The Motion
“Vallerie,” panggil Gavin kepada sang kekasih. Ia memusatkan atensinya pada gadis cantik dengan wajah murung di sebelah kirinya.
Vallerie dengan sengaja tidak menjawab. Ia berpura-pura fokus pada tumpukan nasi yang tersedia di piring makannya. Vallerie lebih memilih diam sebab ia tahu apabila dirinya terus-terusan berinteraksi dengan kekasihnya itu maka suasana hatinya akan semakin runyam dan Vallerie sangat amat tidak ingin merusak suasana hati semua orang hanya karena amarah yang dipendamnya.
“Vall,” panggil Gavin lagi.
Namun, Vallerie masih tetap dengan pendiriannya. Ia meneguk air putih dari gelas di hadapannya. Vallerie merasa dengan diamnya ini justru membuat tenggorokannya semakin kering. Sebenarnya, ada banyak hal ingin ia tanyakan kepada Gavin tetapi waktunya tidak tepat. Vallerie tidak tega kalau semua yang hadir di surprise party Valdi hari ini harus menyaksikan dirinya bertengkar (lagi) dengan sang kekasih.
“Kamu marah sama aku?” tanya Gavin seolah tak ada dosa.
“Nggak,” jawab Vallerie singkat. “Lanjutin makannya, Kak. Kamu pasti capek rapat terus,” sindir gadis cantik itu.
Vallerie yang sedari tadi menghemat kata-katanya ketika berbicara dengan Gavin, kini mulai mau menjawab meskipun kalimat yang dilontarkannya sukses membuat Gavin membatu. Pasalnya, Gavin tidak tahu-menahu alasan di balik kekasihnya itu bersikap dingin padanya. Namun, Gavin tahu bahwa dirinya harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, dirinya berinisiatif untuk ‘bergerak’ lebih dulu.
Gavin meletakkan sendok dan garpu yang digunakannya di samping kanan dan kiri piring makannya. Di sisi lain, Vallerie yang memutuskan untuk mengakhiri sesi makannya menyilangkan alat makannya di atas piring. Kemudian, Gavin dengan sengaja menjatuhkan garpu yang ada di dekatnya. Dengan alibi ingin mengambil garpu yang dijatuhkannya tersebut, tangan kiri Gavin bergerak mengusap pelan kaki jenjang Vallerie dari bawah sampai atas.
Vallerie yang diperlakukan seperti itu sontak menegang. Ia hampir saja tersedak es jeruk yang tengah ditenggaknya. Sepasang netranya membulat dengan sempurna sembari meletakkan gelas es jeruknya dengan tidak santai. Ia melirik Gavin yang sama sekali merasa tidak bersalah atas perlakuan tidak senonohnya. Vallerie mengumpat di dalam hatinya sebab mengapa harus pada momen seperti ini ‘gerakan’ itu harus berlangsung.
“Santai, Vall,” bisik Gavin.
Dengan cepat, tangan besar Gavin kembali bergerak. Kali ini, menyingkap ujung mini dress yang dikenakan kekasihnya. Gavin dapat mendengar dengan jelas napas Vallerie yang semakin berat. Gavin berhasil memancing Vallerie untuk masuk ke dalam perangkapnya. Tangan kanan Vallerie dengan kuat mencengkram ujung meja makan yang terbuat dari marmer serta tangan kirinya sedari tadi tidak berhenti mengusap peluh yang mengucur di keningnya.
Valdi yang tengah menegak air putih dingin dari gelasnya menyadari ada sesuatu yang aneh dari adiknya. “Kamu nggak apa-apa, Vall?” tanyanya.
Mendengarnya, Vallerie menolehkan pandangannya ke arah Valdi. “Ng-nggak apa-apa, Bang,” ucapnya terbata-bata.
“Kamu yakin?” tanya Valdi lagi. Tangannya bergerak mengusap kening adiknya yang membanjir. “Kamu keringat dingin gini loh,” jelasnya.
