yang kayak gitu jadi ketauan, Vall,” jelas Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie menyerah. Gavin terlalu cerdas untuk dirinya yang sangat sembrono. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Kini, Vallerie hanya bisa pasrah. Mungkin besok pagi namanya sudah menjadi headline utama di portal berita digital.&#xA;&#xA;Gavin ikut duduk di samping Vallerie. “Gue gak akan kasih tau siapa-siapa asal lo mau jawab pertanyaan gue,” ujarnya.&#xA;&#xA;“Apa?” tanya Vallerie.&#xA;&#xA;“Lo kenapa suka nonton kayak gini?” tanya Gavin serius. &#xA;&#xA;Vallerie terdiam sejenak. Ia bimbang. Haruskah dirinya membongkar sebagian besar rahasia terbesarnya, di mana rahasia tersebut Valdi sendiri tidak mengetahuinya. Vallerie kembali menghembuskan napasnya dengan kasar.&#xA;&#xA;“Gue penasaran, Kak,” katanya. “Kenapa orang pengen melakukan kegiatan kayak gitu? Kenapa orang merasa puas dengan melakukan kegiatan kayak gitu? Kenapa orang punya banyak cara untuk memuaskan satu sama lain pas melakukan kegiatan kayak gitu?” jelas Vallerie. “Intinya, gue cuma penasaran.”&#xA;&#xA;Kali ini, giliran Gavin yang menghela napasnya dengan kasar. “Lo pernah melakukan kegiatan kayak yang tadi lo liat?”&#xA;&#xA;Vallerie menggeleng. “Enggak,” jawabnya singkat. “Gue takut tapi gue penasaran.”&#xA;&#xA;“Kenapa gitu?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Di satu sisi, gue penasaran dan pengen melakukan hal kayak gitu tapi… di sisi lain, gue takut akan resikonya karena gue gak tau dari kegiatan kayak gitu bisa menyebabkan efek samping yang seperti apa,” ujar Vallerie.&#xA;&#xA;Eksplanasi yang dilontarkan Vallerie barusan sukses membuat Gavin terdiam. Tadinya, ia sangat menghakimi perilaku tidak wajar yang Vallerie lakukan. Namun, Gavin tidak melihat lebih dalam lagi.&#xA;&#xA;Bagaimana pun, Vallerie adalah seorang gadis yang sedang memasuki fase pencarian jati diri dan tidak jarang pada fase ini banyak rasa penasaran yang melingkupi dirinya. Untungnya, Vallerie tidak jatuh pada pergaulan yang salah.&#xA;&#xA;Gavin salut dengan fakta bahwa Vallerie mampu mengontrol dirinya agar tidak terbuai dengan rasa penasarannya. Dalam diamnya, Gavin tersenyum. Ia mengulurkan tangan kirinya untuk kemudian mengusap pelan pucuk kepala gadis cantik tersebut.&#xA;&#xA;“Pinter,” puji Gavin.&#xA;&#xA;Diperlakukan manis seperti itu, Vallerie terkejut bukan main. Ia menatap wajah tampan yang ada di sampingnya itu dengan heran. Vallerie dapat melihat senyum serupa kelinci yang Gavin tampilkan untuknya.&#xA;&#xA;“Gue bangga sama lo,” kata Gavin.&#xA;&#xA;“Bangga?” tanya Vallerie penasaran. “Bangga kenapa, Kak?”&#xA;&#xA;“Lo tau kegiatan yang suka lo liat itu punya konsekuensi tersendiri. Lo sebagai remaja yang lagi punya banyak gairah bisa ngontrol itu,” jelas lelaki tampan itu. “Banyak remaja seumuran lo di luar sana yang terjebak di pergaulan bebas, Vall.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie tersenyum manis. Prasangkanya akan skenario terburuk yang sempat terlintas di kepalanya tiba-tiba menghilang. Perkataan dan senyum yang Gavin berikan padanya mampu membuatnya tenang.&#xA;&#xA;“Tapi gue tetep gak menyetujui lo sering nonton kayak gini, ya,” ujar Gavin.&#xA;&#xA;“Iya, Kak,” balas Vallerie datar. “Gue juga tau kalau gue salah.”&#xA;&#xA;“Gue sita harddisk lo,” kata Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Kalimat yang baru saja Gavin lontarkan untuknya sukses membuat jantungnya jatuh dan menyatu dengan lambungnya. “Yah, Kak?!” protesnya. “Kok gitu?”&#xA;&#xA;“Gak baik, Vall, sering-sering nonton kayak gitu,” ucap Gavin.&#xA;&#xA;“Jangan dong, Kak,” cegah Vallerie. “Gue janji gak bakal sering nonton lagi,” pintanya.&#xA;&#xA;Gavin menggeleng. “Enggak.”&#xA;&#xA;Vallerie menundukkan pandangannya. Gavin jauh lebih tegas dibandingkan Valdi dan ditambahkan lelaki tampan itu tau sisi gelapnya. Vallerie tidak dapat berbuat banyak. Semoga saja hari-harinya dapat berjalan dengan lancar meskipun tanpa alat perang andalannya.&#xA;&#xA;“Kalau penasaran, langsung aja,” sergah Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie langsung mengangkat pandangannya. Ia menatap wajah tampan yang tetap berekspresi datar setelah mengatakan kalimat berbahaya seperti tadi. Gavin juga membalas tatapan dari Vallerie. &#xA;&#xA;“Barusan lo ngomong apa, Kak?” tanya Vallerie memastikan. &#xA;&#xA;“Kalau penasaran, langsung aja,” ulang Gavin. “Jangan nonton.”&#xA;&#xA;“Sama lo gitu, Kak?” tanya Vallerie hati-hati.&#xA;&#xA;“Lo maunya sama siapa? Silas? Jasper? Arion?” balas Gavin tak santai. “Mereka semua gak punya pengetahuan yang mumpuni kayak gue.”&#xA;&#xA;Vallerie terdiam. Ini bisa saja kesempatan sekali di dalam seumur hidupnya. Vallerie kembali menggigit bibir bagian bawahnya, pertanda ia gugup. Gavin dapat melihat dengan jelas bahwa gadis cantik di sampingnya ini sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;“Ya, kalau lo gak mau, gue gak akan maksa,” tambahnya.&#xA;&#xA;“Gue bukannya gak mau, Kak,” kata Vallerie.&#xA;&#xA;“Terus?” balas Gavin dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Kalau ketauan Bang Paldi gimana?” tanya Vallerie.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin menyeringai sukses. Ternyata, yang ditakutkan Vallerie adalah fakta bahwa Valdi kemungkinan besar akan mengetahui hubungan mereka berdua yang seperti ini dan bukannya ajakan untuk berhubungan itu sendiri. &#xA;&#xA;“Valdi gak akan tau,” ucap Gavin. “Gue jamin.”&#xA;&#xA;“Bener, ya, Kak?” tanya Vallerie memastikan. “Gue bisa mati kalau Bang Paldi tau.”&#xA;&#xA;“Sama gue juga, Vall,” balas Gavin.&#xA;&#xA;Setelahnya, sempat tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara Gavin dan Vallerie. Mungkin mereka baru sadar bahwa topik perbincangan yang sedang mereka bahas merupakan topik sensitif. Namun, tak lama setelahnya, Gavin membuka suara.&#xA;&#xA;“Lo siap, Vall?” tanyanya.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Siap, Kak.”&#xA;&#xA;Gavin menepuk kedua pahanya. “Sini,” katanya. “Duduk di atas gue.”&#xA;&#xA;Kalimat tersebut sukses membuat jantung Vallerie berhenti seketika. Adegan ini persis seperti film yang pernah disaksikannya. Ia menempatkan dirinya di atas pangkuan Gavin lalu menyamankan posisinya.&#xA;&#xA;Gavin memeluk Vallerie dari belakang. Sementara itu, Vallerie menyandarkan kepalanya pada sebelah bahu lebar Gavin. Kemudian, Gavin menyelipkan tangan besarnya ke dalam kaus yang dikenakan Vallerie. Ia mengusap perut rata yang terasa hangat itu. &#xA;&#xA;“Mphhh,” lirih Vallerie sembari menggigit bibirnya.&#xA;&#xA;Vallerie dapat merasakan suhu yang kontras antara pendingin ruangan di kamarnya dan tangan Gavin yang terasa hangat. Lalu, Gavin mulai membubuhi tengkuk gadis cantik itu dengan banyak kecupan. Vallerie merasakan geli dan nikmat di saat yang bersamaan. &#xA;&#xA;“Nghh, Kak,” lenguh Vallerie.&#xA;&#xA;Vallerie tidak menyangka bahwa rasanya akan senikmat ini. Ini baru permulaan. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana permainan inti yang akan mendatang. Vallerie hanya akan fokus menikmati semuanya yang Gavin berikan padanya sembari mempelajarinya.&#xA;&#xA;Selanjutnya, Gavin melepaskan kemeja yang melindungi tubuh atletisnya untuk kemudian melakukan hal serupa pada gadis cantik yang ada di atas pangkuannya. Gavin memeluk Vallerie dengan erat sembari memberinya banyak ciuman pada punggung sempit itu.&#xA;&#xA;“Kak, ahhh,” desah Vallerie.&#xA;&#xA;Kulit mereka bersentuhan satu sama lain seolah sedang membagi nikmat. Gavin tidak berhenti bekerja. Tangannya menjamah segala benda yang dapat diraihnya. Ia bermain dengan kedua gunung sintal yang masih terlapisi oleh bra berwarna hitam. &#xA;&#xA;“Nghhh, Kak, ahh,” lenguh gadis cantik itu kenikmatan.&#xA;&#xA;Tangan kanan Gavin memijat dan meremas sebelah payudara Vallerie. Sedangkan, tangan kirinya menelusup masuk melalui sisi atas bra dan bermain dan memilin puting payudara tersebut.&#xA;&#xA;“Ahhh,” lirih Vallerie.&#xA;&#xA;Vallerie mengakui dengan setulus hatinya dengan pertanyaan yang Gavin katakan padanya bahwa anggota The Coast yang lain tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni akan hal ini. Vallerie diberi bukti konkret atas pernyataan itu.&#xA;&#xA;“Balik badan, Vall,” perintah Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie membalikkan tubuhnya menghadap Gavin. Ia mengalungkan tangannya pada bahu lebar Gavin dan kakinya melingkar pada pinggang lelaki tampan itu. Tangan Gavin bergerak melepas kaitan bra yang melingkar pada payudaranya.&#xA;&#xA;“Mphhh, Kak, ahh,” desah Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin melumat putih payudaranya secara bergantian. Secara otomatis, tangan Vallerie menekan kepala bagian kepala Gavin agar mendekap ke arahnya lebih dekat. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar sebab semua rasa nikmat ini.&#xA;&#xA;Tanpa sadar, Vallerie menggoyangkan pinggulnya. Ia merasa geli di bagian selatannya. Gavin yang sedang fokus bermain dengan sepasang gunung sintal di hadapannya merasa teralihkan. Vallerie menggesek kewanitaannya pada kejantanannya.&#xA;&#xA;“Nghh, Val,” ringis Gavin. “Nanti yang di bawah juga dapet giliran.”&#xA;&#xA;“Enakhh, Kak,” kata Gavin.&#xA;&#xA;Mengetahui Vallerie yang sudah tidak sabar, Gavin membawa tubuh Vallerie berbaring di tengah ranjang. Ia meluruhkan celana pendek beserta celana dalam miliki Vallerie. Gavin dapat melihat Vallerie dengan segera menyilangkan kakinya.&#xA;&#xA;Gavin menyeringai. “Katanya mau,” ledeknya.&#xA;&#xA;“Gue malu, Kak,” jawab Vallerie.&#xA;&#xA;“Gue juga buka. Biar lo gak malu sendirian,” ujar lelaki tampan itu. Setelahnya, Gavin melepas sabuk hitam yang melingkari pinggangnya. “Mau pake ini gak?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Anjir, Kak,” umpat Vallerie. &#xA;&#xA;Meskipun begitu, Vallerie mengulurkan kedua tangannya agar Gavin dapat mengikatnya. Gavin rekatkan sepasang lengan tangan mungil itu di kepala kasur. Gavin dapat melihat dengan jelas tubuh indah Vallerie tanpa sehelai benang pun. &#xA;&#xA;“Shit, Vall.” Kali ini, Gavin yang mengumpat. “Kalau gini, gue yang kena.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Vallerie tertawa pelan. “Silakan aja, Kak.”&#xA;&#xA;“Jangan gitu,” ucap Gavin. “Nanti lo kewalahan sendiri.”&#xA;&#xA;Gavin mencium bibir ranum yang menggodanya sejak dirinya memasuki kamar tidur ini. Ia kulum bibir bagian bawah milik gadis cantik itu. Gavin dibuat terkesan. Untuk ukuran permainan pertama, Vallerie melampaui ekspektasinya.&#xA;&#xA;Gavin menyudahi ciumannya. “Lo beneran baru pertama kali, Vall?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Iya, Kak. Kenapa?” balasnya dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Gak apa-apa,” kata Gavin.&#xA;&#xA;Selain sedikit malu bahwa Vallerie mungkin andal dalam permainan panas seperti ini, Gavin juga takut bahwa mungkin dirinya akan terjerat pesona Vallerie dan menjadikan gadis cantik itu sebagai candunya.&#xA;&#xA;“Gue jago, ya, Kak,” sela Vallerie sembari tersenyum.&#xA;&#xA;Mellihat senyum manis yang terpatri di wajah cantik Vallerie, Gavin menjadi salah tingkah. “Ngaco,” ucapnya sembari tertawa pelan.&#xA;&#xA;Gavin kembali melanjutkan permainan. Ia memberi leher jenjang itu tanda kepemilikan khas berwarna merah keunguan membuat Vallerie tidak berhenti mengelukan namanya. Gavin sukses memberikan surga dunia padanya.&#xA;&#xA;Kemudian, Gavin perlahan turun ke arah kedua payudaranya, perut ratanya, dan berakhir di area paha bagian dalamnya. Vallerie berulang kali berusaha menutup kakinya sebab rasa geli yang bercampur nikmat tetapi berulang kali juga Gavin dengan sigap mencegahnya.&#xA;&#xA;“Nghhh, Kak, ahh,” desah gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gavin menyiapkan dua jarinya untuk masuk ke dalam vagina Vallerie. Ia mengomando Vallerie untuk menjilat jari telunjuk dan jari tengahnya. Sesuai dugaannya, Vallerie melakukannya dengan sangat menggoda. Gavin dibuat memuncak hasratnya. &#xA;&#xA;“Kalau sakit bilang, ya, Vall,” ujar Gavin.&#xA;&#xA;“Iya, Kak,” jawab Vallerie.&#xA;&#xA;Gavin memasukkan dua jarinya ke dalam kewatiaan gadis cantik itu. Vallerie menggigit bibirnya saat jari-jari besar itu masuk ke dalam dirinya. Ia memejamkan matanya dengan erat. Sementara itu, Gavin memperhatikan raut wajah Vallerie dengan saksama.&#xA;&#xA;“Sakit, Vall?” tanyanya.&#xA;&#xA;Vallerie menggeleng. “Enggak, Kak, ahhh, lanjut aja.”&#xA;&#xA;Gavin mulai mengocok jarinya di bawah sana dengan tempo pelan. Dengan gerakan sederhana seperti itu saja, Vallerie terbang menuju langit teratas. Tubuhnya menegang. Ia merasakan sensasi yang aneh pada dirinya.  Pinggulnya kembali bergoyang. Vallerie jelas ingin lebih. &#xA;&#xA;Gavin tersenyum menang saat mengetahui hal tersebut. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Vallerie lalu bertanya.  “Mau apa, Vall?” tanyanya sensual.&#xA;&#xA;“Nghh, Kak,” lirih Vallerie. &#xA;&#xA;“Bilang yang jelas,” kata Gavin. “Gue gak denger.”&#xA;&#xA;“Ahhh, mau pake, mphh, lidah, Kak,” pinta Vallerie.&#xA;&#xA;“Mau pake lidah gue?” tanya Gavin memastikan.&#xA;&#xA;Vallerie mengangguk. “Iya, Kak.”&#xA;&#xA;“Mohon dulu,” kata Gavin dengan wajah yang penuh dengan keangkuhan.&#xA;&#xA;Vallerie yang sedang disibukkan dengan kenikmatannya di bawah sana tiba-tiba saja dibuat memohon sebab ada permintaan yang ia ajukan kepada Gavin. Ia menduga lelaki tampan itu benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatannya malam ini.&#xA;&#xA;Vallerie dengan susah payah mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Gavin. Kemudian, ia berbisik, “Nghhh, Kak, please, ahh, gue mau, nghh, pake lidah lo,” ujarnya terbata-bata.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gavin menyeringai lebar. “Bagus.”&#xA;&#xA;Gavin menundukkan tubuhnya. Ia melesatkan lidahnya tanpa aba-aba ke dalam vagina Vallerie dan membuat gadis cantik itu memekik kenikmatan. Tubuh Vallerie menggeliat hebat. Kedua kakinya yang memang sudah lemas ditahan oleh Gavin di sebelah kanan dan kiri kepalanya.&#xA;&#xA;“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.&#xA;&#xA;Benda kenyal itu terus menghujam klitorisnya. Sedangkan, kedua jari Gavin tidak ditarikanya melainkan ia masukkan lebih dalam dan menyentuh titik manisnya. Vallerie dibuat menggila oleh permainan itu sebab pemainnya, Gavin, adalah orang gila.&#xA;&#xA;“Nghhh, Kak, ahh,” lirih gadis cantik itu. &#xA;&#xA;Gavin merasa lubang surgawi itu sudah cukup basah untuk dimasukinya. Lalu, Gavin menegakkan tubuhnya. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Vallerie. Ia mengecup kening gadis cantik itu dalam waktu yang cukup lama.&#xA;&#xA;“Gue masukin, ya?” tanya Gavin memastikan.&#xA;&#xA;Vallerie tidak menjawab dengan lisannya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Tentu saja, senyuman itu dibalas dengan senyum yang tak kalah indah. Gavin menekan perut bagian bawah Vallerie sembari perlahan memasukkan kejantanannya.&#xA;&#xA;“Kalau gak tahan bilang, ya, Vall,” ujar Gavin.&#xA;&#xA;“Iya, mphh, Kak,” jawab Vallerie. &#xA;&#xA;Gavin sudah memasukkan penisnya setengah. Ia dapat melihat dengan jelas raut wajah Vallerie yang mengekspresikan kenikmatan. Kemudian, ia menggoyangkan pinggulnya dengan tempo pelan sembari meneroboskan lagi penisnya agar masuk dengan sempurna.&#xA;&#xA;“Nghhh, Val,” lirih Gavin.&#xA;&#xA;Akhirnya, hasratnya yang memuncak terbayarkan juga sejak Gavin memangku Vallerie dan gadis cantik itu dengan tidak sengaja, atau sengaja, menggoda kejantannya tadi. Menurut Gavin, Vallerie sangat pantas untuk dinikmati.&#xA;&#xA;Di dalam hatinya, masih ada rasa ketidakpercayaan pada Vallerie bahwa ini kali pertamanya melakukan hubungan seksual. Vallerie yang hanya bermodalkan video porno mampu menyambut permainannya dengan baik.&#xA;&#xA;“Ahhh, Kak, cepetin lagihh,” pinta Vallerie.&#xA;&#xA;Sesuai dengan ultimatum yang ada, Gavin menambah tempo gempurannya. Ranjang yang mereka tumpangi berdua mendecit dengan kencang seolah menjadi saksi bisu permainan panas di malam hari ini.&#xA;&#xA;Vallerie sangat puas dengan pelayanan Gavin. Ia banyak meminta di dalam permainan ini tetapi Gavin mampu memberikan persis apa yang diinginkannya. Pada permainan kali ini, keduanya sama-sama diuntungkan.&#xA;&#xA;“Nghh, hentakkin lagi, ahhh, Kak,” pinta Vallerie lagi. &#xA;&#xA;Tanpa mengurangi kecepatannya, Gavin mengeraskan gempurannya hingga penisnya menabrak dinding rahim gadis cantik itu. Baik Gavin dan Vallerie menengadahkan kepala mereka ke arah langit-langit sebab rasa nikmat yang menjalar.&#xA;&#xA;Permainan panas itu dibumbui dengan gerakannya yang cukup kasar. Namun, keduanya menikmati kebrutalan itu dengan senang hati. Bahkan, sebentar lagi, salah satu dari mereka akan menjemput pelepasannya.&#xA;&#xA;“Ahhh, Kak, gue mau, mphh keluar,” ujar Vallerie susah payah.&#xA;&#xA;Benar saja, beberapa detik setelahnya, Vallerie merasakan titik ternikmatnya yang pertama bersama laki-laki. Apabila biasanya Vallerie berusaha memuaskan dirinya sendiri tetapi kali ini Gavin ada untuk menemaninya.&#xA;&#xA;“Ahh!” pekik Vallerie saat mencapai titik ternikmatnya.&#xA;&#xA;“Nghh, gue bentar lagi, mphhh, Vall,” jelas Gavin.&#xA;&#xA;Gavin yang sebentar lagi akan mencapai pelepasannya bergerak semakin kasar. Ia memeluk tubuh Vallerie untuk kemudian mengulum puting payudaranya secara bergantian. Vallerie yang merasa dinikmati seperti itu menjadi terangsang lagi.&#xA;&#xA;“Ahhh, gue jadi mau, nghh, keluar lagi, Kak,” ucap Vallerie.&#xA;&#xA;“Keluarin aja, Vall,” balas lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Vallerie memeluk erat tubuh atletis yang berada di atasnya. Gavin benar. Vallerie sebaiknya tidak bermain-main dengan lelaki tampan ini. Ia dapat merasakan pinggulnya yang hampir lepas sebab permainan brutal ini.&#xA;&#xA;“Ahh, Kak!” Vallerie mendapatkan pencapaiannya yang kedua.&#xA;&#xA;Sementara itu, Gavin mencabut penisnya dari bawah sana. Ia arahkan kejantannya yang menegang sempurna itu ke wajah cantik Vallerie. Sepersekian detik kemudian, cairan putih yang kenal membanjiri wajah gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Akh!” pekik Gavin yang diburu napas.&#xA;&#xA;Gavin merebahkan tubuhnya di sebelah Vallerie. Di atas ranjang berukuran sedang itu, baik Gavin maupun Vallerie sama-sama mengatur napas mereka. Keduanya memandang ke arah langit-langit kamar yang dihiasi lampu berwarna putih hangat.&#xA;&#xA;“Thanks, Vall,” ucap Gavin membuka suara.&#xA;&#xA;“Harusnya gue yang bilang makasih ke lo, Kak,” sahut Vallerie.&#xA;&#xA;“Lo mainnya hebat,” puji lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Vallerie tersenyum sumringah. “Iya, ya?” katanya. “Kalau gitu peluk dong,” sambung gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Mendengar permintaan tersebut, Gavin menarik Vallerie untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia juga menyampirkan selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos bak bayi. Gavin mengusap punggung dan kepala bagian belakang Vallerie secara bergantian.&#xA;&#xA;“Lo banyak request, ya, Vall,” ledek Gavin.&#xA;&#xA;“Ya, lo-nya juga mau aja, Kak,” balas Vallerie.&#xA;&#xA;Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan di antara keduanya. Gavin dan Vallerie menikmati atmosfer yang melingkupi mereka. Gavin dapat mendengar napas Vallerie yang mulai teratur dan sebaliknya.&#xA;&#xA;“Gue takut, Kak,” kata gadis cantik itu tiba-tiba.&#xA;&#xA;“Takut kenapa, Vall?” tanya Gavin.&#xA;&#xA;“Takut ketauan Bang Paldi,” ucap Vallerie.&#xA;&#xA;“‘Kan udah gue bilang itu urusan gue,” ujar Gavin. “Lo gak usah khawatir,” lanjutnya.&#xA;&#xA;Di tengah-tengah percakapan dengan topik yang lagi-lagi cukup serius dan menyita tenaga itu, tiba-tiba saja jam kuno yang berada di ruang tamu rumah Vallerie berdenting kencang. Jam sudah menunjukkan tengah malam. Gavin bankit dari posisinya.&#xA;&#xA;“Mau ke mana, Kak?” tanya Vallerie yang ikut duduk di atas ranjangnya.&#xA;“Gue mau mandi,” jawab Gavin. “Mau ikut?” tanyanya.&#xA;&#xA;Vallerie menyibakkan rambut panjangnya ke arah belakang. Lalu, ia menggeleng. “Lo duluan deh, Kak,” katanya. “Kaki gue masih sakit.”&#xA;&#xA;Gavin tertawa. “Katanya ‘silakan aja’ tapi baru gitu aja udah sakit,” ledeknya.&#xA;&#xA;Vallerie mengambil bantal yang ada di sebelahnya dan melemparkannya ke arah Gavin. “Dih!”&#xA;&#xA;Gavin berjalan kembali mendekati Vallerie. Ia kecup kening gadis cantik itu dan berkata, “Aku mandi dulu, ya, Sayang.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Hai, Vall,” sapa Gavin dengan senyum serupa kelinci sesaat Vallerie membukakan pintu untuknya.</p>

