The Apology

Itu Valerie. Ia menatap sinis lelaki tampan yang tengah berdiri di depan pintu utama rumahnya. Valerie pindai kekasihnya itu dari kepala sampai kaki dan kembali ke kepala. Valerie sebisa mungkin mendeteksi apa niat dan maksud dari lelaki tampan yang beberapa pekan belakangan bersikap aneh dan seolah tidak memiliki kekasih di dunia ini. Jadi, sekalian saja, Vallerie jadikan kenyataan hasil dari tingkah polah lelaki tampan itu.

“Lo ngapain di sini?” tanya Vallerie tak santai.

Gavin menyatukan kedua alisnya. “‘Lo?’” tanyanya. “Kamu marah sama aku, Val?” tanyanya lagi.

Pertanyaan yang dilontarkan Gavin sukses membuat Vallerie memutar bola matanya jengah. “Lo beneran nanya kayak gitu ke gue, Kak?” balasnya dengan kembali bertanya. Vallerie masih menghormati mantan kekasihnya dengan menyisipkan kata sapaan ‘Kak’ di dalam kalimatnya. “Coba inget-inget lagi lo ngapain gue beberapa minggu belakang ini,” suruh gadis cantik itu. “Aneh,” gumamnya pelan.

“Itu…,” penjelasan Gavin tertahan. “Makanya aku ke sini mau ngejelasin semuanya sama kamu,” ujarnya.

Vallerie yang tadinya hanya berdiri di belakang pintu kini menguarkan tubuhnya dari balik sana. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari kembali menatap intens pada lawan bicaranya. Di sisi lain, kedua netra serupa kelinci itu memindai makhluk indah di hadapannya yang mengenakan house dress selutut berwarna biru muda. Gavin dibuat salah fokus dengan penampakan itu. Ia menelan salivanya perlahan.

“Gini, ya, Kak Gavin Prawira, Ketua BEM Fakultas Ekonomi kita yang terhormat,” kata Vallerie mengucap nama lengkap beserta jabatan yang Gavin emban sekarang. “Lo ngejelasin apapun yang pengen lo jelasin sekarang pun nggak akan mengubah sedikit pun keadaan gue sama lo,” jelasnya.

Gavin mengusap wajahnya kasar seketika eksplanasi singkat yang disampaikan oleh Vallerie seolah menjadi jawaban atas semua yang sudah terjadi antara dirinya dan gadis cantik itu. “Ini semua nggak seperti yang kamu pikirin, Vall,” sanggahnya. “Aku nggak selingkuh sama Haerin,” sambung lelaki tampan itu.

Sebelum menjawab, Vallerie memusatkan tatapannya pada rangka wajah tampan yang sampai beberapa hari lalu masih menjadi kesukaannya. “Terus?” tanyanya. “Kalau memang lo nggak selingkuh sama wakil lo itu, tetep nggak ada gunanya lo ngejelasin apapun sama gue, Kak,” ujar gadis cantik itu. “Terlepas lo selingkuh atau enggak sama perempuan itu, tetep nggak mengubah fakta bahwa kemaren lo mengabaikan dan membohongi gue,” tegasnya.

Gavin mulai panik. Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Vallerie padanya membuatnya sakit hati, bukan karena Vallerie salah melainkan karena Vallerie benar. Ia benar tentang semua rasa sakit yang Gavin berikan padanya selama beberapa pekan belakangan atau lebih lama dari yang dapat ia sangka. Gavin kembali mengingat bagaimana ia menyakiti Vallerie sebelumnya ini. Seolah-olah benar bahwa di dalam hubungan ini, Gavin lebih banyak menyakiti gadis cantik itu dibanding membahagiakannya.

“Maaf, ya, Vall,” ucap Gavin. “Aku gagal ngejagain kamu,” pasrahnya kemudian.

Sepasang lengan yang tadinya terlipat, kini terlihat meluruh. “Lo bukannya gagal ngejagain gue, Kak,” sela Vallerie. Ia mengangkat jari telunjuknya untuk memperjelas bahwa lawan bicaranya memang salah. “Lo salah karena lo udah bohong sama gue,” jelas gadis cantik itu.

“Tapi aku nggak bohong sama kamu,” kata Gavin menunjuk dirinya sendiri. “Aku nggak selingkuh sama Haerin,” ucapnya sembari menunjuk ke arah angin seolah Haerin ada di dekatnya saat itu.

“Oke, let’s says lo nggak selingkuh sama Haerin,” ujar Vallerie melengangkan kedua telapak tangannya di hadapannya mantan kekasihnya. “Tapi apa lo ada bilang sama gue kalo lo punya urusan sama perempuan itu?” tanyanya mengintimidasi. “Ada nggak, Kak? Lo bilang nggak sama gue? Kalau lo punya agenda kampus yang mengharuskan lo MESRA-MESRAAN sama perempuan itu,” tanya gadis cantik itu lagi. “Nggak ‘kan?!”

Gavin menghirup dan menghela napas dengan panjang. Otaknya terus-menerus menegaskan bahwa semua yang dikatakan oleh Vallerie adalah benar. Kesalahan Gavin hanyalah tidak menjelaskan secara terbuka apa yang terjadi antara dirinya dan Haerin. Padahal, Gavin tahu bahwa Vallerie tidak akan mengekang pergerakannya dan bisa jadi ia justru mendukung semua kegiatan serta aktivitasnya yang dirasa positif.

Gavin merasa pusing dengan semua ini. “Haerin ngejebak aku,” finalnya.

“Maksudnya?” tanya Vallerie kini lebih hati-hati.

“Kamu udah baca thread dari akun Twitter resmi kampus kita?” tanya Gavin memastikan.

Vallerie mengangguk. “Itu lo, Kak?” tanyanya.

Kali ini, Gavin yang mengangguk. “Haerin nyelundupin dana buat annual project fakultas kita,” singkatnya. “Aku nggak tahu gimana ceritanya bisa kesebar. Padahal, aku udah bilang sama internal BEM untuk nggak bawa masalah ini ke mana-mana dan aku udah janji untuk ganti uangnya,” sambungnya.

Mendengarnya, kedua telapak tangan mungil itu menutupi bibir yang jatuh dari peraduannya. Vallerie tidak percaya bahwa Gavin mampu dan mau mengganti uang dengan nilai puluhan juta rupiah secara sukarela. “Kenapa lo ganti uangnya, Kak?!” tanya Vallerie sedikit tidak santai. Bagaimana pun juga, Vallerie merasa tidak terima mantan kekasihnya diperlakukan dengan semena-mena. “Harusnya lo kasusin aja wakil lo itu!” lanjutnya.

Gavin tersenyum. Ia tahu ada makna tersirat, di mana gadis cantik masih peduli dengannya. “Haerin itu,” katanya menggantung “Mantan aku,” sambung Gavin mengakui.

“HAH?!” ujar Vallerie seiring dengan suaranya yang naik satu oktaf. Terlihat jelas, gadis cantik itu semakin sibuk untuk menutupi bibirnya yang semakin menjauh dari peraduan. Pasalnya, semua fakta ini membuat ritme jantungnya berdetak jauh lebih cepat. “Kak Valdi tau?” tanyanya.

Gavin kembali mengangguk. “Tau,” jawabnya singkat. “Ini buktinya,” kata lelaki tampan itu sembari menunjukkan luka paling parah yang terpampang jelas di wajah tampannya.