Vallerie yang sedang mengobrol dengan Valdi digunakan Gavin sebagai momen gayung bersambut dalam aktivitas menggoda gadisnya. Telapak tangan besar nan berurat itu mencoba melebarkan sepasang paha yang ada pada genggamannya. Lalu, dengan telaten, jari-jari itu bergerak mengusap bagian selatan Vallerie yang masih terlindungi oleh pakaian dalam. Vallerie dibuat semakin tidak tahan.
“B-Beneran kok,” balas Vallerie. “Aku ng-nggak apa-apa.”
Vallerie melirik sinis ke arah lelaki tampan yang duduk di samping kanannya. Melihat tatapan tidak menyenangkan itu, Gavin membalas dengan sebaliknya. Ia justru sangat senang melihat kekasihnya berusaha keras untuk tidak mendesah di depan banyak orang di saat tangannya bergerak di bawah sana. Vallerie berusaha menghentikan segala bentuk kegiatan tangan besar itu pada dirinya tetapi tidak bisa sebab Gavin terlalu kuat.
Gavin mendekatkan wajahnya ke arah Vallerie. “Enak?” tanyanya.
“Bangsat,” umpat Vallerie tidak suka.
Sepersekian detik kemudian, tangan itu bergerak tetapi lebih brutal. Gavin meneroboskan jari-jarinya agar masuk ke dalam vagina gadisnya melalui celah pakaian dalam yang dikenakannya. Vallerie memejamkan maniknya sembari menundukkan pandangannya. Ia berusaha sangat keras untuk tidak memberikan sinyal kepada orang-orang di sekitarnya bahwa Gavin tengah melecehkan dirinya.
“U-Udah, Kak,” lirihnya.
Bukannya menghentikan pergerakannya, Gavin malah semakin menggoda gadisnya. “Suaranya ditahan, Sayang,” bisiknya.
Vallerie mengepalkan tangannya kuat-kuat seolah sedang berdoa. Ia mengucapkan semua umpatan yang ia ketahui kepada Gavin di dalam sanubarinya. Sejujurnya, Vallerie tidak menikmati permainan ini. Memang benar adanya ia pernah meminta kepada Gavin untuk ‘bermain’ di tempat terbuka atau public space, di mana banyak orang berlalu-lalang tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat dan Gavin tidak dapat membaca itu.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sejak awal Gavin memang ahlinya dalam hal-hal seperti ini. Vallerie masih sangat ingat bagaimana kekasihnya ini pernah mendeklarasikan bahwa dirinya memiliki pengetahuan yang sangat mumpuni perihal seks pada permainan pertama mereka. Meskipun hati Vallerie tidak menerimanya tetapi tubuhnya sangat amat menikmatinya. Sepertinya, Vallerie sebentar lagi akan menjemput pelepasannya.
Gavin dapat merasakan vagina yang ia mainkan berkedut kencang. Ia juga dapat merasakan cairan yang membanjiri tangan besarnya. Gavin yakin bahwa sebentar lagi Vallerie akan mendapatkan titik ternikmatnya. Dengan beberapa isyarat itu, Gavin mempercepat kocokan dan adukannya di bawah sana. Vallerie yang menyadari peningkatan tempo gerakan di bawahnya tidak dapat menahannya lebih lama lagi.
“K-Kak,” lirih Vallerie lagi.
“Iya, Sayang,” balasnya. “Keluarin aja.”
Vallerie merasakan napasnya berembus dengan tidak beraturan, seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat dingin, serta beberapa bagian tubuhnya bergetar hebat. Ia tahu bahwa dirinya mungkin akan mencapai titik ternikmatnya sebentar lagi. Vallerie memang merindukan kekasihnya, terutama pada permainan panas seperti ini. Namun, khusus hari ini, Vallerie tidak ingin mengalah dengan perasaannya. Ia ingin logikanya yang mengambil alih.
Dengan semua tenaganya yang tersisa, Vallerie berusaha dengan sekuat tenaga untuk menarik tangan besar Gavin dari vaginanya. Tepat sebelum Vallerie menjemput pelepasannya, ia berhasil menghentikan pergerakan kekasihnya. Gavin sedikit terkejut saat mengetahui Vallerie dapat melawan pergerakannya. Ia mengira bahwa Vallerie sudah mencapai titik ternikmatnya.