<p>“E-Eh, Kak Gapin,” balas Vallerie ragu. “Kenapa, Kak?” tanyanya.</p>

<p>Gavin yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol menyandarkan dirinya di kerangka pintu kamar Vallerie. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Gavin menggelengkan kepalanya beberapa kali demi menjaga kesadarannya.</p>

<p>“Gue…,” ucapnya menggantung.</p>

<p>“Gue…,” ulang Vallerie. “Gue kenapa, Kak?”</p>

<p>Gavin mengusap dadanya yang terasa panas sebab minuman kerasa yang ditenggaknya. “Gue boleh…,” katanya kembali terpotong.</p>

<p>“Boleh apa, Kak?” tanya Vallerie lagi.</p>

<p>“Gue boleh pinjem….” Gavin terus memenggal kata per kata yang ingin ia ucapkan.</p>

<p>“Pinjem?” tanya Valleri sembari menggigit bibir bagian bawahnya. “Pinjem apa, Kak?”</p>

<p>Mendengar pernyataan yang diucapkan Gavin, Vallerie dengan otak kotornya sudah berkelana ke sana kemari. Ia memiliki prasangka bahwa Gavin akan meminjam sesuatu yang ada di tubuhnya.</p>

<p>Vallerie memang memiliki hobi menyaksikan film porno. Namun, jika sudah dihadapkan dengan kenyataan, nyalinya langsung berubah menjadi ciut. Ia mundur beberapa langkah. Sementara itu, Gavin semakin mendekatkan langkah kepadanya.</p>

<p>“Kak,” panggil Vallerie yang kakinya terus berjalan mundur.</p>

<p>Yang dipanggil tidak menghiraukannya. Vallerie yang langkahnya terus mundur disambut baik dengan Gavin yang terus melangkah dengan maju tak gentar. Langkah mereka yang kian bersambut akhirnya terhenti sebab Vallerie berada di sudut kamarnya.</p>

<p>Vallerie menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Sedangkan, Gavin menyandarkan tangannya kanannya tepat di sebelah kepala gadis cantik itu. Vallerie menolehkan pandangannya sembari  memejamkan kedua matanya dengan erat.</p>

<p>Gavin mendekatkan wajahnya ke arah telinga kiri Valerie. Lalu, ia berbisik. “Gue mau pinjem kamar mandi lo,” katanya.</p>

<p>Vallerie yang mendengar pernyataan itu mulai membuka matanya. Pandangannya perlahan kembali pada wajah tampan yang hanya berjarak beberapa senti darinya. “Di situ, Kak,” ujarnya. Jari telunjuknya mengarah ke pintu yang ada di sebelah lemari baju.</p>

<p>Pandangan Gavin mengikuti ke mana jari telunjuk Vallerie tertuju. Ia mengangguk pelan. “Oke,” ucapnya sembari tersenyum manis.</p>

<p>Setelah kepergian Gavin yang masuk ke dalam kamar mandinya, Vallerie berjongkok pada posisinya di sudut ruangan. “Anjir,” umpat gadis cantik itu sembari mengusap dadanya. “Gue pikir gue bakal diapa-apain sama Kak Gapin.”</p>

<p>Kemudian, Vallerie bangkit dan memposisikan dirinya duduk di tepi ranjang. Ia menunggu Gavin untuk keluar dari kamar mandinya. Vallerie ingin memastikan bahwa dirinya dapat melanjutkan menonton film porno dengan tenang.</p>

<p>Detik demi detik yang akhirnya berubah menjadi menit, Gavin tidak kunjung keluar dari dalam sana. Terhitung sudah hampir setengah jam lelaki tampan itu ada di dalam kamar mandinya. Vallerie menunggu dengan tidak sabar.</p>

<p>Vallerie ingin sekali menyerukan nama dari teman kakaknya itu. Namun, ia tidak ingin mengambil resiko. Orang yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol dapat melakukan apa saja di luar nalarnya, apalagi laki-laki.</p>

<p>Akhirnya, Vallerie memilih untuk meninggalkan Gavin yang ada di dalam kamar mandinya dan meneruskan film biru yang sedang disaksikannya. Vallerie menyembunyikan dirinya bersama laptop dan harddisk kesayangannya di bawah naungan selimut.</p>

<p>Vallerie sangat amat menikmati waktu berkualitasnya dengan film favoritnya itu. Tanpa sadar, Gavin keluar dari kamar mandinya. Tadinya, Gavin hendak langsung keluar dari kamar tersebut tetapi indera pendengarannya menangkap sesuatu.
Gavin yang berada di ambang pintu menghentikan langkahnya. Ia memutar balik tubuhnya menuju gundukan selimut yang ada di atas ranjang. Gavin dapat mendengar dengan jelas suara desahan seorang wanita.</p>

<p>Dengan kesadaran yang ala kadarnya, Gavin menggenggam ujung selimut berwarna biru muda itu. Suara desahannya yang didengarnya semakin intensif. Gavin berpikir bahwa ia akan memergoki salah satu temannya sedang bercinta dengan Vallerie.</p>

<p>Srak!</p>

<p>Gavin menyingkirkan kain tebal yang menyelimuti Vallerie dan alat perangnya. Gavin dan Vallerie sama-sama terkejut. Vallerie langsung terduduk di tempatnya. Keduanya saling beradu tatap.</p>

<p>“Kak Gapin!” pekik Vallerie.</p>

<p>“Vall,” panggil Gavin. “Kamu ngapain?” tanyanya.</p>

<p>“Itu, Kak… Anu….” Vallerie bingung harus merangkai kebohongan yang seperti apa jika tertangkap basah seperti ini.</p>

<p>“Ngapain?” tanya Gavin lagi.</p>

<p>Vallerie mengusap tengkuknya canggung. “Nonton film, Kak,” jawabnya. “Ada tugas untuk analisis film,” dusta gadis cantik itu.</p>

<p>Vallerie harap semoga Gavin dapat mempercayai kebohongannya yang seadanya sebab masih dalam pengaruh minuman keras. Apabila begitu, berarti Vallerie salah besar. Selama di dalam kamar mandi tadi, Gavin berusaha keras mengembalikan kesadarannya.</p>

<p>Gavin merebut laptop yang ada di pangkuan Vallerie. Ia menggulirkan jari telunjuknya dan membuka satu demi satu folder yang tersimpan di dalam harddisk yang tersambung. Vallerie berusaha menahan tetapi kekuatan Gavin jauh dari jangkauannya.</p>

<p>“Kamu suka nontonin yang kayak gini, Vall?” tanya Gavin tanpa memalingkan pandangannya dari layar laptop.</p>

<p>Vallerie yang ditanya seperti itu hanya dapat diam. Ia menundukkan pandangannya pada sepasang kakinya yang menapak di atas lantai dingin. Vallerie pikir saat Valdi memergokinya sedang menonton film porno adalah yang terburuk tetapi ternyata dugaannya salah.</p>

<p>“Jawab, Vall,” tegas Gavin.</p>

<p>Vallerie menatap wajah dengan rangka tegas yang berdiri di hadapannya dengan sinis. “Lo gak ada hak nanya-nanya kayak gitu ke gue, Kak,” ujarnya tak santai. “Itu privasi gue.”</p>

<p>Gavin menolehkan pandangannya ke arah Vallerie. Ia dapat melihat tatapan khas amarah yang terpancar dari bola mata yang cantik itu. “Gue cuma nanya, Vall, bukan mengusik privasi lo,” jelas Gavin. “Gue masih temen kakak lo.”</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie memutar bola matanya sembari menghela napas panjang. “Iya,” jawabnya singkat.</p>

<p>“Valdi tau?” tanya Gavin lagi. Ia kembali memeriksa film-film yang ada di sana.</p>

<p>“Tau,” jawab Vallerie. “Kayaknya,” lanjutnya.</p>

<p>Kemudian, Gavin menutup laptop tersebut dan meletakkanya di atas ranjang. “Lo dapet dari mana film kayak gini?” tanyanya bak anggota kepolisian.</p>

<p>“Temen,” jawab Vallerie.</p>

<p>“Siapa?” tanya Gavin. “Yang tadi gue jemput lo di rumahnya?” terkanya.</p>

<p>Mendengar kalimat yang dilontarkan Gavin, kedua mata Vallerie membulat sempurna. “Bukan!” jawabnya setengah berteriak.</p>

<p>Gavin menyeringai. “Bener tebakan gue.”</p>

<p>Vallerie menatap Gavin dengan tidak santai. “‘Kan gue bilang bukan, Kak,” tegasnya.</p>

<p>“Justru dengan gelagat lo yang kayak gitu jadi ketauan, Vall,” jelas Gavin.</p>

<p>Vallerie menyerah. Gavin terlalu cerdas untuk dirinya yang sangat sembrono. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Kini, Vallerie hanya bisa pasrah. Mungkin besok pagi namanya sudah menjadi headline utama di portal berita digital.</p>

<p>Gavin ikut duduk di samping Vallerie. “Gue gak akan kasih tau siapa-siapa asal lo mau jawab pertanyaan gue,” ujarnya.</p>

<p>“Apa?” tanya Vallerie.</p>

<p>“Lo kenapa suka nonton kayak gini?” tanya Gavin serius.</p>

<p>Vallerie terdiam sejenak. Ia bimbang. Haruskah dirinya membongkar sebagian besar rahasia terbesarnya, di mana rahasia tersebut Valdi sendiri tidak mengetahuinya. Vallerie kembali menghembuskan napasnya dengan kasar.</p>

<p>“Gue penasaran, Kak,” katanya. “Kenapa orang pengen melakukan kegiatan kayak gitu? Kenapa orang merasa puas dengan melakukan kegiatan kayak gitu? Kenapa orang punya banyak cara untuk memuaskan satu sama lain pas melakukan kegiatan kayak gitu?” jelas Vallerie. “Intinya, gue cuma penasaran.”</p>

<p>Kali ini, giliran Gavin yang menghela napasnya dengan kasar. “Lo pernah melakukan kegiatan kayak yang tadi lo liat?”</p>

<p>Vallerie menggeleng. “Enggak,” jawabnya singkat. “Gue takut tapi gue penasaran.”</p>

<p>“Kenapa gitu?” tanya Gavin.</p>

<p>“Di satu sisi, gue penasaran dan pengen melakukan hal kayak gitu tapi… di sisi lain, gue takut akan resikonya karena gue gak tau dari kegiatan kayak gitu bisa menyebabkan efek samping yang seperti apa,” ujar Vallerie.</p>

<p>Eksplanasi yang dilontarkan Vallerie barusan sukses membuat Gavin terdiam. Tadinya, ia sangat menghakimi perilaku tidak wajar yang Vallerie lakukan. Namun, Gavin tidak melihat lebih dalam lagi.</p>

<p>Bagaimana pun, Vallerie adalah seorang gadis yang sedang memasuki fase pencarian jati diri dan tidak jarang pada fase ini banyak rasa penasaran yang melingkupi dirinya. Untungnya, Vallerie tidak jatuh pada pergaulan yang salah.</p>

<p>Gavin salut dengan fakta bahwa Vallerie mampu mengontrol dirinya agar tidak terbuai dengan rasa penasarannya. Dalam diamnya, Gavin tersenyum. Ia mengulurkan tangan kirinya untuk kemudian mengusap pelan pucuk kepala gadis cantik tersebut.</p>

<p>“Pinter,” puji Gavin.</p>

<p>Diperlakukan manis seperti itu, Vallerie terkejut bukan main. Ia menatap wajah tampan yang ada di sampingnya itu dengan heran. Vallerie dapat melihat senyum serupa kelinci yang Gavin tampilkan untuknya.</p>

<p>“Gue bangga sama lo,” kata Gavin.</p>

<p>“Bangga?” tanya Vallerie penasaran. “Bangga kenapa, Kak?”</p>

<p>“Lo tau kegiatan yang suka lo liat itu punya konsekuensi tersendiri. Lo sebagai remaja yang lagi punya banyak gairah bisa ngontrol itu,” jelas lelaki tampan itu. “Banyak remaja seumuran lo di luar sana yang terjebak di pergaulan bebas, Vall.”</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie tersenyum manis. Prasangkanya akan skenario terburuk yang sempat terlintas di kepalanya tiba-tiba menghilang. Perkataan dan senyum yang Gavin berikan padanya mampu membuatnya tenang.</p>

<p>“Tapi gue tetep gak menyetujui lo sering nonton kayak gini, ya,” ujar Gavin.</p>

<p>“Iya, Kak,” balas Vallerie datar. “Gue juga tau kalau gue salah.”</p>

<p>“Gue sita harddisk lo,” kata Gavin.</p>

<p>Vallerie membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Kalimat yang baru saja Gavin lontarkan untuknya sukses membuat jantungnya jatuh dan menyatu dengan lambungnya. “Yah, Kak?!” protesnya. “Kok gitu?”</p>

<p>“Gak baik, Vall, sering-sering nonton kayak gitu,” ucap Gavin.</p>

<p>“Jangan dong, Kak,” cegah Vallerie. “Gue janji gak bakal sering nonton lagi,” pintanya.</p>

<p>Gavin menggeleng. “Enggak.”</p>

<p>Vallerie menundukkan pandangannya. Gavin jauh lebih tegas dibandingkan Valdi dan ditambahkan lelaki tampan itu tau sisi gelapnya. Vallerie tidak dapat berbuat banyak. Semoga saja hari-harinya dapat berjalan dengan lancar meskipun tanpa alat perang andalannya.</p>

<p>“Kalau penasaran, langsung aja,” sergah Gavin.</p>

<p>Vallerie langsung mengangkat pandangannya. Ia menatap wajah tampan yang tetap berekspresi datar setelah mengatakan kalimat berbahaya seperti tadi. Gavin juga membalas tatapan dari Vallerie.</p>

<p>“Barusan lo ngomong apa, Kak?” tanya Vallerie memastikan.</p>

<p>“Kalau penasaran, langsung aja,” ulang Gavin. “Jangan nonton.”</p>

<p>“Sama lo gitu, Kak?” tanya Vallerie hati-hati.</p>

<p>“Lo maunya sama siapa? Silas? Jasper? Arion?” balas Gavin tak santai. “Mereka semua gak punya pengetahuan yang mumpuni kayak gue.”</p>