Refleks, melihat luka terbuka yang cukup lebar dan merah itu, Vallerie mendekatkankan dirinya pada sang mantan kekasih. Perlahan, jari telunjuknya menekan pelan luka tersebut dan membuat Gavin meringis. “Sakit, ya, Kak?” tanya Vallerie sembari sedikit mengangkat pandangannya agar lebih jelas untuk melihat wajah tampan yang sebenarnya ia rindukan itu.

Gavin mengangguk untuk menjawab pertanyaan terakhir yang dilontarkan gadis cantik yang masih menjadi kesayangannya itu. Namun, di saat yang bersamaan, dirinya tersenyum karena mengetahui fakta bahwa Vallerie masih peduli pada keadaannya bahkan setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Gavin selama ini adalah pembodoh yang tidak dapat melihat setulus dan seputih apa kasih sayang dan cinta yang diberikan oleh Vallerie.

Ia menangkup tangan mungil yang berkali-kali menekan luka di wajah tampannya. “Sakit, Vall,” keluhnya. “Tolong kasih aku kesempatan untuk aku ngejelasin semuanya sama kamu,” lanjut lelaki tampan itu. “Aku nggak akan maksa kamu untuk terima maafku apalagi untuk balikan sama kamu tapi yang penting kamu tau apa yang sebenarnya terjadi,” jelas Gavin.

Akhirnya, setelah beberapa menit berada hampir di dalam dekapan lelaki tampan yang sebetulnya masih menjadi kesayangannya, Vallerie sadarkan diri dan segera menjauhkan dirinya. Ia berdehem. “ Ya, udah,” katanya. “Masuk dulu sini biar sekalian lukanya gue obatin,” lanjut gadis cantik itu.

Vallerie berbalik badan untuk kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya. Lalu, gerakan itu diekori oleh Gavin. Ia kembali tersenyum. Namun, kali ini, senyumnya terlihat lebih lebar dan lebih sumringah. Di sisi lain, Gavin merasa bersyukur karena Vallerie masih mau menerima ‘kehadirannya’. Gavin berjanji tidak akan meminta banyak hal pada Vallerie, yaitu hanya satu, penjelasan akan apa yang terjadi sebenar-benarnya.

“Lo udah makan, Kak?” tanya Vallerie saat keduanya sampai di ruang makan.

Gavin menggeleng. “Aku nggak punya waktu buat makan,” jelas lelaki tampan itu.

“Makan dulu, ya, Kak,” ucap Vallerie. “Sekalian, gue cari dulu obat merah sama kapas,” ujarnya.

Gavin kembali menggeleng. “Nanti aja, Vall. Aku lagi nggak ada nafsu buat makan,” jelasnya.

Sontak, bersamaan dengan Gavin yang memberikan jawaban, Vallerie menyodorkan segelas air putih hangat di atas meja untuk kemudian menjawab, “Terus nafsunya ngapain?” tanya gadis cantik itu.

Sesaat, tangan kecil yang menggenggam gelas itu terdiam. Sepasang netranya membelalak sempurna. Vallerie dengan kebiasaannya melontarkan guyonan-guyonan kotor itu kepada orang-orang di sekitarnya, seperti Gavin dan Heidy, tiba-tiba menyadari bahwa ini bukan masanya lagi. Ditambah, lelaki tampan yang kini tengah duduk di balik meja makannya sekarang ialah mantan pacarnya. Vallerie mengutuk dirinya sendiri beserta lisannya yang sering kali menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Gavin berdehem pelan. “Gimana, Vall?” tanyanya.

“Nggak,” tukasnya cepat. “Gue nggak ngomong apa-apa,” sambung gadis cantik itu.

Gavin mengangguk paham. Ia tahu bahwa Vallerie baru saja melontarkan dirty pick up line padanya seperti yang biasa dilakukannya saat dunia seolah milik mereka berdua meskipun hanya sekelibat. Namun, demi keselamatannya dan juga keselamatan harga diri mantan pacarnya itu, Gavin berpura-pura tuli. Padahal, lelaki tampan itu sendiri sudah tidak tahan untuk melepas tawanya dan langsung menyergap gadis cantik kesayangannya itu. Setidaknya, itu yang biasanya terjadi sewaktu keduanya masih bersama.

“Gue ambil kotak P3K dulu,” sela Vallerie.

Setelahnya, dengan niat seperti ingin membenturkan kepalanya pada dinding di dekat kamar tamu, Vallerie mengulurkan tangannya untuk membuka lemari kecil di samping jam dengan lonceng besar yang memiliki aksen interior Eropa kuno itu. Ia memaki dirinya sendiri di dalam hati. Bagaimana bisa? Mulutnya seolah tanpa kontrol mengucapkan kalimat memalukan seperti itu, apalagi kepada mantan pacarnya.

“Vall,” panggil Gavin tiba-tiba.

Vallerie menoleh ke sumber suara. “Apa, Kak?” tanyanya setengah berteriak. Gavin tak kunjung menjawab. Akhirnya, Vallerie kembali ke ruang makan. “Apa?” ulangnya di hadapan sang kakak tingkat.

Gavin menghabiskan tegukan air putih hangat di dalam gelasnya sebelum menjawab. “Oh, nggak apa-apa,” jawabnya. “Takutnya kamu lupa nyimpe kotak P3K di mana,” jelas lelaki tampan itu. “Di samping jam lonceng. Ketemu ‘kan?” tanyanya serius.

Mendengarnya, Vallerie mengernyitkan keningnya. “Gue nggak gila kali, Kak,” balasnya. “Ini rumah gue. Nggak mungkin gue lupa sama tata letak rumah gue sendiri,” tegas gadis cantik itu.

Gavin terkekeh mendengar celotehan adik tingkatnya itu. “Kamu lupa ya? Kamu sering ngambek sama aku gara-gara nggak ketemu waktu nyari salep analgesik untuk—”

Penjelasan Gavin terputus. Vallerie juga tidak berniat untuk menanyakan kelanjutannya sebab hanya mereka berdua yang tahu dan memiliki kenangan tentang salep analgesik. Biasanya, setelah sesi permainan panas berakhir, Vallerie akan turun dari kamarnya menuju lemari kecil di samping jam lonceng untuk mencari salep analgesik tersebut untuk meredakan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya sebab sesi intim bersama sang kekasih.

Gavin masih ingat betul bagaimana Vallerie merengek dan hampir menangis sebab salep yang dicarinya tak kunjung ditemukan karena Gavin selalu memasukkan salep tersebut ke dalam kemasannya, di saat Vallerie selalu meletakkan segala benda yang dipegang sekenanya. Oleh karenanya, setiap permainan ala duniawi selesai di antara keduanya, Gavin akan berinisiatif turun dari kamar tidur sang kekasih untuk membawakan salep analgesik tersebut.

Kembali kepada situasi dan kondisi yang canggung di antara sepasang manusia yang sepertinya sama-sama tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang mantan, Gavin memaksakan dirinya untuk batuk demi memecah keheningan yang mengganggu. Sedangkan, Vallerie bergerak mengambilkan lagi segelas air putih hangat untuk kemudian memposisikan dirinya untuk duduk di kursi di samping sang mantan kekasih.