Gavin mengeluarkan sapu tangan yang selalu dibawanya dari saku bagian belakang celananya. Ia terlebih dahulu mengelap paha gadisnya yang dibanjiri oleh cairan khas kenikmatan untuk kemudian ia membersihkan jari-jarinya. Sementara itu, Vallerie masih mencoba mengatur napasnya serta menyelaraskan jiwanya yang sedikit terguncang atas apa yang baru saja terjadi pada dirinya.
Gavin hendak mengecup pucuk kepala gadisnya kala pergerakannya itu dihentikan oleh Vallerie. “Good—” Belum sempat lelaki tampan itu menyelesaikan kalimatnya.
Vallerie bangkit dari posisi duduknya sembari menggenggam tangan besar yang beberapa menit lalu melecehkannya. “Ikut aku,” ketusnya.
Gavin yang diberi perintah begitu hanya menurut. Ia mengekori ke mana kekasihnya itu membawanya. Ternyata, Vallerie membawa Gavin naik ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Vallerie memilih kamarnya sebagai tempat untuk mengobrol dengan kekasihnya bukan tanpa alasan. Pasalnya, hanya di kamar tidurnya, suaranya tidak akan terdengar oleh orang lain.
“Buset,” ucap Jasper. “Udah nggak tahan apa gimana itu adek lo?” tanyanya bergurau.
“Nggak bahaya tuh, Val?” tanya Arion.
Valdi hanya menggeleng. “Udah pada gede ini kok,” jawabnya santai.
Namun, di sisi lain, selain Valdi, Jasper, dan Arion yang tengah membuat praduga atas perginya Gavin dan Vallerie dari meja makan, ada seseorang yang perasaannya berseberangan, yaitu Heidy. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sepasang netra sahabatnya itu dipenuhi genangan pada pelupuknya. Heidy tahu bahwa Vallerie merasakan emosi negatif dan bukannya emosi positif kala Gavin datang.
“Dy,” panggil Silas yang menyadari air wajah adik tingkatnya itu berubah drastis.
Heidy menoleh ke sumber suara. “Iya, Kak.”
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Silas. “Kamu keliatan kayak nggak tenang gitu.”
Heidy menggeleng. “Ah, nggak kok, Kak,” dustanya.
BRAK!
Valdi, Jasper, Arion, Silas, dan Heidy dapat mendengar suara pintu yang berdentum dengan sangat keras. Semuanya menengok ke arah lantai atas, tepatnya ke arah pintu berbahan kayu yang di depannya tergantung inisial huruf ‘V’ berwarna silver. Valdi, Jasper, dan Arion menggeleng-gelengkan kepala sebab melihat tingkah laku sepasang kekasih itu. Namun, di saat yang bersamaan, Heidy menelan salivanya dan Silas mengetahui ada sesuatu yang salah.
“Kamu apa-apaan sih, Kak?!” tanya Vallerie tak santai setelah menghempas tubuh besar itu ke tepi ranjang.
Gavin mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu, Gavin menghela napasnya. “Abisnya kamu diem aja,” katanya. “Jadi, aku inisiatif ‘gerak’.”
“Kita lagi makan sama yang lain loh, sama ORANG LAIN,” ucap Vallerie menggebu-gebu. “Ada banyak orang di sana!” bentaknya sembari menunjuk ke arah bawah.
“Kamu nggak suka?” tanya Gavin dengan sebelah alisnya terangkat.
Mendengar pertanyaan seperti itu terlontar dari kekasihnya, Vallerie mengernyitkan keningnya. “Apa?” tanyanya. “Kamu bilang apa barusan?” ulang gadis cantik itu.
Gavin yang sedari tadi nyaman pada posisi duduknya di tepi ranjang, kini berdiri. Ia mendekatkan dirinya ke arah Vallerie. “Memangnya kamu nggak suka?” tanyanya. “Suka ‘kan?” ulang lelaki tampan itu. “Kamu marah karena aku ‘mainin’?”