<p>Vallerie terdiam. Ini bisa saja kesempatan sekali di dalam seumur hidupnya. Vallerie kembali menggigit bibir bagian bawahnya, pertanda ia gugup. Gavin dapat melihat dengan jelas bahwa gadis cantik di sampingnya ini sedang bertengkar dengan dirinya sendiri.</p>

<p>“Ya, kalau lo gak mau, gue gak akan maksa,” tambahnya.</p>

<p>“Gue bukannya gak mau, Kak,” kata Vallerie.</p>

<p>“Terus?” balas Gavin dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Kalau ketauan Bang Paldi gimana?” tanya Vallerie.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin menyeringai sukses. Ternyata, yang ditakutkan Vallerie adalah fakta bahwa Valdi kemungkinan besar akan mengetahui hubungan mereka berdua yang seperti ini dan bukannya ajakan untuk berhubungan itu sendiri.</p>

<p>“Valdi gak akan tau,” ucap Gavin. “Gue jamin.”</p>

<p>“Bener, ya, Kak?” tanya Vallerie memastikan. “Gue bisa mati kalau Bang Paldi tau.”</p>

<p>“Sama gue juga, Vall,” balas Gavin.</p>

<p>Setelahnya, sempat tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara Gavin dan Vallerie. Mungkin mereka baru sadar bahwa topik perbincangan yang sedang mereka bahas merupakan topik sensitif. Namun, tak lama setelahnya, Gavin membuka suara.</p>

<p>“Lo siap, Vall?” tanyanya.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Siap, Kak.”</p>

<p>Gavin menepuk kedua pahanya. “Sini,” katanya. “Duduk di atas gue.”</p>

<p>Kalimat tersebut sukses membuat jantung Vallerie berhenti seketika. Adegan ini persis seperti film yang pernah disaksikannya. Ia menempatkan dirinya di atas pangkuan Gavin lalu menyamankan posisinya.</p>

<p>Gavin memeluk Vallerie dari belakang. Sementara itu, Vallerie menyandarkan kepalanya pada sebelah bahu lebar Gavin. Kemudian, Gavin menyelipkan tangan besarnya ke dalam kaus yang dikenakan Vallerie. Ia mengusap perut rata yang terasa hangat itu.</p>

<p>“Mphhh,” lirih Vallerie sembari menggigit bibirnya.</p>

<p>Vallerie dapat merasakan suhu yang kontras antara pendingin ruangan di kamarnya dan tangan Gavin yang terasa hangat. Lalu, Gavin mulai membubuhi tengkuk gadis cantik itu dengan banyak kecupan. Vallerie merasakan geli dan nikmat di saat yang bersamaan.</p>

<p>“Nghh, Kak,” lenguh Vallerie.</p>

<p>Vallerie tidak menyangka bahwa rasanya akan senikmat ini. Ini baru permulaan. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana permainan inti yang akan mendatang. Vallerie hanya akan fokus menikmati semuanya yang Gavin berikan padanya sembari mempelajarinya.</p>

<p>Selanjutnya, Gavin melepaskan kemeja yang melindungi tubuh atletisnya untuk kemudian melakukan hal serupa pada gadis cantik yang ada di atas pangkuannya. Gavin memeluk Vallerie dengan erat sembari memberinya banyak ciuman pada punggung sempit itu.</p>

<p>“Kak, ahhh,” desah Vallerie.</p>

<p>Kulit mereka bersentuhan satu sama lain seolah sedang membagi nikmat. Gavin tidak berhenti bekerja. Tangannya menjamah segala benda yang dapat diraihnya. Ia bermain dengan kedua gunung sintal yang masih terlapisi oleh bra berwarna hitam.</p>

<p>“Nghhh, Kak, ahh,” lenguh gadis cantik itu kenikmatan.</p>

<p>Tangan kanan Gavin memijat dan meremas sebelah payudara Vallerie. Sedangkan, tangan kirinya menelusup masuk melalui sisi atas bra dan bermain dan memilin puting payudara tersebut.</p>

<p>“Ahhh,” lirih Vallerie.</p>

<p>Vallerie mengakui dengan setulus hatinya dengan pertanyaan yang Gavin katakan padanya bahwa anggota The Coast yang lain tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni akan hal ini. Vallerie diberi bukti konkret atas pernyataan itu.</p>

<p>“Balik badan, Vall,” perintah Gavin.</p>

<p>Vallerie membalikkan tubuhnya menghadap Gavin. Ia mengalungkan tangannya pada bahu lebar Gavin dan kakinya melingkar pada pinggang lelaki tampan itu. Tangan Gavin bergerak melepas kaitan bra yang melingkar pada payudaranya.</p>

<p>“Mphhh, Kak, ahh,” desah Vallerie.</p>

<p>Gavin melumat putih payudaranya secara bergantian. Secara otomatis, tangan Vallerie menekan kepala bagian kepala Gavin agar mendekap ke arahnya lebih dekat. Ia menengadahkan kepalanya ke arah langit-langit kamar sebab semua rasa nikmat ini.</p>

<p>Tanpa sadar, Vallerie menggoyangkan pinggulnya. Ia merasa geli di bagian selatannya. Gavin yang sedang fokus bermain dengan sepasang gunung sintal di hadapannya merasa teralihkan. Vallerie menggesek kewanitaannya pada kejantanannya.</p>

<p>“Nghh, Val,” ringis Gavin. “Nanti yang di bawah juga dapet giliran.”</p>

<p>“Enakhh, Kak,” kata Gavin.</p>

<p>Mengetahui Vallerie yang sudah tidak sabar, Gavin membawa tubuh Vallerie berbaring di tengah ranjang. Ia meluruhkan celana pendek beserta celana dalam miliki Vallerie. Gavin dapat melihat Vallerie dengan segera menyilangkan kakinya.</p>

<p>Gavin menyeringai. “Katanya mau,” ledeknya.</p>

<p>“Gue malu, Kak,” jawab Vallerie.</p>

<p>“Gue juga buka. Biar lo gak malu sendirian,” ujar lelaki tampan itu. Setelahnya, Gavin melepas sabuk hitam yang melingkari pinggangnya. “Mau pake ini gak?” tanyanya.</p>

<p>“Anjir, Kak,” umpat Vallerie.</p>

<p>Meskipun begitu, Vallerie mengulurkan kedua tangannya agar Gavin dapat mengikatnya. Gavin rekatkan sepasang lengan tangan mungil itu di kepala kasur. Gavin dapat melihat dengan jelas tubuh indah Vallerie tanpa sehelai benang pun.</p>

<p>“Shit, Vall.” Kali ini, Gavin yang mengumpat. “Kalau gini, gue yang kena.”</p>

<p>Mendengarnya, Vallerie tertawa pelan. “Silakan aja, Kak.”</p>

<p>“Jangan gitu,” ucap Gavin. “Nanti lo kewalahan sendiri.”</p>

<p>Gavin mencium bibir ranum yang menggodanya sejak dirinya memasuki kamar tidur ini. Ia kulum bibir bagian bawah milik gadis cantik itu. Gavin dibuat terkesan. Untuk ukuran permainan pertama, Vallerie melampaui ekspektasinya.</p>

<p>Gavin menyudahi ciumannya. “Lo beneran baru pertama kali, Vall?” tanya Gavin.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Iya, Kak. Kenapa?” balasnya dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Gak apa-apa,” kata Gavin.</p>

<p>Selain sedikit malu bahwa Vallerie mungkin andal dalam permainan panas seperti ini, Gavin juga takut bahwa mungkin dirinya akan terjerat pesona Vallerie dan menjadikan gadis cantik itu sebagai candunya.</p>

<p>“Gue jago, ya, Kak,” sela Vallerie sembari tersenyum.</p>

<p>Mellihat senyum manis yang terpatri di wajah cantik Vallerie, Gavin menjadi salah tingkah. “Ngaco,” ucapnya sembari tertawa pelan.</p>

<p>Gavin kembali melanjutkan permainan. Ia memberi leher jenjang itu tanda kepemilikan khas berwarna merah keunguan membuat Vallerie tidak berhenti mengelukan namanya. Gavin sukses memberikan surga dunia padanya.</p>

<p>Kemudian, Gavin perlahan turun ke arah kedua payudaranya, perut ratanya, dan berakhir di area paha bagian dalamnya. Vallerie berulang kali berusaha menutup kakinya sebab rasa geli yang bercampur nikmat tetapi berulang kali juga Gavin dengan sigap mencegahnya.</p>

<p>“Nghhh, Kak, ahh,” desah gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin menyiapkan dua jarinya untuk masuk ke dalam vagina Vallerie. Ia mengomando Vallerie untuk menjilat jari telunjuk dan jari tengahnya. Sesuai dugaannya, Vallerie melakukannya dengan sangat menggoda. Gavin dibuat memuncak hasratnya.</p>

<p>“Kalau sakit bilang, ya, Vall,” ujar Gavin.</p>

<p>“Iya, Kak,” jawab Vallerie.</p>

<p>Gavin memasukkan dua jarinya ke dalam kewatiaan gadis cantik itu. Vallerie menggigit bibirnya saat jari-jari besar itu masuk ke dalam dirinya. Ia memejamkan matanya dengan erat. Sementara itu, Gavin memperhatikan raut wajah Vallerie dengan saksama.</p>

<p>“Sakit, Vall?” tanyanya.</p>

<p>Vallerie menggeleng. “Enggak, Kak, ahhh, lanjut aja.”</p>

<p>Gavin mulai mengocok jarinya di bawah sana dengan tempo pelan. Dengan gerakan sederhana seperti itu saja, Vallerie terbang menuju langit teratas. Tubuhnya menegang. Ia merasakan sensasi yang aneh pada dirinya.  Pinggulnya kembali bergoyang. Vallerie jelas ingin lebih.</p>

<p>Gavin tersenyum menang saat mengetahui hal tersebut. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Vallerie lalu bertanya.  “Mau apa, Vall?” tanyanya sensual.</p>

<p>“Nghh, Kak,” lirih Vallerie.</p>

<p>“Bilang yang jelas,” kata Gavin. “Gue gak denger.”</p>

<p>“Ahhh, mau pake, mphh, lidah, Kak,” pinta Vallerie.</p>

<p>“Mau pake lidah gue?” tanya Gavin memastikan.</p>

<p>Vallerie mengangguk. “Iya, Kak.”</p>

<p>“Mohon dulu,” kata Gavin dengan wajah yang penuh dengan keangkuhan.</p>

<p>Vallerie yang sedang disibukkan dengan kenikmatannya di bawah sana tiba-tiba saja dibuat memohon sebab ada permintaan yang ia ajukan kepada Gavin. Ia menduga lelaki tampan itu benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatannya malam ini.</p>

<p>Vallerie dengan susah payah mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Gavin. Kemudian, ia berbisik, “Nghhh, Kak, please, ahh, gue mau, nghh, pake lidah lo,” ujarnya terbata-bata.</p>

<p>Mendengarnya, Gavin menyeringai lebar. “Bagus.”</p>

<p>Gavin menundukkan tubuhnya. Ia melesatkan lidahnya tanpa aba-aba ke dalam vagina Vallerie dan membuat gadis cantik itu memekik kenikmatan. Tubuh Vallerie menggeliat hebat. Kedua kakinya yang memang sudah lemas ditahan oleh Gavin di sebelah kanan dan kiri kepalanya.</p>

<p>“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.</p>

<p>Benda kenyal itu terus menghujam klitorisnya. Sedangkan, kedua jari Gavin tidak ditarikanya melainkan ia masukkan lebih dalam dan menyentuh titik manisnya. Vallerie dibuat menggila oleh permainan itu sebab pemainnya, Gavin, adalah orang gila.</p>

<p>“Nghhh, Kak, ahh,” lirih gadis cantik itu.</p>

<p>Gavin merasa lubang surgawi itu sudah cukup basah untuk dimasukinya. Lalu, Gavin menegakkan tubuhnya. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Vallerie. Ia mengecup kening gadis cantik itu dalam waktu yang cukup lama.</p>

<p>“Gue masukin, ya?” tanya Gavin memastikan.</p>

<p>Vallerie tidak menjawab dengan lisannya. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Tentu saja, senyuman itu dibalas dengan senyum yang tak kalah indah. Gavin menekan perut bagian bawah Vallerie sembari perlahan memasukkan kejantanannya.</p>

<p>“Kalau gak tahan bilang, ya, Vall,” ujar Gavin.</p>

<p>“Iya, mphh, Kak,” jawab Vallerie.</p>

<p>Gavin sudah memasukkan penisnya setengah. Ia dapat melihat dengan jelas raut wajah Vallerie yang mengekspresikan kenikmatan. Kemudian, ia menggoyangkan pinggulnya dengan tempo pelan sembari meneroboskan lagi penisnya agar masuk dengan sempurna.</p>

<p>“Nghhh, Val,” lirih Gavin.</p>

<p>Akhirnya, hasratnya yang memuncak terbayarkan juga sejak Gavin memangku Vallerie dan gadis cantik itu dengan tidak sengaja, atau sengaja, menggoda kejantannya tadi. Menurut Gavin, Vallerie sangat pantas untuk dinikmati.</p>

<p>Di dalam hatinya, masih ada rasa ketidakpercayaan pada Vallerie bahwa ini kali pertamanya melakukan hubungan seksual. Vallerie yang hanya bermodalkan video porno mampu menyambut permainannya dengan baik.</p>

<p>“Ahhh, Kak, cepetin lagihh,” pinta Vallerie.</p>

<p>Sesuai dengan ultimatum yang ada, Gavin menambah tempo gempurannya. Ranjang yang mereka tumpangi berdua mendecit dengan kencang seolah menjadi saksi bisu permainan panas di malam hari ini.</p>

<p>Vallerie sangat puas dengan pelayanan Gavin. Ia banyak meminta di dalam permainan ini tetapi Gavin mampu memberikan persis apa yang diinginkannya. Pada permainan kali ini, keduanya sama-sama diuntungkan.</p>

<p>“Nghh, hentakkin lagi, ahhh, Kak,” pinta Vallerie lagi.</p>

<p>Tanpa mengurangi kecepatannya, Gavin mengeraskan gempurannya hingga penisnya menabrak dinding rahim gadis cantik itu. Baik Gavin dan Vallerie menengadahkan kepala mereka ke arah langit-langit sebab rasa nikmat yang menjalar.</p>

<p>Permainan panas itu dibumbui dengan gerakannya yang cukup kasar. Namun, keduanya menikmati kebrutalan itu dengan senang hati. Bahkan, sebentar lagi, salah satu dari mereka akan menjemput pelepasannya.</p>

<p>“Ahhh, Kak, gue mau, mphh keluar,” ujar Vallerie susah payah.</p>

<p>Benar saja, beberapa detik setelahnya, Vallerie merasakan titik ternikmatnya yang pertama bersama laki-laki. Apabila biasanya Vallerie berusaha memuaskan dirinya sendiri tetapi kali ini Gavin ada untuk menemaninya.</p>

<p>“Ahh!” pekik Vallerie saat mencapai titik ternikmatnya.</p>

<p>“Nghh, gue bentar lagi, mphhh, Vall,” jelas Gavin.</p>

<p>Gavin yang sebentar lagi akan mencapai pelepasannya bergerak semakin kasar. Ia memeluk tubuh Vallerie untuk kemudian mengulum puting payudaranya secara bergantian. Vallerie yang merasa dinikmati seperti itu menjadi terangsang lagi.</p>

<p>“Ahhh, gue jadi mau, nghh, keluar lagi, Kak,” ucap Vallerie.</p>

<p>“Keluarin aja, Vall,” balas lelaki tampan itu.</p>

<p>Vallerie memeluk erat tubuh atletis yang berada di atasnya. Gavin benar. Vallerie sebaiknya tidak bermain-main dengan lelaki tampan ini. Ia dapat merasakan pinggulnya yang hampir lepas sebab permainan brutal ini.</p>

<p>“Ahh, Kak!” Vallerie mendapatkan pencapaiannya yang kedua.</p>

<p>Sementara itu, Gavin mencabut penisnya dari bawah sana. Ia arahkan kejantannya yang menegang sempurna itu ke wajah cantik Vallerie. Sepersekian detik kemudian, cairan putih yang kenal membanjiri wajah gadis cantik itu.</p>

<p>“Akh!” pekik Gavin yang diburu napas.</p>

<p>Gavin merebahkan tubuhnya di sebelah Vallerie. Di atas ranjang berukuran sedang itu, baik Gavin maupun Vallerie sama-sama mengatur napas mereka. Keduanya memandang ke arah langit-langit kamar yang dihiasi lampu berwarna putih hangat.</p>

<p>“Thanks, Vall,” ucap Gavin membuka suara.</p>

<p>“Harusnya gue yang bilang makasih ke lo, Kak,” sahut Vallerie.</p>

<p>“Lo mainnya hebat,” puji lelaki tampan itu.</p>

<p>Vallerie tersenyum sumringah. “Iya, ya?” katanya. “Kalau gitu peluk dong,” sambung gadis cantik itu.</p>

<p>Mendengar permintaan tersebut, Gavin menarik Vallerie untuk masuk ke dalam pelukannya. Ia juga menyampirkan selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos bak bayi. Gavin mengusap punggung dan kepala bagian belakang Vallerie secara bergantian.</p>

<p>“Lo banyak request, ya, Vall,” ledek Gavin.</p>

<p>“Ya, lo-nya juga mau aja, Kak,” balas Vallerie.</p>

<p>Setelahnya, tidak ada percakapan signifikan di antara keduanya. Gavin dan Vallerie menikmati atmosfer yang melingkupi mereka. Gavin dapat mendengar napas Vallerie yang mulai teratur dan sebaliknya.</p>

<p>“Gue takut, Kak,” kata gadis cantik itu tiba-tiba.</p>

<p>“Takut kenapa, Vall?” tanya Gavin.</p>

<p>“Takut ketauan Bang Paldi,” ucap Vallerie.</p>

<p>“‘Kan udah gue bilang itu urusan gue,” ujar Gavin. “Lo gak usah khawatir,” lanjutnya.</p>

<p>Di tengah-tengah percakapan dengan topik yang lagi-lagi cukup serius dan menyita tenaga itu, tiba-tiba saja jam kuno yang berada di ruang tamu rumah Vallerie berdenting kencang. Jam sudah menunjukkan tengah malam. Gavin bankit dari posisinya.</p>

<p>“Mau ke mana, Kak?” tanya Vallerie yang ikut duduk di atas ranjangnya.
“Gue mau mandi,” jawab Gavin. “Mau ikut?” tanyanya.</p>

<p>Vallerie menyibakkan rambut panjangnya ke arah belakang. Lalu, ia menggeleng. “Lo duluan deh, Kak,” katanya. “Kaki gue masih sakit.”</p>

<p>Gavin tertawa. “Katanya ‘silakan aja’ tapi baru gitu aja udah sakit,” ledeknya.</p>

<p>Vallerie mengambil bantal yang ada di sebelahnya dan melemparkannya ke arah Gavin. “Dih!”</p>