Dengan telaten, Vallerie membersihkan terlebih dahulu debu serta bekas noda darah yang membekas di sudut bibir kakak tingkatnya itu. Kemudian, ia oleskan salep untuk mencegah menggelapnya dan membengkaknya lebam yang berada di sekitar kening dan pelipis lelaki tampan itu. Lalu, barulah ia membubuhkan sedikit demi sedikit obat merah menggunakan kapas di sekitar luka terbuka yang ada di seluruh rangka wajah tampan di hadapannya itu.

“Aduh!” ringis Gavin. “Sakit, Vall,” keluhnya.

“Tahan, Kak,” perintah Vallerie. Ia kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.

“Kamu nempelin obat merahnya pelan-pelan,” pinta lelaki tampan itu.

Vallerie menghela napas panjang. “Ini udah pelan-pelan,” balasnya.

Setelahnya, suasana kembali mendingin. Tidak ada percakapan signifikan yang terjadi di antara sepasang mantan kekasih itu. Gavin melamun sebab sibuk mengoreksi dirinya sendiri perihal masalah-masalah yang terjadi di dalam hidupnya, terutama masalah yang berhubungan dengan Vallerie. Sementara itu, Vallerie memusatkan atensi penuh pada setiap luka yang tercipta akibat kemarahan kakak kandungnya pada sang mantan kekasihnya.

“Vall,” panggil Gavin lagi demi memecah keheningan.

“Hm?” Yang dipanggil hanya berdehem singkat.

“Kamu kenapa nggak bilang aja?” tanya Gavin serius.

“Bilang apa?” balas Vallerie tanpa menolehkan pandangannya dari luka-luka kecil di sekitar pelipis dari wajah tampan di hadapannya.

“Bilang sama aku,” kata Gavin. “Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kalau kamu ngiranya aku selingkuh sama Haerin,” jelasnya.

Vallerie selesai dengan kegiatannya membalurkan salep dan mengoleskan obat merah pada setiap titik yang diperlukan pada wajah tampan mantan kekasihnya. Ia meletakkan kembali semua perkakas yang digunakannya sesuai dengan tempatnya, di mana hal itu membuat Gavin, yang sedari tadi secara diam memperhatikan gerak-geriknya, terheran karena kagum. Kemudian, Vallerie menjauhkan kotak P3K itu dari pandangannya keduanya.

“Untuk apa, Kak?” balas Vallerie dengan kembali bertanya. “Jawabannya ‘kan udah jelas,” ujarnya.

“Aku berani sumpah kalau aku nggak selingkuh, Vall,” tegas Gavin kesekian kalinya.

“Mana ada sih, Kak? Maling ngaku,” jelas Vallerie menganalogikan situasi dan kondisi yang dialami oleh Gavin dengan istilah umum. “Lagian, kalau lo beneran nggak selingkuh, Bang Paldi nggak mukulin lo kayak gini,” sambungnya.

“Valdi juga ngiranya aku selingkuh,” ucap Gavin. “Semuanya ngira aku selingkuh,” tambahnya.

“Jangan dibahas sekarang,” pinta Vallerie. Ia hendak bangkit dari posisinya duduknya.

Namun, lelaki tampan itu lebih gesit. Gavin menahan sebelah lengan kecil itu agar tidak berpaling dari hadapannya. “Aku harus gimana biar kamu percaya?” tanyanya dengan penuh makna.

Vallerie mengibaskan tangannya yang ditahan oleh sang mantan kekasih untuk minta dilepaskan. “Gue nggak perlu penjelasan apapun dari lo, Kak,” ujarnya. “Orang kalau udah selingkuh, ya, selingkuh aja, apapun itu alasannya,” sambung gadis cantik itu.

“Aku mohon…,” ucap Gavin. “Aku takut kalau ini jadi kesempatan terakhir aku untuk ngobrol sama kamu, Vall,” katanya. “Kasih aku kesempatan sekali ini aja untuk ngejelasin semuanya. Aku nggak mau kamu salah paham,” final lelaki tampan itu.

Keduanya saling beradu tatap. Gavin dengan tatapan memohonnya untuk diberi kesempatan meskipun yang terkahir dan Vallerie dengan tatapan bimbang apakah harus memberikan kesempatan untuk lelaki tampan di hadapannya ini untuk kembali menyakitinya atau apa. Namun, sebesar apapun masalahnya, bagi Vallerie, Gavin memiliki hak dan kewajiban untuk menjelaskan semuanya. Oleh karena itu, Vallerie bersedia mendengarkan.

“Alright,” kata Vallerie. Ia menyamankan posisi duduknya. “Jelasin apa yang mau dan harus lo jelasin,” izin gadis cantik itu.

Gavin menghela napas lega. Dengan kemurahan hati gadis cantik itu, ia memiliki kesempatan mungkin terakhir untuk menjelaskan semua yang terjadi dengan sejelas-jelasnya. Gavin tahu bawah gadis cantik di hadapannya ini pantas untuk mendapatkan permintaan maaf dan pengakuan atas apa yang terjadi selama beberapa waktu belakangan. Gavin berharap semoga ini terakhir kalinya pula ia menyakiti hati gadis cantik kesayangannya.

Gavin memberikan kalimat demi kalimat eksplanasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Vallerie karena bagaimana pun semua kisah ini pastinya akan membingungkan bagi Vallerie, mulai dari fakta bahwa Haerin merupakan mantan kekasihnya semasa Sekolah Menengah Atas sampai alasan mengapa Haerin dapat dengan tega menyelundupkan dana dari rancangan acara yang sudah ditetapkan oleh BEM Fakultas Ekonomi.

Di sela-sela penjelasan itu, beberapa kali Vallerie menganga lebar sebab mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Ia juga tak jarang memotong story telling yang dikisahkan oleh mantan kekasihnya itu demi bertanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya, salah satu contohnya ialah, “Jadi, orang tuanya Haerin itu tau kalau anaknya punya mental illness, Kak?”

Gavin mengangguk. “Mereka tau,” jawabnya. “Tapi mereka lebih pilih untuk diam dan nyelesain semua perkara yang dibuat Haerin dengan uang dibanding ngebawa anak mereka untuk konsultasi ke profesional,” jelas lelaki tampan itu.

Bersamaan dengan pertanyaan ke sekian yang dilontarkan Vallerie, selesailah kisah pilu yang diceritakan oleh Gavin mengenai based on true story-nya bersama dengan Haerin. Sepertinya, Vallerie masih berusaha mencerna semua hal-hal yang terjadi di antara dirinya, Gavin, dan juga perempuan bernama Haerin yang ternyata berusaha merusak kebersamaan mereka dan dirinya berhasil.

“Aku nggak akan memaksa kamu untuk maafin aku, Vall, karena aku juga tau kalau aku salah ambil jalan dan akhirnya ngebuat hubungan aku sama kamu jadi nggak jelas kayak gini. Aku udah ngerusak kepercayaan kamu. Aku juga udah ngerusak kepercayaan Valdi,” ujar Gavin. “Tapi ada satu hal yang harus kamu tau kalau aku nggak pernah dan nggak akan pernah selingkuh sama perempuan lain, apalagi Haerin,” sambungnya. “Aku cuma sayang dan cinta sama kamu, Vallerie Adhikirana,” final lelaki tampan itu.