Vallerie mengusap wajahnya kasar. “Ya, menurut kamu aja deh, Kak,” ucap gadis cantik itu. “Kamu seharusnya bisa menghargai orang lain,” lanjutnya. “Kamu juga seharusnya bisa menghargai Bang Paldi yang lagi ulang tahun.”
Gavin menatap sinis kepada sang kekasih setelah kalimat yang baru saja diucapkannya. ”Kamu kok ngomongnya gitu?” Kali ini, Gavin yang nada bicaranya tidak santai. “Kamu tau nggak? Dengan kamu ngomong gitu, kesannya kayak aku nggak menghargai Valdi dan yang lain,” sambungnya. “Valdi tuh temen aku dari lama. Aku nggak mungkin nggak menghargai dia.”
Vallerie maju selangkah agar lebih dekat dengan kekasihnya. Ia tatap rangka wajah tegas yang selama beberapa hari ini selalu memberi mimpi buruk pada tidurnya. “Kalau kamu menghargai Bang Paldi, seharusnya kamu ikut datang pas yang lain lagi nge-decor ruang tengah untuk acara ulang tahunnya Bang Paldi.”
Gavin kembali menghela napas panjang untuk kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping. Ia tahu bahwa, cepat atau lambat, Vallerie akan menyinggung masalah ini. “Aku udah bilang ke kamu ‘kan? Kalau aku ada rapat BEM,” jelasnya. “Aku cuma minta kamu buat ngerti,” tegasnya. “Masa cuma karena hal sepele gini kamu marah?”
Kalimat terakhir yang diucapkan Gavin sukses membuat hati Vallerie terbelah menjadi berkeping-keping. Ia tidak mengira bahwa acara persiapan untuk acara ulang tahun kakaknya itu dianggap sebagai hal yang sepele oleh sang kekasih. Vallerie masih dapat mengingat dengan jelas bagaimana dulu dirinya dan Gavin selalu menjadi garda terdepan saat ulang tahun Valdi akan datang. Lalu, berarti usaha yang mereka lakukan selama ini adalah hal yang sepele.
Vallerie berusaha mati-matian untuk tidak menangis di depan Gavin. Untuk kali ini saja, ia ingin berdiri kuat di atas pendirian dan logikanya. Vallerie tidak mau hatinya yang memilih. Ia benci sebab dirinya harus mengakui bahwa ia sangat mencintai Gavin, di mana lelaki tampan itu selalu mencari kesempatan dan kata maaf atas kesalahan yang diperbuatnya. Namun, hal itu cukup berhenti di sini. Vallerie tidak ingin lagi dipermainkan.
Vallerie tersenyum masam. “Sepele, ya,” ucapnya. “Jadi, apa yang selama ini kita lakukan untuk kebahagiaan Bang Paldi itu sepele, ya, Kak,” jelasnya dengan nada kecewa.
“Nggak gitu, Vall, maksud aku,” ucap Gavin sembari berusaha meraih tangan kecil kekasihnya.
Vallerie menghindarinya. Ia mengangkat kedua tangannya. “Cukup,” kata gadis cantik itu. “Aku nggak mau dengar alasan kamu lagi,” ujarnya. “Aku udah capek.”
“Vall,” panggil Gavin. “Aku udah pernah bilang ‘kan sama kamu? Kalau kamu dan Valdi itu dua orang yang paling aku sayang,” ucap lelaki tampan itu. “Aku nggak mungkin nyakitin kalian berdua.”
“Kamu nggak perlu ngejelasin apa-apa lagi ke aku,” balas Vallerie. “Silakan kamu lakukan apapun yang membuat kamu senang,” lanjutnya. “Kamu nggak perlu lagi mikirin aku atau Bang Paldi.”
“Maksud kamu apa?” tanya Gavin cemas.
“Kamu silakan interpretasikan sendiri kalimat yang aku sampaikan ke kamu,” jawab Vallerie. “Ketua BEM ‘kan?” tanya gadis cantik itu sarkas. “Coba ditelaah sendiri.”