<p>Gavin berjalan kembali mendekati Vallerie. Ia kecup kening gadis cantik itu dan berkata, “Aku mandi dulu, ya, Sayang.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/trial-and-error</guid>
      <pubDate>Sat, 18 Mar 2023 14:22:56 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Axiomatic</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/axiomatic?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Gauri memeluk dirinya sendiri di atas sofa sembari menyaksikan film komedi romantis yang terputar di televisinya. Ia menghela napas seiring kehadiran sahabatnya, Raiya, yang tidak kunjung datang. &#xA;&#xA;“Raiya lama amat sih. Gue udah laper banget,” keluhnya.&#xA;&#xA;Gauri meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di depannya. Ia hendak mengetik beberapa pesan yang mengandung kalimat protes kepada sahabatnya itu kala bel pintu unitnya berdering. Gauri pun melompat dari posisi duduknya.&#xA;&#xA;“Asik!” pekiknya.&#xA;&#xA;Gauri kira yang memencet bel pintu unitnya adalah Raiya. Namun, saat gadis cantik itu membuka pintu apartemennya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang mantan pacar, Gasendra, yang berdiri tegap sembari menenteng plastik makanan dan sekantung obat.&#xA;&#xA;“Kamu ngapain di sini?” tanya Gauri heran.&#xA;&#xA;Gasendra mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan plastik jinjingan yang dibawanya. “Katanya kamu laper,” jawabnya.&#xA;&#xA;“Kata siapa?” balas Gauri dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Kata Raiya,” singkat Gasendra.&#xA;&#xA;Gauri menolehkan pandangannya. Ia mengumpat dalam diam. Akan lebih baik apabila dirinya harus keluar dari unit apartemennya dan membeli makanannya sendiri dibanding Gasendra yang menghampirinya dengan berbagai macam makanan dan obat.&#xA;&#xA;“Sialan, Raiya,” umpat Gauri. “Kalau gini gimana gue mau move on.”&#xA;&#xA;“Aku… boleh masuk?” tanya Gasendra hati-hati.&#xA;&#xA;Gauri sempat mematung sebelum kepalanya mengangguk beberapa kali. Ia menepikan tubuhnya agar Gasendra dapat melengang masuk ke dalam kediamannya. Di dalam sana, Gasendra meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja makan.&#xA;&#xA;“Kamu sakit apa, Gar?” tanya Gasendra yang sibuk meraih cangkir minuman pada rak di atas bak pencuci piringnya.&#xA;&#xA;“Cuma gak enak badan aja,” jawab Gauri.&#xA;&#xA;Gasendra mengangguk paham. Di satu sisi, Gauri dengan susah payah ingin meraih dua buah cangkir. Kaki pendeknya berusaha menjangkau ketinggi. Di sisi lain, Gasendra yang menyaksikan adegan itu hanya dapat menahan tawanya.&#xA;&#xA;“Susah, ya, Gar? Sini aku bantuin,” kata lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Dengan sigap, Gasendra berjalan mendekati Gauri. Dari arah belakang, Gasendra membantu mantan kekasihnya itu untuk mengambil cangkir. Mari salahkan Raiya yang meletakkan gelas dan cangkir di atas sana.&#xA;&#xA;“Nih,” ucap Gasendra sembari memberikan dua buah cangkir berwarna putih.&#xA;&#xA;“Makasih,” balas Gauri. “Raiya tuh yang tarok gelasnya tinggi banget.”&#xA;&#xA;Gasendra terkekeh. Tanpa sadar, tangannya mengusak pucuk kepada Gauri. “Iya, sama-sama, Gauri.”&#xA;&#xA;Setelahnya, Gasendra kembali ke meja makan untuk menyiapkan makanan. Sedangkan, Gauri menyeduh es kopi hitam untuk Gasendra dan es teh manis untuk dirinya sendiri dan kemudian menyusul Gasendra di meja makan.&#xA;&#xA;“Kamu minum es, Gar?” tanya Gasendra yang melihat Gauri menyesap es teh manis buatannya.&#xA;&#xA;Gauri mengangguk. “Iya.”&#xA;&#xA;Dengan cepat, Gasendra mengambil cangkir yang berisikan es teh manis itu. Lalu, ia bangkit untuk mengambil gelas lain. “Kamu kalau lagi demam, jangan minum es dulu. Nanti sakitnya tambah parah. Tenggorokan kamu juga lebih sensitif kalau lagi sakit. Nanti yang ada kamu malah radang,” jelas lelaki tampan itu.&#xA;&#xA;Gauri tertegun mendengar celotehan Gasendra yang melarang dirinya untuk minum es di kala sakit. Dalam diamnya, gadis cantik itu tersenyum. Gasendra benar-benar masih mengingat semua hal, dari besar sampai yang kecil, tentang dirinya.&#xA;&#xA;“Minum air hangat aja, ya, Gar,” ujar Gasendra sembari memberikan gelas baru berisikan air hangat untuk mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;“Iya. Makasih lagi, ya, Sen,” ucap Gauri.&#xA;&#xA;“Iya, sama-sama lagi. Sekarang makan dulu,” kata Gasendra.&#xA;&#xA;Entah apa yang merasuki Gauri, ia langsung melahap makanan yang Gasendra siapkan untuknya. Saat bertemu dengan Gasendra, Gauri tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Justru, semangatnya kembali dengan cepat.&#xA;&#xA;Selama Gauri sedang makan, Gasendra memperhatikannya dengan saksama. Sesekali, lelaki tampan itu tertawa. Ia sangat suka bagaimana Gauri melahap semua makanan yang dibawakannya tanpa tersisa.&#xA;&#xA;“Pelan-pelan aja makannya, Gar. Makanannya gak akan ke mana-maka kok,” guyon Gasendra sembari mengusap sebelah bahu sempit Gauri.&#xA;&#xA;Gauri yang diperlakukan seperti itu hanya mengangguk. “Iya, Gasendra.”&#xA;&#xA;Tanpa terasa, sang fajar sudah tergantikan dengan sang senja. Cahaya yang didominasi dengan warna oranye kekuningan menembus masuk lewat celah jendela di ruang televisi di apartemen itu. Gauri sedang mencuci piring dan Gasendra sedang mengelap meja makan.&#xA;&#xA;“Kamu udah makan, Sen?” tanya Gauri tanpa menolehkan pandangannya.&#xA;&#xA;“Udah,” jawab Gasendra. “Kenapa?”&#xA;&#xA;“Ya, gak apa-apa sih, cuma nanya aja. Takutnya kamu bawain aku makanan tapi kamu sendiri belum makan,” jelas Gauri.&#xA;&#xA;Gasendra tersenyum dan pergerakannya berhenti sesaat. “Udah kok, Gar,” ucapnya. “Kamu gak usah khawatir.”&#xA;&#xA;Setelahnya, Gauri bersantai pada sofa yang terletak di ruang televisi, tempatnya menunggu Raiya tadi. Gauri menyetel film komedi romantis yang sempat tertunda tadi. Ia menyampirkan dirinya dengan selimut yang ia bawa dari kamarnya.&#xA;&#xA;“Kamu udah mendingan, Gar?” tanya Gasendra yang baru keluar dari kamar mandi.&#xA;&#xA;“Kayaknya—” Belum sempat Gauri menyelesaikan kalimat. Gasendra sudah lebih dulu muncul di hadapannya.&#xA;&#xA;Dengan jarak yang hanya terpaut beberapa senti, Gasendra mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Gauri. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening sang gadis. Ia tersenyum saat mengetahui tubuh Gauri sudah dalam keadaan suhu normal.&#xA;&#xA;“Udah turun panasnya,” ujarnya sembari tersenyum. “Kamu udah sehat.”&#xA;&#xA;Gauri yang awalnya membeku pada posisinya kini mulai sadar. Ia menyingkirkan tangan besar yang ada pada keningnya. “I-Iya.”&#xA;&#xA;Lalu, Gasendra mendudukkan dirinya di sebelah Gauri. “Ternyata kamu cuma butuh makan,” katanya bercanda.&#xA;&#xA;Selepasnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara mereka. Gasendra dan Gauri sama-sama sibuk menikmati film yang ada di televisi. Mereka tertawa dan mencela adegan cringe yang muncul dari film.&#xA;&#xA;Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Matahari sudah lama mengistirahatkan dirinya. Sekarang, hanya purnama yang bertengger di khatulistiwa. Gasendra hendak mengambil kunci mobilnya yang tergantung di samping pintu keluar.&#xA;&#xA;“Sen,” panggil Gauri.&#xA;&#xA;“Iya, Gar?” balas Gasendra.&#xA;&#xA;“Mau pulang, ya?” tanyanya.&#xA;&#xA;Gasendra mengangguk. “Iya,” katanya. “Kamu ada butuh sesuatu lagi?”&#xA;&#xA;Mendengar pertanyaan tersebut, Gauri hanya bergumam sendiri sembari mengusap tengkuknya secara canggung. Gasendra yang memperhatikan tingkah aneh itu hanya terkekeh. Ia mungkin tahu bahwa Gauri ingin dirinya tinggal lebih lama.&#xA;&#xA;“Gar.” Kali ini, Gasendra yang memanggil nama mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;“Iya?” sahut Gauri seraya mengangkat pandangannya agar dapat menatap langsung ke arah Gasendra.&#xA;&#xA;“Di tempat tinggal baru aku, penghuni gak boleh keluar-masuk di atas jam 12 malem. Aku lupa kalau ini udah jam 11. Sedangkan, perjalanan aku dari sini ke sana hampir satu jam dan kemungkinan aku gak dikasih akses masuk. Jadi—” Gasendra belum sempat merampungkan penjelasannya tetapi Gauri sudah menyela terlebih dahulu.&#xA;&#xA;“Kamu boleh kok kalau mau tidur di sini,” tawar gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Gasendra mengembalikan kunci mobilnya pada gantungan di samping pintu keluar. “Beneran?”&#xA;&#xA;Gauri mengangguk. “Ya, aku gak enak juga sama kamu. ‘Kan kamu udah bawain makan sama obat untuk aku. Seenggaknya… aku bisa bales dengan ngasih kamu tempat untuk nginap,” katanya.&#xA;&#xA;Gasendra tersenyum. “Makasih, ya, Gar.”&#xA;&#xA;“Iya. Aku ambil selimut sama bantal dulu, ya.” Gauri berjalan ke arah kamar tidurnya. “Kamu gak apa-apa ‘kan tidur di sofa?” tanyanya dari dalam kamar.&#xA;&#xA;“Iya, gak apa-apa kok,” jawab Gasendra.&#xA;&#xA;Kemudian, Gauri keluar dari kamarnya dengan menenteng satu buah bantal dan selimut bergambar rubah merah lalu memberikannya kepada Gasendra. Setelahnya, ia pamit untuk tidur.&#xA;&#xA;Di dalam kamarnya, Gauri merebahkan dirinya di atas ranjang. Sebelah tangannya ia gunakan sebagai bantal dan sebelahnya lagi digunakan untuk menutupi matanya dari sinar lampu yang berusaha menerobos masuk ke dalam matanya.&#xA;&#xA;“Sen,” gumam Gauri. Ia bangkit dari posisi berbaringnya. “Sumpah gue gak bisa tidur,” ucapnya. “Ya, gimana gue bisa tidur kalau ada Gasendra di sini.”&#xA;&#xA;Di sisi lain, Gasendra yang sedang menyandarkan tubuhnya sembari menatap kosong pada hitamnya layar televisi tiba-tiba saja mengusap wajahnya secara kasar. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.&#xA;&#xA;“Gue ngapain sih pake bohong segala ke Gauri,” monolognya.&#xA;&#xA;Tak lama kemudian, suara decit pintu yang terbuka mengalihkan lamunan Gasendra. Itu Gauri. Keduanya sempat bertukar pandang sebelum Gauri berjalan mendekat ke arahnya. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Gasendra.&#xA;&#xA;“Kenapa, Sen? Ada yang sakit?” tanya Gasendra.&#xA;&#xA;Gauri menggeleng. “Enggak,” jawabnya. “Aku gak bisa tidur.”&#xA;&#xA;Sejenak, Gasendra berpikir. “Kamu mau nonton dulu? Biasanya kamu kalau gak bisa tidur harus nonton sesuatu dulu.”&#xA;&#xA;Dan lagi, Gasendra masih mengingat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh mantan pacarnya. Tidak ingin munafik, Gauri senang akan hal itu. Ia pun menyetujui ajakan dari Gasendra.&#xA;&#xA;Gauri mengangguk sekali. “Tapi nonton horor, ya,” pinta gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Boleh. Apa aja yang penting kamu bisa tidur,” katanya.&#xA;&#xA;Akhirnya, Gasendra menyetel film horor untuk disaksikan bersama. Pada beberapa menit pertama, semuanya berjalan seperti biasa. Belum ada adegan menegangkan ataupun mengagetkan yang berpotensi membuat jantung keduanya meledak.&#xA;&#xA;“Gar,” panggil Gasendra tiba-tiba.&#xA;&#xA;Merasa Gasendra memanggil namanya, Gauri menoleh. “Iya, Sen?”&#xA;&#xA;“Mau gabung di selimut… bareng aku?” tanyanya hati-hati.&#xA;&#xA;Gauri yang sedikit merasa kedinginan dan mengingat dirinya belum sembuh total dari demamnya menerima tawaran tersebut. “Boleh.”&#xA;&#xA;Gasendra mendekatkan dirinya pada Gauri. Ia membiarkan gadis cantik itu untuk masuk ke dalam sampiran selimut bersamanya. Gasendra dan Gauri mengatur posisi duduk masing-masing agar nyaman di dalam sana.&#xA;&#xA;Film horor terus berlanjut. Gauri fokus dengan alur cerita seru yang ditampilkan di film itu. Sedangkan, Gasendra hanya dapat fokus pada gadis cantik yang duduk di dalam naungan selimut di sampingnya.&#xA;&#xA;Dengan niat yang disengaja atau tidak, Gasendra meregangkan sebelah lengannya lalu meletakkan di kepala sofa tepat di belakang tubuh Gauri. Dan dengan pergerakan yang disengaja atau tidak, Gauri merebahkan sedikit tubuhnya pada rangkulan itu.&#xA;&#xA;Gasendra beredehem pelan. “Kamu suka film-nya, Gar?” tanyanya.&#xA;&#xA;“Ya, lumyan sih,” jawab Gauri.&#xA;&#xA;Gasendra hanya mengangguk paham. “Gak takut?” tanya lelaki tampan itu lagi.&#xA;&#xA;“Enggak,” katanya.&#xA;&#xA;Tepat setelah Gauri menutup mulutnya. Adegan inti dari film horor tersebut muncul. Manusia jerami yang diyakini mempunyai kekuatan magis berlari mengejar anak laki-laki yang suka membuat rusuh di ladangnya.&#xA;&#xA;Gauri berteriak dengan kencang sehingga dapat memekakkan telinga siapa saja, termasuk Gasendra. Ia menyembunyikan dirinya di dalam dekapan lelaki tampan yang duduk di sampingnya. Dengan refleks yang bagus, Gasendra memeluknya.&#xA;&#xA;“Katanya gak takut, Gar,” ledek Gasendra.&#xA;&#xA;“Ya, emang. Cuma ngangetin aja,” elak Gauri.&#xA;&#xA;Film tetap berlanjut setelahnya. Adegan seram lainnya mulai mengikuti. Semua cerita seram tentang manusia jerami yang ada di dalam buku tersebut satu per satu mulai terjadi secara natural. Namun, ada satu adegan yang menganggu keduanya.&#xA;&#xA;“Mereka make out di ladang?” pekik Gauri.&#xA;&#xA;Gasendra membuang pandangannya. Entah apa yang dipikirkan oleh penulis dari film horor ini. Bagaimana bisa dia menyelipkan adegan seperti ini di dalam film horor yang banyak memakan korban jiwa.&#xA;&#xA;Ternyata, adegan itu digunakan untuk memancing adegan lain. Manusia jerami yang menyaksikan kejadian menjijikan itu secara langsung murka besar. Ia mengutuk sepasang kekasih itu menjadi manusia jerami juga. Lalu, tulisan ‘The End’ muncul di layar televisi.&#xA;&#xA;“Udah?!” pekik Gauri lagi. “Gini doang?!”&#xA;&#xA;“Emangnya kamu maunya gimana?” tanya Gasendra&#xA;&#xA;“Ya, minimal ada yang happily ever after-lah. Ini mah enggak, pemerannya meninggal semua,” jelas gadis cantik itu.&#xA;&#xA;“Enggak,” sahut Gasendra. “Itu ada yang dikutuk jadi manusia jerami.”&#xA;&#xA;“Ya, itu berarti mereka gak bisa lagi menjalani hidup sebagai manusia lagi alias meninggal,” ujar Gauri.&#xA;&#xA;“Gar, kamu tau gak ada pesan moral di dalam film itu?” tanya Gasendra serius.&#xA;&#xA;“Emang ada?” Apa?” balas Gauri dengan kembali bertanya.&#xA;&#xA;“Ada.” Gasendra mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik Gauri. “Pesan moralnya itu kita gak boleh make out di tempat terbuka, apalagi di tempat orang lain,” jelasnya sembari menjawir hidung mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;“Astaga. Aku kira apaan,” ketus Gauri. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gasendra tertawa. “Kenapa protes? Gak sesuai ekspektasi kamu, ya?”&#xA;&#xA;“Enggak. Aku aja yang berharapnya ketinggian,” jawab Gauri.&#xA;&#xA;Masih di tempat yang sama, Gasendra memandangi Gauri tiada henti. Ia suka bagaimana Gauri dengan gemasnya merasa kesal karena akhir film yang terlalu menggantung. Tanpa disadari, tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Gauri.&#xA;&#xA;Merasa ada tangan besar yang menginterupsi sesi protesnya, Gauri menolehkan pandangannya. Ia cukup terkejut sebab pemandangan yang ia temukan adalah rangka wajah yang tegas dan tampan serta sepasang manik yang serupa legamnya malam sedang menatap ke arahnya.&#xA;&#xA;“Cantik,” ucap Gasendra.&#xA;&#xA;Mendengar ada kata sanjungan yang ditujukan untuknya, jantung Gauri berdegup seribu kali lebih kencang. Tubuhnya kembali menghangat tetapi bukan karena sakit. Entah ini imajinasinya atau bukan, ia melihat Gasendra terus memandang ke arah bibirnya.&#xA;&#xA;“Sen,” panggil Gauri.&#xA;&#xA;“Sorry, Gar, tapi aku gak tahan,” ujar Gasendra.&#xA;&#xA;Selanjutnya, yang terjadi adalah Gasendra mencium bibir Gauri tanpa aba-aba. Tangan besarnya yang merangkul tubuh mungil gadis cantik itu bergerak naik lalu menekan tengkuk Gauri agar menciumnya lebih dalam.&#xA;&#xA;Gauri yang dicium tiba-tiba seperti itu tidak dapat berbuat banyak. Sepasang maniknya membulat sempurna. Ia membeku di tempat sembari merasakan bibir Gasendra dengan ganas menjamah bibirnya. &#xA;&#xA;Kemudian, Gauri mendorong tubuh besar yang memeluknya itu. “Aku… gak bisa… napas,” katanya terbata.&#xA;&#xA;Gasendra menyeringai. Ia mengusap bibirnya yang dipenuhi dengan saliva mantan pacarnya. “Aku terlalu agresif, ya?” godanya.&#xA;&#xA;“Emangnya kamu gak napas, ya, tadi? Lama banget,” keluh Gauri.&#xA;&#xA;Gasendra tertawa pelan sebab Gauri tidak mempermasalahkan kenapa ia menciumnya. “Oke. Aku mainnya pelan aja.”&#xA;&#xA;Gasendra memandangi anugerah paling indah yang pernah ia temui. Perlahan, wajah tampan itu mendekat lagi kepada wajah yang lebih cantik. Gauri lebih dahulu memejamkan matanya lalu diikuti oleh Gasendra.&#xA;&#xA;Ciuman kembali terjadi tetapi yang kali ini lebih khidmat dan tidak hanya satu arah saja. Gasendra menangkup sebelah pipi Gauri. Sedangkan, Gauri mengalungkan lengannya pada bahu lebar Gasendra. &#xA;&#xA;Entah sudah berapa kali kepala mereka berubah arah dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Bersamaan dengan televisi yang menampilkan daftar nama terakhir dari film horor tadi, ciuman itu tetap berjalan sebagaimana mestinya.&#xA;&#xA;“Mphhh,” lenguh Gauri saat Gasendra menggigit bibirnya.&#xA;&#xA;Ciuman itu terus membawa atmosfer yang semakin panas. Gerakan yang mereka lakukan pun menunjukkan keinginan untuk melakukan hal yang lebih dari ini. Setelah beberapa menit, ciuman itu berakhir.&#xA;&#xA;Gasendra tertawa pelan. “Aku gak tau kamu sehebat ini,” pujinya.&#xA;&#xA;Gauri menyeringai. “Makanya aku kasih tau sekarang,” jawabnya tidak mau kalah.&#xA;&#xA;Kemudian, Gasendra memandu Gauri agar berbaring bersama di atas sofa. Di dalam balutan selimut itu, Gasendra memeluk mantan kekasihnya dari belakang. Pada beberapa area di sekitar leher yang sudah terekspos, ia memberikan kecupan hangat.&#xA;&#xA;“Nghh, ahhh,” lirih Gauri. &#xA;&#xA;Gauri suka bagaimana suhu hangat dari bibir Gasendra menjadi satu dengan angin dingin yang dihembuskan pendingin ruangannya. Tubuhnya tidak dapat berhenti bergerak sebab rasa geli yang menjalar.&#xA;&#xA;Dengan inisiatif, tangan besar Gasendra bergerak mengusap perut rata Gauri. Lagi, sensasi hangat itu membangkitkan hasratnya. Tubuhnya bergerak lebih brutal sehingga menggesek kejantanan Gasendra.&#xA;&#xA;“Ahhh, Sen,” desahnya.&#xA;&#xA;“Lagi?” tanya Gasendra.&#xA;&#xA;“Nghh, iya,” jawab Gauri tanpa ragu.&#xA;&#xA;“Aku lepas, ya, bajunya?” tanyanya meminta izin.&#xA;&#xA;“Iya,” jawab Gauri lagi.&#xA;&#xA;Gasendra membantu Gauri untuk melepaskan pakaiannya. Dibuangnya kaos hitam itu ke sembarang arah. Kemudian, tangan besar itu bergerak menelusup ke arah payudara yang masih terlindungi oleh bra berwarna biru dongker.&#xA;&#xA;“Ahh, Sen,” lirih Gauri saat Gasendra memilin ujung putingnya. &#xA;&#xA;“Enak, Gar?” tanya Gasendra sensual.&#xA;&#xA;“Mphh, iya,” jawab Gauri tertahan sebab ia menggigit bibirnya.&#xA;&#xA;Tidak dapat dipungkiri, Gauri sangat suka bagaimana Gasendra melecehkannya. Gerakan tangan besar itu sangat andal sehingga membuat Gauri terbang ke angkasa. Ada rasa geli yang muncul di bagian selatannya.&#xA;&#xA;Seolah menjawab suara hati gadis cantik itu, Gasendra menjalarkan tangan kirinya ke arah kewanitaan sang gadis. Diusapnya lubang surgawi itu dari luar pakaian dalam yang sudah lembap dibuatnya.&#xA;&#xA;Gasendra menyeringai. “Udah basah, ya.”&#xA;&#xA;Gauri yang merasa kegelian terus meghentak-hentakkan bokongnya ke arah penis mantan kekasihnya. Tentunya, hal itu membuat Gasendra merasa kewalahan. Ia menggeram rendah sebab kejantanannya yang hampir menegang sempurna.&#xA;&#xA;“Nghhh, Sen, mau,” ujar Gauri.&#xA;&#xA;“Mau apa, Cantik? Ngomong yang jelas,” perintah Gasendra.&#xA;&#xA;“Mau, ahhh, kamu,” jawab Gauri terbata.&#xA;&#xA;“Mau aku? Mau dimasukkin?” tanya Gasendra meyakinkan gadisnya.&#xA;&#xA;Gauri mengangguk beberapa kali. “Nghh, iya.”&#xA;&#xA;Dengan begitu, Gasendra melepaskan semua pakaian yang masih menempel pada tubuh mungil Gauri untuk kemudian melakukan hal yang sama pada dirinya. Gasendra kembali menyampirkan selimut tebal itu pada tubuh mereka yang polos.&#xA;&#xA;Masih dengan posisi yang sama, Gasendra memeluk Gauri dari belakang. Tangan besarnya tidak lelah untuk memainkan puting payudara yang mencuat sempurna itu. Lalu, penisnya ia gesekkan pada vagina Gauri yang mulai terlumasi.&#xA;&#xA;“Kalau sakit bilang aja, ya, Gar,” ujar Gasendra.&#xA;&#xA;Perlahan, Gasendra memasukkan kejantanannya pada lubang kecil di bawah sana. Keduanya sama-sama mendesah saat kulit mereka bertemu satu sama lain. Gauri memeluk erat bantal yang di dalam dekapannya.&#xA;&#xA;“Ahhh, Sen, ahh,” lenguh Gauri. &#xA;&#xA;“Mphh, Gar, sempit,” kata Gasendra.&#xA;&#xA;Tidak putus asa, Gasendra terus meneroboskan masuk penisnya ke dalam vagina Gauri. Ia juga mulai bergerak maju dan mundur dengan tempo pelan. Hanya dengan gerakan seperti itu saja, keduanya seolah merasakan surga dunia.&#xA;&#xA;“Nghhh, Sen, cepetin,” pinta Gauri.&#xA;&#xA;Gasendra pun mempercepat tempo gempurannya. Tidak ingin kalah, Gauri juga ikut menggoyangkan pinggulnya. Keduanya dapat merasakan bagaimana kepala penis itu menabrak ujung dinding rahim tersebut.&#xA;&#xA;“Nghhh, Gar.” Gasendra mendesahkan nama mantan kekasihnya.&#xA;&#xA;“Ahhh, Sen, enak,” puji Gauri. &#xA;&#xA;Di malam yang hampir berganti hari itu, Gasendra dan Gauri menciptakan permainan panas untuk merasakan nikmat satu sama lain. Siapa yang akan menyangka? Bahwa sepasang mantan kekasih itu mungkin akan kembali berhubungan setelah ini.&#xA;&#xA;Permainan terus berjalan. Suasana panas yang memenuhi ruang televisi, decitan kaki sofa yang berusaha keras untuk bertahan, serta suara desahan yang mengelukan satu sama lain menjadi saksi keintiman keduanya.&#xA;&#xA;“Ahh, kerasin, Sen,” pinta Gauri lagi.&#xA;&#xA;Tanpa menurunkan temponya, Gasendra menggempur Gauri tiga kali lebih keras dari sebelumnya. Tidak sampai di situ saja, ibu jari dari tangan besar itu menjamah klitoris sang gadis lalu menari di sana.&#xA;&#xA;“Nghhh, ahh, Sen,” desah Gauri kenikmatan. “Aku, nghh, mau keluar,” katanya.&#xA;&#xA;“Aku, mphh, juga,” sahut Gasendra.&#xA;&#xA;Benar saja. Tak lama setelahnya, Gauri mencapai menjemput pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang hebat. Sepasang maniknya memejam. Tangannya meremat bantal yang ada di depannya. &#xA;&#xA;“Ahhh!” pekik Gauri.&#xA;&#xA;Setelah mengetahui Gauri sudah mencapai klimaksnya, Gasendra dengan cepat mencabut penisnya dari dalam vagina gadisnya. Ia menyuruh Gauri untuk berbalik dan menghadap dirinya. Tepat setelahnya, Gasendra menyemburkan sperma hangatnya.&#xA;&#xA;“Akhh!” pekik Gasendra.&#xA;&#xA;Gasendra dan Gauri sudah mencapai titik ternikmat dari permainan panas tersebut. Keduanya diam untuk mengatur napas dan memasuk oksigen agar masuk ke paru-paru keduanya. Dengan tubuh yang dibanjiri keringat, mereka masih berpelukan di bawah naungan selimut.&#xA;&#xA;“Kamu hebat mainnya,” puji Gasendra.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Gauri terkekeh. “Makasih. Kamu juga. Gak banyak loh laki-laki yang tau gimana cara memuaskan pasangannya.”&#xA;&#xA;“Iya, ya,” balas Gasendra. “Kalau aku gak hebat, kamu gak mungkin sampe keenakan gitu.”&#xA;&#xA;“Dih! Malah jadi narcissistic,” protes gadis cantik itu.&#xA;&#xA;Selepas permainan panas itu, keduanya saling bertukar pandang dan cerita. Setelah beberapa hari menjalani hari tanpa satu sama lain, banyak hal yang terjadi. Semalam hanyalah waktu yang sebentar untuk menceritakan semuanya.&#xA;&#xA;Gasendra dan Gauri baru selesai bercerita dan membersihkan diri saat mentari menyambut fajar. Gauri mengajak Gasendra untuk beristirahat di dalam kamar tidurnya. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.&#xA;&#xA;Gauri mengerjapkan matanya beberapa kali. Kala membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Gasendra yang masih tertidur dengan lelap. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Wajahnya tidak terlihat baik.&#xA;&#xA;Dengan inisiatif, Gauri menempelkan punggung tangannya pada kening Gasendra. Dan benar saja. Demamnya kemarin ternyata berpindah kepada lelaki tampan itu. Gauri tersenyum pilu mengetahui hal tersebut.&#xA;&#xA;“Demamnya malah pindah ke kamu, Sen,” gumamnya. &#xA;&#xA;Gauri bangkit dari tempat tidurnya untuk menyiapkan makan dan obat untuk Gasendra. Selagi Gauri sibuk memasak bubur di dapur, Gasendra baru sadar dari tidurnya. Tangannya bergerak ke arah kiri untuk memeriksa keadaan Gauri.&#xA;&#xA;“Gar,” panggil Gasendra.&#xA;&#xA;“Eh, Sen. Kamu udah bangun?” tanya Gauri yang baru masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisikan semangkuk bubur, segelas air putih hangat, serta obat penurun panas.&#xA;&#xA;“Kamu bangun jam berapa?” tanya Gasendra menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.&#xA;&#xA;“Jam 1 tadi,” jawabnya. “Kamu demam, Sen.”&#xA;&#xA;“Emang iya?” balas Gasendra dengan kembali bertanya. “Pantes kepala aku agak pusing.”&#xA;&#xA;Gauri menyerahkan nampan kayu yang di bawanya kepada Gasendra. “Nih, dimakan dulu. Abis itu minum obatnya.”&#xA;&#xA;Melihat tingkah perhatian yang Gauri lakukan padanya, Gasendra menarik sebelah lengan kurus gadis cantik itu. “Makasih, ya, Cantik.” Lalu, ia mengecup pelan kening Gauri.&#xA;&#xA;Gauri tersenyum. “Demamnya malah pindah ke kamu sekarang,” ujarnya.&#xA;&#xA;Gasendra ikut tersenyum. “Gak apa-apa, Gar,” jawabnya. “Oh, iya. Aku lupa sesuatu.”&#xA;&#xA;“Apa?” tanya gadis cantik itu penasaran.&#xA;&#xA;Gasendra menangkup sebelah pipi Gauri lalu menariknya untuk menerima sebuah ciuman. “Ini,” katanya setelah menyudahi ciuman itu.&#xA;&#xA;“Cium?” tanya Gauri lagi.&#xA;&#xA;Gasendra menggeleng. “Enggak. Jadi pacar aku lagi, ya.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Gauri memeluk dirinya sendiri di atas sofa sembari menyaksikan film komedi romantis yang terputar di televisinya. Ia menghela napas seiring kehadiran sahabatnya, Raiya, yang tidak kunjung datang.</p>