Detik demi detik yang berubah menjadi menit ke menit, tiba-tiba saja terdengar suara isakan. Vallerie menundukkan pandangannya selagi air mata berlinangan jatuh dari sepasang netranya. Dengan sigap, Gavin menggapai kedua bahu yang ikut bergetar itu. Ia tahu bahwa Vallerie sangat sakit sehingga kembali menangis karena kebodohan dan kesalahannya. Gavin gagal menjadi seseorang yang didamba-dambakan oleh gadis cantik kesayangannya.

“Kamu boleh pukul aku sekeras dan sepuas yang kamu mau, Vall,” kata Gavin. “Aku nggak akan ngelawan karena aku tau rasa sakit dari pukulan kamu itu nggak sebesar rasa sakit yang aku kasih ke kamu,” ucapnya lagi.

“Maafin aku, Kak,” ujar Vallerie seketika ia mengangkat pandangannya. “Aku udah salah sangka sama kamu,” lanjutnya.

“Jangan minta maaf, Vall,” balas Gavin. “Bukan kamu yang salah, aku yang salah,” kata lelaki tampan itu.

Vallerie menggeleng. “Nggak, Kak,” katanya. Ia menyeka jejak air mata pada kedua pipinya. “Seharusnya, aku percaya sama kamu,” ucap gadis cantik itu. “Dari dulu juga kamu selalu berusaha untuk ngelindungin aku,” ujar Vallerie.

Kali ini, Gavin yang menggeleng. Kedua tangan besar yang sebelumnya menggenggam sepasang lengan yang tadinya bergetar kini meluruh untuk menangkup tangan yang lebih kecil. Perlahan, tangan besar Gavin mengusap punggung tangan adik tingkatnya itu. “Untuk kali ini, kamu nggak perlu minta maaf sama aku,” jelasnya. “Di sini, aku yang salah, Vall,” akunya lagi. “Kalau aja waktu itu aku bisa berpikir lebih jernih pasti kejadian nggak akan kayak gini. Kalau aku ada di posisi kamu juga pasti aku bingung dan merasa tersakiti. Makanya, kamu nggak usah minta maaf, ya, Cantik,” final lelaki tampan itu seraya tersenyum.

Vallerie mengangguk paham mendengar eksplanasi singkat dari mantan kekasihnya itu. “Mana kamu udah abis digebukin sama Bang Paldi,” ucap Vallerie sembari tangan kanannya meraih sebelah rangka tegas yang dipenuhi lebam dan luka.

Gavin terkekeh. Ia menggenggam tangan kecil yang menangkup sebelah wajahnya untuk kemudian mengusapnya pelan. “Aku paham kok gimana perasaan Valdi kalau seandainya adik kandung satu-satunya disakitin sama orang lain,” ujarnya.

“Muka ganteng kamu jadi babak belur gini, Kak,” kata Vallerie mengasihani tampang mantan kekasihnya. “Masih sakit nggak?” tanyanya sungguh-sungguh.

“Masih,” jawab Gavin singkat.

“Yang mana?” balas Vallerie kembali bertanya. “Sini biar aku obatin lagi,” ucapnya.

Saat sebelah tangan Vallerie yang terbebas hendak meraih kembali kotak P3K yang terletak tak jauh dari mereka, sebelah tangan Gavin yang juga terbebas menghalang pergerakannya. Ia lekatkan tangan mungil yang hangat itu pada sisa ruang di wajahnya. Lalu, Gavin perlahan membawa ibu jari dari tangan mungil itu untuk mengusap bibirnya. “Di sini yang sakit,” finalnya.

Mendengarnya, Vallerie tidak dapat menahan senyumnya. Ia membuang pandangannya ke segala arah, ke mana saja yang penting tidak menatap langsung sepasang netra bak kelinci yang masih menjadi kesukaannya sampai sekarang. Di sisi lain, Gavin tertawa. Ia sangat merindukan gadis cantik kesayangannya, termasuk seluruh kasih sayang dan cintanya. Gavin mengusak pelan pucuk kepala Vallerie.

“Kamu jangan mancing deh, Kak,” ucap Vallerie.

Ada kata sapaan yang lebih sopan terdengar, Gavin kembali menautkan alisnya. “Ini…,” katanya terputus. “Kamu udah nggak marah lagi sama aku?” tanyanya hati-hati.

Vallerie menghela napas panjang. “Aku marah sama kamu, Kak,” jawab gadis cantik itu. “Aku marah sama ke-nggak jelas-an kamu dan aku marah sama tingkah lakumu yang aneh itu,” jelasnya. “Tapi sekarang aku paham karena kamu udah mohon-mohon sama aku untuk ngejelasin apa yang sebenarnya terjadi.” Di akhir kalimatnya, Vallerie tersenyum. “Makasih, ya, Kak, karena udah mohon-mohon sama aku untuk ngejelasin semuanya. Aku paham kok,” finalnya.

Sejenak, Gavin membeku di posisinya. Ia tidak mengerti mengapa Vallerie begitu bermurah hati untuk memaafkan kesalahannya, lagi dan lagi. Gavin merasa cukup putus asa dan tidak ingin berharap lebih. Namun, Vallerie malah memberikannya secercah harapan berupa kesempatan kesekian kali untuk berusaha kembali membahagiakannya. Gavin tidak tahu bagaimana nasibnya apabila tidak bersama Vallerie karena selama ini hidupnya ia usahakan dan dedikasikan hanya untuk Vallerie seorang. Mungkin, hal yang sama juga berlaku bagi Vallerie untuk Gavin.

“Masih sakit nggak?” tanya Vallerie memecah lamunan sang kakak tingkat.

“Oh, luka-lukanya?” balas Gavin dengan kembali bertanya. Lalu, ia menggeleng. “Nggak kok,” jawabnya. Perlahan, Vallerie bangkit dari posisi duduknya di hadapan lelaki tampan itu. Ia dudukkan dirinya di atas pangkuan sang dominan. Kedua lengannya ia kalungkan pada bahu lebar yang berada di hadapannya. Dengan sengaja, Vallerie mendekatkan wajah cantiknya pada rangka wajah tegas nan tampan itu. “Katanya tadi yang ‘itu’ masih sakit,” ucapnya sembari sepasang netranya tidak melepaskan tatapan, barang sedetik pun, dari belahan bibir yang selalu menggodanya semenjak pertemuan pertama mereka.

Gavin menyeringai sesaat gadis cantik kesayangannya memprovokasinya dengan aksi yang cukup berani. “Kalau masih sakit…,” balas lelaki tampan itu dengan sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tatap dengan intens peraduan bibir yang merah merona itu sebelum kembali menatap sepasang manik empunya. “Kamu mau ‘ngobatin’?” tanyanya menggoda.

Kali ini, Vallerie yang menyeringai. “Why not?” balasnya.

Selama beberapa detik, dua pasang netra itu saling menatap lebih dalam—seolah saling mengirim rindu yang selama beberapa pekan belakang terpaksa untuk dipendam. Vallerie meremat kemeja lawan mainnya. Ia menggigit mainnya demi menetralisir rasa gugupnya. Sementara itu, Gavin menangkap kegiatan yang dilakukan adik tingkatnya itu sebagai sinyal untuk menggodanya.

Secara bersamaan, keduanya berpagut. Ciuman itu terlihat menuntut, seperti keduanya menginginkan satu sama lain untuk kesekian kalinya di hidup ini. Gavin menekan tengkuk Vallerie agar memperdalam cumbuannya. Sedangkan, Vallerie mengusak kepala bagian kepala lelaki yang memuaskannya saat ini. Tiba-tiba, suara yang sudah lama Gavin rindukan terdengar. Vallerie melenguhkan namanya di sela-sela sesi pertukaran salivanya.