<p>“Raiya lama amat sih. Gue udah laper banget,” keluhnya.</p>

<p>Gauri meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja di depannya. Ia hendak mengetik beberapa pesan yang mengandung kalimat protes kepada sahabatnya itu kala bel pintu unitnya berdering. Gauri pun melompat dari posisi duduknya.</p>

<p>“Asik!” pekiknya.</p>

<p>Gauri kira yang memencet bel pintu unitnya adalah Raiya. Namun, saat gadis cantik itu membuka pintu apartemennya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang mantan pacar, Gasendra, yang berdiri tegap sembari menenteng plastik makanan dan sekantung obat.</p>

<p>“Kamu ngapain di sini?” tanya Gauri heran.</p>

<p>Gasendra mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan plastik jinjingan yang dibawanya. “Katanya kamu laper,” jawabnya.</p>

<p>“Kata siapa?” balas Gauri dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Kata Raiya,” singkat Gasendra.</p>

<p>Gauri menolehkan pandangannya. Ia mengumpat dalam diam. Akan lebih baik apabila dirinya harus keluar dari unit apartemennya dan membeli makanannya sendiri dibanding Gasendra yang menghampirinya dengan berbagai macam makanan dan obat.</p>

<p>“Sialan, Raiya,” umpat Gauri. “Kalau gini gimana gue mau move on.”</p>

<p>“Aku… boleh masuk?” tanya Gasendra hati-hati.</p>

<p>Gauri sempat mematung sebelum kepalanya mengangguk beberapa kali. Ia menepikan tubuhnya agar Gasendra dapat melengang masuk ke dalam kediamannya. Di dalam sana, Gasendra meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja makan.</p>

<p>“Kamu sakit apa, Gar?” tanya Gasendra yang sibuk meraih cangkir minuman pada rak di atas bak pencuci piringnya.</p>

<p>“Cuma gak enak badan aja,” jawab Gauri.</p>

<p>Gasendra mengangguk paham. Di satu sisi, Gauri dengan susah payah ingin meraih dua buah cangkir. Kaki pendeknya berusaha menjangkau ketinggi. Di sisi lain, Gasendra yang menyaksikan adegan itu hanya dapat menahan tawanya.</p>

<p>“Susah, ya, Gar? Sini aku bantuin,” kata lelaki tampan itu.</p>

<p>Dengan sigap, Gasendra berjalan mendekati Gauri. Dari arah belakang, Gasendra membantu mantan kekasihnya itu untuk mengambil cangkir. Mari salahkan Raiya yang meletakkan gelas dan cangkir di atas sana.</p>

<p>“Nih,” ucap Gasendra sembari memberikan dua buah cangkir berwarna putih.</p>

<p>“Makasih,” balas Gauri. “Raiya tuh yang tarok gelasnya tinggi banget.”</p>

<p>Gasendra terkekeh. Tanpa sadar, tangannya mengusak pucuk kepada Gauri. “Iya, sama-sama, Gauri.”</p>

<p>Setelahnya, Gasendra kembali ke meja makan untuk menyiapkan makanan. Sedangkan, Gauri menyeduh es kopi hitam untuk Gasendra dan es teh manis untuk dirinya sendiri dan kemudian menyusul Gasendra di meja makan.</p>

<p>“Kamu minum es, Gar?” tanya Gasendra yang melihat Gauri menyesap es teh manis buatannya.</p>

<p>Gauri mengangguk. “Iya.”</p>

<p>Dengan cepat, Gasendra mengambil cangkir yang berisikan es teh manis itu. Lalu, ia bangkit untuk mengambil gelas lain. “Kamu kalau lagi demam, jangan minum es dulu. Nanti sakitnya tambah parah. Tenggorokan kamu juga lebih sensitif kalau lagi sakit. Nanti yang ada kamu malah radang,” jelas lelaki tampan itu.</p>

<p>Gauri tertegun mendengar celotehan Gasendra yang melarang dirinya untuk minum es di kala sakit. Dalam diamnya, gadis cantik itu tersenyum. Gasendra benar-benar masih mengingat semua hal, dari besar sampai yang kecil, tentang dirinya.</p>

<p>“Minum air hangat aja, ya, Gar,” ujar Gasendra sembari memberikan gelas baru berisikan air hangat untuk mantan kekasihnya.</p>

<p>“Iya. Makasih lagi, ya, Sen,” ucap Gauri.</p>

<p>“Iya, sama-sama lagi. Sekarang makan dulu,” kata Gasendra.</p>

<p>Entah apa yang merasuki Gauri, ia langsung melahap makanan yang Gasendra siapkan untuknya. Saat bertemu dengan Gasendra, Gauri tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Justru, semangatnya kembali dengan cepat.</p>

<p>Selama Gauri sedang makan, Gasendra memperhatikannya dengan saksama. Sesekali, lelaki tampan itu tertawa. Ia sangat suka bagaimana Gauri melahap semua makanan yang dibawakannya tanpa tersisa.</p>

<p>“Pelan-pelan aja makannya, Gar. Makanannya gak akan ke mana-maka kok,” guyon Gasendra sembari mengusap sebelah bahu sempit Gauri.</p>

<p>Gauri yang diperlakukan seperti itu hanya mengangguk. “Iya, Gasendra.”</p>

<p>Tanpa terasa, sang fajar sudah tergantikan dengan sang senja. Cahaya yang didominasi dengan warna oranye kekuningan menembus masuk lewat celah jendela di ruang televisi di apartemen itu. Gauri sedang mencuci piring dan Gasendra sedang mengelap meja makan.</p>

<p>“Kamu udah makan, Sen?” tanya Gauri tanpa menolehkan pandangannya.</p>

<p>“Udah,” jawab Gasendra. “Kenapa?”</p>

<p>“Ya, gak apa-apa sih, cuma nanya aja. Takutnya kamu bawain aku makanan tapi kamu sendiri belum makan,” jelas Gauri.</p>

<p>Gasendra tersenyum dan pergerakannya berhenti sesaat. “Udah kok, Gar,” ucapnya. “Kamu gak usah khawatir.”</p>

<p>Setelahnya, Gauri bersantai pada sofa yang terletak di ruang televisi, tempatnya menunggu Raiya tadi. Gauri menyetel film komedi romantis yang sempat tertunda tadi. Ia menyampirkan dirinya dengan selimut yang ia bawa dari kamarnya.</p>

<p>“Kamu udah mendingan, Gar?” tanya Gasendra yang baru keluar dari kamar mandi.</p>

<p>“Kayaknya—” Belum sempat Gauri menyelesaikan kalimat. Gasendra sudah lebih dulu muncul di hadapannya.</p>

<p>Dengan jarak yang hanya terpaut beberapa senti, Gasendra mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Gauri. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening sang gadis. Ia tersenyum saat mengetahui tubuh Gauri sudah dalam keadaan suhu normal.</p>

<p>“Udah turun panasnya,” ujarnya sembari tersenyum. “Kamu udah sehat.”</p>

<p>Gauri yang awalnya membeku pada posisinya kini mulai sadar. Ia menyingkirkan tangan besar yang ada pada keningnya. “I-Iya.”</p>

<p>Lalu, Gasendra mendudukkan dirinya di sebelah Gauri. “Ternyata kamu cuma butuh makan,” katanya bercanda.</p>

<p>Selepasnya, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara mereka. Gasendra dan Gauri sama-sama sibuk menikmati film yang ada di televisi. Mereka tertawa dan mencela adegan cringe yang muncul dari film.</p>

<p>Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Matahari sudah lama mengistirahatkan dirinya. Sekarang, hanya purnama yang bertengger di khatulistiwa. Gasendra hendak mengambil kunci mobilnya yang tergantung di samping pintu keluar.</p>

<p>“Sen,” panggil Gauri.</p>

<p>“Iya, Gar?” balas Gasendra.</p>

<p>“Mau pulang, ya?” tanyanya.</p>

<p>Gasendra mengangguk. “Iya,” katanya. “Kamu ada butuh sesuatu lagi?”</p>

<p>Mendengar pertanyaan tersebut, Gauri hanya bergumam sendiri sembari mengusap tengkuknya secara canggung. Gasendra yang memperhatikan tingkah aneh itu hanya terkekeh. Ia mungkin tahu bahwa Gauri ingin dirinya tinggal lebih lama.</p>

<p>“Gar.” Kali ini, Gasendra yang memanggil nama mantan kekasihnya.</p>

<p>“Iya?” sahut Gauri seraya mengangkat pandangannya agar dapat menatap langsung ke arah Gasendra.</p>

<p>“Di tempat tinggal baru aku, penghuni gak boleh keluar-masuk di atas jam 12 malem. Aku lupa kalau ini udah jam 11. Sedangkan, perjalanan aku dari sini ke sana hampir satu jam dan kemungkinan aku gak dikasih akses masuk. Jadi—” Gasendra belum sempat merampungkan penjelasannya tetapi Gauri sudah menyela terlebih dahulu.</p>

<p>“Kamu boleh kok kalau mau tidur di sini,” tawar gadis cantik itu.</p>

<p>Gasendra mengembalikan kunci mobilnya pada gantungan di samping pintu keluar. “Beneran?”</p>

<p>Gauri mengangguk. “Ya, aku gak enak juga sama kamu. ‘Kan kamu udah bawain makan sama obat untuk aku. Seenggaknya… aku bisa bales dengan ngasih kamu tempat untuk nginap,” katanya.</p>

<p>Gasendra tersenyum. “Makasih, ya, Gar.”</p>

<p>“Iya. Aku ambil selimut sama bantal dulu, ya.” Gauri berjalan ke arah kamar tidurnya. “Kamu gak apa-apa ‘kan tidur di sofa?” tanyanya dari dalam kamar.</p>

<p>“Iya, gak apa-apa kok,” jawab Gasendra.</p>

<p>Kemudian, Gauri keluar dari kamarnya dengan menenteng satu buah bantal dan selimut bergambar rubah merah lalu memberikannya kepada Gasendra. Setelahnya, ia pamit untuk tidur.</p>

<p>Di dalam kamarnya, Gauri merebahkan dirinya di atas ranjang. Sebelah tangannya ia gunakan sebagai bantal dan sebelahnya lagi digunakan untuk menutupi matanya dari sinar lampu yang berusaha menerobos masuk ke dalam matanya.</p>

<p>“Sen,” gumam Gauri. Ia bangkit dari posisi berbaringnya. “Sumpah gue gak bisa tidur,” ucapnya. “Ya, gimana gue bisa tidur kalau ada Gasendra di sini.”</p>

<p>Di sisi lain, Gasendra yang sedang menyandarkan tubuhnya sembari menatap kosong pada hitamnya layar televisi tiba-tiba saja mengusap wajahnya secara kasar. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.</p>

<p>“Gue ngapain sih pake bohong segala ke Gauri,” monolognya.</p>

<p>Tak lama kemudian, suara decit pintu yang terbuka mengalihkan lamunan Gasendra. Itu Gauri. Keduanya sempat bertukar pandang sebelum Gauri berjalan mendekat ke arahnya. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Gasendra.</p>

<p>“Kenapa, Sen? Ada yang sakit?” tanya Gasendra.</p>

<p>Gauri menggeleng. “Enggak,” jawabnya. “Aku gak bisa tidur.”</p>

<p>Sejenak, Gasendra berpikir. “Kamu mau nonton dulu? Biasanya kamu kalau gak bisa tidur harus nonton sesuatu dulu.”</p>

<p>Dan lagi, Gasendra masih mengingat kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh mantan pacarnya. Tidak ingin munafik, Gauri senang akan hal itu. Ia pun menyetujui ajakan dari Gasendra.</p>

<p>Gauri mengangguk sekali. “Tapi nonton horor, ya,” pinta gadis cantik itu.</p>

<p>“Boleh. Apa aja yang penting kamu bisa tidur,” katanya.</p>

<p>Akhirnya, Gasendra menyetel film horor untuk disaksikan bersama. Pada beberapa menit pertama, semuanya berjalan seperti biasa. Belum ada adegan menegangkan ataupun mengagetkan yang berpotensi membuat jantung keduanya meledak.</p>

<p>“Gar,” panggil Gasendra tiba-tiba.</p>

<p>Merasa Gasendra memanggil namanya, Gauri menoleh. “Iya, Sen?”</p>

<p>“Mau gabung di selimut… bareng aku?” tanyanya hati-hati.</p>

<p>Gauri yang sedikit merasa kedinginan dan mengingat dirinya belum sembuh total dari demamnya menerima tawaran tersebut. “Boleh.”</p>

<p>Gasendra mendekatkan dirinya pada Gauri. Ia membiarkan gadis cantik itu untuk masuk ke dalam sampiran selimut bersamanya. Gasendra dan Gauri mengatur posisi duduk masing-masing agar nyaman di dalam sana.</p>

<p>Film horor terus berlanjut. Gauri fokus dengan alur cerita seru yang ditampilkan di film itu. Sedangkan, Gasendra hanya dapat fokus pada gadis cantik yang duduk di dalam naungan selimut di sampingnya.</p>

<p>Dengan niat yang disengaja atau tidak, Gasendra meregangkan sebelah lengannya lalu meletakkan di kepala sofa tepat di belakang tubuh Gauri. Dan dengan pergerakan yang disengaja atau tidak, Gauri merebahkan sedikit tubuhnya pada rangkulan itu.</p>

<p>Gasendra beredehem pelan. “Kamu suka film-nya, Gar?” tanyanya.</p>

<p>“Ya, lumyan sih,” jawab Gauri.</p>

<p>Gasendra hanya mengangguk paham. “Gak takut?” tanya lelaki tampan itu lagi.</p>

<p>“Enggak,” katanya.</p>

<p>Tepat setelah Gauri menutup mulutnya. Adegan inti dari film horor tersebut muncul. Manusia jerami yang diyakini mempunyai kekuatan magis berlari mengejar anak laki-laki yang suka membuat rusuh di ladangnya.</p>

<p>Gauri berteriak dengan kencang sehingga dapat memekakkan telinga siapa saja, termasuk Gasendra. Ia menyembunyikan dirinya di dalam dekapan lelaki tampan yang duduk di sampingnya. Dengan refleks yang bagus, Gasendra memeluknya.</p>

<p>“Katanya gak takut, Gar,” ledek Gasendra.</p>

<p>“Ya, emang. Cuma ngangetin aja,” elak Gauri.</p>

<p>Film tetap berlanjut setelahnya. Adegan seram lainnya mulai mengikuti. Semua cerita seram tentang manusia jerami yang ada di dalam buku tersebut satu per satu mulai terjadi secara natural. Namun, ada satu adegan yang menganggu keduanya.</p>

<p>“Mereka make out di ladang?” pekik Gauri.</p>

<p>Gasendra membuang pandangannya. Entah apa yang dipikirkan oleh penulis dari film horor ini. Bagaimana bisa dia menyelipkan adegan seperti ini di dalam film horor yang banyak memakan korban jiwa.</p>

<p>Ternyata, adegan itu digunakan untuk memancing adegan lain. Manusia jerami yang menyaksikan kejadian menjijikan itu secara langsung murka besar. Ia mengutuk sepasang kekasih itu menjadi manusia jerami juga. Lalu, tulisan ‘The End’ muncul di layar televisi.</p>

<p>“Udah?!” pekik Gauri lagi. “Gini doang?!”</p>

<p>“Emangnya kamu maunya gimana?” tanya Gasendra</p>

<p>“Ya, minimal ada yang happily ever after-lah. Ini mah enggak, pemerannya meninggal semua,” jelas gadis cantik itu.</p>

<p>“Enggak,” sahut Gasendra. “Itu ada yang dikutuk jadi manusia jerami.”</p>

<p>“Ya, itu berarti mereka gak bisa lagi menjalani hidup sebagai manusia lagi alias meninggal,” ujar Gauri.</p>

<p>“Gar, kamu tau gak ada pesan moral di dalam film itu?” tanya Gasendra serius.</p>

<p>“Emang ada?” Apa?” balas Gauri dengan kembali bertanya.</p>

<p>“Ada.” Gasendra mendekatkan wajahnya ke arah wajah cantik Gauri. “Pesan moralnya itu kita gak boleh make out di tempat terbuka, apalagi di tempat orang lain,” jelasnya sembari menjawir hidung mantan kekasihnya.</p>

<p>“Astaga. Aku kira apaan,” ketus Gauri. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.</p>

<p>Mendengarnya, Gasendra tertawa. “Kenapa protes? Gak sesuai ekspektasi kamu, ya?”</p>

<p>“Enggak. Aku aja yang berharapnya ketinggian,” jawab Gauri.</p>

<p>Masih di tempat yang sama, Gasendra memandangi Gauri tiada henti. Ia suka bagaimana Gauri dengan gemasnya merasa kesal karena akhir film yang terlalu menggantung. Tanpa disadari, tangannya bergerak menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Gauri.</p>

<p>Merasa ada tangan besar yang menginterupsi sesi protesnya, Gauri menolehkan pandangannya. Ia cukup terkejut sebab pemandangan yang ia temukan adalah rangka wajah yang tegas dan tampan serta sepasang manik yang serupa legamnya malam sedang menatap ke arahnya.</p>

<p>“Cantik,” ucap Gasendra.</p>

<p>Mendengar ada kata sanjungan yang ditujukan untuknya, jantung Gauri berdegup seribu kali lebih kencang. Tubuhnya kembali menghangat tetapi bukan karena sakit. Entah ini imajinasinya atau bukan, ia melihat Gasendra terus memandang ke arah bibirnya.</p>

<p>“Sen,” panggil Gauri.</p>

<p>“Sorry, Gar, tapi aku gak tahan,” ujar Gasendra.</p>

<p>Selanjutnya, yang terjadi adalah Gasendra mencium bibir Gauri tanpa aba-aba. Tangan besarnya yang merangkul tubuh mungil gadis cantik itu bergerak naik lalu menekan tengkuk Gauri agar menciumnya lebih dalam.</p>

<p>Gauri yang dicium tiba-tiba seperti itu tidak dapat berbuat banyak. Sepasang maniknya membulat sempurna. Ia membeku di tempat sembari merasakan bibir Gasendra dengan ganas menjamah bibirnya.</p>

<p>Kemudian, Gauri mendorong tubuh besar yang memeluknya itu. “Aku… gak bisa… napas,” katanya terbata.</p>

<p>Gasendra menyeringai. Ia mengusap bibirnya yang dipenuhi dengan saliva mantan pacarnya. “Aku terlalu agresif, ya?” godanya.</p>

<p>“Emangnya kamu gak napas, ya, tadi? Lama banget,” keluh Gauri.</p>

<p>Gasendra tertawa pelan sebab Gauri tidak mempermasalahkan kenapa ia menciumnya. “Oke. Aku mainnya pelan aja.”</p>

<p>Gasendra memandangi anugerah paling indah yang pernah ia temui. Perlahan, wajah tampan itu mendekat lagi kepada wajah yang lebih cantik. Gauri lebih dahulu memejamkan matanya lalu diikuti oleh Gasendra.</p>

<p>Ciuman kembali terjadi tetapi yang kali ini lebih khidmat dan tidak hanya satu arah saja. Gasendra menangkup sebelah pipi Gauri. Sedangkan, Gauri mengalungkan lengannya pada bahu lebar Gasendra.</p>

<p>Entah sudah berapa kali kepala mereka berubah arah dari kanan ke kiri dan sebaliknya. Bersamaan dengan televisi yang menampilkan daftar nama terakhir dari film horor tadi, ciuman itu tetap berjalan sebagaimana mestinya.</p>

<p>“Mphhh,” lenguh Gauri saat Gasendra menggigit bibirnya.</p>

<p>Ciuman itu terus membawa atmosfer yang semakin panas. Gerakan yang mereka lakukan pun menunjukkan keinginan untuk melakukan hal yang lebih dari ini. Setelah beberapa menit, ciuman itu berakhir.</p>

<p>Gasendra tertawa pelan. “Aku gak tau kamu sehebat ini,” pujinya.</p>

<p>Gauri menyeringai. “Makanya aku kasih tau sekarang,” jawabnya tidak mau kalah.</p>

<p>Kemudian, Gasendra memandu Gauri agar berbaring bersama di atas sofa. Di dalam balutan selimut itu, Gasendra memeluk mantan kekasihnya dari belakang. Pada beberapa area di sekitar leher yang sudah terekspos, ia memberikan kecupan hangat.</p>

<p>“Nghh, ahhh,” lirih Gauri.</p>

<p>Gauri suka bagaimana suhu hangat dari bibir Gasendra menjadi satu dengan angin dingin yang dihembuskan pendingin ruangannya. Tubuhnya tidak dapat berhenti bergerak sebab rasa geli yang menjalar.</p>

<p>Dengan inisiatif, tangan besar Gasendra bergerak mengusap perut rata Gauri. Lagi, sensasi hangat itu membangkitkan hasratnya. Tubuhnya bergerak lebih brutal sehingga menggesek kejantanan Gasendra.</p>

<p>“Ahhh, Sen,” desahnya.</p>

<p>“Lagi?” tanya Gasendra.</p>

<p>“Nghh, iya,” jawab Gauri tanpa ragu.</p>

<p>“Aku lepas, ya, bajunya?” tanyanya meminta izin.</p>

<p>“Iya,” jawab Gauri lagi.</p>

<p>Gasendra membantu Gauri untuk melepaskan pakaiannya. Dibuangnya kaos hitam itu ke sembarang arah. Kemudian, tangan besar itu bergerak menelusup ke arah payudara yang masih terlindungi oleh bra berwarna biru dongker.</p>

<p>“Ahh, Sen,” lirih Gauri saat Gasendra memilin ujung putingnya.</p>

<p>“Enak, Gar?” tanya Gasendra sensual.</p>

<p>“Mphh, iya,” jawab Gauri tertahan sebab ia menggigit bibirnya.</p>

<p>Tidak dapat dipungkiri, Gauri sangat suka bagaimana Gasendra melecehkannya. Gerakan tangan besar itu sangat andal sehingga membuat Gauri terbang ke angkasa. Ada rasa geli yang muncul di bagian selatannya.</p>

<p>Seolah menjawab suara hati gadis cantik itu, Gasendra menjalarkan tangan kirinya ke arah kewanitaan sang gadis. Diusapnya lubang surgawi itu dari luar pakaian dalam yang sudah lembap dibuatnya.</p>

<p>Gasendra menyeringai. “Udah basah, ya.”</p>

<p>Gauri yang merasa kegelian terus meghentak-hentakkan bokongnya ke arah penis mantan kekasihnya. Tentunya, hal itu membuat Gasendra merasa kewalahan. Ia menggeram rendah sebab kejantanannya yang hampir menegang sempurna.</p>

<p>“Nghhh, Sen, mau,” ujar Gauri.</p>

<p>“Mau apa, Cantik? Ngomong yang jelas,” perintah Gasendra.</p>

<p>“Mau, ahhh, kamu,” jawab Gauri terbata.</p>

<p>“Mau aku? Mau dimasukkin?” tanya Gasendra meyakinkan gadisnya.</p>

<p>Gauri mengangguk beberapa kali. “Nghh, iya.”</p>

<p>Dengan begitu, Gasendra melepaskan semua pakaian yang masih menempel pada tubuh mungil Gauri untuk kemudian melakukan hal yang sama pada dirinya. Gasendra kembali menyampirkan selimut tebal itu pada tubuh mereka yang polos.</p>

<p>Masih dengan posisi yang sama, Gasendra memeluk Gauri dari belakang. Tangan besarnya tidak lelah untuk memainkan puting payudara yang mencuat sempurna itu. Lalu, penisnya ia gesekkan pada vagina Gauri yang mulai terlumasi.</p>

<p>“Kalau sakit bilang aja, ya, Gar,” ujar Gasendra.</p>

<p>Perlahan, Gasendra memasukkan kejantanannya pada lubang kecil di bawah sana. Keduanya sama-sama mendesah saat kulit mereka bertemu satu sama lain. Gauri memeluk erat bantal yang di dalam dekapannya.</p>

<p>“Ahhh, Sen, ahh,” lenguh Gauri.</p>

<p>“Mphh, Gar, sempit,” kata Gasendra.</p>

<p>Tidak putus asa, Gasendra terus meneroboskan masuk penisnya ke dalam vagina Gauri. Ia juga mulai bergerak maju dan mundur dengan tempo pelan. Hanya dengan gerakan seperti itu saja, keduanya seolah merasakan surga dunia.</p>

<p>“Nghhh, Sen, cepetin,” pinta Gauri.</p>

<p>Gasendra pun mempercepat tempo gempurannya. Tidak ingin kalah, Gauri juga ikut menggoyangkan pinggulnya. Keduanya dapat merasakan bagaimana kepala penis itu menabrak ujung dinding rahim tersebut.</p>

<p>“Nghhh, Gar.” Gasendra mendesahkan nama mantan kekasihnya.</p>

<p>“Ahhh, Sen, enak,” puji Gauri.</p>

<p>Di malam yang hampir berganti hari itu, Gasendra dan Gauri menciptakan permainan panas untuk merasakan nikmat satu sama lain. Siapa yang akan menyangka? Bahwa sepasang mantan kekasih itu mungkin akan kembali berhubungan setelah ini.</p>

<p>Permainan terus berjalan. Suasana panas yang memenuhi ruang televisi, decitan kaki sofa yang berusaha keras untuk bertahan, serta suara desahan yang mengelukan satu sama lain menjadi saksi keintiman keduanya.</p>

<p>“Ahh, kerasin, Sen,” pinta Gauri lagi.</p>

<p>Tanpa menurunkan temponya, Gasendra menggempur Gauri tiga kali lebih keras dari sebelumnya. Tidak sampai di situ saja, ibu jari dari tangan besar itu menjamah klitoris sang gadis lalu menari di sana.</p>

<p>“Nghhh, ahh, Sen,” desah Gauri kenikmatan. “Aku, nghh, mau keluar,” katanya.</p>

<p>“Aku, mphh, juga,” sahut Gasendra.</p>

<p>Benar saja. Tak lama setelahnya, Gauri mencapai menjemput pelepasannya. Tubuhnya menggelinjang hebat. Sepasang maniknya memejam. Tangannya meremat bantal yang ada di depannya.</p>

<p>“Ahhh!” pekik Gauri.</p>

<p>Setelah mengetahui Gauri sudah mencapai klimaksnya, Gasendra dengan cepat mencabut penisnya dari dalam vagina gadisnya. Ia menyuruh Gauri untuk berbalik dan menghadap dirinya. Tepat setelahnya, Gasendra menyemburkan sperma hangatnya.</p>

<p>“Akhh!” pekik Gasendra.</p>

<p>Gasendra dan Gauri sudah mencapai titik ternikmat dari permainan panas tersebut. Keduanya diam untuk mengatur napas dan memasuk oksigen agar masuk ke paru-paru keduanya. Dengan tubuh yang dibanjiri keringat, mereka masih berpelukan di bawah naungan selimut.</p>

<p>“Kamu hebat mainnya,” puji Gasendra.</p>

<p>Mendengarnya, Gauri terkekeh. “Makasih. Kamu juga. Gak banyak loh laki-laki yang tau gimana cara memuaskan pasangannya.”</p>

<p>“Iya, ya,” balas Gasendra. “Kalau aku gak hebat, kamu gak mungkin sampe keenakan gitu.”</p>