“Nghh, Kak,” rintih gadis cantik itu. Gavin lebih dulu mengakhiri permulaan kegiatan panas itu. Vallerie sukses dibuat panik saat salivanya bercampur dengan darah. Ia mengusap bibirnya yang terasa bengkak. “Kak?!” pekiknya.

Melihatnya, Gavin melakukan hal serupa. Ia menyeka tetesan darah pada bibirnya untuk kemudian terkekeh. “Aku kelepasan, ya,” ucapnya.

Vallerie menelisik dengan teliti belahan bibir di hadapannya. “Di bibir kamu ada lukanya, Kak,” jelasnya. “Aku pikir waktu kamu bilang bibir kamu ‘sakit’ itu cuma ngegodain aku aja,” ujar gadis cantik itu.

Gavin menggeleng untuk menanggapi celotehan Vallerie. “Aku nggak apa-apa kok,” tukasnya.

“Beneran?” tanya Vallerie pelan.

Sepasang netra lembut itu berbinar—memancarkan ketulusan. Gavin dapat melihat dengan jelas manik yang bercahaya itu memandang ke arahnya. Ia tersenyum untuk kemudian mengangguk. “Iya,” singkatnya. “Aku beneran nggak apa-apa kok,” ucap lelaki tampan itu.

“Kak,” panggil Vallerie lebih pelan lagi.

“Hm?” balas lelaki tampan itu hanya dengan deheman singkat.

“Mau lagi,” lirih Vallerie.

Dua kata keramat itu sukses membuat Gavin membeku. Sepasang netranya membulat sempurna. “Apa, Vall?” tanyanya setengah sadar.

“Aku mau lagi,” ulang Vallerie. Kali ini, suaranya terdengar jelas. Ia tidak ingin lagi memaksa hasratnya untuk menunggu.

Lalu, ciuman panas itu kembali terjadi. Pagutannya terlihat dan terasa jauh lebih menuntut. Tidak hanya bibir-bibir itu yang bermain, tangan satu sama lain juga ikut bergerak. Gavin mengusap perut gadis cantiknya dan Vallerie terus mengusap tengkuk leher kakak tingkatnya. Bahkan, pendingin ruangan yang tersedia tidak mampu lagi meredam hawa panas yang keduanya ciptakan.

Selanjutnya, tanpa diduga-duga, tanpa melepaskan pagutannya, Gavin menggendong tubuh mungil itu untuk duduk di atas meja makan—meja yang sama yang mereka gunakan untuk menyantap hidangan saat acara ulang tahun Valdi berlangsung. Kali ini, Vallerie yang lebih dulu menyudahi cumbuan di antara keduanya. Ia tertawa kecil sesaat mengetahui apa yang Gavin mungkin akan lakukan kepadanya.

Mendengarnya, Gavin ikut tertawa. “Kenapa, Cantik?” tanyanya.

Vallerie hanya menggeleng. “Nggak, Kak,” dustanya.

Padahal, banyak adegan tidak senonoh yang terputar di kepalanya. Ia sendiri tidak sanggup untuk menahannya. Selagi Vallerie sibuk dengan skenario-skenario kotor di kepalanya, tangan besar yang bersanggah di sisi kanan dan kiri tubuh mungil itu tiba-tiba saja bergerak. Sebelah tangan Gavin dengan aktif menggoda payudara yang terlihat mencuat dari house dress yang dikenakan Vallerie—baju yang membuyarkan atensinya sejak datang ke rumah ini.

“Ahh,” desah Vallerie.

Ia mengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang makan. Kedua tangannya menyangga beban tubuhnya di atas meja makan. Gavin tersenyum puas kala melihat pemandangan gadis cantiknya yang selalu saja terbuai dengan segala permainan yang ia lakukan. Namun, Gavin tidak ingin melakukan sesuatu yang jauh dari kata sempurna. Perlahan, tanpa memberhentikan permainannya dari gunung sintal Vallerie, jari jemari dari tangannya yang terbebas meluruhkan tali gaun tidur yang dikenakan sang gadis.

Vallerie langsung dapat merasakan angin dingin menyentuh permukaan kulitnya, terutama putingnya yang mencuat. Kesempatan itu Gavin gunakan untuk memilin lalu sesekali menekan ke dalam puting menyembul itu. Lagi-lagi, Vallerie terlena dengan servis yang diberikan kayak tingkatnya. Tubuhnya hampir ambruk di atas meja makan apabila tangannya tidak sigap mencengkeram bahu lebar di depannya.

“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.

“Enak, Vall?” tanya Gavin.

Vallerie mengangguk beberapa kali. “Enakhh,” jawabnya.

Gavin mendekatkan diri ke arah Vallerie. Ia biarkan tubuh hangat itu memeluk dirinya. Tangan yang digunakannya untuk memijat payudara sang gadis kini berpindah haluan. Jari jemarinya yang lentik untuk ukuran seorang lelaki menyapu garis leher yang terpampang jelas di hadapannya dan perlahan turun menuju selatan. Di bawah sana, ibu jari serta jari telunjuknya bermain dari bagian luar pakaian dalam. Vallerie semakin mengeratkan dekapannya saat jari-jari tersebut menyentuh kepemilikannya.

“Nghh,” lirih gadis cantik itu.

“Udah basah, ya,” goda Gavin sembari berbisik.

Vallerie terkekeh pelan. Ia membalas bisikkan lelaki tampan di hadapannya. Kedua telapak tangannya ia sengaja letakkan pada dada bidang yang hanya berjarak beberapa inci darinya. “Kamu selalu bisa buat aku basah, Kak,” ucapnya membalas godaan.

Gavin menghentikan seluruh aktivitas nakalnya. Ia memandang ke segala arah sembari menyeringai. Lidahnya bermain di dalam mulutnya. Vallerie selalu bisa membuatnya hasratnya hampir meledak dan meledakannya kemudian. Gavin dibuat menggila oleh gadisnya. Ia kembalikan lagi tatapan itu ke wajah cantik di depannya. Gavin kembali berbisik. “Aku bikin jadi lebih basah lagi,” katanya.

Kemudian, Gavin mundur beberapa langkah dari hadapannya sang gadis. Ia berjalan pelan ke arah lemari pendingin yang terletak di perbatasan ruang makan dan dapur. Sepasang netra lembut itu mengekori pergerakan yang dilakukan oleh lawan mainnya. Vallerie melihat Gavin membuka pintu sebelah kiri dari lemari pendingin miliknya. Di balik tubuh besar itu, Vallerie tidak yakin ia dapat melihat apa yang Gavin lakukan di sana.

Vallerie sukses dibuat menganga saat Gavin membalikkan tubuhnya. Ia secara terang-terangan menunjukkan sebuah bongkahan es yang baru saja ia ambil dari freezer. Gavin berjalan kembali ke arah gadisnya selagi ibu jarinya mengusap permukaan bongkahan es tersebut. Vallerie tidak dapat melepaskan tatapannya dari air beku nan dingin yang digenggam kakak tingkatnya. Gavin tersenyum sesaat sampai di hadapan sang gadis.

“Valdi pernah cerita katanya kamu suka ngunyahin es batu, ya, Vall?” tanya Gavin.