<p>“Dih! Malah jadi narcissistic,” protes gadis cantik itu.</p>

<p>Selepas permainan panas itu, keduanya saling bertukar pandang dan cerita. Setelah beberapa hari menjalani hari tanpa satu sama lain, banyak hal yang terjadi. Semalam hanyalah waktu yang sebentar untuk menceritakan semuanya.</p>

<p>Gasendra dan Gauri baru selesai bercerita dan membersihkan diri saat mentari menyambut fajar. Gauri mengajak Gasendra untuk beristirahat di dalam kamar tidurnya. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.</p>

<p>Gauri mengerjapkan matanya beberapa kali. Kala membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Gasendra yang masih tertidur dengan lelap. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Wajahnya tidak terlihat baik.</p>

<p>Dengan inisiatif, Gauri menempelkan punggung tangannya pada kening Gasendra. Dan benar saja. Demamnya kemarin ternyata berpindah kepada lelaki tampan itu. Gauri tersenyum pilu mengetahui hal tersebut.</p>

<p>“Demamnya malah pindah ke kamu, Sen,” gumamnya.</p>

<p>Gauri bangkit dari tempat tidurnya untuk menyiapkan makan dan obat untuk Gasendra. Selagi Gauri sibuk memasak bubur di dapur, Gasendra baru sadar dari tidurnya. Tangannya bergerak ke arah kiri untuk memeriksa keadaan Gauri.</p>

<p>“Gar,” panggil Gasendra.</p>

<p>“Eh, Sen. Kamu udah bangun?” tanya Gauri yang baru masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisikan semangkuk bubur, segelas air putih hangat, serta obat penurun panas.</p>

<p>“Kamu bangun jam berapa?” tanya Gasendra menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.</p>

<p>“Jam 1 tadi,” jawabnya. “Kamu demam, Sen.”</p>

<p>“Emang iya?” balas Gasendra dengan kembali bertanya. “Pantes kepala aku agak pusing.”</p>

<p>Gauri menyerahkan nampan kayu yang di bawanya kepada Gasendra. “Nih, dimakan dulu. Abis itu minum obatnya.”</p>

<p>Melihat tingkah perhatian yang Gauri lakukan padanya, Gasendra menarik sebelah lengan kurus gadis cantik itu. “Makasih, ya, Cantik.” Lalu, ia mengecup pelan kening Gauri.</p>

<p>Gauri tersenyum. “Demamnya malah pindah ke kamu sekarang,” ujarnya.</p>

<p>Gasendra ikut tersenyum. “Gak apa-apa, Gar,” jawabnya. “Oh, iya. Aku lupa sesuatu.”</p>

<p>“Apa?” tanya gadis cantik itu penasaran.</p>

<p>Gasendra menangkup sebelah pipi Gauri lalu menariknya untuk menerima sebuah ciuman. “Ini,” katanya setelah menyudahi ciuman itu.</p>

<p>“Cium?” tanya Gauri lagi.</p>

<p>Gasendra menggeleng. “Enggak. Jadi pacar aku lagi, ya.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/axiomatic</guid>
      <pubDate>Wed, 04 Jan 2023 13:34:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Aine</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/aine-gk3p?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Matahari terbit dari ufuk timur. Cahayanya yang terang diam-diam menyelinap melalui celah gorden yang tertutup. Karamelia mengerjap beberapa kali kala benderang itu memaksa masuk ke dalam maniknya. Akhirnya, sang raja hari menang dan wanita cantik itu terpaksa membuka matanya. &#xA;&#xA;Karamelia terrsenyum saat pemandangan yang pertama kali tampak pada penglihatannya adalah sang suami dan buah hatinya yang masih tertidur pulas. Ia terkekeh kecil. Perlahan tapi pasti, Karamelia mengusap pipi suaminya dan anaknya secara bergantian. Simpul manis yang ada di wajahnya kian mengembang.&#xA;&#xA;“Lucu banget sih anak Mama,” monolognya.&#xA;&#xA;“Akunya gak lucu?” tanya Agraziel dengan suara beratnya.&#xA;&#xA;“Kamu udah bangun, Ga?” balas Karamelia dengan kembali bertanya. &#xA;&#xA;Agraziel mengangguk sekali. “Kamu kok udah bangun?” tanya sang suami lagi.&#xA;&#xA;“Ini udah pagi. Aku harus bangun,” jawab wanita cantik itu.&#xA;&#xA;Agraziel menangkup sebelah tangan sang istri untuk kemudian ia usap punggung tangan lembut itu. “Tidur lagi aja. Kamu ‘kan baru tidur jam 3 pagi,” ujarnya. &#xA;&#xA;Bukannya menurut apa kata sang suami, Karamelia malah bangkit lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. “Aku gak apa-apa, Ga. Aku udah gak ngantuk.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Agraziel berdecak. “Kamu kalo dibilangin bandel, gak pernah mau denger,” protesnya.&#xA;&#xA;Karamelia hanya tertawa kecil menanggapi ucapan sang suami. Kemudian, sepasang maniknya tertuju pada bayi perempuan yang berbaring di antara dirinya dan juga Agraziel. Lagi, wanita cantik itu tersenyum. Sementara itu, Agraziel memerhatikan sang istri dan anaknya secara bergantian. &#xA;&#xA;“Cantik, ya, anakku,” ujar Karamelia.&#xA;&#xA;“Anak kita,” sahut Agraziel. “Buatnya ‘kan bareng.”&#xA;&#xA;Selepasnya, Agraziel memiringkan tubuhnya agar menghadap langsung pada sang buah hati. Diusapnya perut buncit bayi berumur tujuh bulan itu. Karamelia benar. Sepanjang hidupnya, bayi perempuan kedua inilah yang paling cantik yang pernah Agraziel temui karena yang pertama adalah Karamelia kecil.&#xA;&#xA;“Kamu ngerasa gak sih, Ga? Kalo sebenernya Aine itu lebih mirip sama aku,” ucap Karamelia tiba-tiba. &#xA;&#xA;“Enggak,” jawab Agraziel singkat. “Lebih mirip sama aku.”&#xA;&#xA;“Lebih mirip sama aku tau.” Karamelia tidak mau kalah.&#xA;&#xA;“Dari awal Aine lahir juga semua orang yang jenguk kita di rumah sakit bilangnya Aine mirip sama aku,” balas Agraziel.&#xA;&#xA;Karamelia mengerucutkan bibirnya. Ia sebenarnya ingin menyangkal fakta yang satu ini tetapi secara kesuluruhan Aine memang sangat mirip dengan sang suami, mulai dari hidung, mata, warna kulit, sampai senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya. Aine adalah Agraziel dalam persona perempuan.&#xA;&#xA;“Aine cuma ngontrak di perut kamu,” ledek Agraziel.&#xA;&#xA;“Dih!” Karamelia memukul pelan lengan suaminya. &#xA;&#xA;Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang suami itu. Keduanya sibuk memusatkan atensi mereka pada anugerah indah yang Tuhan berikan tepat setelah perayaan satu tahun pernikahan. Aine adalah hadiah terindah yang Agraziel dan Karamelia terima pada hari jadi mereka.&#xA;&#xA;“Aine lucu banget,” kata wanita cantik itu.&#xA;&#xA;“Iya dong. Anakku,” ujar Agraziel.&#xA;&#xA;“Anak kita,” ketus Karamelia.&#xA;&#xA;“Iya, anak kita,” pasrah lelaki manis itu.&#xA;&#xA;Karamelia sempat diam sejenak sebelum kalimat yang keluar dari mulutnya mengejutkan sanubari sang suami. “Jadi pengen punya lagi deh.”&#xA;&#xA;“Hah?!” pekik sang suami sembari bangkit dari posisi berbaringnya. “Apanya yang pengen punya lagi?” tanyanya tak santai.&#xA;&#xA;Sebab suara bising yang dihasilkan Agraziel, Aine ikut terkejut. Bayi perempuan itu bangun dan langsung mengeluarkan kata-kata mutiaranya dalam bentuk tangisan. Dengan sigap, Karamelia menggendong Aine agar masuk ke dalam dekapannya. Ia menepuk pelan bokong bayi kecil itu.&#xA;&#xA;“Agra, pelan-pelan dong ngomongnya. Anaknya jadi bangun ‘kan,” oceh sang istri.&#xA;&#xA;Agraziel mengusap tengkuknya canggung. “Lagian kamu ngomongnya ada-ada aja. Bikin aku jantungan tau gak.”&#xA;&#xA;Aine mulai tenang setelah diberikan susu yang langsung dari sumbernya. “Aku ‘kan cuma bilang Aine lucu.”&#xA;&#xA;“Bukan itu. Kalimat setelahnya,” ucap sang suami.&#xA;&#xA;“Oh,” singkat Karamelia. “Yang aku bilang mau punya lagi. Emangnya kenapa sih? Anak bayi ‘kan lucu,” lanjutnya. &#xA;&#xA;Agraziel menghela napas panjang sebelum dirinya merangkak mendekat ke arah sang istri. Ia tatap satu per satu dua perempuan cantik yang paling ia sayangi setelah Mama dan Mami. “Iya, aku tau. Anak bayi tuh pasti lucu, apalagi Aine.”&#xA;&#xA;“Iya ‘kan. Aku gak salah dong,” ujar Karamelia.&#xA;&#xA;“Iya, kamu gak salah,” jawab Agraziel. “Tapi aku cuma takut, Kar.”&#xA;&#xA;Mendengar respon ganjil dari sang suami, Karamelia mengernyitkan dahinya. Ia menolehkan pandangannya ke arah Agraziel. “Takut? Takut apa?”&#xA;&#xA;“Aku masih inget momen pas kamu mau melahirkan Aine,” katanya. “Aku masih inget dengan jelas gimana kamu teriak, gimana kamu merintih kesakitan, gimana kencengnya genggaman tangan kamu, banyaknya darah yang keluar. Aku hampir berpikir bakal terjadi apa-apa sama kamu,” jelas Agraziel dengan suara setenang mungkin. “Aku bukannya gak siap kalo harus punya anak lagi. Aku cuma gak siap kalo harus liat kamu kesakitan kayak gitu lagi, Kar.”&#xA;&#xA;Suasana menjadi hening. Akhirnya, Agraziel mengakui kelemahannya dan Karamelia mencoba mengerti. Ya, memiliki buah hati memang bukan perkara mudah, baik bagi sang ayah maupun bagi sang ibu. Semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Agraziel dan Karamelia sangat paham akan hal itu.&#xA;&#xA;“Maaf, ya, Kar,” ujar Agraziel.&#xA;&#xA;Karamelia tidak sakit hati dengan pengakuan suaminya tetapi ia bangga. Lelaki manis yang ada di hadapannya ini adalah lelaki dengan hati terlembut yang pernah ditemuinya. Dengan semua perhatian dan kasih sayangnya, wajar saja Agraziel tidak sanggup hati apabila harus melihat istrinya kesakitan lagi. &#xA;&#xA;“Jangan minta maaf, Ga. Kamu ‘kan gak salah. Aku paham kok perasaan kamu. Maaf, ya, udah bikin kamu khawatir,” jelas Karamelia. &#xA;&#xA;“Kamu juga gak salah, Kar. Jangan minta maaf. Sampai kapan pun, aku gak bakal bisa paham gimana perjuangan seorang ibu, pasti banyak banget pengorbanannya. Dari awal hamil aja aku udah bisa liat gimana menderitanya kamu,” balas lelaki manis itu. &#xA;&#xA;Karamelia tidak sanggup menahan tingkat gemas suaminya itu. Ia sangat suka bagaimana Agraziel selalu berusaha menjadi seorang suami dan ayah yang siap siaga. Karamelia seperti menikahi seorang tentara yang siap menjaga keharmonisan keluarganya. Agraziel adalah segalanya bagi Karamelia dan Aine.&#xA;&#xA;“Aku gak menderita kok,” ucap Karamelia sembari terkekeh. “‘Kan ada kamu yang selalu jadi suami siap siaga. Makasih, ya, Agra.” &#xA;&#xA;Agraziel meluluh hatinya kala kalimat sanjungan itu masuk ke dalam hati terdalamnya. Ia tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Makasih juga, ya, Sayang, udah mau jadi istri untuk aku dan ibu untuk Aine.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Matahari terbit dari ufuk timur. Cahayanya yang terang diam-diam menyelinap melalui celah gorden yang tertutup. Karamelia mengerjap beberapa kali kala benderang itu memaksa masuk ke dalam maniknya. Akhirnya, sang raja hari menang dan wanita cantik itu terpaksa membuka matanya.</p>

<p>Karamelia terrsenyum saat pemandangan yang pertama kali tampak pada penglihatannya adalah sang suami dan buah hatinya yang masih tertidur pulas. Ia terkekeh kecil. Perlahan tapi pasti, Karamelia mengusap pipi suaminya dan anaknya secara bergantian. Simpul manis yang ada di wajahnya kian mengembang.</p>

<p>“Lucu banget sih anak Mama,” monolognya.</p>

<p>“Akunya gak lucu?” tanya Agraziel dengan suara beratnya.</p>

<p>“Kamu udah bangun, Ga?” balas Karamelia dengan kembali bertanya.</p>

<p>Agraziel mengangguk sekali. “Kamu kok udah bangun?” tanya sang suami lagi.</p>

<p>“Ini udah pagi. Aku harus bangun,” jawab wanita cantik itu.</p>

<p>Agraziel menangkup sebelah tangan sang istri untuk kemudian ia usap punggung tangan lembut itu. “Tidur lagi aja. Kamu ‘kan baru tidur jam 3 pagi,” ujarnya.</p>

<p>Bukannya menurut apa kata sang suami, Karamelia malah bangkit lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. “Aku gak apa-apa, Ga. Aku udah gak ngantuk.”</p>

<p>Mendengarnya, Agraziel berdecak. “Kamu kalo dibilangin bandel, gak pernah mau denger,” protesnya.</p>

<p>Karamelia hanya tertawa kecil menanggapi ucapan sang suami. Kemudian, sepasang maniknya tertuju pada bayi perempuan yang berbaring di antara dirinya dan juga Agraziel. Lagi, wanita cantik itu tersenyum. Sementara itu, Agraziel memerhatikan sang istri dan anaknya secara bergantian.</p>

<p>“Cantik, ya, anakku,” ujar Karamelia.</p>

<p>“Anak kita,” sahut Agraziel. “Buatnya ‘kan bareng.”</p>

<p>Selepasnya, Agraziel memiringkan tubuhnya agar menghadap langsung pada sang buah hati. Diusapnya perut buncit bayi berumur tujuh bulan itu. Karamelia benar. Sepanjang hidupnya, bayi perempuan kedua inilah yang paling cantik yang pernah Agraziel temui karena yang pertama adalah Karamelia kecil.</p>

<p>“Kamu ngerasa gak sih, Ga? Kalo sebenernya Aine itu lebih mirip sama aku,” ucap Karamelia tiba-tiba.</p>

<p>“Enggak,” jawab Agraziel singkat. “Lebih mirip sama aku.”</p>

<p>“Lebih mirip sama aku tau.” Karamelia tidak mau kalah.</p>

<p>“Dari awal Aine lahir juga semua orang yang jenguk kita di rumah sakit bilangnya Aine mirip sama aku,” balas Agraziel.</p>

<p>Karamelia mengerucutkan bibirnya. Ia sebenarnya ingin menyangkal fakta yang satu ini tetapi secara kesuluruhan Aine memang sangat mirip dengan sang suami, mulai dari hidung, mata, warna kulit, sampai senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya. Aine adalah Agraziel dalam persona perempuan.</p>

<p>“Aine cuma ngontrak di perut kamu,” ledek Agraziel.</p>

<p>“Dih!” Karamelia memukul pelan lengan suaminya.</p>

<p>Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang suami itu. Keduanya sibuk memusatkan atensi mereka pada anugerah indah yang Tuhan berikan tepat setelah perayaan satu tahun pernikahan. Aine adalah hadiah terindah yang Agraziel dan Karamelia terima pada hari jadi mereka.</p>

<p>“Aine lucu banget,” kata wanita cantik itu.</p>

<p>“Iya dong. Anakku,” ujar Agraziel.</p>

<p>“Anak kita,” ketus Karamelia.</p>

<p>“Iya, anak kita,” pasrah lelaki manis itu.</p>

<p>Karamelia sempat diam sejenak sebelum kalimat yang keluar dari mulutnya mengejutkan sanubari sang suami. “Jadi pengen punya lagi deh.”</p>

<p>“Hah?!” pekik sang suami sembari bangkit dari posisi berbaringnya. “Apanya yang pengen punya lagi?” tanyanya tak santai.</p>

<p>Sebab suara bising yang dihasilkan Agraziel, Aine ikut terkejut. Bayi perempuan itu bangun dan langsung mengeluarkan kata-kata mutiaranya dalam bentuk tangisan. Dengan sigap, Karamelia menggendong Aine agar masuk ke dalam dekapannya. Ia menepuk pelan bokong bayi kecil itu.</p>

<p>“Agra, pelan-pelan dong ngomongnya. Anaknya jadi bangun ‘kan,” oceh sang istri.</p>

<p>Agraziel mengusap tengkuknya canggung. “Lagian kamu ngomongnya ada-ada aja. Bikin aku jantungan tau gak.”</p>

<p>Aine mulai tenang setelah diberikan susu yang langsung dari sumbernya. “Aku ‘kan cuma bilang Aine lucu.”</p>

<p>“Bukan itu. Kalimat setelahnya,” ucap sang suami.</p>

<p>“Oh,” singkat Karamelia. “Yang aku bilang mau punya lagi. Emangnya kenapa sih? Anak bayi ‘kan lucu,” lanjutnya.</p>

<p>Agraziel menghela napas panjang sebelum dirinya merangkak mendekat ke arah sang istri. Ia tatap satu per satu dua perempuan cantik yang paling ia sayangi setelah Mama dan Mami. “Iya, aku tau. Anak bayi tuh pasti lucu, apalagi Aine.”</p>

<p>“Iya ‘kan. Aku gak salah dong,” ujar Karamelia.</p>

<p>“Iya, kamu gak salah,” jawab Agraziel. “Tapi aku cuma takut, Kar.”</p>

<p>Mendengar respon ganjil dari sang suami, Karamelia mengernyitkan dahinya. Ia menolehkan pandangannya ke arah Agraziel. “Takut? Takut apa?”</p>

<p>“Aku masih inget momen pas kamu mau melahirkan Aine,” katanya. “Aku masih inget dengan jelas gimana kamu teriak, gimana kamu merintih kesakitan, gimana kencengnya genggaman tangan kamu, banyaknya darah yang keluar. Aku hampir berpikir bakal terjadi apa-apa sama kamu,” jelas Agraziel dengan suara setenang mungkin. “Aku bukannya gak siap kalo harus punya anak lagi. Aku cuma gak siap kalo harus liat kamu kesakitan kayak gitu lagi, Kar.”</p>

<p>Suasana menjadi hening. Akhirnya, Agraziel mengakui kelemahannya dan Karamelia mencoba mengerti. Ya, memiliki buah hati memang bukan perkara mudah, baik bagi sang ayah maupun bagi sang ibu. Semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Agraziel dan Karamelia sangat paham akan hal itu.</p>

<p>“Maaf, ya, Kar,” ujar Agraziel.</p>

<p>Karamelia tidak sakit hati dengan pengakuan suaminya tetapi ia bangga. Lelaki manis yang ada di hadapannya ini adalah lelaki dengan hati terlembut yang pernah ditemuinya. Dengan semua perhatian dan kasih sayangnya, wajar saja Agraziel tidak sanggup hati apabila harus melihat istrinya kesakitan lagi.</p>