Vallerie tidak mampu menjawab. Ia hanya dapat mengangguk sebagai respons sebab baik tubuh maupun lidahnya terasa kelu. Vallerie tengah mengingat sesuatu, lebih tepatnya film biru yang tersimpan di dalam cakram keras yang lelaki tampan itu sita pada permainan panas pertama mereka, di mana mereka juga secara resmi menjadi sepasang kekasih saat itu. Vallerie sempat membuang pandangannya sebelum Gavin mengembalikkannya dengan mencium pipinya.

“Kak?!” protes Vallerie.

Kali ini, Gavin yang tidak mampu menjawab. Namun, tubuhnyalah yang bergerak. Ia menggigit bongkahan es batu yang diambilnya tadi untuk kemudian membuka satu per satu kancing baju kemeja putih yang ia gelung lengannya sampai siku. Luruhan kain itu menampilkan pemandangan tubuh kekar nan besar yang sangat Vallerie sukai. Ia tidak dapat meloloskan tatapannya barang sebentar pada lanskap indah di hadapannya.

Lalu, lelaki tampan itu kembali bergerak. Ia membuka kain tipis berwarna biru muda yang melindungi tubuh gadisnya. Gavin dipuaskan dengan penampilan tubuh indah Vallerie yang kini hanya menyisakan pakaian dalam saja. Jemari itu kembali menyapu tubuhnya sebelum kembali berkutik pada bongkahan es di mulutnya dan melakukan hal yang sama tetapi kali ini ditemani dengan lelehan air dingin dari es batu yang mulai mencair.

“Shh, ahhh,” desis Vallerie.

“Setelah ini,” ucap Gavin menggantung. “Persepsi kamu tentang es batu yang suka kamu kunyahin nggak akan sama lagi,” jelasnya.

Kalimat itu sukses membuat manik Vallerie membulat. Vallerie seolah tidak diberi kesempatan untuk mencerna apa yang Gavin katakan padanya barusan, kini kepemilikannya sudah dijajahi oleh sebuah bongkahan es batu dan dua jari besar milik lawan mainnya. Sontak, Vallerie melebarkan posisi kakinya—membiarkan kombinasi gila antara jari dan es batu itu melecehkan vaginanya.

“Nghhh ahh, Kak,” desah Vallerie setengah memekik.

Vallerie tidak tahu harus menyebutnya sebagai permainan dingin atau panas tetapi yang pasti ide gila yang Gavin putuskan untuk diberikan kepadanya berhasil membuat pandangannya pada langit-langit atap ruang makan menjadi memburam. Ia terlalu dikuasai oleh rasa nikmat yang teramat sangat. Tubuhnya terhuyung. Namun, Gavin menangkapnya dengan cepat. Ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya pada Vallerie.

“Ahhh,” lirih Vallerie.

Tanpa sadar, gadis cantik itu menggoyangkan pinggulnya seolah meminta lebih. Gavin yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum puas. Ia tidak pernah gagal dalam membuat bucket list ala kenikmatan duniawi milik Vallerie menjadi kenyataan. Sebenarnya, diam-diam, Gavin memeriksa satu per satu film maupun video yang terdapat di dalam cakram keras milik mantan kekasihnya itu. Oleh sebabnya, Gavin selalu tahu apa yang Vallerie mau dan butuhkan.

Misalkan, seperti sekarang, Gavin dapat melihat dengan jelas Vallerie semakin meminta dengan menggunakan pinggulnya. “Lagi, Vall?” tanyanya.

Vallerie mengangguk. Bongkahan es batu yang berada di dalam vagina bersama dengan dua jari lainnya semakin meleleh dan Vallerie semakin merasa di atas awan. Gavin mempercepat tempo adukannya di bawah sana. Keluar lalu masuk. Memutar. Menekan klitorisnya. Semua Gavin lakukan demi agar gadis cantiknya dapat mencapai titik ternikmatnya. Di sisi lain, Vallerie berusaha dengan maksimal untuk menikmati permainan yang Gavin ciptakan untuknya.

“Nghh, Kak,” panggil Vallerie.

“Ya, Vall,” balasnya.

“Aku mau, ahhh, keluar,” jelasnya dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

Gavin tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga sang gadis. “Keluarin aja, Sayang,” bisiknya.

“Nghh ahhh!” pekik Vallerie kemudian.

Tubuhnya meluruh. Napasnya tersengal. Ia memeluk tubuh besar di hadapannya bak koala. Gavin terkekeh melihat gadis cantik yang seolah memercayakan seluruh tubuhnya kepadanya. Tangan besarnya kembali bergerak tetapi kali ini gerakannya lembut dan pasti. Ia mengusap punggung polos serta pucuk kepala Vallerie secara bergantian. Gavin dapat merasakan tubuh mungil itu memanas.

“Vall,” panggilnya.

“Hm?” Vallerie hanya merespons singkat.

“Capek, ya?” tanyanya memastikan.

Selama beberapa detik tidak ada jawaban yang terdengar. Gavin hanya dapat merasakan napas hangat dengan ritme yang teratur. Gavin mengira gadis cantik itu tidur di dalam dekapannya. Namun, Gavin salah besar. Di detik setelahnya, Vallerie melepaskan pelukannya untuk kemudian menghempaskan tubuh besar di depannya. Gavin dibuat terkejut oleh perilakunya yang tiba-tiba itu.

“Vall?” ucap Gavin keheranan.

“Sekarang, giliran aku,” tegas Vallerie.

Gavin menaikkan sebelas alisnya. “Giliran kamu?” balasnya dengan bertanya.

Vallerie, dengan gerak-gerik yang se-sensual mungkin, membujuk Gavin untuk duduk di kursi yang tadi ia gunakan untuk memangku dirinya setelah sebelumnya meluruhkan celana katun berwarna hitam tersebut—meninggalkan pakaian dalam yang masih melindungi batang beruratnya. Kemudian, tali pinggang dengan warna serupa dengan celana itu Vallerie gunakan untuk mengikat tangan besar kakak tingkatnya.

Gavin dibuat membungkam dengan semua perilaku yang Vallerie perbuat padanya. Ia terkekeh, “Kamu masih punya hard disk lain, ya?” tanya lelaki tampan itu menuduh. “Tau banget gimana bikin aku tegang,” lanjutnya.

Sebelum menjawab, Vallerie lebih dulu menyiapkan posisinya. Ia berlutut di hadapan Gavin dengan sepasang netra yang memandang intens secara bergantian pada manik bak kelinci di atas dan tonjolan yang memaksa ingin keluar dari tempatnya di bawah. “Ini namanya insting, Kak,” jawabnya.

“Insting?” ulang Gavin.

Vallerie mengangguk. “Iya, insting,” balasnya. “Insting bermain liar kalau partner-nya cocok,” sambung gadis cantik itu.

Gavin tidak diberi kesempatan untuk merespons pernyataan dari sang gadis sebab Vallerie sudah lebih dulu mencium lalu mengusap pelan penisnya yang terkungkung di balik pakaian dalamnya. Gavin memejamkan matanya. Sesekali, ia mendesis sebab tangan mungil yang terasa hangat itu terus menggoda kepemilikannya. Gavin harus mengakui bahwa permainan intim akan terasa semakin nikmat apabila keduanya habis terlibat pertengkaran.

“Nghh, Vall,” lirih Gavin.

Vallerie terus bermain dengan penis di hadapannya. Ia sentuh kepalanya serta mengelus pelan batangnya. Hanya dengan dua gerakan sederhana seperti itu saja mampu membuat Gavin mengerang kenikmatan. “Enak, Kak?” tanya Vallerie.

Gavin yang sedari tadi memejamkan matanya kini kembali menatap sang gadis. Ia mengangguk. “Good girl,” pujinya. “Pinter maininnya,” ujar lelaki tampan itu.

Vallerie tersenyum puas. Artinya, tidak sia-sia selama ini dirinya mencari siasat untuk menggunakan media lain untuk mencari ‘pembelajarannya’ sebab cakram keras miliknya yang diambil sepihak oleh mantan pacarnya itu. Lalu, Vallerie kembali memusatkan atensinya pada penis milik kakak tingkatnya. Perlahan namun pasti, tangan kecilnya bergerak meluruhkan pakaian dalam lawan mainnya.

Vallerie menenggak salivanya sesaat batang besar dan berurat itu muncul tepat di hadapannya dengan cairan pre-cum yang melumasi di bagian kepalanya. Dalam diamnya, Gavin menyeringai. “Ayo, Cantik,” bujuk Gavin. “Show me what you got,” sambungnya.

Dengan titah langsung itu, Vallerie menjilat ujung kepala penis tersebut untuk kemudian memasukkannya secara perlahan ke dalam kerongkongannya. Vallerie dapat merasakan penis itu memenuhi mulutnya. Gavin yang kepemilikannya mendapatkan servis berupa mulut gadis cantiknya yang hangat dan basah hanya dapat mendesah. Seperti katanya, Vallerie pandai ‘memainkan’ miliknya.

“Shh ahhh,” desis lelaki tampan itu.

Dari bawah sana, Vallerie dengan giat memainkan penis besar itu di dalam mulutnya. Beberapa kali dirinya sempat hampir tersedak tetapi ia mampu menahannya sebab suara bariton yang terus mendesah dan meluruhkan namanya membuat dirinya menjadi bersemangat. Vallerie merasa batang besar yang berada di dalam mulutnya semakin keras dan menegang. Sepertinya, Gavin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi.

“Nghh, Vall,” panggil Gavin. Namun, gadis cantik itu tidak mendengarnya. “Vallerie, ahhh,” panggilnya lagi.

Gavin berusaha menyadarkan adik tingkatnya itu tetapi sepertinya Vallerie sangat fokus di bawah sana. Gavin yang diselimuti kenikmatan tidak dapat berbuat banyak. Akhirnya, kedua tangannya yang terikat ia paksa untuk bergerak. Tangan besar itu menangkup sebelah pipi sang gadis dan barulah Vallerie kembali pada kenyatannya. Gavin tersenyum sesaat sepasang netra yang berbinat itu memandang ke arahnya.

“Udah,” singkatnya.

“Kamu belum keluar, Kak,” jelas gadis cantik itu.

“Nggak apa-apa,” ucap Gavin. “Aku liat muka kamu udah merah banget, Vall,” jelas lelaki tampan itu.

“Tapi aku mau kamu juga keluar,” tegas Vallerie.

Gavin tersenyum sembari mengusap pucuk kepala gadisnya. “Ini udah lebih dari cukup,” tegasnya.

Sementara itu, Vallerie tidak setuju dengan Gavin. Ia ingin sekali menentang. Vallerie bangkit dari posisi berlututnya. Ia memandang Gavin dengan tidak senang. Gavin hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah gemas adik dari teman dekatnya itu. Vallerie melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, tiba-tiba saja sesuatu melintas di dalam kepalanya—sebuah taktik untuk mewujudkan penolakannya.

Gavin baru saja akan menyodorkan tangannya untuk meminta dibukakan ikatannya kala Vallerie mendahului aksinya. Vallerie menarik sepasang tangan besar yang masih di dalam belenggu dari tali pinggangnya itu. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah tampan di hadapannya. Sebelah kakinya ia tenggerkan di atas kursi yang Gavin duduki. Gavin dibuat cukup terkejut dengan pergerakan menggoda yang tiba-tiba itu.

Ibu jari Vallerie bergerak menangkup dagu mantan kekasihnya. “Kalau aku enak,” ucapnya menggantung dan sedikit berbisik. “Kamu juga harus enak, Kak,” lanjutnya.

Vallerie seolah dirasuki oleh setan pecinta seks yang biasanya menguasai tubuh kekar Gavin. Setelahnya, Vallerie berdiri tegap di depan kakak tingkatnya itu. Ia mengamati tubuh yang hampir telanjang itu dari atas sampai bawah. Vallerie kembali bergerak. Ia menghempaskan kain terakhir yang melekat di tubuh masing-masing. Dengan begitu, Gavin dapat melihat tubuh polos gadisnya dan sebaliknya. Gavin tidak menanggapi taktik yang Vallerie rancang untuknya. Sesuai dengan ultimatum dari gadis cantik tersebut, ia hanya tersenyum dan menunggu bagaimana permainan ini akan berjalan.

Vallerie kembali berinteraksi dengan batang besar nan berurat yang mengundang hasratnya sejak ia lucuti celana katun berwarna hitam milik mantan kekasihnya itu. Ia mencium pucuk penis itu lebih lama dari yang sebelumnya. Indera pendengaran gadis cantik tersebut sangat dipuaskan dengan suara desisan serta desahan yang mengandung namanya.

“Shh, Vall,” lenguh Gavin.

Vallerie bangkit dari posisinya untuk kemudian membalikkan tubuhnya. Gavin mulai tahu ke mana arah permainan ini akan berlangsung. Perlahan, gadis cantik itu mendudukkan dirinya di atas lawan mainnya. Vallerie memposisikan penis yang menjulang itu untuk memasukinya. Namun, ia tak ingin masuk hanya dengan sekali hentak. Vallerie beberapa kali menggoda kakak tingkatnya itu dengan menggesekkan ujung penisnya pada permukaan vaginanya—membuat keduanya merasakan nikmat satu sama lain.

“Ahh!”

“Nghhh!”

Lalu, setelah puas menggoda lelakinya, dan juga dirinya, Vallerie memutuskan untuk masuk ke permainan inti. Ia kembali mengatur posisi agar penis besar itu memasuki dirinya secara utuh. Vallerie menggerak-gerakan pinggulnya naik dan turun dengan tempo pelan. Gavin merasakan miliknya masuk dengan sempurna ke dalam gadisnya. Ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit sembari memejamkan matanya. Gavin berusaha menikmati Vallerie dengan sepenuh hatinya.

“Nghh, shit, Vall,” umpat Gavin. “Kamu enakhh banget,” pujinya kemudian.

“Ahhh, Kak,” balas Vallerie.

Vallerie mulai menambah ritme dalam pergerakannya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang beban tubuhnya di atas paha kanan dan kiri mantan kekasihnya. Ia menggigit bibirnya sebab rasa puas akan sesuatu yang besar nan urat yang tengah memasuki dirinya saat ini. Napasnya mulai tersengal sebab sentakan yang dilakukannya secara teratur dan Gavin sadar akan itu. Oleh karenanya, Gavin membantu pergerakan gadisnya. Ia menggerakan pinggulnya dengan menyesuaikan tempo yang dimainkan Vallerie.

“Ahhh, Kak,” lenguh Vallerie.