<p>“Jangan minta maaf, Ga. Kamu ‘kan gak salah. Aku paham kok perasaan kamu. Maaf, ya, udah bikin kamu khawatir,” jelas Karamelia.</p>

<p>“Kamu juga gak salah, Kar. Jangan minta maaf. Sampai kapan pun, aku gak bakal bisa paham gimana perjuangan seorang ibu, pasti banyak banget pengorbanannya. Dari awal hamil aja aku udah bisa liat gimana menderitanya kamu,” balas lelaki manis itu.</p>

<p>Karamelia tidak sanggup menahan tingkat gemas suaminya itu. Ia sangat suka bagaimana Agraziel selalu berusaha menjadi seorang suami dan ayah yang siap siaga. Karamelia seperti menikahi seorang tentara yang siap menjaga keharmonisan keluarganya. Agraziel adalah segalanya bagi Karamelia dan Aine.</p>

<p>“Aku gak menderita kok,” ucap Karamelia sembari terkekeh. “‘Kan ada kamu yang selalu jadi suami siap siaga. Makasih, ya, Agra.”</p>

<p>Agraziel meluluh hatinya kala kalimat sanjungan itu masuk ke dalam hati terdalamnya. Ia tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Makasih juga, ya, Sayang, udah mau jadi istri untuk aku dan ibu untuk Aine.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/aine-gk3p</guid>
      <pubDate>Tue, 20 Dec 2022 13:46:26 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Aine</title>
      <link>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/aine?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Aine&#xA;&#xA;Matahari terbit dari ufuk timur. Cahayanya yang terang diam-diam menyelinap melalui celah gorden yang tertutup. Karamelia mengerjap beberapa kali kala benderang itu memaksa masuk ke dalam maniknya. Akhirnya, sang raja hari menang dan wanita cantik itu terpaksa membuka matanya. &#xA;&#xA;Karamelia terrsenyum saat pemandangan yang pertama kali tampak pada penglihatannya adalah sang suami dan buah hatinya yang masih tertidur pulas. Ia terkekeh kecil. Perlahan tapi pasti, Karamelia mengusap pipi suaminya dan anaknya secara bergantian. Simpul manis yang ada di wajahnya kian mengembang.&#xA;&#xA;“Lucu banget sih anak Mama,” monolognya.&#xA;&#xA;“Akunya gak lucu?” tanya Agraziel dengan suara beratnya.&#xA;&#xA;“Kamu udah bangun, Ga?” balas Karamelia dengan kembali bertanya. &#xA;&#xA;Agraziel mengangguk sekali. “Kamu kok udah bangun?” tanya sang suami lagi.&#xA;&#xA;“Ini udah pagi. Aku harus bangun,” jawab wanita cantik itu.&#xA;&#xA;Agraziel menangkup sebelah tangan sang istri untuk kemudian ia usap punggung tangan lembut itu. “Tidur lagi aja. Kamu ‘kan baru tidur jam 3 pagi,” ujarnya. &#xA;&#xA;Bukannya menurut apa kata sang suami, Karamelia malah bangkit lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. “Aku gak apa-apa, Ga. Aku udah gak ngantuk.”&#xA;&#xA;Mendengarnya, Agraziel berdecak. “Kamu kalo dibilangin bandel, gak pernah mau denger,” protesnya.&#xA;&#xA;Karamelia hanya tertawa kecil menanggapi ucapan sang suami. Kemudian, sepasang maniknya tertuju pada bayi perempuan yang berbaring di antara dirinya dan juga Agraziel. Lagi, wanita cantik itu tersenyum. Sementara itu, Agraziel memerhatikan sang istri dan anaknya secara bergantian. &#xA;&#xA;“Cantik, ya, anakku,” ujar Karamelia.&#xA;&#xA;“Anak kita,” sahut Agraziel. “Buatnya ‘kan bareng.”&#xA;&#xA;Selepasnya, Agraziel memiringkan tubuhnya agar menghadap langsung pada sang buah hati. Diusapnya perut buncit bayi berumur tujuh bulan itu. Karamelia benar. Sepanjang hidupnya, bayi perempuan kedua inilah yang paling cantik yang pernah Agraziel temui karena yang pertama adalah Karamelia kecil.&#xA;&#xA;“Kamu ngerasa gak sih, Ga? Kalo sebenernya Aine itu lebih mirip sama aku,” ucap Karamelia tiba-tiba. &#xA;&#xA;“Enggak,” jawab Agraziel singkat. “Lebih mirip sama aku.”&#xA;&#xA;“Lebih mirip sama aku tau.” Karamelia tidak mau kalah.&#xA;&#xA;“Dari awal Aine lahir juga semua orang yang jenguk kita di rumah sakit bilangnya Aine mirip sama aku,” balas Agraziel.&#xA;&#xA;Karamelia mengerucutkan bibirnya. Ia sebenarnya ingin menyangkal fakta yang satu ini tetapi secara kesuluruhan Aine memang sangat mirip dengan sang suami, mulai dari hidung, mata, warna kulit, sampai senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya. Aine adalah Agraziel dalam persona perempuan.&#xA;&#xA;“Aine cuma ngontrak di perut kamu,” ledek Agraziel.&#xA;&#xA;“Dih!” Karamelia memukul pelan lengan suaminya. &#xA;&#xA;Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang suami itu. Keduanya sibuk memusatkan atensi mereka pada anugerah indah yang Tuhan berikan tepat setelah perayaan satu tahun pernikahan. Aine adalah hadiah terindah yang Agraziel dan Karamelia terima pada hari jadi mereka.&#xA;&#xA;“Aine lucu banget,” kata wanita cantik itu.&#xA;&#xA;“Iya dong. Anakku,” ujar Agraziel.&#xA;&#xA;“Anak kita,” ketus Karamelia.&#xA;&#xA;“Iya, anak kita,” pasrah lelaki manis itu.&#xA;&#xA;Karamelia sempat diam sejenak sebelum kalimat yang keluar dari mulutnya mengejutkan sanubari sang suami. “Jadi pengen punya lagi deh.”&#xA;&#xA;“Hah?!” pekik sang suami sembari bangkit dari posisi berbaringnya. “Apanya yang pengen punya lagi?” tanyanya tak santai.&#xA;&#xA;Sebab suara bising yang dihasilkan Agraziel, Aine ikut terkejut. Bayi perempuan itu bangun dan langsung mengeluarkan kata-kata mutiaranya dalam bentuk tangisan. Dengan sigap, Karamelia menggendong Aine agar masuk ke dalam dekapannya. Ia menepuk pelan bokong bayi kecil itu.&#xA;&#xA;“Agra, pelan-pelan dong ngomongnya. Anaknya jadi bangun ‘kan,” oceh sang istri.&#xA;&#xA;Agraziel mengusap tengkuknya canggung. “Lagian kamu ngomongnya ada-ada aja. Bikin aku jantungan tau gak.”&#xA;&#xA;Aine mulai tenang setelah diberikan susu yang langsung dari sumbernya. “Aku ‘kan cuma bilang Aine lucu.”&#xA;&#xA;“Bukan itu. Kalimat setelahnya,” ucap sang suami.&#xA;&#xA;“Oh,” singkat Karamelia. “Yang aku bilang mau punya lagi. Emangnya kenapa sih? Anak bayi ‘kan lucu,” lanjutnya. &#xA;&#xA;Agraziel menghela napas panjang sebelum dirinya merangkak mendekat ke arah sang istri. Ia tatap satu per satu dua perempuan cantik yang paling ia sayangi setelah Mama dan Mami. “Iya, aku tau. Anak bayi tuh pasti lucu, apalagi Aine.”&#xA;&#xA;“Iya ‘kan. Aku gak salah dong,” ujar Karamelia.&#xA;&#xA;“Iya, kamu gak salah,” jawab Agraziel. “Tapi aku cuma takut, Kar.”&#xA;&#xA;Mendengar respon ganjil dari sang suami, Karamelia mengernyitkan dahinya. Ia menolehkan pandangannya ke arah Agraziel. “Takut? Takut apa?”&#xA;&#xA;“Aku masih inget momen pas kamu mau melahirkan Aine,” katanya. “Aku masih inget dengan jelas gimana kamu teriak, gimana kamu merintih kesakitan, gimana kencengnya genggaman tangan kamu, banyaknya darah yang keluar. Aku hampir berpikir bakal terjadi apa-apa sama kamu,” jelas Agraziel dengan suara setenang mungkin. “Aku bukannya gak siap kalo harus punya anak lagi. Aku cuma gak siap kalo harus liat kamu kesakitan kayak gitu lagi, Kar.”&#xA;&#xA;Suasana menjadi hening. Akhirnya, Agraziel mengakui kelemahannya dan Karamelia mencoba mengerti. Ya, memiliki buah hati memang bukan perkara mudah, baik bagi sang ayah maupun bagi sang ibu. Semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Agraziel dan Karamelia sangat paham akan hal itu.&#xA;&#xA;“Maaf, ya, Kar,” ujar Agraziel.&#xA;&#xA;Karamelia tidak sakit hati dengan pengakuan suaminya tetapi ia bangga. Lelaki manis yang ada di hadapannya ini adalah lelaki dengan hati terlembut yang pernah ditemuinya. Dengan semua perhatian dan kasih sayangnya, wajar saja Agraziel tidak sanggup hati apabila harus melihat istrinya kesakitan lagi. &#xA;&#xA;“Jangan minta maaf, Ga. Kamu ‘kan gak salah. Aku paham kok perasaan kamu. Maaf, ya, udah bikin kamu khawatir,” jelas Karamelia. &#xA;&#xA;“Kamu juga gak salah, Kar. Jangan minta maaf. Sampai kapan pun, aku gak bakal bisa paham gimana perjuangan seorang ibu, pasti banyak banget pengorbanannya. Dari awal hamil aja aku udah bisa liat gimana menderitanya kamu,” balas lelaki manis itu. &#xA;&#xA;Karamelia tidak sanggup menahan tingkat gemas suaminya itu. Ia sangat suka bagaimana Agraziel selalu berusaha menjadi seorang suami dan ayah yang siap siaga. Karamelia seperti menikahi seorang tentara yang siap menjaga keharmonisan keluarganya. Agraziel adalah segalanya bagi Karamelia dan Aine.&#xA;&#xA;“Aku gak menderita kok,” ucap Karamelia sembari terkekeh. “‘Kan ada kamu yang selalu jadi suami siap siaga. Makasih, ya, Agra.” &#xA;&#xA;Agraziel meluluh hatinya kala kalimat sanjungan itu masuk ke dalam hati terdalamnya. Ia tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Makasih juga, ya, Sayang, udah mau jadi istri untuk aku dan ibu untuk Aine.”]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/tag:Aine" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">Aine</span></a></p>

<p>Matahari terbit dari ufuk timur. Cahayanya yang terang diam-diam menyelinap melalui celah gorden yang tertutup. Karamelia mengerjap beberapa kali kala benderang itu memaksa masuk ke dalam maniknya. Akhirnya, sang raja hari menang dan wanita cantik itu terpaksa membuka matanya.</p>

<p>Karamelia terrsenyum saat pemandangan yang pertama kali tampak pada penglihatannya adalah sang suami dan buah hatinya yang masih tertidur pulas. Ia terkekeh kecil. Perlahan tapi pasti, Karamelia mengusap pipi suaminya dan anaknya secara bergantian. Simpul manis yang ada di wajahnya kian mengembang.</p>

<p>“Lucu banget sih anak Mama,” monolognya.</p>

<p>“Akunya gak lucu?” tanya Agraziel dengan suara beratnya.</p>

<p>“Kamu udah bangun, Ga?” balas Karamelia dengan kembali bertanya.</p>

<p>Agraziel mengangguk sekali. “Kamu kok udah bangun?” tanya sang suami lagi.</p>

<p>“Ini udah pagi. Aku harus bangun,” jawab wanita cantik itu.</p>

<p>Agraziel menangkup sebelah tangan sang istri untuk kemudian ia usap punggung tangan lembut itu. “Tidur lagi aja. Kamu ‘kan baru tidur jam 3 pagi,” ujarnya.</p>

<p>Bukannya menurut apa kata sang suami, Karamelia malah bangkit lalu menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. “Aku gak apa-apa, Ga. Aku udah gak ngantuk.”</p>

<p>Mendengarnya, Agraziel berdecak. “Kamu kalo dibilangin bandel, gak pernah mau denger,” protesnya.</p>

<p>Karamelia hanya tertawa kecil menanggapi ucapan sang suami. Kemudian, sepasang maniknya tertuju pada bayi perempuan yang berbaring di antara dirinya dan juga Agraziel. Lagi, wanita cantik itu tersenyum. Sementara itu, Agraziel memerhatikan sang istri dan anaknya secara bergantian.</p>

<p>“Cantik, ya, anakku,” ujar Karamelia.</p>

<p>“Anak kita,” sahut Agraziel. “Buatnya ‘kan bareng.”</p>

<p>Selepasnya, Agraziel memiringkan tubuhnya agar menghadap langsung pada sang buah hati. Diusapnya perut buncit bayi berumur tujuh bulan itu. Karamelia benar. Sepanjang hidupnya, bayi perempuan kedua inilah yang paling cantik yang pernah Agraziel temui karena yang pertama adalah Karamelia kecil.</p>

<p>“Kamu ngerasa gak sih, Ga? Kalo sebenernya Aine itu lebih mirip sama aku,” ucap Karamelia tiba-tiba.</p>

<p>“Enggak,” jawab Agraziel singkat. “Lebih mirip sama aku.”</p>

<p>“Lebih mirip sama aku tau.” Karamelia tidak mau kalah.</p>

<p>“Dari awal Aine lahir juga semua orang yang jenguk kita di rumah sakit bilangnya Aine mirip sama aku,” balas Agraziel.</p>

<p>Karamelia mengerucutkan bibirnya. Ia sebenarnya ingin menyangkal fakta yang satu ini tetapi secara kesuluruhan Aine memang sangat mirip dengan sang suami, mulai dari hidung, mata, warna kulit, sampai senyum manis yang terpatri di wajah cantiknya. Aine adalah Agraziel dalam persona perempuan.</p>

<p>“Aine cuma ngontrak di perut kamu,” ledek Agraziel.</p>

<p>“Dih!” Karamelia memukul pelan lengan suaminya.</p>

<p>Setelahnya, tidak ada lagi percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang suami itu. Keduanya sibuk memusatkan atensi mereka pada anugerah indah yang Tuhan berikan tepat setelah perayaan satu tahun pernikahan. Aine adalah hadiah terindah yang Agraziel dan Karamelia terima pada hari jadi mereka.</p>

<p>“Aine lucu banget,” kata wanita cantik itu.</p>

<p>“Iya dong. Anakku,” ujar Agraziel.</p>

<p>“Anak kita,” ketus Karamelia.</p>

<p>“Iya, anak kita,” pasrah lelaki manis itu.</p>

<p>Karamelia sempat diam sejenak sebelum kalimat yang keluar dari mulutnya mengejutkan sanubari sang suami. “Jadi pengen punya lagi deh.”</p>

<p>“Hah?!” pekik sang suami sembari bangkit dari posisi berbaringnya. “Apanya yang pengen punya lagi?” tanyanya tak santai.</p>

<p>Sebab suara bising yang dihasilkan Agraziel, Aine ikut terkejut. Bayi perempuan itu bangun dan langsung mengeluarkan kata-kata mutiaranya dalam bentuk tangisan. Dengan sigap, Karamelia menggendong Aine agar masuk ke dalam dekapannya. Ia menepuk pelan bokong bayi kecil itu.</p>

<p>“Agra, pelan-pelan dong ngomongnya. Anaknya jadi bangun ‘kan,” oceh sang istri.</p>

<p>Agraziel mengusap tengkuknya canggung. “Lagian kamu ngomongnya ada-ada aja. Bikin aku jantungan tau gak.”</p>

<p>Aine mulai tenang setelah diberikan susu yang langsung dari sumbernya. “Aku ‘kan cuma bilang Aine lucu.”</p>

<p>“Bukan itu. Kalimat setelahnya,” ucap sang suami.</p>

<p>“Oh,” singkat Karamelia. “Yang aku bilang mau punya lagi. Emangnya kenapa sih? Anak bayi ‘kan lucu,” lanjutnya.</p>

<p>Agraziel menghela napas panjang sebelum dirinya merangkak mendekat ke arah sang istri. Ia tatap satu per satu dua perempuan cantik yang paling ia sayangi setelah Mama dan Mami. “Iya, aku tau. Anak bayi tuh pasti lucu, apalagi Aine.”</p>

<p>“Iya ‘kan. Aku gak salah dong,” ujar Karamelia.</p>

<p>“Iya, kamu gak salah,” jawab Agraziel. “Tapi aku cuma takut, Kar.”</p>

<p>Mendengar respon ganjil dari sang suami, Karamelia mengernyitkan dahinya. Ia menolehkan pandangannya ke arah Agraziel. “Takut? Takut apa?”</p>

<p>“Aku masih inget momen pas kamu mau melahirkan Aine,” katanya. “Aku masih inget dengan jelas gimana kamu teriak, gimana kamu merintih kesakitan, gimana kencengnya genggaman tangan kamu, banyaknya darah yang keluar. Aku hampir berpikir bakal terjadi apa-apa sama kamu,” jelas Agraziel dengan suara setenang mungkin. “Aku bukannya gak siap kalo harus punya anak lagi. Aku cuma gak siap kalo harus liat kamu kesakitan kayak gitu lagi, Kar.”</p>

<p>Suasana menjadi hening. Akhirnya, Agraziel mengakui kelemahannya dan Karamelia mencoba mengerti. Ya, memiliki buah hati memang bukan perkara mudah, baik bagi sang ayah maupun bagi sang ibu. Semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Agraziel dan Karamelia sangat paham akan hal itu.</p>

<p>“Maaf, ya, Kar,” ujar Agraziel.</p>

<p>Karamelia tidak sakit hati dengan pengakuan suaminya tetapi ia bangga. Lelaki manis yang ada di hadapannya ini adalah lelaki dengan hati terlembut yang pernah ditemuinya. Dengan semua perhatian dan kasih sayangnya, wajar saja Agraziel tidak sanggup hati apabila harus melihat istrinya kesakitan lagi.</p>

<p>“Jangan minta maaf, Ga. Kamu ‘kan gak salah. Aku paham kok perasaan kamu. Maaf, ya, udah bikin kamu khawatir,” jelas Karamelia.</p>

<p>“Kamu juga gak salah, Kar. Jangan minta maaf. Sampai kapan pun, aku gak bakal bisa paham gimana perjuangan seorang ibu, pasti banyak banget pengorbanannya. Dari awal hamil aja aku udah bisa liat gimana menderitanya kamu,” balas lelaki manis itu.</p>

<p>Karamelia tidak sanggup menahan tingkat gemas suaminya itu. Ia sangat suka bagaimana Agraziel selalu berusaha menjadi seorang suami dan ayah yang siap siaga. Karamelia seperti menikahi seorang tentara yang siap menjaga keharmonisan keluarganya. Agraziel adalah segalanya bagi Karamelia dan Aine.</p>

<p>“Aku gak menderita kok,” ucap Karamelia sembari terkekeh. “‘Kan ada kamu yang selalu jadi suami siap siaga. Makasih, ya, Agra.”</p>

<p>Agraziel meluluh hatinya kala kalimat sanjungan itu masuk ke dalam hati terdalamnya. Ia tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Makasih juga, ya, Sayang, udah mau jadi istri untuk aku dan ibu untuk Aine.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://ttoguxnanaxranie.writeas.com/aine</guid>
      <pubDate>Tue, 20 Dec 2022 13:45:43 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>