Di hari itu, langit yang dihiasi oleh bulan purnama dan tidak ada satu pun bintang yang menampakkan diri, di pelataran ruang makan dengan lemari pendingin dan kursi makan yang menjadi saksi bisu, Gavin dan Vallerie kembali menyatukan diri mereka. Suara pertemuan antara dua kulit yang basah merupakan pertanda perpaduan tubuh masing-masing. Baik Gavin maupun Vallerie sama-sama merindukan sensasi ini.

“Nghh, Vall,” rintih Gavin. “Aku mau ahh keluar,” ujarnya.

Sepersekian detik setelahnya, Gavin bergerak—seolah tetap ingin menjadi pemimpin di dalam sesi intim nan panas keduanya. Ia mengalungkan tangannya yang terikat pada tubuh mungil di atas pangkuannya. Lalu, dengan akses yang terbatas, tangannya meraih puting gadisnya yang menyembul sempurna. Diberi pelayanan tiba-tiba seperti itu, Vallerie menyandarkan tubuhnya untuk kemudian menarik Gavin untuk masuk ke dalam pagutannya.

“Mphhh,” lirih gadis cantik itu. Tak lama setelahnya, ia menyudahi ciuman itu. “Nghh, Kak, aku mau keluar,” jelasnya.

“Akhh!”

“Ahhh!”

Keduanya mencapai titik ternikmat secara bersamaan. Tubuh Vallerie menggelinjang hebat di atas pangkuan Gavin. Untuk malam ini, energinya benar-benar ia gunakan semaksimal yang ia bisa. Gavin dan Vallerie menolehkan pandangannya satu sama lain. Keduanya dibanjiri peluh. Kala dua pasang netra itu bertemu, keduanya tertawa pelan untuk sesaat. Gavin tersenyum melihat pemandangan cantik di hadapannya saat ini dan begitu pun dengan Vallerie.

“Capek, Vall?” tanya Gavin memastikan.

Vallerie mengangguk. “Banget, Kak,” jawabnya.

“Kamu pinter geraknya,” puji Gavin lagi.

“Kok kamu bisa sih, Kak,” ucap gadis cantik itu menggantung. “Nggak capek kalau lagi main sama aku?” tanyanya. “Padahal, kamu yang lebih banyak geraknya,” tambah Vallerie.

“Aku juga nggak tau,” jawab Gavin. “Aku nggak pernah capek kalau main sama kamu,” jelasnya.

“Kamu minum obat kuat, ya?” tuduh Vallerie.

Mendengarnya, Gavin tertawa. “Nggak mungkinlah,” balasnya. “Mungkin karena…,” ucapnya menggantung. “Insting?” goda lelaki tampan tersebut.

Vallerie menjawir hidung bangir di depannya. “Ledekin terus aja akunya,” protesnya.

Dengan posisi seperti itu, Gavin tak kuasa menahan hasratnya. Namun, di sisi lain, ia tidak tega apabila harus menggempur habis gadisnya. Sebagai gantinya, Gavin memanggil bibir ranuh di depannya untuk bergabung bersamanya. Ciuman kali ini terlihat dan terasa lebih tenang—seolah keduanya menginginkan satu sama lain tanpa harus adanya dominasi. Baik Gavin dan Vallerie sama-sama menikmati cumbuan itu.

Gavin lebih dulu menyudahi pagutannya. Ia mengangkat tangannya yang terikat. “Sekarang, udah boleh dilepas kan?” tanyanya menggoda.

Vallerie tertawa. “Boleh, Kak,” jawabnya. Vallerie berdiri dari pangkuan kakak tingkatnya untuk kemudian membebaskan sepasang lengan besar itu dari tali pinggang milik sang empunya. Gavin mengusap tangannya yang terasa kaku. “Sakit, ya, Kak?” tanya Vallerie khawatir.

Gavin menggeleng. “Nggak, Sayang,” ucapnya.

Mendengar ada kata panggilan manis yang terkandung di dalam kalimat tersebut, wajah Vallerie memanas. Ia memalingkan wajahnya agar pelakunya tidak dapat melihatnya salah tingkah secara langsung. Namun, Gavin tetaplah menjadi yang paling sigap. Ia sadar akan hal itu. Ia berusaha keras menahan senyumnya. Ia bangkit dari posisi duduknya untuk menyempatkan diri mengusap pucuk kepala gadisnya sebelum berlalu ke kamar tidur tamu.

Sepeninggalan Gavin, Vallerie menghela napasnya. Ia bergumam, “Kalau gini, mana bisa gue jauh dari Kak Gavin,” monolognya.

Srakkk.

Sebuah selimut putih tiba-tiba tersampir pada tubuh polosnya. “Aku juga,” sambungnya.

“Kamu juga apa, Kak?” tanya Vallerie.

Gavin yang sudah berganti penampilan dengan mengenakan bathrobe yang ia ambil dari kamar tidur tamu menanggapi celotehan Vallerie yang sempat ia dengar sebelum berlalu ke ruang makan. “Aku juga nggak bisa jauh dari kamu, Vall,” jelasnya. “Maafin aku, ya, Vall,” ucapnya meminta maaf kesekian kalinya hari ini. “Aku egois,” tambah lelaki tampan itu.

Mendengarnya, Vallerie berhamburan memeluk tubuh besar yang berjarak beberapa langkah di hadapannya. Bahu sempitnya berguncang hebat di sana. Vallerie menangis sejadi-jadinya. Gavin berusaha melepaskan dekapannya tetapi tenaga Vallerie, entah mengapa, jauh lebih kuat darinya. Vallerie tidak ingin Gavin melihatnya menangis. Namun, ia butuh untuk Gavin mendengarkan menangis.

“Vall,” panggil Gavin. Tangannya bergerak mengusap punggung gadis cantiknya. “Kenapa nangis?” tanyanya.

“Aku kangen sama kamu, Kak,” ujarnya diselingi dengan beberapa isakan.

Gavin tersenyum lembut. “Aku juga kangen sama kamu, Vall,” balasnya.

Sejenak, tidak ada percakapan signifikan yang terjadi. Gavin masih dengan telaten mengusap punggung sempit yang memeluknya erat itu. Ia menopangkan dagunya pada pucuk kepala yang sesekali berguncang sebab tangisannya. Setelah beberapa saat, isakan itu mulai berhenti. Vallerie menyeka jejak air mata di wajahnya tetapi tetap tidak mau menatap wajah tampan Gavin secara langsung.

“Kak,” panggil Vallerie.

“Iya, Vall,” balasnya lembut.

“Aku suka dipanggil ‘Sayang’ sama kamu,” jelas gadis cantik itu. “Gimana pun keadaannya,” final Vallerie.

Mendengarnya, Gavin tersenyum. Itu berarti satu hal. Selain menerima maafnya, Vallerie masih bersedia untuk menjadi kekasihnya. Setelah pengakuan masing-masing, di mana keduanya tidak dapat hidup satu sama lain, maka jalan terbaiknya ialah mereka tetap bersama. Baik Gavin dan Vallerie berjanji untuk menghadapi segala sesuatu yang menerpa hubungan mereka secara terbuka.

Gavin mengangguk pelan. “Iya, Vall,” ucapnya. “Aku bakal tetep manggil kamu ‘Sayang’,” jelas lelaki tampan itu. “Gimana pun keadaannya,” ulang Gavin. “Ya, Sayang?” finalnya.